"Astaga Tao! Apa yang terjadi? Ya Tuhan…," Yixing histeris melihat keadaan anaknya. "Mama menyuruhmu ikut Wushu bukan untuk berkelahi, tapi untuk menjaga dirimu dan Sehun.. Astaga.."

Tao hanya mengedikkan bahunya malas. "Mama. Ini hanya luka-."

"Sudah, biar Mama mengobatimu." Yixing berjalan ke kamarnya, mengambil kotak PK3 yang selalu ia simpan di lemari. Ia tersenyum sekilas, mengingat dulu, Tao bahkan menangis – nangis ketika jatuh dari sepeda. Sekarang ia sudah berkelahi dengan anak lain. Anak – anaknya memang sudah besar. Ia kembali sambil membawa kotak obat kemudian memberi salep ke luka lebam Tao. "Untung sudah sedikit membaik.."

Tao sesekali meringis merasakan perihnya obat merah di pipi kanannya. Ia melirik Sehun yang sudah memakai baju santai dan mengenakan celemek, siap membantu sang Mama menyiapkan makan siang. Dahi Tao mengerut melihat baju yang dipakai adiknya. Celana terlalu pendek—menurut Tao dan kaus panjang yang hampir menutupi celana yang dipakainya. "Sehun," panggil sang kakak..

Sehun menoleh. "Apa?"

"Jangan pakai baju begitu kalau kau keluar rumah," Tao menepuk – nepuk pipinya. "Nanti diperkosa om – om mesum."

Yixing tertawa kecil melihat wajah Sehun yang memerah. Ia mencubit pinggang anak sulungnya, "Jaga bicaramu, Zitao~."

"Mama aku hanya menasehati dia!" Tao menggembungkan pipi-nya tak terima. "Kalau benar bagaimana? Aku gak mau tangung, sih."

"Ya tetap saja, sebagai kakak yang baik, kamu harus tetap menolong adikmu," Yixing mendekati Sehun lalu mulai mencuci sayuran yang sudah di potong oleh Sehun. "Walaupun kalian hanya berbeda 5 menit, tetap saja, Zitao lebih tua. Ya, kan, Sehunnie~?"

Si bungsu langsung menoleh ke kakaknya sambil tersenyum manis. "Betul~ Iya kan gege~?"

Skak mat.

Bbuing bbuing sialan itu.

Kurang ajar.

Wajah Tao memerah karenawajah Sehun yang kelewat imut. "Ya, ya kau menang Sehun," Tao mendekati Sehun dan mencubit pipi tembam Sehun dengan keras. Yang dicubit hanya bisa memanyunkan bibirnya lucu yang kemudian dihadiahi oleh kecupan di pipi oleh sang kakak.

"Oh iya, ngomong – ngomong, saat istirahat tadi, si Jongin tidak bertemu denganmu kan?" ujar Tao sambil mengambil nasi untuk makan siangnya ketika sang Mama telah selesai menyiapkan makanan. "Aku ingatkan sekali lagi, Sehun, jangan dekati dia."

Sehun meraih sumpitnya dan menyendokkan sepotong nugget ke mulut kecilnya. "Iya dia ke kelasku," ia mengunyah makanannya sebentar. "Dan aku tidak melihat suatu hal yang berbahaya dari si Jongin itu?"

"Dia berbaaya Sehun," Tao meremas serbet yang ada di sebelah kirinya. "Kumohon, jauhi dia."

..

Lelaki berambut hitam kelam itu berjalan dengan cepat ke arah stasiun. "Kumohon., kumohon… kereta ke Chungju cepatlah datang…," bisiknya tanpa terdengar oleh siapapun.

Kaki panjangnya berlari masuk ke dalam gerbong kereta kemudian duduk dengan gelisah. Chungju masih jauh. Jauh dari Seoul. Dan dalam keadaan genting seperti ini ia hanya bisa berharap perempuan itu masih akan tetap menjawab panggilan telfon yang ia tujukan padanya.

"Sial!" Umpat lelaki itu. "Kumohon, jawab telfonku…."

Tiba – tiba koneksi di sebrang sana terhubung.

"Ya Oppa?"

Lelaki itu membelalakan matanya. "Hey, sayang. Kau dimana?"

"A-aku? Aku sedang… err… di rumah nenekku!"

Lelaki itu tertawa miris. Nampak seperti orang gila. "Benarkah? Rumah nenekmu yang mana? Setahuku rumah nenekmu ada di Incheon, bukan di Chungju."

Suara wanita di sebrang sana terdengar gugp. "Emm.. aku dirumah ibunya ayahku, yang berada di Chungju…"

"Benarkah? Kau tidak berbohong, sayang?"

"Tentu tidak-H-hey! Hati – hati! AAAARGH!"

BRUMMMM

CKIIIT

BRAK!

Dan suara dentuman keras itu mengakhiri percakapan singkat dua kekasih di telfon itu. Sang lelaki kembali membelalakkan matanya. "H-hey? Sayang? Sayang? Apa yang terjadi?"

Koneksinya terputus.

"PEMBERHENTIAN BERIKUTNYA. CHUNGJU. PEMBERHENTIAN BERIKUTNYA. CHUNGJU."

..

Pintu kamar Tao terbuka, menampakkan adiknya yang memeluk sebuah rillakkumma berwarna pink. "Ta-Tao?" gumamnya pelan.

Sang kakak yang tengah tertidur itu pun membuka matanya. "Hm? Ada apa, Sehun? Ini sudah malam….," ujarnya dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur. Ia kembali menutup matanya ketika merasakan seseorang duduk di pinggir kasurnya.

"Aku tidur disini ya, malam ini?" kata Sehun pelan. "H-hujannya deras.. a-aku takut sekali..," ia memainkan ujung kaus Tao.

"Dan banyak petir?" Tanya Tao sambil terkekeh pelan. Tao menggeser tubuhnya, memberikan tempat untuk tubuh ramping Sehun kemudian membuka lengannya, membiarkan Sehun menjadikan lengan atasnya bantal untuk malam ini.

Sehun tersenyum kemudian merebahkan kepalanya di lengan kuat sang kakak, memeluk boneka lucunya, kemudian tidur dengan nyaman.

Si bungsu Sehun memang takut pada petir, kilat, badai dan sebangsanya. Dari kecil, Tao terbiasa memeluk Sehun ketika hujan deras dan banyak petir. Seperti sekarang. Hey, walaupun mereka sudah berumur 15 tahun, kebiasaan itu belum hilang. Tao masih akan tetap memeluk adik manisnya ketika hujan deras. Seperti sekarang ini.

Tao mengecup sekilas pelipis Sehun. "Selamat tidur penakut."

"Selamat tidur yang lebih penakut," balas Sehun.

..

Jongin mengelus sebuah foto yang selalu ia simpan di bawah bantalnya. Foto wanita manis dengan mata yang berbentuk bulan sabit ketika ia tersenyum. Tanpa terasa air matanya menetes. Suara hujan deras di luar menjadi latar belakang malam sunyi Jongin seperti malam – malam sebelumnya.

"Hari ini aku bertemu dengan seseorang," ia berkata pelan, nyaris berbisik, "ia mirip sekali denganmu, sayang." Ia tertawa pelan. "Matanya, bibirnya, hidungnya, bahkan matanya ketika tersenyum."

Jongin mendudukkan tubuhnya, memeluk bingkai foto itu. "Dan wajahnya mengingatkanku padamu. Aku merindukanmu, sayang."

Ia tertawa pelan. "Aku tahu, aku tidak bisa mencintai orang lain selain dirimu…," ujarnya. "Tapi bolehkan aku….. jatuh cinta sekali lagi?"


Hai! kurang ajar banget ya gue udah apdetnya lama, pendek lagi.
MAAF BANGET YA CHINGU CHINGU YOROBUN.
Gue sibuk ngets sumpah deh
Jadi, tolong reviewnya untung membangkitkan semngat menulis gue.
Tolong.
Sangat.

anyways, yang mau kontak gue bisa di

twitter : oseeyhun

kalau mau id line or maybe bbm? pm gue aja ya guys. ayo ayo review

love yah!