Uwaaah! Butuh waktu yang lama untuk mengupdate cerita ini . gomenne! Aku harap chappienya bagus yaaa ^^ hehe.

.

"Arigatou minna!" Lucy membungkukan badannya kearah semua anggota guildnya juga beberapa anggota guild lain yang berada ditengah-tengah pesta ulang tahunnya. Hari ini gedung guild fairy tail benar-benar padat dan ramai akan orang .

Lucy berterima kasih dengan—matanya yang sudah berair. Ia hanya merasa.. terharu.

"Ah.. sungguh Lucy ini bukan apa-apa.." Hibiki melingkarkan tangannya pada bahu Lucy. "Lagi pula.. jika kita sudah bersama, apapun juga akan kuberikan" Ia mengerlingkan matanya.

Loke menjambak rambutnya "Jangan macam-macam dengan masterku, playboy"

Hibiki menepas tangannya "Bagaimana denganmu, singa jantan? Apa kau bukan playboy?" Kini Hibiki mendekatkan wajahnya pada Loke hingga jidat mereka saling beradu. Kilatan seperti petir dapat terlihat dibelakang mereka.

"A-Aah.." Lucy tak dapat berkata-kata. Ia hanya dapat bersweatdrop melihat dua pemuda yang ada dihadapannya ini—yang mengingatkannya akan kedua anggota timnya.

"Selamat ulang tahun Lucy.." Rogue mengulurkan tangannya, sembari terus mempertahankan senyum ramahnya. Lucy menjabat tangannya "Arigatou ne.." Lucy membalas senyumannya. Tiba-tiba, Lucy merasakan aura gelap menusuk kulitnya dari belakang. "Oho.. kau ingin menyelip kami, naga bayangan?" Hibiki dan Loke memberikan death-glare mereka pada Rogue.

"Lalu? Memangnya kenapa?"

"Sialan! Akan kuhabisi kau!" Hibiki dan Loke secara bersamaan mulai menyerang Rogue. "Dasar. payah.." Laxus yang melihat dari kejauhan hanya dapat berdecak pelan. Ia benci suasana yang begitu ramai seperti ini.

Tak jauh dari Laxus, Gray tengah memperhatikan Lucy yang berada tepat—ditengah pertarungan ketiga lawannya. Ia hanya ingin bergabung dan menarik Lucy keluar dari sana. Tapi…

"Cih. Juvia? Kapan kau akan melepaskanku?" Gray menggeliat, berusaha untuk melepaskan tangannya yang terikat pada pilar guild. "Tidak. Juvia tak akan melepaskan Gray-sama!" Juvia memeluknya erat, membuat beberapa tulang rusuk Gray seakan patah.

Lagi pula ini aneh. Juvia seperti mengikatnya dengan sihir. Bukan dengan tali. Entah apa yang membuat Gray tidak dapat menggunakan sihirnya.

Suasana memang terasa begitu ramai dan meriah. Sorak-sorak dan gelak tawa juga dapat terdengar hingga kesudut kota Magnolia. Semuanya sangat menikmati suasana saat itu.

Atau.. mungkinkah?

"Kapan kau akan mengajaknya, salamander?" Gajeel bertanya sembari mengemut beberapa besi.

Natsu memberikannya tatapan sinis "Diam"

Gajeel mengangkat kedua bahunya "Aku hanya mencoba memberitahu" Ia menggerakan bola matanya kearah seorag gadis pirang "Bunny-girl, bisa cepat diambil jika kau terlalu lama"

Natsu menggerang sembari menatap ayam goreng yang ada pada tangannya, seperti musuhnya "Itu tidak semudah yang kau bayangkan" Katanya meremas ayam itu.

Gajeel menghentikan kegiatannya mengemut besi sejenak "Aku tidak melihat masalahnya, bodoh"

"Kalau begitu, kenapa kau tak memberikan contoh untukku? Ada seorang gadis mungil berambut biru disana, kenapa kau tak coba—"

"—sialan. Baiklah. Aku mengerti" Gajeel berjalan menjauh dari Natsu. Hanya itu yang dapat membuat Gajeel mengunci mulutnya.

Tiba-tiba.. Natsu mendengar..

"Hey gadis pirang?"

'Suara itu…' Natsu menolehkan kepalanya, dilihatnya wajah Lucy yang penuh akan pertanyaan pada seorang pemuda berambut pirang didepannya. Sial. Mereka sangat serasi bila bersebelahan. Dan itu membuat Natsu geram.

Pemuda itu terlihat menunjuk kearah pintu guild mereka "Aku hanya penasaran.. bila kau kuajak keluar.. apa kau mau?"

Seketika keheningan melanda atmosfer guild yang sedari tadi ramai. Kenapa? Karna seorang Sting baru saja mengajak Lucy… k-kencan?

Lucy mengedipkan matanya.. sebelum tersenyum "Tentu"

Dan jawabannya membuat seluruh orang menampakan ekspresi yang berbeda-beda.

.

Fanfiction

Rated : T

Genre : Humor, romance, Drama (sedikit)

Disclaimer : Hiro Mashima

Author : nshawol56/nshawol566

.

Loke dan Hibiki menjedotkan kepala mereka ke dinding. Rogue bergumam tentang akan 'memberikan anggota guildnya' itu pelajaran. Erza menjatuhkan sendok kuehnya. Elfman dan Ever berhenti berdebat tentang 'lelaki sejati'. Cana menyemburkan minumannya. Lisanna menjatuhkan gelas bar. Wendy ,Happy, charle dan Lily saling berpelukan (?). Mira terlihat ingin menangis. Laxus dan Makarov hanya dapat menatap mereka. Levy menganga lebar, tak percaya apa yang sahabatnya itu jawab. Gray mengepalkan tangannya sembari terus meronta-ronta agar dapat terlepas dari pelukan Juvia. Gajeel tersedak sendok untuk beberapa saat, lalu ia menolehkan kepalanya kearah Natsu sambil berkata "Aku sudah memberitahumu, Gi hee"

Natsu mematahkan sebuah garpu ditangannya.

Sting tersenyum penuh kemenangan "Bagus"

Lucy mengangguk pelan "Apa.. kau ingin pergi sekarang?"

'Lucy! Apa yang kau pikirkan?!' Batin Natsu, Hibiki, Gray dan Loke berteriak.

Sting membuka lengannya, agar Lucy dapat melingkarkan tangannya dan berjalan keluar guild.

Ketika pintu guild baru saja tertutup, semua kembali membuka mulut mereka. "SIALAN! STING!" Natsu berlari keluar guild dengan sangat kencang membuat sebuah jejak terbakar pada lantai. Hibiki, Loke, Rogue dan Gray yang baru saja terlepas dari dekapan Juvia menyusulnya.

Melihat para saingannya berlarian keluar, Laxus hanya menghela nafas "Yah.. aku tak peduli" Gumamnya.

'Tak dapat.. gadis itu juga tak apa. Lagi pula ia terlalu muda untukku' Batin Laxus menyerah.

Elfman dan Ever juga entah mengapa Bixlow dan Freed masuk kedalam perbincangan mereka mengenai pemuda yang cocok dengan Lucy.

"Ano.. aku lebih suka Lucy dengan Sting? Bagaimana menurut kalian?" Bixlow menggosok dagunya.

"Oho! Tidak, teman.. Lucy dengan Rogue mungkin lebih serasi"

"Apa kau gila?" Elfman menggebrak sebuah meja "Lucy dengan Natsu! Tidakkan kalian melihat Natsu selalu bersikap jantan didepan Lucy?!"

"Cukup dengan kata jantan itu.. pria besar" Ever memukulnya dengan kipasnya "Bagaimana dengan Laxus? Kita harus mendukungnya"

Mereka melirik kearah Laxus yang masih memejamkan matanya dipojok guild "Tidak . Tidak . Tidak. Kau tidak melihatnya? Laxus hanya ingin meramaikan kontes fanfiction itu"

"Kau benar. Ia sepertinya tak benar menyukai Lucy"

Cana berjalan dihadapan mereka dengan senyum menyeringai "Jika kalian dapat membaca kartu tarot seperti aku, kalian tak perlu berdebat seperti ini.."

"Jangan bilang kau tahu, Lucy akan berakhir dengan siapa?"

"Tentu. Dan jika kalian ingin tahu, boleh saja. Hanya.. kalian harus memberikanku beer yang terenak!"

Ever, Elfman, Bixlow dan Freed hanya menatapnya datar sebelum kembali berdebat, membuat Cana cemberut.

Dipojok bar.. kita dapat melihat Makarov yang kebingunan menenangkan Mira yang tengah menangis histeris.

"Uh.. tenang-tenang, Mira…" Master berusaha menenangkannya. Bahkan kini Lisanna sudah ikut menenangkannnya.

"Laxus!" Master memanggil cucunya itu. "U-Uh.." dengan sangat terpaksa, Laxus berjalan dengan malas menghampiri kakeknya itu.

"PELUK DIA!" Perintah Master.

"Apa?!" Laxus membuka lebar matanya "Kau ini, selalu minta yang aneh-aneh pak tua!"

"Lagi pula… kenapa kau menangis, Mira-nee?"

"Hiks.. Lucy…" Mira terisak-isak "J-jika seperti ini… aku bingung.. harus memilih siapa? Aku menyukai Lucy dengan Natsu.. tapi..Lucy dengan Sting…"

"Ya?"

"Mereka terilihat sangat-sangat serasi!" Mira menangis bahagia. "Ah! Aku tak dapat membayangkan akan banyak anak kecil berambut pirang berlarian diguild ini, KYAAA!"

Perkataannya itu.. membuat Lisanna, master dan Laxus meninggalkannya dengan wajah datar.

.

.

"U-oh" Lucy menghindari kubangan air yang berada pada jalan yang ia lewati. Kubangan air itu terbentuk pasti karna hujan lebat semalam yang mengguyur Magnolia. Lucy melirikan matanya pada pemuda dengan rambut pirang pucat. "Sting?" panggilnya. "Hm?" Membuat pemuda itu menolehkan kepala kearahnya.

Lucy menolehkan kepalanya kekiri dan kekanan, daerah ini.. mereka kini sudah lumayan jauh dari guild bahkan dari kota. Mau dibawa kemana sebenarnya Lucy ini? Lucy tidak menuduh atau berpikran negative pada Sting. Hanya saja.. dia hanya berharap Sting tidak melakukan hal yang macam-macam padanya.

"Sebenarnya.. kita ingin kemana?"

Sting menundukan kepalanya ketika sebuah dahan pohon hampir mengenai kepalanya. "Sebentar lagi" Jawabnya singkat dan terus menuntun Lucy kesuatu tempat. Lucy hanya dapat berdoa kalau itu bukan sesuatu atau tempat yang buruk. Memang tak perlu waktu lama. Mereka telah sampai disebuah tempat.

Disebuah tempat yang—Lucy sendiri tak pernah tahu ada tempat yang seindah itu di Magnolia. Sebuah taman kecil jauh dari kota. Taman kecil yang hanya mempunyai sebuah ayunan kecil itu memang terlihat sudah tak pernah dikunjungi orang. Mungkin karna tempatnya yang lumayan jauh dari kota. Lucy menggerakan bola matanya yang sedari tadi tak henti-hentinya berbinar lantaran terpesona akan indahnya taman itu. Pohon rindang, juga tanaman yang merambat di sekeliling ayunan membuat sebuah tadahan dari daun-daun yang teranyam alami diatasnya.

Cahaya matahari yang melewati masuk dari celah-celah dedaunan rindang menambah pesona taman itu. sayang sekali. Tak banyak orang yang tahu tempat itu. belum lagi sebuah kolam air mancur kecil di sudut taman yang berdiri diatas rerumputan hijau itu.

"Jadi.." Lucy mendengar Sting kembali membuka mulutnya. "Oh. Maaf" Lucy meminta maaf karna ia bahkan serasa tak sedang bersama dengan seseorang "Aku.. yah. Tempat ini.." Lucy menunjuk taman kecil itu "Indah?" Sting tersenyum kecil. Lucy mengangguk kecil, masih dengan terus menatap kagum kolam air mancur yang indah itu. Meski tak lagi memancurkan air, karna telah tak berfungsi.

"Dari mana kau temukan tempat yang.. seindah ini?" Lucy masih tak percaya. Ia yang sudah lumayan lama tinggal di Magnolia, bahkan tak sedikitpun mengira dipinggiran hutan akan ada tempat seperti ini.

"Entahlah.." Sting berjalan melewati Lucy dan menarik tangannya. "Aku hanya ingin kau duduk disini sekarang" Sting menepuk kursi ayunan gantung itu. "Soal.. bagaimana aku menemukan tempat ini… itu nanti saja"

Lucy menatap lama ayunan kecil itu sebelum ia duduk perlahan diatasnya. Beruntung tubuh langsing Lucy muat di sana. Bahkan Lucy pikir.. Erza tak akan muat. Karna itu benar-benar pas untuknya. Seperti—memang hanya dibuat untuknya.

Lucy memainkan kakinya kedepan dan kebelakang, membuat ayunan itu berayun.

"Jadi.. ehem" Sting menjernihkan kembali tenggorokannya yang tiba-tiba kering "Aku mengajakmu kesini karna.." Sting mengeluarkan sebuah kertas—tidak-tidak, lebih dari selembar kertas dan menggenggamnya. "Aku ingin membacakan fanficku"

Lucy mengernyitkan dahinya. Membaca fanfic? Kenapa ia tak memasukannya saja pada fanfiction . net?

"Kau pasti bertanya kenapa aku tak memasukannya saja pada fanfiction . net?"

Lucy mengangguk "Yah. Jujur saja gadis pirang" Sting menggaruk belakang kepalanya. ia merasa sedikit tak nyaman. "Aku tak ingin yang lain mereview, ataupun membaca ceritaku a-aku.. malu"

Lucy melihat pipi Sting yang dinodai sedikit rona merah, wajahnya terlihat lucu. Lucy hanya dapat tertawa kecil. "Cih. Aku memang memalukan" Sting membuang wajahnya.

"Tidak . Tidak. Tidak " Lucy mengibaskan tangannya "Tak masalah. Tapi kenapa harus ditempat seperti ini?"

"Tidak kah kau rasakan? Suasana disini, membuatmu nyaman dan tenang"

Sting benar. Disini sangat damai, jauh dari keramaian.

"Dan.. tak peduli dengan ketentuan peraturan itu. Yang mengharuskan kontestan dengan reviewan terbanyaklah yang menang. Aku tak ikut untuk menang dalam kompetisi itu. Aku ikut.. untukmu"

Lucy songtak mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk karna melihat barisan semut melewati kakinya. "E-Eh?"

"Jadi, bisa kumulai?" Sting mengangkat kertasnya. "U-Um.. t-tentu"

"Aku belum menentukan judulnya jadi.. yah. Aku baca saja"

"Cerita.. by Sting.. aku harus memberitahumu, aku bukan penulis cerita yang baik" Sting menghela nafas.

"Pertemuan pertama kita adalah ketika kita mengikuti sebuah turnamen antar guild. Sungguh tak menguntungkan bagi kita karna bertemu pada saat seperti itu. bahkan ketika kau diserang oleh anggota guildku sendiri… aku hanya dapat berdiri dan memandang dirimu yang terkulai lemas. Didekap oleh kedua pemuda dari timmu itu.

Jujur. Dari awal kau keluar dan masuk dalam arena. Kau sudah mengesankanku"

Sting mengerlingkan matanya pada Lucy. Dilihatnya gadis pirang nan cantik itu, menatapnya begitu dalam.

"Sebenarnya waktu itu, aku sangat ingin menyapamu. Tapi, yang aku sesali kenapa gadis yang mampu menangkap perhatianku pada seorang gadis untuk pertama kalinya adalah musuhku pada saat itu?

Jadi.. disinilah aku.

Berdiri dihadapanmu, memberitahu perasaanku selama ini" Sting berdecak pelan. kini ia meresa… lembek? Bagaimana bisa? Maksudnya... Sting? Seorang dragon slayer kuat berbicara manis dan lemah lembut seperti ini? tapi.. ya sudahlah.

Lucy menyenderkan kepalanya pada pegangan ayunan. Ia hanya berusaha mencari posisi yang nyaman untuknya mendengarkan fanfic Sting yang face-to-face.

"Kita memang tak saling kenal. Tapi sesuatu darimu membuatku ingin tahu lebih tentang dirimu. Kenapa aku harus menahannya sendirian? Bahkan kau tak pernah tahu perasaanku yang sebenarnya.

Aku mungkin terlihat cuek dan… seram?

Tapi aku hanya ingin kau tahu. Aku senang berada disini bersamamu"

Sting tersenyum kecil. Membuat Lucy mengalihkan pandangannya sesaat.

"Disini aku berdiri memandangmu yang terlihat begitu cantik. Langit semakin cerah dan awan bergerak bebas. Kumohon siapa pun untuk melambatkan atau menghentikan waktu , meski hanya sebentar.

Ini sangat sulit. Lebih sulit dari yang aku kira. Bahkan lebih sulit dari pada harus melawan beberapa musuh. Karna aku tahu, ketika matahari terbenam itu adalah lirikan terakhir untukku melihatmu.

Umm…" Sting berdehum. "Kenapa berhenti?" Lucy merasa terganggu karna Sting menghentikan ceritanya ketika ia tengah sangat menikmatinya.

"Oh! Tidak.. tidak.. hanya saja.. entahlah. Bagian yang ini sebaiknya aku lompati"

"Jangan coba-coba. Aku ingin kau membaca semuanya" Lucy menyipitkan matanya, sinis.

"H-Ha'i!" Sting kembali menatap kertasnya "K-Kami-sama.. aku hanya mohon padamu. untuk ka-kali ini saja. Semoga aku memiliki cukup kekuatan untuk menatap.. matanya"

Tiba-tiba Lucy menjentikan jarinya "Doamu terkabul!" Ia melompat dari ayunan dan berjalan mendekati Sting. "H-Hey! Apa yang kau lakukan! Ceritaku belum selesai!"

Lucy tak menggubris omongannya, ia malah semakin mendekatkan diri pada Sting. "Oh. Ayolah. Tatap aku" Lucy memaksa Sting untuk membuka matanya. Perlahan Sting membuka matanya, dan.. apa yang pertama kali ia lihat? Dua bola mata karamel indah milik Lucy.

"Yup!" Lucy menepuk tangannya, dan berjalan kembali menuju ayunan. "Kau sudah menatap mataku. Hehe. Itu tak sulit kan?" Lucy tersenyum manis. Puas dengan apa yang ia lakukan.

"Y-Ya" Sting masih menyembunyikan semburat merah diwajahnya.

"Awwh. Kau malu. Wajahmu memerah"

"Aku tidak! Ini karna panas!"Sangkal Sting. "L-Lupakan! Aku akan melanjutkan membaca ceritaku!"

"Silahkan.." Lucy kembali berayun pada ayunan.

.

.

"Hmm…" Levy memainkan sendok jus-nya. "U-Uh! Lu-chan kencannya lama sekali! Aku kan ingin tahu apa saja yang terjadi dengannya ketika ia bersama Sting!" Teriak Levy, kesal.

Bahkan ketika Lucy dan Sting pergi, Natsu berserta kontestan lain tak terlihat di guild mereka. Lucy memang gadis paling aneh. semuanya kan tengah mengadakan pesta untuknya, apa gunanya pesta jika orang yang dirayakan pun tak ada?

"Hihihi. Ketika ia pulang. Ia pasti akan langsung bercerita Levy" Mira tersenyum manis kearahnya "Atau mungkin.."

"Kau mulai berpikiran seram, gadis barmaid" Gajeel sedikit bergidik melihat cengiran Mira. "Atau mungkin?" Levy terliat penasaran.

"Atau mungkin ketika mereka balik, kita akan langsung mendapatkan keponakan!" Teriak Mira senang.

"Itu mustahil!"

"Tidak. Itu mungkin saja"

"E-Eh? Kenapa begitu Gajeel?" Levy mengernyitkan dahinya. "Ah! Ini mengingatkanku. Sting itu.. seorang dragon slayer bukan? Jika.. seorang dragon slayer jatuh cinta.. seperti apa tindakan mereka jika mereka serius?"

Gajeel melirik Levy sesaat "Kenapa kau ingin tahu tentang hal itu? kau terlalu kecil dan belum cukup umur untuk itu"

"Uh! Gajeel! Aku serius!" Levy menghentak-hentakan kakinya ke lantai. "Sejujurnya aku juga ingin tahu" Mira bergabung dalam perbincangan.

"Hh.." Gajeel menghela nafas dalam. "Mereka mengigit"

"A-Apa?"

"Apa maksudmu dengan 'mereka mengigit'?"

"Sudah kubilang kau terlalu kecil untuk ini!" Hardik Gajeel. "Jelaskan saja!"

"Cih. Mereka memberikan semacam tanda pada orang yang mereka sukai. Karna sekali mereka suka atau jatuh cinta dan sudah memberikan tanda pada orang itu. Entah orang itu mati ataupun hidup.. mereka akan tetap setia padanya. Ini juga menandakan tak ada dragon slayer lain yang dapat mendekati orang itu"

".."

".."

"Kenapa kalian berdua diam?"

"K-Kenapa harus mengigit! Itukan sakit!"

"Aku tak tahu, kecil!"

"Lalu? Dimana ia akan memberikan tanda itu?"

"Di leher? Mungkin"

"Apa kau sudah memberikannya juga pada seorang gadis, Gajeel?"

"Aku tengah menunggu waktu yang pas untuk gadis itu—Eh?! Kenapa kau bertanya seperti itu, kecil! Apa urusanmu!" Gajeel akhirnya pergi meninggalkan Mira yang bersweatdrop dan Levy yang tengah memanyunkan bibirnya kesal.

Gajeel merebahkan tubuhnya pada sebuah meja dipojok guild, sembari menekuk kedua lengannya kebelakang kepalanya. menggunakannya sebagai bantal. 'Salamander. Aku harap kau tak terlambat'. Batinnya.

.

.

"Hhh.. sebenarnya hanya tinggal beberapa kata saja kau tahu?"

"Ya, bacalah.." Perintah Lucy. "Tapi.. tapi.. aku malu dibagian ini!" Lucy tak habis pikir, ternyata Sting begitu pemalu.

"Aku tidak pernah menyangka, aku telah jatuh padamu. kenapa aku tak melihatnya dari awal. Yang aku cari. Tepat berada di depanku. Inikah yang disebut… cinta?

Dan untukmu, kenapa kau harus cari yang lain, jika yang kau butuhkan ada didepanmu?"

Kini Sting yang berjalan mendekati Lucy. "Hey. Sepertinya aku tahu judul yang tepat untuk ceritaku!" Sting menaruh kedua tangannya pada pundak Lucy, dan otomatis membuat kertas yang berada pada genggamannya tadi terjatuh. Lucy terkejut melihat kertas yang ternyata… kosong! Jadi.. tadi, Sting tak membaca apapun? "Y-Ya?" semuanya mengalun langsung dari bibirnya?

"Here I am"

Bisiknya lembut ditelinga Lucy. Tangan Sting yang berada pada pundak Lucy, lama-lama mengeeratkan cengkramannya. Seakan tak memperbolehkan Lucy untuk bergerak sedikit pun. Lucy tak tahu apa yang terjadi. Ia tak bisa bergerak. Atau… ia memang tak ingin bergerak dari posisinya saat ini. seperti terhipnotis, ketika ia melihat mata Sting mulai terutup. Ia mengikutinya. Ia sadar, kini mereka sangat dekat—bahkan terlalu dekat. Tanpa Lucy sadari, Sting tengah membuka mulutnya lebar. memperlihatkan dua taring yang ada pada sudut-sudut deretan giginya. Sting mendekatkan mulutnya keleher Lucy. Sedikit lagi hingga…

.

.

.

.

.

.

.

.

CUT!

.

.

Uweh! Aku gak tau tapi aku lebih menikmati membuat StingLu :p atau.. mungkinkah aku telah menemukan pair—ah. Aku tak tahu~ apa ada yang bisa membaca pikiranku? Apa yang akan terjadi di chappie selanjutnya? Beritahu aku apa yang kalian pikirkan untuk chappie selannjutnya ^^

RnR? FnF?