Pahit bukanlah akhir,

Ini awal dari segalanya...


Beautiful Pain © The Bloody Phoenix

Disclaimer: The Characters on this fanfiction are belongs to God, SM Entertainment, their family and them self.

Casts: Choi Siwon, Cho Kyuhyun, etc.

Pairing: WonKyu (Choi Siwon x Cho Kyuhyun)

Genre: Hurt/Comfort, Angst, Romance, Drama.

Rated: T

Warning: Boy x Boy/Shounen ai, OOC, a story from the beginner author, a Chliché plot, typo(s).

Summary: Kyuhyun berusaha untuk menikmati cintanya yang bertepuk sebelah tangan dalam sebuah hubungan tanpa status yang jelas bersama Siwon. Seberapa pun kerasnya ia mencoba untuk merasa baik-baik saja, rasa sakit itu selalu saja menghampiri.

Hope you guys enjoy the story,

Don't like don't read please~

. . .

.

Chapter 3: The Tears


Langit malam di musim panas ini terlihat kelam, jauh dari kata indah bertabur beribu bintang. Siwon termenung sendirian dikamarnya, memikirkan sesuatu yang terasa aneh menimpanya. Ia ingat kejadian tadi siang saat dimana Kyuhyun menangis begitu mendengar berita bahwa ia dan Tifanny berpacaran. Baginya reaksi Kyuhyun terasa berlebihan, but he doesn't know anything after all. Ia sendiri kurang mengerti mengapa Kyuhyun menangis, mungkin itu adalah sebuah bentuk ungkapan patah hati, ia tidak tahu karena ia belum pernah merasakan bagaimana rasanya patah hati itu.

Ia tahu Kyuhyun menyukainya, dan berita bahwa ia dan Tifanny telah menjadi sepasang kekasih pasti melukainya. Ia pikir ia harus meminta maaf padanya besok.

.

.

~WonKyu~

.

.

Tidak berbeda jauh dengan Siwon, Kyuhyun sendiri sedang termenung di kamarnya. Ia meringkuk diatas tempat tidurnya dengan mata yang sembab, memikirkan betaba bodohnya ia tadi siang. Kenapa ia harus menangis dihadapan Siwon? Hal itu hanya membuatnya kebingungan sekarang, ia serba salah. Mereka adalah sepasang sahabat, tapi sekarang Siwon sudah tahu bahwa ia menyukainya, lalu harus bagaimana jika Kyuhyun kembali bertemu Siwon di kampus nanti? Apa ia harus menjauh, berpura-pura tidak mengenalinya, atau bagaimana? Kepalanya sudah pusing memikirkan hal itu.

Kyuhyun bergerak megambil ponselnya yang tergeletak diatas meja nakas disamping tempat tidurnya, ia berniat untuk menghubungi ibunya melalui handphone sederhana miliknya. Dua kali nada sambung terdengar dan panggilan telepon Kyuhyun pun dijawab.

'Halo, siapa ini?'

"Umma.. ini Kyuhyun.."

'Kyuhyunnie? Aigoo, sudah lama kau tidak menghubungi umma disini. Bagaimana kabarmu?'

Kyuhyun tersenyum, mendengar suara ibunya membuat hatinya sedikit tenang. "Aku baik-baik saja. Umma aku rindu padamu.."

'Kalau begitu pulanglah, umma juga rindu padamu'

"Besok aku tidak ada jadwal kuliah, kalau begitu aku ingin pulang menemui umma" Kyuhyun tersenyum lagi. Kalau sudah begini ia pasti rindu sekali pada ibunya di kampung halaman.

'Baik, umma menunggumu Kyu. Jaga dirimu, umma akan menutup teleponnya'

Pip

Sambungan telepon antara Kyuhyun dan ibunya pun terputus. Bibirnya meghela nafas berat, ini sulit.

.

.

~WonKyu~

.

.

Pagi harinya Siwon berangkat ke kampus lebih awal, berharap ia bisa bertemu Kyuhyun lebih awal juga. Namun hingga pukul setengah sembilan pagi ia menunggu Kyuhyun belum juga terlihat. Ia mengambil ponselnya untuk melihat hari apa ini, di layar ponselnya tertera 'Rabu, 09:31'. Siwon menepuk dahinya pelan, ia lupa kalau hari ini Kyuhyun sudah pasti tidak ada jadwal kuliah. Kalau Kyuhyun tidak ada jadwal untuk kuliah, pasti Tifanny juga begitu.

Lebih baik Siwon pergi mengunjungi apartemen mungil Kyuhyun saja walaupun ia harus meninggalkan jadwal kuliahnya hari ini.

Sudah berkali-kali Siwon memencet bel pintu apartemen Kyuhyun, namun si pemilik tidak juga membukakan pintu untuknya. Siwon merogoh ponselnya, ia mencoba untuk menghubungi Kyuhyun. Panggilannya tersambung pada nomor ponsel Kyuhyun tetapi ia tidak mengangkatnya. Kemana sebenarnya pemuda itu pergi?

"Ayolah, kenapa Kyuhyun tidak mengangkat teleponnya?" Siwon mengacak rambutnya kesal sambil berjalan mondar-mandir di depan pintu apartemen Kyuhyun. Seorang nenek-nenek tua yang sedang menggendong seekor kucing datang menghampirinya dari kamar apartemen disebelahnya.

"Kau mencari Kyuhyun anak muda?" tanya nenek itu. Siwon berbalik dan mengangguk, tersenyum tipis pada wanita tua itu.

"Kyuhyun sudah pergi dari pagi-pagi sekali" nenek itu memberitahu. Siwon membulatkan mulutnya.

"Jinjja? Ah apakah anda tahu Kyuhyun pergi kemana?"

Nenek itu menggeleng, "Aku juga tidak tahu. Apa ada yang ingin kau titipkan untuk Kyuhyun, aku akan memberikannya begitu ia pulang" tawar nenek itu berbaik hati.

Siwon menggeleng, "Ah tidak ada. Kalau begitu saya permisi dulu, terimakasih atas informasinya."

.

.

~WonKyu~

.

.

Kyuhyun duduk termangu di kursi panjang bis yang ditumpanginya. Perjalanan jauh menuju Busan, kota kelahirannya, akan segera membuahkan hasil, sebentar lagi ia akan sampai di rumahnya. Perjalanan yang memakan waktu berjam-jam lamanya dengan sebuah bis kelas ekonomi seperti ini membuatnya bosan, tidak ada yang bisa menarik perhatiannya.

Mata Kyuhyun memandang handphone hitam miliknya yang menampilkan sebuah pop-up notification yang itu-itu saja, 5 panggilan tak terjawab dari Siwon. Ia bingung untuk apa sebenarnya Siwon menelepon, tadinya ia akan menjawab salah satu panggilannya tetapi Kyuhyun bingung harus bersikap seperti apa, makanya Kyuhyun tidak jadi mengangkat panggilan dari Siwon satu pun.

"Para penumpang yang terhormat, kita telah memasuki area terminal bis Busan. Diharapkan para penumpang segera bersiap-siap untuk turun."

Mendengar instruksi dari si operator bus, Kyuhyun pun segera mempersiapkan dirinya untuk turun. Begitu bis berhenti dan pintu keluar dibuka, sesegera mungkin Kyuhyun bergerak turun.

Hap

"Akhirnya sampai juga.." Kyuhyun pun segera berjalan cepat keluar dari area terminal bus tersebut. Rumahnya tak terlalu jauh dari terminal, maka untuk bisa sampai di rumahnya ia hanya perlu berjalan kaki sekitar dua blok saja dari sana.

Tak lama Kyuhyun telah sampai di rumahnya. Sebuah rumah berwarna coklat tua terpampang nyata dihadapannya, setelah sekitar satu tahun ia belum pernah pulang ke kampung halamannya ini, akhirnya ia bisa juga meluangkan waktunya untuk bertemu dengan sang ibu tercinta.

Tok tok tok

Cklek

"Omo! Kyuhyun?!" sebuah suara wanita paruh baya menyambut kedatangan Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum girang padanya dan ia bergerak untuk memeluk wanita itu, tapi ia bukanlah ibunya.

"Ahjumma! Bagaimana kabarmu? Aah rasanya sudah lama sekali, aku rindu padamu."

"Dasar anak nakal! Kemana saja kau satu tahun ini tidak mengunjungi aku dan ibumu? Uh, kabarku baik. Bagaimana dengan keponakanku yang satu ini?"

Kyuhyun tersenyum, "Aku baik. Ahjumma, aku masuk dulu ya, aku ingin bertemu umma." Katanya. Kyuhyun pun berjalan memasuki rumahnya, ia menatap ke sekeliling, rasanya sudah lama sekali ia meninggalkan rumahnya ini.

Cklek

Kyuhyun membuka pintu kayu berwarna coklat yang sudah ia hafal sejak masih kecil. Ia melihat ibunya yang sedang terbaring diatas ranjang, dan ibunya pun menatapnya.

"Umma.." segera saja Kyuhyun menghambur ke pelukan ummanya yang masih tetap berbaring.

"Umma aku rindu padu, rinduuuu sekali.." Kyuhyun menelusupkan kepalanya ke cerukan leher sang ibu. Tangan-tangan ibunya bergerak membelai rambut Kyuhyun lembut.

"Nado, umma juga rindu padamu.." balasnya. Kyuhyun melepaskan pelukannya.

"Umma, kau terlihat semakin kurus" kata Kyuhyun sedih. Ummanya tersenyum, "Yah mau bagaimana lagi Kyu.."

Ibu Kyuhyun sudah lama mengidap penyakit yang menimbulkan kerusakan kronis pada paru-parunya, akhir-akhir ini kondisinya semakin memburuk. Ibunya juga mengalami lumpuh pada separuh tubuhnya akibat kerusakan saraf-saraf motoriknya. Keluarga Kyuhyun bukanlah keluarga yang berada, namun mereka hidup dengan sangat sederhana. Ayah Kyuhyun sudah meninggal akibat kecelakaan kapal laut saat Kyuhyun masih kecil, dan Kyuhyun sendiri pergi merantau ke Seoul dan berkuliah dengan mengandalkan beasiswa. Dan wanita yang menyambut Kyuhyun tadi adalah bibinya, ia yang selalu mengurus ibunya siang dan malam selagi Kyuhyun tidak ada, ia tidak menikah dan membaktikan dirinya untuk mengurus kakak satu-satunya itu.

"Kyu, bagaimana kabarmu sayang? Ceritakanlah apa yang kau alami selama tinggal di Seoul"

Kyuhyun tersenyum, ia bingung harus mulai darimana. "Kabarku baik umma. Di Seoul aku mendapat banyak sekali pengalaman, kuliahku berjalan dengan baik. Aku senang bisa memilliki banyak teman baru disana"

"Begitukah? Ah seandainya umma masih bisa hidup lebih lama, umma ingin sekali menghadiri acara wisudamu nanti. Umma akan sangat bangga saat melihat kau memakai toga dan memegang piagam dengan nilai yang baik" katanya.

"Ish, umma! Jangan bicara seperti itu, kau pasti bisa menghadiri acara wisudaku nanti" balas Kyuhyun merajuk. Ia merangkak naik keatas ranjang dan berbaring di samping ummanya, ia memeluk tubuh wanita itu yang sudah tidak bisa digerakkan lagi.

"Lalu apakah sekarang kau sudah memiliki kekasih?" mendengar pertanyaan ibunya tersebut Kyuhyun jadi teringat pada Siwon.

"Umm belum. Tapi kalau orang yang aku suka ada" jawab Kyuhyun pelan. Ibunya mengangguk.

"Coba ceritakan seperti apa dia, umma ingin tahu!"

Maka cerita Kyuhyun tentang seseorang yang ia suka selama ini meluncur bebas. Siwon, Siwon, Siwon, ia bercerita tentang Siwon, tetapi ia tidak mengatakan pada ibunya bahwa orang yang ia suka adalah seorang laki-laki.

"Tapi cintaku bertepuk sebelah tangan, umma. Dia tahu kalau aku menyukainya, tapi dia sudah terlanjur berpacaran dengan orang lain. Dan sekarang aku tidak tahu lagi bagaimana harus menghadapinya" kata Kyuhyun sendu. Ibunya tersenyum.

"Kalau memang begitu, kenapa tidak kau kejar terus saja dia? Bukankah kau juga berhak untuk mencintainya? Kalau pun akhirnya kau tidak bisa mendapatkannya, tidakkah kalah setelah berperang itu lebih baik daripada kalah sebelum berperang? Cobalah perjuangkan dia" nasehat ibunya. Sesaat Kyuhyun tertegun, benar juga apa yang dikatakannya, ia harus terus memperjuangkan cintanya.

"Ne, aku rasa umma benar. Kalau begitu aku akan memperjuangkan perasaanku!" jawab Kyuhyun semangat. Ibunya pun ikut bersemangat melihat puteranya.

"Ajaklah ia berkunjung kemari sekali-sekali. Umma ingin melihatnya nanti, dia pasti wanita yang sangat cantik."

.

.

~WonKyu~

.

.

"Ajaklah ia berkunjung kemari sekali-sekali. Umma ingin melihatnya nanti, dia pasti wanita yang sangat cantik."

Kata-kata ibunya beberapa hari yang lalu terus terngiang di kepalanya. Sampai sekarang hatinya masih merasa bersalah, ia tidak memberitahu ibunya kalau ternyata orang yang ia cintai itu lelaki. Bagaimana pun juga hal seperti ini masih lah tabu.

Kyuhyun sudah membulatkan tekadnya untuk memperjungkan cintanya, tidak peduli apapun ia akan menerima resikonya. Setidaknya ia telah mencoba kalaupun akhirnya gagal. Kyuhyun berniat untuk menemui Siwon hari ini. Semoga ia berhasil.

"Ah, itu Siwon!" bola mata Kyuhyun bergerak cepat mengikuti sesosok Siwon yang berada jauh di depannya sedang berjalan. Dengan sigap Kyuhyun segera belari menghampiri pemuda tampan itu dan menepuk bahunya pelan dari belakang.

"Ah!" Siwon terlonjak kaget akibat tepukan Kyuhyun. "Kyuhyun?!"

"Uuum, hai Siwon!" sapa Kyuhyun sedikit canggung. Melihat Kyuhyun menyapanya Siwon juga ikut merasa canggung.

"Hai Kyu" balasnya. Kyuhyun memberanikan diri untuk menatap wajah Siwon.

"Umm, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Bisakah kita pergi ke bawah pohon beringin saja?" pinta Kyuhyun. Siwon mengangguk, "Ada yang ingin aku bicarakan juga denganmu"

Maka Siwon dan Kyuhyun pun pergi ke tempat dimana mereka biasa menghabiskan waktu bersama. Mereka mendudukkan dirinya berdampingan.

"Siwon, maafkan aku atas kejadian beberapa hari yang lalu.." Kyuhyun memulai percakapan mereka. "Aku—"

"Seharusnya aku yang meminta maaf padamu Kyu" Siwon memotong, "Seharusnya aku mengerti perasaanmu lebih awal sehingga tidak akan ada kejadian seperti ini."

Kyuhyun menggeleng, "Aniya, bukan salahmu. Kemarin aku hanya terlalu.. melankolis, ya melankolis" katanya pelan sambil tersenyum tipis. Siwon menatapnya dalam, ia tidak dapat mengutarakan apa yang sedang dipikirannya saat ini.

"Oh ya, pergi kemana kau beberapa hari yang lalu? Kau menghilang begitu saja" tanya Siwon.

"Eh?" Kyuhyun memiringkan kepalanya bingung, "Kau mencariku?"

Siwon berdecak lalu mengacak rambut Kyuhyun, "Tentu saja bodoh!"

Kyuhyun tersenyum, tangannya meraba rumput yang basah, "Waktu itu aku sedang pergi ke Busan, mengunjungi ibuku"

"Ibumu tinggal di Busan? Kau berlum pernah cerita sebelumnya"

"Ya, dia sedang sakit disana" jawab Kyuhyun sendu.

Hening sejenak. Kyuhyun kembali membuka suaranya, "Siwon, bolehkah aku meminta satu hal padamu?" tanya Kyuhyun hati-hati.

Siwon menoleh, "Apa?". Kyuhyun menarik nafasnya dalam, jantungnya berdegup kencang, "Bolehkah aku tetap mencintaimu?"

Siwon terdiam beberapa saat, lalu senyuman yang diiringi sebuah lengkungan manis dipipinya pun muncul, "Kenapa tidak?" begitulah jawabnya.

Hati Kyuhyun girang tak kepalang, tubuhnya bergerak menubruk dada bidang Siwon, memeluknya.

"Terimakasih Siwon. Kau memang sahabat terbaikku, aku mencintaimu.." Siwon pun ikut tersenyum mendapat pelukan dari sahabat terdekatnya ini. Ia ikut membalas pelukannya.

"Siwon-ah!" terdengar suara seseorang berteriak dari kejauhan. Tifanny.

Waktumu dimulai Cho Kyuhyun.

.

.

~WonKyu~

.

.

Malam panjang ini Kyuhyun lewati dengan begitu mudah. Ringan hatinya begitu masalahnya dengan Siwon terselesaikan, kini ia sedang mencoba beradaptasi dengan kehadiran Tifanny di 'dunianya' dengan Siwon. Tidak masalah, ia hanya butuh lebih banyak waktu lagi untuk mencoba.

Dengan hati riang Kyuhyun meraih ponselnya, mendial nomor ponsel ibunya untuk memberi kabar baik itu. "Halo umma?" sapa Kyuhyun begitu teleponnya diangkat. Terdengar suara batuk dari seberang sana.

"Loh? Umma, gwenchana?" kata Kyuhyun panik.

'Umma tidak apa-apa Kyu. Ada apa malam-malam menelepon?'

"Umma, nasehatmu kemarin sudah kulaksanakan. Dan ternyata berhasil! Hubunganku dengan orang yang kusuka sudah membaik, bahkan ia bilang aku masih tetap bisa mencintainya sepuasku. Aku senang sekali, terimakasih umma"

'Baguslah kalau begitu. Jangan lupa bawa ia ke Busan minimal sekali saja, umma ingin melihatnya yang telah membuat putraku ini jatuh cinta sebelum pergi'

Kalimat terakhir dari percakapannya dengan sang ibu malam itu tak begitu Kyuhyun hiraukan, ia menutup sambungan teleponnya dengan senyum lebar.

.

.

~WonKyu~

.

.

"Jadi, bagaimana dengan klub dramamu itu?"

Siang ini Kyuhyun, Siwon, serta Tifanny sedang menyantap makan siang mereka di cafetaria kampus. Kebetulan Kyuhyun datang bersama Tifanny seusai kelas mereka tadi untuk menemui Siwon yang telah menunggu mereka disini. Kyuhyun terlihat dapat mengontrol emosinya, dan ia bisa bersikap dengan baik dan wajar pada Tifanny.

"Begitulah, Kyuhyun-ssi. Rencananya akhir tahun ini kami akan membuat sebuah pertunjukan musikal"

"Oooh"

Kyuhyun mengangguk. Dengan adanya Tifanny disini sebenarnya tidak buruk juga, hanya saja hatinya sesekali merasakan panas ketika Siwon dan Tifanny bertingkah mesra.

Kyuhyun terlihat lebih pendiam hari ini, biasanya pemuda itu selalu cerewet, namun sekarang dia hanya sedikit berbicara. Siwon yang menyadarinya pun merasa sedikit khawatir.

"Kyu, kau tidak sedang sakit kan? Kuperhatikan kau diam sekali hari ini" tanya Siwon. Kyuhyun menggeleng, "Tidak, aku sehat-sehat saja kok" jawabnya.

Kyuhyun pun kembali menyantap makanan yang dipesannya. Namun tiba-tiba ponselnya berdering.

'Wang Ahjumma calling'

"Ah maaf, aku harus mengangkat teleponku dulu sebentar" Kyuhyun berjalan menjauhi meja yang ditempatinya bersama Siwon dan Tifanny. Ia mencari tempat yang sedikit sepi untuk mengangkat teleponnya.

"Ne Ahjumma, ini aku, ada apa menelepon?"

"..."

"MWO?! Jinjja?! Ah-ahjumma serius?"

"..."

"Ba-baik. A-aku akan segera pulang"

Klik

Kyuhyun memutuskan sambungan teleponnya. Tergesa-gesa ia kembali ke mejanya, mengambil tas selempang yang ia letakkan diatas kursi. Pergerakannya sangat kacau membuat Siwon heran.

"Kyu? Kau mau kemana?" tanya Siwon begitu melihat Kyuhyun begitu terburu-buru untuk pergi.

"A-aku mau ke Busan" jawab Kyuhyun sambil menyandang tasnya.

"Naik apa?"

"Bus"

"Biar aku antar" Siwon segera menyusul langkah cepat Kyuhyun, ia berbalik sebentar dan berteriak tanpa rasa bersalah kearah Tifanny.

"Aku harus mengantar Kyuhyun. Nanti kau pulang sendiri, maaf!"

.

.

~WonKyu~

.

.

Siwon memacu laju motornya dengan kecepatan penuh. Mereka sedang dalam perjalanan menuju Busan, sebetulnya Siwon tidak tahu apa yang terjadi, namun melihat Kyuhyun yang panik membuatnya juga ikut panik.

"Won, lebih cepat!"

Suara Kyuhyun beradu dengan angin, sayup-sayup Siwon mendengarnya. Dengan mengerahkan seluruh konsentrasinya Siwon menambah kecepatan laju motornya.

Siiiiiiingg

Suara bising mesin motor sport yang dikendarai Siwon itu membelah lengangnya jalanan Busan. Kyuhyun berteriak di telinga Siwon, "Kita pergi ke Rumah Sakit Daerah Busan!"

Setelah berjam-jam perjalanan yang menegangkan, akhirnya motor itu berhasil berhenti tepat di pelataran Rumah Sakit Busan. Tanpa ba-bi-bu lagi Kyuhyun segera melepas helmnya dan berlari kedalam mencari ruangan yang ditujunya.

'Bougenvil 009-A'

Ini dia.

Dengan gemetaran Kyuhyun masuk kedalam ruangan itu disertai dengan Siwon dibelakangnya. Didalam ia melihat sang bibi beserta seseorang yang terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit, ibunya.

"Ahjumma.." wanita paruh baya yang mirip sekali dengan ibunya itu menoleh, Kyuhyun berjalan mendekatinya.

"Kyu, akhirnya kau datang" bibinya itu datang memeluk Kyuhyun, matanya sembab, sepertinya ia menangis tadi. "Ibumu belum juga tersadar sejak dilarikan ke rumah sakit tadi pagi. Dokter bilang keadaanya sudah kritis" mata wanita itu kembali basah, Kyuhyun jadi ingin ikut menangis.

"Ahjumma, bisakah kau tunggu aku diluar? aku ingin berada di dekat umma sekarang" Bibi Wang pun mengangguk dan pergi meninggalkan Kyuhyun diruangan itu. Merasa takut mengganggu, Siwon pun akan ikut pergi keluar namun tangan Kyuhyun menahannya.

"Tidak, jangan pergi. Temani aku disini" pintanya. Siwon mengangguk mengiyakan.

Kyuhyun beranjak menuju kursi tepat disamping ranjang yang tadi ditempati bibinya, ia terduduk lunglai sambil meraih tangan ibunya yang tertancapi jarum infus.

"Umma, kenapa bisa sampai seperti ini? Baru tadi malam kita saling bercakap-cakap di telepon dan sekarang aku melihatmu tak berdaya disini" setetes air mata Kyuhyun jatuh di punggung tangannya. "Umma bangun dan lihatlah, aku datang membawa orang yang kuceritakan padamu.." selesai mengatakan itu air mata Kyuhyun turun semakin deras. Siwon hanya bisa terdiam melihatnya.

Tak disangka jemari yang digenggam Kyuhyun bergerak meresponnya, secara perlahan mata yang dihiasi dua lingkaran hitam itu terbuka menampilkan sepasang bola mata yang redup.

"Kyu.. Kyu—hyunku.."

Telinga Kyuhyun yang mendadak sangat tajam itu menangkap suara parau milik ibunya, sedikit terkaget melihat ibunya kini tersadar.

"Ummaaa.." Kyuhyun langsung memeluk ibunya, ia terisak sedih, tubuh ibunya terasa sangat kurus. "Aku datang, dengan orang yang kuceritakan padamu.." Kyuhyun bergeser sedikit, mempersilahkan ibunya untuk melihat siapa yang datang bersamanya. Siwon sendiri hanya terdiam harus bersikap seperti apa.

"Saya Choi Siwon, senang bertemu dengan anda, Ahjumma. Saya mengharapkan kesembuhan anda segera" sapa Siwon seraya menunduk sopan. Dengan susah payah ibu Kyuhyun mengangguk kecil membalasnya.

"Jadi Kyu," ibu Kyuhyun memiringkan sedikit kepalanya menghadap Kyuhyun, "Orang yang kau maksud itu pemuda ini?"

Kyuhyun menunduk dalam dihadapan ibunya, "Maafkan aku tidak berterus terang sebelumnya, Umma.."

Ibunya tersenyum dan menggeleng kecil, "Umma tidak merasa keberatan, umma lebih bersyukur jika kau menambatkan hatimu pada seorang pria dibandingkan seorang wanita". Jemari ibu Kyuhyun melambai mengisyaratkan agar Siwon berdiri mendekat kearahnya, "Kyu, umma tahu kau sangat rapuh sehingga kau membutuhkan seseorang untuk selalu menjagamu, seorang wanita akan mustahil untuk melakukan hal itu," Nyonya Cho menarik nafasnya melalui selang oksigen yang terpasang di hidungnya, "maka jika kau memiliki pendamping seorang pria, setidaknya ada yang akan melindungimu dan yang akan menjadikan dirinya sebagai sandaranmu.."

Berhenti sejenak, nafas ibu Kyuhyun mulai memburu. Tangannya yang ditancapi infus meraih tangan Siwon dan Kyuhyun, kemudian ia meletakkan tangan Kyuhyun dalam genggaman Siwon, "Nak, walaupun kau dan anakku tidak memiliki suatu hubungan khusus, aku ingin memintamu untuk menjaga permataku satu-satunya yang rapuh ini, jebal, Ahjumma memohon padamu. Ia tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini kecuali kau yang sangat diharapkannya, tolong bantu aku untuk menjaganya," suaranya semakin melemah. "Aku akan menemui Tuhan nanti, akan kuceritakan semua kebaikanmu padaNya walaupun sebenarnya Dia-lah yang Maha Tahu, semoga Tuhan memberkahimu Siwon"

Dan mata itu membelalak, mulutnya melontarkan teriakan tertahan.

Hening dan terpejam. Ibu Kyuhyun telah pergi.

"UMMAAAAAAAAAA!"

.

.

~WonKyu~

.

.

Ada dua waktu dimana Kyuhyun pernah menangis hebat dihadapan Siwon. Pertama, saat Siwon memberitakan berita bahwa ia sudah memiliki kekasih; Kedua, saat Siwon mendampingi Kyuhyun disaat-saat terakhir kebersamaannya dengan sang ibu. Tangis sedih itu tak akan pernah dilupakannya.

.

.

.

TO BE CONTINUED


A/N: Haloooo~ akhirnya saya kembali menemui kalian dengan membawa kisah lanjuta dari ff abal ini -_- Hohoho. Tolong jangan anggap otak saya agak miring ya, saya bikin Kyuhyun jadi anak pantai padahal kulitnya seputih salju XD hehehe, saya bikin Kyuhyun jadi orang Busan bukan tanpa alasan, ada sesuatu yang saya rencanakan dari itu :))

Okelah, saya tidak akan bicara banyak-banyak. Semoga kalian tidak kecewa teman-teman T_T terimakasih sudah mau membaca, kita berjumpa lagi di chapter berikutnya ^^ jangan lupa review yaa (/*A*)/

See you next time,

The Bloody Phoenix