Hermione's PoV
Aku sedang duduk di kursi ruang kerjaku di kementrian sekarang. Melihat setumpuk perkamen di atas mejaku yang ingin diperiksa. Aku bingung, tak bosankah mereka berada di atas mejaku? Karena aku sudah lelah dengan mereka. Kulayangkan pandanganku ke arah perapian yang tak jauh dari sini.
Kejadian tadi pagi berkelebat di depan mataku. Mungkin aku terlalu jahat pada Draco. Bukan, sangat jahat malahan. Maaf... Aku hanya tidak mau terperangkap pada perasaan yang kian hari kian parah. Mungkin karena ada di dekatmu. Kejadian setelah pesta pernikahan kembali melintas di pikiranku.
Look at me
.
Chapter 5
.
Disclaimer : Semua tokoh yang ada di fic ini milik J.K Rowling. Yang tidak kalian ketahui, itu punya saya. Saya tidak mengambil keuntungan komersil apapun. Saya hanya seorang fans yang suka berimajinasi.
DMXHG
Warning : Not Perfect
.
Yuzka's Present
Happy Read ^^
.
Created : 22 April 2014
Publish : 23 April 2014
.
Pengucapan ikrar janji suci telah dilaksanakan. Aku merasa tubuhku ringan sekarang. Aku juga bisa melihat Draco dengan senyuman bahagianya hingga membuatku tak bisa menahan senyuman yang terkembang dengan sendirinya di wajahku.
Draco menjulurkan tangannya padaku, bermaksud untuk mengajakku berdansa. Dengan senang hati dan tanpa berpikir 1.5 kali, aku langsung menyambut tangannya yang lalu menarikku ke lantai dansa. Tubuhku tanpa dikomando bergerak mengikuti musik dan gerakan Draco. Aku terlalu hanyut dalam dansa ini, hanya satu arah yang kulihat sekarang, wajah Draco. Mulutnya sedang membentuk senyum lebar sekarang, mata kelabunya menghipnotisku. Ia juga sedang memandangku sekarang, mungkin wajahku sudah memerah sekarang, tapi aku tidak peduli. Kami tidak berbicara sama sekali, tapi entah kenapa aku sangat menikmatinya.
Hingga sebuah suara dingin dan menusuk memanggilku. Lucius berada tak jauh dariku dan Draco. Sebagai menantu, atau setidaknya calon-mantan-menantu yang baik, aku harus segera menghampiri Lucius. Aku melepas peganganku dari tangan dan bahu kokoh Draco. Aku menghampiri Lucius yang sedang berdiri dengan angkuhnya disana. "Permisi Luci –"
"Panggil aku Mr. Malfoy." Ia masih dengan suara dinginnya. Tidak ada raut bahagia di wajahnya. Lebih tepatnya, aku tidak pernah melihat ia menampilkan wajah bahagia. Mungkin dari lahir ia memang seperti itu.
"Ba- baik Mr. Malfoy." Jika ia bukan seorang Malfoy yang terhormat, mungkin aku sudah membalasnya dengan ketus sekarang.
"Aku tau apa rencanamu Jalang!" giginya masih terkatup. Jalang katanya? Serendah itukah diriku? Mataku memanas mendengarnya. "4 bulan lagi, Astoria akan menikahi Draco. Jadi, jangan kau pakai godaanmu lagi pada anakku."
Setelah mengatakan itu semua ia langsung berbalik dan meninggalkanku yang masih kebingungan. Aku hanya terpaku mendengar itu semua. Ia kira aku menggoda anaknya? Apa aku terlihat seperti perempuan murahan?
Aku dapat merasakan Draco berjalan ke arahku. "Kau tak apa? Apa yang ia bicarakan padamu?" Suaranya sungguh lembut, berbeda dengan ayahnya. Aku hanya diam untuk beberapa saat, bingung harus menjawab apa.
"Mione?" Suaranya terdengar jelas bahwa ia khawatir. Draco menaruh tangannya di bahuku bermaksud menenangkanku mungkin. Tapi apa yang kulakukan? Aku hanya menyentakkan tangannya dan berlari menjauh darinya dengan air mata di setiap mataku. Sepertinya aku kena karma sekarang. Akhirnya aku menyadari apa perasaanku ini terhadap Draco. Aku menyukainya, ya. Mungkin terlalu cepat, tapi tetap sakit jika kau dijatuhkan.
Aku tidak perlu mendekati Draco. Aku harus menjauhinya. Dia akan menjadi milik orang lain nantinya. Orang lain yang lebih pantas pastinya. Jangan membawaku terbang terlalu tinggi, karena nanti kau akan melepaskaku, dan itu sudah pasti sakit. Jika kukatakan padamu, kau tidak akan mendengarkanku. Jadi, jalan terbaiknya adalah, membuatmu menjauh sendiri dariku.
~Dramione~
Aku melihat jam, sudah jam 5. Senyumku terkembang melihatnya, aku akan menemui ayahku. Aku akan bersiap siap sebelum melihat setumpuk perkamen yang masih ada di mejaku. Aku lupa, semua ini harus selesai hari ini juga. Dengan berat hati, aku duduk kembali di kursiku, dan mulai mengecek perkamen perkamen itu secepat yang aku bisa.
Sempat terpikir untuk membawa perkamen perkamen ini ke rumah sakit. Tapi aku tak mau melihat ayah sedih melihatku dengan perkamen perkamen ini. Jadi, pilihan terbaik adalah menyelesaikan perkamen perkamen ini secepatnya di ruang kerjaku.
~.~
Beberapa jam telah kulewati. Perkamen yang tadi ada di mejaku, sudah kuperiksa semua. Jadi, yang harus kulakukan sekarang adalah pergi ke rumah sakit dan menemui orang yang paling berharga di hidupku saat ini, Ayahku.
Kulihat jam dinding, sekarang sudah pukul 8 malam. Secepat mungkin, aku mencari jaringan flo terdekat untuk pergi ke Rumah Sakit.
~Dramione~
Aku melewati lorong lorong rumah sakit ini yang sudah tak asing lagi bagiku. Tentu saja, setiap hari aku melewatinya. Dengan mantap, kulangkahkan kakiku menuju kamar ayahku.
Setelah melewati beberapa lorong, akhirnya aku sampai di pintu kamar ayahku. Segera kuputar kenop pintu. Dan pemandangan yang kulihat, bukan seprti yang biasanya kulihat. Biasanya hanya ada seorang berambut coklat, ayahku, dan beberapa orang dengan pakaian putih lengkap. Sekarang, ada seseorang yang sedang berbincang hangat dengan ayahku. Tanpa melihat wajahnya, aku sudah tau siapa dia. Sedikit yang memiliki rambut pirang dan kulit pucat sepertinya.
Ya, dia Draco. Bolehkah aku memanggilnya Draco-ku? Dia suamiku, lebih tepatnya suami sementaraku. Tapi aku ingin ia menjadi suamiku hingga ajal. Aku baru menyadari, aku jatuh ke dalam pesona Draco. Sial, aku harus kembali. Tapi bisakah?
~Dramione~
Draco's Pov
Setelah mendapat surat dari kedua orang tuaku, aku segera ber-apparate menuju Malfoy Manor. Benarkah mereka akan membantuku untuk tetap mendapatkan Hermione? Jika ya, akan kuterima dengan senang hati.
Aku telah sampai di depan Malfoy Manor dan segera masuk kedalam. Seorang peri rumah membungkuk dalam padaku di ambang pintu. "Selamat datang Mr. Malfoy. Malfoy senior sedang ada di ruang keluarga saat ini." Ucapnya masih dengan membungkuk.
Aku hanya menjawabnya dengan mengangguk sangat kecil sampai sampai hampir tak terlihat. Aku melanjutkan perjalanan perjalanan menuju ruang keluarga Malfoy Manor. Tentu aku tidak harus takut tersesat disini, hampir seluruh hidupku, kuhabiskan disini. Sesampainya di ruang keluarga, aku melihat dua Malfoy senior berbincang dengan...
Tunggu,
Oh, itu Astoria.
"Sudah kukira, kau akan datang son." Mom menghampiriku, memelukku, dan mencium kedua pipiku. Tipikal seorang ibu, tapi aku menikmatinya. Walau terkadang aku gengsi saat masih kecil.
"Tentu mom, pasti aku datang." Ucapku seraya membalas pelukan ibuku. Setelah puas berpelukan dengan ibuku, aku segera menuturkan tujuan utamaku kesini. "Aku hanya ingin tau –" Ucapanku langsung dipotong oleh suara dingin khas ayahku.
"Kami sudah tau. Duduklah." Ia lebih terlihat seperti memerintah daripada memperlakukan seorang tamu dengan baik. Aku menuju single sofa favoritku, sebelum suara dingin itu menghentikan langkahku. "Disamping Astoria."
Aku memutar bola mataku, kenapa harus dengan Astoria jika ada sofa lainnya yang kosong? "Dad, kau bisa –" Ingatkan aku untuk mengajari atau memberitaunya bahwa sangat tidak sopan memotong perkataan orang lain. Hah, ayah dan anak beda sekali.
"Apa susahnya duduk disana. Ms. Granger tidak akan keberatan lagipula." Aku pernah berpikir, apa ia benar ayahku? Ia memperlakukanku bagai bawahannya saja. Tapi setelah melihat rambut dan matanya yang sama persis denganku. Dengan terpaksa, aku harus mempercayai bahwa ia ayahku. Aku juga tidak mau disebut anak durhaka.
Dengan wajah bosan dan terpaksa (lagi), aku menuju sofa yang Astoria duduki dan duduk disampingnya dengan tetap menjaga jarak. "Jadi?" Aku merasakan aura negatif dari mereka. Apa yang mereka rencanakan?
"Kami tau kau akan bercerai dengan Ms. Granger 4 bulan lagi. Benar bukan?" Ia berbicara dengan bubuk bahagia seakan akan membicarakan besok ulangan akan dibatalkan. Apa maunya?
"Sebelum aku menjelaskan, aku harap kau tidak memotong pembicaraanku sampai selesai," ia hanya menatapku bosan dan kuanggap itu sebagai jawaban 'ya' dan segera aku melanjutkannya. "pertama, Hermione seorang Malfoy sekarang. Kedua, aku tidak mau bercerai dengannya 4 bulan lagi, itu hanya alibi agar ia mau menikah denganku." Sekarang aku puas dapat menyelesaikan ucapanku sampai akhir tanpa dipotong.
"Sudah selesai berbicara?" Dia mulai menyebalkan lagi. Aku hanya membalasnya dengan mendengus. "Pertama, aku tetap menganggapnya seorang Granger mudblood, bukan –"
Emosiku tidak bisa ditahan lagi, aku segera bangkit dan berbicara dengan nada yang lebih tinggi. "Jangan sebut Hermione seperti itu. Kau pikun atau apa, status darah sudah dihapus."
"Aku tidak pikun, karena aku masih mengingat bahwa kau sendiri yang membuat peraturan untuk tidak memotong pembicaraan orang lain," Ia berkata dengan sangat tenang, tapi membuat suasana lebih mencekam. "Duduk kembali!"
Aku kembali duduk dengan wajah keras. Urat urat di dahiku tercetak dengan jelas. Sudah terlihat bahwa aku sedang sangat kesal kali ini. Bahkan aku melewatkan jam kerjaku hanya untuk pembicaraan yang sama sekali tidak berguna ini. Aku hanya diam menunggunya melanjutkan ucapannya. Asal aku bisa merapalkan mantra agar tidak bisa mendengar dirinya berbicara, aku akan lakukan itu. Hanya saja, jika melakukan itu,masih untung jika aku tidak terkena mantra Cruciatus.
"Tapi itu yang akan terjadi 4 bulan lagi. Kalian akan becerai, akan kupastikan itu. Tapi, aku tetap seorang ayah yang baik," aku membelalakkan mata mendengarnya, dia akan memastikan aku dan Hermione akan bercerai. Dan apa lagi, ayah yang baik? Aku baru tau, ayah yang baik ingin anaknya bercai dengan pujaan hatinya. Aku hanya diam mendengarnya melanjutkan ucapannya dengan emosi yang kutahan sejak tadi. "jadi, setelah kau bercerai dengan Ms. Granger," Lupakah ia bahwa Hermione telah menikah denganku. "kau akan menikah dengan Astoria. Astoria dengan senang hati akan menerimamu. Dan aku yakin kau akan menerimanya bukan? Siapa yang tidak mau dengan Astoria. Keluarga bangsawan, anggun, cantik, pintar. Apa lagi yang kurang?"
Aku tercengang melihatnya, menikah dengan Astoria? Bukannya aku sudah menikah dengan Hermione. Sungguh, dia adalah ayah yang tidak peka sama sekali. "Aku tetap mencintai Hermione." Ucapku dingin seraya bangkit untuk keluar dari sini. Emosiku sudah tidak bisa kutahan.
"Tunggu saja sampai efek Amortentianya habis Astoria," suara dingin itu membuatku berhenti, sekali lagi, aku harus menahan emosiku. "dan dia akan berbalik padamu." Aku dapat melihat Astoria tersenyum dengan bangga, apa yang ia pikirkan? Di lain sisi, aku melihat ibuku yang cemas sejak tadi. Hanya ia yang mengertiku disini.
"Terserah apa katamu." Aku segera keluar dari bangunan megah sekaligus menyeramkan ini. Aku butuh seseorang kali ini. Entah kenapa, sosok ayah Hermione melintas di kepalaku. Mungkin aku membutuhkan figure seorang ayah sekarang. Aku menghubungi sekertarisku, Isobel bahwa aku tidak akan bekerja seharian ini.
Aku be-apparate menuju St. Mungo dan menuju kamar Mr. Granger. Aku masuk ke kamar Mr. Granger dan disambut dengan senyuman hangatnya. Inilah keluarga. "Hey Draco, menantu terbaikku." Ucapnya seraya merentangkan tangannya.
Aku tertawa mendengarnya. "Berapa mantu yang kau punya William?" Aku memeluknya seakan akan ia ayahku. Kuharap ayahku sepertinya. Kami berbincang bincang sampai lupa waktu. Ia terlihat sangat sehat sekarang. Pembicaraan kami terhenti karena aku melihat istriku terpaku di ambang pintu.
"Hey Mione." Ucapku dengan memberikan senyum terbaikku.
.
.
~TBC~
Oke... Ini dia, telat 3 hari dari ultahku -_- Maaf sebelumnya. Saya mencoba menulis dengan sudut pandang orang pertama. Menurut kalian enak yang mana? Ada yang bingung dengan alurnya? Thx yang udah review, follow dan fav ^^ Oke, last review lagi?
Jember – Jawa Timur
26 Apr. 14 19.35
~LovelYuzka~
