Disclaimer: Tsukiuta © Tsukino Talent Production
Written for self satisfaction. Nonprofit purpose.
a/n: terima kasih sudah meninggalkan jejak di ff ini ;)
XoXo-XoXo-XoXo
Smoky Heart by Kiriya Arecia
XoXo-XoXo-XoXo
III
"Kau tidak menolakku kali ini," tangan Hajime menangkup wajah sang seraph. Sebuah seringai terlihat. Mereka berada pada jarak terdekat.
Merusaknya, dan membuatnya jatuh perlahan.
Jatuh dan memiliki warna yang sama.
Melihatnya didominasi warna hitam.
Seraph itu menatapnya setelah ciuman itu berakhir. Ia memalingkan muka, menutup separuh wajah ketika menyadari dirinya terbawa suasana. Ia segera mundur beberapa langkah.
Walau ia ingat dengan baik, demon adalah ras yang penuh tipu muslihat. Sosok yang mampu menjebak dan membuai dalam genggamannya. Shun mulai berpikir, tidak apa-apa seperti ini.
"Karena aku telah jatuh hati pada Hajime."
Ia telah berkata dengan pasti, ia menyukai Hajime. Ia menyukai iblis.
Shun tahu apa yang akan terjadi jika jatuh dalam pelukan iblis, ia bisa saja akan menjadi malaikat jatuh atau mendapat hukuman jika salah langkah. Tapi selama ia masih berstatus malaikat, ada banyak hal yang harus dan bisa ia lakukan.
"Aku ingin Hajime mengetahui hal selain kegelapan."
[Smoky Heart]
Ibu kota; Caelum City, selalu menjadi tempat paling ramai dan dituju banyak orang. Tempat penuh pemandangan klasik yang indah karena arsitekturnya didesain secara menakjubkan. Tempat tinggal para manusia kaya, kebanyakan adalah pejabat—bangsawan (yang seharusnya) bertanggung jawab untuk memberikan kesejahteraan pada rakyat. Jauh menuju ke dalam ibu kota, akan terlihat istana. Tempat yang dihuni oleh raja, pemimpin sebuah wilayah yang ditinggali manusia. Terkenal sebagai wilayah subur dan kaya akan hasil alam hingga mendapat sebutan tanah yang diberkahi, begitu kata kebanyakan orang.
"Ini memang wilayah yang diberkahi, kebanyakan penduduknya hidup dengan kebaikan. Mereka pekerja keras, dan ramah terhadap orang asing. Lihat, aku diberi sepotong roti. Apa kau ingin mencobanya?!" gadis itu menoleh pada pemuda di sampingnya. Mereka baru saja melewati jembatan besar Cerasus, jalan penghubung kota Ver dan ibu kota, Caelum.
Tatapan sang pemuda tertuju pada makanan manusia yang dipegangnya, ia mengabaikannya.
"Ehh~ ini enak lho." Gadis itu berucap setelah mencicipinya, "Dibuat penuh semangat dan cinta."
"Aku tidak tahu ada bahan makanan seperti itu."
"Itu maksudnya dibuat dengan perasaan dari hati, makanya memberikan rasa enak."
"Di hatiku hanya ada kegelapan."
Gadis itu melirik pemuda disampingnya, nada suaranya berubah lebih serius, "Aku yakin Hajime baru pertama kali berada di dunia manusia seperti ini. Hajime belum melihat dunia secara luas."
Hajime tidak mengiyakan, namun Shun tahu yang ia ucapkan tepat. Dunia manusia hanya Hajime datangi untuk beristirahat, bukan jalan-jalan. Mudahnya, ia tidak tertarik.
Mereka, saat ini sedang berada di dunia manusia. Berbaur dengan keramaian, memakai wujud yang begitu sempurna untuk disebut sebagai manusia. Tentunya tidak ada yang mengira, mereka dari ras berbeda. Yaa—mungkin akan berbeda hasilnya jika mereka bertemu elf, fairy, atau high human—pemilik kekuatan khusus.
Hal merepotkan ini, pada awalnya Hajime enggan melakukannya. Berada di tempat yang dipenuhi berbagai aura dan makhluk lemah. Namun Shun mengatakan ia ingin menunjukkan hal sangat menarik padanya. Seraph itu tidak akan berhenti mengajaknya hingga ia setuju.
"Kau tahu, hati adalah tempat dimana banyak perasaan berada. Aku yakin, ada selain kegelapan di sana. Kau hanya belum membuka hatimu." Shun menunjuk arah dada sang demon.
"Lagi pula, bukankah wujud yang kugunakan saat ini sangat mengagumkan?! Apa kau tidak merasakan apapun terhadap wujud ini? Aku yakin aku terlihat manis, fufufu~"
Tidak terlalu banyak perbedaan yang terlihat, hanya saja Shun memakai wujud manusia perempuan, surai keabu-abuannya tergerai sepunggung, sebagian teranyam pada kedua sisi kanan dan kiri. Penampilan Hajime sendiri tidak jauh berubah, hanya penampakkannya sebagai demon tersembunyi, telinga runcing, tanduk dan cakarnya menghilang.
"Biasa saja."
"Ketika seorang lady bertanya tentang penampilannya, kau harus memujinya!"
Hajime mendengus pelan, memutar bola matanya. Ia demon, tentu saja ia tahu hal itu. Ia meraih dagu Shun sekejap dengan tatapan yang serius. Berbisik dengan suara yang rendah.
"Kau cantik, harusnya kau sudah tahu hal itu."
Shun membeku beberapa saat, semburat merah menghiasi wajahnya secara otomatis. Hajime yang memakai wujud manusia benar-benar tampan!
Mereka menyusuri taman kota yang dipenuhi bunga-bunga bermekaran. Membuat Hajime menyipitkan mata terhadap pemandangan yang dilihatnya.
"Salah satu cara mudah untuk berbaur dengan manusia adalah menjadi manusia. Kau bisa bayangkan apa yang terjadi jika kita muncul sebagai seraph atau demon, seluruh kota akan dipenuhi kepanikan."
"Itu menarik, melihat mereka ketakutan."
"Manusia juga memiliki orang-orang yang kuat. Priest, magician, ksatria dan pahlawan. Kau akan menghadapi hal yang merepotkan jika melakukannya. Mereka bahkan mampu mengalahkan raja iblis. Tentu saja, yang aku maksudkan adalah pahlawan sejati."
"Hm." Hajime tidak menyukai hal merepotkan.
"Kau tahu kenapa aku memilih wujud seorang manusia perempuan?" Shun berjalan di depannya, mengatakan banyak hal, Hajime hanya mendengarkan tanpa ikut bicara.
Shun menyentuh bebungaan yang mekar, "Karena perempuan adalah manusia yang kuat, indah dan istimewa. Terutama ketika menjadi ibu, mereka mengasihi dan mencintai sepenuh hati tanpa mengharap balasan. Manusia sungguh menarik, kan?"
XoXo-XoXo-XoXo
Bruk!
Seorang laki-laki di keramaian menabrak Hajime.
"Hei! Kalau berjalan itu hati-hati—khh"
Ucapan pemuda itu terhenti, kerah bajunya ditarik, membuatnya terkejut. Tatapan tajam mengarah padanya dari Hajime. Kakinya nyaris tidak lagi menapak tanah karena kekuatan Hajime.
"Hajime." Shun menahan tangan sang demon, sebuah gelengan tertangkap netra sang demon.
Tanpa kata-kata, dengan mudah Hajime menghempas pemuda itu hingga jatuh terjungkal, menciptakan perhatian dari orang-orang beberapa saat. Pemuda itu segera melarikan diri dengan wajah ketakutan.
(Itu adalah tindakan yang kasar! Shun memberitahunya.)
Ada momen ketika Shun membantu seorang nenek berjualan buah-buahan—dan Hajime turut terlibat membantunya.
(Meski yang ia lakukan hanya berdiri saja, namun banyak perempuan yang datang untuk membeli buah karenanya.)
(Shun mengacungkan ibu jari ke arahnya; Good Job!)
Hajime melihat semuanya dengan jelas, seorang bapak tua yang membawa kayu bakar jatuh tersungkur karena menghindari kereta kuda milik bangsawan. Sang bangsawan hanya menengok sekilas tanpa peduli. Ketika si surai abu-abu sedang membantu lelaki paruh baya, Hajime menjetikkan jarinya. Membuat salah satu roda kereta bangsawan terlepas. Menciptakan kehebohan di tengah kota. Shun segera menoleh padanya dengan mata menyipit, Hajime hanya memasang poker face.
(Hajime.)
(Apa?)
Anak kecil yang menangis karena terpisah dari ibunya, mendapat pertolongan dari Shun. Keduanya bergandengan tangan untuk mencari sang ibu. Namun anak kecil itu juga menggenggam telunjuk Hajime secara sepihak, menatapnya dengan mata berair. Tangan anak itu terasa begitu kecil dan rapuh.
Manusia, bukankah mereka sangat lemah sekali?
Apanya yang menarik dari mereka?
Jika ingin, Hajime bahkan bisa membantai semua orang di kota ini dalam sekejap sekalipun itu adalah hal merepotkan.
(Shun tersenyum padanya; Fufufu, kita terlihat seperti sebuah keluarga manusia.)
Hanya perlu waktu sebentar bagi seraph untuk dapat menemukan ibunya, memberikan lambaian tangan sebagai perpisahan kepada kedua sosok manusia itu.
Setelahnya Shun memberikan beberapa buah pir yang didapatnya dari nenek penjual pada anak-anak penyanyi lagu di pinggir jalan.
"Kenapa kau tidak membunuh mereka saja? Dengan begitu mereka tidak akan menderita lagi."
"Kenapa? Karena mereka masih berjuang untuk hidup."
Mereka menyaksikan minstrels menari sembari menyanyikan lagu diantara keramaian warga kota. Seraph itu terlihat sibuk, hingga ia berada di sudut gang kota, dijegal oleh beberapa lelaki. Shun terlihat tenang meskipun yang ia hadapi adalah ancaman. Shun berbicara seakan mengucapkan kata-kata bijak layaknya pendeta, Hajime hanya melipat tangan sambil bersandar dibalik tembok ketika para pemuda itu justru menangis karena perkataan Shun yang penuh pencerahan.
(Shun menatapnya dalam; heeii, Hajime, harusnya kau menolong gadis manis yang sedang kesusahan. Aku tadi terjebak dalam situasi menakutkan!)
(Kesusahan apanya.)
Hajime semakin tidak mengerti pada hal yang Shun tunjukkan padanya. "Untuk apa melakukan hal merepotkan seperti itu?"
"Ini tugas kami. Lagi pula berbuat kebajikan memberikanku kepuasan tersendiri. Katakan saja, aku ingin melakukan hal-hal baik sebanyaknya sebelum menjadi malaikat jatuh…?"
Shun seolah-olah mengatakannya tanpa beban.
[Smoky Heart]
Malaikat jatuh, adalah sebutan untuk seraph yang melakukan dosa besar, melakukan kesalahan secara sengaja. Membuat mereka tidak dapat kembali ke dunia atas, kehilangan sayap-sayap putih bersih yang akan bertransformasi menjadi gelap dan hitam pekat. Jatuh ke dunia bawah, dan tidak bisa kembali lagi. Mereka kehilangan cahaya dan kekuatannya. Posisi mereka di dunia atas terhapuskan dan segera digantikan oleh malaikat lain atau baru.
Tidak banyak malaikat jatuh yang beruntung, hingga mampu bertahan hidup.
"Ohh~ ini pemandangan yang tidak aku duga." Ucap Haru, ia melayang di angkasa, menujukan irisnya pada sebatang pohon di atas tebing. Ia melihat sosok seraph tertidur, bersandar pada bahu Hajime yang juga menutup mata.
"Mengejutkan sekali. Itu mangsa yang sangat besar."
Ia segera menghilang sebelum kehadirannya disadari oleh Hajime.
XoXo-XoXo-XoXo
"….dan aku mendapatkan roti secara cuma-cuma!"
Rui mengangguk-angguk, ia menopang dagu dengan kedua tangan bertumpu di lutut, "Penjual roti itu manusia yang baik."
"Mendengar hal itu, aku penasaran ingin mencoba yang namanya roti." Yoru membayangkan.
"Begitu ya~ kalau aku pikir, jika Yoru terlahir sebagai manusia, pasti cocok untuk bekerja di toko roti."
"Eh, kenapa?" dahi Yoru berkerut.
Shun mengerjapkan mata beberapa kali, "Karena Yoru memiliki hati yang lembut dan hangat, roti yang aku makan memiliki aura seperti itu. Yoru pasti dapat membuatnya."
Yoru menangkup wajahnya, "Entah kenapa, tapi aku merasa malu mendengarnya."
"Shun-san!"
"Iku, ada apa?" Shun mendengar namanya disebut oleh seraph muda yang menghampiri mereka.
"Kai-san ingin bertemu denganmu." Iku melirik ke arah lain, "Ada… hal yang ingin dibicarakan."
"Apa kau tahu yang ingin dia bicarakan denganku?"
Iku menggeleng, "Tidak, tapi wajah Kai-san terlihat sangat serius."
Sejenak hening menemani mereka, Shun mengangguk, "Baiklah, aku akan menemuinya."
Ah, mungkin Shun sudah melewati batasannya sebagai malaikat?
"Shun—" ujung jubahnya ditahan oleh Rui.
"Tidak apa-apa, Rui." Shun mendaratkan telapak tangannya pada surai Rui lembut.
Rui melihat Shun pergi meninggalkan mereka tanpa kata-kata.
"Kau kenapa Rui?" Iku menyentuh bahunya, merasa aneh akan sikap Rui.
"Iku, apakah kegelapan benar-benar sesuatu yang sangat berbahaya?"
Dari para seraph di Heavenly Yard, Rui adalah malaikat yang memiliki kekuatan mirip dengan Shun. Ia mampu melihat warna aura seperti sang seraph abu-abu. Salah satu yang membuat mereka dekat, walau Shun terkadang melakukan hal aneh dan Rui turut terlibat dalam hal itu. Karenanya, aura di sekitar Shun, Rui dapat merasakannya.
Ada aura ungu kehitaman mengitari Shun.
"Ya, itu adalah hal berbahaya yang harusnya kita hindari, Rui."
Benarkah begitu?
Lalu kenapa Shun tidak menghindarinya?
Setiap kali kembali dari dunia manusia, aura hitam itu menyertainya. Tetapi Shun seakan tidak mempermasalahkannya.
Rui tidak mengerti.
XoXo-XoXo-XoXo
"Shun, akhir-akhir ini kau selalu menghilang terlalu lama." Ucapan Kai terdengar seperti teguran, "Meskipun kau mengerjakan tugasmu dengan baik, kuharap kau tidak berada di dunia manusia terlalu lama. Karena—"
"Karena…?"
Kai menghela napas, "Karena itu berbahaya. Kita memang ras yang mengagumkan, tapi kau bisa saja bertemu demon. Mereka adalah lawan yang tangguh untuk ras kita. Aku tidak ingin kaum kita semakin sedikit karena godaan dunia luar. Terutama karena demon."
Shun diam.
Ah, Kai. Kau terlambat. Harusnya kau mengatakan hal itu sejak awal.
Tapi, meskipun Kai mengatakannya sedari awal. Shun tahu, tidak ada yang akan berubah.
Mereka, seraphim memang dikagumi. Mempesona, kuat, dan memiliki julukan penduduk langit. Namun jumlah mereka tidak banyak. Dari gulungan yang ia baca di perpustakaan katedral, sebagian dari seraphim mendapat hukuman jika berbuat dosa besar, beberapa malaikat lainnya jatuh ke dunia bawah dan menjadi iblis. Keberadaan yang berbeda dengan pure demon menjadikan mereka incaran empuk para makhluk dunia bawah untuk menjadi lebih kuat.
"Apa itu saja yang ingin kau sampaikan? Kalau begitu aku akan mengajari Rui ilmu penyembuhan yang baru." Shun beranjak pergi. Meninggalkan Kai yang masih memiliki banyak pertanyaan di kepalanya. Jelas sesuatu telah terjadi, dan seraph yang lebih muda darinya itu menyimpan rahasia.
"Tunggu dulu Shun," Kai menjangkau lengan Shun, "Jangan bilang kalau kau telah terlibat hal yang berhubungan dengan iblis."
Mereka tidak terbiasa berbohong, Shun menunduk tanpa menoleh. Meski ia dapat menebak apa yang akan terjadi jika ia menjawab dengan jujur. Ia tetap mengatakannya.
"Aku memang bertemu dengan iblis."
Kai menarik tangan Shun agar berbalik menatapnya, ia memegang kedua bahu Shun. "Apa yang terjadi? Kau bertarung dengannya? Kenapa kau tidak memberi tahuku apa-apa?!"
"Demon, tidak semua dari mereka sama dengan deskripsi di buku."
"Ya—mereka bisa jauh lebih buruk dari yang kau duga."
"Bukankah itu juga berarti sebaliknya?"
"Apa maksudmu?"
Seraph itu tersenyum pada Kai, "Aku—jatuh hati pada demon."
XoXo-XoXo-XoXo
Tentu saja, kasus mengenai jatuh cinta pada ras berbeda telah menjadi hal lumrah, itupun berlaku pada mereka. Yang mana harusnya hal itu sebaiknya dihindari, atau menyerah saja. Nyaris tidak ada akhir indah untuk hal semacam itu. Namun bagian terburuknya adalah segala hal yang berhubungan dengan demon. Karena pada dasarnya mereka adalah makhluk kegelapan pembawa bencana. Bahkan hanya dengan keberadaan mereka.
Demon, salah satu eksistensi paling berbahaya. Membuat yang terlibat dengannya akan jatuh terpuruk.
"Aku tahu, kau akan menyuruhku berhenti dan menjauh. Tapi kau tidak akan bisa menghentikanku karena aku lebih kuat darimu."
Kai menarik diri, melepaskan pegangannya. "Itu benar, tapi aku tidak akan segan-segan menghadapimu jika itu membawa pengaruh buruk bagi kita semua. Walaupun itu artinya aku akan berakhir di tanganmu. Setidaknya itu dapat menjadi pelajaran bagi malaikat lain."
"Apa menurutmu hal seperti itu akan terjadi?"
Tatapan Kai yang serius ditujukan pada Shun. "Apa kau pernah menduga akan jatuh hati pada demon?"
"Ah—ya, tidak ada yang tahu apa akan terjadi di masa depan."
"Aku tidak ingin hal yang buruk terjadi di masa depan, karenanya aku berusaha mencegah segala kemungkinan itu."
Shun menangkup wajah Kai dengan lembut, "Aku akan membuat janji padamu. Aku tidak akan membuat kalian semua dalam bahaya karena diriku. Hatiku memang sudah jatuh padanya. Namun, jiwaku akan kupastikan terikat padamu. Kau bisa menghentikanku jika yang aku lakukan membahayakan kalian."
Sebuah ciuman berisi sumpah mendarat di kening Kai untuk beberapa lama.
Shun masih berada dihadapannya dengan jarak yang tipis.
"Tidak masalah bila seperti ini, kan?"
"Kau masih bisa kembali sekarang. Melupakannya. Ada aku di sini." Kai menatapnya penuh makna. Meraih lengannya.
"Sayangnya aku tidak bisa memilih jatuh cinta pada siapa."
"Tapi kau bisa memilih untuk memperjuangkan atau menyerah."
"Cinta adalah sesuatu yang indah, Kai. Aku ingin memberitahunya bahwa dunia ini dipenuhi keindahan. Selama ini yang ia miliki hanya dunia penuh kegelapan. Aku ingin menjadi cahaya untuknya."
Kai mendaratkan tangannya di kepala Shun.
Ia akan membuat duniamu penuh kegelapan, Shun.
XoXo-XoXo-XoXo
Ia memiliki kecemasan-kecemasannya sendiri. Tentang banyak hal, termasuk apa yang telah Kai ucapkan padanya. Ia membayangkan kehilangan warnanya, sayapnya menghitam dan bergabung dengan kegelapan. Akan seperti apa jadinya, masihkah ia dapat memandang dunia ini dengan cara yang sama? Karena semua warna yang berada dalam kegelapan menjadi tak terlihat.
Sesungguhnya ia ingin Hajime melihat dunia dari sudut pandangnya.
Memperlihatkan dunia yang penuh warna.
Naïf sekali.
"Haah~ sepertinya menjadi burung lebih menyenangkan." Shun menoleh pada burung kenari yang hinggap di jemarinya. Burung itu bergerak lincah, berkicau. Ia lalu terbang menuju satu ranting ke ranting ek. "Kau tidak perlu memikirkan hal yang merepotkan dan bisa bebas terbang kemana saja."
Sebuah aura yang tidak asing terasa, membuat Shun yang duduk di bawah pohon menoleh. Sebuah simbol pentagon bercahaya muncul di tanah dengan warna hitam keunguan.
"Hajime…?"
"Sayang sekali, aku bukan Hajime. Ia tidak akan datang kemari untuk waktu yang lama."
Sosok demon itu muncul secara sempurna, rambutnya pirang pendek bergelombang dengan iris emerald. Ia tersenyum pada Shun.
Kuku tajam terarah pada bibirnya sendiri dengan gerak elegan, mata emeraldnya berkilat.
"Aku sangat ingin bicara denganmu. Kau bisa memanggilku Haru, angel-san."
XoXo-XoXo-XoXo
[tbc]
XoXo-XoXo-XoXo
a/n: aku baru tau loh ya kalau Hajime [Kether] di Origin sifatnya sama dengan Shun, sedangkan Shun [Daath] Origin, sifatnya seperti Hajime. Jadi di Origin, sifat mereka jadi kebalikan dari aslinya mereka ;_; fix ini ff ooc. wwww. Inginnya cuman pengen nulis ff tsukiuta berkesan indah2 berbau baper. Tapi plotnya mulai lepas dari yang aku bayangkan, dan ff ini melenceng jauh. Jadi saat mengetik, aku rusuh sendiri; Kok jadi gini oiii—
Thanks berat buat Kapten Pelangi yang bantu ttg referensi tree of life dan cara nganu(?) di ao3, kudet akutu ;(
Happy birthday Aoi~ next chapter kamu akan muncul! Bersama Arata!
Kalteng, 05/05/2018
-Kirea-
