COMPLICATED
Chapter 2
Naruto by Masashi Kishimoto
This fic by lyreinata-chan
Rated T Warning: OOC, typos, kata-kata kasar, little bit of shonen ai, gaje, dan segala kekurangan lain
enjoy please :3
.
.
.
.
.
Aku bermimpi akan menjadi manusia yang utuh di masa lampau. Tak pernah terfikir kadang pemikiran yang terlalu naif membuat semuanya hancur berantakan. Saat itu aku percaya, ini bukan kutukan ini bukan hambatan. Ini langkah besar untukku. Jika awalnya aku tertatih tatih membangun eksitensiku didunia ini, sekarang tidak ini aku bisa berlari menerjang semuanya. Jika diriku yang dulu mengejar sebuah pengakuan. Maka akan kuserukan dengan lantang,kalian semua mengejar pengakuanku. Akan kudiamkan hingga bulan April datang, akan kudiamkan hingga aku benar benar diam. Dan saat semuanya berada dibawahku, akan kutunjukkan bagaimana cara menikmati hidup dan hidup sesungguhnya. Jika aku tak mampu seret aku dan paksa aku menjadi Teru-teru bozu dibalkon kamarmu, percayalah.
Naruto mengamati paragraf pertama buku novel yang dibelinya dengan uang tabungannya. Recehan itu menjelma menjadi salah satu novel best seller dikalangan remaja dan orang dewasa. Sebenarnya otaknya juga bingung kenapa ia membeli novel ini. Novel berjudul "Fell", dengan nama pengarang "Hime". Mungkin otaknya sudah agak bertambah bodohnya. Ia menghela nafas pelan, kata kata di novel itu membuatnya pusing. Naruto akui ia memang bukan pecinta tulisan tulisan rumit.
Naruto menutup buku itu, meletakkannya disembarang tempat. Lalu meninggalkannya menutup mata untuk sejenak. Ia membalik tubuhnya ke kanan, ke kiri, terlentang, hingga tengkurap. Tapi matanya sama sekali tak bisa diajak kompromi. Ia ada ulangan fisika besok, dan seingatnya masalah hari ini cukup melelahkan. Jadi kenapa dari dua alasan bagus itu, matanya tak mau menutup dan membiarkannya beristirahat.
Ia menatap langit langit kamarnya. Tanpa sadar bergumam.
"Eksistensi di dunia ya", ia mengangguk ngangguk seperti anak anjing seorang diri.
"Kalau eksistensi, jalan pintasnya ya cuma uang", gumamnya berpikir.
"U.. uang?!,He.. hei", Naruto tergopoh gopoh kearah tumpukan baju kotornya yang terletak di ujung kamar kecilnya. Ia mencari celana yang ia pakai sore tadi.
"BINGO", teriaknya semangat.
Setelah kertas kumal yang ternyata isinya tak sekumal kertasnya itu berhasil ia rogoh. Dengan dungunya ia tak kepikiran bahwa mungkin saja tadi sore yang ia lindungi adalah seorang pencuri.
Noooo!, Naruto akan menangis darah jika ia dilibatkan sebagai tersangka juga.
Dikembalikan atau disimpan?
atau mungkin dicairkan saja ya?
Naruto langsung memasang wajah mupeng.
Tapi cih.. lebih baik dikembalikan saja deh. Kan bisa saja orang aneh yang menjatuhkan cek ini baik hati, sehingga memberikan setengahnya pada Naruto.
"Fufufu..", Naruto cekikik'an sendiri.
#####
"Hih.. rasanya aku mau demam",ucap seseorang memijat bahunya lemas.
"Kenapa kak?",tanya bocah laki laki sekitar 24 tahun yang duduk dipangkuannya.
"Aku merinding gak jelas daritadi", ucap seseorang itu lagi.
"Jangan.. jangan hantu kak", Bocah itu memasang wajah seramnya.
"Kau mau kutendang eh, monyet", ancam orang itu dengan wajah tak kalah seram.
"Ja.. jangan kak", nyali bocah itu langsung menciut.
"Yasudah, ayo tidur semua", orang tersebut mengomando dengan gestur tangan.
"Baik kak!", ucap anak-anak berbarengan.
#####
"Narutooo", sosok gadis berteriak diantara koridor sekolah.
Pemuda yang merasa namanya dipanggil menoleh-noleh dengan takut. Dari kejauhan terlihat warna tidak lazim yang sangat mencolok.
Pink?, apa orang tuanya salah proses pembuatan hingga anak mereka menjelma seperti itu?. Akan kasihan sekali jika anak gadis itu laki-laki namun berambut pink. Itu lebih memalukan daripada tak sengaja ketahuan mengintip ibu guru yang seksi. Jika Naruto dilahirkan seperti itu bisa dipastikan, Naruto akan menggunakan uang sakunya untuk membeli semir rambut hitam ataupun coklat (biar keren) seumur hidupnya.
Gadis pink itu semakin mendekat, lalu dengan kekuatan banteng ia menarik tangan Naruto dengan kuat ketika Naruto sudah akan kabur.
"Na-ru-to", gadis itu tersenyum manis dengan aura yang sangat mencekam.
"I.. iya Sakura-chan", Naruto melirik kiri dan kanan. Koridor sepi, bodohnya ia memilih pulang saat saat terakhir.
"Kau menipuku iya kan?, kau bilang Sasuke-kun temanmu yang tampan itu mengajakku kencan, tapi nyatanya aku menunggu 3 jam 42 menit Naruto!, dan omonganmu itu tak terbukti!", gadis itu geram mengingat dirinya seperti orang bodoh kemarin.
'Sasuke malah menyusulku sih', batin Naruto.
"Err itu, Ia ada urusan penting kemarin, jadi.. maafkan aku ya Sakura-chan tak memberitaumu", karang Naruto sembari menunjukkan ekspresi melas. Sakura sepertinya menelan alasan itu bulat-bulat. Ia melepaskan tangan Naruto dengan wajah merona.
"Apa mungkin urusan Sasuke-kun itu adalah menyiapkan lamaran untukku?", Sakura bertanya dengan PD. Ia membusungkan dada dan berucap dengan nada yang arogan.
Naruto terpingkal-pingkal melihatnya, dalam hati ia berseru.
'Satu-satunya yang mau dia lamar kan aku!', ia sweatdrop sendiri jika membayangkan harus memakai gaun wanita lalu bungsu Uchiha itu menggandengnya ke pelaminan?, what the hell!, ia akan sangat merasa malu. Walaupun gay itu pilihannya, tapi ia mulai menyesal dan kebosanan di hubungan yang hampir 3 tahun ini. Bukan itu saja, ia juga merasa muak akan hidupnya, dirinya cuma bagaikan boneka. Ia sendirian, hanya sendiri. Sasuke yang dengan dermawannya membelikannya rumah, ia sengaja memilih rumah yang sederhana untuk ia tinggali. Baa-san dan Jii-san juga sepertinya tak mempedulikannya.
Hah.. jadi apa gunanya hidup?.
Naruto tertawa hingga menangis, ia membungkuk lalu menghapus cairan yang lolos dipipinya. Ia nyengir kearah gadis pink yang terlihat senewen karena ditertawakan itu. Gadis itu mendelik kesal, lalu dengan kesit menginjak kaki berbalut kets oranye Naruto. Dan berlalu dengan sangat elegan.
"Ooouch, gadis dada rata sialan!", Naruto buru-buru menutup mulutnya, lalu secepat kilat berlari setelah melihat gadis pink itu berbalik untuk mengejarnya
.
.
.
.
.
Naruto melihat sekeliling, taman bermain itu sekarang ramai oleh anak-anak kecil. Sosok itu mencolok diantara anak-anak kecil itu. Ia duduk diayunan, mengenakan jaket army dan celana gombrong, tak lupa topi hitam yang nangkring dikepalanya. Naruto mendekatinya, memastikan benar orang itu yang kemarin.
"Kembalikan", nah orang itu langsung bereaksi, berarti memang benar.
"Kau mau ini?", Naruto melambaikan cek itu dengan pose menantang. Dengan kikuk orang itu mengangguk.
"Tapi jawab dulu pertanyaanku", ujar Naruto centil.
"Apa?", tanyanya malas.
"Kau pencuri?"
"Bukan"
"Kau yang memiliki cek ini?"
"Iya"
"Untuk apa?"
"Makan"
Naruto menggaruk kepalanya bingung.
"Terus untuk apa lagi?"
"Buat sekolah"
"Kau masih seorang pelajar?"
"Bodoh, jelas-jelas kau pelajar!, bukan aku yang sekolah tapi adikku"
"Cewek atau cowok?"
"Cewek cowok, hei aku sudah malas meladenimu, mana cekku!, atau aku yang datang padamu dan merebutnya", geramnya sambil membuka topi hitamnya. Naruto berkedip-kedip, didepannya berdiri seorang pemuda, dengan mata berpupil kecil namun memiliki bola mata berukuran besar membuat kesan manis, rambutnya ohh rambutnya acak-acakan berwarna indigo. Naruto berdebar-debar.
'Hohoho jangan Naruto, kau cuma boleh menyimpang pada Teme'. Tanpa sadar pemuda itu sudah ada dihadapannya, dan dengan cepat menjegal kakinya dan membantingnya ke tanah. Para anak-anak langsung berlari pulang karena mengira kejadian ini adalah pertengkaran.
"Jadi, cepat kembalikan bodoh", Ujar pemuda itu. Naruto menatap pemuda diatasnya. Dengan panik ia mendorong dada pemuda di atasnya.
"Eh?" Kenapa nggak keras ya? Pemuda atau gadis? itu cepat cepat bangun, lalu dengan muntab menendangi Naruto yang semakin lama semakin horor.
"Kau menyentuh apa brengsek?!"
DUAKK.. DUAKK
"Hentai!"
DUAKK.. DUAKK.
"Kurang ajar!"
DUAKK.. DUAKK..
"Uwahh. . uhukk uhukk helep.. helep.."
"Beraninya kau bastard menyentuh asetku yang berharga"
"Aku .. aku uhukk sungguh tak sengaja"
"Arrghh kau sengaja atau tak sengaja itu gak penting!, yang penting kau harus bersedia kupukul"
.
.
.
15 menit kemudian
"Hahhh hahhh", si pemuda atau gadis itu ngos-ngosan karena habis mengeluarkan amarahnya. Dia sangat sangat marah karena ada orang yang berani menyentuhnya, dibagian privasinya!, sekali lagi!, PRIVASI!.
Sang korban hanya bisa berbaring pasrah dengan wajah penuh cakaran dan perut yang luar biasa nyeri. Tendangan dan cakarannya sungguh sungguh loh. Sang pelaku menghela nafas pelan, ia berpikir mungkin ia sudah kelewatan tadi. Dengan perlahan ia mengulurkan tangannya untuk membantu Naruto. Pemuda itu memandang heran sebelum akhirnya menerima bantuan itu.
"Kau dimaafkan", ujar si gadis atau pemuda? itu. Naruto mendengus, wajahnya benar-benar perih. Tapi dianggapnya ini hanya luka kecil.
"Jadi kau perempuan?", tanya Naruto akhirnya.
"Apa kurang jelas kau merasakannya dengan kedua tanganmu eh bodoh?", ucap si gadis sarkastik sekalee. Naruto rasanya ingin menendang orang yang berjongkok dihadapannya saat ini juga, tapi sayangnya kenyataan bahwa dia adalah gadis membuatnya mengurungkan niat.
"Baiklah gadis manis", Naruto berkata dengan nada dibuat-buat.
"Iya banci", jawaban yang sangat manis.
Naruto memijit pelipisnya. Sebuah bohlam lampu muncul dikepalanya dengan sangat tiba-tiba.
Naruto mengeluarkan cek yang sedari tadi ia genggam. Melambai lambaikannya didepan gadis itu.
"Kalau kau mau cek ini kembali kau harus jadi pacarku" Si gadis nampak tak terkejut.
Malah seringaian muncul setelahnya. Naruto menelan ludah gugup. Ada apa gerangan?
"Ohh.. kau mau aku jadi pacarmu dengan iming-iming cek 'milikku' sendiri, dasar pemeras" Naruto sudah akan membalas omongannya, ketika tiba- tiba gadis yang berjongkok didepannya ini mengulurkan tangannya.
"Kenalkan, Hinata Hyuuga. Pacar barumu"
.
.
.
.
.
TBC
. Hai hai lyreinata-chan disini xD Terimakasih untuk review di chapter kemarin. ada yang tanya, apakah ini shonen ai?, haha sebenarnya saya lupa mencantumkan di warning bahwa akan ada sedikit bumbu shonen ai disini. Ini penting bagi kelangsungan cerita soalnya, hehe. dan akhir kata, terimakasih telah membaca dan terimakasih untuk review di chapter kemaren xD
