COMPLICATED

chapter 4

Naruto by Masashi Kishimoto

This fic it's my own

Rated T

Genre : Romance (?), Hurt/Comfort

Pair: NaruHina, SasuNaru, and other pair :3

Warning : Typos (always), OOC (that must happen in my fic,khukhukhu), fail plot, gajeness, and many more.

.

.

.

enjoy please :)

.

.

Naruto menggerak-gerakkan jari-jarinya dengan gelisah, sesekali saphire-nya menatap jendela dengan risau. Ia menghela nafas pelan ketika matahari tak kunjung bergerak ke arah barat. Ia ingin bel pulang segera berbunyi, agar ia bisa bertemu dengan wanita itu. Ia tersenyum melihat telapak tangannya sekilas, lalu mengepalkannya sekuat mungkin.

Teman di sebelah bangkunya adalah pemuda dengan tato segitiga terbalik di kedua pipinya. Ia sering mendapat teguran tentang tatonya yang terlalu mencolok, tapi ia hanya bisa meringis lalu kabur, lain waktu ia ketahuan membawa seekor anak anjing ke dalam sekolah dan ia lebih memilih pulang ke rumah untuk menaruh anjing tersebut di rumahnya daripada mengikuti pelajaran namun terlebih dahulu ia membuang anjing tersebut.

Naruto dikenal disekolah ini karena ia adalah anak yang ceria. Namun juga tertutup. Dan pemuda anjing disebelahnya adalah salah satu teman yang mengerti dirinya.

"Kau kenapa Nar?", ujarnya dengan berbisik-bisik sambil melirik ke arah depan, dimana Kurenai-sensei mengajar.

"Gapapa Kib", jawabnya dengan cengiran lebar.

"Ahh kau ini masa main rahasia-rahasia'an ama temen sendiri", ucapnya dengan suara normal. Volume normal untuk Kiba yang berisik, untuk ukuran orang biasa adalah keras.

Naruto tak sempat memperingatkan untuk diam,ketika sebuah penghapus dengan indah melayang ke arah kepala Kiba.

"Buukk", penghapus itu sukses mengenai jidat bocah anjing itu.

"Aucchh, b*tch!", umpat Kiba reflek.

"Inuzuka!, sudah salah kau masih sempat mengumpat di kelasku eh?!, beraninya kau!, lari 10 kali di lapangan!", bentak Kurenai murka.

"Ah..ta-tapi sensei", protes Kiba, dan sebuah pelototan manis dari Kurenai-sensei membuatnya bungkam dan dengan gontai ia berjalan keluar kelas.

Naruto menatapnya dengan kalut, ini juga salahnya ia rasa. Dengan ragu Naruto mengangkat tangannya pelan.

"Ya ada apa Uzumaki-san?"

"Sebenarnya aku yang mengajak Kiba bicara sensei,hahahaha, jadi bisakah aku ikut berlari bersama Kiba?", tanyanya dengan cengiran lebar.

Kurenai-sensei menghela nafas tanda frustasi.

"Ya ya sana terserah!", ucap Kurenai-sensei pasrah.

Dan Naruto-pun berjalan cepat untuk mengikuti Kiba. Tapi Kiba tak terlihat dimanapun, Naruto mencarinya. Dan ia mendengar suara Kiba dari sebuah pintu. Naruto pun berjalan ke arah pintu dan membukanya sedikit.

"Kau yang melakukannya hari minggu, kau membuat kue tart itu meledak di wajahnya iya kan!", suara wanita itu terdengar dibuat-buat galak, namun setelahnya ia tertawa.

"Hahaha, konyol sekali wajah Ibiki-sensei"

"Hahahaha iya, dan kuharap ia tak tau aku yang melakukannya, hitung-hitung kan itu surprise untuknya", ucap Kiba sumringah.

"Tapi dia nggak marah kok, dia malah senang sepertinya"

"Hei hei, akan seram sekali wajah Ibiki-sensei jika senang", gurau Kiba.

Dan mereka tertawa bersama.

"Hmm.. aku sedang di hukum"

"Eh?!, dihukum?, kau membuat salah apalagi eh Kiba-kun?", ujar wanita itu galak.

"Haha, hanya sedikit ramai saat pelajaran, jadi hei kita jadi kan keluar Minggu ini?, aku ingin membelikan Akamaru hadiah", ucap Kiba sambil menggenggam tangan wanita itu.

"Mungkin jika kau tak terlambat", ucap wanita itu dengan senyuman jahil.

"Nggak akan aku janji", ucap Kiba membentuk tanda peace dari dua jarinya.

"Baiklah, sudah sana kerjakan hukumanmu"

"Iya"

Dan Naruto dapat melihat bagaimana si bocah anjing itu mencium dahi wanita tersebut dan mengelus-elus kepala si wanita, lalu berjalan ke arah pintu.

Naruto langsung dengan cepat menjauh dari pintu lalu menunggu Kiba keluar.

Mau tak mau, Kiba melongo setelah melihat Naruto di depannya.

"Na.. Naruto", gagapnya.

"Bukan aku saja yang main rahasia-rahasia'an kan?", sindir Naruto sewot.

"Eh.. hehehehehe", cengir Kiba salting.

#####

"Hahh.. Kau bilang kau punya pacar?, lagi?", Kiba bertanya dengan susah payah. Ia ngos-ngosan dan dehidrasi.

"Iya, dan pacarku sekarang itu seorang gadis", ucap Naruto sambil mengelap keringat di dahinya.

Kiba langsung memasang wajah 'Aku bangga padamu nak'. Naruto yang melihatnya hanya nyengir sambil menggaruk tengkuknya.

"Itu kemajuan kawan!, kau kau akan normal", ucap Kiba semangat.

"Hei hei pelankan volumemu bodoh, kau ingin semua orang tau aku ini gak normal"

Kiba hanya menyikut perut Naruto dengan girang.

"Auchh", Naruto pun memandang Kiba heran.

"Apa?", ternyata Kiba lumayan sensitif.

"Shizune-sensei eh?", ujar Naruto dengan tawa.

"Ba.. baka na, jangan sebut namanya!", ucap Kiba ketus memperhatikan sekeliling.

"Yah, wanita itu bukannya sudah punya suami", tanya Naruto sembari berpikir. Kiba hanya mengangguk pelan.

"Ohh kawan, jadi kau selingkuh dengannya di belakang suaminya?!", teriak Naruto kencang. Kiba langsung melotot lalu dengan sepenuh hati membekap mulut si pirang.

"Pelankan suaramu, berisik!", Kiba geram dengan sahabatnya satu ini.

"Ya ya baiklah", ucap Naruto akhirnya setelah Kiba melepaskannya.

"Ini rahasia, yah walaupun aku tak keberatan ini terkuak. Aku hanya menghargainya sebagai istri seseorang, aku tak ingin orang-orang mengecapnya sebagai wanita jalang. Aku mencintainya", ungkap Kiba berhenti berlari dan duduk di pinggir lapangan. Naruto-pun mengikuti Kiba dan mendengarkan setiap omongan Kiba.

"Aku tau kami salah, tapi aku yang terlebih dahulu mendekatinya, walau aku tau ia sudah mempunyai teman sehidup semati. Mungkin aku beruntung, karena ia terancam bercerai karena ketidak cocokan mereka berdua. Sebut aku jahat, karena aku senang saat wanita itu menginginkanku di sisinya. Aku tahu, ia masih mencintai suaminya. Dan aku tahu bahwa, aku sendiri sudah terlanjur ada untuknya. Aku terjebak, dan aku tak yakin aku akan melepasnya", lanjut Kiba menerawang ke arah langit yang saat ini begitu biru dan berhiaskan hanya sedikit awan-awan tipis. Entah kenapa dia jadi puitis begini.

Dibalik kelopak matanya, Naruto berpikir keras. Hubungannya dengan Sasuke adalah sesuatu yang akan di cemooh oleh masyarakat karena mereka adalah sesama mahluk Adam. Dan hubungan murid dengan gurunya yang sudah mempunyai suami, apakah juga tak akan di cemooh?, walaupun mereka adalah 2 orang berlawan jenis. Dititik ini Naruto berpikir, mungkin bukan dimana kita adalah sesama jenis atau berbeda jenis hingga kita akan diterima. Mungkin ini semua didasarkan pada pandangan kita sebagai masing-masing individu.

Sudut pandang pertama.

Sudut pandang kedua.

dan

Sudut pandang ketiga.

Dan Naruto sadar ia dan Kiba tengah mengalami hal yang serupa.

#####

"Drrt Drrt", getaran di sakunya membuat gadis yang tengah khusuk menyantap makanan jatah istirahatnya terpaku sejenak dan dengan sedikit perasaan dongkol ia merogoh saku celana kainnya yang ditutupi oleh sebuah apron berwarna hitam dengan garis merah melintang dari atas hingga bawah apronnya yang panjangnya hampir sampai di pergelangan kaki.

From: (nomor tak dikenal)

"Ini aku Uzumaki Naruto, jadi apakah kita nanti bisa bertemu?"

Hinata tertawa kecil melihat pesan tersebut, formal sekali pikirnya. Dengan luwes dibalasnya pesan tersebut.

To: Kuning bodoh

"Ya ya bisa, saat kau pulang sekolah kau langsung ke taman saja, mungkin kau harus sedikit menunggu, karena aku ada event di restaurant, ohh iya aku tak suka mengirim email. Tapi jika kau ingin kita berhubungan via email, ini alamat emailku... "

Tanpa Hinata tau, Naruto diseberang sana nyengir begitu lebar setelah menerima pesan dan alamat emailnya.

Ia tak mempedulikan tatapan penasaran Kiba di sebelahnya.

To: Setengah wanita

"Iya aku akan menghubungimu lewat email, aku ingin berbincang sangat banyak denganmu"

Hangat.

Rasanya dada Naruto sangat hangat dan banyak sekali kupu-kupu di perutnya yang membuatnya ingin tertawa tak menentu.

Naruto tak pernah ingat

Menjalin sebuah hubungan akan semenyenangkan ini.

Angan-angannya berhenti ketika ponsel putihnya bergetar menandakan ada sebuah email masuk.

From: Teme

"Aku akan menjemputmu nanti, aku ingin mengajakmu ke rumahku. Kyuu datang"

#####

"Kyuu.. aku merindukanmu", sosok pirang itu berlari melintasi ruang tamu dan berlari tepat ke arah sang pemuda yang baru memunculkan wajahnya sedikit dari arah ruang makan. Sosok pirang itu mengganas, memeluknya, merangkulnya, lalu menjitak-jitak kepala si pemuda dengan sayang.

"Hei hei Naruto-nii hentikan!, aku sudah bukan anak kecil lagi huh", ucapnya galak melepas rangkulan Naruto dengan kesal. Tapi Naruto tetap saja masih menempelkan jari-jarinya pada helaian jingga si pemuda kecil yang dipanggilnya "Kyuu" ini dan mengelus-elusnya pelan.

"12 tahun ih!, besar apaan!", ujar Naruto mengejek lalu tertawa.

Kyuu diam tak menjawab tapi tatapan matanya yang tajam menunjukkan bahwa ia kesal, tapi bukan Naruto jika ia bisa peka dalam hal seperti itu.

Sasuke melihat interaksi keduanya, tersenyum tipis. Tapi senyumnya menghilang ketika dalam pandangannya Naruto sangat panik melihat jam dinding yang ada di tembok ruangan. Dengan cepat Naruto berlari ke arah Sasuke.

"Sasuke, aku harus pergi. Aku ada janji", ucapnya memelas.

"Janji dengan siapa?, biar aku antar", tawar Sasuke kalem.

"Ah.. ng.. nggak usah Teme, aku mau berangkat naik bus saja. Oh iya aku boleh ajak Kyuu, aku sangat kangen padanya", pinta Naruto agak gugup.

"Ya baiklah, tapi tetap pulangkan Kyuu kesini"

"Baik kapten!, ayo sini Kyuu", dengan kesit Naruto menarik tangan Kyuu lalu berdadah ria pada Sasuke, dan meninggalkan rumah Sasuke dengan pintu berdebam yang berisik.

"Aneh sekali", gumam Sasuke. Dengan tenang ia duduk di sofa ruang tamunya dan menyalakan televisi dengan wajah tanpa ekspresi.

Fokusnya pun tertuju pada layar televisi yang sedang menayangkan Head Line tentang seorang pemeras berkedok donatur tertangkap, orangnya jangkung dengan setelan jas rapi serta rambut peraknya ia sisir klimis ke belakang, cih menjijikkan.

#####

"Bukannya aku yang menyuruhmu menunggu?, kok malah aku yang menunggu?", celetuk Hinata heran setelah melihat Naruto yang tengah menggandeng bocah remaja berada di hadapannya.

"Maaf Hinata, aku tadi harus menjemput Kyuu dulu, ayo Kyuu beri salam ke pam.. eh tante ini", ujar Naruto riang.

'Tante?', batin Hinata keki.

"Salam kenal, saya Kyuu kak", ucap bocah jingga itu sopan.

"Hinata", ucap Hinata riang lalu mengangkat tangannya.

Kyuu tak mengerti, ia hanya membiarkan tangan Hinata tak mendapat respons.

"Kau harusnya memberiku salam high five", ucap Hinata sembari tertawa kecil.

"PLAK", Kyuu-pun menepuk tangan Hinata dengan keras.

"Aa.. bagus", puji Hinata dengan seulas senyum lalu mengelus rambut Kyuu sayang. Kyuu pun ikut tersenyum kikuk lalu menggaruk pipinya yang tidak gatal.

Naruto agak heran, padahal Kyuu sangat tak suka disentuh rambutnya sama orang asing, tapi sama Hinata kok malah keliatan senang?.

"Aku ingin mengajakmu dan Kyuu ke suatu tempat, ayo", ajak Hinata langsung memimpin jalan.

Naruto melirik Kyuu sebentar, sebelum ia berkata.

"Tolong rahasiakan ini dari Sasuke ya Kyuubi. Jika kau memberitau tentang hal ini pada Sasuke. Aku tak yakin apakah aku bisa hidup hingga besok?", tangis Naruto menjadi dan dibuat-buat, demi Kyuu tak membocorkan rahasianya.

Kyuu mengangguk pelan, lalu dengan cepat melepaskan tangan Naruto lalu berlari ke arah Hinata, dan tiba-tiba meraih tangan Hinata.

"Kyuu suka kakak"

.

.

.

.

TBC

Hai hai bertemu saya lagi nih xD terimakasih untuk review di chapter kemarin. Maaf banget gak bisa bales review karena saya update lewat my henpina :3

oke gak usa banyak cingcong lagi.

berkenan review? :3