Hermione's PoV
Aku merasa sangat rendah sekarang. Dipermalukan di depan umum oleh mertuaku sendiri. Aku tidak menganggapnya sebagai metuaku sebenarnya, tapi dikatakan seperti itu oleh ayah dari suamiku, di depan umum, di depan kalangan kalangan atas. Mataku memanas, kurang-kah hinaannya untukku setelah Mudblood, Muggle-born dan... Jalang?
Aku merasakan genggaman tangan Draco di tanganku melonggar. Apa ia merasa aku adalah seorang jalang seperti yang ayahnya katakan. Hidupku hancur sekarang, kehilangan cinta dan dipermalukan. Haruskah kuterima semua ini? Jika boleh memilih, aku memilih untuk menolaknya, siapa yang mau mengalami nasib yang sangat mengenaskan sepertiku. Belum lagi Dad yang sedang sakit. Poor you Mione.
Look at me
.
Chapter 7
.
Disclaimer : Semua tokoh yang ada di fic ini milik J.K Rowling. Yang tidak kalian ketahui, itu punya saya. Saya tidak mengambil keuntungan komersil apapun. Saya hanya seorang fans yang suka berimajinasi.
DMXHG
Warning : Not Perfect
.
Yuzka's Present
Happy Reading ^^
.
Created : 17 Mei 2014
Publish : 17 Mei 2014
.
Draco's PoV
Sial!
Kenapa mereka juga harus kesini. Baru saja aku akan mendapat jawaban darinya, entah jawabannya akan membuatku bahagia atau sebaliknya. Aku mengambil dompetku dan menaruh beberapa Galleon di atas meja. Kencan – setelah menikah – ku hancur karena ayahku sendiri. Jika aku dan Hermione tetap makan disini, tentu kami akan mendapat tatapan penasaran dari pengunjung restoran ini.
Aku berdiri dan menjulurkan tanganku pada Hermione yang sedang shock sepertinya. Tentu ia merasa direndahkan oleh ucapan ayahku. Tidakkah ia sadar bahwa ia mengatai istri anaknya? Jika ia menghina Hermione, maka ia menghinaku juga. "Sepertinya suasana di restoran ini tidak nyaman Mione, mau ke tempat lain?" ujarku seraya memberikan senyumanku, berusaha menenangkannya.
Ia hanya menatapku bingung, aku memang berlagak tidak ada yang terjadi barusan, malahan aku menganggap tidak ada ayahku disini. Aku menatap matanya yang sedikit berkaca kaca. Bagus, ayahku sendiri membuat ratuku menangis.
Perlu beberapa waktu bagi Hermione untuk menerima tanganku. Aku menatap mereka bertiga – dua diantaranya adalah pengganggu – "Mom, kami duluan." Aku memberikan senyumanku pada ibuku tercinta. Kami berjalan menuju pintu keluar, aku merasa tidak betah disini.
Hampir saja kami mencapi pintu keluar, sebuah suara – tak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemiliknya – dingin khas miliknya membuat kami terhenti. "Inikah caramu memimpin Malfoy Corps?"
Aku memang tidak masuk selama 2 hari berturut turut. Selama itu aku tidak menyentuh segala hal disana, aku yakin esok aku akan lembur. Tapi apa aku salah mengambil cuti untuk meluangkan waktuku untuk istri tercintaku? "Itu urusanku." Jawabku sekenanya, dapat kupastikan ia tidak puas dengan jawabanku, tapi siapa peduli.
"Dan kau memilih mengahabiskan waktumu dengan jalang itu?" seorang ayah merendahkan anaknya – seperti yang kukatakan tadi, jika seseorang menghina Hermione, maka ia juga menghinaku – hubungan yang manis antara ayah dan anak bukan.
Kepalaku memanas mendengarnya, jika Hermione jalang, maka dia apa? Yang pasti lebi rendah dari jalang. Aku menatap tajam ke arah ayahku sendiri. "Bagimu ia jalang, mugkin kau harus memakai kaca mata atau kaca hati. Tapi bagiku, ia bidadari." Ujarku dengan penekanan di setiap katanya dan langsung menarik tangan Hermione keluar dari tempat yang semakin panas ini. Aku dapat melihat bahwa ayahku ingin memakiku lebih, tapi untungnya ibu menahannya.
Aku melihat orang yang sedang berjalan bersamaku disampingku, pandangan Hermione sejak tadi kosong, tidak seperti biasanya yang cerewet dan keras kepala. "Kau tak apa? Maafkan soal tadi." Ucapku khawatir.
Pandangannya masih kosong walau aku mengajaknya bicara. Dan jawaban yang kudapatkan hanyalah anggukan kecil darinya. Seburuk itukah dirinya.
"Kau ingin makan dimana Mione?" jawabku seolah tidak ada yang terjadi berharap ia dapat melupakan kejadian tadi.
"Terserahmu." Hanya gumaman kecil itu yang kudapatkan dan ia masih melamun. Aku masih ingat dimana cafe yang ia minta tadi. Cafe yang sedikit ramai menurutku.
"Kita kesana?" ujarku seraya menunjukkan cafe yang kumaksud. "tadi kau ingin kesana bukan."
Lagi lagi, aku hanya mendapat anggukan kecil darinya. Aku segera menariknya dan masuk ke cafe tersebut. Aku memilih tempat yang menjauhi keramaian. Seorang pelayan mendatangi kami, Hermione langsung mengucapkan apa yang ia pesan dengan pandangan yang masih kosong.
Saat menunggu makanan, aku bertanya pada Hermione karena aku sangat tak nyaman dengan suasana ini. "Apa sesuatu yang mengganggumu? Katakan padaku." Aku menatapnya serius.
"Apa aku seperti jalang?" ia masih dengan pandangan kosongnya. Apa ia lupa tadi bahwa aku mengatakan bahwa ia adalah bidadariku. "dari hatimu terdalam." Ia masih dalam lamunannya.
Aku menghela nafas, jadi hal tidak penting itu yang membuatnya seperti ini. "Dengar dan lihat aku Hermione," aku mengangkat dagunya agar ia dapat melihatku. "kenapa kau percaya pada ayahku? Jika kau jalang, apa aku mau menikah denganmu. Kukira yang membuatmu terus menerus seperti ini adalah pernyataan 'kau tidak pantas menjadi Malfoy.' Dan –"
"Aku sudah tau jawaban dari pernyataan itu," aku tersenyum puas mendengarnya. "aku memang tidak pantas menjadi seorang Malfoy, jadi aku tidak mempermasalahkan itu." Jawabnya dengan tatapan serius.
Aku menepuk dahiku pertanda aku sangat pasrah. "Dimana otak cemerlangmu itu Hermione? Jika kau tidak pantas menjadi Malfoy, apa aku akan menikahimu?"
"Kau yang harusnya memakai otakmu," ia menatapku tajam. "apa ada seorang Malfoy yang memiliki darah lumpur? Apa ada seorang Malfoy yang akan... ber... ce... ber... pisah setelah 4 bulan pernikahannya? Jika ada beritau aku."
"Kau," jawabku sekenanya. "tapi, aku sebenarnya tidak mau bercerai denganmu 4 bulan lagi." Aku menatap serius 2 manik coklatnya.
Ia menghela nafas pasrah sepertiku tadi. "Kapanpun kau ingin, aku siap. Aku mengerti, aku memang istri yang tak pantas." Sekarang ia menunduk.
Aku melongo mendengarnya, jika ini dalam hal lain, tentu aku senang mendenganya. "Bagaimana jika kita tidak akan pernah becerai?" ujarku dengan sangat tenang agar emosiku tidak meledak.
Ia hanya menatapku heran. Sekarang aku yang jadi gugup. Bagaimana kalau ia sudah mencari laki laki penggantiku? Sialnya hidupku.
Hermione's PoV
Apa yang ia katakan? Tidak akan bercerai? Tentu! Akan kuterima dengan senang hati. Tapi ... kumohon ulangi sekali lagi, aku tidak yakin dengan apa yang kudengar. "Bisa ulangi lagi?" ujarku memohon.
Draco hanya mendengus keras, kesal tentu saja. Seketika pelayan datang membawa nampan nampan makanan pesanan kami yang di terbangkan. Setelah pelayan itu pergi, aku kembali menatap Draco. "Tidak ada siaran ulang." Ucapnya langsung memakan makanan pesanannya.
Aku memutar bola mataku, "Kalau begitu aku tidak dapat menjawab pertanyaanmu." Jawabku seraya memberikan senuman manis – palsu – ku. Aku juga mulai memakan makananku.
Proses pemakanan makanan ini belangsung tanpa adanya suara dari pemiliknya masing masing. Draco selesai terlebih dahulu, aku masih tetap melanjutkan makanku. Ia menatapku dengan serius. "Begini," ia menatapku serius dengan senyuman tipisnya setelah aku menyelesaikan makanku. "aku ingin kita tidak bercerai. Aku ingin pernikahan ini tidak berakhir sampai kapanpun."
Aku mematung mendengarnya, hatiku pasti sedang pesta kembang api besar sekarang. Ia mengambil salah satu tanganku dengan lembut, aku sangat gugup tentu saja. "Hermione Jean Malfoy," aku menatapnya tanpa berkedip. "would you be mine, forever."
Tanpa pikir panjang, aku langsung mengangguk dan memberikan senyuman lebarku. Aku bahagia, sangat bahagia. Mataku meneteskan air mata bahagia. Walau mataku hampir terpejam karena aku menangis – bahagia – aku dapat melihat bahwa Draco juga tersenyum padaku.
Seketika aku lupa dengan kejadian yang baru saja terjadi dengan Lucius. Aku lupa bahwa bisa saja ia membuatku lepas dari Draco. Otakku tidak berfungsi seperti biasa, mungkin karena terlalu bahagia. Aku sangat bahagia kali ini, kuharap kebahagiaan ini sampai selamanya.
~Dramione~
Aku terbangun dengan badan yang hampir remuk. Jangan tanyakan apa yang baru saja kulakukan. Aku dapat merasakan hembusan nafas Draco di leherku yang membuatku sedikit geli. Lengan kokoh Draco masih setia melingkar dipinggangku, agak susah untuk keluar dari kurungannya. Setelah berpakaian dengan benar, aku segera membangunkan Draco.
"Hey, kau pirang! Sekarang sudah siang, bangunlah." Ujarku seraya mengguncangkan tubuhnya agar pemiliknya segera kembali ke alam sadarnya. Tapi Draco masih saja memejamkan matanya rapat rapat.
"Emm... aku masih ingin tidur," jawabnya masih dengan mata yang masih setia ditutupnya. "kau temani aku ya." Tiba tiba saja ia menarikku ke dalam pelukannya. Harusnya aku sadar sekarang aku sedang bersama seorang ular licik. Seringai muncul di wajahnya.
Aku mulai meronta dalam pelukannya, ini sudah saatnya bangun dan berangkat ke kementrian. "Draco! Aku harus beangkat ke kementrian setelah ini. Lepaskan aku." Tubuh kecilku terus meronta meminta keluar dari pelukannya. Tapi sia sia, tubuku tidak bisa keluar darinya.
"Kau bisa ambil cuti lagi hari ini." Jawabnya santai tanpa melepaskan pelukannya. Ia tak sungkan sungkan untuk tak membuka matanya sampai sekarang.
"Aku tidak sepertimu pirang, kumohon lepaskan aku." Aku sengaja untuk memelaskan suaraku, berharap agar ia melepaskan pelukannya. Aku tidak mau tumpukan perkamen di meja kerjaku menjadi dua kali lipat besoknya. Aku juga tidak mau terlambat lagi menjenguk Dad. Untungnya kemarin kami masih sempat menjenguknya, entah kenapa St. Mungo memberi batasan pada kami untuk menjenguk Dad.
Aku merasakan pelukannya makin mengendur, rencanaku berhasil untuk keluar dari pelukannya. Segera saja aku keluar dan berdiri sebelum ia berubah pikiran. Aku menatap wajahnya, masih damai di alam mimpinya. Segera kuambil gelas berisi air yang tak jauh dari diriku. Tanpa berpikir dua kali, aku menyiramkan air ke wajahnya membuatnya langsung bangun terduduk.
Aku tertawa keras melihatnya seperti orang kebingungan dengan wajah dan sebagian rambutnya yang basah kuyup. Setelah mendapat tatapannya tajamnya, baru aku dapat – butuh beberapa menit – menghentikan tertawaku.
Aku tidak tahan mendapatkan tatapan tajamnya terus menerus. "Mandi, sarapan, lalu berangkatlah ke tempat kerjamu." Ujarku seraya berjalan menuju kamar mandi.
~.~
Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, aku turun menuju ruang makan. Aku dapa melihat Draco sudah duduk di mejanya dan memakan roti isinya. Aku duduk di hadapannya dan menyesap teh-ku dan memakan roti yang sudah kuolesi selai nanas. Draco tidak mengeluarkan sepatah kata-pun sampai sekarang. Setelah merasa sudah cukup, aku segera berdiri dan akan berangkat ke kementrian. "Aku pergi dulu Draco."
"Tidak ada morning kiss?" ujanya sambil menyeringai nakal.
Aku memutar bola mataku, tapi tetap saja aku menghampirinya dan memberikan kecupan di bibirnya. "Sudah puas Mr.? Aku harus berangkat sekarang." Segera aku berjalan menuju perapian.
"Aku lebih puas dengan tadi malam." Ucapnya sambil terkekeh. Aku memilih diam dan tidak berkomentar atas perkataanya. Pikiranku melayang ke kejadian tadi malam. Benarkah pilihanku?
Update ^^ setidaknya tidak selama kemarin :p Thanks yang sudah review, follow, dan fav :D Mione enaknya hamil atau gk ya x) kritik dan saran yang membangun sangat dianjurkan untuk dituliskan di kotak review ^^
Balasan Review (yang punya akun saya PM ^^)
ZeeMe: duh, saya bingung gregetnya gimana X_X iya, memang dikit... ini update ^^ review lagi? :D
Adellia Malfoy: Haha, iya :p saya suka bikin orang penasaran XP ini update ^^ review lagi? :D
Nong: Rasanya kurang? Mau vanilla atau strawberry? *malah lawak* Sory ya ini update ^^ review lagi? :D
hana37: yep (y) ini update ^^ review lagi? :D
lunar: iya memang maaf... saya memang author yang buruk ;-; ini update ^^ review lagi? :D
Puchan: Bagus? Makasih *peluk* ini update ^^ review lagi? :D
Farah Zhafirah: Iya ^^ Hermione udah suka ^^ Lucius harus gitu dong x) ini update ^^ review lagi? :D
LovelYuzka
Jember – Jawa Timur ; 17 Mei 2014, 15:52
