Draco kembali ke Malfoy Manor dengan senyum lebar yang masih setia tertempel di wajahnya. Siapa yang tak senang? Mendapat ciuman pertama dari orang yang kau cinta i, dan besok lusa mereka akan menikah. Walau dengan cara terpaksa.

Masuk ke Manornya yang luasnya keterlaluan itu, setelah menaiki beberapa undakan tangga, dilihat olehnya 2 orang yang sudah menunggunya sejak tadi. Ya, kedua orang tuanya.

Look at me

.

Chapter 3

.

Disclaimer : Semua tokoh yang ada di fic ini milik J.K Rowling. Yang tidak kalian ketahui, itu punya saya. Saya tidak mengambil keuntungan komersil apapun. Saya hanya seorang fans yang suka berimajinasi.

DMXHG

Warning : Not Perfect

.

Yuzka's Present

Happy Read ^^

.

Created : 24 Maret 2014

Publish : 15 Maret 2014

.

Lucius dan Narissa sudah sejak tadi menunggu kedatangan anak semata wayangnya. Melihat Draco dengan senyuman lebarnya yang tak biasa, Narcissa membuka percakapan.

"Mengapa begitu senang nak?" Nacissa sebenarnya senang melihat anaknya bahagus. Tapi jujur, ia merasa curiga.

Draco masih dengan senyum bahagia di wajahnya, "Anakmu ini akan menikah mom." Seraya membentangkan kedua tangannya banga.

Lucius dan Narcissa terdiam beberapa detik. Kaget? Tentu. Mereka tidak pernah mendengar Draco dekat dengan seorang gadis, mereka bahkan berniat menjodohkan Draco dengan seseorang nantinya jika Draco terus melajang – tentunya perempuan berdarah murni –

Narcissa yang pertama sadar dari keterkejutannya. "Benarkah? Dengan Siapa? Kapan?" matanya menyiratkan kebahagiaan mendengar anaknya akan segera menika.

"Well, kami akan menikah 2 hari lagi dan aku akan menikah dengan –"

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Draco sudah dipotong oleh suara berat Lucius. "Tunggu," Lucius mengernyitkan dahinya "2 hari lagi?"

"Ya, apa ada yang salah?" Draco ikut bingung melihat reaksi Lucius.

"Kau bercanda?" suaranya meninggi "Menikah 2 hari lagi? Tanpa persiapan sama sekali! Perempuan macam apa yang akan kau nikahi."

Draco tidak terima Hermione dikatakan seperti itu – walau Lucius tidak tau bahwa Hermione calon pengantinnya, tetap saja, Lucius merendahkan Hermione secara tidak langsung – Untungnya, ia bisa mengontrol emosinya. "Aku sudah mempersiapkannya sejak lama sebenarnya. Aku melamarnya dan ia menerimanya barusan, jadi –"

Lagi lagi ucapannya dipotong, kali ini Narcissa. "Kau baru melamarnya? Dan akan menikahinya 2 hari lagi. Apa itu tidak terlalu terburu-buru?"

"Bahkan kau belum memberi tau siapa pengantinmu." Suara Lucius muncul lagi.

Draco mendengus. "Tadi aku akan memberitaumu jika kau tidak menyelaku," melihat pandangan dingin Lucius, Draco melanjutkan. "kalian pasti kenal gadis menakjubkan ini dia adalah –"

Narcissa memotong lagi saking senangnya "Astoria?" terdengar kentara dari ucapannya bahwa ia SANGAT bahagia. "Kau akan menikahinya?"

"Tidak," Draco menggeleng cepat. "perempuan ini jauh lebih baik dari Astoria. Dia adalah –"

Lucius kembali memotongnya "Mana ada perempuan yang lebih baik dari Astoria?" kerutan di dahinya makin menambah "kau tau? Astoria adalah perempuan yang paling pantas menjadi pendampingmu."

"Dengar!" Draco mengangkat kedua tangannya. "Jangan menyelaku," Draco mengambil nafas terlebih dahulu. "orang yang akan kunikahi bukan Astoria," Draco dapat melihat ekspresi kecewa dari Narcissa. "karena aku tidak pernah mencintai Astoria. Orang yang akan kunikahi adalah Hermione Jean Granger." Draco menyelesaikan ucapannya dengan puas dengan penekanan di 3 kata terakhirnya.

"Dia Mudblood Draco" desis Lucius berbahaya. "Bagaimana kau –"

"Hanya orang kolot saja yang masih mementingkan perbedaan status darah," Draco mengeluarkan suara dinginnya – kembali ke Malfoy yang semula – "walaupun dia mudblood, yang kutau adalah dia. lebih. sempurna. darimu"

"Apa yang mudblood jalang itu lakukan padamu." Emosinya mulai terpancing.

"Dia tidak jalang," Draco tidak terima Hermione dikatakan seperti itu. "justru Greengrass itu yang Jalang."

"Jaga ucapanmu." Lucius meninggikan suaranya seraya mengarahkan jari telunjuknya di depan wajah Draco.

"Aku akan menjaga ucapanku," Draco tetap tenang, tapi ketenangannya tidak sampai di matanya. "jika kau juga."

Menyadari keadaan semakin memburuk, Narcissa segera menenangkan Draco dengan cara memegang kedua bahunya. "Draco aku senang kau akan menikah dengan Hermione."

"Benarkah?" pancaran kebahagiaan yang tadi hilang, kini kembali ke matanya.

"Ya," Narcissa mengangguk sambil menatap mata kelabu Draco dengan fokus. Lucius yang mengetahui apa yang akan dilakukan Narcissa, memilih diam. "Ms. Granger adalah pahlawan dunia sihir bukan, ia cantik, pintar dan..."

Draco terlalu senang sekarang. Setidaknya Narcissa telah menyetujui pernikahannya dengan Hemione. Draco merasakan peristiwa yang tadi tebayang di depannya. Pembicaraan dengan Mr. Finnick, pertemuan dengan Hermione, pembicaraan dengan Mr. Granger, persetujuannya dengan Hermione, dan saat dia melamar Hermione.

Tunggu

Kenapa?

Sial!

"Mom cukup," Draco baru tersadar "kau men-legilimensku"

Narcissa terkejut melihat hasil Legilimensnya. "Kau tau betapa pentingnya arti pernikahan itu?"

Draco tau dia sudah terlambat menyadarinya "Aku tau. Maka dari itu, aku memilih seseorang yang memang kucintai."

"Tapi dia tidak mencintaimu," Narcissa tidak abis piker dengan Draco. "kalian bahkan sudah menentukan akan cerai 4 bulan setelahnya."

"Itu agar ia mau menikahiku," jawab Draco enteng. "aku yakin setelah menikah ia akan mencintaiku."

"Astoria lebih baik, lagipula –" suara dingin Lucius segera dipotong oleh Draco.

"Cukup!" Draco menjambak rambutnya frustasi. "kalian mau datang ke pernikahanku atau tidak, aku tidak peduli. Aku yang akan menjalani kehidupanku, bukan kalian. Tapi liat saja apa reaksi masyarakat nantinya, Malfoy Senior tidak memberi restu pada anaknya yang ingin menikah dengan perempuan yang dicintainya dan menyuruhnya menikahi perempuan yang tidak disukainya sama sekali. Oh, itu akan jadi cerita bagus."

Draco pergi meninggalkan Malfoy Senior yang sedang terpaku mendengar semua yang Draco ucapkan. Akhirnya, mereka memilih menyetujui pernikahan itu walau TERPAKSA.

~Dramione~

Esoknya, Draco dan Hermione sepakat akan bertemu di Three Broomstick pukul 9 pagi. Draco datang 30 menit sebelumnya karena ia tidak mau memberi kesan yang buruk pada Hermione. Menunggu 30 menit, akhirnya penyihir berambut coklat itu datang. Tepat waktu dia, tentu saja.

"Aku baru tau seorang Malfoy mau menunggu." Hermione berusaha mempunyai hubungan yang baik kepada calon suaminya atau calon mantan suaminya.

"Malfoy akan menunggu jika itu adalah hal yang penting dan menyenangkan" Draco mengeluarkan seringai andalannya.

Hermione hanya memutar bola mata. Ia terlalu malas membalas ocehan Draco. Walau ia selalu menang dalam berdebat, membutuhkan usaha besar untuk menyumpal mulut Malfoy ini.

"Baik," Draco mengeluarkan beberapa perkamen dari tas-nya "aku sudah memikirkan beberapa rancangan untuk pernikaan kita." Draco berbohong, ia sudah menyiapkan itu saat Ron dan Hermione putus.

Hermione mengecek perkamen perkamen yang ada di atas meja. Dahinya berkerut. "Ini bukan sebagian. Ini hampir semuanya." Matanya membelalak tak percaya. Bagaimana bisa Draco memikirkan ini semua hanya dengan satu malam.

Draco mengendikkan bahunya. "Bukannya lebih bagus," Jawabnya dengan tenang. "kau tinggal memprotes apa yang tidak kau suka dan mendiskusikan bersama sama."

Hermione kembali mengecek perkamen perkamen itu. "Bukankah ini berlebihan?" Hermione merasa ini semua terlalu mewah. Ia tidak mau dianggap sebagai perempuan yang haus kekayaan keluarga Malfoy.

Draco mendesah pelan. "Kuharap kau ingat, kau akan menikahi seorang Malfoy."

Hermioneu sadar, keluarga Malfoy selalu mengadakan acaranya dengan sangat mewah. "Baiklah."

"Sekarang kau buat daftar tamu." Draco menyodorkan perkamen dan quill.

Mereka terus mendiskusikan pernikahan mereka dengan santai – jika berdebat sedikir sedikit bisa disebut santai, setidaknya mereka tidak saling melempar kutukan – hingga tengah hari.

Selesai berdiskusi, Hermione kembali mengunjungi ayahnya. Sedangkan Draco, pergi ke salah satu agensi pernikahan.

~Dramione~

Hermione menatap pantulan dirinya. Rambutnya digelung rendah dengan anak rambut yang menjuntai di kanan kirinya. Beberapa menit lagi pernikahannya dengan Draco akan berlangsung.

"Kau yakin akan menikahi Malfoy mione?" Tanya Ginny sembari membenarkan gaun hijau pucatnya. "aku masih tidak percaya kau akan menikahi Malfoy. Dia pelahap maut jika kau ingat." Semua keluarga Weasley kaget saat mendapat undangan pernikahan Draco dan Hermione dari burung hantu.

"Jangan membuat aku ragu Gin," Hermione sudah beberapa kali menjawab petanyaan yang sama dari Ginny. "jika kau ingat juga, Draco bukan pelahap maut lagi sekarang. Lagipula, ia menjadi pelahap maut karena terpaksa."

"Baik Mione," Ginny sudah lelah membujuk Hermione. "kau ratunya untuk hari ini."

~.~

Mars pernikahan mulai berbunyi. Hermione yang biasanya sangat cantik seperti bidadari surga, sekarang akan membuat iri para bidadari surga. Draco tidak dapat melepaskan pandangannya dari Hermione. Draco sendiri memakai jas berwarna hijau pucat senada dengan Hermione.

Ayah Hermione mengantar Hermione sampai ke altar walau dengan bantuan kursi roda dan seorang perawat dibelakangnya yang mendorong kursi rodanya. Setidaknya ia bisa mengantar putrinya.

Sesampainya di altar, mereka berdua mengucapkan ikrar suci semati mereka. Kedua mempelai dipersilahkan untuk berciuman. Hermione lupa bahwa ada bagian seperti ini. Hemione sedikit ragu dan gemetaran dengan ini. Tapi Draco tidak. Draco langsung mencium Hermione lembut. Semua tamu undangan bertepuk tangan meriah untuk kedua pengantin baru ini.

Well you stood there with me in the doorway
My hands shake I'm not usually this way but
You pull me in and I'm a little more brave
It's a first kiss, it's flawless, really something,
It's fearless

~ Taylor Swift - Fearless~

.

.

TBC

Akhirnya selesai :p chap ini jelek banget sumpah -_- Saya bisa dapet review gak? :p

Anyway, thanks yang sudah review :* :* :*

Disini Draco bukan badboy

Last, review?