Cherry'UchihaSakura'Blossom
Proudly Present
.
Most Wanted Boys in My House
Chapter 9
.
Desclaimer : All Caharacter belong Masashi Kishimoto
Happy read ^^
.
SAKURA POV
Aku melenggangkan kakiku menuju kelas. Sudah jelas semua mata anak-anak itu menatapku tajam. Apalagi saat aku melewati segerombolan penggemar Sasuke. Mereka menatapku seolah ingin memakanku mentah-mentah. Aku menghela nafas berat. Apakah tidak ada yang akan jauh lebih buruk dari ini. Setelah semua yang baru kualami kemarin, hidupku serasa seperti di dalam film. Si gadis cupu yang tengah di-bully kemudia diselamatkan oleh lelaki tampan. Eh, Si pantat ayam itu tampan? Oh ayolah, dia tidak tampan hanya, sedikit tampan. Haaa, bicara apa aku ini? Aku menarik helai merah mudaku frustasi. Si pantat ayam itu memang ditakdirkan untuk membuat hidupku menjadi kacau balau. Terus, seenaknya dia mengatakan kalu aku ini gadisnya? What the hell! Jika saja aku ada lubang besar dihadapanku, aku akan suka rela masuk ke dalam dan mengubur diriku hidup-hidup!
Aku lebih menyukai hidupku yang dulu. Yah, walau hidupku monoton. Bangun, sekolah, belajar, pulang belajar, tidur, dan kembali ke bagian awal lagi. Begitu seterusnya. Tapi, dengan adanya dua mafia pengacau itu di rumahku, agak memberikan warna tersendiri dalam hidupku, walaupun mereka lebih banyak memberiku kesusahan dan tentu saja beban hidup!
Ketika aku hendak beranjak duduk, Hinata sudah menghambur ke arahku. Memelukku. Sahabat yang baik bukan?
"Sakura-chan, daijobu ka?" Tanya Hinata yang kubalas dengan anggukan pelan. Hah, bagaimana aku bisa baik-baik saja setelah semua ini hah?
"Karin memang sudah kelewatan hari ini." Memangnya sejak kapan Karin tidak pernah kelewatan heh?
"Sakura-chan! Are you ok?" Gadis berambut kuning pucat itu tiba-tiba menghambur ke arahku dan memelukku erat.
" ! Se-setidaknya aku akan baik-baik saja jika kau tidak memelukku sekuat ini Shion-san." Hah, apa dia berniat membunuhku huh?
"Eto... Maaf kalau begitu." Dia melepas pelukannya padaku laluu menyengir memperlihatkan deretan gigi yang tertata rapi. Aku tersenyum, "Arigatou."
"Ngomong-ngomong Ichi-san dan Daichi-san kemana?" Ia mengerutkan keningnya.
Ah, benar juga. Dimana mereka. Tadi pagi aku memang berangkat lebih dahulu dari mereka. Apa mereka tidak masuk? Hihi yokatta, setidaknya mereka tidak menggangguku hari i-
"Ohayou minna !" Naruto masuk ke kelas di iikuti dengan pantat ayam itu. Hah, kapan aku bisa bebas dari mereka?
Naruto dan Sasuke kemudian duduk di tempat mereka. Naruto menunjukkan cengiran khas rubahnya, "Kau cepat sekali Sakura-chan. Mendahului kami sampai ke sekolah."
Aku melirik ke sebelahku, dan heh? Ternyata Sasori sudah ada disana? Sejak kapan? Ia memperhatikan kami. Ia menatap kami tajam. Eh, apa sih maksudnya. Dasar pria pendiam misterius. Jika ditandingkan dengan Sasuke, kupikir mereka akan seri. Sama pendiam dan sok.
.
.
.
NORMAL POV
Velvet Blue kini telah duduk tenang sambil memandangi perapiannya. Ia menerawang kelangit-langit. Sekelebat bayangan masa lalu itu muncul kembali di benaknya, membuat pipi porselen itu menjadi basah oleh jejak-jejak air mata.
'U-Uchiha..." Geramnya.
.
FLASHBACK
9 Tahun yang lalu...
"Otou-san, Oka-san." Panggil gadis kecil itu dengan suara parau. Ia sudah tidak dapat melihat dengan jelas dikarenakan asap serta api yang telah membakar habis kediamannya. Gadis itu menangis, "Tolong... Okaa-san tolong." Gadis kecil itu berlari menghindari kobaran api.
DOOR. DOOR
Gadis itu menutup telinga. Kakinya gemetaran, lututnya melemas sehingga sudah tidak mampu menahan bobot badannya ketika orang yang sangat ia kenali jatuh tergeletak dengan darah yang nengalir dari perut mereka.
"O..oka-san, o..otou-san." Suaranya bergetar. Ia menutup mulutnya. Tangannya gemetaran.
"Itu akibatnya jika kau bermain-main dengan Uchiha." Suara berat itu kemudian terdengar.
Gadis itu menyipitkan matanya, "U-uchiha?" Ia tidak dapat melihat bagaimana rupa pembunuh itu. Hanya sekelebat gambar kipas kertas yang ia lihat ketika pria itu menjauh pergi meninggalkan orang tuanya.
Ia berlari menuju tubuh yang bergelimangan darah itu, "Otou-san, oka-san." Ia Menggenggam kedua tangan itu. Matanya bercucuran air mata.
"Ba-balaslah mereka. Ba-balaslah kematian kami." Itulah hal terakhir yang di dengar gadis itu dari mulut Otou-sannya.
.
Setelah pemakaman usai, ia hanya bisa duduk memandangi reruntuhan yang dulu ia sebut dengan rumah. Matanya yang sayu mengisyaratkan kebencian yang teramat dalam terhadap sebuah nama. "Uchiha."
Kemudian tangan berkeriput itu menjulur. Bersedia memberinya kehidupan lagi. Kehidupan yang sudah direnggut oleh Uchiha,.
"Namaku Ibiki. Morino Ibiki. Dan aku tahu, kau pasti sangat membeci Uchiha bukan? Dia yang menyebabkan semua ini terjadi padamu. Aku akan dengan senang hati membantumu membalaskan dendammu kepada mereka." Dan kata-kata itulah yang menguatkan tekadnya untuk mengambil seseatu yang dulu telah diambil secara paksa darinya. Kehidupan.
.
.
.
END OF FLASHBACK
Gadis itu menhela nafas. Mencengkram kalung inisial namanya sendiri. Bulir-bulir itu masih terus mengalir. Ia menatap benci ke arah perapian itu. "Kali ini kau tidak akan kulepaskan, Sasuke Uchiha."
Ia berjalan menuju kamarnya lalu menatap pantulan dirinya pada cermin. Ia mengikat helaian pirang itu keatas. Ia tersenyum. "Tidak akan lama lagi, tou-san, kaa-san." Gumamnya sambil menyeringai. "Aku akan membunuhnya dengan tangan ini. Shion akan membunuhnya dengan tangai ini sendiri."
.
.
.
Sasuke kembali mengerjapkan matanya untuk kesekian kalinya. Ia masih terjaga. Ia menatap jam. "Hn, jam 2 pagi." Dia menjambak rambutnya frustasi. Sial. Rutuknya dalam hati. Lingkaran hitam di bawah mata sudah tercetak jelas disana. Oh ayolah, dia sangat ingin memejamkan mata barang 2 jam sekalipun. Ia kemudian menyeringai. Pikiran jahilnya muncul.
Ia beranjak dari tepat tidurnya menuju kamar pemilik rumah ini. Siapa lagi kalau bukan Sakura. Dia mengetuknya. Tidak ada jawaban. Ia mengetuknya lagi. Masih tidak ada jawaban.
"Beraninya dia mengabaikanku." Pria itu mendecak kesal. Ia kemudian membukanya. Gadis itu masih terlelap pulas di ranjangnya. Ia menatap iri pada gadis didepannya. Enak benar dia tidur sementara aku tidak. Pikirnya lagi.
"Hei." Ia mengguncang bahu pemilik surai merah muda itu. Ia masih saja terlelap. Kini ia mengguncang bahu itu lebih kencang, "Hei, bangunlah."
Perlahan kelopak mata itu terbuka menampakkan manik hijau itu. Sakura menguap, "Kau ini kenapa sih?" Katanya kesal. Ia mengucek matanya.
"Aku tidak bisa tidur." Katanya dingin.
Sakura hanya bisa cengo. Rasannya ingin sekali Sakura menghantamkan kepala pantat ayam itu ke dinding. "Biar kubenarkan, kau membangunkanku hanya karena kau tidak bisa tidur heh?" Tanyanya frustasi.
"Hn."
Sepersikian detik darah Sakura naik ke ubun-ubun, "K-Kau benar-benar menyusahkanku!" Geram Sakura. "Terus, kau mau apa huh? Menemanimu sampai tidur heh? Ejek Sakura ketus.
"Hn."
Perempatan urat itu kemudian muncul di dahi Sakura.OH KAMI SAMAA! Cabut saja nyawaku sekarang! Erang Sakura dalam hati.
.
.
.
"Minumlah. Terkadang susu bisa membuat orang mengantuk." Sakura menyodorkan susu hangat kepada Sasuke."Hn." Ia kemudian meraih gelas itu kemudian menegaknya sampai habis.
"Bagaimana? Mulai terasa mengantuk?" Tanyanya. Sakura kembali menguap untuk kesekian kalinya.
Tik tok tik tok. Hening.
Sasuke menggeleng. Ingin rasanya Sakura berteriak, jika saja mengingat kalau ini masih bukan tengah malam.
"Kita coba metode kedua."Sakura mengepalkan tangannya. "Ini pasti bekerja."
"Hn."
"Kita coba menghitung domba." Ucap Sakura. "Berbaringlah"
Sasuke mengikuti kata-kata Sakura. "Katakan satu anak domba dan seterusnya."
"Hn. Satu anak domba, dua anak domba..."
Beberapa saat kemudian.
"Dua ribu anak domba, dua ribu sa..." Sasuke melirik Sakura yang ternyata ketiduran. "Hei, kenapa kau yang malah tertidur heh?" Tanya Sasuke kesal.
Sakura kembali membuka matanya, "Nyeeem, kau masih belum mengantuk juga heh?"
"Hn."
Sakura tertunduk. Ayolah Sakura, berpikir. Kalau begini terus sampai pagi pun kau tidak akan bisa tidur. Sakura memukul pelan kepalnya. "Ayolah otak, berpikir." Oh ayolah, aku mengantuk. mana bisa aku berpikir saat ini. Di benaknya hanya terpikir untuk menghajar pemuda di hadapannya ini menggunakan tongkat baseball hingga ia tidak tidak sadarkan diri. Sudah pasti Sakura akan melakukannya, jika ia memang tidak waras.
Tringg !
Lampu di kepala Sakura yang tadinya kemudian menyala terang. "Tunggulah sebentar. Aku tahu cara yang paling ampuh. Dan kujamin kau akan tidur setelah ini." Sakura kemudian melengos pergi ke dapur. Sasuke hanya memandang gadis itu geli. Dia memilih tidak tidur untuk membuat dirinya tidur. Benar-benar gadis yang peduli. Sasuke yang memikirkannya jadi senyum-senyum sendiri.
Sementara itu...
SAKURA POV
Xixixi. Aku menatap botol eter di hadapanku. Ini adalah senjata terakhir . Aku akan membekapnya menggunakan ini.
Aku menuangkannya sedikit pada sapu tangan. Lalu kembali beranjak menuju ruang tamu. "Oi, Sasuke, aku sudah menemukan.." Kulihat Sasuke sudah terlelap pulas diatas sofa.
Aku tersenyum. Kemudian berjalan mendekatinya. Aku menatap lekat-lekat rupa Sasuke. Memang tampan. Wajahnya terpahat denga sempurna. Eh, aapa yang baru kukatakan tadi heh? Aku memuji ketampanan pantat ayam ini? Oh, aku pasti sudah benar-benar tidak waras.
"Oyasumi Sasuke." Kataku pelan lalu aku melangkahkan kaki kembali ke kamar. Oh, kamarku tersayang aku daaataang !
Aku membaringkan diriku, siap-siap untuk memejamkan mata. Perlahan kututup mataku. "Tidur..." Aku menggumam pelan. Xixixi, akhirnya. Tapi...
Aku kembali membuka mataku. Eh, aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Mencoba terlelpa lagi. Aku kembali membuka mataku. E-eto.. kemana semua perginya rasa mengantukku heh?
Aku kemudian menutupi mukaku dengan bantal.
AAAAAAAHHHHHHHHHHHH !
.
.
.
Aku terbangun pagi hari dengan mata yang memiliki kantung mata yang berlipat ganda. Bagaimana tidak mataku baru bisa tertutup pada saat jam 6 pagi dan setengah jam kemudian jam wekerku sudah berbunyi nyaring !
"Ohayou Sakura-chan." Naruto menyapaku saat aku berada di meja makan."Daijobu ka? Kau seperti tidak tidur semalaman saja Sakura-chan." Tentu saja! Aku memang tidak tidur semalaman. Aku mendelik kesal ke arah Sasuke pantat ayam itu. Ia terlihat sangat fresh. Kontras denganku yang terlihat lebih kusut dari baju yang tidak di setrika selama satu tahun! Aku menatapnya seolah berkata 'ini semua salahmu' dan dibalas dengan acuh tak acuh seolah ia berkata 'salahmu sendiri karena tidak tidur setelah aku tidur' lalu ia membuang mukanya. Sumpah demi apapun! Ingin sekali rasanya aku melemparinya dengan sup panas buatan Naruto.
.
.
.
Saat di sekolah Hinata dan Shion menanyakan hal yang sama seperti Naruto. Sumpah demi apapun lagi, aku memang tidak tidur. Puas?! Ini semua karena pantat ayam sialan itu! Aku benar-benar mengantuk saat ini. Dan yang paling kuinginkan adalah tidur. Aku menelungkupkan wajahku di meja, memejamkan mata. Mungkin untuk beberapa menit kalau saja bel sekolah tidak berbunyi seperti sekarang ini. Sontak di dahiku kembali muncul urat-urat membentuk perempatan jalan. Dan kurasa waktu akan berjalan sangat lambat hari ini.
.
"Sakura-chan kebagian membawa alat-alat dapur yah." Ucap Hinata kalem yang kujawab dengan anggukan. Kuseruput kopi dingin yang kini sudah tandas setengahnya. Well, kafein akan membuatku terjaga.
Aku kembali teringat kata-kata Iruka-sensei beberapa jam yang lalu.
"Besok lusa sekolah kita akan mengadakan camping di daerah Hokkaido. Jadi persiapkan diri kalian. Karena kita akan bersenang-senang!" Ucapan Iruka-sensei jelas disambut dengan riuh oleh seluruh penghuni kelas.
Naruto sudah jelas sangat heboh. Kebalikannya dengan Sasuke. Tidak ada tanggapan darinya. Sementara fansgirl Sasuke mulai mengatakan hal-hal yang bodoh. Misalnya, "Ichi-kun nanti akan setenda denganku kan?" Ucap Karin manja. Ternyata dia belum kapok dengan insiden kemarin. Atau ucapan menjijikkan seperti," Ichi-kun akan menghabiskan malam denganku, dan kami akan ehm-ehm." Ucap Ino genit. Aku rasa aku akan muntah. Dan akhirnya diakhiri dengan cekikikan heboh dari para fansgirlnya.
"Etoo, Sakura-chan kau melamun?" Hinata menepuk bahuku.
"Ti-tidak kok, Hinata." Aku memberikannya senyuman.
"Sakura-chan, kau akan mengenakan baju apa nanti?" Shion menimpali. "Kurasa aku akan pakai mantel musim dingin yang terbuat dari kulit beruang kutub." Aku hanya cengo mendengar ucapan Shion. Dasar anak orang kaya." Mungkin hanya baju kaus dan jaket." Jawabku.
Aku mengalihkan pandanganku dan tidak sengaja menemukan Sasori yang kembali menatap kami tajam. Dia ini kenapa sih. Dia menatap kami seperti tatapan mau membunuh. Aku bergidik ngeri, "aneh."
Sejak awal dia memang selalu menatapku sepeti itu. Mungkin dia maniak, eh jangan mengada-ngada. Tapi mungkin saja kan?
"Hinata, Shion, lihat. Sasori-san menatap kita." Shion lalu mendelik ke arah Sasori. Ia buang muka lalu melenggang pergi.
.
.
.
NORMAL POV
Shion mengerutkan kening ketika ia mendapati sepucuk kertas dan bendera kecil bertuliskan 'V'
'Temui aku di gudang belakang sekolah.'
V.R
Ia meremas kertas kecil itu, "Cih." Ia memasukkan punisher berwarna hitam keemasan itu ke dalam saku jasnya lalu melenggang menuju gudang belakang sekolah. Ketika tiba, Shion menggeram kesal karena tidak ada satupun orang yang ada disana.
Tiba-tiba tanpa ia sadari panah kecil telah melesat ke arahnya. Untung dengan insting pembunuhnya ia dapat menghindarinya. "Ada yang tidak beres disini." Ia menggumam.
Tidak beberapa lama panah kembali melesat dengan cepat ke arahnya. Dengan sigap ia berguling mencari arah sumber panah itu. Dan dengan cekatan ia menembakkan pelurunya beberapa kali begitu ia mendapat bayangan orang yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia berlari ke sumber arah panah, dan penembak panah otomatis yang ia temukan disana berikut dengan manekinnya. "Sial." Ia mengutuk kesal. Siapa pun yang berani main-main padanya, ia bersumpah akan membunuhnya. Cepat atau lambat. Sekian detik kemudian panah melesat kembali ke arahnya dan menancap pada kepala manekin itu. Panah kecil yang memiliki bendera bertuliskan 'V'
Dan diluar seseorang telah menunggu sambil menyeringai. "Ini baru saja akan dimulai, Velvet Blue." Lalu ia melenggang menjauh dari gedung tua itu.
.
.
.
Sakura kembali memeriksa barang-barang yang akan dibawanya memastikan tidak ada yang terlupa.
"Kau sudah siap Sakura-chan?" Begitu kata Naruto saat ia membawa barang bawaannya sendiri naik ke dalam bus. Sakura mengangguk. Ia menaiki bis, dan tempat duduknya tgelah tersedia. Dan disamping Uchiha Sasuke. Sakura mendengus kesal. Ia meletakkan barang bawaannya, lalu segera menduduki kursi bis. Ia melirik ke arah Sasuke, ia kini tengah sibuk mendengar lagu melalui earphone yang kini terpasang di telinganya.
Sakura mendengus kesal lagi. Ia mengeluarkan novel dari tasnya, lalu membaca halaman-demi halaman ketika mesin bis itu menderu dan mulai berjalan meninggalkan kompleks sekolah mereka.
Selama perjalanan, Naruto, Kiba dan Chouji meramaikan suasana dengan menyanyi sepanjang jalan. Sasuke kini sudah terlelap di sebelahnya. Kepalnya sedikit merosot pada bahu Sasuke. Sontak, wajah Sakura memerah. Ia memandangi wajah Sasuke yang begitu pulas. Ia tertawa geli lalu menyandarkan kepalanya pada Sasuke dan kemudian ikut terlelap.
.
.
.
Sakura mengambil barang-barangnya dengan kesal. Kesal bukan main. Siapa lagi jika bukan karena ulah pantat ayam tampan itu.
"Huh, sudah bagus dia kukasih tumpangan saat ia tidur." Sakura bergumam kesal begitu ia mengangkat tas bawaannya.
Ia kembali mengingat ulah pantat ayam yang sukses membuatnya kesal sekaligus memerah. Saat mesin bis itu berehenti menderu, ia terbangun karena kilatan blitz yang menerpa mukanya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya mendapati Sasuke dengan sukses terkikik geli karena hasil jepretan yang ia dapatkan.
Sakura memerah, begitu Sasuke meperlihatkan wajahnya pas tertidur di kamera. Pasalnya, wajahnya terlihat sangat bodoh dengan iler yang mengalir dari sudut bibirnya.
"Kau tidur seperti pria kau tahu, ngorok dan ileran." Sasuke menjulurkan lidahnya, "Bajuku sampai basah karena kau." Ia menunjukkan lengan bajunya yang sedikit dihiasi dengan bercak basah yang lumayan agak besar.
Sakura menghentak-hentakkan kakinya begitu mengingat kembali hasil jepretan Sasuke. "Ahh, memalukan.." Sakura menjerit frustasi. Sementara Sasuke yang samar-samar mendengar suara Sakura hanya mengulum senyum. "Kenang-kenangan yang tidak akan bisa kulupakan." Ia lalu melirik ke arah bercak basah di lengannya.
.
.
Sakura cengo begitu melihat barang bawaan Shion yang jumlahnya banyak. Ditandi dengan besarnya tas bawaannya. "Ne, Shion-san, kita hanya menginap 3 hari kan?"
Shion tersenyum, "Hari yang lama bukan? Makanya aku sudah mempersiapkan ini semuanya. Dan kau tahu, aku sudah menyiapkan kejutan untuk kita semua." Ia menyeringai. Sakura hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia lalu memasuki tenda untuk menyimpan barang-barangnya.
"Sebentar lagi permainan akan dimulai." Gumamnya pelan.
.
Malam harinya setelah semua kegiatan usai, Sakura menghangatkan tangannya di dekat api unggun. Disampingnya duduk Naruto yang sambil menyeruput air kaldu sisa ramennya. Tak jauh dari mereka, Sasuke kini tengah berdiam diri di depan tenda birunya sambil dikerumuni fansgirlnya. Dasar.
"Ne, Sakura-chan." Naruto berucap lemah. Terlihat semburat merah di pipinya. "Bisa ikut aku sebentar?" Katanya melanjutkan.
Alis Sakura saling bertautan, "Kemana hm?"
Naruto berdiri mengisyaratkan Sakura untuk mengikutinya. Dan Sakura menurutinya. Naruto dan Sakura meninggalkan perkemahandiikuti dengan lirikan tajam dari Sasuke.
"Hn, minggir kalian semua." Kata Sasuke tajam kemudian ia berjalan mengikuti Naruto dan Sakura.
"Ne, kita mau kemana?" Tanya Sakura lagi. Naruto menghentikan langkahnya. "E..eto.." Naruto menggaruk-garuk pipinyayang mulai menimbulkan semburat merah.
"Ano... Sakura-chan." Ia menggaruk rambut kuning jabrik itu. "Ada yang ingin kukatakan padamu."
Kening Sakura tambah berkerut, "Apa hm?"
Dan entah apa yang merasuki Naruto ia tiba-tiba mengelimanasi jarak diantaranya. Mengecup bibirnya lembut. Sakura hanya mengerjap-ngerjapkan matanya. Semburat di pipinya muncul.
Begitu Naruto menyudahi kecupan singkat itu, wajah Sakura sontak memerah sepenuhnya. "E-eh.."
"Sakura-chan.." Naruto berucap lemah, "Daisuki."
Angin lembut menyapu pipinya, diikuti dengan gemelutukan gigi seseorang yang melihat rentetan peristiwa itu dengan jelas dari balik pohon.
.
.
.
To be Continued
Mind to review?
Author's Area :
Ahirnya apdet juga. Yaak, cerita macam apa ini? Alurnya kecepatan yah? Ah, gomen udh mengecewakan minna-san *sujud* Cuma ide ini yang yang terlintas di benaknnya author. Gomen, gomen. Udah lama apdet, akhirnya Cuma begini pula *ditimpuk*
Review, kritikan bahkan flame yang membangun diterima kok. Yosh, ampai jumpa di chapter depan. Jaa..
Sign in-
Cherry
