Hermione's PoV
Ini hidupku sekarang. Bahagia. Keadaan dad mulai membaik sekarang. Aku dan Draco sudah layak menjadi suami istri. Aku memang mencintainya, sejak kapan? Aku tak tau. Bagaimana bisa? Aku juga bingung. Tapi yang terpenting, aku bisa tertawa di St. Mungo bersama dad tersayangku dan suami tercintaku.
Look at me
.
Chapter 8
.
Disclaimer : Semua tokoh yang ada di fic ini milik J.K Rowling. Yang tidak kalian ketahui, itu punya saya. Saya tidak mengambil keuntungan komersil apapun. Saya hanya seorang fans yang suka berimajinasi.
DMXHG
Warning : Not Perfect
.
Yuzka's Present
Happy Reading ^^
.
Created : 12 Juni 2014
Publish : 17 Mei 2014
.
2 bulan kemudian~
Keadaan dad entah kenapa kembali memburuk. Ia tidak sadarkan diri selama seminggu terakhir ini. Selama seminggu aku menunggunya membuka mata dan kembali bercanda bersamaku dan Draco. Malam harinya Draco akan datang dan menggantikanku menjaga dad. Ia menyuruhku untuk beristirahat di kasur yang ada di sudut ruangan. Tapi ia berbeda kali ini, seperti sangat kelelahan.
"Kau istirahatlah Mione," suaranya lemah, ia tidak bisa berbohong untuk mengatakan baik baik saja. "kau terlihat lelah, aku akan menggatikanmu."
Aku hanya tertawa kecil mendengarnya, dia bisa menjadi penghibur saat ini. "Lihatlah siapa yang berbicara. Kau baru saja bekerja, kau saja yang istirahat, aku tak apa." Aku sudah mengundurkan diri dari kementrian. Draco memohon mohon padaku layaknya anak kecil, dengan alasan takut jarang bertemu denganku. Oh ya, ada satu lagi alasannya, takut anak kami nanti kekurangan kasih saying karena kedua orangtuanya sibuk. Sudah jelas kami belum mempunyai anak. Aku bilang aku akan mengundurkan diri jika aku hamil. Kuakui dia pintar, ia bilang bahwa nanti aku akan sedikit aneh jika tidak punya pekerjaan dan akan membuatku stress yang tidak baik untuk kandungan. Jadi ia bilang, 'kenapa tidak dari sekarang saja? Aku punya uang yang lebih untuk hidup.' Jadi sejak itu aku mengundurkan diri dari kementrian, tidak, Draco yang membuat semuanya terjadi.
"Aku sudah bilang aku tidak apa apa." Ucapnya seraya membelai rambutku. Susah jika kami sama sama keras kepala seperti ini.
Aku memilih tidak menjawabnya. Ia duduk disampingku. Aku menaruh kepalaku di bahunya. Hanya diam dengan tangan yang saling bertautan serta saling mendengar helaan nafas yang keluar dari masing masing. Aku selalu menikmati momen seperti ini dengan Draco.
Semuanya terasa menenangkan. Sebelum aku merasa dunia dijungkir balikan oleh seseorang. Kepalaku pening. Dan seketika itu juga, pandanganku digantikan oleh gelap gulita.
~Dramione~
Perlahan kubuka mataku, cahaya berebut masuk kedalam kelopak mataku. Mataku masih mengerjap untuk beradaptasi dengan cahaya di ruangan ini. Setelah kubuka mataku, aku mendapatkan diriku berada di ruangan yang sama dengan ruangan dad. Aku sedang berbaring di tempat tidur ruangan ini. Kudapati Draco sedang tidur pulas disampingku – ia tidur di salah satu kursi dengan menaruh kepalanya di lipatan tangan yang ia taruh di atas tempat tidur tempatku berbaring – jujur, aku tidak tega untuk membangunkannya.
Aku memperhatikan isi seluruh ruangan berharap ada suatu petunjuk yang dapat memberitahuku kenapa aku bisa disini sekarang. Aku memilih untuk mendudukkan diriku. Aku meringis saat mencoba untuk duduk. Mungkin itu yang menyebabkan Draco terbangun.
"Mione," Ia segera membantuku untuk duduk dan menyandarkan punggungku di kepala tempat tidur. "ada kabar yang... mengejutkan, tapi menggembirakan." Wajahnya terpoles oleh senyum lebar nan sumringahnya.
Dahiku berkerut, kabar apa yang membuatnya sampai sebahagia ini? "Apa itu?" ucapku seraya memberikan senyum tipisku agar sama dengan ekspresi wajahnya saat ini.
"Ada kehidupan lain di tubuhmu." Ujarnya tenang, tapi aku dapat merasakan ia menahan rasa gembiranya agar tidak terlalu berlebihan. Tapi itu wajar jika dia sangat gembira.
Wajahku berubah total, senang, kaget, dan khawatir. Bagaimana jika anakku nanti tidak diakui oleh keluarga Malfoy? Aku sudah yakin – sangat malahan – bahwa bayi yang ada di perutku adalah anak Draco dan AKU. "Sejak...?"
"Sudah 2 bulan." Jawabnya masih dengan senyumnya yang sepertinya sudah dilengket-kan di wajahnya oleh lem super lengket.
Aku baru ingat bahwa jadwal datang bulanku telat. Apa yang kupikirkan selama ini. Perlahan kuraba perutku yang memang sedikit berubah sekarang. Aku menghela nafas panjang, bodohnya aku yang membiarkan diriku kekurangan makan dan begadang semalaman. "Dad bagaimana?"
Draco tersenyum miris, yang jelas ini tidak bagus. "Masih belum sadarkan diri," wajahnya yang tadi bahagia berubah seakan akan ayahnya-lah yang sedang sakit. "mungkin jika dia tau bahwa kau hamil, ia akan cepat bangun."
'Mungkin saja' aku mengangguk semangat dan akan beranjak dari tidur sebelum tangan Draco menahanku dan menyuruhku untuk tidur kembali.
"Suruh siapa kau keras kepala setiap malam." Ia memberikan seringainya yang menuruku menyebalkan sekaligus sangat pas untuk wajahnya – tapi aku lebih memilih senyuman yang ada di wajahnya.
Aku memutar bola mataku, tapi ia ada benarnya juga. "Kalau begitu... bisakah kau yang memberitaunya?" aku menampilkan wajah memelas berharap dia akan menurutiku.
"Apapun itu, akan kulakukan." Ujarnya lalu keluar ruangan ini setelah mengecup keningku.
Sekarang aku sendirian di ruangan ini. Sedikit menyesal menyuruh Draco keluar tadi. Tapi membayangkan Dad akan sadar membuatku mengenyahkan kata 'menyesal'dari pikiranku. Keadaan di ruangan ini sebelum suara gedebuk pintu yang nyaring mengusir kesunyian di ruangan ini.
Aku dapat melihat Lucius berada di ambang pintu dengan wajah menahan emosi, hidungnya kembang kempis seiring dengan nafasnya, dan mulutnya terkatup rapat. Aku agak ngeri melihat mertuaku saat ini. Hubungan kami memang tidak pernah baik selama ini walau aku sudah menjadi seorang Malfoy. Tapi setidaknya, Narcissa sudah mulai membuka hatinya terhadapku. Kembali ke Lucius yang sedang tidak dalam suasana yang baik kali ini.
Ia mendekat kearahku, wajahnya masih penuh emosi. "Apa ini!" ujarnya sambil melempar Daily Prophet ke pangkuanku dengan sangat tidak sopan. Daily Prophet itu adalah edisi kali ini, tapi keadaanya sudah tidak terbentuk dan sedikit basah. Mungkin Lucius baru saja meremasnya dengan tangan yang berkeringat.
Perlahan aku membuka berita utama hari ini, dan mataku melebar melihatnya. 'KETURUNAN KELUARGA MALFOY SUDAH SIAP DI RAHIM Mrs. HERMIONE MALFOY'. Bagaimana mereka tau lebih dulu daripada aku. Akhirnya aku mengerti mengapa Lucius datang kemari. Dengan takut takut aku melihat Lucius yang wajahnya tidak berubah sama sekali sejak tadi.
"Katakan itu tidak benar!" ujarnya sambil mengatupkan giginya.
Aku terdiam, rasanya berada di antara hidup dan mati sekarang. Lucius sepertinya sudah siap merapalkan mantra apapun padaku. Tunggu, aku Gryffindor! Kenapa harus takut mengungkapkan kebenaran? "Ya, ini benar." Jawabku tanpa rasa takut.
Tiba tiba saja Lucius mengacungkan tongkatnya ke arahku. "Tidak bisa!" jawabnya masih dengan mulut terkatup tapi cukup menakutkan. "aku tidak mau penerus Malfoy mempunyai darah campuran!" kini suaranya meninggi.
Aku terdiam memaku, dia tidak akan segan segan merapalkan salah satu mantra tak termaafkan padaku. Aku berharap ada tongkatku atau Draco yang tergeletak tak jauh dariku. Tapi Merlin tak berpihak padaku. Keringat dingin mulai membasahi pelipisku.
Lucius melihat perutku dan wajahku secara bergantian, lalu seringai licik terpampang di wajahnya, aku tau itu bukan pertanda baik. "Bayi itu membutuhkanmu ya," seringainya bertambah lebar. "daripada menghilangkan bayinya, bagaimana jika menghilangkan dua duanya."
Aku mengerti maksudnya. Ia akan membunuhku dan bayi di rahimku. Bodohnya aku, aku hanya diam pasrah, bukannya menjauh atau meminta pertolongan. Otak pintarku tidak bekerja sama sekali. Aku melihat cahaya hijau dari ujung tongkatnya, aku memejamkan mata pasrah.
.
.
~TBC~
Saya kembali dengan pen name baru :D Fairy... lama ya~ Huhu... :'( habis UKK dan mood jelek. Tapi entah kenapa mood datang tiba tiba (?) review lagi~
Jember – Jawa Timur
21 Juni 2014 – 11:52
FairYuzka
