#16: I Believe in You

Kepergian yang direlakan akan mendatangkan kepulangan penuh rasa ikhlas. Semenjak penantian itu ia putuskan, kata-kata tersebut mendarah daging dalam hati yang dikokohkan oleh keinginan untuk memiliki.

Eksistensi serapuh manusia tidak pernah mengetahui cara dunia bekerja. Gencatan senjata antar Agensi Detektif Bersenjata dan Port Mafia mempertemukan mereka dalam pertempuran dengan guild. Malam itu, duet Soukoku yang telah lama tertidur menjadi legenda besar untuk kembali dikenang para musuh.

"Waktunya istirahat, Chuuya." Kekuatan penetral dilepaskan. Corruption berhenti bekerja dan sekali lagi, nyawa sang rekan terselamatkan.

Tubuh mungilnya jatuh menduduki tanah. Kesadaran yang semula mengambang perlahan berpulang kepada Nakahara Chuuya yang meninju pelan dada bidang pemuda itu -Dazai Osamu tersenyum mendapati kabar yang sekiranya 'baik' tersebut.

"Setelah ini kau meninggalkanku lagi, ya ... uhuk." Terlalu singkat untuk Chuuya yang kembali memercayai takdir. Namun dengan begini, di lain waktu ia boleh kembali mengharapkan pertemuan mereka.

"Masih kangen, nih, ceritanya? Karena aku baik jadi kutemani sebentar."

"Pastikan kau ... kembali ... idiot!"

BRUK!

"Pingsan setelah mengatakannya. Jangan begitu, Chuuya."

Mendengar kalimat securang itu, Dazai merasa berhak membalasnya dengan sebuah ciuman. Bibir bertemu bibir tanpa menghitung waktu maupun memperhatikan jeda. Terlepas begitu saja seperti pertemuan mereka yang berakhir tanpa mengenali kepastian.

Dazai tidak mempermasalahkan kebetulan yang terlibat atau memang disengaja. Selama mereka percaya akan keinginan yang sama-sama hendak dicapai, bagaimanapun caranya pertemuan akan terjadi sekalipun melawan arus takdir.

"Ciuman pertamamu milikku sekarang. Saat aku kembali nanti, pastikan Chuuya ada di sana dan menyambutku."

Dulu Dazai meninggalkannya. Pada hari ini mereka bertemu sekali lagi. Maka suatu hari nanti Chuuya percaya, pemuda itu akan kembali hanya kepadanya.


#17: I Think About You

Mekarnya hujan di bulan Desember mengundang sepi mampir untuk mengunjungi jalan raya yang padat oleh genangan air. Kodok melompat-lompat dengan nyanyian riang sementara manusia mengeluh kepada langit abu-abu -mereka tidak bawa payung dan sebagian besar terpaksa tinggal di gedung sekolah.

Bila jomblo membayangkan hangat kuah indomie di kantin sedangkan yang pacaran berpelukan macam teletabis. Berbeda dengan Nakahara Chuuya yang justru memikirkan hal lain. Netranya menatap kosong pada hujan di luar sana dengan sebuah pertanyaan yang berputar-putar menjengkelkan.

"Bebeb Chuuya~ Apa kamu menungguku?" Dari kejauhan langkahnya tampak disertai senyum yang menyebalkan. Tanpa menengok Chuuya mendecih kesal sampai teman sekelasnya itu menghampiri.

"Gue nunggu hujan reda, bukan lo."

"Hari ini hujan karena Tuhan tahu, aku ingin lebih dekat denganmu." Sakaw pakai lem apa ini anak? Puitisnya membuat Chuuya ingin muntah ke tong sampah terdekat.

"Lo yakin meski kita cuma samsak zone?"

"Samsak zone sekalipun asal dipukul bebeb Chuuya aku ikhlas." Mengucapkannya dengan penuh penghayatan dan keseriusan, tidak heran bila esok dia muriang akibat perilaku menjijikkan Dazai Osamu -nama teman sekelasnya itu.

Mereka terdiam menontoni hujan yang kian menderas. Chuuya kesulitan berpikir dengan keberadaan Dazai yang sesekali mencuri pandang kepada mata sebiru laut itu. Kakao miliknya seakan tahu dan memang tahu mengenai apa yang janggal. Sebelum cowok jangkung itu membuka percakapan, Chuuya lebih dahulu menyambar giliran dengan wajah merona merah.

"Se-sebenarnya gue lagi mikirin tentang lo. Maksudnya alasan kenapa lo bisa suka ama gue."

Chuuya sadar dirinya buruk. Dia berandalan yang hobi bulak-balik kantor BK, tukang palak kelas kakap, senang berkelahi, pembolos yang kerjaannya merokok di halaman belakang sekolah dan berbagai keburukan lainnya. Beda dengan Dazai yang berprestasi, memiliki banyak penggemar dan disayangi guru. Kalau begini jadinya, bukankah dia terlalu baik karena jatuh cinta kepada orang yang salah? Buruk seperti dirinya?

"Aku juga memikirkan bebeb Chuuya yang bisa-bisanya beranggapan seperti itu."

"Gue enggak salah soal apapun. Orang sebaik lo bisa dapet yang lebih baik daripada gue." Mereka berbeda, jelas. Ibarat Chuuya itu antagonis sementara Dazai adalah protagonis. Tuhan selalu mempersatukan apa yang baik serta menjauhkan dari segala keburukan.

"Apa hujan membutuhkan alasan untuk turun ke bumi?"

"Hah?! Kenapa tiba-tiba lo bahas hujan? Gue ...", "Jawab saja pertanyaanku." Seriusnya membuat Chuuya memilih menggelengkan kepala. Bungkam sampai idiot perban itu melanjutkan pembicaraan.

"Sama seperti hujan yang turun ke bumi. Jatuh cinta pun tidak membutuhkan alasan."

"Begitupun matahari. Ia tidak perlu alasan untuk menyinari bumi karena ketulusannya. Walau hujan dan matahari memiliki persamaan, aku lebih ingin untuk menyukaimu seperti hujan. Bebeb Chuuya tahu kenapa?"

"Memangnya ... kenapa?"

"Matahari bisa digantikan oleh bulan. Namun hujan tetaplah hujan. Aku ingin supaya bebeb Chuuya tidak tergantikan oleh siapapun."

Terima kasih pada Pak Fukuzawa dan materi puisinya. Dazai bisa terlihat keren bahkan mendapat jackpot dengan melihat senja yang bersemburat mewarnai pipi 'kekasihnya'.


#18: I Creat You

Materi agama yang diajarkan Pak Nathaniel masih Chuuya ingat betul isinya. Jarang-jarang preman sekolah itu mendengarkan guru apalagi pelajarannya termasuk membosankan -walau menurutnya 1 subjek pun tidak ada yang menarik untuk dipelajari. Bukan tanpa sebab, ia tertangkap basah molor dengan liur menggenang di meja. Belum lagi suara ngoroknya mengalahkan tim paduan suara yang latihan di seberang.

Kena marah iya, dihukum juga sudah. Dazai Osamu tertawa puas karena ngorok buatannya sukses besar.

"Asli, gue enggak pernah ngorok!" Pembelaan serupa kembali disuarakan. Chuuya tidak habis pikir soal komplain guru agama itu.

"Mana ada orang yang sadar dia ngorok atau enggak. Chuuya harus terima kenyataan."

"Terus yang bikin bingung, apa maksudnya manusia tercipta dari tanah? Emang bisa gitu?" Katolik abal-abal macam Chuuya jarang baca kitab suci. Perikop dasar seperti itu saja terasa asing bagi telinga.

"Itu kehebatan Tuhan yang mustahil bisa manusia pahami. Chuuya cukup percaya~" Ingin membantah pun ia kehabisan bahan. Kadang meski sesat, Dazai bisa dipercaya untuk beberapa hal -termasuk masalah pelajaran.

"Kehebatan tersebut juga Tuhan berikan kepada manusia. Salah satunya aku yang dianugerahi kemampuan menciptakan 'senja'."

"Ngelantur apa lo? Senja mana bisa diciptakan manusia."

"Makanya kubilang ini bakat khusus. Berlakunya pun pada orang tertentu."

Tanpa aba-aba Dazai mendekatkan pandang. Menatap intens kepada sepasang laut yang mengerjap-ngerjap terkejut. Napasnya wangi papermint dan terasa dingin membelai pipi. Buku saku yang sedari tadi dipegangnya sengaja Dazai angkat untuk menutupi wajah mereka. Tiada membiarkan satu celah pun masuk sehingga hari itu 'senja' tetap menjadi rahasia yang cukup diketahui olehnya seorang.

"Hari ini pun 'senja' di pipimu sangat cantik, Chuuya. Mahakarya yang bahkan tidak bisa diciptakan oleh Akutagawa maupun Atsushi."

Bakat menciptakan 'senja' dengan sebuah ciuman, eh? Chuuya merasa pipinya memanas.


#19: I Regret You

Apa perbedaan mendasar antara cinta dan benci yang katanya setipis benang itu?

Pada langit-langit kamar sewarna gading yang bertubrukan langsung dengan sepasang manik lautnya, Nakahara Chuuya tengah merangkaikan penjelasan visual yang perlahan ia terjemahkan dalam kata-kata.

Kebenciannya akan Dazai Osamu menguat usai kepergian eksekutif muda itu dari Port Mafia.

Dengan rasa benci yang sedemikian hebat memukul dada. Perasaan bodoh itu menjemput penyesalan untuk menghukum dirinya yang naif. Ya, naif, Chuuya terlalu percaya diri bila kebencian dapat membantunya melupakan eksistensi maya tersebut -yang sekadar hadir dengan kenangan tanpa sosok nyata untuk berbagi cerita.

Nyatanya apa? Ia justru dikhianati. Kebencian lebih sulit dipadamkan karena hati yang dengki buta akan pemaafan.

Bila Chuuya mencinta, bagaimanapun kasarnya gurat wajah yang ia ukir -dengan pedih dan menggoreskan luka sekalipun, waktu yang akan memaafkan rasa sakit tersebut tanpa mengharapkan balasan. Rasa demi rasa yang dulu jarinya eja dengan kasih, perlahan akan menghilang tanpa meninggalkan sepeser bekas pun. Hanya tenang yang menanti untuk hatinya peluk usai melangkahi penderitaan.

Namun karena Chuuya memilih benci, waktu tidak lagi bekerja untuknya. Raga itu tenggelam untuk terus mengenang sosok yang bahkan tidak mengingatnya barang sedetik pun. Hatinya lupa untuk melupakan. Caranya mengeja rasa demi rasa terlalu kuat sampai begitu memuakkan. Terlanjur menggelapkan hati agar berhenti memaafkan duka di masa lalu.

Karenanya Chuuya menyesal. Dia terus-menerus 'sakit' tanpa bisa sembuh.


#20: I Ignore You

19.00

Dazai: Chuuyyyaaa~

19.00

Dazai: Aku mau nanya PR fisika. Boleh ya~

19.01

Dazai: Jawaban nomor 3 apa Chuuyaaa? (。ヘ°)

19.01

Dazai: Soalnya susah (┳Д┳) Gurunya tega ih.

Modus pertama, tanya jawaban PR. Dazai Osamu menunggu dengan wajah berseri-seri melihat status online di whatsapp Nakahara Chuuya. Berharap pesannya segera dibalas meski itu hanya mitos. Satu jam berlalu dengan spam status dari sang gebetan yang tidak lain adalah Chuuya.

20.05

Dazai: Chuuyyyaaaa, bales dong Jangan tega sama akuuu~

20.06

Dazai: Tadi permainan gitar Chuuya keren (ᗒᗨᗕ) Kapan-kapan mainkan dong buatku~~~

20.06

Dazai: Nanti aku deh yang nyanyi. Chuuya mau lagu Akad atau Marry You?( ̄εʃƪ

20.07

Dazai: Sekalian aja yak aku lamar kamu. Trus kita nikah di gereja sekolah ()

Modus kedua, memuji doi, berlaku manis sekaligus menunjukkan keseriusan! Dazai sempat percaya diri walau terabaikan setengah jam. Ia memutuskan mengirim pesan lagi.

20.31

Dazai: Chuuyyyaaa mau jawaban fisika enggak? (´∀`) Aku udah selesai lhoo~~~

20.31

Dazai: Yakin nih enggak mau? Kalo nanti-nanti aku mager fotonya (ᴗ˳ᴗ)

20.31

Dazai: Kalo gitu fotoku aja yak~~~

Dazai send a photo

Tampan maksimal sehabis mandi, hati doi dijamin 100% kepincut. Dazai guling-guling tidak jelas membayangkan ekspresi Chuuya. Pasti kagetnya unyu-unyu bikin pemuda jangkung itu semakin ingin memperistrinya.

Tetapi jangankan kepincut, dibalas barang satu huruf pun tidak! Status whatsapp yang semakin banyak sampai lingkaran tinggal titik dan baru dikirim satu menit lalu membuat Dazai berwajah suram. Dia terpaksa mengeluarkan senjata terakhir dan termutakhir sepanjang masa.

22.00

Dazai: CHUUYAAAAAA!

22.00

Dazai: CHUYYAAAAAAAA AKU SEKARAT ༎ຶ༎ຶ༽

22.00

Dazai: NYAWAKU TINGGAL HITUNGAN DETIK!

22.00

Dazai: CHUUYAAAAA, TIDAKKKKKK!

22.01

Dazai: CHUUYYYAAAAA AKU GAK MAU MATI SEBELUM KAMU CIUM, PLISSS BALES PESANKUUUU.

22.05

Chuuya: Lo udah modar blom gue biarinin 4 detik?

22.05

Dazai: Enggak jadi mati, hehehe. Chuuya lagi apa?

22.05

Chuuya: Cek fb lo sekarang juga, GPL.

Tanpa banyak tanya Dazai capcus. Senyumnya luntur seketika membaca status 'Nakahara Chuuya berpacaran dengan Akutagawa Ryuunosuke'. Mau restart HP ratusan kali, dibanting hingga layarnya retak sana-sini, didribble, lempar sampai homerun bahkan beli baru atau pakai Nokia 3310 itu status tetap mejeng.

Akhirnya Dazai memutuskan pergi ke California membawa buku soal SBMPTN.

"Nak Dazai mau kemana malam-malam begini?" Tanya bapak angkatnya Mori Ougai melihat putra sengkleknya itu membuka pintu.

"Mau samperin Mark Fuckerberg."

"Pendiri muka buku itu? Kenapa emang?"

"Masa si Fuckerberg itu merestui hubungan Chuuya sama Akutagawa. Chuuya seneng sedih bareng aku, kerjain PR, jalan-jalan, selfie, mandi, tidur, tukeran kolor, BAPERNYA JUGA SAMA AKU MASA JADIAN SAMA AKUTAGAWA! PADAHAL AKU PENGEN KASIH BUKU SOAL SBMPTN BIAR MASUK UI BARENG. SENGAJA AKU SELIPKAN BUKU 'KAMAR SUTRA' JUGA BIAR BISA PILIH-PILIH GAYA. BUAT REFRESHING GITU!"

Harusnya terjadi pelukan mengharukan antar bapak dan anak saat itu juga. Namun belum Mori sempat melakukannya, buku setebal 800 halaman itu menampar telak wajah keriputnya. Dazai tersenyum puas mendapati bapaknya babak belur tanpa ampun.

"Bakalan mampus si Fuckerberg sempak itu."

Bersambung...

A/N: Sebelumnya aku ucapin terima kasih buat yg terus ikutin fic ini. Dan maaf banget nih kalo misalnya ada ide yang keulang-ulang. Ide yang keulang itu tentunya enggak disengaja karena aku rada lupa-lupa inget. Kalo berkenan mohon review dan thx banget buat yang udah fav sama follow. Luph yu all~ next update tanggal 25.

Balasan review:

Zean and Zian twins: sebelumnya thx udah ngikutin cerita ini sama review di chapter 1. aku juga ngakak pas bikinnya. terus pen name nya ngingetin ama mantan gitu ya, jadi baper.