Apa jadinya jika Haruno Sakura si gadis kutu buku dan culun tetapi pemberani bertemu dan tinggal satu atap bersama mafia yang menjadi buronan polisi. Bagaimanakah kisah mereka?

Cherry'UchihaSakura'Blossom

Proudly Present

Most Wanted Boy in My House

Warning : Gaje, Miss typo(s), Lemon (maybe)

Desclaimer : Naruto belongs Masashi Kishimoto

Chapter 8

Berhati-hatilah, ada yang menyadap pembicaraan antara kita.

Velvet Blue membaca sekilas pesan yang baru saja ia terima melalui PDA-nya. Ia hanya menghela nafas panjang. " Bodoh..." Katanya pelan. Ia lalu sedikit merapikan dasi berwarna merah marun kotak-kotaknya yang daritadi tidak beraturan.

Ia kemudian membuka pintu tempat penyimpanan barang-barang yang tidak terpakai lalu kemudian ia melenggang keluar. Setelah berjalan sekitar beberapa langkah, matanya mendapati empat orang sosok yang lumayan ia ketahui sedang memasukkan seseatu ke dalam sebuah loker.

Ia menyipitkan matanya., " Karin..." gumamnya pelan. Ia berhenti sejenak. Setelah gerombolan Karin pergi, ia baru berjalan kembali menuju loker yang tadi Karin hampiri. Ia membaca nama yang tertera di loker itu.

Haruno Sakura.

Ia hanya mendecih seperti biasanya. Seperti mendecih sudah menjadi kebiasaannya saja.

Ia kembali melenggang menjauh dari loker kepunyaan target utamanya selain Uchiha.

.

.

.

Sakura mendapati sepucuk surat tanpa nama di lokernya. Keningnya berkerut. Perlahan jemarinya membuka surat berwarna merah semerah darah itu.

Dan yang benar saja isi suratnya berbunyi , KALAU MAU SELAMAT, DATANGLAH DI GEDUNG OLAHRAGA SAAT JAM MAKAN SIANG. KAMI MENUNGGUMU. BITCH!

Mata Sakura membelalak membaca kalimat yang semuanya berhurup kapital dan ditulis dengan cetak tebal. Sakura sebenarnya tidak takut sama sekali, toh ia hanya berpikir siapa orang yang berani mengejeknya dengan kata bitch.

Raut wajah Sakura kembali datar. Bukannya malah menyimpannya, Sakura malah merobeknya lalu membuangnya ke tempat sampah.

Sementara Karin yang melihat pemandangan itu dari jauh hanya menggeram marah. Ia menyeringai lalu mengedipkan matanya, " Hn, akan kubuat kau berlutut di hadapanku."

.

.

.

Naruto menarik lengan Sasuke menuju tempat yang sepi. Matanya sibuk melirik ke arah kiri dan kanan hanya untuk memastikan bahwa tidak ada yang mengikutinya.

" Dobe, lepaskan aku baka!" Omel Sasike. Tapi malah pemuda itu tetap menarik lengan Sasuke.

Sasuke menjadi kesal. Dengan sekali hentakan keras, ia berhasil meloloskan pergelangan tangannya yang sudah mulai memerah.

" Gomen Teme..." Ucap Naruto pelan, " Tapi ini sangat gawat."

Sasuke yang tadi kesal, raut wajahnya kembali berubah menjadi datar, " Maksudmu?"

Naruto melirik ke kanan dan ke kiri lagi, " Teme, baru saja aku menerima pesan dari salah satu kelompok kalau Danzo tewas. Mobil yang ia kendarai masuk jurang!"

" Hn'.."

Naruto hanya menghela nafas panjang atas respon Sasuke, " Kau ini mengerti tidak sih? Jika Danzo mati, berarti sudah tidak ada lagi yang memimpin kelompok. Apa kita harus kembali ke kelompok?" Tanya Naruto. Ia sebenarnya tidak ingin kembali ke kelompok. Tapi ia tahu betul bagaimana perjuangan Fugaku dan ayahnya sendiri dalam mendirikan kelompok tersebut.

" Aku tidak perduli." Kata Sasuke dingin.

" Tapi jika kau tidak kembali memimpin, kelompok akan hancur."

" Aku tidak perduli, dari dulu aku juga menginginkan kelompok itu hancur. Bahkan musnah." Kata Sasuke dingin, " Lagipula masih ada Kakashi. Biarkan dia yang jadi pemimpin."

Naruto hanya bisa menghela nafas lagi. Ia mengerti betul kebencian Sasuke terhadap kelompok mafia yang didirikan oleh Madara Uchiha yang notabenenya adalah kakek dari Sasuke.

" Tapi..." Ucapan Naruto terpotong saat Sasuke berbalik dan melenggang pergi, " Sudah kukatakan aku tidak perduli dan tidak mau perduli!"

Naruto hanya bisa mengurut dada. Memang bukan hal yang mudah bagi Sasuke untuk menerima tanggung jawab sebagai pemimpin sebuah jaringan mafia yang dapat dikatakan besar itu. Apalagi di usia mudanya.

Ia mengerti betul posisi saudara angkatnya itu. Bayangkan saja saat kau masih berumur 5 tahun kau sudah melihat pertumpahan darah dimana-mana. Pembunuhan hanya seperti tontonan hari-hari dari seorang Sasuke kecil. Apalagi jika mengingat saat kematian ibunya.

.

.

.

FLASH BACK.

Seorang anak berumur lima tahun dengan rambut hitam legam baru saja memasuki sebuah apartemen mewah tempat dilaksanakannya pesta besar-besaran sebuah perusahaan terkemuka zaman itu.

Sasuke kecil kini tengah berjalan berpegangan dengan wanita cantik berambut sama seperti mahkotanya.

" Kaa-chan, kita dimana cih?" Tanya Sasuke polos.

" Hmm, kita sedand di dalam sebuah hotel. Hari ini temannya Kaa-chan sedang berulang tahun." Kata Mikoto Uchiha.

Sasuke yang saat itu masih sangat tau malah terlalu polos hanya mengiyakannya saja. Ia kembali memperhatikan sekeliling ruangan. Tiba-tiba matanya terpaku pada sebuah makanan yang berisi penuh dengan tomat.

" Kaa-chan, Sasu mau tomat. Sasu ke sana dulu yah." Katanya pada ibunya yang kini tengah berbincang dengan seorang wanita berambut pirang.

" Pergilah. Tapi jangan makan terlalu banyak. Nanti perut Sasu sakit." Pesannya pada anaknya.

Sasuke kemudian mengiyakan lalu berlalari ke arah sebuah meja yang berisi makanan yang sangat menggoda iman Sasuke kecil.

Sementara Sasuke sedang asyik melahap makanan, tiba-tiba sekelompok orang masuk ke dalam aula itu sambil menembak ke segala arah.

Tamu-tamu mulai berhamburan, mencoba menyelamatkan diri. Tapi naasnya tak ada satupun yang bisa kabur. Perlahan satu per satu tamu undangan tumbang di lantai, taentu saja dengan keadaan yang mengenaskan pula.

Sasuke yang daritadi asyik dengan makanannya akhirnya mulai panik juga. Ia menghambur berlari mencari dimanana wanita yang telah melahirkannya.

Ia menemukan ibunya kini tengah ditodong senjata oleh laki-laki bertopeng hitam.

" Kaa-chan!" seru Sasuke

'' Sasuke sayang, lari dari tempat ini!" Sahut Mikoto pada Sasuke.

" Hn, satu lagi Uchiha rupanya?" Pria di depan Mikoto berkata dengan garang.

" Komohon jangan sakiti dia." Pinta Mikoto, " Sasuke cepat lari sayang!"

Sasuke hanya terpaku dan tiba-tiba...

DOOR!

Mata Sasuke membulat saat ia melihat timah panas itu menembus kepala Mikoto. Ia menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya ibunya jatuh tergelatak di lantai dengan darah yang mengalir deras dari kepalanya

Sasuke hanya terpaku melihat kejadian yang sebenarnya belum pantas dilihat oleh anak sepertinya.

Perlahan pria kejam yang telah membunuh ibunya berjalan ke arahnya, " Kini giliran..." Kata-katanya terpotong saat timah panas kembali menembus tubuh bagian belakangnya hingga ia jatuh.

Terlihat Itachi Uchiha, kakak dari Sasuke tengah menggenggam Broken Butterfly kesayangannya sambil menatap Sasuke pilu.

" Kaa-chan..."

END Of FLASHBACK

.

.

.

Sasuke kini tengah bersandar di tembok di atap sekolah. Ia menghela nafas panjang. Entah sudah keberapa kalinya ia menghela nafas panjang.

Ia kembali berpikir tentang apa yang dikatakan oleh Naruto. Ya, tentang kelompoknya. Di satu sisi, sudah jadi tanggung jawabnyalah untuk memimpin kelompok tersebut. Tapi disatu sisi lagi, ia ingin kelompok itu hancur bahkan musnah dari muka bumi.

Ia memejamkan matanya. Seketikka muncul sekelebat masa lalu di benaknya. Masa yang tidak akan pernah ia lupakan.

Ia ingat betul senyuman ibunya beberapa jam sebelum kejadian itu. Ia juga masih ingat betul saat ibunya memakaikankannya jas untuk pergi ke pesta itu.

Tanpa ia sadari seleuruh tubuhnya bergetar seperti menahan seseatu yang mau pecah. Tangannya mengepal kuat-kuat. Perlahan air mata yang jarang ia keluarkan tumpah seketika

" Kaa-chan..." katanya bergetar. Tangannya semakin mengepal kuat. Tangisnya makin mengeras.

" Akhhh..." ia menjambak rambutnya frustasi. Ia terus menangis, mengeluarkan seseatu yang memang lama ia kubur dalam-dalam.

Saat itu, atap sekolah menjadi saksi bisu dari rintihan pilu sang karang es.

.

.

.

Sakura POV

Aku berjalan menuju ke gedung olahraga. Mataku melihat sekeliling. Tidak ada orang satupun. Memang aneh. Biasanya gedung olahraga merupakan salah satu tempat yang paling rame dikunjungi.

Ah, masa bodoh. Aku hanya mengikuti naluriku yang semakin penasaran. Siapa yang berani-beraninya mengirimiku surat kaleng bodoh. Dan berani-beraninya mereka mengataiku bitch! Huh! Pokoknya aku tidak terima!

Kini aku telah berada di gedung olahraga. Sama sekali tidak ada orang. Ku edarkan pandanganku lagi. Benar-benar tidak ada tanda-tanda bahwa ada orang.

Cih, aku dipermainkan rupanya. Aku baru melangkah untuk keluar dari ruangan yang dapat dikatakan gelap ketika aku menangkap suara tepuk tangan. Awalnya hanya terdengar samar tapi lama kelamaan menjadi riuh.

" Cih! Rupanya kau bernyali juga ya Haruno." Sakura sudah sangat mengenali suara itu.

" Karin, jadi kalian yang mengirimiku surat kaleng itu? Hn, dasar bodoh." Ejekku dingin.

" Kau pasti sudah tahu kenapa aku atau bisa dikatakan kami memanggimu kesini?" Katanya basa-basi. Aku benci itu!

" Hn, pasti hanya untuk urusan yang sama sekali tidak penting, huh?"

" Sayangnya kali ini kau benar-benar salah." Karin menjentikkan harinya dan keluarlah segerombolan siswi. Mungkin jumlahnya ada sekitar lima puluh bahkan lebih.

" Kami adalah persatuan Ichi lovers sangat merasa keberatan atas apa yang terjadi pada malam ulang tahun sekolah!" Ucap Karin berapi-api diikuti sorakan dari siswi-siswi yang lain.

Rasanya aku hanya ingin tertawa mendengarnya, " Hanya karena itu? Hn, benar-benar bodoh! Nah sekarang apa yang kalian mau lakukan? Balas dendam, huh?"

" Kali ini kau benar sekali Haruno!" Karin terlihat menyeringai, " Serang!"

.

.

.

Normal POV

" Serang!" Setelah berkata demikian, serangan mulai datang bertubi-tubi mengenai Sakura. Mulai dari telur busuk.

Awalnya ia bisa menghindarinya, tapi lama kelamaan serangan itu semakin banyak sehingga satu persatu telur itu mengenai bajunya.

Sementara Sakura hanya meringis. Ia mulai kewalahan. Ia akhirnya memutuskan untuk berlari keluar dari gedung tapi..

" Shit!" Umpatnya saat ia menyadari pintunya terkunci.

" Mau lari hu?" Kata Karin mengejek, " Kau tidak akan bisa lolos dari kami nona. Beginilah ganjaran karena sudah berani-beraninya mencium pangeran kami."

Serangan berikutnya adalah cairan lengket berwarna hijau yang jatuh menumpah dari atas.

Sakura hanya bisamematung. Walaupun ia mencoba melawan. Toh tidak ada gunanya. Kemungkinan menang sangat tipis. Mungkin hanya sekitar 0,0000001 persen!

" Bagaimana? Kau sudah kapok? Serangan ini akan kami hentikan jika kau mau bersujud meminta maaf di depan semua orang." Katanya dengan senyuman sinis.

" hn, jangan harap!" Kata Sakura kokoh. Ia lebih baik mati daripada ia harus mempermalukan dirinya sendiri.

" Kau memang keras kepala. Kalau begitu, nikmati penderitaanmu bitch!"

Setelah itu ribuan bulu ayam jatuh tepat mengenai sekujur badan Sakura. Apapun yang terjadi ia tidak akan meminta maaf!

" Masih belum mau minta maaf juga yah? Kalau begitu kita gunakan cara lain." Karin dan gerombolannya berjalan mendekati Sakura yang sekarang dalam keadaan naas. Tubuhnya dipunihi cairan lengket dan bulu-bulu ayam serta dengan bau yang sangat busuk akibat dari lemparan telur.

Sakura mencoba menghindar tapi sialnya salah satu dari mereka memegangnya dari belakang. Ia mencoba melepaskan diri tapi sialnya yang memegangnya adalah Dori, salah satu siswi ynag berasal dari klub sumo.

Ia mencoba berontak, tapi semakin ia berontak, semakin keras kuncian dari Dori. Tulang Sakura serasa mau remuk manakala Dori semakin mempererat kunciannya.

Sakura mulai limbung. Lututnya juga mulai melemas.

" Serangan kali ini mungkin akan membuatmu berlutut meminta maaf." Karin kemudian melayangkan tangannya ke pipi kiri Sakura hingga menimbulkan suara yang cukup keras. Sakura hanya bisa meringis kemudian ia kembali menyeringai, " Jika hanya seperti ini seranganmu, jangan harap kau akan mendengarku meminta maaf."

" Kau pikir hanya aku yang akan melakukan ini? Kau salah nona." Satu per satu gerombolan itu menampar pipi Sakura.

Sepuluh tamaparan bahkan mungkin lebih telah melayang di pipi kiri ataupun pipi kanan Sakura. Pipinya mulai bengkak dan memerah. Darah juga sudah mengalir dari sudut bibirnya.

Akhirnya tamparan terakhir dilayangkan oleh Yui yang Sakura ketahui adalah seniornya akhirnya membuat Sakura benar-benar jatuh terduduk. Matanya mulai berkunang-kunang. Beberapa kali ia ingin terjatuh, tapi sepertinya ia masih mampu menopang tubuhnya yang serasa semakin berat.

" Bagaimana? Masih tetap pada pendirian, huh?"

" Tentu saja." Nada suara Sakura mulai bergetar.

" Cih! Kau memang benar-benar keras kepala!" Kata Kari geram. Ia kemudian menarik tubuh Sakur. Di seretnya tubuh itu secara paksa keluar dari gedung olahraga.

" Kali ini kupastikan kau akan bersujud dihadapanku." Geram Karin

.

.

.

Hinata berlari mengahambur ke kelas. Pandangannya mengedar mencari-cari seseorang. Nafasnya memburu. Saat ia menemukan orang yang dicarinya ia segera menghampirinya.

" Ichi-kun, Sakura-Sakura-chan, dia, dia sedang ada di tengah lapangan bersama Karin. Dan Karin, Karin mau memotong rambut Sakura-chan." Katanya sambil tersengal-sengal, " Ichi-kun, kumohon selamtkan..." Belum sempat Hinata menyelesaikan kalimatnya, Ichi yang notabenenya adalah Sasuke kini telah melesat pergi menuju kelapangan diikuti oleh Hinata yang mengekorinya di belakang.

Sepanjang perjalanan Sasuke terus menggeram marah. Ia bersumpah, jika terjadi seseatu yang menimpa gadisnya itu. Ia tidak akan pernah melepaskan Karin.

.

.

.

Dori kembali mengunci Sakura dari belakang. Sakura kembali berontak dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Sementara Karin sedang menjambak rambut Sakura dari belakang.

" Aku masih menerima permintaan maaf." Katanya sambil memain-mainkan gunting di tangan kananya

" Hn, jangan harap Karin!" Kata Sakura kokoh.

" Hn, kalau begitu katakan selamat tinggal pada rambut panjangmu." Karin mulai menggerakan tangannya siap menggunting sementara Sakura hanya bisa memejamkan matanya.

Tiba-tiba...

" Jika aku melihat satu helai rambutpun jatuh ke tanah, aku bersumpah aku akan membuatmu menyesal Karin..."

Telinga Sakura menangkap suara bariton yang sangat ia kenali.

" Ichi-kun..." Kata Karin pelan.

Ia membuka kelopak matanya yang mulai terlihat sayu, " I-Ichi..."

Sasuke pun berjalan menuju Sakura, " Hei gendut lepaskan gadis itu. Jika tidak, aku berjanji akan membuatmu tidak bisa ber-sumo lagi."

Mendengar perkataan Sasuke yang begitu tajam, nyalinya pun ciut. Ia melepaskan kunciannya terhadap Sakura.

" Dan kau Karin, jika aku melihat satu helaipun jatuh, aku tidak menjamin kalau kau masih bisa melihat matahari besok." Kata Sasuke dingin lalu ia menepis tangan Karin dari rambut Sakura dan sekali hentakan di tangan kananya, guntingnya terlempar dari tangannya.

Karin hanya bisa mematung saat Sasuke menarik Sakura dalam pelukannya. " Dan untuk kalian semua, jika aku menemukan lecet di tubuh gadis ini, kalian mungkin akan bernasib sama seperti ini." Sasuke mengambil pena dari saku bajunya kemudian ia mematahkannya menjadi dua.

Seperti Dori, gerombolan siswi yang lain akhirnya memutuskan untuk kabur. Mereka tentu tidak mau bernasib sama seperti pena yang baru saja dipatahkan oleh Sasuke.

Yang tertinggal hanyalah Karin seorang. Bahkan Ino, Tayuya dan Kin telah tancap gas .

Sasuke akhirnya meranfgkul Sakura menjauh. Sakura hanya bisa berjalan mengikuti langkahkaki Sasuke. Tapi...

" Kenapa? Kenapa kau membela wanita jalang itu Ichi-kun? Apa kurangnya aku dibandingakn dengan wanita jalang itu!" Seru Karin.

Langkah kaki Sasuke terhenti, '' Kau mau tahu kenapa aku membela gadis ini?" Tanpa diduga-duga Sasuke langsung membungkam mulut Sakura dengan mulutnya sendiri. Walaupun hanya kecupan singkat, itupun sudah cukup membuat mata Sakura sukses membulat dan tentu saja membuat pipinya memerah.

Mungkin yang dirasakan Sakura sama seperti apa yang dirasakan oleh siswa-siswi yang dari tadi menonton pertunjukan menarik itu.

" Mulai sekarang, Sakura resmi menjadi kekasihku. Dan barang siapa yang menyentuhnya palagi menyakitinya, aku akan membuatnya menyesal telah melakukan itu pada Sakura." Kata Sasuke.

Semua mata kemvbali sukses dibuat membulat oleh ucapan dari Sasuke alias Ichi.

" Ma-maksudmu?" Akhirnya Sakura mulai angkat bicara, " Kau jangan bercanda yah!" Tenaga Sakura yang tadi sempat hilang tiba-tiba kembali oleh pernyataan Sasuke.

Sasuke hanya menyeringai dan kembali menarik tangan Sakura menjauh dari lapangan.

" Ichi-kun! Aku sama sekali tidak meneri...Ahhh-" Kata-kata Karin terputus. Dan saat itu ia latuh tumbang ke tanah dengan panah kecil yang nenancap di tengkuknya.

" Ka-Karin!" Sakura menghampiri Karin disusul oleh Sasuke. " I-Ici dia kenapa?" Kata Sakura panik.

" Hn, dia hanya pingsan. Dia telah dibius." Kata Sasuke sambil menari panah kecil yang berbentuk seperti bendera dengan tulisan "V"

Sasuke hanya menatap simbol yang tertera di panah itu, " Hn..."

Sementara pemilik panah itu hanya menyeringai, " Itu adalah balasan karena sudah berani menganggu jalannya pertunjukkan." Katanya lalu ia melenggang pergi.

.

.

.

" Baka! Tadi apa kau sudah gila mengatakan kalau aku kekasihmu?" Kata Sakura yang kini sudah kembali berpakaian rapi setelah ia mengganti bajunya dan membersihkan tubuhnya.

Setelah insiden itu, Hinata beberapa kali mengucapkan maaf karena telah terlambat mengetahui keadaannya begitu pula Naruto.

Tidak ada jawaban dariSasuke. Ia hanya sibuk menikmati angin yang berhembus menerpa wajahnya. Inilah yang paling ia sukai saat berada di atap sekolah.

" Hei Baka! Aku bicara padamu tahu!" Geram Sakura.

Ia tidak habis pikir dengan pria dihadapannya ini. Bisa-bisanya ia mengatakan kalau Sakura adalah kekasih Sasuke dan tapnpa persetujuan dari Sakura sendiri.

" Sampai matipun aku tidak akan pernah sudi menjadi kekasihmu. Dasar Baka!"

" Hn, kenapa? Kenapa kau tidak mau menjadi kekasihku?" Tanya Sasuke sarkatis, " Diluar sana bnayak sekali gadis yang ingin menjadi kekasihku. Kau tahu, kau itu sangat beruntung."

Beruntung apanya? Pikir Sakura. " Bagiku menjadi kekasihmu adalah kutukan!"

" Hn, kenapa? Kenapa kau tidak ingin mejadi kekasihku?" Tanya Sasuke dingin, " Apa karena si rambut merah itu?"

Heh? Sakura merasa ia ingin tersedak, " Gaara-senpai maksudmu? Tentu saja bukan!"

" Terus, apa masalahnya? Apa kau menyukai Naruto?" Tanya Sasuke lagi.

Seperti diserang petir, Sakura membatu. Kali ini ia benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan dari Sasuke. Ia telah di-skak mat oleh Sasuke.

" Jawab Sakura!" Nada suara Sasuke mulai meninggi, " Apa karena kau menyukai Naruto!"

" Itu..." Kalimat Sakura menggantung. Ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.

" Katakan Sakura!" Nada suara Sasuke semakin meninggi. Ia mencengkram pergelangan tangan Sakura, " Apapun yang terjadi, kau hanya milikku Sakura. Dan tidak akan pernah menjadi milik orang lain!"

Kalimat terakhir Sasuke benar-benar sudah keterlaluan. Pikir Sakura. Ia menghentakkan tangannya, " Memangnya kenapa kalau aku menyukai Naruto, hah?" Nada suara Sakura juga mulai meninggi, " Kau pikir aku ini barang yang seenaknya saja bisa kau mainkan sesukamu?"

Sasuke terdiam.

" Asal kau tahu saja, kau sama sekali tidak berhak mengatur-atur hidupku! Memangnya kau siapa, seenaknya mengatakan aku ini kekasihmu dan aku adalah milikmu?" Suara Sakura mulai bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca, " Perlu kau tahu, kau sama sekali tidak berhak mengatur-atur hidupku!" Air mata Sakura mulai menetes, " Kau memang orang yang tidak punya hati! Baka!" Sakura memukul dada Sasuke keras. Tapi tidak cukup keras bagi Sasuke.

Melihat Sakura menangis, hatinya seperti tersyat pisau. Sakura terus memukul-mukul Sasuke, " Baka! Baka! Baka!"

Sasuke hanya terdiam. Akhirnya ia menalik Sakura ke dalam pelukannya dan membenamkan wajah Sakura di dadanay. Membiarkan seluruh emosi Sakura menghantam dadanya.

" Maaf..." Ucap Sasuke pelan.

Sakura menatap Sasuke sambil terisak, " Kau bodoh! Sudah berapa kali kau menyakitiku! Dasar Baka!"

Sasuke hanya terdiam, ia tahu bahwa Sakura telah memaafkan kesalahannya. Seperti biasa.

Sasuke melepas pelukannya, " Tapi aku yakin, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku Sakura."

Angin tiba-tiba menyapu lembut wajah mereka dan menerbagkan beberapa helai rambut mereka.

" Tapi kau harus tetap menjadi kekasihku. Suka atau tidak. Karena ini adalah perintah" Kata Sasuke.

Sakura hanya bisa menghela nafas tanda keputusasaan.

Oh-Kami...

.

.

.

Teel me what you want, tell me baby why you cry tonight...

Beside you everytime...

Beside you everywhere...

BoA - Beside You

.

.

. To be Continued...

A/N

Ahhh... akhirnya selesai juga... satu chapter ini aku habiskan hanya dalam jangka waktu beberapa jam saja. Heh, jadi jika kalau ada kesalahan mohon dimaklumi.

Sekilas, saya ingin menginformasikan keslahan saya waktu yang di chapter tujuh. * silahkan liat di review saya* keslahan itu hanyalah ketidaktelitian saya saja.

intinya kata gadis yang ada di chapter yang lalu itu harus dihilangkan karena sebenarnya kata itu tidak ada.

Dan, kemaren sempat ada yang memberikan flame loh.. wahahaha! Aku jadi tersanjung. Tapi aku ucapakan terima ksih banyak kepada flamer ntu. Kutunggu reviewnya lagi.

Dan thanks buat tema-teman yang telah menghubungiku dan mau berkenalan dengan orang gaje ini. Love you all :*

Dan beribu ucapan terima kasih saya ucapkan pada

Ssusaku hater, Zura Belle, hakuya cherry uchihyuuga, vanilla yummy, SS SK, Sindi 'Kucing Pink', Animea Lover Ya-Ha, Karasu Uchiha, Tezuka Yuki, Sung Rae Ki, chii234chocoholic, Uchiha Hime Is Poetry Celemoet, riestiyani aurora, Akira Mayumi, BlueCherry Uchiha, Tabita Pinkybunny and Silent Reader.

Love You All...

Chapter ini aku dedikasikan untuk yang setia mambaca fic ini...

Sign-

Cherry

Mind to Review...?