Apa jadinya jika Haruno Sakura si gadis kutu buku dan culun tetapi pemberani bertemu dan tinggal satu atap bersama 2 mafia sekaligus? Bagaimanakah kisah Sakura menjalani hidupnya bersama dua mafia tersebut? Dan mampukah Sakura menyembunyikan identitas mereka?

Cherry'UchihaSakura'Blossom

Proudly Present

Most Wanted Boy in My House

Warning : Gaje, Miss typo(s), Lemon, OOC, OC

Desclaimer : Naruto belongs Masashi Kishimoto

Dont like? So don't read! It's so easy right?

Chapter 6

KRIIINGG!

Bel yang menandakan waktu pulang kini telah menggema ke seluruh penjuru sekolah. Tentu saja moment inilah yang paling dinanti-nanti sebagian besar dari penghuni JIS ( Japan International School) baik siswa maupun guru sekaligus. Dan tentu saja saat inilah saat yang paling baik digunakan untuk melarikan diri dari tugas piket.

Tuesday

Haruno Sakura

Ino Yamanaka

Karin

Tayuya

Kin

Sakura menatap schedule piket tersebut. Ia benar sanngat menyesali mengapa ia harus sekelompok dengan orang-orang yamg tak berguna yang lari dari tanggung jawab piket hari ini. Sungguh, setiap hari selasa, orang-orang yang masuk ke daftar ini kecuali dirinya sendiri hilang entah kemana. Biasanya, Hinata yang membantunya. Tapi hari ini sepertinya dia ada keperluan. Bicara soal teman indigonya itu, daritadi sejak kedatangan dua Yamada palsu itu, ia jadi memperhatikan Ichi alias Sasuke. Entah kenapa saat ia berhadapan langusng dengan Ichi, mukanya berubah menjadi merah.

Dan bicara soal dua Yamada palsu itu, ia jadi teringat saat Naruto mengajaknya pulang bersama.

Flashback

" Sakura-chan kau mau pulang bersam akami?" Tanya Naruto sembari memasukkan buku catatannya ke dalam tas ransel warna merah.

" Aaa... hari ini aku ada tugas piket. Kalian pulang duluan saja."

" Baiklah. Kami duluan. Jaa..." Lambai Naruto yang kemudian disusul Sasuke dan tentu saja tanpa lambaian.

End of Flashnack

" Hhh..." Sakura menghela nafas panjang. Tadi dia begitu bodoh menolak ajakan Naruto untunk pulang mengingat pasti ujung-ujungnya ia akan mengerjakan tugas sendiri lagi.

Ia meraih penghapus whiteboard. Kemudian ia gosokkan pada permukaan putih yang sudah diisi dengan coretan rumus bekas pelajaran fisika oleh Kurenai-sensei.

Setelah permukaan itu bersih seperti pada mulanya, ia kembali meletakkan penghapus itu pada tempatnya.

Ia lalu berganti mengambil vacuum cleaner yang tersimpan di lemari hitam yang berada di sudut ruangan kelas tersebut.

Ia lalu berjalan mengelilingi kelas sambil merogoh laci para siswa untuk menemukan sampah-sampah yang dibuanang bukan pada tempatnya.

Selesai itu, dengan menggunakan penyedot debu itu, ia menyedot segala sampah dan debu yang berada di karfet merah yang digunakan sebagai pengalas lantai marmer putih.

.

.

.

" Hufft... selesai juga," Sakura meyeka keringat di pelipis wajahnya menggunakan sapu tangan merah jambu kesayangannya.

Ia lalu mengenakan ranselnya dan bersiap untuk pulang.

Ia lalu menggeser pintu yang terbuat kaca itu lalu kembali menggesernya agar menutup.

Tap tap tap.

Hanya bunyi sepatunya lah yang terdengar saat ini saat ia menyusuri koridor. Sekolah inio memang sangat megah dan ramai pada saat jam sekolah dan menjadi sunyi senyap saat waktu pulang.

Ia mempercepat langkahnya. Dan tentu saja bukan karena takut tapi karena diluar sana sudah kelihatan mendung sekali.

Akhirnya langkah itu berubah menjadi langkah seribu (lari) saat mendung kini berganti hujan.

" Hujan. Padahal aku tidak bawa payung." Gumam Sakura saat ia telah sampai di pintu utama sekolah. Sekali lagi ia meyesal karena menolak ajakan Naruto.

.

.

.

At Sakura's House...

" Oi Teme! Lihat hujan." Seru Naruto.

" Hn, anak kecil juga tahu kalau di luar sedang hujan Dobe."

" Maksudku, bagaimana dengan Sakura-chan. Setahuku dia tidak bawa payung."

" Hn, tidak usah perdulikan. Dia pasti pulang sendiri kok"

" Iya juga sih. Kalau hujannya reda, pasti Sakura-chan akan pulang."

.

.

.

30 Menit kemudian...

" Aaa! Kapan hujannya akan berhenti!" Seru Sakura. Awalnya ia berniat untuk menunggu hujannya reda. Tapi hujannya tidak kunjung reda malah kini tambah parah.

Ia menggaruk-garuk kepalanya frustai, " Malah hari ini tugas menumpuk dan deadline."

Ia memperhatikan sekelilingnya. Siapa tahu ada orang yang tidak sengaja menjatuhkan payung atau sejenisnya.

Tetapi, ia tak menemukannya sama sekali.

Ia kembali melihat ke atas, " Hujannya deras sekali."

Sudah cukup! Sakura memberanikan diri menembus hujan. Ia berlari sekencang-kencangnya agar anggota tubuhnya tidak terlalu basah.

Petir menggelegar. Membuatnya sedikit terlonjak dan akhirnya jatuh ke pemukaan aspal.

" Auww.." Ringis Sakura.

Sukses sudah hujan mengguyur gadis ini.

" Hn, bodoh." Teerdengar suara asing yang sangat familier di telinganya. Sakura mendongak ke atas.

" Sasuke."

" Hn, "

.

.

.

Sakura berjaln bersama Sasuke. Ia merasa sedikit agak aneh pada diri Sasuke. Sepertinya ada yang beda.

Ia butuh waktu cukup lama untuk mencermati penampilan Sasuke dan...

" Aaa! Sasuke kau tidak pakai penyamaranmu! Bagaimana kalau ada yang melihat, bisa jadi sangat gawat tahu!" Sembur Sakura tiba-tiba

" Hn, tenanglah. Hujan deras begini mana ada orang yang keluar dari rumah. Lagipula aku mengenakan jaket." Kata Sasuke santai.

" Iya sih. Tapi tetap saja. Bagaiman jika ada orang yang tidak sengaja melihatnya."

" Hn,"

" Oh ya, bagaiman bisa kau ada di saat seperti ini? Apa kau mengkhawatirkanku?" Tanya Sakura asal

" Hn, enak saja. Aku hanya tidak sengaja lewat dan menemukanmu terjatuh." Dusta Sasuke

.

.

.

Flashback

Sasuke Pov

" Oi Teme, sudah setengah jam Sakura-chan tidak juga pulang." Lapor Naruto padaku. Dari tadi ia selalu meyebut-nyebut tentang Sakura terus.

Sungguh, itu sangat membosankan bagiku.

Tapi mau tidak mau aku agak sedikit khawatir tentang gadisku itu. Eh, maksudku Sakura. Ia belum juga pulang, padahal sudah berlalu sekitar tiga pulh menitan.

Entah sejak dari kapan aku berubah jadi seperti ini. Maksudku, sepeti mengkhawatirkannya. Seperti saat ini. Dan juga sebal ketika Naruto atau si rambut merah itu bicara pada Sakura.

" Oi Teme, kau jaga rumah. Aku mau pergi menjemput Sakura-chan di sekolah." Naruto beranjak ingin mengambil payung.

Hn, tidak akan kubiarkan!

" Aku saja." Sahutku, " Aku yang akan menjemput Sakura." Aku lalu meraih secara paksa payung yang sudah ada di gengaman Naruto.

Hn, kau tahu. Uchiha itu selalu menang.

End of Flashback

" Aku pulang..." Sahut Sakura.

" Sakura-chan kenapa kau bisa basah begini? Apa kau tidak menunggu Sasuke datang menjemputmu?" Tanya Nruto khawatir.

Sakura langsung melirik ke Sasuke seolah berkata 'dasar tukang bohong'. Yang dilirik sontak memalingkan mukanya karena malu.

" Ngomong-ngomong aku sudah membuatkan sup untuk Sakura-chan."

" Maka- HUACHII!" Sembur Sakura. " Maaf."

.

.

.

Sakura Pov

" Hatchi Hatchi!"

Entah ini yang ke berapa kalinya aku bersin dalam jangka waktu semalam. Oh, dasar pilek sialan! Lihat, aku sudah menghamburkan satu kotak penuh tisu dan juga dalam jangka waktu semalam saja.

" Sakura-chan..." Panggil seseorang dari balik pintu. Kurasa itu Naruto.

" Masuklah- Hatchii!" Oh sial!

" Kau baik-baik saja Sakura-chan?" Tanya Naruto lembut.

Apa? Seperti ini kau bilang baik? Lihat mataku, kantung mataku bahkan mata lagi. Belum lagi hidung sialanku ini. Selalu saja dilelehi oleh cairan hijau menjijikkan.

" Hn, kau tahu gara-gara kau bersin semalaman, aku sampai tidak bisa tidur." Kata Sasuke tiba-tiba.

Hei! Orang ini benar-benar tidak punya hati!

" Sakura-chan apa sebaiknya kau izin tidak masuk sekolah hari ini. Keadaanmu kelihatan tidak begitu baik."

Yeah, memang tidak begitu baik. Apa? Tidak ke sekolah? Percuma dong semalaman aku mengerjakan PR yang bertumpuk itu.

" Tidak apa Naruto. Aku masih kuat kok ke sekolah. Lagipula, aku punya banyak PR yang harus dikumpulkan hari ini." Jawabku.

" Hn, kalau begitu cepatlah. Kau bisa membuat kami terlambat tahu!"

Dasar tidak punya hati!

.

.

.

" Kyaa! Ichi-kuun!"

" Daichi-kuuun! Aku mencintaimu!"

Baru saja kami- aku, Sasuke dan Naruto masuk selangjah ke dalam sekolah, jadinya sudah seperti ini.

Daripada aku gerah sendiri, buru-buru aku memisahkan diri dari mereka.

" Sakura-chan!" Sahut seseorang dari belakang. Aku sudah sangat hafal suara ini.

" Hinata-chan."

" Sakura-chan, sepertinya hari ini kau nampak pucat. Ada masalah?" Tanya Hinat sedikit khawatir. Well, dia memang sahabat yang baik.

" Aaa...tidak apa-apa. Hanya sedikit-Hatchii!" aku langsung menutup mulutku dengan sapu tanganku. " Pilek." Sambungku lagi.

" Apa benar hanya pilek?"

Aku tersenyum kecil. Dia memang benar-benar sahabat yang baik.

.

.

.

Pelajaran jam pertama berakhir juga. Dan sepanjang itulah aku terus bersin-bersin tak keruan. Kelihatannya pilek ringanku ini akan berubah menjadi pilek ganas!

" Ms. Haruno. Are you okay?" Tanya Ms. Anko guru bahasa inggrisku.

" Yes. I'm fine. Huatchii!" Jawabku. " I'm sorry."

" Sakura-chan sebaiknya kau ke ruang kesehatan saja." Saran Hinata-chan.

" Iya, Sakura-chan. Hinata-chan benar." Ahh, saran kedua rupanya.

Aku hanya tersenyum, " Baiklah. Hinata-chan, bisa kau temani aku?"

Hinata mengangguk.

Tetapi saat aku hendak meminta izin ke ruang kesehatan, tiba-tiba kepalaku begitu terasa berat, penglihatanku memburam dan akhirnya semua berubah menjadi gelap.

.

.

.

Normal Pov

" Sakura-chan" Seru Hinata dan Naruto.

Sementara Sasuke yang sebenarnya sedari tadi cemas akhirnya sukses menjadi panik pula. " Bodoh, kenapa hanya dilihat." Geram Sasuke.

Ia lalu menggendong Sakura ala bridal dan membawanya ke ruang kesehatan secepat mungkin dan meninggalkan Hinata yang entah mengapa memerah, Naruto yang cengo dan berjuta rasa iri dari fans fanatik Sasuke.

.

.

.

Ibiki's Office...

" Ibiki-san, kau pasti akan senang mendapatkan info ini. Tentu saja ini tentang Uchiha." Kata salah satu pegawainya sambil membawa sebuah map cokelat.

Ibiki yang sedari tadi menghisap rokoknya lantas membuang rokoknya lalu mengambil map tersebut.

" Salah satu polisi di daerah Tokyo menemukan sebuah mobil Ferrari yang sudah penyok dengan kaca jendela yang pecah tepat di hutan dekat danau. Setelah kami memeriksa sidik jari di mobil dan besi yang diduga digunakan untuk memecahakan kaca tersebut."

" Langsung ke intinya saja." Tegas Ibiki.

" Diduga sidik jari itu adalah milik Uchiha dan kami menemukan sidik jari yang lain. Tepatnya milik Haruno Sakura. Seorang gadis yang tinggal di daerah yang tidak jauh dari TKP dan dia bersekolah di Japan International School. Sekolah berstandar Internasional yang tidak juga jauh dari TKP. Info selengkapnya ada di map itu." Kata pegawai tersebut

" Hmm, nice. Baiklah untuk memastikan info itu. Panggil 'dia'. Sepertinya akan ada misi baru untuknya." Perintah Ibiki.

Pegawai itu sudah mengetahui siapa yang Ibiki maksud, " Anda yakin akan menyuruhnya menyelesaikan tugas ini?"

" Tenang, aku sudah mempunyai rencana." Seringai Ibiki

.

.

.

To be Continued.

A/N

Maaf baru bisa apdet sekarang maaf juga kalu chap ini peeendeek banget.. Disini konflik udah muncul. Hehehe.

Typo masih bertebaran, mungkin. And beribu terima kasig saya ucapkan kepada para reader dan reviewer.

Akhir kata see ya in the next chapter.

Mind to Review...