#11: I'm Listen to You

Apartemen itu tiada lagi mengenal ramai semenjak sepi memutuskan tinggal sembari meninggalkan segalanya. Sendu menghias wajah milik 'senja' yang menunduk dalam. Nakahara Chuuya berhenti menikmati segelas teh dingin ketika rindu kembali mengenalinya dan membawa serta perasaan kehilangan.

"Kau benar-benar tidak berkunjung lagi, ya, Dazai. Apartemenku sepi tanpamu,' ujarnya memandang senja di samping jendela. Sengaja dibiarkan terbuka jika tahu-tahu manusia idiot itu mampir dengan senyum yang biasa.

Penyesalan dan kesepian memporakporandakan akal sehatnya di mana ingatan itu samar-samar terekam. Dazai yang loncat menyelamatkannya dan bersimbah darah belum sepenuh hati Chuuya terima. Jika akhirnya pemuda jangkung itu menjemput kematian yang selama ini ia harapkan.

"Aku ingin mati. Tetapi tidak di depan Chuuya dan dipeluk seperti ini olehmu."

Bukan itu yang ingin Chuuya dengar. Dia mau Dazai tertawa dan bersikap menyebalkan. Menggodanya seperti biasa tanpa menghitung maupun mengenal waktu yang pasti. Mengulang hari-hari serupa dengan keusilan sewaktu mereka bersantai di apartemen.

"Cerewetmu itu sebenarnya mengasyikkan. Tiba-tiba sunyi seperti ini, aku jadi bingung harus bicara apa."

Sepi dunianya adalah ketakutan terbesar yang saat ini Chuuya hadapi. Bahwa ketiadaan Dazai Osamu lebih mengerikan daripada keusilan atau tawa idiot yang biasa dikeluarkan. Tanpa suara dan nada-nada menyebalkan itu, ia seakan asing dalam waktu. Kalimat-kalimat yang dicari tanpa pernah ditemukan lagi membuatnya kehilangan separuh hati yang teramat mencintai pemuda itu.

"Kau boleh kembali kapanpun asal jangan melalui jendela. Keluarnya lewat pintu. Tidak boleh loncat seperti itu ..."

Peluru manapun tidak lagi boleh menghantam kepalanya.

"Bicaralah seperti biasa. Buat aku marah atau malu. Bukankah itu yang selalu kau lakukan?"

Tidak seharusnya Dazai mengucapkan kalimat se-menyedihkan itu. Ia bisa memilih kata-kata lain yang selalu ingin Chuuya dengarkan.

"Aku bisa menyelamatkan kita berdua. Kau tidak boleh melanggar janji hanya karena ingin mati!"

Apanya yang bertahan sebelum Chuuya meninggalkan lebih dahulu? Dazai menjanjikan omong kosong. Nyatanya ia memilih pergi daripada menghabiskan waktu bersama sang senja. Berhenti menghujaninya dengan ocehan riang baik siang maupun malam.

"Bodohnya lagi. Aku ingin mendengarmu bilang kau mencintaiku. Kalau kita bisa bersama untuk selamanya."

Sekali itu saja, omong kosong sekalipun Chuuya ingin mendengarnya.


#12: I'm Intertwined With You

Takdir mengikat manusia dengan benang merah di jari kelingking. Entah itu cinta maupun persahabatan yang tiada luput digambarkan dalam kehidupan sesingkat milik manusia. Bila seseorang adalah jodoh yang telah Tuhan titipkan untuk terlahir dan bertemu, warna benangnya adalah merah tua bercampur sedikit emas. Jika sahabat sejati bukanlah mitos dan memang ada, benangnya menjadi emas bercampur merah. Kalau suatu hubungan melonggar, benangnya tinggal putih kemudian memudar, hilang begitu saja.

Anugerah tersebut membuat Dazai Osamu telah melihatnya sejak kecil. Di mana benang merah berkelindan pada kelingking orang-orang yang memiliki hubungan dengannya. Beberapa pudar seperti kata dia. Benang emas kemerahan terikat pada Atsushi dan Kunikida -rekan intelnya di suatu organisasi bernama Detektif Bersenjata.

Sementara yang merah tua dan agak keemasan, Dazai baru menemukannya 6 bulan lalu.

KRIINGG ...!

Bel pintu berbunyi. Tamu yang lain datang memasuki Bar Lupin.

"Akhir-akhir ini kita sering bertemu di luar pekerjaan, ya, Dazai." Pria cebol itu duduk di samping. Memesan bir yang biasa.

"Sejak awal aku sering kesini. Tetapi kalau Chuuya ... apa jangan-jangan kamu stalker?"

"Lebih baik memata-matai musuh daripada menguntit idiot macam kau."

Nakahara Chuuya memang segalak itu. Dazai sekadar menanggapinya dengan seulas senyum yang entah kenapa, selalu terasa aneh bagi sepasang azure. Garis lengkung yang ia tunjukkan pada Akutagawa si intel junior terlihat mengerikan. Untuk Atsushi dan Kunikida terbilang normal bahkan bersahabat.

Sedangkan kepadanya, senyum itu menjelma keteduhan yang menerjemahkan rasa-rasa aneh untuk Chuuya nikmati sekaligus benci.

"Chuuya?"

"U-uh, apa? Aku tidak mabuk atau membutuhkan tumpanganmu!" Jelas bohong. Wajahnya tampak memerah akibat alkohol.

"Apa Chuuya mempercayai reinkarnasi?"

"Reinkarnasi? Mungkin."

"Jika misalnya suatu hari nanti aku meninggal. Kurasa bereinkarnasi bukan hal buruk." Tawa sang rekan menggema dari sudut ke sudut. Bagi Chuuya, ucapan Dazai sekadar lelucon yang abnormal.

"Maniak bunuh diri sepertimu bereinkarnasi? Justru kau yang mabuk, dasar idiot. Hahaha ..."

"Jika hidup untuk menemuimu sekali lagi, aku tidak keberatan."

"Ahahaha ... kepalaku sampai pusing karena terlalu banyak tertawa. Hoi idiot, dengarkan ini baik-baik, aku hanya mengatakannya sekali."

Jeda sejenak, Chuuya meneguk satu gelas lagi dengan pandangan berkunang-kunang.

"Saat kita benar-benar bereinkarnasi, pastikan kau menemukanku. Aku akan menunggumu selama apapun waktu berlalu. Janji?" Tanyanya menyodorkan jari kelingking. Dazai menyetujui perjanjian tersebut dengan melakukan hal serupa.

"Kuantar pulang. Mabukmu parah."

Hari ini benang tersebut boleh saja memutih, perlahan pudar kemudian lenyap di hari esok. Chuuya telah Dazai izinkan untuk meninggalkannya. Cukup pada kehidupan saat ini tanpa mengenal lain waktu.

Suatu hari nanti akan Dazai pastikan, benang merah tua keemasan yang mengikat mereka dapat terjalin sekali lagi.


#13: I'm Surprise You

Mengejutkan Chuuya adalah kesenangan yang mustahil Dazai lewatkan. Dari status rekan disandang hingga berganti menjadi musuh, bertemu dengannya dalam kebetulan-kebetulan tertentu selalu mengundang keseruan yang diakhiri ledakan tawa.

Kalau tidak bertemu, maka Dazai yang menciptakan kesempatan. Misalnya saja hari ini, maniak perban itu sengaja menyusup masuk ke apartemen Chuuya. Menunggu kedatangan si cebol dengan paras berseri-seri yang lambat laun berubah bosan. Prediksinya jarang meleset dan ia mulai berpikir macam-macam.

"Apa Chuuya diculik om-om?" Justru terbalik, malah om-om yang dia culik dalam keadaan 'telur' pecah 2 dan 'burung' nelangsa.

"Pergi belanja?" Chuuya baru melakukannya kemarin. Sampai 4 kantong penuh malah.

"Ya ... siapa peduli! Firasatku berkata sebentar lagi Chuuya pulang."

Untuk itulah Dazai memutuskan mandi. Cuaca sedang panas dan dia mau Chuuya klepek-klepek dengan wangi badan harum menggoda. Namun, belum lama menyalahkan shower sambil bersenandung riang, penghuni aslinya datang tanpa melepas jas atau sepatu. Berjalan menuju kamar tidur mumpung boss Mori tidak menghantuinya dengan laporan.

"Kayaknya gue denger sesuatu," batin Chuuya memperhatikan kamar mandi. Ada suara air ditambah senandung merdu yang samar-samar terdengar.

Hanya 1 kemungkinan yang Chuuya simpulkan; APARTEMENNYA DIBOBOL OLEH MALING. Tanpa pikir panjang ia menendang pintu. Mendapati Dazai telanjang bulat dan melempar senyum dengan wajah tanpa dosa.

"Sore, Chuuya~ Cuacanya panas jadi aku pinjam kamar mandimu." Hilang sudah kantuknya akibat pemandangan nista tersebut. Si idiot Dazai tampak mendekati Chuuya hendak memeluk tubuh mungil itu.

"JA ... JA ... JA ... JANGAN MENDEKAT K-KAU IDIOT MESUM!"

Aneka barang beterbangan di udara. Mulai dari sabun, shampoo, kotak tisu, handuk, sikat gigi, sisir bahkan obat kumur dan vas bunga yang semuanya telak mengenai Dazai. Belum puas sampai di situ, Chuuya mencopot paksa pintu kamar mandi.

"Hentikan, Chuuya. Ini aku Dazai bukan penja ...", "MATI KAU MACKEREL SIALAN!"

BRAKKK!

Babak belur sekalipun, Dazai sukses mengejutkan Chuuya dengan adegan mandi yang ia rencanakan. Toh, maniak topi itu salah jika terlalu kaget. Nanti juga mereka 'mandi' bareng di kasur. 'Senandungnya' pun lebih indah dari yang biasa dilakukan.


#14: I Forgot You

"Kunikida-kun. Aku lupa siapa istriku."

Ketikannya terhenti sebelum mantan pengajar itu sempat membubuhi titik di akhir laporan. Kunikida yang melontarkan tanya lewat pandang membuat Dazai Osamu kian frustrasi sambil menggoyangkan bahu sang rekan kerja.

"Istriku mana?! Aku bukan Kunikida-kun yang dikutuk sebagai jomblo abadi." Tuduhan keji tak berdasar macam apa itu?! Selaku korban sakit hati Kunikida berhak marah.

"AKU INI IDEALIS! DAN SEJAK KAPAN KAU MENIKAH, HAH?! KERJAANMU HANYA MENGGANGGUKU, MENDENGARKAN MUSIK, MENGGODA CEWEK, NGUTANG SANA SINI, BUNDIR, LALU KAU BERANI BILANG PUNYA ISTRI?!"

"Dazai-san, Kunikida-san, kita bisa membicarakannya baik-baik." Nakajima Atsushi yang menaruh iba berusaha melerai. Toh, bocah harimau itu dipercayai menjadi penengah selagi ketua dan anggota lain menjalankan misi.

"Coba ingat baik-baik istri Dazai-san itu seperti apa."

"Kau percaya idiot ini punya istri?" Bisik Kunikida pelan. Terdengar Dazai maka perang ketiga meletus di Agensi Detektif Bersenjata.

"Tadi pagi Dazai-san makan jamur aneh. Mungkin itu yang membuatnya lupa ingatan. Lalu sebenarnya ..."

BRAKKK!

"MANA IDIOT SIALAN ITU?! SERAHKAN DIA PADAKU SEKARANG JUGA!"

Pemarah lainnya datang dan merusak pintu kantor. Sementara Kunikida memikirkan biaya kerusakan, Atsushi hilir mudik menatap sepasang kakao dan azure yang kini saling bertubrukan. Pemilik netra senada laut itu menghampiri Dazai penuh amarah. Lantai pualam ikut retak akibat kekuatan gravitasi yang ia keluarkan.

"Kembalikan birku, sialan. Aku baru mau meminumnya!"

"Chuuya-san bisa membi ...", "Bicara baik-baik katamu? Itu tidak ada dalam kamus seorang mafia." Kalau begini Atsushi kicep jadinya. Memilih mundur untuk memberikan mereka ruang.

"Aha! Aku ingat siapa istriku." Bohlam imajiner menyala terang di atas kepala. Nakahara Chuuya yang minta pertanggungjawaban ikut kicep sambil bertanya-tanya.

"Istri? Apa mak ...", "Ya ampun. Bagaimana bisa aku melupakannya. Maaf, lho, enggak maksud."

"Jangan memotong u ...", "Kunikida-kun, Atsushi-kun, perkenalkan ini istriku, namanya Chuuya. Belum resmi, sih, makanya ayo kita ke gereja hari ini. Kalian jadi saksinya, oke?"

Tanpa basa-basi Dazai menggendong Chuuya menuju pelaminan. Kunikida masih sibuk dengan kalkulator sementara Atsushi hening seribu bahasa. Tidak menyangka dugaannya benar.

"Ternyata memang Dazai-san menganggap Chuuya-san sebagai istrinya."

Efek jamurnya sendiri telah hilang semenjak Chuuya menampakkan batang hidung. Atsushi bersyukur untuk yang satu ini.


#15: I Like You

"Happy Anniversary, bebeb Chuuya~"

Konfeti beterbangan ke sembarang arah. Sintingnya Dazai kumat setelah mereka menyelesaikan piket Senin itu. Chuuya gagal paham mengenai happy anniversary yang diungkit si maniak perban. Dia hanya tahu bila kesialan senang mengerjainya di hari Senin.

"Lihat. Aku punya hadiah untukmu."

"Simpan saja hadiah busukmu itu! Gue mau pulang." Baru beberapa langkah, Dazai kembali mencegatnya dengan puppy eyes super menjijikkan. Menyodorkan lagi kotak putih polos yang entah isinya apa.

"Buka dulu. Isinya enggak aneh, suer."

"Sekali ini aja gue percaya sama lo."

Kotak dibuka. Rupanya hanya kaktus mungil nan pendek macam dia. Dazai menanti respon dengan wajah berseri-seri. Berharap Chuuya suka yang satu ini daripada buku panduan bundir couple, kalung tali tambang, aneka jamur warna-warni dan yang terparah ialah lingerie.

Ini Nakahara Chuuya, lho, cowok tulen! PUNYA JAKUN! BERBATANG! DADA BIDANG NAN SEKSEH!

"Enggak ada hadiah yang lebih gembel dari ini?" Jauh dari lubuk hatinya Chuuya berterima kasih karena itu bukan du**x yang sempat Dazai ungkit seminggu lalu.

"Aku menyukaimu ibarat kaktus ini, bebeb Chuuya!"

"Singkirkan dulu tangan najismu, idiot." Justru Dazai menggenggamnya kian erat. Semburat merah pada pipi sang senja begitu kentara yang mati-matian berusaha Chuuya sembunyikan.

"Kaktus tidak bisa hidup jika terlalu banyak air atau sinar matahari. Aku pun menyukai bebeb Chuuya tidak secara berlebihan maupun kurang. Kaktus juga bunga yang kuat. Kuharap ke depannya hubungan kita pun seperti itu. Apapun cobaannya jangan mudah goyah dan terus saling mendukung."

"Gu-gue menghargainya. Terus maksud lo soal happy anniversary itu apa?"

"Masa bebeb Chuuya lupa. Hari ini tanggal dua puluh enam, lho, hari jadian kita." WHAT, JADIAN KATA LO? Batin Chuuya kaget setengah mampus. Keterkejutan kekasih cebolnya mengundang rasa heran pada manik kakao itu.

"Kapan kita jadian?! Jangan ngarang lo."

"Setahun yang lalu aku menembak bebeb Chuuya dan kamu menjawab 'iya'. Apa jangan-jangan bebeb dicuci otaknya oleh Akutagawa si alien?!"

"Oh, itu. Maksudnya gue menyukai lo sebagai samsak. Emang lo pikir apa?"

"JADI SELAMA INI KITA HANYA SAMSAK ZONE?! CIYUS? MIAPAH?! Teriak Dazai dengan nada frustrasi amat dihayati. Situasi absurd tersebut membuatnya kembali menyalahkan Akutagawa yang disangka menempelkan guna-guna pada sang kekasih.

"Demi mie instan beserta segenap MSG yang mengucapkan SELAMAT JADI IDIOT! Gue mau pulang sekarang."

Setelahnya Dazai membenturkan kepala akibat stress.

Bersambung...

A/N: Update selanjutnya tanggal 20. Thx banget buat yang udah baca sama review sama fav juga terus follow juga. Moga engga bosen ya ikutin fic absurd ini.