#26: I'm Stuck on You

19.40

Dazai: Chuuyyyaaa~

19.50

Chuuya: ?

19.50

Dazai: Tolong angkat telponku. Bentar ajaaaa.

Nomor sang gebetan dihubungi dengan semringah. Tanpa menunggu lambatnya nada sambung, telepon segera diangkat oleh si penerima.

"Langsung aja yak. Chuuyyaaa balikan yuk~"

"Hello?! Balikan kata lo? Gue enggak salah denger?"

"Serius. Aku ajak kamu balikan. Jadi, gimana?" Andai Chuuya tahu betapa lebarnya senyum pengharapan yang Dazai perlihatkan. Meski enggak pengaruh karena dia masa bodoh dengan si maniak perban yang idiotnya lahir batin itu.

"Mending gue telpon Akutagawa daripada ladenin lo."

"Kamu lebih pilih Akutagawa dibanding aku?!" Drama banget sumpah. Chuuya ingin mengakhirinya dengan kalimat sakti yang ia persiapkan.

"KITA BELOM JADIAN DAN LO AJAK GUE BALIKAN?! OTAK LO KONSLET GARA-GARA APA KALI INI, HAH?!"

Tut ... tut ...

Penuh rasa nelangsa Dazai meratapi buku bahasa Inggris yang tergeletak di ranjang. Dia ingat sekarang, awalnya mau ke California buat tampol si Fuckerburg pakai cetak SBMPTN. Tetapi balik lagi ke rumah usai melihat gebetan dan si setan Akutagawa ciuman di bawah lampu jalan. Enggak punya tiket pesawat lagian. Mau jalan kaki juga tenaga habis duluan.

Terus kira-kira, sudah 3 bulan berlalu semenjak notifikasi tersebut diumumkan. Tak terhitung lagi sebanyak apa Dazai menggoda Chuuya berharap sang gebetan khilaf dan kembali padanya. Tetapi jangankan melirik, baru lewat aja belahan pantatnya ditendang pakai ujung sepatu, lancip lagi, PASTI BAU SIKIL JUGA! SAKIT TAHU GA?! SAKIT!

Belum jadian, khilaf ajak balikan, gagal move on. Dazai sadar dirinya sangat menyedihkan.


#27: I'm Wonder at You

Sesuai kata hati dan notes yang viral pada papan mading, Nakahara Chuuya selaku penerima pesan menuju atap sepulang sekolah di waktu 3 sore. Ia gugup sampai mampus jelas. Ragu-ragu sewaktu memutar kenop pintu, di mana angin senja berembus mengisi celah kosong antar azure dan kakao yang bertemu dalam hening.

Sejenak Chuuya menikmati indahnya cokelat berpadu jingga.

"Sore, dek. Cuacanya bagus, nih, buat ngobrol." Ah, tentu. Kepalanya mengangguk tanda setuju.

"Sebenarnya, emmm ... kakak tahu namaku darimana?" Tiga buah hal membuatnya bertanya-tanya pada Dazai Osamu. Paling utama adalah soal identitas yang ia dan anggota mading rahasiakan. Mereka tidak sejahat itu sampai membocorkannya, bukan?

"Wah~ Itu rahasia. Yang pasti bukan dari anggota mading atau temanmu si Akutagawa."

"Terus, kenapa kakak hobi bunuh diri?" Bukan berarti Chuuya paham segala hal. Mau stalk atau berdiskusi sampai larut juga, permasalahan satu itu belum terpecahkan dan menjadi misteri. Dazai terdiam sebelum melebarkan senyum yang mengundang heran.

"Kalau kakak bilang enggak ada alasan, adek puas?"

"Hah?! Pasti ada. Apa kakak merasa depresi? A-atau mungkin gara-gara patah hati?"

Wajah khawatir itu menjatuhkan perasaan aneh pada kakao-nya yang membulat. Dazai ingat lukisan paras tersebut, pemuja rahasianya itu pernah menggambarkan ekspresi serupa ketika ia menguji dengan pertanyaan 'kalau dia bukan seseorang yang kusukai'. Jawabannya kemarin murni dusta semata. Sejauh mata menaruh atensi, Nakahara Chuuya adalah sosok yang keras kepala perihal hati maupun keputusan. Tipikal pantang menyerah yang menjadikan idiot perban itu tertarik untuk terus mencari tahu.

"Kakak punya kepercayaan kalau kita mati bakal ketemu malaikat. Tetapi sekarang, rasanya enggak perlu bundir, deh~"

"Karena?"

"Ini udah ketemu malaikat. Lagi berdiri di depan kakak malah."

"A-apa sih? Kakak gombal?" Ada senja lain mewarnai tirus pipinya. Sekilas tertangkap walau Chuuya memalingkan wajah dari Dazai yang mendekatkan diri. Pura-pura bodoh akan tingkah laku adik kelasnya itu.

"Enggak, serius. Ada malaikat di depan kakak. Manis banget lagi. Rasanya jadi khilaf mau ajak bundir bareng."

"Ekhem! Karena aku malaikatnya kakak, ja-jadi aku bakal melindungi kakak biar enggak bundir! Bu ... bukannya peduli atau apa. Aku hanya ..."

"'Aku hanya tidak ingin kehilangan kakak'. Kakak juga enggak mau kehilangan malaikat secantik adek," balasnya asal menyambungkan kalimat. Chuuya mendadak bisu akibat hilang kata-kata.

"Jadi, adek sudah tahu maksud kakak menyuruh kemari, bukan?"

"Kakak juga tahu soal itu?" Pertanyaan ketiganya adalah tujuan dari 'undangan' tersebut. Meski Chuuya sempat menebak kemungkinan ini, ia tidak menyangka dewi fortuna tengah memihak padanya.

"Ssstt. Rahasia~ Enggak penting-penting amat lagi pula."

Apa katanya juga, mereka akan jadian hari ini. Dazai telah memprediksi hal tersebut dengan matang termasuk pertanyaan-pertanyaan yang hendak disuarakan. Chuuya terkesiap sewaktu tubuh jangkung itu meraih badan mungilnya untuk jatuh dalam pelukan. Hangat seperti senja yang menyaksikan mereka.

"Nanti adek enggak perlu bertanya-tanya kenapa kakak suka sama adek. Termasuk panggilan 'dede Chuuya' yang khusus buat kamu."

Mantera dari sebuah sihir yang bekerja tidak boleh disebutkan, bukan?


#28: I Yearn for You

Biru laut di tepi jurang menjadi panorama terakhir yang ia saksikan. Hangat jingga membalut sepasang tangan yang merentang bebas. Kaki bersepatu pantofel itu sengaja menghilangkan keseimbangan. Seakan terbang layaknya burung menuju debur ombak yang menelan habis tubuh tersebut. Lembut mengikuti arus. Tenggelam oleh keinginannya sendiri.

Sesak. Perih. Menyakitkan. Napasnya ibarat siulan semata. Perlahan lenyap oleh air yang mengisi paru-paru. Matanya terpejam tanpa melihat permukaan yang ditinggalkannya. Pemuda itu lelah, terlalu malas untuk kembali. Toh, ia tidak bisa berenang. Biarkan saja laut membuatnya menemui akhir yang dia harapkan.

Hari itu, di mana dunia semestinya menjemput kematian dan tangis, seseorang justru menggagalkan percobaan tersebut. Pergi berenang menyelamatkan raga yang ajaibnya, masih diberikan napas penghidupan. Sepasang mata itu terbuka. Samar-samar mendapati jingga dan putih pasir tanpa biru laut maupun sesak di paru-paru.

Lagi dan lagi, Dazai Osamu kembali terselamatkan.

"Kenapa kau selalu melakukannya, Chuuya?" Tanya Dazai menatap benci. Pemuda cebol itu acuh tak acuh menggidikkan bahu.

"Aku tidak bisa melihat seorang idiot mati di depanku. Menjijikkan rasanya."

"Seharusnya aku yang jijik karena Chuuya adalah stalker."

"Mana ucapan terima kasihmu, idiot? Dan aku bukan stalker."

"Ah, Chuuya~ Terima kasih telah menyelamatkanku. Ternyata kamu sangaatttt baik~" Itu sarkastis. Chuuya segera bangkit tanpa membalas ucapan tersebut.

"Cepat bangun. Kuantar pulang."

Mereka berjalan depan belakang. Chuuya memimpin langkah sementara Dazai mengikuti sambil bersenandung. Lirik lagunya terdengar idiot seperti si penyanyi yang tiba-tiba berhenti. Maniak perban itu bukan menginginkan kepulangan atau sebuah penyelamatan yang memuakkan.

"Kelakuanmu benar-benar seperti iblis, ya." Yang dimaksud demikian menghentikan langkah. Sepasang azure sengaja menemui kakao yang pandangannya menggelap oleh amarah.

"Iblis mana yang menyelamatkan nyawa seseorang?"

"Kau paling tahu aku ingin bunuh diri. Ini ke dua puluh lima kalinya Chuuya menggagalkan percobaanku." Stalker memang julukan yang pantas untuk disandang. Bila tidak menjadi penguntit, darimana polisi itu tahu soal rencana dan tindak tanduknya?

"Ini tugasku sebagai polisi. Jika kau depresi atau sejenisnya, akan kuantar ke psikiater."

"Begini, pak polisi yang budiman. Kenapa Anda bersikeras menyelamatkan orang yang tak punya tujuan hidup seperti saya?"

"Jika aku bilang ingin menjadi pahlawan, apa pendapatmu?" Alasan yang memang kekanak-kanakan. Dazai terkekeh geli bagaimanapun mata itu mengintimidasinya agar tidak tertawa.

"Lalu, kenapa Chuuya ingin jadi pahlawan?"

"Sama seperti alasanmu yang ingin bunuh diri, itu rahasia."

"Rahasia toh. Karena penasaran, aku akan menunda percobaan bunuh diriku. Chuuya seharusnya tersenyum dan berhenti cemberut."

"Dan berapa kalipun kau bunuh diri, aku pasti menyelamatkanmu. Camkan itu, Dazai."

Alasannya begitu egois menjadikan ia gagal sebagai polisi. Chuuya melakukan ini bukan semata-mata untuk balas budi. Meski tahun lalu Dazai menyelamatkannya sewaktu pemuda jangkung itu pulang dari kantor, ada motif lain yang polisi muda itu hendak perjuangkan dan memang, sangatlah kekanak-kanakan.

Nakahara Chuuya ingin menjadi pahlawan supaya Dazai Osamu jatuh cinta kepadanya. Siapapun menyukai hero, bukan? Bahkan cinta itu timbul ketika si idiot perban melindunginya dari sabetan golok. Meski terkesan naif dan klise, apa keegoisan tersebut salah telah didasarkan atas keinginan untuk memiliki secara pribadi?

Nyatanya, polisi juga manusia yang bisa egois.


#29: I'm Better Than You

Kelas musim panas yang menyebalkan. Gurunya pun cerewet macam cewek PMS kerasukan setan. Nakahara Chuuya merengut di sepanjang gebrakan papan tulis dan serangkai penjelasan bercampur hujan ludah dari Pak Kunikida. Ketika bel pulang berdenting sekalipun, wajah cantiknya belum lepas dari rasa masam sewaktu menghampiri sang kekasih yang menunggu di kantin. Tanpa bicara apapun, ia mengambil posisi duduk di samping kiri.

"Bebeb kenapa? Wajahnya asem gitu kayak bau ketek."

"Babab, bebeb, babab, bebeb, bacot lu!"

"Minum dulu, nih, jus apel." Tanpa permisi Chuuya merebutnya. Namun langsung dilempar mengenai wajah tampan sang kekasih. Dia sudah kenyang menghirup udara, buat apa diberi kotak kosong?!

"Harusnya gue enggak ikut kelas dia dan menang dari lo. Terkutuk sumpah."

"Nilai tertinggi itu seratus dan Pak Kunikida enggak akan kasih bebeb nilai dua ratus. Jadi masih kalah dari aku." Kebetulan ada pot tanaman, Chuuya ingin mengangkat dan melemparkannya pada wajah sombong Dazai Osamu. Itu manusia sebiji memang harus diberi pelajaran.

"Seenggaknya gue lebih baik dari lo dalam pelajaran olahraga."

"Tetapi tetap saja kalah dalam hal lain. Bahkan bebeb enggak berkutik setiap aku gombal."

"Soal melempar gue selalu tepat sasaran, kok." Pot di samping mesin otomatis telah diangkat sepenuhnya. Dazai yang mencium bau-bau kematian dan kebusukan balas dendam segera memutar otak. Bisa gawat jika Chuuya berpaling karena wajah tampannya hancur lebur.

"Eh, tunggu beb. Bentar aja, plis."

"Enggaka ada eh, eh. Gue lebih baik dari lo pokoknya." Dia benci kekalahan dan dikalahkan oleh seorang idiot perban. Kenapa manusia waras sepertinya sulit untuk menang meski hanya sekali?

"Dalam dua hal bebeb lebih baik."

"Oh. Apa emang?"

"Yang pertama soa kepercayaan. Meski ingkar janji bebeb tetap menungguku di sana. Aku tidak sesabar itu dan justru meninggalkanmu saat bebeb terlambat."

"Lalu yang kedua, bebeb pun lebih baik dalam mencintai. Aku belum pernah merasa se-nyaman ini dan itu terjadi hanya ketika bersamamu. Terus tambahannya, soal keyakinan pun aku kalah darimu."

"Terima kasih telah meyakinkanku agar kita tidak putus. Bisa-bisa aku menyesal jika itu terjadi sungguhan."

Sekalipun berniat memperpanjang nyawa, Dazai serius mengenai kelebihan tersebut. Dia boleh jadi menang secara fisik, pendidikan, adu mulut maupun berkata manis. Namun bila tentang hubungan mereka, Chuuya telah mengalahkannya dalam hal manapun.

Karenanya Dazai pun ingin lebih baik agar pantas mendampingi Nakahara Chuuya.

PRAANGGG!

"Da-dasar idiot! Gara-gara gombalan lo gue semakin enggak tahan buat lempar potnya."

"Te ... ga ... beb ..."

"Tetapi karena gue menghargainya. Kali ini lo selamat."

Selain 3 hal di atas, Chuuya juga lebih baik dalam gendong menggendong. Dazai saja tidak kuat meski tubuh itu terbilang mungil. Kalau ditanya kenapa, dia pasti beralasan 'Chuuya gendut'.

Untung belum ketahuan atau mesin otomatis ikut melayang menghantamnya.


#30: I Trust You

"Jika dua orang memutuskan bertemu dan mereka sama-sama menunggu, dapat dipastikan pertemuan mustahil terjadi."

Apa kalimat tersebut merupakan penggalan dari buku saku yang setiap hari dipangkunya? Suster muda itu menghentikan gerak yang semula asyik menata bunga matahari. Baik atensi maupun segelintir tanya, semua tertahan pada rasa penasaran yang menunggu kelanjutannya kembali dilangsungkan.

"Jika dua orang memutuskan bertemu dan mereka sama-sama mencari. Mungkin bertemu atau bisa saja tidak." Sejenis ironi, kah? Kakao sang pasien menemui manik berwarna laut yang terpaku penuh pada suaranya.

"Tetapi, jika dua orang memutuskan bertemu dan salah satunya mencari. Mereka pasti bertemu."

"Jadi, buku saku favoritmu isinya cerita galau?" Sekian lama mengabaikan heran, ia berani bersua siang itu. Sang pasien menggelengkan kepala dengan senyum yang sekiranya sulit dipahami.

"Jika Chuuya boleh memilih tiga kemungkinan tadi, kamu mau yang mana?"

"Hmmm ... tunggu, kau tidak sedang mempermainkanku, bukan?"

"Enggak, deh, serius! Chuuya tinggal jawab." Mudah mengatakannya. Untuk dia pilihan tersebut kurang mengenakkan sekaligus tidak menyenangkan.

"Bukannya tergantung takdir?"

"Anggap saja lagi berkhayal. Jika bisa, aku memilih sama-sama mencari."

"Meski katamu ada kemungkinan enggak bertemu?"

"Kalau yang aku cari itu Chuuya. Kita pasti bertemu."

"Mencariku untuk apa? Jelas-jelas aku berdiri di depanmu." Khayal yang dimaksud belum tiba mencapai pemahamannya. Dazai Osamu -nama pasien itu menempelkan telunjuknya pada bibir merah ranum sang suster. Untuk sekarang, biarkan pertanyaan tersebut sejenak menguap.

"Di kehidupan kali ini, Chuuya yang menemukanku. Tetapi nanti, aku ingin kita sama-sama mencari."

"Sebegitu inginnya bertemu denganku lagi?" Tanyanya menyingkirkan telunjuk itu. Chuuya terus-menerus gagal paham akan tingkah Dazai yang hari ini, sangat di luar dugaan.

"Siapa yang enggak mau dirawat sama suster cantik macam Chuuya?"

Jangan salah kaprah, Chuuya adalah cowok tulen bermarga Nakahara walau berprofesi sebagai suster. Pemuda cebol yang sekaligus maniak topi itu menjitak keras rambut kakao-nya. Sejak 2 tahun lalu, Dazai memang aneh dengan senyum tampak menyebalkan. Ketika pasien lain ngeri atau mendadak ingin pindah rumah sakit, hanya dia yang bertahan sampai detik ini.

Kata dokter Kunikida, Dazai itu masokis sejati. Tetapi menurut Chuuya, ini kehendak takdir yang dipilihkan untuk mereka.

"Jangan harap kita bertemu di rumah sakit dan aku merawatmu lagi."

"Heee ... padahal aku enggak rewel kayak pasien lain."

"Aku ingin kita bertemu di padang bunga matahari. Supaya saat itu juga, kau langsung mengingatku."

Giliran Dazai dibuat terkesiap. Anak muda selalu penuh kejutan, tetapi Chuuya lebih spesial menurutnya. Hanya suster itu yang marahnya menggemaskan dan tsundere akut dari seluruh staff rumah sakit.

"Mau janji jari kelingking?" Tawar Dazai yang diabaikan olehnya. Liburan musim panas sekalipun, pekerjaan tetaplah pekerjaan dan pasien lain menunggu.

"Kau bilang ingin sama-sama mencari. Pasti karena alasan kita sama."

"Tentu. Sampai jumpa di musim panas sepuluh tahun berikutnya atau lain waktu."

"Ingat. Di padang bunga matahari yang biasa kau ceritakan itu." Langkahnya berlalu meninggalkan kamar tersebut. Dazai kembali memejamkan pandang usai dihujani panas angin yang berembus kasar.

Senyum dan tawa yang sama akan datang, selama kepercayaan di antara mereka adalah saling dan bukan salah satu.


#31: I Love You

Dengan apa Dazai Osamu mencintai Nakahara Chuuya?

Apakah menggunakan rayuan idiot yang selalu mengudara, pada setiap langkah di mana mereka menghitung menit demi menit? Dazai rasa tidak. Hal sejenis menggoda lebih menjatuhkan makna kepada rasa suka -dan itu bersifat sehari-hari. Perasaan cinta terbungkus dalam sunyi sekaligus lebih sederhana dibanding rangakaian kata bertabur bahasa puisi.

Lantas, apakah dengan bahasa bunga? Seperti mawar yang berarti 'aku mencintaimu' atau dandelion bermakna 'kepercayaan cinta'? Tidak juga. Indahnya bunga dapat layu dilahap kerakusan waktu yang terkatakan egois. Dazai menjauhi cinta semacam itu. Dirinya mau jatuh sepenuh hati dengan membawa jiwa dan raga kepada sang pujaan. Ia membenci keindahan yang bersifat klise dan dibuat secara main-main.

Dazai tidak memiliki jawaban karena ia mengungkapkannya tanpa melalui kata-kata. Selalu begitu sederhana seperti menghadiahkan senyum, melontarkan canda diiring tawa atau menemani langkah untuk menghindari sepi. Isyarat-isyarat itu merupakan tanda cinta yang seribu kali sayang, tiada Chuuya sadari atau dicari tahu olehnya lewat sepasang laut. Bagi sang senja, Dazai sekadar teman baik namun jahanam di satu waktu.

Andai bisa, Dazai pun mau mengungkapkannya lewat kata-kata. Bilang 'aku mencintaimu' sambil memeluk mungil tubuh itu di bawah siraman bintang dan permai bulan. Atau mungkin ketika langkah mereka bersebelahan dan dia mencium lembut bibir itu, membisikkan perasaannya yang sejak dahulu terpendam tanpa mengenal kepastian waktu untuk mengatakannya.

Namun pengecutnya, Dazai sekadar mendoakan cinta tersebut agar nanti Chuuya berbaik hati menyadarinya. Idiot perban itu tidak membutuhkan balasan. Cinta adalah tulus tanpa mengharapkan perasaan setimpal.

Selama Nakahara Chuuya bahagia dengan kekasihnya, kalimat 'aku mencintaimu' sekadar doa yang ingin dikenangnya sebagai harapan terbaik. Perjuangan terhebatnya untuk mempertahankan rasa serapuh itu.

Tamat.

A/N: Dan akhirnya fanfic gaje ini tamat. MAKASIH BUAT YANG UDAH IKUTIN DARI AWAL AMPE AKHIR SAMPAI FAV, FOLLOW AMA REVIEW, AKU SAYANG KALIANNN (caps jebol). Sekali lagi maaf banget kalo ada pengulangan ide. Tunggu fic lainnya yak kalo minat wkwkwkw.

Balasan review :

Ziandra A and Zean: ku terharu baca review mu :') kenapa sih makhluk macem mantan harus ada di dunia ini. kalo bisa juga udah dijadiin makanan hiu itu si mantan. udah enggak ada harganya lagian, harus dibuang ke tempat sampah. dannn makasih banget udah ikutin fic ini dari awal sampe akhir~semoga nanti bisa dihibur dengan fanfic lainnya, hehehe.