Disclaimer: Asagiri Kafka.

Warning: OOC, gaje, kepanjangan buat drabble (?), typo, feel ga ngena, dll.


#6: I'm Grateful for You

Halaman belakang kampus menjadi tempat nongkrong favorit untuk membicarakan kejombloan yang mengutuk mereka. Ditemani 2 kaleng minuman bersoda, sekotak rokok dan kacang kulit, Akutagawa Ryuunosuke menceritakan patah hati yang ia alami. Namun, korbannya bukan dia seorang, Nakahara Chuuya yang dijadikan objek curhat pun turut patah hati usai 'foto' terkutuk itu diperlihatkan dengan kefrustrasian seorang bocah rashomon.

Hampir saja Somay A5 milik Akutagawa terbelah 4 jika terlambat diselamatkan.

"Siapa sangka Kak Chuuya menyukai Kak Dazai." Sosok yang tertangkap oleh kameranya adalah Dazai Osamu, idola para mahasiswi dari jurusan hukum. Ada juga gebetan Akutagawa, yakni Nakajima Atsushi seorang mahasiswa psikologi.

Mereka yang jalan bareng tentu bukan perkara besar. Mau secemburu apapun, Akutagawa tidak akan jadi pujangga dadakan di facebook dengan elegi-elegi patah hati sampai Pak Fukuzawa mengajaknya jadi idol demi menyelamatkan fakultas sastra Indonesia yang di ambang kepunahan. Masalahnya adalah mereka pegangan tangan, PE-GANG-AN TA-NGAN!

Setelah diselidiki dengan jurus seribu stalker, terungkap sudah bila keduanya resmi berpacaran. Kira-kira dari seminggu lalu di mana Atsushi bercerita dengan wajah tanpa dosa kepada Akutagawa yang gigit-gigit piring bekas indomie.

"Sekali lagi lo bilang, meledak itu coca-cola," ancamnya mengeluarkan permen mentos. Walaupun terkesan tidak elit, Akutagawa yang cinta mati pada soda cukup dibuat ketakutan.

"Kak Chuuya kelihatan santai untuk orang yang patah hati." Mahasiswa bau kencur ini mana tahu, jika si cebol ingin melempar kaktus beserta potnya kepada Dazai.

"Lo pasti tahu gue berteman sama Dazai dari kecil. Dulu pas SMA, idiot itu pernah jatuh cinta sama Odasaku. Tetapi belum lama pacaran, Odasaku meninggal gara-gara kecelakaan motor. Semenjak itu kerjaannya sedih terus, kadang suka nangis di kamar."

Jeda sejenak, Chuuya mengisap rokok yang sempat terabaikan. Akutagawa takzim menunggu kelanjutan cerita tersebut.

"Kalau Dazai bisa bahagia dengan Atsushi, gue turut bersyukur, seneng buat dia." Terlepas dari keinginannya melempar kaktus beserta pot, Chuuya 'tulus' soal ini. Sepasang azure itu melembut mendesirkan perasaan aneh pada dada sang mahasiswa baru.

"Ternyata Kak Chuuya bijak."

"Orang patah hati bisa lebih bijak dari Mahatma Gandhi."

Meski Mahatma Gandhi tidak akan melanjutkan kalimat tersebut dengan niat, 'nanti juga gue tikung selama belum dihalalin'.

Chuuya bergembira saat ini saja. Bersyukur karena itu Atsushi, kalau masih Odasaku bakal susah menikungnya entar.


#7: I'm Inspire You

Beberapa waktu terakhir, Dazai Osamu memikirkan betul apa yang berubah 2 tahun belakangan–selain tinggi dan berat badan, kehidupannya berbalik 180 derajat dengan kalimat yang sulit dideskripsikan.

Sesuai permintaan Odasaku, ia berpihak kepada mereka yang membutuhkan. Bergabung dengan Agensi Detektif Bersenjata demi mewujudkan keinginan tersebut. Dazai menjadi lebih manusiawi dalam memandang hidup orang lain. Tahu cara menghargai bahkan mati-matian mempertahankannya.

Keluar dari Port Mafia, ia menemui rekan-rekan baru. Berbagi canda, tawa, duka, tangis dan cerita di bawah atap yang sama–Agensi Detektif Bersenjata menjadi rumah yang menawarkan kehangatan. Dazai pun paham kebersamaan di antara mereka jauh lebih indah dibandingkan melihat merah darah musuhnya. Menarik pelatuk demi keadilan sangatlah keren daripada membunuh secara membabi buta.

Bergabung dengan Agensi Detektif Bersenjata, Dazai bahkan berhasil menyelamatkan seseorang. Nakajima Atsushi yang yatim piatu, dihantui bayang-bayang kekejaman penjaga panti menjadi lebih kuat dan bangkit untuk melawan kelemahannya, berhenti mengasihani diri sendiri. Belum lama setelahnya, manusia harimau itu turut menyelamatkan seseorang. Sebagai senior, Dazai tentu bangga sekaligus bahagia. Dia tidak salah pilih. Keputusannya membuahkan hasil-hasil baik dan menjauhkan dari penyesalan.

Lantas dengan pencapaian sebesar itu, apa Dazai Osamu lebih paham, menjadi tahu cara menghargai diri sendiri? Jawabannya tidak. Berpihak pada kebenaran dan menyelamatkan adalah keinginan Odasaku. Jauh dari lubuk hati terdalam, ia belum menemukan alasan miliknya demi melanjutkan hidup. Tetap menjadi seorang idiot yang menggantungkan diri pada kematian dan bunuh diri ganda.

"Tetapi itu dulu. Sebelum aku menyadari perasaanku padamu."

Cinta kepada Nakahara Chuuya telah menyelamatkannya dari keinginan gila tersebut. Selama mantan rekan sekaligus pujaannya terus hidup, Dazai ingin menarik napas seberat apapun itu. Bila Chuuya menolak bunuh diri ganda dan memilih mempertahankan hidup, Dazai mau menghargai keputusannya. Jika maniak topi itu memintanya berjanji agar tidak mati sebelum ia bunuh, Dazai sekuat tenaga akan menyanggupinya.

"Terima kasih telah menginspirasiku. Aku mencintaimu, Chuuya," bisiknya lembut mengecup kening sang senja. 'Permainan' mereka semalam pasti membuatnya kelelahan.

Keinginan mencintai Chuuya jauh lebih berharga melampaui segalanya.


#8: I Remember You

Menghitung hari yang perlahan menjadi bulan kemudian tahun merupakan rutinitas baru untuk Nakahara Chuuya. Pemuda senja itu bukan maniak jadwal seperti Kunikida Doppo. Rasanya saja begitu gila dengan mencatat angka-angka tersebut dalam benak. Sementara penantiannya tak mengenal akhir yang ia tunggu sejak lama. Harapnya mengambang di tengah keputusasaan, antara dan tiada setiap azure itu menemui sepasang kakao yang justru melempar tanya.

"Sedih tidak bisa menemui pacarmu? Sebentar lagi Atsushi-kun datang. Tinggalkan saja aku."

"Siapa juga yang sedih?! Dan aku tidak punya pacar." Sudah berapa kali diberitahu, pasien kamar 504 itu tetap mengotot dari 3 bulan lalu. Chuuya merasa mulutnya berbusa setiap mengulang perdebatan serupa.

"Aku mengulang pertanyaan itu dari tiga bulan yang lalu dan jawabanmu masih sama. Kasihan tidak laku."

"Ka-kata siapa?! Aku sedang menunggu seseorang asal kau tahu."

"Jangan-jangan aku, ya? Habisnya dari koma sampai masa rehabilitasi, Kunikida-kun bercerita kalau kamu yang merawatku. Meski suka marah-marah, ternyata kamu orang yang baik."

"Berhenti menggodaku, Dazai sialan! Kau mau kujatuhkan dari kursi roda, hah?!"

"Aduh galaknya ibu-ibu satu ini. Pantas jomblo terus."

Idiot tetap idiot. Dazai Osamu belum berubah seberat apapun kecelakaan yang menimpanya. Bukan hanya Port Mafia, Agensi Detektif Bersenjata tempat mantan rekannya itu bernaung juga mengundang ribuan dendam dari sarang kejahatan yang mereka berantas. Dazai telah menjadi korban pengeboman dan didiagnosa amnesia usai koma 6 bulan penuh.

"Sakuranya cantik, ya." Bila Dazai ingat dan memanggil namanya sekarang juga, dapat dipastikan musim semi April itu menjadi yang terindah sepanjang kenangan. Chuuya larut untuk berkhayal sementara tanpa ia sadari, Dazai memperhatikan lekat-lekat wajah itu.

"Kamu tahu? Rasanya aku ingin melihat pemandangan ini dengan seseorang yang berharga bagiku."

"Kunikida atau Atsushi maksudmu?"

"Heee ...! Siapa juga yang mau melihatnya bersama si maniak jadwal. Kalau Atsushi-kun, kurasa dia lebih ingin dengan Kyouka."

"Jadi, siapa?"

"Orangnya adalah kamu. Aku yakin itu."

Angin sepoi-sepoi berembus mengisi celah kosong yang Chuuya ciptakan dari lamunannya. Ia terkejut bukan main. Hampir saja tertawa meragukan kalimat yang terasa imajinatif tersebut. Namun, bila sekadar mimpi yang terlalu kejam untuk direalisasikan, apalah arti dari kakao yang menajam itu? Seakan mempertegas makna dari pernyataan yang ia umumkan tanpa main-main.

"Kalau begitu, siapa namaku?"

Senyumnya melembut. Chuuya setengah mati dibuat berdebar-debar.

"Odasaku. Aku yakin itu namamu." Kenapa malah si pak tua yang disebut? Karena sedikit termotivasi, Chuuya belum hilang harapan saat itu.

"Kau tidak ingat yang lain?"

"Seingatku yang bernama Chuuya telah mati." Ternyata begitu, ya. Angannya terasa mustahil sekarang.

"Ya, kau benar. Dia telah mati," ujarnya memutar balik kursi roda. Jam pemeriksaan hampir tiba untuk dilakukan.

Hitungan waktu yang ia lakukan adalah sebagai pengingat akan hari di mana Chuuya memeluk pangeran idiotnya itu. Ketika ego yang mendindingi hati dan perasaannya hancur untuk segera diungkapkan dengan kalimat cinta yang selama ini hanya diangankan. Sewaktu mereka mengikrarkan diri untuk saling memiliki tanpa mengenal syarat maupun batas yang selama ini menghalangi.

Jika bukan demi memperjuangkan keinginan tersebut, Chuuya yang membenci angka tentu memilih untuk melupakan tanggal, bulan, tahun serta waktu yang terus berjalan. Semua itu tidaklah penting kalau terasa sama setiap harinya -hambar membuat muak.

Lalu sekarang, apa ia harus mengakhirinya atau terus menanti akhir yang lebih baik? Chuuya tidak tahu. Dia hanya mau tidur sekarang.


#9: I'm Happy for You

Mawar mewarnai seisi ruang dengan merah yang harum menggoda. Memancarkan aura keromantisan yang sama pekatnya dengan parfum vanili dari tubuh ramping sang mempelai. Takaran aromanya dirasa tepat, tidak mengundang rasa yang terlalu kuat maupun lemah untuk dinikmati para saksi terutama pendampingnya. Sosok yang menghadap kaca rias tersebut sempurna memancarkan keanggunan serupa rembulan di tengah gemerlap malam.

CKLEK!

"Chuuya, kau sudah si ... AWWW!" Lemparan tersebut telak mengenai keningnya. Sang perias yakni Kouyou merengut mendapati kedatangan yang belum diundang itu.

"Jangan sembarangan masuk, Dazai-kun. Aku belum menyuruhmu."

"Tidak apa-apa, Anee-san. Lagi pula semuanya sudah siap." Merasa cukup dengan riasan yang terpasang, sang senja merangkap anggun rembulan itu beranjak menghampiri calon suaminya. Kouyou di belakang mereka tersenyum mendukung

"Kamu cantik, Chuuya. Gaunnya tidak apa-apa dibiarkan tergerai?"

"Daripada memikirkan gaun, jangan sampai melupakan janjinya."

"Chuuya juga jangan gugup. Wajahku kalau dari dekat tampan maksimal, lho."

Dandanannya tampak beda dari rutinitas–pernikahan mereka membuat Dazai sedikit mengubah gaya rambutnya berpadu jas putih dengan kemeja serta celana bahan berwarna serupa ditambah sematan mawar merah pada dada kiri. Untuk tuan putri dan sepatu kacanya, sang pangeran telah begitu menyihir dengan mempercepat tempo lagu yang dimainkan oleh dadanya. Memantrai dirinya oleh genggaman lembut dari jemari tak berperban itu, sempurna melakukan kontak antar kulit dengan kulit.

Sementara bagi sang pangeran termasuk para undangan, Chuuya melampaui sihir dan mantra yang membekukan pandang serta kata. Gaun putih panjangnya dibiarkan tergerai mengikuti irama, polos tanpa renda dengan membiarkan bagian punggung sedikit terbuka. Cadar yang ia kenakan menutup sepasang laut tempat di mana Dazai tenggelam tanpa menghabiskan napas yang dimilikinya untuk mengembuskan cinta kepada Nakahara Chuuya seorang. Sementara rambut senada senja itu tampak dikepang bunga memperlihatkan tengkuknya yang basah oleh keringat.

"Saya, Osamu, menerima Chuuya untuk menjadi istri, untuk memiliki dan menerima, mulai hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, kaya maupun miskin, sakit dan sehat, untuk saling menyayangi dan menghargai, hingga maut memisahkan, dengan bimbingan Tuhan dan karena itu saya menyerahkan jiwa raga ini untukmu."

"Saya, Chuuya, menerima Osamu untuk menjadi suami, untuk memiliki dan menerima, mulai hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, kaya maupun miskin, sakit dan sehat, untuk saling menyayangi dan menghargai, hingga maut memisahkan, dengan bimbingan Tuhan dan karena itu saya menyerahkan jiwa raga ini untukmu."

Pengikraran berlangsung mulus. Pendeta mempersilakan mereka berciuman.

"Kau tahu, Dazai? Aku bahagia untukmu sekarang."

"Kata-katamu seperti orang patah hati saja. Terus panggilnya Osamu, bukan Dazai."

"Aku bahagia untukmu karena telah memilihku. Terima kasih, idiot."

Setelahnya Dazai terperangah untuk 2 hal; atas kalimat yang Chuuya ucapkan dan ketika ia sadar, istrinya itu mencium duluan.


#10: I'm Rooting for You

Sewaktu senja di taman kota merupakan saat yang tidak pernah Nakahara Chuuya bayangkan untuk bertemu Dazai Osamu. Si maniak topi bukanlah penikmat langit jingga kecuali kekasihnya itu–Dazai selalu bilang 'senja mengingatkanku pada rambutmu'. Ketika mereka dipisahkan oleh rutinitas atau pekerjaan, sejenak pemuda jangkung itu akan melirik jendela. Memperhatikan langit sore dan matahari terbenam sebelum kembali untuk menganalisis kasus-kasus kejahatan di Kota Yokohama.

Kalau sekarang, Chuuya belum memiliki tebakan untuk memahami maksud dari pertemuan ketiga mereka di hari itu.

"Sore, Chuuya. Ini kedua kalinya kita bertemu sewaktu senja." Yang pertama ketika idiot perban itu menyatakan perasaannya di tepi laut Yokohama. Selebihnya mereka bertemu pada siang atau malam hari.

"Kita baru bertemu kemarin. Melihat wajahmu terlalu sering membuatku muak jadinya."

"Kejamnya Chuuya~ Padahal aku ingin menikmati senja bersamamu."

"Terserah. Biasanya juga kau menikmati senja tanpaku." Sedikit mengherankan memang. Chuuya mulai menebak arti dari seulas senyum yang Dazai tunjukkan.

"Kalau bersama Chuuya pasti beda rasanya, dan aku mau tahu seperti apa jadinya."

Ada-ada saja, ia menggidikkan bahu sebagai jawaban. Mereka pun menghabiskan senja dalam bisu yang menyelimuti udara. Sesekali Chuuya menguap bosan. Mempertanyakan apa hebatnya langit jingga sampai maniak perban itu mesem-mesem sendiri.

"Chuuya, jika misalnya ini menjadi senja terakhir yang dapat kita saksikan, bagaimana menurutmu?"

"Bukan masalah. Kita bisa bertemu siang atau malam. Aku saja heran kenapa kamu tergila-gila dengan senja."

"Tentu aku menyukainya. Kita resmi berpacaran sewaktu senja lalu kemudian, berpisah di saat yang sama." Azure itu membulat mendapati kalimat terakhir. Dazai dengan tatapan teduhnya menatap pada Chuuya yang menuntut penjelasan.

"Besok aku akan pergi ke Amerika. Melanjutkan pendidikan S2 di sana."

"O-oh, terus?" Selain pertemuan sewaktu senja, Dazai yang meninggalkannya dan pergi cukup lama belum sekalipun Chuuya bayangkan. Dia memang naif telah berpikir mereka akan tetap

"Apa Chuuya tidak apa-apa jika kita harus LDR?"

"Siapa peduli. Aku mendukung apapun keputusanmu asal bisa membuatku jauh darimu."

Usai menutupi kesedihannya. Chuuya beranjak meninggalkan taman kota bila Dazai terlambat menahan tangan itu. Matahari perlahan terbenam. Senja yang mereka saksikan mulai digantikan gelap malam tanpa ditemani purnama.

"Semakin jauh maka semakin ingin untuk dekat. Aku yakin itu yang Chuuya rasakan."

"Lalu karena itu kau menahan tanganku? Dasar konyol."

"Tadi Chuuya bilang akan mendukung apapun keputusan yang aku buat." Tahu-tahu Dazai berlutut. Melepas sarung tangan hitam yang biasa Chuuya gunakan dengan bibirnya. Memegang erat jemari itu sambil mengecup lembut punggung tangan sang kekasih.

"Me ... memang. Tetapi apa yang kau lakukan sekarang?!" Biarkan cincin di kotak beludru itu yang menjawabnya. Di mana Dazai mengikat janji mereka dengan menyematkan perhiasan tersebut pada jari manis sebelah kanan. Chuuya membuang jauh kata-kata sementara Dazai bangkit untuk menemui senja yang lain -jingga milik kekasihnya pada sepasang pipi itu.

"Kita tunangan sekarang. Lalu setelah lulus, aku akan melamar Chuuya."

"ME-MELAMAR?! MA ... MAKSUDMU MENIKAH?!"

"Tidak boleh ada penolakan. Katanya Chuuya mendukung apapun keputusanku. Jadi, ayo kita bicarakan ini dengan Paman Ougai."

Sore telah sepenuhnya larut dalam lautan bintang. Hanya senja di pipi Chuuya yang belum mengenal kata terbenam.

Bersambung...

A/N: Update selanjutnya tanggal 15 Oktober. Kalau berkenan bolehlah menunggu update dari fanfic gaje ini. Terima kasih buat review, favorit dan follow yang kalian kasih. Aku bahagia lohhh~