Dulu memang semua bagaikan adegan dalam film lawas yang diputar berulang-ulang. Membuat darah berdesir, detak jantung meronta-ronta, peluh membanjir dan air mata menggenang—melumuri kulit seputih kapas yang sedingin es batu dalam kulkas. Tak terelakkan, tak kenal ampun, dan mengabaikan fakta bahwa saat itu seseorang tengah berteriak putus asa, memohon kepada sang waktu untuk berhenti berputar dan berderik.
"—yeol? Chanyeol?"
Guncangan-guncangan pada bahu mungil seorang anak kecil bersurai coklat makin lama makin kencang, membuat air mata yang menggenang turun mengikuti lekuk-lekuk pipi lalu melompat entah ke mana.
Di hadapan sang anak ada seorang pria paruh baya yang menatapnya dengan sinar mata penuh kekhawatiran (sinar yang membuat sang anak muak dan benci dan dendam—) membuatnya menepis tangan besar yang saat itu mencoba merengkuh tubuh mungil yang bergetar takut.
Saat itu dua pasang mata masih saling tatap.
"Chan—"
Seperti menantang keluar memori lama yang terperangkap.
/
.
'bzzzzzzzzztdasarbzzzztperempuanjalang!bzzzzzzzt'
—PLAK!
"—huue! Lepaskan aku ayah! Lepaskan! Lepaskan! Lepas—"
"Chanyeol kau kenapa..!"
"—kan—aku!"
'bzzzzztsudahbzzztkubilangbzzzttidakakanbzzzztkuserahkanpadamu!bzzzt'
'kaaaau—!'
'bzzzztmeskipunbzzzztnyawakubzzzzttaruhannyabzzzzttidakakanbzzzztkuberitahukanbzzzzztdimanatempatnyabzzzzt'
Seorang wanita meringkuk di pojok ruangan dengan tubuh bergetar, kedua matanya tampak berpendar, tapi tak ada sedikitpun rasa takut yang terpancar. Lebih seperti benci dan murka dan seperti sedang bersusah payah melindungi sesuatu—mempertaruhkan nyawa apapun konsekuensinya (apakah itu tubuh yang rusak ataupun pada akhirnya jiwa akan meninggalkan raga).
Di depan perempuan itu seorang laki-laki menjulang tinggi. Wajahnya geram dan bahunya naik turun—memperlihatkan bahwa deru napasnya mulai berantakan akibat pacuan emosi yang ada dalam diri. Di tangan kanannya ada satu botol penuh air yang sungguh mencurigakan.
Mereka itu...
Ayah dan ibu, bukan?
'bzzzzztKALIANbzzztSEMBUNYIKANDIMANA!bzzzzt'
PRAANG! PRAANG! Tangan kekar laki-laki itu mulai bergerak liar, menampar benda-benda keramik yang berdiri di atas meja kayu tak berplitur.
"—bu! Ayah telah membunuh ibu—!"
"... Ka.. Bagaimana kau—"
"AYAH PEMBUNUH!"
—pyaak—pyaaaak—
.
JREEEES
WOOOOOSH!
.
.
'AAAAAAAAAAAAH!'
Tubuh ibu terbakar setelah air dalam botol ditebar.
Bensinkah itu?
Dan bersamaan dengan dimulainya tarian api, sebuah seringai lebar pada bibir ayah terpatri, lalu gelak tawa layaknya orang gila membahana mendominasi—memantul pada dinding-dinding rumah yang bisu tak bergeming.
'bzzztsalahmubzzztsendiribzzztkarenabzzztsudahberanibzzztmenyembunyikannyabzzztdarikubzzzt'
Berjalan perlahan, lalu mengguncang-guncang tubuh berselimut api dengan kaki biadab berbalut sepatu bot hitam.
Ayah tersenyum lagi.
'ANIM—
'—US—'
"AKU—AKU—BENCI PADAMU!"
'MILIK KAMI'
TREEEEEK
—dong ding dong ding dong—
.
/
Hanya dengan satu kali tatap, satu kali pandang, maka kewarasannya akan melayang-layang dalam dimensi kegilaan.
.
Characters © God
Animus © sebaekai
Capitulum I
.
.
Suaranya tercekat di tenggorokan, matanya melotot ke depan, dan mulutnya bungkam tak ingin mengeluarkan cacian. Ia tak peduli lagi apakah baju lengan panjangnya robek dan berlubang, apakah celana panjang yang ia pakai kusut dan berdebu, dan apakah wajahnya terlihat kotor akibat taburan pasir yang menyelimuti kulit porselen, tak peduli dan persetan—apalah itu. Yang ada dalam retina hanyalah dua bayang manusia, sedang berdiri menatapnya lekat-lekat.
Damn, ia bahkan sampai lupa untuk menyembunyikan dua keping coklat pembawa malapetaka. Park Chanyeol tak ingin mengambil konsekuensi yang dapat membahayakan jiwanya, maka segeralah ia membuang muka dan menatap kaki yang beralas sandal jepit merah menyala.
"Jadi yang mana heh, Himchan?" pria berambut ungu mulai buka suara, mata onyx-nya yang tajam menatap kerumunan manusia yang merintih dan luka-luka. Sedangkan jari telunjuk mulai teracung, mengintimidasi Chanyeol yang sedang berdiri menatap ke arah lain. "Bocah itu, heh?" tanyanya kemudian.
Laki-laki bersurai blonde masih tersenyum, "Mhm. Jangan panggil bocah begitu, ah. Walaupun penampilannya serampangan, dia itu jauh lebih tua darimu, lho, Yongguk-ah~," katanya sambil menepuk-nepuk bahu pria yang ia panggil Yongguk di sampingnya. Ia abaikan fakta bahwa jawaban yang meluncur mulus dari mulutnya sama sekali tak berkaitan dengan pertanyaan.
Kontur ekspresi Yongguk berubah. Dua garis alis menyatu dan otot-ototnya mengeras, membenturkan gigi-gigi yang melekat pada rahang bawah dan atas. Lalu bazooka di tangan mulai terayun, mencium hidung milik laki-laki yang masih tersenyum dan tertawa kecil menggodanya.
"Diam, bedebah. Kali ini aku sedang tidak berminat untuk menanggapi lelucon-lelucon menjjikkanmu. Seriuslah," katanya dengan penekanan pada setiap kata, "atau—" Yongguk mulai menaruh jarinya pada pelatuk, Himchan menelan ludah dan terbatuk. "—kau mau aku menarik pelatuk bazooka dan lalu menembakmu sampai bermetamorfosis jadi abu?" ancamnya dengan balutan aura gelap di setiap inci tubuh. Membuat Himchan tertawa hambar dan mulai dibanjiri peluh.
"Ahem—baiklah. Yang kukatakan tadi kukira sudah cukup memberitahumu kalau jawabannya adalah 'ya', Gukkie," Himchan melipat kedua tangan di depan dada, kembali memasang senyum tak terbaca. Yongguk menelengkan kepala, memokuskan pandangan pada Park Chanyeol yang masih terpaku di tempat.
"Jadi, dia—"
"Ya, yang harus ditangkap dan bawa ke hadapan Master—"
"—hidup atau mati—kan?"
Detak jantung Chanyeol seperti berhenti sesaat, membuat aliran darah tersumbat; tak membagi kehangatan darah di setiap bagian tubuh dan urat. Tubuhnya sudah seperti seonggok daging tak bernyawa, tanpa jiwa, dan dingin merata. Bulir air yang menerobos keluar melalui pori-pori seakan menjadi pelengkap ekspresi mati kutu yang terlukis. Berbagai umpatan berkelebat dalam hati hanya untuk satu kesimpulan miring: apakah orang-orang itu akan mencabut nyawanya hingga tak bergeming?
Yang benar saja, ia bahkan belum sempat menikmati indahnya hidup tanpa dentang-dentang jam yang mengusik telinga dan merobek batas kewarasannya.
Bahkan seandainya kedua kaki terkutuk ini mau melepaskan kontak dengan tanah di bawahnya, ia pasti akan segera ambil langkah seribu dan menyelamatkan satu-satunya nyawa yang ia jaga (lari Chanyeol, lari! Selamatkan dirimu dari dua orang gila di depan sana!). Seandainya saja syaraf mau mengikuti kata hati, mencolek otak dan menggeret seluruh bagian tubuh, menghilang dari pandangan penuh intimidasi. Seandainya.
"Kalau begitu kita bunuh saja dia."
Satu kalimat penuh yang terlontar dari bibir si pria ungu semakin membuat nyali Chanyeol menciut, mematikan seluruh sistem gerak yang ada.
"Jangan bertindak gegabah, Gukkie. Ingat, kita ada di tempat umum," ujar Himchan kemudian mengedarkan pandangan, menatap orang-orang yang kesakitan atau pingsan, "dan taruhan berapa pasti sebentar lagi polisi datang menyerbu," tangannya menarik lengan Yongguk yang mulai mengarahkan bazooka kesayangannya ke tempat Chanyeol. "Ingat kata Master untuk tidak menghancurkan tubuhnya, kan?"
"Kalau tidak dengan begini lalu bagaimana lagi?"
"Kita tak harus menghancurkannya—"
"Tapi aku malas sekali kalau harus berurusan dengan tahanan yang meronta atau melakukan perlawanan—"
"—dengan ini juga bisa.."
Tangan Himchan bergerak ke atas kepalanya, menarik tali berwarna merah tua yang mengikat surai blonde, membiarkan rambutnya yang terikat ke atas tergerai mengikuti gaya gravitasi. Membuat kedua bola mata Chanyeol yang sedari tadi memperhatikan gerak tangan Himchan yang luwes membulat sempurna. Semuanya terjadi begitu saja ketika Himchan mengibaskan tali dengan satu hentakan. Awalnya hanya cahaya putih yang menyelimuti, namun ketika terang mulai samar, tak lagi tali yang berada dalam genggaman.
Saat itu, Chanyeol berani bersumpah bahwa yang dilihatnya adalah sebilah pedang.
(Sama persis dengan pedang yang ada dalam potongan film lawas penuh darah—)
"Bukankah cincang sama saja menghancurkan tubuh, heh, Himchan?"
Dada mulai bergemuruh, mulut hanya bisa buka-tutup. Sistem gerak makin terkunci, tak bisa melarikan diri. Apakah mungkin Park Chanyeol benar-benar akan mati?
"Bukan itu, Yongguk-ah, tentu saja tidak dicincang seperti daging ayam yang akan dijadikan opor," senyum lamat tersemat. "Cukup tusuk jantungnya—
"—jangan biarkan darah mengalir sampai tubuhnya dingin, tak bernyawa, mati digerogoti waktu."
Cukup sudah. Apakah tidak ada hal gila lagi selain ia dan pemutar film misterius di dalam raganya, hah?
Ada.
Digerogoti waktu.
Cih, lagi-lagi waktu. Tak adakah kata yang lebih memuakkan dari itu?
Sudahlah, Chanyeol. Tak ada waktu untuk bertanya—maupun menjawab—dalam hati, karena sekarang ia sedang meregang nyawa pada seutas tali (namanya permainan hidup dan mati).
"Ucapkan selamat tinggal pada dunia, Park Chanyeol—"
.
Dan dia akan berakhir sekarang juga—(salahmu karena tak mau berderik Park Chanyeol! Ini salahmu! Salahmu salahmu salahmu—memalukan, masa mati konyol?—).
.
"—hei."
.
.
CRAAAAAS!
.
.
[TRIIIING—]
.
.
(Sudahlah, nanti di surga sana—kalau tak tersesat ke neraka—juga akan disambut bidadari-bidadari cantik, kan?—atau iblis jahanam? Mungkin, mati tidak buruk juga— suara hatimu sungguh memuakkan, Chanyeol!)
.
[TRIIIING—TRIIIIIIIIIIIING— ada cahaya terang berwarna putih yang menempel di kelopak mata]
.
"Jangan sentuh dia."
(Jadi, sekarang ini di mana? Di sur—)
Park Chanyeol membuka kedua mata yang tadi tertutup rapat, menghilangkan semua perekat. Tak ada pedang yang menancap, napas masih bisa terhirup walau seperti orang gagap. Dan hei, Tuhan ternyata punya narasi sendiri untuk mengakhiri hidup Park Chanyeol. Boleh dikata, narasi yang dipegang oleh Himchan dan Yongguk dan Chanyeol itu salah—atau hanya belum dibaca sampai tamat?
Tak ada yang tahu.
Yang jelas, di depan mata sekarang berdiri seorang pria berambut hitam; surai-surai itu melayang ditiup angin. Woosh.. woosh.. beberapa helai mengenai wajah Chanyeol, membuatnya bergidik geli. Si rambut hitam tak peduli, ia tetap kokoh berdiri.
"Kau.."
Himchan terbelalak, menatap sosok tak diundang yang sudah menjulang tinggi, menutupi wajah mereka dengan bayangan yang mendominasi. Sorot matanya tak biasa, seperti menggali gundukan memori yang bersembunyi jauh di dalam sana.
TRAAAK!
Pedang terlempar ke samping. Himchan melompat ke belakang, menghindari jangkauan tongkat berwarna kuning yang digenggam si pria berambut hitam (yang sudah membuat pedang kesayangan terbirit ke sisi kanan). Chanyeol hanya bisa menatap semua kejadian dari balik punggung, tanpa sedikitpun merubah posisi berdiri dan terpaku.
"Hai, Himchan. Sudah lama sekali, ya, kita tidak bertemu."
Kedua mata pria berambut hitam itu hilang menjadi selengkung garis bersamaan dengan untaian nada-nada pilu mengiris hati sampai ngilu, menembus langsung mencari ulu. Himchan tetap bisu, ada sesuatu yang membuat organ tak bertulang miliknya jadi kaku, tak bisa berseru.
"Aku tidak yakin apakah kau masih mengenalku."
"Ta—" suaranya tercekat. Namun Himchan segera menyunggingkan senyum santai dibuat-buat. "Byun Baekhyun."
Suara kikikan terdengar, "Bingo!" Baekhyun mengumbar cengiran lebar.
"Kenapa kau bisa berada di sini?"
"Karena aku punya kepentingan—"
"Kepentingan? Apa—"
"—menjauhkan Park Chanyeol dari tangan kotor kalian."
.
SIIIIIING—
.
Dialog berhenti. Waktu juga seakan terhenti. Semua yang ada di sana seperti ditelan oleh kesunyian yang abadi. Hanya suara hembusan angin dan rintih orang kesakitan yang menjadi latar musik pemutar film yang tak berderik.
"Kau—jangan bilang kau—"
Baekhyun tersenyum kecil penuh arti, membuat siapa saja jadi panas hati.
Bazooka terayun, Yongguk menggeram dan jari telunjuknya mulai merayap ke tempat si pelatuk nakal. Kali ini targetnya adalah si pria mungil yang menantang.
Himchan menatap Baekhyun lekat-lekat, sinar matanya begitu redup dan ada kekecewaan yang terpancar di sana.
"Kau—kau—
"Pengkhianat."
Tap. Set.
"Himchan, merunduk."
"Ap—Yongguk hentikan! Kau bisa melukai banyak o—"
SRAAAAK—
.
BLAAAAAAAAAR!
"—rang—"
.
"!"
.
NGIIIIIIIIING
.
WOOOOOOSH!
.
["KYAAAAAAAAA!"]
Jeritan kembali membahana, kali ini lebih nyaring, membuat siapa saja berjengit ketika mendengar. Chanyeol melindungi wajahnya dengan lengan, mencegah serpihan-serpihan benda yang sudah remuk jadi kecil memasuki mata, meskipun ia tak yakin kalau setelah ini tubuhnya tak akan kaku terbakar. Baru saja pria gila berambut ungu menarik pelatuk dan moncong bazooka langsung memuntahkan bola api yang membakar udara.
"Khh.. Khh.."
Chanyeol meringis menahan sakit. Matanya menyipit dan bibirnya komat-kamit. Berdoakah ia? Baguslah, sebelum nyawa mencapai limit.
"Tampaknya temanmu agak tempramental, Himchannie. Melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang—"
Walaupun lagi-lagi Tuhan tertawa lantang sambil terus menarikan jari-jemari di atas kertas bernama takdir (HAHA- HAHAHA- HAA—).
Tongkat setinggi Baekhyun tak lagi berbentuk seperti gagang sapu yang sering Chanyeol gunakan untuk piket kelas. Kini bentuknya melebar, lebih menyerupai perisai besar yang sering dibawa ksatria berkuda. Oh oh, apakah benda berwarna kuning itu telah bertransformasi jadi tameng? Chanyeol hanya bisa membuka dan menutup kemudian membuka dan menutup lagi mulutnya, sedangkan keping coklat melebar dan enggan menutup kembali kelopaknya. Api-api itu tak membakar tubuhnya, tetapi terpecah belah menjadi udara-udara panas yang menggigit kulit.
Yongguk merah padam merasakan darah naik ke kepala. Bukan, ini bukanlah reaksi dari seorang remaja yang sedang jatuh hati, melainkan rasa benci dan panas hati. Dan semuanya salah Baekhyun yang sudah seenak jidat muncul disaat-saat terakhir, seperti pahlawan-pahlawan yang sering muncul di televisi. Salah Baekhyun yang sudah mengatainya tidak pernah berpikir panjang, meski sedikit suara hati mengiyakan kalau Yongguk orang nekat bukan kepalang. Dan salahkan Baekhyun yang sekarang melompat ke belakang, merangkul Chanyeol tepat di pinggang, dan lalu menggeretnya pergi dengan langkah tunggang-langgang.
"SIALAN KAU CEBOL—!"
Hampir saja pelatuk ditekan ke belakang, tapi untunglah Himchan segera melompat dan menahan perbuatan semena-mena rekan satu team-nya itu. Membuat Yongguk meronta, memukul, menggigit, dan yang terakhir adalah tendangan tepat sasaran; vital region terinvasi. Check.
Himchan guling-guling, Yongguk mengerling—terlambat. Baekhyun dan Chanyeol sudah tak di tempat melainkan terbang melarikan diri menggunakan benda berwarna merah—sepertinya pesawat mini—yang dikendarai Baekhyun dengan semangat.
"SIAAAALAN—!"
.
.
.
.
"Haah.. haaah!"
Chanyeol mencengkeram dadanya, berusaha menggapai-gapai udara dengan mulut. Ia terduduk dengan wajah seputih kapas dan penampilan berantakan (rambutnya mencuat tak beraturan, baju robek sana-sini, dan celana yang tadinya panjang hanya tinggal setengah saja).
Ia menelengkan kepala ketika sensasi dingin merambat melalui kulit di pipinya, membuat ia berjengit dan berteriak 'waaa'. Namun, tindakan ambil langkah seribu tak menyertai. Entah karena lelah atau menahan sakit tubuh setelah dilempar si pria berambut hitam dari dalam pesawat ke tanah lapang. Chanyeol justru mengambil botol berisi air dingin dari genggaman tangan Baekhyun, kemudian meneguknya dengan bernapsu. Glek, glek hanya dalam hitungan detik, air sudah kering; habis tak bersisa.
"Wow, sepertinya kau kena dehidrasi.." Baekhyun sudah duduk di sampingnya dan mulai berceloteh, Chanyeol menoleh.
"Hei,"
Kepala dimiringkan, dua pasang mata saling bertemu, tapi Chanyeol segera memutus kontak sebelum film dipacu.
Rasanya familiar.
Apanya.
Chanyeol secepat kilat menampar dirinya kembali ke realita.
Perhatiannya kini lebih terfokus pada hamparan rumput yang tumbuh di sekitarnya.
"Hn, apa? Mau mengucapkan terima kasih karena sudah menolong? Sudahlah, aku melakukannya dengan senang hati, kok—"
"Bukan!" suara yang terdengar sedikit tinggi lepas dari tenggorokan. Mungkin ini kali pertama Chanyeol kembali bisa berkata setelah kejadian-kejadian absurd barusan yang sudah dengan senang hati mematikan sistem gerak tubuhnya.
Baekhyun menatap wajah anak laki-laki bersurai coklat yang tampak samping. Salah satu alisnya naik ke atas, sedangkan bibir mulai bergerak-gerak, "Lalu apa?"
"Errrrh," Chanyeol menggeram, kemudian membuang botol kosong di tangan ke depan pandangan, "jangan pura-pura tidak tahu!" kini gigi-gigi dalam mulut mulai bergemelutuk. "Aku yakin kau pasti ada sangkut pautnya dengan hal gila ini, kan?"
"Hal gila—?"
"Kau tahu, kan? Baru saja aku meregang nyawa, nyaris mati. Di depanku ada dua orang gila. Yang satu laki-laki berambut blonde dengan senyum memuakkan, yang satunya pria sinting yang menenteng bazooka! Dan mereka—mereka hendak membunuhku, menusuk jantungku—kemudian membiarkan aku mati seiring dengan berjalannya waktu.
"Lalu—lalu kau datang dan—" rentetan kata-kata frustasi terhenti. Membuatnya bertanya-tanya sendiri: apa yang baru saja kukatakan? Chanyeol menutup wajah dengan kedua tangannya. "Sudahlah, aku pasti sedang bermimpi, hahaha. Yang perlu kulakukan sekarang hanya menunggu jam weker milikku berteriak dan membawa jiwaku kembali ke kehidupan nyata—"
"—mimpi, ya?" Baekhyun menatap langit, ia mengulum senyum, "Aku juga berharap ini semua hanya mimpi."
Sekarang hanya ada suara angin yang berhembus di tengah-tengah suasana membatu, Chanyeol sepertinya tak mau tahu. Ia bahkan masih bergumam 'hanya mimpi' berulang kali, sampai kata-katanya dipotong oleh rangkaian kata Baekhyun yang setajam belati—
"Bukankah ini semua," hembusan nafas, "—adalah bagian dari dosa besar yang telah kau lakukan, Park Chanyeol?"
"Ap—"
Tidak sengaja mereka saling bertatapan.
"Si—"
Kedua mata membulat sempurna. Di atas sana otak mulai bergelut dengan memori yang tersimpan rapi dalam almari.
.
.
/
bzzzzzztakuzzzztakanbzzzzttbzztmemberinyanamabzzzzt
.
.
bzzzzzztszzzzsanimus—bzzzt
.
.
Rasanya familiar.
'ANIM—
'—US—'
Tapi apa?
(("Hahahahahahaha—
hihihihihi—"
.
Siapa?
.
TREEEEEEEEEEK
"—hihi—"
"Sampai maut—
bzzzzzzztszzzbbztatat
"—mem—"
bzzztbzzztzzzt
"-misah—"
.
"k
a
n
—"
.
ding-
.
"Aku ingin melupakan semuanya."
-dong ding dong—))
.
"Kau tidak bisa mengingat semuanya?"
Tapi apa?
"Hei, Park Chanyeol?"
Dadanya sakit. Kepalanya pening.
"Aku—"
Terhenti dan gelap mendominasi. Chanyeol sudah jatuh terkulai di atas rumput tanah lapang.
.
.
.
.
.
next : capitulum ii
.
.
.
A/N: Haiiiiiii lama gak ketemuuuuuu. Masih ingat sama cerita ini? Nggak? Oh oke, bye /GAK. Terima kasih untuk yang sudah baca dan review. Yang sudah kasih saran juga. Maaf kalau ceritanya gak bisa dimengerti, apalagi bahasanya. Soalnya saya sendiri juga gak ngerti X'D *PLAK*. Canda. Lagi pengen bikin ff action, tapi berhubung saya alay kalau bikin deskripsi (terlalu panjang dan membosankan. OTL), saya mencoba sesuatu yang meminimalisir efek 'jenuh' tersebut. Entah ada yang nyadar atau gak, ada beberapa kalimat di ff ini yang berima. Fungsinya cuma buat garnis doang, sih, tapi malah gak jelas, ya? XD OTL.
Juga buat alur, hmmmmmmmm, mari kuak misterinya satu2, ya, gak usah buru2. Maaf kalau masih bikin bingung plot dan inti ceritanya serta "Siapa sih Chanyeol Chanyeol ini?".
Anyway, makasih, lho, yang udah review dan kasih saran. Luvyuuu
Kopi Luwak; chucum; junseo han; chenma; nekkidio; Nesha; 13ginger; ShinYeong; nissaa; enchris.727; Kim Jongmi; Changoat; you know who i am (actually i don't, who are you? 8) )
*) dan terima kasih untuk Anonymous Fangurl yang telah mengoreksi kesalahan saya di ff Twinkle. Luvyuu
'til next time, guys!
Thanks for reading~!
