Draco seperti orang bodoh sekarang. Berdiri di depan pintu kamar Hermione, masih dengan pakaian pengantinnya yang lengkap.

"Hemione..." Draco seperti orang pasrah sekarang.

Look at me

.

Chapter 3

.

Disclaimer : Semua tokoh yang ada di fic ini milik J.K Rowling. Yang tidak kalian ketahui, itu punya saya. Saya tidak mengambil keuntungan komersil apapun. Saya hanya seorang fans yang suka berimajinasi.

DMXHG

Warning : Not Perfect

.

Yuzka's Present

Happy Read ^^

.

Created : 5 April 2014

Publish : 10 April 2014

.

Setelah pesta penikahan selesai, Hermione dan Draco pergi ke Penthouse Draco. Sesuai perjanjian, mereka akan tinggal bersama disana. Mereka akan dalam satu rumah, ini membuat Draco sangat senang. Tapi, Hermione ingin mereka tidak tidur dalam satu kamar yang sama. Draco bingung sendiri, apa pasangan pengantin Muggle akan tidur di kamar yang berbeda usai pernikahan.

Draco membayangkan malam petama, mereka akan minum teh bersama di balkon yang ada di Penthouse-nya. Bahkan ia sudah menyiapkan semuanya disana. Ia sudah menyiapkan meja dan kursi yang nyaman disana, ia bahkan sudah menyiapkan teh kualitas terbaiknya – entah ia dapat darimana – mawar yang ia tanam dan rawat sendiri sudah disiapkannya juga.

Draco ingat bahwa ia seorang penyihir dan ia juga bisa membuat mawar ada di hadapannya pada saat itu juga hanya dengan mengayunkan tongkanya dan merapalkan sebuah mantra. Ia ingat ia juga bahwa ia mempunya cukup – Ralat! Lebih banyak – Galleons untuk membeli sebuah mawar atau seribu mawar. Kenapa ia menanamnya sendiri? Itu membuktikan bahwa ia sangat mencintai Hemione.

Di luar dugaanya, sesampainya mereka di penthouse-nya, Hermione langsung melepas topeng bahagianya dan berlari masuk ke penhouse Draco. Draco dapat melihat jelas air mata Hemione keluar dari manik coklat indahnya itu. Draco hanya bisa memandang punggung Hemione yang makin jauh darinya. Bingung. Tentu saja. Ia ingat tadi bahwa Hermione tersenyum bahagia saat pesta pernikahan mereka tadi – tentu Draco tidak tau kalau itu hanyalah akting dari Hermione –

Jadi, disinilah Draco. Di depan pintu kamar Hermione yang sedari tadi tidak membiarkan Draco berbicara dengannya.

~Dramione~

Hermione menenggelamkan wajahnya di bantal. Baju pernikahannya – entah berapa harganya – yang sejak tadi masih dipakainya sudah kusut. Rambutnya juga kusut sekarang. Hermione menangis sejadi-jadinya, tentu ia tidak lupa merapalkan mantra 'Muffliato' sebelumnya.

Hari ini, Hermione sudah membohongi banyak orang. Teman teman masa Hogwarts-nya, para Proffesor, masyarakat sihir, Keluarga Weasley, sahabat sahabatnya, hatinya. Dan, yang terutama, Ayahnya.

Hermione merasa seperti anak durhaka sekarang. Ayahnya yang sedang sakit harus ia bohongi. Memang ayahnya bahagia sekarang. Tapi ia yakin, saat ayahnya tau yang sebenarnya, senyuman itu akan hilang dari wajanya dan yang pasti, ia akan merasa bersalah.

Dan juga. Hermione menodai arti suci pernikahan. Mereka bahkan sudah mengatur kapan mereka akan berpisah atau bercerai. Hermione menikahi seseorang yang tidak pernah ia temui setelah ia lulus dari Hogwarts.

Hermione tidak marah pada Draco. Hermione juga tidak marah pada ayahnya. Hermione menyesal pada dirinya sendiri. Tidak bisa membuat ayahnya sembuh dari penyakit sialan itu. Yang bisa ia lakukan sekarang ialah menyesal, menyesal selalu di akhir bukan.

Hermione merasakan matanya mulai berat. Setelah puas menangis. Akhinya, tubuhnya yang sudah kelelahan mengantarnya ke alam mimpi.

...

Cahaya matahari berebut masuk kedalam mata coklat Hermione. Hermione menggeliat tak nyaman. Ia baru sadar, ia tertidur dengan baju pengantinnya yang belum ia lepas sejak kemarin.

Hermione bangkit dari tidurnya yang tidak nyaman. Ia menuju meja rias, melihat pantulan dirinya sendiri di depan cermin. Sepasang kantung hitam bertengger manis di bawah matanya. Wajahnya sembab karena kemarin malam.

Hermione segara menuju kamar mandi dan berendam untuk menyegarkan pikirannya. Tidak lama, hanya 15 menit karena perutnya sudah tidak sabar minta diisi. Segera ia memakai baju seadanya tanpa melihat penampilannya. Ia menuju pintu dan membukanya.

Hermione membelalakkan mata melihat pemandangan di depannya. Draco Malfoy, tidur di depan kamarnya hanya dengan satu bantal dan selimut. Kantung mata juga terlihat di wajah Draco, tapi tidak separah Hermione tentunya.

Hermione berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan Draco yang sedang tertidur. Hemione mengguncangkan bahu Draco agar sang pemilik bahu tersebut tertarik ke dunia nyata. "Draco.. Draco.. untuk apa kau tidur disini."

Yang dipanggil hanya menggeliat dan menggeram tak jelas. "Hem.. Ng.."

Hermione kembali mengguncangkan bahu Draco dengan intensitas lebih besar tentunya. "Draco.. lebih baik kau pindah ke tempat lain. Aku bingung bagaimana kau bisa tidur disini. Aku yakin kau tidak pernah tidur di lantai hanya dengan selimut tipis dan bantal. Seorang Malfoy pasti bukan tidur di tempat tidur yang kelewat mewah. Dan..."

Draco akhirnya membukakan mata. Siapa yang tidak akan terbangun karena dicekcoki seseorang – dalam kasus ini istrinya – panjang lebar dalam satu tarikan nafas. "Hey Mione, akhirnya kau keluar." Suaranya masih parau, dengan kata lain Draco belum sepenuhnya sadar.

Hermione memutar kedua bola matanya. "Berhenti bicara dan pindahlah dari sini." Hermione berbicara dengan nada dinginnya – mungkin karena kini ia seorang Malfoy –

Draco mulai bangkit walau matanya masih mengerjap. Dirasakan tulangnya sedikit kaku saat digerakkan. Tentu itu akibat tidur di lantai tanpa beralaskan apa apa. Setelah puas mengucek mata, Draco mengarahkan pandangannya ke arah Hermione. "Kau baik saja Mione?" matanya membelalak – beda dengan tadi yang hanya 5 watt – melihat keadaan Hermione sekarang, tangannya terjulur untuk menyentuh wajah Hermione.

Dengan kasar Hermione segera menepis tangan Draco. "Tidak usah basa basi Draco." Hermione berdiri dan meninggalkan Draco. Tapi sepertinya ia melupakan sesuatu. Hermione segera berbalik mengarah ke Draco yang masih duduk di lantai. "dimana dapurnya?"

"Dapur?" Draco mengernyit masih belum mengerti. Ia bingung apa yang akan dilakukan Hermione di dapur. Draco membayangkan Hermione pergi ke Dapur untuk mengambil pisau, dan pisau itu akan digunakan untuk menikamnya karena Draco sudah membuatnya kesal pagi ini.

Hermione menghela nafas tak sabar. "Ya. Kau tau dapur bukan? Apa aku harus menjelaskan apa itu Dapur?"

"Apa yang akan kau lakukan disana?" Draco masih ngeri membayangkan imajinasinya tadi.

"Aku akan membuat makanan karena aku lapar. Bukankah itu fungsi Dapur? Berhenti berceloteh dan beritau aku dimana letak Dapurnya!" Hermione sangat kesal sekarang, apalagi perutnya sedang konser sekarang.

Draco menghela nafas lega. "Kukira kau akan..." merasakan pandangan menusuk Hermione, Draco segera mengganti topik. "Jika kau ingin makan, tidak perlu membuatnya. Makanan sudah disiapkan di meja makan. Meja makan berada di.."

"Ya ya. Aku sudah tau dimana letak meja makannya. Terima kasih." Hermione masih sempat memperhatikan rumah ini kemarin malam. Jadi, tidak perlu minta diberitau dimana letaknya, karena menurutnya, Draco terlalu berbelit belit dalam mengungkapkan sesuatu. Hermione segera meninggalkan Draco dan menuju ruang makan.

Draco memang sengaja melama lamakan pembicaraan agar ia dapat lebih lama berbicara dengan Hermione. Hanya berbicata – atau berdebat – itu sudah dapat menyenangkan hati Draco yang biasanya dingin itu. Draco berdiri dan melambaikan tongkatnya seingga bantal dan selimut tadi hilang. Lalu, ia pergi menuju kamar mandi untuk menyegarkan badannya.

~Dramione~

Hermione sudah menghabiskan satu mangkuk sup tomat dan satu roti bakar. Kini perutnya sudah puas, dan sekarang Hermione sedang menghabiskan teh-nya. Ia cukup bingung bagaimana Draco tau ia senang meminum teh. Karena hanya di meja Hermione yang terdapat segelas teh. Sedangkan di meja Draco, hanya ada segelas kopi.

Draco masuk ke Ruang Makan dan langsung mengecup puncak kepala Hermione yang menyebabkan Hermione sedikit terkejut. "Morning my lovely wife." Draco menyunggingkan senyumnya – bukan seringai – Draco sudah siap dengan setelan jas-nya dan dasi yang sengaja ia tidak pasang dengan benar berharap Hermione akan memperbaikinya.

Hermione hanya menatap datar Draco. "Jangan berindak menjijikkan seperti itu Draco. Aku bukan wanita yang akan gila hanya dengan seringaian-mu." Hermione segera menghabiskan teh-nya.

"Apa ada yang salah dengan itu?" ucap Draco seraya memakan telur orak ariknya. "Kau istriku sekarang Mione."

"Hanya 4 bulan!" desis Hermione berbahaya. Ia akan meninggalkan Draco sebelumnya, tapi Hemione menangkap hal yang tidak pas dengan Draco. "dasimu belum terpasang dengan benar." Sekarang Hemione benar benar meninggalkan Draco.

Draco hanya menyentuh dasinya. Mungkin harapannya terlalu tinggi untuk mengharapkan Hermione akan membenarkan dasinya.

Burung elang keluarga Malfoy menjatuhkan surat di depan Draco. Setelah memberi sosis pada burung itu, Draco membuka suratnya. Dapat dilihat olehnya tulisan Ibunya yang indah.

Dear Draco,

Kami sedikit kecewa dengan keputusanmu ini. Tapi tenang Draco, 4 bulan lagi, kau tetap bisa mempunyai istri.

With Love,

L. Malfoy & N. Malfoy.

Draco mengernyit tidak mengerti, apa orang tuanya akan membantu Draco agar Hermione tetap menjadi istrinya hingga maut memisahkan?

Atau...

.

.

~TBC~

Yeeay :D Akhirnya selesai :p Sorrry Saya terkena WB... Oke, saya tau ini fic suck banget -_- Flammer saya terima dengan lapang dada

Chap depan, mungkin update tanggal 23 April (Ultah saya) :p Mungkin ada yang mau ngasih kado fic Dramione? Saya akan menerima dengan senang hati *ngarep*

Ada yang mau bantu gimana bikin summary bagus? '-'

Genre-nya apa ya yang bagus?

Oh ya, buat reviewers yang benama Bram: Err... Kamu laki laki atau perempuan ya? '-'

Thank you guys... yang bantu jawab terima kasiiiih ^^

R&R?

LovelYuzka

Jember – Jawa Timur

10 April 2014; 16:35 WIB