COMPLICATED

Chapter 3

Naruto by Masashi Kishimoto
Rated T
Pair : SasuNaru, NaruHina, and other pair
Warning : typos, gaje, berantakan, author gendeng,AU

"Kenalkan, Hinata Hyuuga. Pacar barumu"

.

.

.

Naruto mengorek telinganya. Lalu menatap gadis jejadian yang sedang berjongkok di depannya. Sekali lagi, mengorek telinganya. Si gadis yang katanya namanya Hinata itu berdecak sebal.

"Selain banci, kau itu juga budeg ya ckckck, nyesel deh setuju pacaran ama orang budeg" , hahaha nyebelin gila omongan si Hinata ini.

Naruto langsung mendelik dan spontan berdiri.

"Eh kamu tuh kalau ngomong yang bener dikit napa?, banci banci, jangan panggil aku banci!. Namaku Naruto bukan banci, dan siapa yang memaksamu setuju jadi pacarku heh, lagian siapa juga yang mau sama cewek model butchi kaya kamu hah!", semprot Naruto sebal.

"Cerewet", Hinata yang masih berjongkok menaikkan satu alisnya pertanda ia tak suka dengan omongan Naruto.

"Menyebalkan", umpat Hinata.

"Memuakkan", umpatnya lagi.

Hinata berdiri lalu mendekatkan dirinya pada Naruto. Hingga Naruto dapat melihat wajahnya yang sekarang penuh aura intimidasi. Ia mendekatkan bibirnya pada telinga Naruto, meniup pelan lalu membisikkan sesuatu.

"Bastard", Hinata menjauh lalu berjalan memungut topinya yang sempat ia lupakan, memakainya lagi. Lalu dengan santai melangkahkan kakinya.

Naruto melongo, nih orang nyebelin banget.

"Hei!", Naruto memanggil Hinata.

"Hei!, Hinata!", panggilnya lagi.
Hinata berhenti lalu dengan posisi membelakangi Naruto ia melambaikan sesuatu, yaitu sebuah cek yang menjadi akar masalahnya. Naruto sekali lagi harus mendelik, kapan cek itu berpindah tangan?.

"Tenang saja, aku orangnya menepati janji kok, besok datang lagi ya", teriak Hinata sembari tertawa pada Naruto yang masih shock atas kejadian absurd ini. Bahkan setelah gadis itu menghilang ia hanya bisa mematung shock di tengah taman bermain di sore hari itu.

'Aku Naruto yang berpacaran dengan Sasuke,mempunyai pacar lagi bernama Hinata yang entah apa spesiesnya'
.

.

"Lelah.. aku lelah hari ini", gerutunya sambil berjalan gontai, pulang.

#####

Flash Back

"Kau tunggu disini saja, sebentar lagi ia pasti kesini, kalau begitu aku duluan ya", ucap Naruto riang lalu berjalan menjauh dari gadis bermahkota pink itu. Sang gadis nampak tak keberatan, ia sibuk memoles wajahnya dengan bedak dan menambah-nambah riasan di wajahnya.

Naruto mendengus lalu mencoba tak ambil pusing dengan sikap gadis itu. Ia harus cepat-cepat pergi dan menyelesaikan semuanya. Yap, semuanya.

.

.

Pemuda berambut emo menyetir mobilnya dengan tenang. Ia telah membuat janji dengan kekasihnya. Ia tersenyum sumringah merasa bahwa smartphone di sakunya bergetar, ia pikir itu dari kekasihnya. Namun ternyata itu telpon dari sekretarisnya.

"Tuan Uchiha, dokumen untuk rapat sepertinya terbawa anda, tuan Kabuto mencarinya. Tuan Kabuto yang bertanggung jawab atas rapat ini meminta anda jika berkenan-"

"Ya aku berkenan mengantarnya", ucap Sasuke cepat.

"Ter.. terimakasih Tuan Uchiha"

"Ya Matsuri"

Setelah mematikan sambungan teleponnya, Uchiha bungsu ini langsung membuka tas kerja yang ia letakkan di kursi penumpang sebelahnya. Ia langsung menemukan dokumen penting yang ia cari.

Masih sempatnya ia mengirim sebuah pesan untuk kekasihnya.

To: Dobe
Subject: I'am late and i know it
Message:

Hei dobe aku telat.

.
.

From: Teme
Subject: I'am late and i know it

Hei dobe aku telat.

.

.
Sasuke mau tidak mau harus membanting setir ke arah kantornya. Sesangkan dilain tempat, Naruto sedang bersusah payah menaiki jembatan besar. Apa yang dilakukannya?

End of flashback

#####

Pagi hari ini Naruto terbangun lebih awal. Ia tidak tau kenapa, tapi rasanya ada sesuatu yang janggal. Ia menggaruk tengkuknya dengan wajah malas. Ia mengusap wajahnya.

"Aww", ia meringis merasakan wajahnya perih perih.

Ia mencari cermin, dan melihat pantulan wajahnya.

"Jeleknya kau!", teriaknya absurd.

Ia kira kejadian kemarin hanya mimpi. Tapi ternyata wajah babak belur dengan bekas cakaran ini nyata. Sungguh, Naruto akan mengingat kejadian ini sepanjang hidupnya. Baru memegang asetnya saja, wanita setengah pria itu menghajarnya begini. Apalagi kalau memegang yang lain?. Bukannya berpikiran mesum, hanya saja Naruto membayangkan bagaimana babak belurnya suami wanita itu nanti.

wanita wanita saja yang dari tadi disebut. Ia punya nama..

"Hinata", senyum geli langsung terukir di wajah tan-nya.

Naruto menuruni tangga rumah sederhananya, kamar Naruto berada di kamar atas. Dan kamar bawah ditempati oleh kakek dan neneknya.

Ketika pagi seperti ini tiba, Naruto akan menyempatkan diri untuk berpamitan kepada mereka di ruang makan, tapi tidak untuk sarapan bersama mereka.

Naruto berjalan dengan kikuk seakan-akan setiap harinya ia tak melakukan ini. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah, kakek dan neneknya seperti biasa ada di ruang makan. Nenek Naruto tengah menyuapi kakek Naruto yang duduk di atas kursi roda. Mereka sesekali bercerita dan tersenyum, sesekali tertawa kecil ketika celetukan kecil lucu hadir diantara mereka. Melihat ini Naruto terpaku sejenak, hingga nenek Naruto menyadari kehadiran dirinya. Segera saja suasana menjadi hening, kakek Naruto hanya melihatnya sekilas, lalu segera saja mengalihkan pandangannya. Naruto mencoba tersenyum, lalu dengan canggung berbicara terbata-bata.

"Ka-kakek aku berangkat", ia menundukkan kepalanya sedikit.

"Nenek aku berangkat", ia menunduk lagi.

Mereka berdua tak menjawab ataupun memandangnya. Naruto tersenyum lebar setelahnya, dan ini mengindikasikan bahwa ia sering mendapat respon seperti itu.

Dengan langkah ringan ia melangkah keluar, meninggalkan 2 orang kerabatnya yang masih tertinggal. Kakek neneknya adalah orang yang baik, tapi entah kenapa..

"Mereka benar-benar membenciku ya", gerutu Naruto sembari mengacak rambutnya gemas.

#####

Jarak rumah Naruto dengan sekolahnya cukup jauh, hingga setiap hari ia harus menaiki kereta untuk kesekolah. Ia beruntung karena bangun lebih awal sehingga ia tak perlu berdesak-desakan dengan penumpang lain seperti biasanya. Di dalam kereta hanya sedikit penumpang dan gerumbulan siswi yang mencolok dengan rambut mereka yang sengaja dikeriting, make-up yang berlebihan, dan suara cekikikan ketika mereka bercerita. Naruto duduk dengan tenang sembari mengunyah roti melon dan jus jeruk yang ia beli di stasiun setiap pagi, sampai-sampai si penjual ingat pada wajah bodohnya.

Segerumbulan cewek populer atau apapun julukan mereka, tiba-tiba diam. Tanpa Naruto sadari, mereka sedang memandangi dirinya. Ia tetap cuek memakan sarapan paginya.

"Dia keren"

"Ganteng.."

"Cool, seperti badboy dengan lukanya"

Seperti itulah mereka berkomentar, jadi jika para gadis menganggapnya menarik. Apa yang akan mereka katakan tentang seorang-lelaki-yang-mempunyai-pacar-seorang-lelaki?. Mungkin mereka akan menyebutnya.

"Banci"

"Eh?"

.

.

.

.

"Jadi kau selalu naik kereta?", entah bagaimana kejadiannya hingga gadis yang membuatnya penasaran itu duduk disebelahnya. Meminum coke dengan santainya. Ia masih berpenampilan aneh, hari ini ia mengenakan topi berwarna abu-abu dengan tulisan "WINNER", jaket yang ia tarik resletingnya ke atas hingga dagu berwarna hitam, celana jeans hitam, dan sepatu kets abu-abu, dan Naruto bisa melihat ada sebuah gelang kaki yang tersembunyi dibawah jeansnya. Tapi entah kenapa, ia suka style Hinata.

"Iya", ucap Naruto masih memperhatikan bagaimana Hinata meminum cokenya dan satu tangan yang berada dalam saku jaket. Dan tentu cara duduknya yang sangat laki-laki.

"Ohh", Hinata mengangguk-angguk. Ia melirik kerumunan cewek yang memandang Naruto intens.

"Fansmu?", celetuknya tiba-tiba.

Naruto terdiam, ia tak pernah merasa punya fans sebelumnya. Ia memasang wajah dungunya. Hinata hanya meliriknya sebentar, sebelum ia meminum coke-nya lagi.

"Banci kuning bodoh", dengusnya.

"Sudah kubilang jangan memanggilku banci", geram Naruto.

"Kau tidak setuju dengan kata banci-nya, berarti kau setuju dengan kata-kata kuning bodohnya, iya kan kuning bodoh?", Sumpah, Naruto bisa melihat kilat nakal dari mata Hinata. Suka sekali ia membuat orang kesal.

"Kau pikir nama seseorang dibuat tanpa pemikiran yang keras", ujar Naruto ketus.

"Ya ya baiklah, kuning", ucap Hinata cuek. Naruto mencoba tenang bicara dengan Hinata. Benar-benar orang yang menyebalkan.

"Aku penasaran", ucap Naruto lirih.

"Tentang?"

"Kau.. ", akunya dengan wajah sedikit memerah.

"Bu-bukankah kita sepasang kekasih?", tanyanya ragu.

Bisa dibilang ini adalah kali pertama Naruto merasa ia harus menegaskan sesuatu miliknya. Ia berdebar hingga rasanya ia mendengar jantungnya sendiri tepat disebelah telinganya. Ini mungkin terlalu cepat, tapi rasanya sudah lama Naruto mengenal gadis ini.

Hinata menatapnya dengan mata tak berpupil miliknya.

"Haha, iya kita sepasang kekasih", ujarnya dengan tawa.
Naruto rasa ia tertarik pada pandangan pertama. Bukan cuma sejak kejadian ia menyelamatkan Hinata di taman, bukan juga saat ia mengembalikan cek Hinata, dan juga bukan ketika ia bertemu di kereta dengan Hinata, sehingga ia mengawasi setiap inchi perbuatan dan raut wajah Hinata. Ia rasa ini lebih lampau dari itu semua, terlepas kenyataan mereka baru mengenal dan Hinata itu menyebalkan.

Naruto rasa ia ingin lebih mengenal Hinata, kekasihnya lebih dalam.

"Mereka memperhatikan kita", Hinata terlihat tersenyum jahil.

"Siapa?", tanya Naruto dengan wajah linglung.

Hinata menunjuk segerombolan cewek yang terus mengamati mereka. Naruto menolehkan kepalanya, sehingga membuat para cewek-cewek itu tersenyum genit ke arahnya. Naruto hanya menaikkan satu alisnya, sebelum akhirnya ia balas tersenyum hingga memperlihatkan barisan giginya. Tak ayal membuat para cewek itu senang.

Hinata menatapnya dengan geli. Sampai Naruto mengalihkan pandangan padanya lagi, ia tetap memandang Naruto geli.

"Apa yang salah?"

"Jika aku jadi kau, aku tak akan tersenyum pada segerombolan cewek saat kekasihnya yang sedang meminum coke ada di sebelahnya", Hinata tertawa.

"Ah, maaf", sesal Naruto.

"Santai saja, aku tak papa kok. Lagian kau tidak bersalah padaku. Walau statusku itu kekasihmu sekarang", Hinata memutar bola matanya.

"Kurasa karena hubungan kita sebatas perjanjian, dan oh iya tentukan dong. Aku harus jadi kekasihmu sampai kapan?, apa sampai kau bisa normal lagi?", lanjut Hinata ringan.

"Ka-kau tau?", Naruto rasa wanita ini adalah peramal.

"Yah aku sempat melihat mobil yang disetir oleh seorang pemuda dan kau didalamnya, kau menatap jendela tapi pemuda itu menatapmu walau ia menyetir,kukira dia teman atau kakakmu, tapi bisa juga dia adalah pacarmu", jelas Hinata.

Naruto menunduk malu. Membuat Hinata tau bahwa ia sepenuhnya benar. Hinata menghabiskan cokenya lalu segera beranjak dari duduknya sesaat sebelum akhirnya kereta berhenti.

"Kau tak mau turun?, kau murid sekolah konoha high school kan?"

"I.. iya"

"Ayo, jangan bertanya apa-apa. Hanya kebetulan tempat kerjaku ada di dekat sekolahmu. Restaurant Chinese yang ada di ujung jalan sekolahmu"

Mereka pun berjalan ber'iringan, Hinata membuang kaleng coke-nya dengan cara melemparnya ke arah tempat sampah di stasiun. Dan lemparannya itu masuk. Ini membuat Naruto bersiul kagum, karena melihat jarak tempat sampah itu cukup jauh, dengan banyak orang berlalu lalang.

"Kau sudah bekerja"

"Tentu, kau tak melihat wajahku", Hinata mendekatkan wajahnya sembari melotot kepada Naruto, meyakinkan.

"Apa aku masih terlihat remaja?", Hinata sambil menjauhkan kepalanya.

"Enmm.. yah sejujurnya iya", Naruto berbicara atas dasar fakta. Ia mengira Hinata adalah gadis berandalan yang putus sekolah, tapi ternyata ia memang sudah tak bersekolah dan ternyata sudah bekerja.

"Kenapa kau tak kuliah?", ragu-ragu Naruto bertanya.

"Entah, aku hanya tak ingin. Kelas berapa kau sekarang?"

"Aku kelas 2 sekarang"

"Ahh baiklah aku sudah sampai, silahkan kau lanjutkan sendiri perjalananmu. Jika kau mau bertemu aku.. humm", Hinata meraih sebuah bolpoin dari kantongnya. Dan menulis sesuatu di telapak tangan Naruto.

Setelahnya, Naruto membatu dengan Hinata yang sudah masuk ke dalam bangunan ber-cat merah. Restaurant Chinese yang terkenal di sekitar sini.

#####

"Arghh sial!", Sasuke mengutuk pelan ketika mobil yang ia lajukan tiba-tiba berhenti.

Ia bergegas keluar dan mengecek mesin mobilnya. Arghh benar-benar sial, ia tak tau cara memperbaikinya. Di pinggir kota begini mana ada montir berpengalaman?, bah! takkan ada!.

Sasuke mengutuk kesal pada Kabuto, wakilnya yang menyanggupi proyek di pinggir kota seperti ini.

"Permisi tuan", ucap sebuah suara. Segera saja Sasuke menoleh dan mendapati seorang bocah lelaki berambut coklat dan memakai syal panjang tengah menatapnya.

"Mobil tuan mogok?"

"Hn"

"Mau kuperbaiki?"

"Hn.. eh?! apa?"

"Tapi aku minta bayaran"

Sasuke hanya menatapnya aneh. Semenit setelah menimbang-nimbang iapun mengangguk sembari memberikan tatapan awas-sampai-tidak-bisa. Si bocah cuek, lalu dengan segera mengutak-atik mobil Sasuke.

Sekitar 10 menit, si bocah berseru.

"Coba nyalakan!", teriaknya dengan memerintah.

Sasuke-pun dengan tidak yakin mencoba menyalakan mobilnya.

.

.

"Brummm.. brummm"

Sasuke melongo.

"Mana bayarannya?", si bocah menagih, menjulurkan tangannya yang kotor ke Sasuke. Sasuke mengeluarkan dompetnya lalu menyerahkan beberapa lembar uang.

"Wuahh ini kebanyakan tuan, satu lembar saja sudah banyak", kagetnya.

"Nih", bocah itu mengembalikan sisa uang Sasuke, ia hanya mengambil 1 lembar 10000yen dari Sasuke. Sasuke benar-benar gak konek jadi ia hanya mengikuti apa yang terjadi.

"Ya sudah ya tuan", bocah itu akan segera berpamitan, tapi Sasuke menghentikannya dengan memegang bahunya.

"Berapa umurmu?", tanya Sasuke. Bocah itu memandangnya aneh. Tak mungkin kan laki-laki ini shota-con*?.

"12 tahun", jawab bocah ini ringan.

"Nama?", Sasuke memicingkan mata.

"Konohamaru", bocah itu nyengir sambil menepuk dadanya.
.

.

.

.

TBC

*shota-con : ketertarikan pada bocah laki-laki dibawah umur.

Aaaa... Lyreinata-chan kembali membawa chapter 3 ahahhahaha, ohh iya lupa.. model rambut Hinata diwaktu ini itu pendek acak-acakan xD kalo ada yg bingung coba liat sampul fic ini deh, kalau masih gak jelas.. yah bayangin rambut hinata pas masih genin deh, hehehe. oh iya maaf ya minna-san saat di chapter 2 itu ada typos soal anak yang duduk dipangkuan Hinata harusnya usianya 12 tahun T.T maaf sekali ya minna-san, soalnya disitu malah typonya jadi 24thn *buset*,sekali lagi maaf ya minna-san. Hahaha, baiklah..

Balesan review yang nggak on:

Guest1: iyap ini slight BL xD ahahaha

Chery Cherub : iya cece terimakasih :3

Guest2: Amin semoga mereka cepat sadar haha, iyap ini dilanjut

Guest3: Aaa.. ini update,iya teganya kau Naru!. ini udah dipanjangin wordnya dikit *plak

Guest4: Update update, iyak saya uda panjangin dikit xD *plak

.

.

Yak terimakasih :3

Bersediakah Review? :)