Desclaimer : Aoyama Gosho
Gomennasai, chapter ini updatenya lama..
Terima Kasih yang sdh review di chapter sebelumnya dan di fic ku 'Selalu Untuk Selamanya'...
Author's note : Berhubung Author sama sekali ga tau karakter, sifat Akako Koizumi itu seperti apa. Jadi mungkin disini dia yang paling OOC. Jadi Author bikin sifatnya dia sama seperti Ran.
Ok, here we go..
Happy Reading
Stay on My Side
.
Pagi yang cerah, mentari yang bersinar kokoh di atas langit menyambut pagi yang sudah siap untuk menjalani harinya. Diiringi langkah kaki yang anggun Shiho berjalan keluar bersiap untuk melakukan rutinitas nya dikantor hari ini. Ya, seperti hari hari sebelumnya gadis ini memang selalu berjalan ke halte bus untuk pergi bekerja, dan seperti biasa, sebelum bus yang di tunggu datang, biasanya Saguru sudah sampai duluan ke halte itu dan menyuruhnya untuk naik ke mobil dan berakhir dengan berangkat bersama.
Begitulah kehidupan Shiho saat ini, bisa di bilang ini adalah kehidupan normal yang ia dambakan walaupun tanpa orang-orang yang beberapa tahun belakangan ini mengisi hari-harinya. Shinichi dan Hakase. Biar bagaimanapun juga mereka adalah orang-orang yang di sayangi Shiho setelah orang tua dan kakaknya. Merekalah orang yang rela terancam nyawanya untuk melindunginya, merekalah orang yang selalu ada di saat ia sedang terpuruk, merekalah orang yang tidak pernah melihat masa lalunya yang kelam dan merekalah orang yang mengulurkan tangannya, membantunya keluar dari kegelapan.
Tiba tiba saja Shiho teringat akan janjinya pada Hakase. 'Mungkin kapan-kapan aku harus ke Japan lagi, menemui Hakase.' Pikirnya. Ketika ia sedang melamun sambil menunggu angkutan di halte, tiba-tiba saja lamunannya di buyarkan oleh seseorang.
"Miyano, kau Miyano kan.." Ucap seorang gadis pada Shiho.
"Ya, tapi maaf apa kita sebelumnya pernah bertemu?" Jawab Shiho.
"Mungkin tidak, tapi kita mengenal orang yang sama, Saguru. Aku….. temannya."
"Lalu?" Ucap Shiho bingung.
"Kalau kau tak keberatan ada yang ingin ku bicarakan denganmu Miyano."
"Oh.. Tentu"
"Baiklah, Sabtu ini jam 10 di Ledbury Café.."
XxX
Diam….
Hening…..
Tenang.. – Tidak
Canggung, tepatnya..
Hanya suara bising kendaraan dan sekelebatan suara pelayan café dan pengunjung lain yang terdengar, tidak dengan wanita berambut panjang di hadapannya ini.
Shiho yang sedang menyeruput lattenya memutuskan untuk berbicara duluan.
"Jadi..?"
Akako yang terlihat agak gugup pun sedikit menaikkan alisnya saat mendengar Shiho bicara, dan memutuskan untuk menyelesaikan semuanya.
Akako memang tidak mengenal Shiho, tapi ia tahu Shiho saat ini sedang dekat dengan kekasihnya itu. Ia tidak peduli apakah Saguru pernah menceritakan dirinya pada Shiho atau tidak, yang ia ingin adalah Shiho tau bahwa Saguru masih miliknya dan memastikan bahwa mereka tidak memiliki hubungan yang special. Karena walaupun Akako sendiri yang memutuskan untuk break, tapi ia sangat mencintainya dan masih mencintainya. Dan ia yakin bahwa hubungannya dengan Saguru akan kembali seperti semula lagi.
"Ahh maaf, aku hanya tidak tau harus memulai dari mana.. "
"…."
"Sebelumnya, aku belum memperkenalkan diriku dengan benar. Namaku Akako Koizumi. Kau bisa memanggilku Akako."
"Aku Shiho Miyano. Jadi, ada kepentingan apa kau mengundangku Akako-san." Tanya Shiho ramah.
.
.
.
.
"Aku benar-benar tidak mengerti dengan perubahan sikapnya itu, tadinya kupikir ia sedang menghadapi kasus yang sulit atau ada masalah intern Perusahaannya. Tapi…. Entahlah, aku seperti tidak mengenalinya lagi dalam beberapa minggu terakhir ini." Ungkap Akako panjang lebar.
"…" Shiho hanya diam, membiarkannya meneruskan ceritanya.
"Agak menyesal sebenarnya, saat ku minta break sejenak dari hubungan kami. Aku emosi saat itu, aku mencintainya Shiho-san… dan kali ini aku benar-benar merasa kehilangannya…"
'Huuhh, seharusnya aku sudah bisa menduga semua ini. Dia benar-benar mencurahkan isi hatinya padaku rupanya… ' batin Shiho.
Bagai tersengat aliran listrik, Shiho yang posisinya menghadap ke jendela luar, seperti melihat seseorang… "ehh…" ia membesarkan matanya dan mengalihkan pandangannya ke luar , meyakinkan apa yang tadi dilihatnya benar-benar nyata atau hanya ilusi.
'aapa.. ahh tidak.. tidak mungkin..' batin Shiho sambil menggelengkan kepalanya.
"Ada apa Shiho-san ? kau baik-baik saja?" Tanya Akako khawatir.
"Tidak, aku tidak apa-apa." Ucap Shiho menenangkan. "Maaf, jadi memotong pembicaraanmu."
"Ummm, aku rasa kau sedang dekat dengan Saguru akhir-akhir ini. Mungkin kau tau sesuatu tentangnya? " Tanya nya ragu.
"A..a-aku…"
.
.
.
.
.
Shiho yang tengah merebahkan diri diatas tempat tidurnya, mencoba untuk memejamkan matanya yang sama sekali tidak ingin menutup dan malah memikirkan kejadian tadi siang.
'Jadi dia benar-benar cemburu padaku, apa yang sebenarnya ia cemburui dari diriku,? hanya karena aku sering terlihat bersamanya, begitu? Huhh.'
"Lagian, si bodoh itu. Punya pacar yang baik, cantik, bukannya di perjuangin. Sepertinya aku yang harus turun tangan dalam hal ini. Biar bagaimanapun juga sepertinya aku muncul di saat yang tidak tepat."
Shiho memang agak bingung, kenapa Saguru tidak pernah sedikitpun membicarakan ataupun meyinggung nama Akako didepannya, yah setidaknya memberi tahu Shiho bahwa ia tidak single. Shiho merasa pertemanannya dengan Saguru sudah akrab dan mereka sudah banyak bicara. Memang tak penting untuk Shiho, tapi kalaupun Saguru ingin membagi cerita cintanya Shiho pasti mau mendengarkan. Dan kalau sudah begini kejadiannya, Shiho juga kan yang kena…
Dan melihat Akako tadi, ia sedikit teringat oleh Ran. Ya, Ran yang cantik, baik dan ramah, tidak jauh beda dengan Akako. Dan tiba-tiba ia teringat oleh apa yang sempat dilihatnya di café tadi,
'hahh, mana mungkin itu dia, tidak, tidak mungkin..'
Shiho bukannya tidak peka, ia tahu bahwa ia tidak akan dibiarkan bebas berkeliaran sendiri oleh Jodie, saat ia memutuskan untuk tidak mengikuti program perlindungan saksi. Ia tau bahwa selama ini ada agen FBI yang terus mengawasinya jarak jauh namun ia tidak menghiraukannya, ia tetap melakoni perannya sebagai gadis normal yang hidup bebas. Tapi ada yang aneh, beberapa hari terakhir ini ia merasakan tatapan yang aneh, tatapan mata yang tajam. Tidak, bukan seperti tatapan tajam nan sadis orang-orang organisasi itu, ia sudah terlalu peka akan hal itu. Tapi ini berbeda, seolah ada tatapan ketulusan dan kerinduan yang didalamnya, tidak dapat dipungkiri, untuk Shiho ini memang aneh, karena ia belum pernah merasakannya tapi ia merasa nyaman dan merasa aman. Dan puncaknya adalah ketika kejadian di café itu, Ia seolah melihat orang yang memiliki tatapan mata yang sama yang beberapa hari belakangan ini ia rasakan.
Hanya sekelebatan, lalu menghilang bagai tertiup angin…
XxX
hembusan angin sepoi-sepoi menggoyang rumput-rumput hijau yang seolah menari dengan indahnya membuat suasana tenang, damai yang selalu di dambakan gadis berambut pirang strawberry ini. Beberapa kali melihat jam di pergelangan tangannya, berharap orang yang ditunggunya akan segera datang.
"Tidak biasanya dia telat.." gumam Shiho.
Tiba-tiba ia merasakannya lagi, tatapan itu. Dekat dan semakin mendekat..
Shiho berdiri, ia pun hanya bisa menengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mencoba menemukan sosoknya.
'Siapa? siapa sebenarnya itu. Apa mungkin itu agen FBI yang ditugaskan untuk mengawasiku. Tapi, kenapa baru akhir-akhir ini aku bisa merasakan tatapannya itu. Sangat kuat'
"Kupikir gaji dariku sangat cukup untuk membayar tagihan sewa apartemen mu."
Mendengar suara seseorang di sampingnya, Shiho menoleh ke sumber suara
"Eehh," Gumam Shiho yang belum sepenuhnya pulih dari lamunannya sambil menatap Saguru dengan tatapan 'Apa Maksud Mu?'
Tanpa peringatan apapun Saguru menangkup wajah Shiho, menaruh kedua tangannya di pipi Shiho dan mendekatkan wajah mereka berdua.
Shiho yang baru sadar atas apa yang dilakukan Saguru setelah wajah mereka hanya tinggal berjarak 2 cm, membulatkan matanya dan menginjak kaki kanan Saguru dengan kencang, sehingga Saguru langsung menjauhkan wajahnya dan mencak-mencak kesakitan. "Awww, aduuhh.. apa yang kau lakukan.."
"Seharusnya pertanyaan itu untuk dirimu sendiri tau.!" Ucap Shiho tanpa merasa bersalah.
"Loh, aku hanya membantumu menyadarkanmu dari lamunan." Jawab Saguru bela diri.
'Huhh, membantu katanya..' Batin Shiho. Facepalm.
"Lagipula apa yang sedang kau lamunkan sampai tidak menyadari kedatanganku dari 5 menit yang lalu.. Ku pikir kau sedang pusing dengan tagihan sewa apartemenmu " Tambah Saguru, yang sudah berdiri didekat Shiho lagi sambil tertawa geli.
"Bukan urusanmu.." Jawab Shiho ketus. "Kau bilang ada yang ingin kau bicarakan. Kau sudah membuatku menunggu lama disini, atau aku pulang saja ya.." Ucap Shiho menggoda Saguru sambil berlalu dari hadapan Saguru.
"Aku hanya telat sebentar dan kau marah? Sensitif sekali.. " ucap Saguru sambil menyusul Shiho yang sudah 1 meter di depannya. "Tunggu aku, Shiho…" Tambah Saguru seraya melingkarkan tangannya di pundak Shiho.
"Sebut namaku dengan benar, atau aku akan menginjak kaki mu lagi.." Ancam Shiho. Dan hanya di tanggapi cengiran oleh Saguru.
Sedang di balik tiang-tiang lampu taman itu, berdiri seseorang yang sedari tadi melihat keakraban mereka dengan senyum tipis diwajahnya.
XxX
"Kau mengerti kan Hakuba-san…"
"yahh,, mungkin…-"
"…- Ku pikir, apa yang membuat seorang Saguru Hakuba terlihat seperti orang yang linglung, bingung akan kehidupannya sendiri. Dan ternyata hanya karena urusan wanita..? Dengarkan aku, kau memilihnya itu berarti kau mencintainya kan.. Kau mencintainya dan dia pun mencintaimu, lalu apa alasanmu tidak mempertahankan hubungan kalian? Keraguan itu pasti ada Hakuba-san, tapi yakinlah pada hatimu sendiri, ia tak akan berbohong. " Ucap Shiho sambil menatap mata Saguru lekat-lekat dan memegang tangan Saguru erat.
"Miyano…"
"Dia itu gadis yang baik Hakuba-san. Perbaikilah hubungan kalian…" Ucap Shiho seraya tersenyum dan melepaskan pegangannya.
Saguru hanya diam saja dan sedikit terpana dengan apa yang baru saja di katakan Shiho.
Saguru tidak peduli, bagaimana Shiho bisa tau banyak tentang hubungan asmaranya dengan Akako, dan bagaimana ia bisa yakin bahwa Akako gadis yang baik. Tapi, apa yang sudah dikatakan Shiho barusan tepat dan teramat mengena di hatinya.
"Heeii, tak bisakah kau menatapku biasa saja…" ucap Shiho malas.
"Ku harap, kau mau mendengarkanku dan memikirkannya baik-baik." Tambahnya sambil berdiri dan bersiap pergi dari tempat itu.
Saguru yang menyadarinya, segera tersadar dan membuka mulutnya. "K-kau mau kemana.."
"Aku ingin kembali."
"Aku bisa mengantarmu.." Jawab Saguru cepat.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. Lebih baik, kau pikirkan ucapanku tadi baik-baik. Ok.. ganbatte.!" Ucap Shiho menyemangati dan berjalan keluar.
'Dulu, aku sempat menghancurkan hubungan Kudo dangan Ran dengan racun APTX itu.. Sekarang, aku hampir saja benar-benar menghancurkan hubungan Hakuba dengan Akako gara-gara Akako cemburu padaku. Huhh, apa aku ini memang terlahir untuk menghancurkan hidup orang lain, hahh..'
.
.
.
.
.
.
Angin berhembus semakin kencang, malam yang semakin larut seolah menyuruh orang-orang yang berlalu lalang untuk cepat kembali berlindung dirumah masing-masing dari kegelapan malam, membuat jalan yang tadinya ramai berangsur-angsur kosong.
Hanya derap langkah kakinya sendiri yang terdengar oleh Shiho, berjalan malam hari di sudut kota, hanya ditamani oleh temaramnya lampu jalan dan cahaya bulan yang meredup, berharap bahwa ia segera sampai di Apartemen nya.
Bagi mantan seorang anggota Black Organization, ia sudah teramat terlatih jika ada hawa jahat mendekat, apalagi jika sudah sedekat ini. Ia mulai mempercepat langkahnya dan membalikan tubuhnya saat ia merasa bahwa seseorang yang mengikutinya tadi pun mempercepat langkahnya.
"H-Haibara.." Disudut lain seseorang yang selalu mengawasi gadis itupun berlari, berusaha menjangkaunya dan menyelamatkan orang yang selalu ingin dilindunginya.
.
.
Sesaat setelah ia membalikkan tubuhnya, langsung di sambut dengan ucapan yang mampu membuat jantungnya terasa berhenti berdetak. "Haii Sherry…."
Saat itu juga, ia langsung pingsan seketika karena di tembak peluru bius. Sebuah mobil datang, dengan sekali gerakan cepat, ia berhasil membawanya masuk ke dalam mobil dan membawanya pergi…
.
.
.
Terlambat..
Apa kali ini ia terlambat (lagi) … ?
-TBC-
