Yosh! Moshi-moshi! Istri Natsu Dragneel sudah kembali #plak!
Hehe… :D Ah! Ah! Author ingin bertanya.. ada kah yang tahu ceritaku 'Dragon Slayers vs Wolf Slayers' ? dulu? Kalo pernah ada yang baca… mau Author lanjutkan kah? :o
Sayangnya.. tuh cerita mungkin udah kaldaluarsa di akunku.. jadi ada masalah.. gak bisa kebuka, tetap mau dilanjutkan? :o (bagi yang sudah membaca setengah fic tsb tolong kasih pendapat ya.. trims :3) sayang juga sih soalnya ^^
.
Oke dah! ayo kita lanjutankan chappie selanjutnya ^^
'Chap spesial Nalu moment'
.
.
"Aku benci kompetisi seperti ini.. Ugh!" Lucy melemparkan kantong kunci zodiaknya ke kasur. Ia sangat membenci segala urusan yang menyangkut dirinya! Terlebih lagi.. kompetisi 'fanfiction' seperti itu.
"Uhm.." Lucy merentangkan tangannya ke belakang, meregangkan kembali otot-otonya yang kaku "Sebaiknya aku mandi. Mungkin berendam dapat membuatku lebih baik"
Lucy baru akan melepaskan bajunya— "LUCE! KAU MESUM!"
"Eh?! Apa?!" Lucy celingak-celinguk mencari sumber suara. Begitu ia menghadap kebelakang, Natsu sudah menutupi kedua matanya, meski ada sedikit celah diantara jemarinya yang memungkinkan ia untuk melihat. Dasar.. pria.
"Geez.. sejak kapan kau disitu?" Tanya Lucy mengurunkan niatnya untuk melepaskan baju. "Se-Sejak kau bilang 'Ugh' ?"
"Okeh.. itu artinya kau sudah cukup lama ada disini.. hah.." Lucy duduk di ujung tempat tidurnya. "Kenapa kau keluar dari dapurku? Apa yang kau lakukan? Jangan katakan kau membakarnya Natsu?" Lucy memincingkan matanya.
Natsu mengibas-ngibaskan tangannya "Tenang.. aku lapar, makanya aku berkunjung, ternyata kau bahkan tak memiliki makanan sedikit pun…" Kata Natsu sembari mengelus perutnya.
"Ah? Sepertinya aku lupa membeli persediaan makanan.. karna kau tidak memiliki alasan lagi.. sebaiknya kau pulang , ne?" Lucy mengusir Natsu secara halus. "Aku ingin mandi, okeh?" Lucy bangkit dari tempat ia duduk.
Langkahnya terhenti ketika sebuah tangan—panas? Menggenggam pergelangan tangannya. Lucy tahu pasti meski ia seorang penyihir api, suhu tubuhnya tak mungkin ikut meningkat setinggi ini. "Ya ampun Natsu!" Lucy berteriak menghadapnya. Lucy menatap wajah Natsu yang tak lagi cerah seperti hari kemarin. Hari ini berbeda. Ia pucat. Bahkan ada kantung juga lingkaran hitam di bawah kelopak matanya. Rambut merah mudanya tak lagi halus, ini cenderung kusut.
"N-Natsu! Kau demam, bodoh!" Lucy menaruh punggung tangannya pada kening Fire Dragon Slayer itu.
Natsu tersenyum lemah "Itu alasanku yang sebenarnya Luce"
.
.
Disclaimer of Fairy tail
Hiro Mashima
.
.
Lucy grasak-grusuk mencari obat-obatan, kain lap, baju ganti dan berbagai keperluan lain untuk seseorang jika demam. Untuk kali ini saja, Lucy mengizinkan Natsu untuk tidur di kasurnya. Lucy membawa baskom berisi air dingin dengan kain yang sudah ia bahasi dengan air itu ke tempat Natsu merebahkan badannya. "Hey Natsu.." Panggil Lucy sembari ia menaruh kain lap itu pada keningnya "Kenapa kau tak bilang saja.. jika kau demam, bodoh?"
Natsu terlihat menelan ludahnya. Ia meringis. Kelihatannya tenggorokannya pun terasa sakit. Apa yang sebenarnya pemuda ini lakukan sampai ia demam begitu?
"Awalnya.. aku tak ingin menyusahkanmu, Luce. Aku ingin meminta obat pada Mira atau.. siapa saja yang bisa membantu. Tapi aku rasa itu tidak cukup membantu dan aku tidak sebegitu nyaman dekat dengan orang lain.. jadi.." Natsu terbatuk kecil, membuat Lucy berlari ke dapur dan memberikannya segelas air putih. "Ah. Terima kasih" Natsu memberikan gelas air itu kembali pada Lucy setelah ia meminumnya.
"Pelan-pelan saja. Aku akan mendengarkan, Geez.. sekarang kau terlihat seperti seorang pria tua"
"Jadi.. yah.. disinilah aku. Di tempatmu, Luce" Natsu menyisir rambutnya sedikit dengan jemarinya. Agar rambutnya terlihat sedikit rapi. "Tapi.. apa yang kau lakukan hingga demam begini? Kupukir orang bodoh tidak akan pernah terkena penyakit?" Canda Lucy untuk membaikan suasana sedikit.
Natsu tertawa kecil "Kau jahat Luce. Jika kuberitahukan ini, kau jangan tertawa, okeh? Janji?" Lucy manggut-manggut.
"Kau tahu pohon sakura tujuh warna yang hanyut di sungai depan apartementmu ini dulu?"
"Tentu saja! Aku sangat berterima kasih pada kau dan Happy! Karna membuat perasaanku lebih baik, ketika aku sakit" Lucy teringat kembali akan pohon sakura yang indah itu.
"Hihi.. aku senang jika kau senang Luce.. lalu.. pohon itu tidak boleh di tebang ,bukan? Ingat dulu ketika aku kena marah oleh Ji-chan ? sungguh hari yang menyebalkan. Dan.. Lucy.. Ugh.. bagaimana aku harus mengatakan hal ini…" Natsu menggaruk belakang kepalanya bingung.
"Katakan saja Natsu! Aku penasaran!"
"Aku menanam bibit pohon sakura itu di belakang rumahku setelah hari itu"
"Eh? KAU APA?! Tu-Tunggu.. berarti… itu sudah 8 atau 9 bulan yang lalu?" Lucy tak percaya Natsu dapat menanam sendiri pohon sakura yang indah itu dan.. untuk apa? "Yup! Dan sekarang pohon sakura itu sudah besar, Luce! Meski yah.. tidak sebesar yang dulu. Tapi sekarang pohon itu bahkan sudah mengeluarkan warnanya!" Natsu bercerita sangat semangat. Sepertinya ia bangga dengan hasil kerjanya.
"Lalu? Itu belum menjawab mengapa kau demam, Natsu?"
"Ah.. pohon itu terlihat, kau tahu.. sakit? Akhir-akhir ini daunnya sering berguguran.. lalu aku menanyakan hal ini pada ahli tanaman (?) kota, ia bilang pohon ini membutuhkan perawatan lebih agar ia tetap tumbuh. Karna itu.. hehe.. aku menjaga pohon itu siang dan malam! Meski hujan aku harus selalu memperhatikan pohon itu agar tanahnya tidak berlumpur!"
"Kenapa kau melakukan itu Natsu! Kau membuat dirimu sakit! Lagi pula pohon itu untuk apa? Jangan melakukan hal-hal yang bodoh dan tak berguna!"
"Geez.. Luce! kau lupa tiga hari lagi, hari apa?"
Lucy mengkerutkan keningnya. Apa sih yang Natsu katakan? Tiga hari lagi? memang apa yang—Lucy menutup mulutnya yang menganga. "Natsu! Jangan bilang.. mungkinkah…"
Natsu tersenyum "Itu ulang tahunmu" Natsu memandang keluar jendela "Untuk ulang tahunmu… aku hanya ingin melakukan sesuatu yang lebih. Bukan barang ataupun benda mahal lainnya… tepatnya sesuatu untuk di kenang, bagus! Sekarang semua terbongkar!" Natsu terlihat kesal karna rencananya gagal untuk mengejutkan Lucy.
Lucy tertegun mendengar semua kata-kata yang keluar dari bibir sahabatnya itu. Bagaimana si bodoh ini dapat berkata seindah itu, huh? Ini sungguh di luar dugaannya!
"Dan saat itu.. aku tidak melihat pohon sakura itu mekar bersamamu.. untuk kali ini.. aku tidak akan melewatkan kesempatan ini.. lagi pula ini terakhir kalinya kita dapat bermain bersama , ne Luce?"
"Apa maksudmu dengan, terakhir kalinya?"
"Eh? Bukannya… jika salah satu pemuda menang dalam kompetisi menulis itu.. ia akan menjadi pacarmu? Aku tidak yakin menang dalam kompetisi itu.. Dan.. jika kau sudah memiliki pacar, aku akan jarang sekali bertemu denganmu…" Natsu mengecilkan suaranya di kata-kata terakhir. Tapi cukup untuk Lucy dengar.
'Jadi Natsu takut aku tak dapat bermain bersamanya lagi? dari awal aku memang sudah mengutuk kompetisi ini!' Pikir Lucy.
Tiba-tiba Lucy tersenyum kecil "Apa kau.. segitu merasa kesepiannya jika aku memiliki pacar, Natsu?"
Natsu tertawa gugup "Ah.. ha.. ha.. memalukan sekali, bukan?" Natsu membenamkan kepalanya pada bantal. "Memalukan sampai aku tidak dapat mengatakannya…"
"Memalukan juga tak apa-apa kok"
"Eh?" Natsu menatap Lucy. "Dari pada harus memiliki pacar dan tak dapat bermain bersamamu.. lebih baik.. aku tak memiliki pacar"
"Lucy…"
"Lagipula, hihihi. Kau bodoh! Aku juga tak akan mau menerima dengan gampang orang yang menang kompetisi itu!" Natsu ikut tertawa.
"Tunggu Lucy, jadi.. belum tentu kau menerima pemuda yang menang dalam kompetisi itu?"
"Tentu saja! lagi pula.. bahkan Mira bilang.. ia hanya mengadakannya untuk bersenang-senang!"
"Sungguh?!" Wajah Natsu berubah sumeringah. Tiba-tiba ia bangkit dari tempat tidur "Yosh! Baiklah! Aku akan berusaha untuk kali ini , Luce! dan jika…" Natsu menatap Lucy langsung ke matanya "Jika aku tidak mendapatkan review-an yang lebih banyak dari mereka, aku tetap mempunyai kesempatan kan?"
'Kesempatan? Apa maksudnya… untuk jadi pacarku?' Pikir Lucy.
"Te-tentu?"
Natsu menyatukan telapak tangannya "Woah! Keadaanku sudah lebih baik sekarang, Luce! terima kasih! Aku akan pulang dan menengok kembali pohon sakura itu, lalu mencari inspirasi untuk cerita itu! jaa nee, Luce!" Natsu melompat dari jendela apartementnya.
"Paling tidak gunakan pintu, bodoh!" Lucy menutup jendela apartementnya. "Si bodoh itu.. tidak kusangka dia berpikir sejauh itu.." Lucy senyum-senyum sendiri, mengingat wajah Natsu yang tiba-tiba berubah sumeringah tadi.
"Natsu.. kau tahu? Untuk kau… tidak perlu memerlukan kompetisi seperti ini.. kau sudah menang dari awal"
.
.
OH NOOOOOO! PAIRINGNYA TERBONGKAR! XP
KYAAAA! AUTHOR BAKA! Hehe… :3 Tapi kayaknya kalian juga tahu deh.. Author Nalu shipper, hohoh!
Aku tahu chap ini pasti aneh ya? Aneh kah? T.T maaf kan Author…
Tapi … meski pairingnya sudah terbongkar.. jangan harap aku akan menyerahkan Lucy secepat itu padamu Natsu! #MUAHAHAHA! Aku akan membuat kalian sengsara dulu! Xo
Okelah ^^ RnR?
