Apa jadinya jika Haruno Sakura si gadis kutu buku dan culun tetapi pemberani bertemu dan tinggal satu atap bersama mafia yang menjadi buronan polisi. Bagaimanakah kisah mereka?

Cherry'UchihaSakura'Blossom

Proudly Present

Most Wanted Boy in My House

Warning : Gaje, Miss typo(s), Lemon (maybe)

Desclaimer : Naruto belongs Masashi Kishimoto

Chapter 7

" Kau pasti sudah tau kenapa aku memanggilmu kesini?" Kata Ibiki sarkatis. Ia kemudian mengambil pemantik api dari saku jaket kulit ularnya.

Seseorang di hadapannya mendecih, " Kau tidak perlu berbasa-basi orang tua. Jelaskan saja apa maksudmu memanggilku kesini."

" Tak perlu terburu-buru." Ibiki menyulut api cerutunya, "Jadi, harus kupanggil kau dengan nma apa? Hmm, bagaimana kalau Velvet Blue?."

" Hn, terserah kau saja orang tua."

" Kau sama sekali tidak berubah." Ibiki sedikit terkekeh, " Kau pasti tahu siapa Uchiha Sasuke."

Sekali lagi orang yang dipanggil Velvet Blue di hadapannya mendecih, " Aku sudah muak dengan nama itu." Velvet Blue menerawang ke atas, " Karena ayahnya dan anggota mafianya, keluargku dan aku sengsara." Nada suara itu terdengar bergetar menahan marah, " Dia harus membayar semua ini. Walaupun bukan dia yang membunuh mereka semua, tapi dosa Fugaku harus ditanggung oleh anaknya."

" Maka dari itu aku memanggilmu, ya hitung-hitung untuk membantumu membalaskan dendam sekaligus untuk kau membalas budiku." Ibiki menghembuskan asap melalui mulutnya, " Andaikan saja kau tidak kuselamatkan, kau pasti sudah ikut ter..."

" Berhenti mengatakan tentang masa laluku orang tua!" Potong Velvet Blue

" Baiklah baiklah...jadi bagaimana? Kau setuju dengan tawaranku?" Tanya Ibiki, " Sebagai salah satu pembunuh bayaran profesional, kau pasti tidak akan melepaskan mangsamu bukan?" Ibiki menyeringai. Dia tahu betul orang di hadapannya ini., Velvet Blue itulah julukan dari pembunuh bayaran yang telah diasuhnya dari kecil.

" Kau tahu, walaupun sekarang aku sedang malas mengotori tanganku. Tapi khusus untuk Uchiha, aku buat pengecualian..."

" Hei! Tunggu dulu. Aku sedang tidak memintamu membunuhnya." Tegas Ibiki, " Uchiha adalah bagianku. Kau hanya bertugas untuk membawanya secara utuh kepadaku."

" Memangnya kau bisa apa orang tua.."Ejek Velvet Blue, " Biar aku saja yang menghabisi Uchiha itu!"

" Daripada kau menghabisi Uchiha yang jelas-jelas bagianku. Aku juga punya satu misi lagi untukmu..." Ibiki menegluarkan selembar kertas bertuliskan sebuah alamat.

Wajah Velvet Blue terlihat mengkerut heran, " Misi apa lagi tua bangka?"

" Kau akan tahu nantinya. Jadi bagaimana dengan kesepakatan kita?" Tawar Ibiki lagi.

Velvet Blue menyeringai, "Demi membalas budimu karena sudah menyelamatkanku, perintahmu akan kuterima dengan senang hati orang tua." Kemudian orang itu melenggang pergi diikuti senyuman kemenangan dari Ibiki.

Tanpa ia sadari, seseorang telah meletakkan penyadap suara tepat diruangannya tersebut.

.

.

.

Sasuke membaringkan tubuh Sakura di ranjang ruang kesehatan. Tangannnya perlahan menyentuh jidat lebar gadis itu, " Hmm, suhu badannya panas sekali."

Ia kemudian berjalan menuju kotak P3K yangada di sudut ruangan bernuansa putih itu. Ia mengambil alkohol dan secarik kapas. Dibasahinya kapas itu dengan alkohol lalu dikompreskannya di jidat Sakura, " Setidaknya ini akan membantu menurunkan sedikit suhu tubuhnya."

Sasuke duduk di samping gadis itu sesekali membelai wajah gadis berkacamata itu. Ia merutuki dirinya sendiri yang begitu tidak peka atau sama sekali tidak peka terhadap gadis yang setengah hati memberinya tempat tinggal itu.

Beberapa kali ia menuturkan kata maaf atas semua yang telah ia lakukan. Dengan jari telunjuknya ia menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah itu. Sasuke kemudian melepaskan kacamata Sakura lalu diletakkannya di sakunya. Pipi gadis itu terlihat sudah memerah karena suhu badannya yang begitu tinggi.

Sekali lagi ia merutuki dirinya. Kali ini ia baru benar-benar merasa bahwa Naruto mengunggulinya.

.

.

.

Kendaraan bermerek Gallardo itu dengan cepat membelah jalanan menuju bandara Internasional negara matahari terbit itu. Ia mencengkram keras kemudi mobil merah gradasi ungu kesayangannya. Ia kembali mengingat perintah yang baru saja diberikan olehnya.

FLASHBACK

Sebelum Velvet Blue hendak berangkat, Ibiki kembali memanggilnya.

" Misimu utamamu adalah ini." Ibiki menyerahkan map cokelat kepadanya.

Dibukanya map itu dan ia menemukan kertas dengan data diri seseorang, " Bukankah aku diperintahkan menyelidiki Uchiha. Kenapa kau malah memberiku data diri seorang gadis?"

" Hn, anak buahku telah memeriksa secara keseluruhan dan kemungkinan gadis itu terlibat dalam pelarian Uchiha. Bacalah biodatanya."

Orang itu menyeringai, " Apa kau yakin orang ini ada hubunganya dengan Uchiha?"

" Walaupun aku juga tidak yakin seratus persen, tapi apa salahnya dicoba siapa tahu saja dewi Fortuna sedang berpihak kepada kita."

" Hn, aku tidak percaya dengan keberuntungan." Kata Velvet Blue dingin, " Lalu misi keduaku?"

Ibiki kembali teringat bahwa ia juga menjanjikan satu misi lagi untuk sang malaikat pencabut nyawa dihadapannya, " Tentang misi itu akan mengirimkannya lewat PDA-mu." Jelas Ibiki, "Tapi, sebelum kau ke Japan International School, sebaiknya kau segera ke bandara. Aku mau misi itu selesai malam ini."

Sebelum Velvet Blue kembali bertanya, Ibiki sudah memotongnya terlebih dahulu, " Passport dan visamu sudah kusiapkan, kau tinggal berangkat malam ini saja..." Ibiki sedikit memberi jedah pada kalimatnya, " Dan soal perlengkapanmu untuk misi utama, aku juga telah siapkan. Kau boleh mengambilnya sendiri setelah misi keduamu selesai." Lanjut pria itu.

END of FLASHBACK

" Kalau saja informasi ini benar, aku yang akan terlebih dulu mematahkan tulang Uchiha itu." Orang itu lalu mengenggam erat kalung berinisialkan 'S' itu. Kalung yang juga berinisialkan nama sebenarnya dari seorang Velvet Blue.

" Tapi sayangnya, aku harus menunda itu sebentar." Velvet Blue melirik ke arah PDA yang tergeletak di jok mobil sportnya.

.

.

.

.

Perlahan Sasuke mendekatkan wajahnya dan 'cup'. Ia sekilas mengecup ringan pinggiran bibir gadis merah muda itu.

" Aku tidak akan menyerahkanmu pada siapapun Sakura." Gumam Sasuke pelan.

Seketika pintu menjeblak terbuka dan masuklah Naruto bersama Hinata, " Hoi, bagaimana keadaan Sakura-chan?"

" Hn, kau lihat saja sendiri." Pemuda itu kemudian berjalan keluar, " Aku mau cari udara segar dulu."

" Ichi-kun." Samar-samar Hinata memanggil. Sasuke alias Ichi kemudian berbalik, " Ini buku catatanku tadi. Kalau kau mau, kau boleh meminjamnya." Hinata menyodorkan buku bersampul ungu tersebut.

" Hn, aku tidak membutuhkannya. Lebih baik kau berikan itu pada temanmu saja." Ujar Sasuke sambil melirik ke arah Sakura. Lalu ia melenggang pergi.

Hinata hanya menunduk, " Ichi-kun."

" Hinata-chan, kau tidak perlu memasukkannya ke dalam hati. Teme, memang seperti itu. Tapi dia sebenarnya baik" Kata Naruto sambil meletakkan minuman di samping ranjang Sakura.

" Daichi-kun, siapa yang kau maksud Teme?" Tanya Hinata.

" Teme itu panggilan untuk Sa-opps!" Naruto reflek menutup mulutnya, " Ichi maksudku."

"Hampir saja" Pikir Naruto.

" Uhh~" Sakura mulai membuka matanya, " dimana aku?"

" Ahh, Sakura-chan sudah sadar rupanya." Kata Naruto, " nih minum obat dulu. Tadi perawat disini memberiku ini." Kata Naruto sambil menyerahkan sebungkus obat, " Katanya kau hanya perlu istirahat."

Sakura melirik ke seluruh ruangan. Hanya satu orang yang tidak ada. Sakura mendengus kesal, " Dasar tidak punya hati." Gerutu Sakura pelan.

" Baru saja Ichi pergi. Daritadi ia menjaga kamu terus lho." Kata Naruto dengan nada sedikit menggoda.

Ah, aku salah sangka rupanya. Batin Sakura.

.

.

.

" Sakura-chan istirahat saja. Tidak usah memasak hari ini. Hari ini aku dan Sasuke yang akan memasak untukmu." Kata Naruto riang

" Arigatou Naruto." Kata Sakura singkat.

Sakura kemudian melirik ke arah Sasuke yang berjalan menuju dapur. Yang daritadi dilihatin akhirnya sadar, " Apa lihat-lihat?" Kata Sasuke garang.

Sakura segera memalingkan wajahnya, " siapa juga yang melihat kau."

" Hn, " Sasuke berjalan menuju dapur.

" Arigatou Sasuke." Gumam Sakura pelan tapi cukup dapat di dengar oleh Sasuke yang hanya dibalas dengan senyum tipis.

Tak lama, dari arah dapur sudah tercium bau sedap hasil karya dua mafia tampan itu. Baunya cukup membuat perut Sakura yang sebenarnya telah berbunyi kini bunyinya malah tambah menjadi-jadi. Seakan cacing-cacing di perutnya kini tengah demo menuntut makanan.

" Sakura-chan! Makanan sudah siap!" Sahut Naruto dari dapur.

Sakura yang sebenarnya sudah lapar sedari tadi, langsung saja menyerbu ke arah meja makan. Ternyata di meja makan sudah tedapat berbagai macam makanan. Mulai dari sup, kimchee, nasi goreng ekstra tomat yang Sakura duga adalah milik Sasuke, semangkuk ramen yang dihiasi dengan potongan telur rebus, ayam yang telah dipotong kecil-kecil. Tak lupa disana juga telah terhidangkan sushi ikan salmon kesukaan Sakura. * maklum, author lagi lapar =A=*

" Wah.." Sakura berdecak kagum akan maha karya yang telah dibuat oleh Sasuke dan Naruto, " kelihatannya enak."

" Itu belum seberapa Sakura-chan, aku telah menyiapkan hidangan penutup untukmu." Kata Naruto dari dapur, " Taraaa! Puding cokelat stroberi untuk Sakura-chan!" Seru Naruto sambil memperlihatkan sepiring puding yang kelihatannya sangat kenyal, lembut dan tentu saja pasti enak untuk dimakan.

Sakura langsung saja mengambil posisi di meja makan disusul Naruto lalu Sasuke, " Itadakimasu!"

.

.

.

Hong Kong, 23.00...

Seorang pria yang umurnya berkisar setengah abad itu terlihat baru saja keluar dari sebuah bar malam yang terletak di jantung kota negara Tirai Bambu tersebut.

" Mmmh~ tuan Danzo, kau serius tidak mau bermain denganku malam ini?" Kata seorang perempuan bermata sipit dengan kain baju yang sangat minim dengan sangat manja sambil menggelayut pada tangan Danzo.

" Sorry Mei. Malam ini aku mau istirahat dulu. Nanti kita akan lanjutkan kegiatan kita." Kata Danzo mesra. Ia lalu menarik perempuan yang dipanggil Mei itu lalu segera melumat bibir merah Mei.

" Mmmh~" Desah Mei.

Tapi tanpa ia sadari, seseorang memandangnya jijik dari kaca jendela sebuah Limosin hitam.

Sepertinya karena sudah merasa cukup, Danzo melepaskan bungkamannya pada Mei. Bibirnya terlihat memerah karena lipstick yang digunakan Mei, " Bye." Ucap Danzo sembari melambaikan tangannya.

Danzo mencari-cari mobil yang akan menjemputnya, " Ck, Kenapa lama sekali. Padahal sekitar satu jam yang lalu aku telah menelpon.." Kata-kata Danzo terpotong ketika sebuah Limosin telah berhenti dihadapannya.

Dengan segera ia memasuki Limosin tersebut tanpa rasa ragu karena memang sebelum itu ia telah memerintah salah satu anak buahnya untuk memesankannya sebuah Limosin beserta lengkap dengan sopir untuk menjemputnya.

" Hn, kau terlambat." Kata Danzo sinis kepada pengemudi tersebut.

Pengemudi itu tidak bereaksi sama sekali. Ia hanya diam sambil mengemudi dengan kecepatan yang dapat dikatakan melebihi kecepatan rata-rata.

Tak Lama, Danzo akhirnya baru menyadari hotel berbintang lima tempat menginapnya sudah terlewati, " Hei! Kita mau kemana?"

Pengemudi yang mengenakan jaket hitam, kacamata hitam, serta topi hitam akhirnya angkat bicara, " Nanti kau akan tahu."

Setelah mereka menempuh setengah jam perjalanan, Danzo kembali bertanya, " Kau tidak akan memberitahu kita akan kemana?" Danzo mulai menyadari sepertinya ia telah sangat jauh dari kota karena itu terbukti dengan jalan yang dilewatinya sekarang adalah jalan perbukitan yang menanjak dan berkelok-kelok.

Si pengemudi kembali tidak menjawab pertanyaan Danzo. Dia tetap mengemudikan Limosin itu dengan kecepatan tinggi. Danzo pun tidak mengulangi pertanyaannya.

Sekitar sepuluh menit kemudian...

" Kita hampir sampai..." Ucap si pengemudi itu tiba-tiba, membuat Danzo heran. Mereka masih dijalan perbukitan yang kini menurun tajam. Hanya ada jurang di sisi kiri dan tebing terjal di sisi kanan. Boro-boro hotel, bangunan rumahpun sama sekali tidak terlihat. Bahkan satu bangunan pun.

" Apa maksudmu membawa aku ke..."

Belum sempat Danzo menyelesaikan ucapannya, tangan kanan si pengemudi bergerak cepat. Jari telunjuk dan tengahnya menotok bahu kiri Danzo, membuat pria yang telah berumur itu menjadi kaku dan tidak dapat bergerak. Bola mata Danzo pun hanya melirik ke arah pengemudi dengan tatapan marah.

Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi di jalan yang menurun dan berkelok-kelok. Saat melewati sebuah jalan yang lurus dan menurun, si pengemudi menginjak pedal gas lebih dalam hingga Limosin itu melaju semakin kencang dan hampir tidak terkendali. Speedometer digital pada dasbor mobil menunjukkan angka 105 mil/jam dan masih akan terus naik. Danzo sedikit menyesal mengapa ia menyewa sebuah Limosin yang kemampuannya hampir setara dengan mobil balap.

Kurang dari 200 meter jalan menikung tajam ke kanan. Arah mobil tidak bisa dibelokkan dengan kecepatan setinggi ini.

Tampaknya si pengemudi itu memang tidak bermaksud membelokkan mobilnya. Saat tiba di tikungan, dia tetap menginjak pedal gas. Akibatnya mobil tetap berjalan lurus hingga menabrak pagar pembatas tebing di sisi jalan, dan terjun bebas ke jurang yang dalam. Si pengemudi menoleh ke arah Danzo yang sudah terlihat ketakutan. Keringat mengucur deras di wajahnya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.

" Ciao." Kata si pengemudi. Lalu dia membuka pintu mobil dan keluar dari mobil yang meluncur cepat mengikuti gaya gravitasi. Begitu keluar, si pengemudi cepat membuka parasut dari tas tipis yang tergantung di punggungnya. Angin gunung yang kencang membuat parasut terangkat naik, hingga si gadis dapat kembali mencapai bibir tebing. Kakinya mendarat di sisi jalan, diiringi bunyi ledakan keras dan gumpalan asap dari dasar jurang.

Si pengemudi itu mengambil PDA dari dari balik jaketnya.

" Mission clear..." Ujarnya singkat sambil memberikan tanda checklist di layar PDA-nya sekaligus ia melepas topeng yang sedari tadi ia pakai untuk menjalankan misinya. Ia lalu ia setengah berlari ke seberang jalan.

Sekitar 50 meter berjalan, gadis itu tiba di sebuah ceruk di tebing, yang tertutup rimbunan semak-semak, yang menutupi sebuah Gallardo merah gradasi ungu yang terparkir di sana. Ia lalu kembali melaju. Menuntun Gallardo kesayangannya kembali menuju Bandar Udara Internasional Hong Kong.

Tak lama PDA-nya kembali berkedip menandakan sebuah pesan telah masuk. Begitu menekan tombol pada layar berbasis android tersebut. Sebuah pesan terbuka

Nice job, Velvet Blue. Kau bisa kembali pada misi utama-mu.

Velvet Blue, sang malaikat pencabut nyawa hanya menyeringai. Dan kembali konsentrasi pada jalanan. Ia kembali mengcengkram erat kalung berinisialkan 'S' tersebut.

.

.

.

" Kau mendapatkan undangan itu yah? Ahh, aku sudah tidak sabar untuk pesta malam ini" Seru salah satu gadis berkuncir tinggi sambil menenteng sebuah undangan pesta perayaan anniversary Japan International School.

Sakura hanya memutar bola matanya bosan. Daritadi pagi ia sudah mendengar seluruh siswa membicangkan tentang perayaan anniversary sekolahnya.

" Kudengar perayaan tahun inilah yang paling meriah dibandingkan tahun-tahun kemarin." Kata seorang siswa perempuan lagi.

" Katanya bakal diadakan pemilihan King and Queen JIS malam itu." Balas seorang lagi.

Sebenrnya ia telah mendapatkannya undangannya di loker tadi pagi. Toh,semua siswa pasti diundang ke acara ini.

Sakura hanya mendengus, ujung-ujungnya pasti ia tidak akan datang seperti tahun kemarin. Lagipula jika ia ingin datang, toh ia juga tidak punya gaun yang bagus untuk digunakan.

" Sakura-chan, apa kau akan pergi ke perayaan sekolah nanti malam?' Tanya Naruto pas sepulang sekolah.

" Sepertinya tidak Naruto, lagipula aku tidak mempunyai baju yang pas untuk acara macam ini."

" Yaa, masa kau tidak datang sih? Hinata saja yang pendiamnya minta ampun bakal datang ke acara itu." Sergah Naruto.

Sakura kembali mengingat sahabat indigonya itu, " Hinata kau akan ke pesta itu?" Tanya Sakura siang itu.

Hinata hanya mengangguk pelan, " Sepertinya. bagaimana denganmu?" tanya Hinata balik yang hanya dijawab dengan gelengan kepala dari Sakura.

" Sakura-chan, kau harus pergi. Aku dan teme juga akan pergi." Naruto kemudian melirik Sasuke

"Siapa bilang aku mau pergi ke acara tidak berguna macam itu?" Balas Sasuke dingin yang lalu mendapat jitakan dari Naruto, " Pokoknya malam ini kita semuanya harus pergi." Ucap Naruto berapi-api, " Kalau begitu, it's time for shopping!" Kata Naruto sambil menarik dua rekannya tersebut menuju ke pusat perbelanjaan.

.

.

.

" Naru, kau mau membawa aku kemana lagi? Kakiku sudah pegal tau." Keluh Sakura yang diseret menuju ke dalam sebuah salon.

" Tentu saja kau harus berdandan nona." Naruto kemudian mendudukkan Sakura di salah satu kursi rias, " Lihat ini sudah sore, pestanya tinggal beberapa jam lagi."

" Tapi, aku bisa berdandan sendiri di rumah."

" Kalau mau pulang sudah tidak keburu. Nanti kita akan ketinggalan pesta pembukaannya."

" Tapi.." kalimat Sakura terpotong begitu Naruto sudah memanggil salah satu pegawai, " Dandani gadis ini secantik mungkin."

.

.

.

Dua mobil sport berwarna biru dan oranye kini telah berhenti di depan JIS. Pengemudi dan penumpangnya akhirnya turun dan ketiganya berjalan melenggang memasuki aula dimana diadakannya pesta anniversary 25 berdirinya JIS.

Naruto dengan tuxedo berwarna hitamnya mampu membius pandangan para wanita. Sedangkan Sasuke dengan setelan putih mampu membuat beberapa siswi JIS tepar di tempat. Lau dimanakah Sakura?

Perlahan seorang gadis melenggang memasuki aula dengan gaun selutut berwarna perak. Rambut sepunggungnya dibiarkan digerai menjuntai menutupi punggungnya putinya yang terekspos karena gaun yang dipakainya.

Sepatu high heels yang senada dengan bajunya cukup menambah jenjang kakinya yang bersih tanpa luka sedikitpun. Wajahnya yang bulat telah dirias secantik mungkin. Kuku-kukunya telah dipoles dan di cat warna bening menambah keanggunannya.

Hampir semua mata siswa tidak berkedip saat ia berjalan sementara para siswi hanya memandangnya takjub. Gerombolan Karin yang daritadi sibuk memamerkan gaun terbukanya hanya menganga, " Jangan-jangan dia adalah..."

" Sakura!" Hinata lari menghambur ke arah gadis yang telah mebius para kaum Adam. " Kau sangat cantik malam ini Sakura."

Sakura hanya tersenyum sambil memandang takjub juga pada sahabatnya ini. Malam ini ia mengenakan long dress ungu. Rambutnya sengaja ia kepang ke samping dengan jepitan mungil di kepalanya.

" Selamat datang di acara HUT Anniversary Japan International School yang ke 25." Sambut Anko Mitarashi sebagai pembawa acara sekaligus yang notabene guru bahasa Perancis di sekolahan elit ini, " malam ini kita akan memilih King and Queen JIS lewat lomba dansa romatis. Baiklah para hadirin dipersilahkan untuk mengambil gulungan kecil di sebelah saya. Di sebelah kanan untuk siswi dan disebelah kiri untuk para siswa."

Para siswa siswi menyerbu ke tempat pengambilan gulungan tersebut. Mengambil satu masing-masing untuknya.

" Baiklah, sepertinya semuanya sudah mendapatkan gulungannya masing-masing. Di dalam angka itu terdapat nomor. Pasangan dipilih atas kesamaan angka pada gulungan tersebut. Dan saatnya...BUKA!"

Para siswa dan siswi serentak membuka gulungan mereka masing-masing. Para siswi banyak yang melirik ke arah duo Yamada palsu. Berharap slah satu Yamada itu menjadi pasangannya.

Sakura yang notabene mendapat nomor 25 sibuk mencari pasangannya.

" Ichi-kun mendapat nomor 25. Sial padahal tinggal satu angka lagi nomorku akan sama dengan Ichi-kun." Gerutu Karin

Sasuke nomor 25. Batin Sakura. Ia melirik sekali lagi angka yang dipegangnya. Oh, Kami...

Alhasil...

Naruto dengan Hinata

Gaara dengan Matsuri

Shikamaru dengan Ino

Kiba dengan Tayuya

Kimimaro dengan Kin

Lee dengan Karin yang mukanya berubah menjadi merah karena berpasangan dengan orang aneh JIS

Dan, Sasuke dengan Sakura

" Sepertinya para peserta sudah mendapatkan pasangan. Dan perlombaan dengan resmi dibuka dengan musik!" Anko berseru dan lampu dipadamkan agar menambah kesan romatis dan alunan musik mulai mengalun.

Karin sukses meninggalkan aula karena tidak ingin berdansa dengan Lee yang akhirnya berdansa dengan Guy Sensei, guru teraneh di JIS. Ino sibuk menggerutu karena Shikamaru ketiduran karena musik merdu. Gaara dan Matsuri tengah berdansa sambil sesekali Gaara melirik ke arah Sakura yang sedang berdansa dengan Sasuke. Naruto kerepotan membujuk agar Hinata mau berdansa. Dan Sakura sendiri sibuk beradu argumen dengan Sasuke.

" Huh! Kenapa aku harus selalu bersamamu sih!" Gerutu Sakura sambil tetap berdansa dengan Sasuke

" Kau fikir aku mau berdansa denganmu. Dasar aneh."

" Apa kau bil-Akkh.!" Sakura terpeleset karena heels sepatunya terlalu tinggi. 15cm teman!

Untungnya Sasuke berhail menahannya sehingga menciptakan posisi yang sangat romatis. Tapi karena gerakan tadi hanya refleks saja. Sasuke pun juga kehilangan keseimbangannya. Dan BRAAK!

Tiba-tiba, " STOP! Para peserta diharapkan diam dan jangan bergerak."Seru Anko. Lampu kebali menyala dan akhirnya memperlihatkan posisi para siswa-siswi yang sedang berdansa.

Ino yang hampir memukul Shikamaru karena belum juga bangun. Naruto yang baru saja berhasil membujuk Hinata agar mau berdansa Gaara dan Matsuri yang masih tetap dalam posisi berdansa dan tak kalah Sakura dan Sasuke yang kini dalam posisi tiduran sambil kedua bibir mereka menempel ketat

" Kyaaaa! Ichi-kun!" Teriak seluruh siswi JIS minus Hinata, Matsuri dan Sakura sendiri.

Sakura hanya diam dibawah tindihan Sasuke. Walaupun ini bukan yang pertama lagi untuk dirinya dan tentu saja untuk Sasuke, ia masih saja memerah. Dan sialnyaSasuke malah melumat pelan bibir gadis dibawahnya itu.

Naruto hanya cengo, sementara Hinata hanya menutup wajahnya yang telah sukses memerah. Karin dan siswi lain? Tak usah ditanya, mereka telah tepar karena saking cemburunya.

Anko menyeringai," Seperinya kita sudah menemukan pemenangnya. Dan King and Queen malam ini jatuh pada Sakura Haruno dan Yamada Ichi!"

.;

.

.

Sakura memasuki kelas. Semua mata kembali tertuju padanya mengingat betapa cantiknya ia kemarin malam dan notabenenya sebagai Queen JIS sekaligus insiden terkutuk tadi malam.. . Selain itu semua menatapnya karena dandanan Sakura berbeda dari biasanya plus ia juga mendapat tatapan sinis dari hampir semua siswi baik kakak kelas ataupun adik kelas karena tidak lain dan tidak bukan insiden terkutuknya bersama Sasuke lagi!

Hari ini dia menggerai rambutnya dan ia tidak mengenakan kacamata lagi melainkan ia mengenakan lensa kontak agar penglihatannya tampak jelas. Sakura mendengus. Kesal pada siswi yang memandangnya dengan tatapan ingin membunuh plus karena Naruto. Si pemuda rubah itulah yang menyarankan perubahan penampilan dari seorang Haruno tunggal itu.

FLASHBACK

" Sakura chan, kau tidak perlu memakai kacamata lagi dan rambutmu ini tidak perlu kau kepang lagi." Ucap Naruto sambil menarik pelan ikatan rambut Sakura

" Tapi tanpa kacamata aku tidak bisa melihat dengan jelas Naruto."

" Maka dari itu kemarin kita membeli kontak lensa untukmu."

Dan pagi itu Sakura menyerah dan mengikuti saran Naruto.

END of FLASHBACK

" Baiklah sepertinya hari ini kita akan kedatangan dua murid baru. Dua-duanya adalah pindahan dari Amerika. Dan nona Haruno, kau terlihat cantik pagi ini." Goda Iruka sensei yang diiyakan dengan siulan dari para murid laki-laki.

Sakura memerah. Ia melirik ke arah Naruto seolah berkata ' ini semua salahmu' sementara Naruto hanya mengedikkan bahu saja.

Dan masuklah dua pasang murid. Satunya laki-laki tampan berambut merah dan satunya lagi gadis cantik berambut pirang.

" Hn, Sasori." Ucap pria berambut merah itu dingin. Ia lalu melirik ke arah Sakura dengan tatapan dingin

" Ohayou..." Kata gadis blonde dengan sedikit susah payah. " Nama saya Shion. Saya pindahan dari Amerika." Gadis itu kembali tersenyum, " Nice to meet you all...!

" Baiklah kalian boleh duduk. Shion kau duduk di bangku sebelah Ichi Yamada. Dan Sasori kau duduk di bangku disamping Haruno." Ucap Iruka sambil membuka halaman buku yang akan menjadi materi pelajarannya hari ini.

Sakura hanya memandang sekilas pada dua murid baru itu. Ia lalu melirik Sasori. Dan tanpa sengaja matanya menangkap salah satu perhiasan yang dikenakan murid yang bernama Sasori itu. Ia mengenakan gelang bermatakan sebuah batu permata ungu. Sakura langsung berpikiran bahwa Sasori pasti anak orang kaya yang sanggup membeli batu permata yang harganya selangit itu.

" Velvet Blue." Gumam Sakura pelan menyebutkan nama batu permata itu.

.

.

.

Lampu merah tanda darurat mendengung di ruangan Ibiki, " Sial! Ada yang menyadap pembicaraanku dengan Velvet Blue. Tapi siapa dia?" Geram Ibiki yang baru saja mendapat kabar dari salah satu anak buahnya.

Anak buahnya hanya menggeleng.

" Tapi kenapa bisa detektor kita tidak bereaksi seperti bila ada alat penyadap di ruanganku?"

" Sepertinya ia menggunakan pemancar elektromagnetik ringan yang hanya dapat mematikan alat elektronik di dalam ruangan ini saja dan hebatnya tanpa ketahuan." Ujar salah satu anak buahnya, " Tapi aku kira barang itu hanya diberikan pada orang-orang tertentu saja seperti agen rahasia CIA dan FBI dan barang itu limited dan hanya diproduksi di Amerika saja."

" Berarti kamera CCTv juga dimatikan?" Kenapa semua itu bisa terjadi dan kenapa bisa server kita tidak mendeteksinya?" Ujar Ibiki yang kini mulai meredam amarahnya.

" Dia meng-hack server utama kita. Dan aku tambah salut lagi karena walau kita di-hack, server kita kelihatannya baik-baik saja layaknya tidak sedang di-hack." Jelas anak buahnya lagi, " Petugas di sana baru tahu kalau kita sedang di-hack sekitar 15 menitan yang lalu karena tiba-tiba program yang berfungsi sebagai pengaman ataupun detektor telah terhapus. Benar-benar hebat." Decak petugas yang mengenakan kacamata itu

" Kalau begitu, segera kirim pemberitahuan kepada Velvet Blue bahwa percakapanku dengannya telah disadap. Aku ingin agar dia berhati-hati menjalankan misinya." Ujar Ibiki, " Tapi, kira-kira siapa orang itu?"

To be Continued...

A/N

Wahhh! Akhirnya bisa juga selesai chapter ini. Gimana? Agak panjangkah dari chap sebelumnya? Maaf yah kemaren chapternya pendek banget. Oh ya, mumpung saya lagi liburan makanya saya ngetik nih fic*nggak tanya!*

Oh ya author numpang curcol nih. Kemaren Happie author ke format jadi semua datanya hilang! Huweeee!

Sekedar info salah satui adegan diatas saya ambil dari sebuah novel kesukaan saya karya Luna Torashyngu. Maaf saya nggak cantumin desclaimernya di atas. ( Desclaimer salah satu adegan : Mawar Merah Matahari by Luna Torashyngu.) dan mungkin saja di chapter yang yang berikut-berikutnya saya akan kembali menggunakan adegan dari novel bertema pembunuh bayaran itu tentu saja dengan sedikit modifikasi dari saya. Dan soal elektromagnetik ataupun segalanyahanya sekedar karangan belaka saya.

Dan oh ya, ada beberapa reader yang PM ke saya minta kenalan dan minta no happie saya. Klu para readers sekalian mau kenalan, reader dapat kontak saya di nomor di bawah ini:

085796365356 *hanya yang mau*

Saya juga sudah memperbaharui bio saya. Nama akun Facebook dan Twitter bisa liat di sana

Oya, gimana dengan chap ini? Baguskah ato jelekkah? Heheheeheh, typo masih berserakan kyaknya. Soal lemon..Aku nggak tau bakal ada di chapter berapa. Karena rasanya saya belum cukup mental buat lemon. Tapi doa'in aja...

Dan special thanks to:

Sung Rae Ki, tak da akun, Sky pea-chan, no name, chikwang, Tabita Pinkybunny, Kamikaze Ayy, Sindi 'kucing pink', Natsuhi *maaf kalo nggak disebut*

Dan seluruh pembaca...

Akhir kata

Semakin banyak review semakin semangat aku apdetnya...!

Mind to Review...?

Sign-

Cherry