Desclaimer : Gosho Aoyama
Sebelumnya, Author ingin mengucapkan bela sungkawa untuk saudara-saudara kita yang terkena musibah ataupun dampak letusan gunung kelud. Semoga bagi para korban di beri kesabaran dan ketabahan. Dan semoga cepat berhenti segala musibah beruntun yang melanda negeri kita ini. #prayforindonesia #prayforkelud
Balasan Review
M4dG4rl : Siapa ya? Kalo begitu langsung saja baca chapter ini :)
mkvora : me too !
Hai Miyano : Ok, ini di lanjut
A.M : You're right.! Kalo itu Gin, mungkin langsung di todong pake pistolnya. :)
uchiha azaka : Ok, ini di lanjut
coffeelover98 : Hee, bukan Gin :p
Check it out !
Stay on My Side
.
Flashback mode : on
Shiho POV
'Dulu, aku sempat menghancurkan hubungan Kudo dan Ran dengan racun APTX itu.. Sekarang, aku hampir saja benar-benar menghancurkan hubungan Hakuba dengan Akako karena Akako cemburu padaku. Huhh, apa aku ini memang terlahir untuk menghancurkan hidup orang lain, hahh..'
Memikirkan hal tersebut, mengingatkan ku pada masa laluku. Aku yang menjadi bagian dari organisasi kejahatan.
"Hmm, bodoh, bagaimana mungkin bayangan itu bisa hilang. Sepertinya, kebaikan apapun yang kulakukan tetap saja tidak bisa merubah masa laluku. Pembunuh tetaplah pembunuh" Gumamku pada diriku sendiri.
Saat ini aku memang tidak membunuh nyawa seseorang,
Tapi, aku membunuh kebahagiaan orang lain.
Ran-san dan Akako-san…
Untuk kesekian kalinya, aku menghembuskan nafas beratku, mencoba untuk menenangkan diriku sendiri dan berusaha untuk terus berpikiran positif. Bukankah, aku ingin merubah hidupku?
Masa lalu itu memang akan selalu ada sebagai bagian kisah dalam kehidupanku. Namun, masa lalu tetaplah masa lalu. Bukan untuk terus menerus di ratapi, tapi hanya untuk di kenang dan di pelajari. Siapa yang tahu masa depanku akan seperti apa,? Aku sendirilah yang akan menentukannya.
"Yah, di waktu ku yang sempit ini, aku hanya ingin berusaha merubah segalanya, segala yang aku bisa. Aku hanya ingin melihat mereka semua bahagia." Ucapku menyemangati diri sambil tersenyum. Tiba-tiba sebuah ide muncul dikepalaku, saat itu juga aku langsung mengeluarkan ponsel dari tas kecilku.
Tuut.. tuut..
Tuut.. tuut..
"Tidak di angkat-angkat." Gumamku. Dan saat itu juga aku baru sadar alasan kenapa telphonku tak kunjung di angkat.
"Eehh, sudah hampir jam satu pagi rupanya. Pantas, pasti Akako-san sudah tidur." Ucapku sambil berfikir.
"Baiklah kalau begitu…"
Message has been sent
"Baiklah, sudah selesai" Ucapku sambil tersenyum puas saat melihat report message dari ponselku.
Angin yang lewat melambai-lambaikan rambut dan pakaian yang ku kenakan menyadarkanku yang tak ku sadari, sedari tadi tengah berdiri di tengah jalan yang sangat sepi. Aku mengedarkan pandanganku, berharap masih benar-benar ada kehidupan disekitarku.
Merapatkan jaket, aku langsung melangkahkan kaki bergegas untuk kembali ke Apartemenku.
Jalanan yang teramat sepi, membuat panca indera ku semakin tajam. Suara sekecil apapun terdengar dengan jelas di telingaku, bahkan suara anginpun terdengar jelas seolah memanggil-manggil namaku.
.
.
Berhenti..
Merasa ada sesuatu yang mengikutiku, langkahku pun terhenti, meyakinkan diri dan menolehkan kepalaku.
.
.
Kosong..
Tidak ada apapun, tidak ada siapapun.
Hanya ada daun-daun yang berterbangan terbawa hembusan angin.
Menghembuskan nafas panjangku, kakiku pun mulai melangkah lagi,
.
.
Salah ? –Tidak
Instingnya selalu benar.
Yakin ada seseorang yang mengikutiku, langkahku pun semakin cepat, dan bertambah cepat. Berlari. Berbagai macam pikiranpun berkecamuk dalam kepalaku. Siapa mereka? Apa yang mereka inginkan?
.
.
Mungkinkah itu mereka?
.
.
Tidak, Tidak mungkin…
Aku bisa merasakan kehadiran mereka dalam jarak jauh sekalipun.
Lalu, Siapa?
.
.
Nafas yang sudah hampir habis memaksaku untuk berpikir cepat, aku memutuskan untuk segera membalikkan tubuhku dan menangkap basah mereka yang berlari mengejarku sedari tadi.
Baru sedetik aku membalikkan tubuhku, ia mengucapkan sesuatu yang langsung menciutkan nyaliku.
"Hai, Sherry…"
Belum sempat aku bereaksi, tubuhku menegang dan merasakan ada sesuatu yang masuk ke dalam diriku, menembus kulitku. Membuyarkan pandanganku, mengambil alih kesadaran diri dan saat itu juga semuanya menjadi gelap…
Namun, sebelum kegelapan benar-benar mengambil alih kesadaranku, aku sempat mendengar suara. Suara yang selama ini diam-diam selalu kurindukan, memanggil nama ku. Ya, hanya dia yang selalu memanggilku dengan nama itu. Ku pikir ini hanya sebuah ilusi, entahlah…
Dan sesaat setelah aku benar-benar tak sadarkan diri, terdengar suara, suara mobil yang datang. Aku tak terlalu mempedulikannya dan saat ini aku benar-benar pasrah….
End Shiho's POV
Flashback mode : off
XXX
"Haahh, apa-apaan dia itu. Padahal dia yang ngajak bertemu di Taman ini, tapi dia juga yang terlambat. Rupanya dia ingin balas dendam padaku.." Tanpa sadar, di tengah gerutuannya itu, segaris senyum terpampang diwajah tampannya ketika mengingat gadis itu. Ya, gadis yang mampu mengalihkan dirinya dari gadis lain.
Insting detektifnya muncul ketika ia merasa ada seseorang di belakangnya.
"Akako…" Gumam Saguru lirih. Melihat Akako yang sedang berdiri dibelakangnya dengan tatapan agak terkejut.
Wajar saja, karena ini merupakan pertemuan pertama mereka setelah Akako meluapkan kekesalannya pada Saguru dan berujung pada break-nya hubungan mereka.
Akako yang terkaget-kaget setelah ia membaca pesan ajakan di ponselnya pagi ini, dan memutuskan untuk memenuhi ajakan tersebut dan sesampainya di tempat pertemuan mereka, orang yang mengajaknya tadi sama sekali tidak terlihat sosoknya dan malah bertemu dengan kekasihnya itu..
Diam..
.
Selama beberapa saat mereka terdiam, menatap canggung orang dihadapannya, Saguru mengerti, sangat mengerti. Lagi-lagi senyum merekah dari bibirnya, mengingat gadis itu. " Tch, dasar.. Ini pasti perbuatanmu.. " gumamnya pelan, pada dirinya sendiri.
"Baiklah aku mengerti, aku tidak akan menyia-nyiakan usahamu." Tambahnya, sambil berjalan mendekati Akako.
.
.
.
.
.
Gelap…
Sunyi…
Sepi…
.
Ya, karena hanya ada dia seorang diri, dalam ruangan gelap dan kotor itu.
Pusing .
Pusing .
Pusing .
Hanya itu yang dirasakannya saat ini,
Sesaat setelah ia tersadar, hanya rasa pusing dikepalanya yang teramat dan kegelapan yang langsung menyergapnya. Sebagai seorang ahli kimia, dia dengan mudah menyimpulkan bahwa ia telah di beri obat bius dengan dosis yang sangat tinggi.
Ingin sekali ia dapat memijit kepalanya yang terasa ingin pecah itu dengan tangannya. Tapi apa daya, menggerakannya pun ia tak bisa,
Saat ini, ia sedang duduk di kursi dengan keadaan kedua tangan yang terikat kebelakang dan kaki yang juga terikat di kaki kursi itu.
Setelah kesadarannya benar-benar pulih, dan matanya terbuka sempurna. Ia mulai mengedarkan pandangannya, mencoba menganalisa keadaan dan berharap ada yang bisa ia lakukan saat ini.
Tidak ada apapun, yang ada hanya kegelapan.
Ia hanya bisa melihat sedikit cahaya dari lubang-lubang pentilasi udara di ruangan itu.
Tiba-tiba saja ingatannya tertuju pada kejadian malam itu, sesaat sebelum ia tak sadarkan diri.
Dia menyebutku Sherry,
Siapa? Siapa dia?
Dia tahu codename ku, berarti dia salah satu dari mereka.
Itu artinya aku…
saat ini…
waktuku habis…
… … …
Ucap gadis itu dalam hatinya, ia hanya bisa tersenyum getir. Entah kenapa, bahkan untuk bicara pun rasanya tidak bisa. Terlebih, setelah ia sadar bahwa ia sudah tertangkap, dan ia pasti akan mati setelah ini. Begitulah pikirnya.
Dan di tengah keputusasannya, ia mencoba mengingat kembali kenangan-kenangan indah dalam hidupnya. Mengingat kembali orang-orang yang berarti dalam kehidupnya.
.
Hakase, maaf. Sepertinya aku tidak bisa memenuhi janjiku padamu. Tapi aku yakin, kau pasti bahagia karena kau adalah orang yang baik
Anak-anak itu, detective boys. Aku yakin biarpun tanpa Conan Edogawa dan Ai Haibara kalian pasti bisa memecahkan kasus sendiri dan menjadi detektif hebat nantinya.
Aku harap, kau tidak membuat usahaku sia-sia, Hakuba-san. Kembalilah bersamanya
Dan..
Kudo, aku sudah berhasil mengembalikan tubuh kita, dan saat ini kau pasti juga sudah bahagia bersama Ran-san.
Aku turut berbahagia untuk kalian..
Mengetahui mereka semua telah berbahagia, setidaknya dapat membuat kematianku terasa lebih bermakna dan mungkin bisa membuatku mati dalam kedamaian. Begitulah pikirnya.
Kupikir, aku masih punya beberapa minggu lagi
Harusnya aku sudah bisa menduga, mereka akan menemukanku secepat ini
Batinnya seraya tersenyum pahit.
.
.
Kkkrreeeettt…
.
.
Di tengah lamunan gadis itu, terdengar suara decitan pintu yang terbuka.
Segera ia mendongakkan kepalanya dan menajamkan matanya untuk melihat seseorang yang ada di balik pintu itu.
Matanya melebar, ketika melihat sosok yang masuk dari pintu itu. Seorang yang tinggi besar, gelap. Wajahnya tak terlihat, dan tubuhnya menghalangi secercah sinar yang masuk melalui pintu.
"Hai, Sherry. Senang akhirnya bisa bertemu denganmu." Ucapnya sambil menyeringai.
"Kkau.. Siapa kau?" hanya kata itu yang bisa diucapkan Shiho saat ini.
"Huhh, memang tidak setenar dirimu."
"Kejeniusanmu yang membuatmu di pandang di organisasi, sampai-sampai anokata memberimu codename, yang hanya anggota terpilih saja yang bisa mendapatkan itu. Anggota yang dianggap paling berbahaya." Tambahnya sambil melangkah mendekat dan menundukkan kepalanya tepat di hadapan Shiho.
"SHERRY.. Seorang penghianat organisasi, juga orang yang paling di buru organisasi. Hhh, sungguh codename yang sangat cocok untukmu, bukan?. Sikapmu yang dingin, wajahmu yang ternyata sangat cantik. Pantas kalau seorang Gin terobsesi oleh dirimu." Ucapnya sambil menyeringai dengan sebelah tangannya memegang tulang pipi gadis itu.
"Kau bisa bayangkan, jika aku membawamu hidup-hidup pada mereka. Mereka pasti akan memandangku."
Shiho hanya memandang jijik ke arah orang itu.
"Bodoh, apa yang kau banggakan dari itu semua. Hahh." Ucap Shiho lantang.
"Ou Ou.. jaga ucapanmu sayang…"
"Hhhh, kau bangga karena kau diperbudak oleh mereka. Kau ini bodoh atau apa..-"
Plak…
Ucapan Shiho terputus ketika pukulan telak menghantam wajahnya. Mungkin tubuhnya akan terpelanting ke tanah jika saja tubuhnya tidak di ikat ke kursi. Dan darah mulai mengalir di ujung bibirnya yang terluka.
"Ohh maafkan aku sayang, jika saja kau bisa menjaga ucapanmu. Kau tahu, aku bukan tipe penyabar." Ucapnya sambil menangkup wajah Shiho lagi.
"Kau tahu, itulah yang membuat mereka merekrutku. Tidak pandang bulu, siapapun yang menggangguku akan ku bunuh dengan cara apapun, sekalipun dengan cara sadis sekalipun." Tambahnya.
"Hhh, apa maksudmu mengatakan itu padaku. Percuma, itu sama sekali tidak ada apa-apanya bagiku. Lagipula, kalaupun kau membunuhku saat ini, aku tidak keberatan." Tantang Shiho.
Sedikit menggeram mendengar perkataan Shiho barusan, orang itupun membuka mulutnya lagi. " Jangan bilang begitu sayang, kau sangat berharga untukku. Mungkin aku akan mendapatkan posisi jika aku membawamu pada mereka. "
Shiho hanya membalasnya dengan senyum mengejeknya. Menunjukkan bahwa ia benar-benar merendahkan orang itu.
"Dan tenang saja, keinginanmu untuk menyusul kakak dan kedua orang tuamu pasti akan segera terwujud. Tapi sayangnya, bukan dengan tanganku ini." Ucapnya seraya melihat ke kedua telapak tangannya.
"Dan selagi kita hanya berdua disini, kenapa tidak kita manfaatkan untuk bersenang-senang ?. Aku bertaruh, bahkan seorang Gin belum bisa menyentuhmu kan? Kebanggaan bagiku bisa mendahului Gin, sebelum ia melakukannya padamu. Bagaimana, Sherry…"
Dan Shiho hanya bisa menahan nafasnya dan membelalakan matanya ketika mendengar ucapan orang itu.
-TBC-
