Ting ting—
Suara piano berkumandang di dalam sebuah ruangan yang dilapisi warna hitam legam. Piano itu diletakkan di tengah, dengan seseorang berpakaian hitam-hitam memainkannya penuh gairah.
Requiem Mass in D minor.
Lagu yang terus dia mainkan berkali-kali sampai dihapal mati; cukup gerakkan jemari tanpa perlu berpikir lagi dan biarkan piano itu bernyanyi sendiri. Dia serahkan jiwa pada tarian jari-jemarinya, yang menekan-nekan tuts menjadi harmoni.
Krieeeeeet. Klak.
"Master."
Himchan berdiri di ambang pintu. Sorotan matanya seperti bunga layu.
Tap tap tap begitu suara langkah kaki yang sengaja ia sesuaikan dengan irama musik, berhenti tepat di belakang punggung yang tetap tak berderik.
Jari-jari lentik itu terus menari di atas tuts-tuts bisu, memaksanya menjerit-jerit sendu. Untaian nada-nadanya pilu mengiris hati sampai ngilu, menembus langsung mencari ulu, membuat siapa saja yang mendengar membisu tak ingin berseru.
"Lagu ini. Kau hanya memainkannya saat sedang depresi."
"Benar."
"Lagu ini juga hanya kau mainkan saat sedang kesepian."
"Benar."
"Lagu ini, lagu kesukaan—"
"Apa maumu."
Hembusan napas mengudara.
"Aku sudah bertemu dengan Park Chanyeol."
Tak ada balasan kata-kata, yang ada hanyalah suara tangisan sang piano; murka, penuh duka.
"Tapi aku gagal mendapatkannya karena –" ada jeda. "Karena—" suaranya tercekat, hatinya seperti disayat-sayat, "kau pasti tidak akan percaya, tapi dia nyata. Senyata kamu dan saya." Himchan melanjutkan, "Dia,
"Byun Baekhyun."
DREEENG. Jari tergelincir.
Ruangan menjadi sunyi. Hanya ada tik tak tik tak jam antik raksasa di pojok ruang.
.
Saat itu kedua jarum jam tepat menggantung pada angka 12.
...ding—
.
"Byun... Baekhyun..?"
.
—dong ding dong ding dong—
.
Characters © God
Animus © sebaekai
.
.
.
.
Dia selalu melihat mimpi yang sama setiap malam.
Mimpi yang membuatnya dibasahi peluh, mimpi yang membuat dadanya bergemuruh laksana guntur meskipun dia sedang tidur. Mimpi yang membuat suaranya tercekat, memaksa tangannya menggapai-gapai udara minta selamat. Terlalu nyata untuk jadi fana, buat dia ketakutan sekaligus penasaran. Setiap kali terbangun napasnya akan putus satu-satu, dan pemandangan kamarnya meliuk-liuk, sesaat dia tak tahu mana yang realita.
(begitu intens, begitu menyeramkan, mengaduk-aduk isi perutnya tak kenal ampun)
Dia selalu berada di tempat dan orang-orang yang sama. Tempat dengan tabung-tabung kaca mengerikan, cairan-cairan bau dan menjijikkan, serta mesin-mesin asing yang tidak ia ketahui namanya. Dan di sana juga ada empat orang berbaju putih dengan ciprat-ciprat merah.
Bau anyir menusuk-nusuk hidungnya. Darah.
Banyak darah. Tapi bukan darahnya. Itu potongan-potongan tubuh siapa?
((...darah siapa?))
Ada satu lakon di sana yang selalu membuatnya bertanya-tanya. Beda dengan yang lain, orang ini tidak memakai masker di wajahnya. Namun setiap kali ia menatap, wajah itu selalu diselimuti cahaya; putih terang yang membuat matanya sakit dan dadanya seperti dililit. Padahal detil-detil lain bisa ia lihat dengan jelas. Rambutnya yang berwarna hitam, jas berwarna putih yang berbalut darah, senyumnya yang lebar ketika ia sedang asyik berloncatan di genangan merah. Semuanya terlihat kecuali wajah.
Tetapi dia bisa lihat mulut bergerak-gerak, meneriakkan satu kalimat:
Sampai maut memisahkan kita—
DOBI!
.
.
((suara siapa...?))
.
.
.
PIP PIP PIP PIP—
—PIP—PI—
BRAAAK!
—IP—
"AAAAAAAH!"
Kedua kelopak mata itu terbuka lebar, manik coklat yang bersembunyi di dalamnya tampak mengedar. Napas berderu, mulut membuka dan menutup, dan badannya dipenuhi peluh. Park Chanyeol baru saja terbangun dari—
—tidurnya?
Chanyeol mengernyitkan dahinya; membuat dua alis miliknya saling bertautan. Lalu tangan kanan yang tadi ia pakai untuk melempar jam weker tak berdosa, ia gunakan untuk menggaruk kepala (sebuah reaksi yang sering orang tunjukkan sebagai timbal balik dari tindakan yang membuat otak kesulitan mencerna keadaan). Tunggu, jika diingat-ingat, bukankah dia seharusnya bersama laki-laki gila dengan tubuh pendek dan pesawat mini yang membawanya kabur? Dan—YA—bukankah Chanyeol nyaris mati di tangan orang-orang sinting yang bahkan belum pernah ia temui sebelumnya? Ayolah, bahkan ia masih ingat detik-detik bazooka terkutuk itu teracung ke depan wajahnya, ataupun pedang panjang yang nyaris menghunus dadanya! Dan sekarang ketika membuka mata,
ia berada di dalam kamar, di atas tempat tidur, dan dengan piyama bergambar monyet kesayangannya, dan dia masih bernapas; masih hidup, dan yang paling penting orang-orang tidak jelas itu—tidak ada.
tidak ada
tidak ada
tidak ada
Fuh.
Tiga kata: Dunianya sudah gila.
Oh, baiklah, mungkin ia benar-benar bersyukur kalau—KALAU—saja benar yang ia alami beberapa waktu lalu itu hanya mimpi.
Ya, ini seharusnya memang hanya mimpi, 'kan? Karena dunia Park Chanyeol itu harusnya realistis.
Dengan satu helaan napas dan gerakan menghapus peluh di dahi, anak laki-laki itu beranjak dari tempat tidurnya, lalu berjalan pelan menuju kamar mandi.
"Hmm," gumamnya setelah berada dalam ruangan berukuran 2x3 itu, "aneh. Padahal kukira semua itu—" terhenti, kemudian Chanyeol memukul kepalanya sendiri. "Apa-apaan aku ini! ? Sudah untung kejadian kemarin hanya mimpi belaka!" dengusnya, meraih sikat gigi di hadapannya, lalu mengoleskan pasta gigi ke bulu-bulu sikat itu.
Kedua matanya menatap cermin di depan. Hanya ada bayangan dirinya dan refleksi benda-benda yang ada di dalam kamar mandi. Semuanya masih sama. Tempat sampah, gantungan baju, cermin kecil di belakang punggung, handuk yang tergantung di dekat cermin, sikat kamar mandi, dan lainnya masih ada di tempat yang semestinya. Oh, satu lagi, anak kecil berambut merah dengan google bertengger di kepala; sedang berdiri di sampingnya. Benar-benar hari yang bia—
Eh?
—sa.
Chanyeol menghentikan kegiatannya menyikat deretan gigi putih. Keheningan mengudara. Chanyeol mendelik.
Ulangi lagi.
Tempat sampah, gantungan baju, cermin kecil di belakang punggung, handuk yang tergantung di dekat cermin, sikat kamar mandi, dan—anak kecil berambutmerah dengan google di kepala.
Anak. Kecil.
Tambahan, dia sedang menyeringai lebar sambil membentuk jari telunjuk dan tengah menjadi huruf 'V'.
Err—
Mau diulang lagi?
Park Chanyeol menelan ludah. Setahunya dia tinggal sendiri, tidak dengan siapapun, atau bahkan dengan bocah yang saat ini sedang tersenyum sumringah kepadanya—
Karena memang bocah itu tidak ada.
GLEK
Suara ludah tertelan terdengar. Setelah napas tercekat, dan detak jantung seperti terhenti, semua reaksi itu ia lepas bersamaan, sehingga yang ada sekarang hanyalah deru napas dan dentuman jantung yang tak beraturan.
"Hi—
—hi—
—hi—
—hi –
"—hi. Hi-hi-hi-hi. Hai, Chanyeol?"
Boo!
"A—AAAAAAARRRGH!" Chanyeol membalik badan; membelakangi cermin (PRAAANG!—cangkir untuk berkumur dan sikat gigi jatuh), "AAAARGH! Si—Si—" tubuh mulai bergerak menuju pintu keluar, meskipun kaki sudah bergetar hebat, sedangakan tangan meraba-raba dinding dan mata ia pejamkan dengan kepala diacuhkan dari obyek; menghindari kontak langsung dengan si bocah berambut merah(PRAAANG!—kali ini cermin yang jatuh).
"—ni, kau ini lucu sekali, ya, kalau sedang terkejut, Park Chanyeol~ ahahaha!"
Apanya yang lucu?
Chanyeol mengabaikan celoteh si bocah beserta derai tawanya yang membuat kepala Chanyeol berdenyut. Meneruskan kegiatannya, melangkahkan kaki ke luar ruangan dengan sikap seperti pencuri yang ketahuan oleh si empunya rumah. Langkah tunggang langgang dan teriakan yang terus keluar dari mulutnya menjadi latar musik histeria Park Chanyeol pagi itu. Untung saja apartment tempatnya tinggal kedap suara. Kalau tidak, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi padanya. Mungkin saja penghuni apartment yang lain akan melakukan aksi demonstrasi di depan ruangannya; menuntut Chanyeol untuk bertanggung jawab karena dengan nistanya telah merusak pagi mereka yang damai.
...atau sebaliknya?
Seharusnya ia berharap agar apartment-nya itu tidak kedap suara. Supaya tetangganya dapat mendengar dan kemudian membantu Chanyeol mengusir bocah sialan yang entah sejak kapan sudah berada di dalam apartment-nya.
Tunggu, seharusnya dia tidak mempermasalahkan apakah apartment-nya kedap suara atau tidak (buang waktu saja!). Yang lebih penting,
siapa bocah itu?
Pencuri? Stalker? Cleaning Service—ah, tidak. Apartment-nya tidak punya petugas kebersihan seperti itu. Lalu—apa?
.
.
... Hantu?
PLAAAK!—Chanyeol menampar pipinya sendiri dengan keras. Tidak. Tidak. Tidak. Park Chanyeol tidak percaya dengan adanya hantu. Hantu itu tidak ada; hantu itu hanya ilusi yang diciptakan oleh seorang penakut—dan dia bukan seorang penakut, camkan itu!
...ya, kan?
Kaki yang gemetar, mata yang membulat sempurna, dan wajah dengan peluh yang tumpah ruah. Apa? Ini bukan ekspresi ketakutan, kok. Chanyeol hanya—terkejut?
"Hai? Kulihat tadi kau melangkah ke kamar mandi, sudah selesai mandi?"
Sebuah reaksi yang terjadi akibat dari munculnya hal tiba-tiba dan tidak diduga sebelumnya, membuat anggota tubuh menjadi kaku; terkejut. Itulah yang Chanyeol alami setelah melarikan diri dari bocah aneh di kamar mandi sampai akhirnya ia berada dalam kamarnya sendiri—dan menemukan kamarnya telah berpenghuni.
Seorang laki-laki yang mungkin sudah sangat familiar (rambutnya berwarna hitam, senyumnya memuakkan, dan suaranya membuat urat bermunculan—) sedang duduk di atas tempat tidurnya dengan kedua tangan yang menggenggam bingkai foto. Seorang lagi anak kecil dengan rambut blonde. Dia hanya duduk diam di sofa, wajahnya tanpa ekspresi.
Dan Chanyeol tahu kalau foto yang dibalut oleh bingkai itu adalah gambar dirinya ketika berumur 6 tahun, kakaknya, dan juga ayah dan ibunya. Lancang sekali laki-laki itu, pikirnya masih dengan kondisi yang kacau balau.
Laki-laki itu menoleh. Chanyeol buang muka dengan napas tertahan.
"Apa? Kenapa diam saja di situ?"
Tidak adakah hal yang lebih buruk dari ini? Atau setidaknya (tolongtolongtolong) seseorang bangunkan Chanyeol dari mimpi ini.
"Jangan bertingkah seolah-olah kau baru pertama kali bertemu denganku, Park Chanyeol."
Laki-laki ini...
"Untuk ukuran orang sepertimu, tempat ini lumayan nyaman juga."
Ini bukan mimpi. Baiklah, ini sangat buruk, masih ada lagi?
CKLEK
(suara pintu kamar dibuka—)
Seseorang muncul dengan gerakan melompat dan wajah paling bahagia sedunia (cengiran lebar dan kedua mata merah yang berkilauan), mengangkat tangan kirinya ke atas lalu berseru "TADAAAA!" dengan suara cempreng yang membahana.
"Zelo?"
"Baekhyun! Ketemu! Perkakas minum teh-nya ketemu!"
.
Dunia Park Chanyeol sudah gila.
.
.
.
.
"Nama mereka Zelo dan Sehun."
Chanyeol sudah sedikit tenang, walaupun kepala masih diisi hal-hal sumbang. Mereka duduk memutari sebuah meja bundar di tengah kamar. Si rambut merah menuangkan teh dari dalam poci ke dalam dua cangkir kecil. Pyuk pyuk pyuk gemericik air sewarna bata keluar bersamaan dengan aroma vanilla yang menguar. Benar-benar lancang tidak punya tata krama, seru Chanyeol dalam hati, setengah murka. Memicingkan mata ke perkakas minum teh milik mama.
"Android."
Baekhyun menyeduh teh, Chanyeol menoleh.
"Ingat perisai dan pesawat yang aku pakai?" iris hitamnya menyorot si pemuda dengan tenang. Sosok bisu yang dibanjiri peluh dengan muka pucat yang masih dia pasang. "Android atau humanoid. Kau tahu, 'kan? Robot yang dibangun untuk—secara estetika—menyerupai manusia."
Hening sebentar.
"Makhluk yang cantik dan memesona, mereka itu." Baekhyun tersenyum, matanya terpejam. "Loyal. Setia. Mereka bisa jadi kawan, jadi pelindung, jadi penyembuh, menjadi sesuatu yang bisa kau andalkan saat ditinggalkan teman. Tapi—"
Chanyeol tak peduli. Berlagak tuli. Walau sebenarnya rasa penasaran menggelitik bikin geli.
"Ada yang menganggap mereka senjata berbahaya, ada yang memperlakukan mereka tak lebih dari budak, ada pula yang percaya mereka melebihi manusia. Pandangan setiap orang berbeda-beda dan itu adalah hal yang tak bisa dipaksakan."
Baekhyun kembali meneguk tehnya, Zelo sibuk bermain dengan gitar di pangkuan, sedangkan Sehun mengintimidasi Chanyeol dengan tatapan, membuat kikuk yang bersangkutan.
"Aku menjelaskan hal seperti itu karena yakin kau pasti akan menanyakannya di waktu mendatang," tukas Baekhyun mengamati pemuda di hadapannya yang masih setia menundukkan kepala. "Oh, dan lagi, kami akan tinggal bersamamu demi menjamin keamanan. Kita tidak tahu kapan mereka akan menyerang."
Bagai disambar petir, Park Chanyeol menyalak, "Ke—kenapa kalian seenaknya!"
"Tidak ada pilih—"
BRAK! Kali ini ia memukul meja dengan keras, kepalanya memanas.
Semua pandangan tertuju pada satu obyek, seseorang yang tengah naik pitam setengah merengek.
"Kalian—kalian dan para debt collector gila itu, aku tidak tahu apa yang kalian pikirkan dan inginkan—"
Debt collector?
Baekhyun terhenyak, ekspresi terkejut merebak.
"Tunggu. Apa kau bilang? —
"—Debt collector?"
.
.
.
.
Di dalam sebuah ruang penuh tabung-tabung kimia dan reaksi, seorang pria tengah duduk menghadap meja. Wajahnya pucat bak orang mati, napasnya tersengal-sengal bagai dicekik. Kedua tangannya bergetar, memainkan tisu berwarna merah yang ia genggam. Di atas meja ada banyak tisu dengan warna yang sama. Merah. Berlumur darah. Namun orang itu tersenyum tenang, walaupun—mungkin—ia tahu maut akan segera datang.
Suara batuk memantul-mantul di dinding.
Seorang lagi pria dengan jas hitam. Rambutnya pirang, matanya menerawang, tangan kanan menggenggam pedang. Memasang wajah skeptikal, ia menyembunyikan pancaran-pancaran rasa kasihan. Meski ia tahu orang yang memunggunginya sedang berusaha susah payah meraih gelas berisi air di ujung meja.
"Himchan— uhuk—" orang itu tersengal, nafasnya terpenggal-penggal, "Seperti yang kau lihat, kondisiku memburuk."
"Vonis mati. Katanya hidupku tinggal satu minggu lagi."
Vonis mati.
Mata Himchan terbang mengawang, melewati dimensi dan memutar waktu, mengembalikan ruangan ini ke masa itu. Ada enam orang berbaju putih, yang satu terbaring lemah di tempat tidur, yang satu lagi dokter— mengaduk-aduk tas mencari obat. Mulut dokter itu bergerak-gerak lambat dan menyayat,
Kanker otak. Sakit kepala dan rasa mual yang sering dirasakannya, serta gangguan keseimbangan tubuh dan melemahnya anggota gerak adalah gejala dari monster itu.
Masih gejala awal, belum parah. Aku mengerti pekerjaan kalian, tapi ada baiknya menghindari bersentuhan terlalu lama dengan benda-benda kimia—
Benar. Benar. Himchan masih ingat kata-kata dokter itu yang menghunus dada bagai belati, untaian kalimatnya seperti hukuman mati. Benar. Benar. Kala itu pria sekarat di depannya mencoba menenangkan setiap orang yang menangis, tapi tak ada yang sampai hati untuk tersenyum manis. Benar. Benar. Saat itu semua berduka—
.
((—
"Aku akan... aku akan... membuatmu tetap hidup –"))
.
.
Dan benar. Benar. Himchan sangat mengingat detik-detik dimana kata-kata orang itu menjadi mimpi mereka.
Mimpi yang dulu fana. Yang sekarang jadi realita.
.
"Kalau kedatanganmu ke sini hanya untuk menanyakan tentang apa yang aku ketahui tentang sistemnya, hasilnya nihil." Matanya mencari sesuatu di dinding, menyorotnya dengan penuh sayang. Sebuah foto. Dengan lima orang sedang tertawa lepas. Yang empat laki-laki, satu perempuan. Mereka terlihat sangat bahagia dan hangat. Tapi, itu dulu.
"Itu memori yang dia ambil dari ingatanku 10 tahun yang lalu. Aku mendapatkannya sudah dalam bentuk chip."
Hening. Hening. Hening. Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Setelah beberapa lama, bibir merah si pirang kembali rekah.
"Dia menangis. Dia marah. Dia terus bilang kau mengkhianatinya. Dia menyuruhku untuk—"
.
"Taehyung. Maafkan aku."
.
.
Sebuah senyum memikat tersemat.
"Aku sudah tahu, Himchan."
.
.
.
" .. —"
.
.
Pedang terayun.
.
.
.
.
Keheningan lama mengudara setelah Chanyeol selesai membeberkan pengetahuan. Hanya ada suara lentingan-lentingan senar sebagai latar. Tik tak jam menjadi harmoni dalam perkusi dadakan. Oksigen tertarik, karbondioksida terhembus. Baekhyun menutup kelopak matanya rapat-rapat.
"Jadi, itu yang ayahmu katakan?"
Sebuah anggukan.
"Dia bilang keluarga kalian dikejar-kejar debt collector karena hutang yang besar?"
Chanyeol mengangguk lagi.
Dia masih ingat, dulu keluarganya tunggang-langgang melarikan diri dari orang-orang berbaju hitam. Pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain untuk memperoleh hidup yang tentram. Dia ingat dia tak pernah punya kawan, sekolahnya berganti tiap sebulan, paling lama tiga bulan. Yang dilakukan keluarganya hanya berlari. Berlari. Dan bersembunyi. Kalaupun dia ingin menyalahkan seseorang, semua adalah kesalahan ayah yang sudah mati. Ayah yang dililit hutang.
Tap tap tap. Baekhyun mengetuk-ngetuk meja kayu, tatapan matanya tajam. Chanyeol menenggelamkan irisnya dalam-dalam. "Debt collector. Dari semua profesi. Aku bisa mengerti, sih. Tapi tetap saja."
Ada segelintir rasa penasaran yang mampir, memang kenapa dengan debt collector? Meski ada rasa ganjil, mengingat kejadian-kejadian mengerikan yang ia alami saat masih kecil. Di kepalanya berkelebat sepotong adegan drama. Dia yang masih bocah. Orang-orang berwajah marah. Nyanyian peluru yang membuat resah. Dan semua adegan penuh darah yang pernah ia jamah.
Untuk ukuran debt collector, semua yang terjadi sudah lewat batas.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi—" suara ludah tertelan, pertanyaan terlontar pelan-pelan, "Apakah aku akan mati dibunuh dalam opera gila ini?"
Mata hitam buka-tutup. Satu, dua. Tawa Baekhyun pecah jadi serpihan. Dia terbahak, peduli setan dengan Chanyeol yang menggeram. "Kau takut mati, tapi juga sok kuat menyuruh kami pergi."
"Hey!"
"Tapi aku mengerti, sih—"
Lagi-lagi, dia sok tahu, tukas Chanyeol dalam hati.
"Aku tidak punya hak untuk menjelaskan," jari-jari lentik itu menghapus bulir-bulir air di ujung mata, kali ini nadanya terdengar serius, "sepertinya kau hilang ingatan. Dan itu atas keinginanmu sendiri. Kewajibanku hanyalah untuk menjauhkanmu dari tangan kotor mereka."
Kehilangan ingatan? Apa maksudnya?
"Ap—"
"Omong-omong, bukankah seharusnya kau sudah berada di sekolah?"
Chanyeol beku di udara.
Strike.
Jeritan frustasi terdengar. Langkah tunggang langgang menguar. Park Chanyeol terbirit keluar kamar. Kaki panjangnya meninggalkan apartment lebar-lebar. Wooosh seperti roket yang meluncur ke galaksi luar.
Jam dinding tertawa hambar. Jarum-jarumnya tersenyum miris, 09:15.
"Dadaaaaah~" Mata dan bibir Baekhyun membentuk selengkung garis, tangannya melambai manis dari jendela kamar yang tipis.
"Zelo. Sehun."
Senyum Baekhyun mulai memudar. Ia berbalik, pandangannya mengedar. Memberi isyarat pada dua bocah yang terduduk diam, ia menjentikkan jari.
"Ada hal kecil yang ingin aku lakukan."
Zelo mengangguk ceria, matanya terpejam, kakinya berpijak di beranda kamar. Cahaya-chaya putih mulai membuatnya tenggelam. Dengan satu kedipan, tubuhnya telah menjelma jadi pesawat.
Bentuknya seperti UFO kecil. Tempat duduknya ada dua. Depan dan belakang.
"Ayo pergi."
.
.
.
.
Tes. Tes.
Testestestestes—
Ada punggung yang berlubang, ada banyak luka lebar terbuka.
Ada genangan darah.
Ada pedang yang dilumuri karat. Karat darah.
.
.
(
Sebelum mati, si korban berbisik. Tidak jelas karena mulutnya dipenuhi darah yang panas. Tapi tangan kananya terangkat. Kaku. Bergetar. Gerakannya lambat.
Pertama lima jari. Kemudian tangannya mengepal, menyisakan jempol berdiri. Getarannya semakin kuat ketika lima jarinya kembali menjulang mantap –
Himchan ingat. Tapi hatinya sudah mati. Atau sengaja dibuat mati?
Kepingan-kepingan memori beterbangan. Mengawang di setiap inci kepala.
/Hahahahahahahihihihihihihahahahahahihihi
"—ma untuk satu, satu untuk li—"/
.
.
)
Tes. Tes.
Tes.
.
.
.
.
Baekhyun datang setelah si pirang selesai bertandang.
Di mata Baekhyun ada kerlip-kerlip bintang. Apakah itu air yang akan menggenang? Ah, tidak. Tidak mungkin. Baekhyun laki-laki yang tegar. Ia diminta untuk tegar.
Kontur-kontur ekspresi yang mengeras terpancar, namun kakinya makin kuat bergetar. Zelo mengelus punggung Baekhyun pelan, memintanya agar tetap tenang. Sehun berdiri dekat figur yang tidur, di bawah kaki ada banyak darah menggenang. Tangannya meraba leher.
Hening sebentar. Ia menggeleng.
"Sudah mati."
Mati. Tuan Taehyung sudah—
Dia terjatuh, kakinya bersimpuh, tangannya menangkup wajah. Hati Baekhyun dari dulu memang rapuh.
"Tuan Taehyung sudah—"
Sudah mati.
"Baekhyun..."
.
Baekhyun meremas dadanya lemah.
/"—di sini—"/
.
Air mata tumpah.
.
.
.
.
("Suuush. Dengar, Baekhyun. Mungkin setelah kau menampakkan diri, mereka akan langsung membunuhku.
Hahaha jangan takut seperti itu. Jangan ragu. Kau anak yang tegar, 'kan, Baekhyun?
Tenang saja, aku akan selalu hidup—
— di sini –")
.
.
.
next : capitulum iii
.
.
.
Pojok kosa-kata
Requiem Mass in D minor: sebuah lagu karya Wolfgang Amadeus Mozart. Mozart menciptakan lagu ini untuk mengenang istri pangeran Fanz Von Walsegg yang sudah meninggal. Tapi lagu ini tidak pernah selesai sampai Mozart sendiri meninggal, jadi banyak dikatakan kalau lagu ini menjadi lagu kematiannya sendiri. Lagunya gloomy abis D:
Debt collector: penagih hutang. Biasanya kalau di film-film atau drama orangnya pakai jas dan kacamata hitam ouo /halah.
Humanoid/Android: sebenarnya beda, loh. Humanoid berbentuk manusia secara morfologi saja, tapi tidak secara fisiologi. Android sudah berbentuk manusia secara morfologi maupun fisiologi, sehingga sudah tampak apakah itu android perempuan atau laki-laki. Tapi, berhubung orang-orang lebih akrab dengan kata 'humanoid', Baekhyun menjelaskannya seperti itu.
.
Author's note:
Haluuu akhirnya saya nongol lagi, setelah sekian lama. Duh, gimana? Masih bingung? Haha saya sudah mengurangi diksi2 nggak jelas, tapi tetep aja, yah, cerita ini gaje D: di chapter ini banyak ingatan2 gak jelas yang muncul. Ada yang sudah bisa nebak2?
Uh. Dan untuk penggemarnya Taehyung/V BTS SAYA MINTA MAAF. Karena dia begitu nongol langsung mati. Sudah gitu penyakitan pula. DX Tapi entah kenapa ada sensasi tersendiri kalau berhasil membunuh bias. /WOY /digantung
Adegan yang sering muncul di cerita-cerita: tritagonis(tokoh pendamping) yang tinggal bersama protagonis (tokoh utama). Kalau pernah nonton anime aksi kan banyak yang beginian. Dan adanya humanoid/android. Kayaknya nama satu ini sudah jadi icon cerita sci-fi, ya ouo
Dan btw, saya terharu banget baca review. Ternyata teman2 sangat kritis :') saya bales review-nya di sini aja yaaaa!
Byunpopof: aaaaa makasih. Kamu juga keren ih aku cinta sama username kamu hahaha ouo
Mindless Heartless: aku juga suka kamu! *love* ini udah update, maaf lama. Tapi gwiyoumi-nya dinanti kok hahahaha
Kim Kumiko: adegan tak senonoh di chapter ini gimana nih? Gak banyak kan? (?) Hahaha. Hayo coba tebaaaak. Saya kasih satu clue deh: Sci-Fi. Jadi segala sesuatu yg kamu pikir supranatural atau fantasy, belum tentu seperti itu ouo
ViLink: syukur deeeh kalau action-nya kerasa. Uh iya emang gaya ff ini rada kaya manga/anime. Jadi buat anda2 sekalian yang suka baca atau nonton, semoga bisa ngebayangin adegan per adegan dan suasana manga/anime-nya ^^
Kim Jongmi: ya ampun ketawa pas anda bilang busker2 ;A; gak kok, bukan exo vs bap. Lihat tuh Zelo malah lenje sama Baekhyun hahaha. Ini ff juga bukan gang-gangan kok, tenang aja ouo
Chenma: iya tuh bapaknya Chanyeol emang tegaaaa huhuhu. Kalau bagian cinta2an, mengenyampingkan saya yang kurang bakat, emang rada samar di ff ini XD saya lebih fokus ke masalah2nya sama misteri. Master-nya itu sebenernya... dengdeng. Haha siapa hayo /PLIS
LJJTwin: duh anda sependapat dengan saya kalau Baekhyun itu emang tengilllllllllll. Bias saya yang paling tengil sama mecicil. *digorok fansnya* saya gak terlalu mementingkan couple di sini, lebih banyak ke hin-hint aja mungkin, ya. Tapi gak tau deh tergantung ceritanya mau dibawa kemana~ XD Dan gak kok, ini bukan perseteruan antar gang ouo
H: wow anda sampai googling. Iya bener, animus emang artinya memori, pikiran, perasaan, hati, dll. Dan gak kok, kekuatan Chanyeol bukan telekinesis (kekuatan pikiran). Hehe, anda teliti juga ya. Mengenai siapa Chanyeol itu nanti diungkapnya satu2 )
13ginger: hayoloh kenapa XD hahaha. Udah dapet bayangan belum di chapter ini. Walaupun kayaknya malah tambah gak jelas gegara banyak ingatan2 gaje.
enchris.727: iya nih susah mau menggambarkan adegannya. Bzzzt bzzzt dsb itu saya pakai buat menggambarkan memori yang buram. Kayak kalau orang2 di film lagi flashback itu loh ouo hayoloh chanyeol sama baekhyun hubungannya apa XD hahaha
babybyunsoo: gimana? Masih bingung gak di chapter ini? Hahaha XD semoga flashback2 yang ini gak terlalu membingungkan (?)
mumu: ini sudaaaah lanjutttttt owo
ritaanjani4: waaaaaaah, kamu bukan satu2nya kok. semoga di chapter ini kamu bisa lebih paham ya ;w;
Nesha: WAKAKAKAKA "mukanya chanyeol emang udah penuh dosa" ;A; tapi dosa besarnya bukan karena muka kali nesh OTL
.
.
Makasih ya yang udah kasih kritik dan saran, sangat membangun :') sampai jumpa di chapter mendatang. Salam, Sehun.
