XoXo-XoXo-XoXo

Smoky Heart by Kiriya Arecia

XoXo-XoXo-XoXo

VII.

Pada awalnya para demon itu hanya bisa keluar di malam hari. Namun semakin lama, mereka kian kuat hingga mampu bertahan di siang hari. Kabut gelap yang keluar dari retakan barrier tentu salah satu penyebabnya. Shun memandang ke bawah.

Ratusan undead dan demon terlihat di sana. Mengerikan. Begitu mengerikan.

Tangan-tangan tanpa kulit berusaha menggapai tanah permukaan, kuku-kuku hitam panjang terlihat saling mencakar satu sama lain, suara yang terdengar seperti geraman tanpa makna memekakkan telinga.

Bagian mengejutkan adalah kerusakan barrier lebih besar dari yang Shun duga. Kenapa mereka, seraphim penjaga tidak menyadari hal itu? Memang benar ini adalah tempat yang jauh, namun harusnya ada seraph berjaga di wilayah ini dan melaporkan jika ada keanehan terjadi. Kecuali seraph itu tidak dapat melaporkannya.

Entah karena tertangkap atau mati.

Namun seraph harusnya jauh lebih unggul dari demon yang levelnya masih sangat jauh di bawah Hajime.

Sementara terjebak dalam pemikirannya, tanpa ia sadari sesuatu mendekat secara cepat. Beruntung di detik-detik terakhir Shun menyadarinya, ia segera melayang jauh. Ia terperangah, ada monster raksasa di dalam lubang kegelapan. Dan yang menyerangnya tadi adalah salah satu dari kepala monster itu. Monster raksasa yang memiliki sembilan kepala berbentuk ular naga. Berarti, monster ini penyebabnya.

Bagaimana caranya ia bisa memperbaiki barrier kalau seperti ini?

Ia terus menghindar ketika kepala ular-ular itu menyerangnya. Sebuah bola api hitam mengenai monster, Shun melirik sekilas ke arah sumber api. Hajime. Ia datang menyusul.

"Demon dan undead memang tidak sulit dikalahkan. Tapi tidak dengannya." Hajime berucap dengan tatapan tertuju pada makhluk itu. Sebagian tubuhnya masih berada di dunia bawah karena terkubur bebatuan besar, hanya kepalanya yang berada di luar retakan.

"Napas dan darahnya beracun. Aku terluka parah waktu itu karena melawannya."

Shun terhenyak, "Jadi luka di perutmu dulu—"

"Ya."

"Penyebab ia terjebak diantara batuan ini juga dirimu?"

"Hm."

Jadi semenjak awal Hajime sudah berusaha menahan kemunculan mereka ke dunia manusia? Bahkan saat itu ia dan Hajime belum saling mengenal dengan baik!

"Kenapa kau melawannya?"

"Karena ia mengganggu ketenangan."

"Hajime, mungkin kau tidak menyadarinya. Tapi aku yakin kau telah banyak melakukan kebaikan."

"Aku hanya melakukan apa yang kuinginkan."

"Meskipun kau terlihat tidak menyukai hal merepotkan."

"Hal merepotkan—aku akan melakukannya jika aku ingin."

Shun tersenyum getir. Jika saja Hajime bukan demon, andai ia memiliki kekuatan selain merusak—

Tatapan mereka tertuju pada monster itu. Ia menggeliat, berusaha membuat retakan semakin besar. Sementara mereka sekarang hanya mampu melihat dari kejauhan. Dari jarak sejauh ini, Shun tidak bisa menggunakan kekuatannya untuk memperbaiki tabir pembatas antar dunia. Sang monster raksasa pasti telah hidup sangat lama dalam kegelapan hingga menjadi sebesar ini. Jauh lebih lama dari Hajime.

"Apa ia bisa dikalahkan?"

"Kepalanya akan muncul kembali setiap kali dihancurkan. Bahkan menjadi lebih banyak."

"Regenerasi…" Gumam Shun sambil berpikir.

Jika benar begitu, mereka lebih baik fokus menghalangi agar kepala-kepala itu tidak keluar dari retakan selama beberapa waktu. Lalu memperbaiki pembatas dibanding mencoba membunuhnya, karena itu merupakan hal yang sia-sia. Namun Shun dan Hajime tidak mungkin bisa melakukannya hanya berdua saja.

Tepat ketika ia memikirkan berbagai cara, beberapa bola api raksasa berwarna kemerahan diiringi hembusan angin kencang melewati mereka berdua, mengarah pada monster raksasa. Shun segera menyadari siapa pelakunya.

Shun tersenyum lebar, "You! Iku!"

"Uwahh—aku tidak mengira masalah yang harus diatasi sebesar itu!" seru You dengan tatapan tidak percaya.

"Shun-san, kami tidak terlambat kan?" Iku memegang pedang besar miliknya.

Shun menggeleng, "Kai yang mengirim kalian?"

"Ya! Dia juga akan segera kemari! Kami dengar ada bahaya besar yang harus diatasi di tempat ini." pandangan Iku kemudian teralih pada Hajime, ia mengarahkan pedangnya pada iblis itu.

Shun segera terbang ke samping Hajime, mengangkat tangan kanannya ke samping. "Dia bukan musuh." Shun meliriknya sekilas, "Untuk saat ini."

"Tapi ia iblis!"

"Monster raksasa di bawah lebih meresahkan untuk saat ini dibanding Hajime. Aku tidak bisa memperbaiki barier karena pergerakannya. Meskipun Hajime tahu banyak mengenainya, kami tidak bisa mendekat karena napas dan darahnya beracun."

"Heh, aku bisa saja menghancurkan kepalanya, tapi ia beregenerasi dengan cepat." Ujar Hajime, terdengar angkuh di telinga para malaikat.

"Aku tahu Hajime memang sangat kuat!" Shun mengucapkan dengan nada penuh pemujaan.

Hajime?

Shun menyebut nama iblis itu.

You dan Iku berpandangan, tidak mengira Shun bersikap begitu santai pada sang iblis, terlebih lagi mendapati fakta iblis itu berada di pihak mereka.

"Apa yang terjadi di sini? Kenapa ia membantu kita? Kau yakin ia tidak bermaksud menjebak kita? Seperti tiba-tiba mendorong kita semua ke mulut ular naga itu?" Tanya You pada Shun. Ia jelas tidak bisa mempercayai iblis begitu saja.

"Itu menarik juga." Hajime menyahutnya dengan datar, smirk muncul di wajahnya.

"Hajime, mereka teman-temanku. Kuharap kau tidak melakukan hal itu."

"Tsk."

"Kalau kalian tidak bisa percaya padanya, percayalah padaku, ya?" Shun menatap malaikat sesamanya.

You dan Iku kembali saling menatap dalam diam. Bagaimanapun juga, Shun memang selalu melakukan hal aneh dan terkadang merepotkan. Tapi mereka tahu, Shun tentu tidak akan bertindak konyol di saat genting seperti ini. Di saat ada monster raksasa yang siap mencabik mereka kapan saja.

XoXo-XoXo-XoXo

"Waah~ ini pertama kalinya aku berada di dunia manusia!" Kakeru mengedarkan pandangan, satu tangannya berada di atas dahinya seakan ia sedang mengawasi tiap apa yang dilihatnya dengan pasti.

"Sangat menyilaukan!" Sahut Koi.

"Kita juga harus turut mempertunjukkan kemampuan kita." Haru melipat tangannya. Memperhatikan kemunculan seraphim dari kejauhan.

"Demi Hajime-sama?" Kakeru menoleh padanya.

"Tentu saja, untuk menunjukkan kekuasaan mutlak Hajime." Haru terkekeh.

"Kalau begitu ayo kita lakukan," Koi menggerakkan cakarnya dengan semangat. "Mari bersenang-senang!"

"Para demon itu harus menyadari dimana tempat mereka." Kakeru turut menatap langit, "Aku akan membunuh demon lebih banyak dari pada para angel itu."

"Ryouta dan Mamo-chan pasti kesal karena tidak bisa turut bermain di sini." Ucap Koi.

Mereka berkonsentrasi pada ratusan demon di bawah mereka. Kepada demon yang memilih membangkang dari kekuasaan Hajime dan mencoba lari ke dunia permukaan.

Satu demon berakhir di tangan Kakeru, "Tapi kenapa Hajime-sama bersama seraphim putih itu?"

Koi melempar tubuh demon ke sembarang arah, "Huh? Entahlah."

Haru tersenyum tipis, "Saa, mungkin ia ingin menjadinya sebagai salah satu dari kita? Malaikat itu memiliki sayap yang bagus. Akan lebih bagus jika warnanya hitam seperti milik kita."

[Smoky Heart]

Pertempuran itu tidak menjadi mudah meskipun mereka mengerahkan seluruh kekuatan mereka. Yang terjadi justru kepala ular raksasa itu bertambah, membuat semuanya semakin merepotkan.

"Yang perlu dilakukan hanya menahan kepala mereka agar tidak melewati retakan penghalang kan, Shun-san?" Tanya Iku sambil bersiaga dengan pedang besar miliknya.

"Ya. Semua kepala mereka, agar aku bisa menutup kerusakannya."

"Bahkan kedengarannya tidak mudah." Ucap You. "Tapi tidak ada pilihan lain, mari lakukan sebisa kita hingga bantuan datang."

"Sebaiknya, setelah ini kalian jangan mendekat padaku." Hajime berujar sebelum menjauh dari jangkauan para malaikat.

"Aku mengerti." Shun mengangguk.

"Hey—apa maksudnya kata-kata itu?" You merasa heran. Ia benar-benar berpikir kalau iblis itu bertingkah angkuh.

Beberapa saat setelah berkata seperti itu, aura kehitaman mengelilingi tubuh Hajime. Membentuk kabut besar memenuhi langit hingga ketika kabut ungu kehitaman perlahan menghilang, yang terlihat adalah jelmaan sosok naga besar berwarna hitam. Walaupun ukurannya masih tidak bisa dibandingkan dengan monster itu.

Shun menatapnya dengan pandangan berbinar, "Wah—hebatnya."

Tujuan mereka lebih merepotkan karena harus menahan pergerakan monster dan mengurangi dampak kerusakan yang diakibatkan.

"Uwooh, lihat, lihat! Hajime-sama bertransformasi!" Kakeru berdecak. Matanya dipenuhi binar kekaguman. Ia mengabaikan demon-demon yang dilawannya untuk beberapa saat.

"Aku belum pernah melihat Hajime-sama memakai wujud seperti itu!" pekik Koi, "Keren sekali!"

Haru pun turut terkesima, "Ya, menakjubkan sekali…"

Waktu dilalui dengan pertarungan antara monster dunia bawah dan seraphim yang dibantu oleh naga hitam. Hingga akhirnya bantuan yang diharapkan You datang. Kai diiringi oleh seraphim lainnya; Yoru, Rui, Kouki dan Kensuke.

"Maaf terlambat!" Kai berseru.

"Kai-san! Akhirnya kalian datang!"

"Kami akan membantu." Kouki bersiap dengan busur dan panahnya.

"Dengan sepenuh kekuatan!" seru Kensuke.

Mereka segera melakukan hal sesuai intruksi yang disampaikan oleh Shun. Meskipun kebingungan sempat melanda karena naga hitam yang tampaknya berada di pihak mereka. Sebelum pertarungan berlanjut, Shun memberikan mantra protection kepada mereka semua untuk menghindari bahaya racun monster secara langsung. Bahkan ia memberikan mantra perlindungan kepada sang naga hitam jelmaan iblis. Menambah pertanyaan besar di kepala seraphim lain.

Bola api merah dan hitam berhamburan mengarah ke dunia bawah, tepatnya kepada monster itu.

Diiringi serangan angin, es berbentuk jarum-jarum besar disertai ratusan panah-panah bercahaya yang berterbangan ke sana, mencoba menahan pergerakannya.

Shun segera melakukan tugasnya, memperbaiki barrier. Kedua telapak tangannya terjulur ke depan dari jarak yang tepat, mengeluarkan cahaya biru besar yang melingkupi lubang retakan. Rekan-rekannya sedang berusaha menahan monster, jadi ia juga harus bergegas menutup penghalang antar dunia dengan segera. Berbeda seperti saat mengobati atau memberi perlindungan, memperbaiki barrier dengan area kerusakan nyaris sebesar pulau memerlukan kekuatan cahaya yang sangat besar.

Tapi tentu saja, Shun pasti bisa melakukannya, karena itu adalah tugasnya.

XoXo-XoXo-XoXo

Shun nyaris selesai menutup barrier secara sempurna. Tanpa diduga, tiba-tiba patahan tanduk beracun seukuran tombak menancap tepat di dada kanan atas Shun. Ketika hanya celah kecil tersisa, monster itu memanfaatkan peluang untuk melontarkan serangan berupa patahan tanduknya. Menyadari bahwa itu adalah serangan terakhir yang bisa ia berikan karena gagal keluar dari dunia bawah.

Suara lengkingan sang monster terdengar nyaring, seakan bernada senang sebelum lenyap karena barrier antara dunia manusia dan dunia bawah tertutup sepenuhnya berkat Shun.

Kejadian itu begitu cepat, semua mata melihatnya dengan penuh keterkejutan. Shun terbatuk, ia berusaha menarik patahan tanduk dari tubuhnya. Menjatuhkannya ke bumi. Dan kemudian ia menyusul, jatuh menuju daratan.

"Shun!"

"Shun-san!"

Rasanya sangat sakit, menyebar secara tiba-tiba dan cepat, membuatnya tidak bisa bergerak. Ia jatuh dengan mata yang perlahan menutup karena menahan nyeri tak terkira.

Ah, ia sempat melihat Hajime yang kembali berwujud iblis menuju ke arahnya.

"Shun!"

Itu—sepertinya suara Hajime. Kapan iblis itu pernah memanggil namanya?

Apa ini yang pertama kali?

"Rui! Pastikan penutupan barrier itu telah sempurna! Jangan biarkan pekerjaan Shun sia-sia!"

Oh, yang itu suara Kai, selalu lantang seperti biasanya.

"Aku mengerti."

Suara yang terdengar kalem itu pasti suara Rui, untung saja ia sudah mengajarkan banyak mantra padanya, Rui pasti bisa mengerjakan tugasnya dengan baik.

Ah~ tugasnya sudah selesai.

Eh? Apakah ia menjadi malaikat jatuh sekarang? Shun pikir bukan seperti ini yang namanya malaikat jatuh. Ini namanya benar-benar terjatuh. Tetapi sayapnya tidak bisa digunakan.

Ia tidak bisa mengepakkannya sama sekali!

Bukannya menghitam—seperti halnya menjadi malaikat jatuh [iblis], sayapnya justru terlihat bercahaya, berhamburan menjadi helaian bulu-bulu kecil yang tersebar ke segala arah.

Shun kehilangan sayapnya.

XoXo-XoXo-XoXo

Naga hitam itu melihat ke arah Shun, ia segera menghampirinya dengan wujud iblis untuk menggapai tangannya yang seakan sedang menunggu diraih.

Hajime meraihnya, memeluknya agar tidak jatuh ke daratan. Mata malaikat itu terpejam. Kepalanya tersandar pada dadanya. Cahaya-cahaya kecil terlihat keluar dari tubuhnya dan menghilang. Seakan menandakan kalau itu adalah hal berbahaya.

Kai nyaris berniat melakukan hal yang sama, seandainya tidak melihat iblis itu lebih dahulu satu langkah di depannya.

"Yang lain, segera bantu Rui, jaga ia dari kemungkinan serangan lain! Sisanya, kalahkan demon yang ada. Shun biar aku yang urus!" Kai berseru kepada para seraphim lain sebelum menyusul arah yang Hajime tuju. Semua mengangguk dengan patuh meski penuh kekhawatiran.

Iblis itu membawa Shun mendarat ke bawah pohon tidak jauh dari tempat kejadian. Membaringkannya di sana. Ia mencoba memanggil malaikat itu, namun tidak mendapatkan balasan sama sekali. Seperti malaikat itu sedang tidur atau menuju kematian. Dada bagian atasnya berwarna kehitaman dengan aura ungu yang keluar secara perlahan akibat serangan monster itu, membuat Hajime menggemerutukkan giginya. Tangannya terkepal.

Haru yang sejak awal mengikuti pergerakan Hajime mendarat perlahan seraya melihat ekspresi iblis itu. Ia berucap dengan pasti, "Lukanya memang parah, tapi perlahan menutup. Namun aku tidak yakin tubuhnya memiliki kekuatan yang cukup untuk menyembuhkan diri. Dan cahaya kecil yang bermunculan itu pertanda keberadaan kekuatannya perlahan menghilang."

Lebih parah lagi, sayap yang merupakan kekuatan utama malaikat itu telah lenyap dari Shun. Jiwa malaikat itu akan menghilang secara perlahan. Haru merasa seperti ia masih memiliki sedikit simpati begitu melihat keadaan Shun.

Hajime masih menatap Shun, "Apa tidak ada yang bisa aku lakukan…?"

Haru menutup matanya beberapa saat.

"Tidak ada."

Karena demon hanya tercipta dengan kekuatan untuk merusak.

"Tapi seraphim lain mungkin bisa melakukan sesuatu untuknya." Haru menoleh pada Kai yang menyusul mereka.

Kai segera menghampiri Shun, memeriksa luka dan keadaannya. Seakan mengabaikan kehadiran dua iblis di sana.

"Ini lebih buruk dari yang aku duga…"

Haru menatap malaikat itu, "Dia kehilangan sayap—yang berarti bahwa ia juga perlahan kehilangan kekuatan malaikatnya. Jiwanya akan menghilang."

Perlahan tapi pasti, ia menuju ke pintu kematian.

Kai menggeleng, "Tidak. Itu tidak akan terjadi. Separuh jiwa dan kekuatannya ia titipkan padaku karena sebuah sumpah. Aku akan mengembalikan itu padanya."

Kai mempertemukan bibirnya dengan malaikat putih itu. Mengembalikan sebagian jiwa dan kekuatan yang pernah Shun berikan padanya. Kekuatan yang harusnya dipakai untuk menghentikan Shun melakukan hal berbahaya suatu saat nanti.

Hajime terhenyak, ia nyaris mengarahkan serangan pada Kai, namun Haru segera menahannya. Haru menggeleng. Pegangannya menguat pada bahu Hajime. Seakan mengatakan hal itulah yang bisa menyelamatkan Shun.

"Tsk."

Hajime mendecih tidak terima. Mengalihkan pandangannya dari momen itu.

Walau Haru tahu sebenarnya menyalurkan kekuatan memiliki banyak cara. Kai memilih cara sedemikian rupa pasti karena ia juga ingin menyampaikan cinta miliknya pada Shun.

Meskipun hal itu telah dilakukan, malaikat itu masih belum bangun. Rui dan Yoru juga segera datang membantu penyembuhan luka hingga menghilang sepenuhnya. Sementara seraphim lain masih mengurus demon yang berhasil berkeliaran.

"Bagaimana?" Tanya Kai penuh kecemasan.

Rui menggeleng, "Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Jiwanya masih ada. Ia masih hidup, tapi—racunnya menyebar terlalu cepat…"

Yoru menunduk, "Shun-san… mungkin tidak akan bisa dibangunkan lagi."

Hajime menatap tangannya. Ia tidak bisa menjaga apapun dengan tangan iblis itu.

Karena tangan iblis tercipta hanya untuk merusak.

XoXo-XoXo-XoXo

[tbc]

XoXo-XoXo-XoXo

a/n:

1] Referensi sosok monster yang kupakai adalah hydra dari mitologi yunani.

Ada yang bilang kalau demon x angel, ceritanya biasanya selalu tragedy berbau angst gitu, jadi ya aku bikin begini aja. Sebab angst memang indah—/plak

2] Akhir-akhir ini aku sibuk membaca web novel terjemahan china~ jadi beberapa ff menjadi terabaikan, termasuk ff ini. :')

3] Ajang IFA 2018 sudah dibuka lagi lho! :D Bagi yang belum tahu apa itu IFA, IFA adalah ajang penghargaan bagi karya dan author fanfiction Indonesia, di situs AO3 dan FFN. Info lebih lengkap bisa cek di Fanspage FB; Indonesian Fanfiction Awards. ;)

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di ff ini :D

Next last chapter~

-Kirea-

30/09/2018