Desclaimer: Aoyama Gosho

Author's Note : Seharusnya masih 3 chapter lagi. Tapi berhubung kesibukan yang sangat meningkat, takutnya cerita ini jadi kepending terlalu lama. Makanya langsung aja gw ringkas jadi satu chapter terakhir ini. Jadi, mohon maaf kalo alurnya terasa kecepetan, ataupun banyak typo.

Happy Reading… ^^


.

Stay on My Side

.

.

.

"Apa,? Aku baru bertemu dengan mu setelah 3 hari kita kehilangan kontak, dengan keadaanmu yang terkena luka tembak dan sekarang kau bilang kau akan kembali ke Japan? Tak bisakah kau beri aku penjelasan yang logis?" Ucap Saguru.

"Tidak ada yang perlu dijelaskan, " Selah Shiho santai.

"Secepat itu kah..? A-aku.."

"Kau ini kenapa?..—"

"—aku ingin menemanimu…" Ucap Saguru tegas, menatap mata gadis itu lekat-lekat.

Mendengar ucapan Saguru, Shiho hanya menatapnya lembut, meyakinkan bahwa dirinya akan baik-baik saja. "Kau tahu, kau punya segalanya disini, orang-orang yang kau sayangi. Keluargamu, orangtuamu dan Akako-san. Tidak ada alasan bagimu untuk pergi.."

"Tapi, aku juga menyayangi.. –"

"Mungkin orang yang menyayangiku hanya sedikit, karena itu aku ingin membahagiakan mereka, sebagai ucapan terima kasihku atas ketulusan yang mereka beri. Aku hanya ingin menyelesaikan masalahku disana dan melihat mereka hidup tenang dan bahagia. Aku sangat ingin hidup bahagia di tengah-tengah mereka. Yahh, itu juga kalau Tuhan memberiku kesempatan.." Ucap Shiho dengan seulas senyuman getir diwajahnya dan pandangan menerawang kedepan.

"Bagaimana dengan aku?.." Ucap Saguru

"Akuu Aku sayang padamu Shiho… Lebih dari yang kau tahu.." Tambahnya.

Mendengar ketegasan dalam setiap kata yang keluar dari mulut Saguru, ia hanya tercengang seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.

Menundukan kepala, dan membiarkan rambutnya menutup mata dan sebagian wajahnya, sesaat setelah perkataan itu terlontar dari mulut Saguru.

Menarik nafas panjang, Shiho membuka mulutnya. "Terima kasih.. terima kasih karena kau sudah menyayangiku.. walaupun sebenarnya aku sama sekali tidak mengerti apa yang membuatmu begitu."

Mengangkat wajah, Shiho kembali melanjutkan perkataannya dengan senyum dibibirnya. "Tapi aku paham, karena aku juga merasakan itu padamu. Aku sangat menyayangimu walaupun aku tak tahu apa yang membuatku begitu sayang padamu. Makanya, aku sangat ingin membuatmu bahagia, aku ingin kau bahagia bersama Akako-san dan bersama dengan orang-orang yang menyayangimu."

"… …" Saguru hanya menatap nanar kearahnya. "Begitupun dengan diriku, aku ingin kau bahagia Shiho, aku yang akan membuatmu bahagia. Maka dari itu, tetaplah disini.."

"Hhh tidak, kau salah. Kapanpun aku mau, aku bisa bahagia, kau sama sekali tidak perlu khawatir." Sanggah Shiho sambil menggelengkan kepalanya.

"Kenapa Shiho.. Kenapa.. Aku sama sekali tidak mengerti, kenapa seolah-olah kau ingin mengatakan bahwa kau tidak pantas untuk bahagia, bahwa hanya orang lain saja yang berhak bahagia, tapi tidak dengan dirimu? Kenapa? Sebenarnya apa masalahmu? "

"Apa maksudmu? Kau salah kali ini tuan detektif.." Ucap Shiho, lengkap dengan pokerface dan senyum mengejeknya.

Saguru hanya dapat Sweatdrop melihat ekspresi wajah Shiho. 'Gadis ini, benar-benar tidak bisa serius sedikit, selalu saja merusak suasana'.

"Entahlah, kau ini memang terlalu keras kepala. Aku hanya ingin sampaikan padamu, bahwa setiap orang berhak untuk bahagia. Kau.. dan juga aku." Ucap Saguru seraya menyeringan dan mendekatkan dirinya dengan Shiho.

Mengeliminasi jarak keduanya, Saguru mulai mengangkat kedua tangannya untuk menangkup leher gadis itu sambil sesekali mengusap pipi lembutnya dengan ibu jarinya dan menarik wajahnya mendekat. Terasa begitu cepat, ketika tiba-tiba kening mereka bersentuhan dan Saguru terdengar membisikkan sesuatu, "Kau tahu, apa yang dapat membuat aku.. dan kau bahagia..?"

Shiho membeku, seolah terpaku tak bergerak ketika hidung mereka mulai beradu dan merasakan aroma dan desahan nafas yang terasa begitu hangat menerpa wajahnya. Seolah ia benar-benar tak tahu apa yang harus ia lakukan karena baru sekali ini ia merasa sedekat itu dengan seorang pria.

Cchhuupp…

Sedikit membulatkan mata, ketika ia merasakan bibir pria itu.

Ya, Saguru dengan sukses mendaratkan bibirnya tepat di pipi kanan Shiho dan hanya sedikit menyentuh bagian ujung bibir gadis itu.

"…"

"…"

Bertahan cukup lama, kecupan yang di beri Saguru, sampai ia sempat melingkarkan tangannya dan menyentuh kepala gadis itu.

Mengecupnya sambil menutup mata dan membelai lembut rambut gadisnya. Ya, seolah ia menumpahkan rasa sayangnya pada gadis itu.

Seakan merasakan kasih sayang Saguru, Shiho pun menutup matanya dan menyunggingkan senyum tipis dibibirnya.

xxx

… … …

Melihat gerutuan dan wajah kesal Shiho, Saguru berniat menggodanya.

"Kau ini kenapa?" Tanya Saguru seraya tersenyum mengejek.

"Kau pikir, apa yang baru saja kau lakukan?"

"Kenapa? Kau tidak suka..?"

"Ya a, jelas aku tida suka-.."

"Kau tidak suka karena aku hanya mencium pipimu? Hmm, " Ucap Saguru memotong ucapan Shiho sebelumnya.

"Baka.. Jadi, itu yang kau maksud 'sesuatu yang membuat aku dan kau bahagia'? Hhmm? Aku rasa itu hanya berlaku untukmu…" Gerutu Shiho.

"Heii, bukankah kita saling menyayangi? Kau tahu bahwa aku sayang padamu, dan kau pun tadi mengakui bahwa kau juga menyayangiku. Jadi, tak salahkan, jika seorang sahabat menunjukan rasa sayangnya dengan mencium sahabatnya.." Ucap Saguru.

"Hahh terserah padamu saja.." Ucap Shiho malas karena perkataannya sama sekali tidak di dengar oleh Saguru.

"Terserah padaku? Jadi, aku boleh menciummu kapanpun aku mau ?" Ucap Saguru sambil tersenyum penuh kemenangan.

"Meesuumm, bukan itu maksudku.!"

"Hei ingat, kita ini sahabat. Kau tidak boleh mengatai sahabatmu ini mesum, kalau kau ingin menjadi sahabat yang baik."

Di tengah keakraban dan kebersamaan mereka. Di tempat lain, seseorang yang selalu mengawasi gadis itu, terlihat mengencangkan rahangnya dengan pandangan tidak suka, melihat kebersamaan mereka.

Xxx

Ya, Shiho memang berniat kembali ke Japan setelah ia bertemu dengan Shinichi dan Shinichi sudah menceritakan semuanya pada Shiho. Ia ingin kembali untuk ikut Shinichi dalam penggerebekan BO yang sudah direncanakan FBI dan tentu saja oleh Shinichi. Ia ingin membalas kematian tragis keluarganya, dan ia ingin organisasi itu hancur supaya orang-orang yang ia sayangi dapat hidup damai tanpa perlu takut berurusan dengan mereka lagi. Sekalipun itu berarti nyawanya sebagai taruhan, ia sama sekali tidak takut karena kebahagiaan orang-orang yang menyayanginya adalah segalanya bagi Shiho.

Tentu saja keinginan Shiho itu membuat Shinichi gusar dan melarang nya keras. Ia hanya ingin Shiho percaya padanya , percaya bahwa ia akan menghancurkan organisasi itu untuknya. Tapi apa daya, sekalipun Shiho berkata bahwa ia selalu percaya padanya walau apapun yang telah Shinichi lakukan padanya, namun kesungguhan Shiho untuk ambil andil dalam pemusnahan organisasi itu sangat besar dan ia sama sekali tidak bisa melarangnya.

.

.

.

.

.

"Sekali lagi terima kasih atas semuanya. Sudah mau repot-repot mengantarku ke Bandara seperti ini.." Ucap Shiho pada teman-teman kantornya yang mengantar kepergiannya ke Japan hari ini. Disana termasuk Sonya, Akako dan Saguru.

Shiho pun melanjutkannya dengan ucapan terima kasih satu persatu ke teman-temannya..

Pandangan Saguru sedari tadi tidak lepas kepada Shinichi. Entahlah, setelah ia mengetahui bahwa Shiho akan kembali ke Japan karena di jemput oleh Shinichi –setidaknya itulah yang dikatakan Shiho setelah Saguru dan Shinichi bertemu tadi- Berbagai spekulasi memenuhi kepalanya. 'Apa karena Kudo, Shiho memutuskan kembali ke Japan? Apa Kudo yang telah membuatnya menangis saat di taman itu? Tapi kenapa, kenapa setelah ia pernah membuatmu kecewa, kau masih ingin kembali bersamanya Shiho?'.

Begitu pula dengan Shinichi, ia juga tidak bisa melepaskan pandangannya pada Saguru. Entah kenapa, bayang-bayang kedekatan Saguru dan Shiho selama ini selalu menggelayut di pikiran Shinichi. Dan itu sama sekali membuatnya tidak nyaman, dan entah kenapa ia sangat membenci itu. Ia sama sekali tidak suka ada orang lain yang dekat dengannya, apa lagi ia juga seorang detektif dan seolah mengganti dirinya yang selama ini sudah berjanji untuk melindungi Shiho. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang ia rasakan.

"Saguru..?" ucap Shiho membuyarkan lamunan Saguru sambil melambai kan tangannya di depan wajah Saguru.

"Ada apa? Kenapa sedari bertemu tadi, kalian terus berpandangan?" ucap Shiho sambil menoleh ke arah Saguru dan Shinichi bergantian. "Atau,, jangan-jangan kalian berdua…-"

"Apa? Aku sama sekali tidak melihat kearahnya." Elak Saguru cepat.

"Aku juga." Tambah Shinichi.

"Ya baiklah.. " Ucap Shiho sweatdrop melihat tingkah laku mereka berdua.

"Saguru, terima kasih ya untuk segalanya.. Kau yang pertama kali menjadi temanku disini, kau yang mau menerimaku masuk dalam kehidupanmu, dan kau yang pertama kali menjadi sahabatku. Terima kasih sekali lagi atas segala perhatianmu, kebaikan dan ketulusanmu. Aku tidak akan bisa membalas semuanya, aku hanya bisa mendoakan mu bahagia bersama Akako dan yang lainnya. Sekali lagi terima kasih." Dengan itu, Saguru bergerak maju merangkul dan memeluk Shiho erat.

"Kau bodoh, kau mengatakan itu seolah kita tak akan bertemu lagi. Ku pastikan kita pasti akan bertemu lagi. Dan sudah seharusnya, aku melakukan semua itu untuk orang yang ku sayangi." Bisik Saguru di tengah pelukannya.

xxx

.

.

.

Shinichi merasakan tangan Shiho bergetar dalam genggamannya ketika mereka, anggota FBI dan juga Subaru Okiya tengah melancarkan rencana mereka menggerebek markas Organisasi Hitam itu.

Dua jam telah berlalu, dan disinilah mereka sekarang yang masih dalam tingkat kewaspadaan yang tinggi untuk siap siaga menghadapi mereka. Sudah banyak anggota Organisasi yang tewas ataupun tertangkap tapi tidak dengan anggota elit mereka. Ya, mereka sama sekali tidak dapat diremehkan, 2 jam berlalu jejak anokata dan antek-antek elit nya sama sekali belum tercium.

.

Sampai akhirnya Shinichi yang sedang menggandeng tangan Shiho merasakan tangannya bergetar dalam genggamannya, dan Shinichi tahu, mereka sudah semakin dekat .

"Ada apa?" Tanya Shinichi.

"Mereka semakin dekat." Jawab Shiho.

'sudah kuduga'

"Kalian tetaplah disini. Biar aku bersama agen Jodie yang kesana." Ucap Subaru.

"Tapi.."sanggah Shinichi cepat.

"Kau ingin menjaganya, ingat?" Ucap Subaru sedikit berbisik pada Shinichi sambil mengarahkan pandangannya pada Shiho. "Kalau kau tetap kesana, resiko terlalu besar untuk nya." Tambah Subaru.

Ya, Subaru memang ikut penggerebekan itu. Tidak ingin hanya menjadi pengatur rencana, ia pun ingin ambil andil dalam kehancuran organisasi yang sangat dibencinya itu. Tentu saja, ia belum membuka identitas aslinya walaupun di depan kawan FBInya. Tapi Jodie, James dan Camel sudah curiga, terlebih selama beberapa hari mereka bersama dan melihat tingkah lakunya yang sedikit banyak mirip dengan Shuichi. Terutama Jodie yang sangat yakin, bahwa Subaru Okiya adalah Shuichi Akai.

.

.

Setelah melewati fase-fase menegangkan, adu taktik, adu fisik dan adu tembak. Akhirnya semua telah usai. Setelah penderitaan, kegetiran yang begitu lama, akhirnya semua telah berakhir.

Gin, Vermouth dan yang lainnya telah berhasil dilumpuhkan FBI. Anokata yang tengah tersudut memutuskan untuk menyiramkan air keras ke wajah dan sekujur tubuhnya sendiri dan melompat dari tebing tinggi dan membiarkan dirinya hancur terhempas karang dan ombak. Wajahnya sama sekali tidak dapat terlihat jelas karena ditutup masker kepala, dan sepertinya ia sama sekali tidak ingin identitas aslinya ketahuan oleh siapapun, bahkan sampai mati.

.

.

.

Hiruk pikuk kegembiraan tertera di setiap wajah, keingintahuan dari yang awam, bersatu padu saat itu. Saat dimana rencana mereka, usaha keras mereka berhasil, organisasi itu sudah hancur, anokata mat i—walaupun tidak dapat diketahui pasti siapa ia sebenarnya— dan elit organisasi sudah berhasil diamankan, keriuhan media dan kepolisian, orang – orang yang yang tidak tahu menau begitu penasaran.

Di sudut lain, seorang Shiho Miyano tengah berdiri termangu memandangi orang-orang disekitarnya, namun ia sama sekali tidak memperdulikan mereka semua. Sepertinya ia sibuk dengan pikirannya semdiri.

'Benarkah? Benarkah mereka telah musnah..? Dan., dan aku masih hidup?' Pikir Shiho.

Itulah yang kira-kira dipirkan Shiho saat ini,

Memang, setelah kerja keras yang mereka lakukan, berbagai trik yang sulit dan rencana yang ternyata tak berjalan dengan yang diperkirakan. Memang bukan sesuatu hal yang mudah.

Dan bukannya memang tidak mudah untuk bisa menumpas Organisasi itu?

Tapi entahlah, ia merasa… ini terlalu cepat dan ia merasa ini benar-benar terlalu mudah. Ya, organisasi itu harusnya tidak semudah ini dihancurkan.

Seperti bukan Organisasi Hitam yang ku kenal saja. Begitulah pikirnya.

Tapi ya sudahlah, toh memang ini yang ia inginkan bukan? – tidak. Bahkan inilah yang mereka inginkan.

Ia bersyukur... …

Shiho Miyano bersyukur karena Tuhan mempermudah semuanya.

.

.

Bergelut dengan pikirannya sendiri, Shiho tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikannya, bahkan pemilik sepasang mata itu sempat terkekeh ketika melihat ekspresi Shiho yang seperti orang linglung yang jarang, bahkan tidak pernah ada sebelumnya.

Iapun memutuskan datang dan mendekatinya.

Dipandangi seperti itu, Shiho mengalihkan pandangannya, "Kudo… apa yang kau.-"

"Kita berhasil, Miyano. Kita berhasil menghancurkan Organisasi itu…" Ucap Shinichi dengan wajah yang berbinar.

"Ya, kau benar. Terima kasih Kudo, terima kasih.." Ucap shiho dengan mata yang sedikit berkaca sambil membungkukan kepala dan tubuhnya.

Shinichi berniat memeluk gadis itu sebelum akhirnya ia mendengar suara seorang gadis memanggil namanya, gadis lain yang selama ini selalu menantinya.

"Shinichi.. Shinichi.." Ucap Ran, seketika ia langsung berlari dan memeluk pria yang di panggil Shinichi itu.

Shinichi tidak bisa mengungkapkan apapun ketika Ran memanggil namanya dan menangis haru dalam pelukannya. Ia hanya bisa membalas pelukan teman masa kecilnya itu.

"Shinichi.. syukurlah.. syukurlah.. Shinichi.. kau selamat.." ucap Ran di tengah isakannya.

"Iya Ran, kau tak perlu hawatir. Aku baik-baik saja." Ucap Shinichi menenangkan.

"Syukurlah.." Gumam Ran.

Shiho tersenyum, menatap kedua insan yang tengah berpeluk masra tersebut.

Senyum bahagia,..

Karena melihat dua orang tersebut dapat bertemu lagi, setelah penantian panjang si gadis, menunggu pria itu.

Sekaligus senyum kepiluan…

Shiho bukannya tidak suka melihat mereka bahagia, tapi entah mengapa ada suatu rasa kehampaan yang membuat hatinya retak dan hancur, mengingat pria itu akan kembali dengan gadis yang dicintainya dan bukan bersamanya.

Entahlah, segala rasa tercampur aduk saat ini. Dan yang ia inginkan saat ini adalah sendiri dan menenangkan diri.

Shiho hendak pergi dan membiarkan keduanya saling melepas rindu agar mereka merasa tidak canggung karena kehadiran dirinya. Ketika tiba-tiba ia merasa tangannya di gamit seseorang. Ya, Shinichi memegang pergelangan tangannya, kuat. Seolah tak membiarkan Shiho pergi dari sana. Walaupun ia masih memeluk Ran, namun matanya tak lepas dari Shiho.

Mereka bertatapan selama beberapa saat..

Shiho sama sekali tidak mengerti, apa yang sedang dilakukan Shinichi, ia hanya memandangnya heran.

Jangankan Shiho, Shinichi sendiripun tidak mengerti kenapa ia begini. Tangannya seperti bergerak sendiri, tidak mendengarkan perintah otaknya. Ia tidak bisa membiarkan Shiho pergi padahal sudah ada Ran dalam pelukannya.

Apa dia begitu serakah.?

"Shinichi, kau akan tetap disini kan? Kau tidak akan pergi lagi kan?" Gumam Ran yang masih dalam pelukan Shinichi.

"I-iya Ran, kau tak perlu khawatir. Aku kembali." Jawab Shinichi, entah kenapa sedikit terdengar ada nada keraguan dalam setiap kata yang terlontar dari bibirnya.

Mendengar itu, Shiho tersenyum dan melepas pegangan tangan Shinichi. Melihat senyum Shiho yang seperti itu membuatnya tertegun dan saat itu juga Shiho menjauh dan menghilang dari hadapannya.

Xxx

Waktu terus berlalu, namun masih dalam kondisi yang sama. Setiap orang masih saja penasaran dengan apa yang baru saja terjadi, Organisasi Hitam, FBI, orang-orang terus saja meributkan hal tersebut. Seolah tak peduli dengan malam yang semakin larut.

Di satu sisi, ada anggota FBI yang masih memberi penjelasan pada pihak kepolian Japan, dan di sisi lain ada yang mencoba menghindari berbagai pertanyaan yang terlontar dari mulut orang-orang dan wartawan.

"Jadi, apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Tanya Jodie tiba-tiba. Seolah mengetahui apa yang sedang di pikirkan Shiho saat ini.

Yang di Tanya hanya diam dan tidak menjawab apapun. Karena ia memang tidak tahu harus menjawab apa.

Setelah melihat Ran dan Shinichi berpelukan tadi, Shiho jadi tersadar akan sesuatu. Kemana dia akan pergi setelah ini? Apa yang akan ia lakukan setelah ini?

Tadinya ia pikir, ia akan bisa melanjutkan hidupnya bersama Shinichi dan tetap tinggal di kediaman Hakase. Tapi setelah ia melihat Ran, ia sadar bahwa ia tak seharusnya ada bersama mereka, ia hanyalah orang lain dalam kehidupan Shinichi, terlebih dialah orang yang menyebabkan Shinichi menyusut dan membuat gadis itu harus menunggu lama.

Dan ia tidak suka, perasaan hampa dan kesepian itu selalu datang ketika ia mengingat bahwa Shinichi tidak ditakdirkan untuk hidup bersamanya.

"Tidak usah terlalu dipikirkan, kau bisa ikut dengan kami." Ucap Jodie ketika ia melihat Shiho tidak hanya diam saja, tak bisa menjawab pertanyaannya tadi. Shiho hanya bisa membalas senyum agen FBI itu.

"Kita harus cepat kembali dan memastikan para anggota – anggota organisasi itu mendapat hukuman yang setimpal. Ngomong-ngomong, dimana cool guy dan Subaru-san? Aku tidak melihatnya dari tadi." Tanya Jodie.

"Kau duluan saja, aku akan mencarinya." Ucap Shiho.

.

.

.

Sedang, di sudut lain…

"Apa kau yakin mereka sudah di jaga ketat saat ini?" Tanya Shinichi.

"Entahlah, sejujurnya aku belum begitu tenang saat ini" Jawab Subaru.

"Ya, mereka orang-orang yang cerdik. Kita harus kembali dan memastikannya sendiri."

"Bukan hanya cerdik, tapi mereka juga orang-orang yang licik."

.

"Jadi, kapan kau akan membuka identitas aslimu?" Tanya Shinichi.

"…"

"Bukankah tujuan Subaru Okiya sudah selesai..? Kapan kau akan memberitahu mereka semua Akai-san, atau harus ku panggil Rye?"

.

Kkrreesskk

.

Terdengar suara sesuatu seperti plastic yang terinjak, Shinichi dan Subaru menolehkan pandangan mereka ke sumber suara.

Dan menemukan seseorang yang memandang mereka tak percaya,

Ya, tak percaya. Berharap bahwa kali ini ia salah,

Salah akan apa yang baru saja ia lihat,..

Salah akan apa yang baru saja ia dengar….

"Miyano…"

"Sherry…" Ucap keduanya, tak percaya.

"Jadi.. Ka-Kau.." Ucap Shiho terbata, masih menatap Subaru dengan tatapan tak percayanya.

"Aku.." Gumam Akai, tanpa basa basi ia membuka topeng penyamarannya di depan Shiho.

Shinichi yang melihatnya, hanya dapat memandang kaget.

"Oneesan.." Gumam Shiho tanpa sadar. "Kau agen FBI yang memanfaatkan kakak dan membuatnya dibunuh.!" Semprot Shiho.

Akai tidak bisa membela diri di hadapan gadis itu, ia hanya bisa menundukkan kepala, teringat wajah Akemi yang selalu tersenyum kepadanya.

Pandangan mata Shiho kini terlalih pada Shinichi. "Dan, Kauu.." Gumam Shiho sambil menggelengkan kepala dan menatap Shinichi dengan tatapan, kau-sudah-tahu-semuanya-dari-awal-dan-kau-tega-menyembunyikan-semuanya-dariku.

Saat itu juga, Shiho langsung berbalik dan langsung pergi dari tempat itu dengan keputusasaan, kemarahan yang sangat jelas terlihat di raut wajah cantiknya.

Seraya pergi, pikirannya terus melayang 'Kenapa orang yang ia percaya dan orang yang berjanji akan selalu melindunginya justru membohonginya selama ini? Apa dengan berbohong, semua akan menjadi baik-baik saja? Dan bukankah bohong itu sama dengan bom waktu, yang akan meledak jika waktunya tiba?...'

Dan Shiho benci dibohongi …

Ia tak peduli apapun saat itu, teriakan orang-orang, orang yang yang heran melihat sikapnya dan memanggil namanya.. bahkan sapaan Jodie padanya sama sekali tak di gubris. Yang ia inginkan hanyalah pergi dan berharap bahwa kenyataan ia telah dibohongi adalah salah..!

"Ada apa ini cool..—" Ucap Jodie terpotong, ketika ia melihat Akai di samping Shinichi.

"Shuu.. Kau kah..?" Ucap Jodie dengan raut wajah menahan haru. "Jadi, jadi benar firasat ku selama ini bahwa Subaru Okiya adalah kau yang menyamar.."

"Biar aku yang menyusul Miyano dan menjelaskan semua. Kau uruslah urusan mu dulu.." Ucap Shinichi pada Shuichi, dan langsung berlari mencari Shiho.

Tak lama, handphone Jodie bergetar

Drrt drrt… drrttt.

"Hallo,.. – Apa? Bagaimana bisa….. –Baiklah,, bagian sana kuserahkan padamu. Tetaplah waspada..! Kita harus mencarinya sampai dapat !.." ucap Jodie di teleponnya.

"Gawat, Gin berhasil lolos, melarikan diri dari penjagaan." Ucap Jodie pada Shuichi.

"Apa!? Siall…"

Xxx

Tubuhnya mulai limbung, nafasnya pendek dan cepat, karena berlari tanpa jeda sedari tadi. Sampai akhirnya ia berhenti karena merasakan sesuatu.

Sesuatu yang menciutkan nyalinya, sesuatu yang selalu membuatnya bergetar hebat.

Malam yang larut, angin yang berhembus cukup kencang. Tekanan udara disekeliling yang tiba-tiba tinggi menambah sesak dan memperpendek desahan nafasnya.

Sampai akhirnya, ia merasakan sesuatu yang dingin di pelipis kanannya.

Pistol

Ya, pistol. Dengan seseorang berpakaian hitam-hitam rambut panjang perak mendekapnya dari belakang. Tengah menodongkan pistol ke pelipisnya.

"G-Gin… " desis Shiho. Walaupun udara disekitarnya terasa dingin, namun keringat yang keluar di pori-pori kulitnya sama sekali tidak dapat berhenti.

"S..ssttt.. Kita akan bersama lagi.. dan kupastikan kau akan mendapat pelajaran karena penghianatanmu Sherry.." Ucap Gin. Bahkan desahan nafasnya terasa dingin di pipi kiri gadis itu, sedingin tatapannya saat ini.

Shiho hanya dapat menelan ludah mendengarnya.. "Hhh. Aku tak sabar menanti pelajaranmu itu.."

"Sangat menarik.. Kau sama sekali tidak berubah, Sherry."

.

.

.

"Shiho…" Teriak Shinichi

"Hhh, Kudo.," Gumam Shiho.

"Mengagumkan, seorang putri dan pangeran kuda putihnya.." Desis Gin. Sambil terus menodongkan pistolnya.

Dari arah lain terdengar teriakan. "Angkat tangan, taruh senjata di tanah ! Dan lepaskan sandera, karena kau sudah terkepung..!"

Gin melirik ke sumber suara dan melihat sekelilingnya.

Terkepung, saat ini sudah tidak ada bisa lagi yang dilakukannya karena hampir seluruh anggota kepolisian dan FBI tengah mengepungnya saat ini.

Ia pun menaruh senjatanya di tanah dan perlahan melepaskan Shiho .

Perlahan Shiho menjauh, dan Shinichi ancang-ancang untuk menarik gadis itu.

Dorrrr….

"Shihoo…"

Baru lima langkah Shiho menjauh dari Gin, sebuah peluru menembus dari lengan belakang kirinya. Dengan cepat, darah mulai mendominasi pakaiannya.

Setelah Gin meletakkan senjatanya di tanah dan ia mulai melepaskan pegangannya pada Shiho, ia langsung mengambil pistolnya yang lain dari saku jasnya dan sempat menembak Shiho dua kali dan dengan cepat menyangga tubuh Shiho sebelum terjatuh dan menjadikannya perisai dirinya.

"Biarkan aku pergi, atau ku ledakkan kepala Sherry.." Ucap Gin sambil menyeringai. Dan membopong tubuh Shiho yang tak sadarkan diri.

"Siall.. Shiho…" Umpat Shinichi.

"Maaf, tuan putri harus kembali pada penyihir dan harus meninggalkan pangerannya" Ucapnya sambil menatap tajam Shinichi, tetap dengan seringaiannya.

Dooorrr..

Terdengar suara peluru yang di lepaskan dari sebuah gedung dengan jarak 200 meter dari tempat mereka. Dan saat itu pula, tubuh besar dengan rambut perak itu ambruk dengan lubang tepat dikepalanya.

"Huuh… Kau tahu, aku benci seringaianmu dan lebih baik kalau kau mati saja menyusul bos mu." Ucap Akai setelah dengan tepat melepaskan peluru ke seseorang bernama Gin itu.

"Shiho.. Sadarlah…"

Xxx

Dua minggu kemudian…

Dua minggu setelah kejadian itu..

Sebagian bersuka cita. . . Atas musnahnya Organisasi Hitam yang meresahkan banyak orang.

Sebagian bersedih. . . Karena gadis itu belum juga siuman dari tidur panjangnya.

Apa ia teramat lelah dengan kehidupan yang dilaluinya sehingga membuatnya tertidur selama ini..?

Ia bukannya koma, -sama sekali tidak-.

Luka bekas tembakanpun semakin membaik. Lalu, kenapa gadis itu belum juga sadar?

Entahlah…

Bahkan semua orang yang dikenalnya selalu menjenguknya dan menjaganya bergantian.

Terkecuali Shinichi.

Setiap hari ia selalu datang menemui gadis itu. Kenapa? Kenapa Shinichi? Apa karena rasa bersalah? – Tidak.

Ada perasaan lain ketika melihat gadis itu tertembak dan terjatuh tak sadarkan diri, bahkan jauh ketika ia menyadari bahwa gadis itu memutuskan untuk pergi dan menjauh darinya. Seperti, perasaan takut kehilangan, Mungkin..

Sampai akhirnya, ia tahu..

Dan ia merasa benar-benar sangat bodoh.

.

.

"Kau, kembalilah. Kau sudah sedari tadi disini, tunanganmu pasti sedang menunggumu sedari tadi. Biar aku yang menjaga Shiho." Ucap Shinichi pada Saguru yang tengah duduk di kursi dekat tempat tidur Shiho.

Ya, Saguru memang berada disana. Setelah ia mendengar kabar bahwa Shiho masuk ke Rumah Sakit karena tertembak – Lagi? – ia segera mengambil penerbangan pertama London ke Tokyo, padahal ia baru saja melaksanakan acara pertunangannya dengan Akako-san.

"Aku mengerti. Aku aka menemui Akako, jagalah ia dengan baik. Aku akan kembali besok, kalau ada apa-apa aku dan Akako menginap di Apartemen Shinjuku 2104." Ungkapnya seraya pergi.

xxx

Shinichi selalu Shiho setiap harinya, bahkan ini sudah hari ke tiga setelah ia menjaga Shiho marathon.

"Shiho,, bangunlah.. Kapan kau akan membuka matamu.."

"Kembalilah. Aku merindukanmu.." Bisik Shinichi seraya memegang tangan dan jemari gadis itu.

Ia mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu dan mengecup hangat keningnya. Yang ia tahu, saat ini wajahnya terasa panas dan jantungnya berdegup lebih cepat. Dapat ia pastikan bahwa ada semburat merah diwajahnya kini.

Ia hanya merasa malu atas apa yang baru saja dilakukannya – maklum karena sebelumnya ia belum pernah — dan semua terjadi begitu saja, begitu cepat. Setelah berhasil mengendalikan dirinya, Shinichi memutuskan untuk keluar sebentar, mencari kafetaria untuk membeli beberapa minuman dan makanan ringan.

.

Ceklekk..

Terdengar suara pintu yang dibuka.

Menampakkan sosok pemuda tampan yang telah kembali ke kamar rawat inap Shiho. Tapi..

"Shiho.. Shiho.. Dimana kau, Shiho.. " Teriak Shinichi ketika kembali, dan mendapati Shiho tidak berada di atas tempat tidurnya.

Setelah mencari ke seluruh Rumah Sakit dan bertanya pada siapapun yang dijumpainya, akhirnya Shinichi melihat gadis itu. Ia tengah duduk di bangku Taman halaman Rumah Sakit, sedang memnadangi pasien – pasien lain yang sedang bercengkrama dengan keluarganya.

"Shiho.. "

Melihat Shinichi yang duduk disampingnya, Shiho langsung berdiri dan ambil langkah pergi.

"Tunggu Shiho. Aku bisa jelaskan semuanya." Ucap Shinichi sambil memegang tangan Shiho.

Mata Shinichi membesar ketika melihat pundak gadis itu bergetar. Walaupun ia terkenal tak peka, tapi ia tahu bahwa gadis didepannya itu tengah menahan tangis.

"Shiho.." Ucap Shinichi langsung merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya dan gadis itu sama sekali tidak menolak, inilah yang dibutuhkannya saat ini.

"Maaf, maaf kan aku.. aku dan Akai-san hanya ingin melindungimu.. Maafkan aku jika caraku salah.."

.

.

.

"Tetaplah disini, dan kalau kau ingin sesuatu bilang saja padaku." Ucap Shinichi setelah membantu Shiho kembali ke Tempat tidurnya.

Masih terlihat sisa-sisa air mata yang tertinggal dipipi Shiho. Shinichi menaikkan tangannya untuk menghapus air matanya.

Lagi-lagi Shiho hanya bisa membulatkan matanya melihat tingkah Shinichi yang akhir-akhir ini 'aneh' menurutnya.

Melihat keheranan dari wajah Shiho, Shinichi kembali ke mode biasanya. "Kau tahu, kau sangat jelek saat menangis."

Shiho pun kembali ke pokerface nya. "Kau ini kenapa Kudo?"

"Kau tahu, aku kaget setengah mati ketika aku kembali ke sini, dan kau tidak ada. Padahal aku hanya pergi sebentar saja, dank au sudah menghilang." Ucap Shinichi sewot.

"Ya maaf, aku hanya merasa takut karena ketika aku sadar, tak ada seorangpun disini." Jawab Shiho.

"Kau tak perlu takut Shiho, tadi aku hanya pergi sebentar untuk mencari minum." Ucap Shinichi sambil tersenyum.

"Tak perlu khawatir Shiho. Percaya atau tidak, semua bergantian menjagamu selama kau taksadarkan diri Shiho. Agen FBI, Kepolisian Japan, Hakase, Bahkan orangtuaku dan Saguru. Mereka semua yang menyayangimu…"

"Benarkah ? Apa maksudmu? Justru aku jadi khawatir karena aku telah merepotkan banyak orang selama ini." Ucap Shiho.

"Hahh, terserah kau saja." Ucap Shinichi malas.

xxx

Akhirnya Shiho mengerti, ia perlahan sudah mulai memaafkan Shinichi dan Akai, terlebih Shuichi Akai. Ia mengerti setelah ia mendengar penjelasan dari mereka berdua.

"Aku tak menyangka, kau bisa memaafkan aku dan Akai semudah ini, saat kau mendengar penjelasan kami tadi." Tanya Shinichi ketika ia dan Shiho tengah berada di Taman kota.

"Melihat segala usaha kalian selama ini yang selalu ingin menjaga dan melindungiku, itu sudah sangat cukup sebagai alasan aku untuk tidak marah pada kalian. Yah, walau caranya yang salah." Ucap Shiho pada Shinichi sambil menatapnya intensif.

". . ."

"Kau tahu, aku tidak suka dibohongi Kudo.." Ucap Shiho sambil menerawang ke dapan.

". . ."

". . ."

"Kalau begitu, aku ingin mengakui sesuatu hal lagi padamu.." Ucap Shinichi, setelah selama beberapa saat ia terlihat tengah memikirkan sesuatu.

Mendengar perkataan Shinichi barusan, Shiho menolehkan kepalanya untuk memandang pria itu. Ia memandangnya dengan tatapan tidak habis pikir.

"Apa lagi yang kau sembunyikan dariku Kudo?" Tanya Shiho.

". . ."

"Apalagi yang kau lakukan dibelakangku.?" Tambahnya.

"Maaf, karena aku menyembunyikan semuanya selama ini, bahkan aku juga belum lama ini menyadarinya." Ucap Shinichi.

Shiho hanya menatapnya dengan tatapan –apa-yang-kau-maksud-Kudo.?-

"Dan aku tidak melakukannya dibelakangmu, karena aku akan melakukannya disini, tepat didepanmu."

Tanpa aba-aba apapun, Shinichi langsung mengeliminasi jarak keduanya dan mencium bibir gadis itu.

Shiho kaget bukan kepalang, ia tak mengerti kenapa Shinichi melakukan ini, ia juga tak mengerti kenapa dirinya tak mau menarik diri.

Shinichi sudah melepaskan ciumannya, saat Shiho belum sadar dari pikirannya sendiri.

"Ku-Kud.."

"Aku mencintaimu Shiho.."

". . ." Mencoba mencerna dengan baik apa yang baru saja didengarnya.

"Aku mencintaimu, Shiho Miyano.." Ucap Shinichi, lagi.

"Hhhh" Shiho tidak dapat berkata apapun, ia hanya mampu menggelengkan kepalanya mendengar pernyataan Shinichi. Walau ia tahu pasti, dalam setiap kata yang terlontar dari bibirnya penuh dengan kesungguhan, dan ia tak menemukan sedikitpun kebohongan pada sorot matanya.

"Percayalah padaku Shiho.. Percayalah.." Ucap Shinichi meyakinkan.

"Aku.. Aku selalu percaya padamu, Kudo. Tapi, bukan dalam hal ini."

"Kau tahu, aku baru sadar bahwa kau sangat penting bagi hidupku setelah kau pergi menginggalkanku, Shiho.. Ada perasaan sakit ketika aku sadar bahwa kau tak lagi disisiku, kosong dan hampa. Dan itu semua cukup membuat ku setres. Hhh."

". . ."

"Belum lagi, ketika aku melihat kedekatanmu dengan Saguru selama aku menjadi penguntitmu di London. Entah kenapa aku tak bisa melihat kau dekat dengan pria lain selain aku. Perasaan tidak suka itu selalu muncul ketika kau besamanya, apalagi dia juga berjanji untuk melindungimu, kan.."

". . ."

"Aku memang bodoh, bahkan aku harus merasakan kehilanganmu dan jauh darimu dulu, sebelum aku benar-benar sadar akan perasaanku padamu".

". . ."

"Bahkan, aku hampir kehilanganmu Shiho…"

"Cukup Kudo. Bagaimana aku bisa mempercayaimu kalau selama ini aku sangat tahu, siapa sebenarnya wanita yang cintai." Ucap Shiho

"Sepanjang aku bersamamu.. aku melihat kau sangat mencintainya Kudo.." Tambahnya.

"Ran maksudmu..?"

"Awalnya akupun berpikir demikian. Tapi aku sadar Shiho, aku sadar, perasaanku padamu berbeda dengan perasaanku terhadap Ran."

"Kau selalu membuang waktuku, dengan selalu memikirkanmu. Awalnya aku terlalu bodoh untuk mengakui perasaan ini. Tapi aku sadar, bagaimana perasaanku ketika melihat kau dengan Saguru, ketika kau terbaring di Rumah Sakit itu."

". . ."

"Aku mengerti sekarang, aku mengerti bahwa aku mencintaimu.. Dan perasaanku pada Ran, tidak lebih dari rasa sayang seorang teman masa kecil." Ucap Shinichi sambil memegang kedua tangan Shiho.

Shiho tidak dapat berkata apapun, ia hanya menatap nanar Shinichi.

"Mungkin kau lupa Kudo, aku ini bukan siapa-siapa. Aku hanya orang lain yang masuk dan merusak kehidupan damaimu. Aku.. Aku ini pembunuh Kudo.. Kau ingat..? Kau pernah mengatakan itu padaku." Ucap Shiho sambil menarik tangannya dari genggaman Shinichi.

"Tidak, kau salah Shiho. Justru kau adalah penyelamatku." Ucap Shinichi seraya menarik dagu gadis itu untuk menatap matanya.

"Kalau saja Gin tidak meminumkanku obat itu, atau obat itu jadi sempurna, mungkin saat ini aku sudah mati. Tapi kenyataannya, obat buatanmu itu hanya menyusutkan tubuhku."

"Aku seharusnya berterima kasih padamu, dan maafkan aku pernah berkata seperti itu sebelumnya."

Perlahan airmata gadis itu tak dapat dibendungnya lagi. Bulir demi bulir jatuh diatas pipi pucat gadis itu.

Ia tak ingin mempercayai setiap kata yang keluar dari bibir pria itu, ia ingin menyanggahnya. Tapi ia tak tahu apa lagi yang harus dikatakan..

Detik berikutnya, ia telah ada dalam pelukan hangat pria yang juga dicintainya itu.

Tak dapat dipungkiri, berada dalam pelukan orang dicintai memang dapat membuat segalanya lebih baik. Begitupun dengan Shiho, perlahan tangisnya mereda dan yang tersisa hanyalah kaos Shinichi yang basah terkena airmata.

Shinichi mengangkat kapala gadis itu agar mereka bisa bertatapan..

Shinichi kembali mengusap bekas airmata dipipi gadis itu, seraya berkata. "Percaya atau tidak, itu hak mu Shiho. Aku hanya ingin kataka—.."

"Uummm, Kudo. Boleh aku mendengarnya, sekali lagi.."

Sadar akan maksud dari ucapan Shiho, Shinichi langsung mengunci bibir gadis itu dengan bibirnya. "Aku.. sangat.. mencintaimu.. Shiho.." Ucap Shinichi di tengah ciuman mereka. Dan Shiho menjawab pernyataan Shinichi dengan membalas ciuman panas Shinichi.

-FIN-

Sekali lagi terima kasih yang sudah menunggu fic story-ku, yang sudah mau repot-repot nge-review, nge-fav, dan mem-follow. Sorry ga bisa di bales reviewnya satu-satu. Sekali terima kasih. See yah, in my new fic story….