#21: I Need You
Terik siang itu menandakan peralihan musim semi menuju udara panas yang melelahkan keringat di sekujur tubuh. Matahari pukul 12 siang membakar habis kulit kepala. Sekitar taman kota menyisakan sepi yang udaranya dihirup bosan oleh penjaga sebuah pos. Bapak-bapak paruh baya itu sibuk mengipas sambil meneguk sebotol teh dingin dari mesin otomatis. Abai terhadap eksistensi di bawah pohon yang menundukkan kepala itu -terlalu biasa untuk dijadikan objek tontonan menurut si penjaga pos.
Musim panas tahun lalu, seseorang menemaninya berbincang pada rindang pohon entah mengobrolkan apa. Mereka teman sekelas yang begitu kontras dalam rupa-rupa hal -entah fisik, sifat maupun perilaku. Posisi duduk mereka depan dan belakang. Menghadap pada jendela yang sering kali menjadi pelipur di kala bosan menggerayangi sepasang kakao dan azure yang bahkan jarang menemui satu sama lain.
Nakahara Chuuya ingat betul mereka jarang mengobrol. Pemuda jangkung itu sekadar ia kenal sebagai sosok yang selalu hadir di manapun dan kapanpun seakan waktu dan tempat tiada mengikatkan diri kepadanya.
Entah berapa kesempatan mereka berpapasan di koridor lantai 2. Piket bersama setiap Jumat ketika anak-anak lain memutuskan bolos secara rutin. Jemari mereka yang bersinggungan ketika menghapus papan tulis. Tawa menyebalkannya di sepanjang perjalanan pulang sewaktu senja. Lambaian tangan yang jauh lebih singkat dari percakapan monoton mereka. Perpisahan di persimpangan jalan yang mengantar pergi sosok itu di mana Chuuya tidak pernah sempat mengucapkan 'sampai jumpa'.
Hal-hal sekecil itu baru ia sadari ketika sepi menduduki sekelilingnya. Chuuya menatap pada biru langit yang membersihkan diri dari awan. Jernihnya bagai memantulkan abu-abu kesuraman milik sepasang laut yang bergelayut pada air mata.
Musim semi tahun sekarang di waktu yang lalu, mekar sakura mereka saksikan di halaman depan sekolah. Bibirnya mengembuskan ciuman pada garis lengkung yang tercipta dari kebersamaan tersebut. Sepasang azure membelak kaget dengan begitu jenaka.
Angin bertiup sepoi-sepoi membelai lembut daun telinga. Berpulangnya kalimat 'aku mencintaimu' diiringi kepergian yang menyesatkan hati membuat Nakahara Chuuya berhenti menoleh ke samping. Air mata menjejaki langkah yang mengantar kepergiannya sampai di persimpangan jalan, tempat di mana 'sampai jumpa' tinggal kata bermakna kosong.
Setidaknya Chuuya ingin membalas kalimat tersebut dengan bunyi serupa. Menjanjikan waktu untuk mereka habiskan bersama di musim panas, gugur dan dingin seperti tahun lalu. Entah itu mengoleksi daun, mendengarkan musik rock, berdebat siapa yang menghapus papan tulis atau menyapu, membaca buku di perpustakaan, berbagi syal, melempar bola salju dan bertukar kado sewaktu natal.
Agenda tersebut ingin ia ulangi sampai tahun-tahun berikutnya tutup dengan sendirinya.
"Kau benar-benar meninggalkanku di saat aku membutuhkanmu. Dazai sialan."
Hadirnya yang semula jauh dari harap kini menjadi asa terbesar untuk dibisikkan kepada bintang jatuh. Nakahara Chuuya membutuhkan Dazai Osamu guna menghapus air matanya. Keberadaan yang dekat dengan rindu namun jauh dari pandang itu untuk mengembalikan tawanya yang lenyap oleh sebuah perasaan cinta yang terlambat disadari.
Membutuhkannya lebih dari segalanya. Melampaui apapun di dunia ini.
#22: I Miss You
-1-
KRINNGGG ...
"Ceyamat pagieehhh ayang Chuuyyaahhhh~ Cemungudh ea bu ..."
TUT ...TUT ...
-2-
KRIINGGG ...
"Pagi, ayang Chuuya. Lagi apa?"
"Gue lagi molor."
"Oke. Met bobo yaks."
TUT ... TUT ...
-3-
KRIINGGG ...
"Molornya udah selesai ayang?"
"Sekarang gue lagi ngorok."
"Kok enggak kedengeran?"
"NGOKKKKK ... puas?"
TUT ... TUT ...
-4-
"Ngoroknya udah belum?"
"Lagi mimpi gue."
"Ngapain mimpi? Yang nyata kan lagi telepon kamu~"
"Gue mimpi lo modar. Berarti yang telepon gue sekarang arwah lo."
TUT ... TUT ...
-5-
"Ayang Chuuya. Aku serius sekarang."
"GPL"
"Aku kangen."
"Jadi?"
"Iya, aku kangen sama kamu."
"JADI LO HUBUNGIN GUE JAM TIGA SUBUH, LIMA KALI PANGGILAN CUMA BUAT BILANG 'AKU KANGEN'?!"
"Kangen tidak mengenal waktu. Hanya tahu siapa yang dirindukan."
"Kita ini tetangga dan LO ENGGAK PERLU TELEPON GUE TEPAT DI DEPAN PINTU KAMAR GUE!"
Belekan sekalipun sosok jangkung itu tampak nyata bersandar di daun pintu. Entah di panggilan ke berapa Dazai Osamu nongol. Bagi Chuuya ini sangat magic sekaligus horror.
Pikirin, pintu rumah aja dikunci, jendela tertutup semua. MASUK DARIMANA SI IDIOT INI?! Chuuya mendadak stress lebih dari menghadapi hari Senin.
"Bener juga. Ini pasti bagian mimpi. Gue kan mimpi idiot itu modar. Berarti lo arwahnya! Tapi kalo gitu ... GUE ENGGAK MIMPI JATUHNYA! Padahal gue cuma bercanda soal bilang lo jadi arwah. Terus lo beneran jadi arwah nih? Gue ngomong apa sih, kok pusing."
"Ya elah, Chuu. Kamu lupa kunci pintu aslinya."
"MUSTAHIL LAH! KUNCINYA ...", "Ini maksudmu?" Tanya Dazai memperlihatkan kunci yang ia pegang. Chuuya mengangguk patah-patah.
"Ingat ini, ayang Chuuya. Selalu ada jalan untuk mereka yang merindu dan mau berusaha. Karena udah kerja keras, bayarannya aku bobo di sampingmu, oke?"
Bagian mananya yang bekerja keras dari mencuri kunci dan menghampiri tetangga sebelah rumah?! Chuuya pusing. Capek. Mau bobo. Meski ujung-ujungnya kurang tidur gara-gara Dazai peluk dia terus -terlanjur sesak napas sekaligus darah tinggi.
#23: I Hate You
Selain misteri mengapa yang ditagih lebih galak daripada si penagih atau cewek selalu benar, Dazai menemukan hal menarik lainnya ketika baru-baru ini mengalami patah hati. Mungkin sekitar seminggu lalu, sang mantan kekasih yakni Nakahara Chuuya memutuskannya secara sepihak. Mereka mendadak jauh seakan jarak selalu memisahkan. Lalu jangankan memanggil, teringat saja ingin dikutuknya habis-habisan nama itu.
Tiap berpapasan, perang dunia ibarat terjadi secara sekilas. Kalau chatting, bawaannya cuek sekaligus malas -tanya PR juga boro-boro apalagi basa-basi, tinggal mitos! Dekat sedikit ambil jarak. Kalau sekelompok dikacangi atau minta pindah.
Nah, inilah pertanyaan terbesarnya: kenapa dia jadi benci sama mantan? Mereka putus baik-baik. Segala kesalahan kiranya dapat dimaafkan mungkin secara penuh. Tidak ada dendam. Status teman masih tersandang walau formalitas semata.
Apa Dazai benci, diputusin karena bosan? Siapa yang enggak kesal, terlalu dangkal dan aneh. Namun marah itu hanya bersifat sementara. Ia tidak punya alasan kuat untuk memperpanjang dan menjadikan dirinya jatuh dalam benci.
Apa Dazai benci karena terlalu banyak kenangan di antara mereka? Setahun terhitung cepat untuk dilewati. Dengan 365 hari yang dibagi menjadi bulan dan minggu, berapa ribu peristiwa mereka rekam bersama-sama? Emosi labil milik remaja yang suka baper, marah, mengambek tidak jelas atau tiba-tiba senang lantas tertawa begitu mudahnya yang mewarnai hari demi hari dan teramat nyata itu?
Karena Dazai memilih berterima kasih, alasan kedua jauh dari kuat untuk dipertanggungjawabkan.
Apa Dazai benci karena janji-janji yang belum sempat tergenapi? Meski sekadar hal kecil semacam mengunjungi kebun raya, menonton bioskop atau berkeliling kota sama-sama, janji tetaplah janji yang harus ditepati, bukan?
Justru lebih baik untuk dilupakan. Alasan ketiga bukan sumber kebencian yang Dazai yakini.
Pemuda itu baru paham sewaktu melihat Chuuya mengobrol dengan Akutagawa. Alasannya pun tersedia dengan begitu sederhana.
Dazai benci karena kedekatan mereka justru menghancurkan hubungan dan menciptakan jarak. Ironi terkutuk sekaligus menyedihkan bagi sepasang insan yang ceritanya sempat jatuh cinta.
#24: I'm Scared of You
"Chuuya. Aku yakin kamu menderita philophobia*." Bahasa alien dari pelajaran biologi atau istilah sejarah yang asing? Siswa cebol itu menaikkan sebelah alis.
"Emang itu apa?" Tanyanya cuek sambil terus membersihkan papan tulis.
"Bagaimana bilangnya, ya? Hmm ... hmmm ..."
"L-lo kenapa, sih, deket-deket gitu?" Geser sedikit, teman piketnya ikut menyamai langkah. Begitu terus sampai tubuh mungilnya menabrak meja guru. Chuuya buru-buru mengambil sapu untuk mengalihkan pandang.
"Aku yakin kamu benar-benar sakit."
"Ma ... mana ada! Gue masih bisa nyapu. Lap jendela juga. Jelas-jelas sehat begini." Senin selalu menyialkan dirinya. Entah bisikan setan mana sampai wali kelas mereka mengubah jadwal piket. Jadilah Nakahara Chuuya terjebak bersama Dazai Osamu yang selalu ingin ia hindari.
Bukannya maniak perban itu buruk rupa atau berlagak preman hobi memalak. Chuuya tahu keanehan ini hanya melekat pada dirinya. Ketika orang-orang menyahutkan puji dan puja di sana sini, ia justru berlari ketakutan setiap mata itu menemukan sepasang laut miliknya. Memilih bersembunyi dari tatapan heran namun penuh rasa ingin tahu yang seakan menelanjanginya dengan perasaan gelisah.
Petak umpet tersebut Chuuya mainkan semenjak remaja tanggung itu sadar, ia akan jatuh cinta setiap mereka berjumpa pandang di satu titik.
"Benar? Meragukan ah~" Dazai kembali merapatkan diri. Sekadar menyikut bahu pun tidak Chuuya biarkan dengan terus-menerus menghindar sambil membelakangi tubuh jangkung itu.
"Pulang sono! Biar gue aja yang kerja."
"Ish, ish, kamu memang sakit. Masa bilang begitu ke tembok? Harus diperiksa ini."
"Jangan mentang-mentang lo calon dokter seenak jidat periksa gue." Doa sang maniak topi memohon agar Dazai digagalkan pada ujian masuk. Bisa-bisa pasiennya dilarikan ke RSJ karena meladeni IDIOT INI MEMBUAT FRUSTRASI.
"Anggap saja kita bermain dokter-dokteran. Chuuya boleh balik badan seperti sekarang."
"E-eh tu ... tunggu, gue belum siap!"
"Pertama-tama cek suhu tubuh. Wajahmu panas juga, hmm ..." Tanpa permisi tangannya meraba kening dan pipi sang pasien. Kelakuan Dazai tak lebih dari penyelundupan modus yang diam-diam memeluk tubuh itu dari belakang.
"Badan lo rasanya deket banget. Jauh dikit napa?!"
"Hanya perasaanmu. Selanjutnya pemeriksaan detak jantung." Jemarinya sekadar ditempelkan pada dada kiri Chuuya. Dia lebih dari tahu jika senja itu ada lagu terindah yang didendangkan oleh sebuah kehidupan kecil namun paling berharga yang ingin Dazai lindungi.
"Terus biar sembuh, pakai cara hipnotis~"
"L-l ... l ... lo!"
"Chuuya, kamu tidak jatuh pada orang yang salah," bisik Dazai lembut. Menyisir perlahan rambut senjanya yang terasa halus membelai kulit.
"Chuuya tahu kenapa?" Ia tidak lagi tahan. Netra itu terbuka bertepatan dengan sepasang kakao yang menatapnya langsung.
"Karena mataku selalu menangkap sinyal cinta darimu."
Setelah membutakan jarak, mencuri peluk dan berbisik mesra seperti itu, Dazai harus belajar menjadi dokter yang lebih baik. Kalau tidak, doa busuk Chuuya bisa jadi terkabul sungguhan.
Calon pacarnya jatuh pingsan dan demam selama 3 hari. Dokter mana pula yang justru membuat pasiennya sakit? Dazai berlagak idiot atas protes tersebut.
#25: I'm Venerate You
Jauh-jauh waktu sebelum peradaban mengenal android. Majalah dinding merupakan sumber hiburan bagi para siswa gabut yang berseliweran pada koridor sewaktu istirahat. Ekskul yang diketuai Tanizaki bersaudara itu menarik perhatian massa dengan warna-warni artikel, komik humor, cerpen khas putih abu-abu dan berbagai jenis lainnya.
Tetapi oh tetapi, bukan itu daya tarik utamanya. Atas usul seorang anggota yang namanya dirahasiakan, sebuah program diciptakan dan disepakati dengan nama 'Secret Angel'. Dari zaman semi modern, mereka seakan kembali pada masa tradisional dengan mengirim pesan lewat kertas yang ditempelkan pada mading. Sejenak melupakan SMS atau MMS yang akhir-akhir ini populer di kalangan anak muda.
-ll-
Hujan mengguyur sore yang semestinya dibasuh oleh jingga. Ketika rata-rata kelas menyepi oleh para penghuni yang pulang, Dazai Osamu terpaksa tinggal lebih lama akibat lupa membawa payung. Maniak perban itu tengah menatap pada mading yang ramai oleh gambar dan tulisan. Kolom 'Secret Angel' menjadi langganannya 2 minggu terakhir ketika Nakajima Atsushi memberitahu bila namanya masuk sebagai penerima pesan.
To: Kak Dazai
Kalo mau loncat lain kali langsung modar aja. Cepet sembuh lukanya.
"Aw, manisnya~ Aku ingin mengajaknya bunuh diri ganda!"
Nama si pengirim Dazai berencana mencari tahu dengan bersembunyi di belakang tembok -seseorang dalam perjalanan menghampiri mading sambil membawa selembar notes dan lem kertas. Bila tidak sempat dikirim, kebijakan anggota mading memperbolehkan untuk menempel sendiri selama tidak melewati batas kolom.
"Kayaknya kenal," batin Dazai memutuskan keluar. Tersenyum mendapati sosok mungil yang terkejut itu.
"Sore, dek. Belum pulang?~"
"I-iya, sore! Kakak sendiri belum pulang?" Senyum yang terpatri kian melebar menyaksikan betapa menggemaskannya wajah gugup itu. Dazai curi-curi melirik pada selembar notes yang adik kelasnya tutupi.
"Belum, nih. Lupa bawa payung. Adek kirim pesan ke siapa?"
"Ke seseorang. Kakak mau kirim pesan juga?"
"Kirim enggak, ya? Kakak penasaran sama si pengirim satu ini," ujarnya menunjuk pesan di kolom 'Secret Angel'. Dia sekadar mengangguk paham.
"Itu namanya pemuja rahasia, bukan? Mungkin dia suka sama kakak."
"Tetapi kalau dia bukan orang yang kakak sukai, gimana dong?" Seperti si pengirim pesan, Dazai pun diam-diam menaruh rasa pada seseorang. Entah siapa dia, pemuda jangkung itu memilih diam sampai memutuskan bergerak sendiri.
"Namanya juga pemuja rahasia. Kalo kakak suka sama yang lain, dia turut bahagia."
"Benar juga! Kakak mau kirim pesan padanya. Boleh minta notes sama pinjem pulpen?"
"Jangan digacul!"
"Gacul hati adek boleh?" Sebelah alisnya dinaikkan heran. Tanpa permisi Dazai mengambil lem dan menempelkan notes tersebut. Berlalu tanpa memperhatikan keheranan yang adik kelasnya tunjukkan.
From: Dazai
To: Nakahara Chuuya
Enggak bosen dek jadi pemuja rahasia? Besok dateng ke atap abis pulang sekolah. Kakak tunggu loh~
"Lah, sejak kapan?! Kak, tunggu!"
Sejak awal Dazai tahu siapa pengirimnya -Nakahara Chuuya dari kelas X IPS-2. Soal mencari tahu, itu lebih cenderung pada niat modus, sih.
Lagi pula, besok juga mereka jadian.
Bersambung...
A/N: Thx buat kalian yg masih setia ikutin cerita ini sama review juga. Update selanjutnya tanggal 31 Oktober~
Balasan review:
Ziandra A Zean A : namamu ganti toh. tapi tetep kok kupanggil zian klo itu maumu wakakaka. kalo mantan itu sejenis bakso aku ga mau makan karena pasti busuk :( makasih juga udah setia baca fic gaje ini, moga masih berkenan buat baca chapter terakhirnya nanti.
