Desclaimer : Aoyama Gosho
Warning : OOC, Typos
Stay On My Side
London
Pagi itu, Shiho yang baru selesai beres-beres apartmen yang kemarin masih berantkan, *karena sesampainya di apartment ia langsung tepar sepeti mayat karena kelelahan* memutuskan untuk jalan-jalan sambil mencari udara segar di kota baru yang akan menyambutnya dengan kehidupan yang baru, lingkungan yang baru dan orang-orang yang baru. Berjalan menelusuri kota dan sesekali melihat – lihat barangkali ada lowongan pekerjaan yang cocok untuknya. Tak terasa hari sudah menjelang sore, ia tengah duduk di salah satu taman kota yang sudah tidak jauh dari apartmentnya, memandangi anak-anak yang sedang bermain, tertawa lepas di kelilingi teman-teman dan orang tua yang selalu mengawasinya. Berbeda sekali dengan kehidupannya dulu ketika ia masih kecil, ironis bukan?
Ia mendudukkan dirinya disalah satu bangku taman yang menghadap ke sebuah danau buatan. Dan disinilah ia, sedang menatap kosong kearah danau tersebut, entah apa yang sedang dipikirkannya. Suasana yang nyaman, semilir angin yang membuat daun daun di sekitarnya bergoyang, semakin membuatnya betah berlama-lama di tempat itu.
Tak lama berselang ada suara ribut-ribut dari belakangnya, entahlah gadis itu tidak terlalu peduli ia malah tetap melanjutkan 'kegiatannya' itu.
xxx
Saguru POV
"bagaimana inspektur, apa yang terjadi?" ucapku pada inspektur Jimmy
"pembunuhan dengan cara korban di tusuk dengan pisau sebanyak 3 kali karena salah satunya mengenai organ vital makanya korban langsung terbunuh, selain itu juga di temukan luka bekas cekekkan di leher korban. Mungkin korban berusaha melawan sebelum akhirnya ia di tusuk pelaku." Jelas inspektur Jimmy panjang lebar.
"apa ada saksi mata?" tanyaku
"entahlah kejadiannya baru saja, makanya kami langsung menghubungi mu dan belum sempat menanyakan orang-orang yang ada di sekitar sini. Lagipula kejadiannya sudah terlalu sore, dan taman ini sudah mulai sepi. Mungkin hanya ada sedikit orang ketika pembunuhan itu terjadi."
"baiklan inspektur, tolong kumpulkan orang-orang yang kiranya ada di sekitar taman untuk di introgasi,"
"ya aku sudah menyuruh opsir-opsir untuk mengumpulkannya." Jawab inspektur
.
.
.
.
Di saat aku tengah berjalan menelusuri TKP, sepertinya aku melihat seseorang di pinggir danau, tanpa buang waktu aku pun langsung menuju danau buatan itu.
Ia sedang duduk sendirian dan dari belakang terlihat kepalanya. Aku menajamkan mataku dan aku rasa aku pernah melihat rambut berwarna aneh seperti itu.
Aku tercengang melihatnya, kurasa ia gadis yang waktu itu, tak ku sangka bisa bertemu dengannya lagi. Tadinya aku tidak mau mempedulikannya, tapi bisa saja dia melihat kejadian pembunuhan itu dan bisa menjadi saksi mata. Maka kuberanikan diri untuk menanyainya.
"Ehmm, permisi ada yang ingin kutanyakan padamu?" tanyaku basa basi.
'hah, apa-apaan dia itu dia sama sekali tidak mempedulikan ku, padahal aku sudah berkata sopan padanya, apa dia tidak punya tata krama?. Dia hanya menoleh sebentar.'
Aku yang sudah kesal padanya pada saat pertama kali kami bertemu, jadi tambah kesal karna kelakuannya. Aku yang sudah bersikap baik malah di acuhkan seperti ini. Benar-benar menyebalkan.
"hoii ..! Aku bicara denganmu"
"…"
"Aku adalah detektif dan aku sedang menangani kasus pembunuhan yang baru saja terjadi di taman ini. Ada yang ingin ku tanyakan apakau tau sesuatu mengenai kasus pembunuhan itu, atau kau melihat orang yang mencurigakan lewat?" Tanya ku to the point.
"Ya, aku memang melihat orang yang mencurigakan" jawabnya santai.
"Benarkah? Seperti apa? Dimana kau melihatnya?" tanyaku antusias.
"Dia bukan hanya lewat, tapi ia juga mengajakku berbicara" ucap gadis itu tanpa menoleh sedikitpun kearahku. "Dan ia sedang berdiri disampingku sekarang" lanjutnya sambil melirik kearahku, dan langsung membuatku geram untuk yang kesekian kalinya.
"Apa maksudmu? Kau pikir aku sedang bercanda, hah? ."
"Huuh.. Percayalah, aku tidak ada hubungan nya dengan kasus pembunuhan. Dan aku juga tidak melihat siapapun." Ucapnya malas.
'sial, gadis ini….. harusnya aku tau dari awal kalau dia sama sekali tidak membantu.' Rutuk ku dalam hati.
"Sebaiknya kau pergi dari sini, pembunuhnya masih berkaliaran dan mungkin masih ada di sekitar sini." Ucapku sambil berlalu meninggalkannya. Entah kenapa biarpun aku tidak menyukainya, tapi aku merasakan ada rasa kepedulian yang tinggi dalam diriku atas dirinya. Mungkin ini yang dinamakan naluri seorang detektif.
End Saguru POV
"Detektif …". Ucap gadis itu sambil tersenyum pahit. Entah kenapa ia langsung ingat sesuatu, lebih tepatnya mungkin mengingat seseorang.
XXX
Saguru POV
Haripun sudah mulai larut setelah aku berhasil mengungkap kasus pembunuhan itu.
Ya.. sudah jelas bukan aku yang detective hebat tidak akan kesulitan menghadapi kasus semacam ini. Dan entah kenapa cuaca yang dari tadi terlihat cerah kini mulai tertutupi oleh awan mendung yang sangat tebal.
"hahh, sepertinya akan hujan deras". Ucapku sambil menengok kearah jendela kantor polisi yang letaknya tak jauh dari taman tadi.
Aku yang sedang memandangi taman dari gedung kantor polisi lantai 3 agak sedikit terkejut saat ku lihat cewek aneh itu masih betah duduk di pinggir danau, padahal taman sudah sangat sepi dan waktu sudah menunjuk pukul enam lebih lima belas menit dua puluh dua detik.
'tak salah aku menyebutnya cewek aneh' pikirku
End Saguru POV
XXX
"ternyata memang benar-benar hujan deras ya,," gumam Saguru pelan sambil melihat hujan yang dari tadi tidak berhenti.
"yah begitulah, akhir-akhir ini cuaca susah di prediksi kan." Ucap inspektur Jimmy
"lebih baik kau tunggu saja disini dulu sampai hujannya mulai reda, lagipula kenapa kau tidak menelepon sopir mu dan memintanya untuk menjemputmu di sini.." Lanjut inspektur Jimmy.
"sudah dari tadi sebenarnya, sepertinya terjebak macet. Dan aku tidak bisa berlama-lama karena ada sesuatu yang harus segera kukerjakan. Baiklah aku pergi dulu, dan besok akan kukembalikan payungmu." Ucap Saguru sambil menerobos hujan lebat yang dari tadi mengguyur kota.
Saguru POV
Disinilah aku sedang merutuki kesialan ku hari ini, udah bertemu dengan cewek aneh yang selalu membuatku kesal itu, di tambah lagi aku harus rela pulang jalan kaki sambil kehujanan. Aku memang sedang membawa payung di tanganku, tapi kupikir payung ini hanya bisa melindungi kepalaku saja karena hujan yang deras disertai angin membuat bajuku basah semua. Dan saat aku melewati taman, entah kenapa kakiku menyuruhku untuk masuk ke taman dan pergi ke danau itu.
"apa yang sedang di lakukannya di sana, apa dia sudah gila..?" tanyaku pada diriku sendiri, ketika aku melihat gadis itu masih setia duduk di bangku taman.
Sesaat, aku hanya memandanginya saja dari kejauhan. Dan entah kenapa lagi-lagi kakiku tidak mengikuti perintah otakku dan malah membawaku mendekati gadis itu. Dan berdiri tak jauh dari nya.
Gadis itu hanya menoleh sedikit, lalu kembali menatap kosong danau.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanyaku basa-basi. Tak ada respon, aku melanjutkan kata-kata ku. "Aku kan sudah menyuruhmu pulang dari tadi, lagipula sekarang ini hujan lebat. Apakau sudah gila?.." ucapku teriak, karena suara air hujan yang jatuh sangat berisik.
Karena masih tidak di respon olehnya, aku mendekatkan diri dan duduk disampingnya sambil memayunginya dengan payung yang masih setia ku bawa sedari tadi. Entahlah setelah melihatnya dari dekat, aku melihat dirinya yang berbeda, dia telihat begitu berbeda, begitu… rapuh. Biarpun samar-samar sepertinya aku melihat ada air yang keluar dari matanya. Ya, dia menangis..
Aneh bukan? Cewek seangkuh dia mau menangis di depan orang lain, mungkin ia pikir aku tidak akan tau kalau ia sedang menangis karena tersamarkan oleh hujan yang mengguyur. Dia salah meremehkan aku, mata seorang detektif tidak bisa diremehkan begitu saja kan..?
Setelah beberapa menit aku hanya diam menunggunya bicara, membiasakan dirinya atas kehadiranku. Akhirnya ku putuskan untuk membuka mulut.
"Apa yan-…"
"Kenapa dia begitu, kenapa dia tidak bisa percaya padaku… Kenapa …"
Belum sempat aku melanjutkan kata-kataku dia sudah membuka mulutnya, dia berteriak kepadaku, teriakkan yang sangat menyesakkan ditelingaku.
"Kenapa dia begitu,, kenapa… kenapaa…Kenapa..…kenapa dia tega padakuu, kenapa..."
Ya, dia teriak, teriak di hadapanku, menatapku dengan rautan wajah penuh kepedihan. Entah kepada siapa teriakannya itu ia tujukan. Tangannya mencengkram baju yang ku kenakan, matanya seolah mentransfer segala rasa pedihnya padaku. Aku hanya menatapnya sendu, membiarkan ia menumpahkan segala kepedihannya.
Tiba-tiba saja tanganku bergerak dan membawanya dalam dekapanku, ia menangis di pundakku, kubiarkan pakaian ku yang sudah lepek ini menjadi semakin lepek. Entah kenapa aku tidak suka melihatnya menangis seperti ini, aku sangat ini menghentikan air mata yang jatuh. Tidak jelas kata yang keluar di tengah isakkannya, aku hanya mengelus punggungnya berharap dapat sedikit menenangkannya.
Setelah hampir satu jam kami disini, aku baru menyadari bahwa ia sudah tak sadarkan diri. Entah ia pingsan atau tertidur karena kelelahan yang pasti saat ini ia, menggigil.
TBC
Terima Kasih buat M4dG4rl, uchiha azaka dan hiru yang sudah menyempatkan untuk review chapter sebelumnya.
