Want To Be With You by kaesungyoung

.

.

.

Matahari pagi ini bersinar terik tak seperti pagi sebelumnya yang dingin. Sinar menelusup masuk ke kamar Sehun melalui celah-celah jendela yang ada, Sehun terbangun membuka matanya malas, mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih mengantuk. Masih terbaring ditempat tidurnya, menatap langit-langit kamarnya.

Menghela napasnya pelan, beranjak bangun dan keluar kamar. Hari ini Sehun berniat untuk mengenalkan Jongin pada eommanya.

Sehun mencari eomma ke dapur, namun Sehun tak mendapati eommanya disitu. Tak biasanya eomma tak didapur, Pikirnya.

Sehun berjalan menuju kamar eommanya, berharap ia menemukan sang eomma didalamnya.

'clek' Sehun membuka pintu kamar eommanya pelan

''eomma? Apa kau didalam?'' ucap Sehun pelan, sambil melongok kedalam kamar.

Tidak ada jawaban dari kamar tersebut, mungkin eommanya sedang tidak ada dirumah, pikirnya. Sehun hendak menutup pintu kembali, namun langkahnya untuk menutup pintu terhenti ketika ia mendengar suara batuk dari dalam kamar eommanya.

Sehun segera masuk kedalam kamar sang eomma, dilihatnya eommanya sedang terbaring lemas diatas tempat tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Sehun membelakakan kedua bola matanya, terlihat sedikit panik.

''eomma kau sakit?'' tanya Sehun khawatir. Eomma Sehun tersenyum dan berkata bahwa dia baik-baik saja ''eomma baik-baik saja hanya sedikit lelah''

''aku tahu kau sakit eomma'' ucap Sehun. Eommanya hanya terdiam dan menatap Sehun, kembali berbicara "kau tidak pergi dengan Chanyeol hari ini?'' tanya eommanya bermaksud untuk mengalihkan pembicaraan, pertanyaan eommanya membuat Sehun terdiam menunduk, dan menghela napasnya berat karna harus mendengar nama itu lagi yang terlontar dari mulut eommanya sendiri. Tapi pikir Sehun wajar saja jika eommanya berbiacara seperti itu karna Sehun belum bercerita tentang apa yang sudah terjadi.

''aku tidak bersamanya lagi eomma'' ucap Sehun seraya menatap eommanya yang kini kebingungan dengan ucapan anaknya.

''kau—'' belum sempat eomma Sehun menanyakan sesuatu, tapi Sehun tau apa yang ingin ditanyakan sang eomma padanya.

''ya, aku sudah berpisah cukup lama. Maafkan aku tidak bercerita tentang ini'' ucap Sehun dengan nada merendah.

''jadi selama ini kau bersedih karna Chanyeol?'' tanya eomma yang hanya dibalas anggukan oeh Sehun. ''Tapi akhir-akhir ini eomma melihatmu tersenyum, seperti orang yang sedang berbahagia. Eomma pikir itu karna Chanyeol'' jelas eommanya.

Sehun menggelengkan kepalanya pelan ''bukan eomma, rencana ku hari ini sebenernya ingin mengajak seseorang untuk ku kenalkan pada eomma yang telah mengembalikan senyumku yang selama ini rapuh, tapi kurasa waktu tidak mengizinkan untuk sekarang karna eomma sekarang sedang sakit''

''bawa dia, eomma ingin bertemu dengannya'' pinta eomma Sehun. Sehun tahu sebenarnya ini waktu yang sangat tidak tepat, tapi Sehun juga tidak bisa menolak permintaan eommanya.

Sehun mengangguk, menatap eommanya yang kini telah memejamkan matanya untuk beristirahat kembali. Beranjak dari kamar sang eomma, berjalan menuju kamarnya.

Diraihnya sebuah ponsel dari saku kemejannya, mencari nama Jongin dikontaknya dan menghubunginya.

Tuttt...

Cukup lama Jongin mengangkat telpon darinya. Hingga akhirnya Jongin mengangkatnya ketika Sehun menghubungi ulang Jongin.

''yeoboseyo hyung''

''nado yeoboseyo? Ne ada apa?''

''aku—'' Sehun belum sempat menyelesaikan pembicaraannya, ia terdiam karna terdengar dari seberang sana, suara seseorang yang Sehun rasa sedang bersama dengan Jongin .

'Jongin, makanan menunggumu' itu yang Sehun dengar, bagaimana bisa? Jongin hanya tinggal sendirian, tak ada orang lain dirumahnya. Siapa orang yang sedang bersama Jongin sekarang? Apa temannya sedang berkunjung kerumah jongin? pikir Sehun.

''Sehun? Kau baik? Kau kenapa? Kenapa tak melanjutkan ucapanmu?'' suara Jongin terdengar dari seberang sana, membuyarkan pikiran Sehun.

''aah Jongin, apa kau bisa kerumahku sekarang? Eomma ku ingin bertemu denganmu, kalau tidak bisa tak apa. Terimakasih'' ucap Sehun yang kemudian segera memutuskan telponnya pada Jongin. Sehun tahu ini sangat tidak sopan namun suara orang tadi, suara orang yang sedang bersama Jongin membuatnya menjadi berpikir.

Mencoba melupakan pikiran ini sesaat, mungkin nanti ia bisa bertanya dengan Jongin. Sehun memutuskan untuk kedapur, membuat makanan untuk eommanya dan menyiapkan sesuatu siapa tahu Jongin nantinya akan datang kerumahnya.

.

.

.

.

Jongin meraih jaketnya, bersiap-siap untuk pergi membuat namja bertubuh mungil menatapnya heran.

''kau ingin kemana Jongin? tanya namja tersebut menghampiri Jongin.

''aku ingin pergi sebentar'' jawab jongin. namja itu kemudian bertanya lagi ''tapi, sarapan ini?''

''maafkan aku, untuk kali ini tidak. Aku harus segera pergi, dan salam untuk eomma mu, aku pulang ne'' ucap Jongin seraya mengusap surai rambut namja tersebut. Hanya sebuah anggukan yang disampaikan namja tersebut pada Jongin, terlihat sedikit sebuah kekecewaan terpancar diwajah namja mungil itu.

Jongin mengambil kunci mobilnya diatas meja, dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah tersebut. Kyungsoo hanya menatapnya sampai pintu, dan setelah itu Jongin menghilang dari pandanganya.

Kyungsoo, adalah nama dari namja bertubuh mungil tersebut. Setelah 3 tahun bersekolah di sebuah Universitas AS, dan kini telah kembali ke Seoul, bermaksud untuk melanjutkan 'sisa' hidupnya di Seoul.

Kyungsoo telah bersahabat lama dengan Jongin, ya hanya sahabat. Bahkan sebenarnya Kyungsoo ingin menginginkan lebih dari sahabat, walau Kyungsoo tahu itu tidak akan mungkin terjadi.

Jelas terukir diwajahnya, sebuah kesedihan ketika tiap kali ia sedang memikirkan hal semacam ini. tak ingin larut lebih lama dalam kesedihannya, ia duduk kembali dimeja makan dan menghabisi makanannya sendiri yang seharusnya ia ditemani oleh Jongin.

.

.

.

.

.

.

'Mengapa lama sekali? Apa ia tak bisa datang? Kemana kau Jongin' batin Sehun

Mondar – Mandir diruang tamu, itu yang dilakukan Sehun sekarang sembari menunggu Jongin datang, ia takut Jongin tak akan datang, seolah-olah Jongin mungkin sudah tidak peduli lagi dengannya.

Menjatuhkan dirinya ke sofa, menghela napasnya kecewa. Sehun merasa betapa bodohnya dia, mana mungkin Jongin akan datang? Bahkan ia bukan siapa-siapa dimata Jongin.

Berdiri kembali, menatap pintu sekali lagi. Melangkahkan kaki untuk pergi dari ruangan tersebut, bermaksud untuk menjaga eommanya kembali. Sehun tahu Jongin tak mungkin datang, toh ia bukan siapa-siapa.

Tok.. Tok.. Tok..

Langkahan kaki berhenti, terdengar suara ketukan pintu terdengar dari pintu yang ditunggu-tunggu Sehun. Apa itu Jongin? ah tidak, mungkin itu hanya tetangga. Pikir Sehun.

Berjalan menuju pintu tersebut, membukanya dengan malas.

''annyeong Sehun, maaf lama'' ucap namja itu, Jongin.

Jongin datang, membuat Sehun tak percaya ternyata Jongin masih peduli dengannya. Jongin memandang Sehun heran karna Sehun sedari tadi tak mengucapkan sepatah katapun melainkan hanya berdiri diam, menatap Jongin dengan tatapan datar.

Mengayun-ayunkan tangannya dihadapan Sehun agar tersadar dari lamunannya yang menatap datar. Tak ada respon dari Sehun. Jongin menyeringai, tak pikir panjang lagi. Ia langsung mengecup bibir Sehun, memastikan ia baik-baik saja karna hanya melamun sedari tadi.

Cara Jongin berhasil, Sehun membelakakan matanya tak percaya apa yang sedang terjadi. Jongin yang telah melihat Sehun tersadar akan lamunannya, melepaskan ciumannya pada Sehun.

Jongin menatap Sehun tersenyum, dan dilihat Sehun juga sedang tersenyum malu. Pipinya merona, memalingkan wajahnya dari Jongin yang kini pipinya benar-benar merah, namun Jongin melihat itu semua.

Meraih dagu Sehun dan berkata ''apa kau baik-baik saja?''

Sehun menepis tangan Jongin lembut, menatapnya sambil menarik napas dan menghembuskannya perlahan sebelum akhirnya membalas perkataan Jongin.

''aku tak apa hyung, tapi tidak dengan eomma'' jawab Sehun dengan nada merendah.

Mengusap surai Sehun pelan, dan tanpa basi-basi segera Jongin menerobos masuk kedalam rumah Sehun dan bertanya pada Sehun dimana kamar eommanya. Sehun tak menjawab melainkan hanya menghampiri Jongin dan berjalan didepan Jongin, seolah-olah ia memberi petunjuk jalan pada Jongin menuju kamar eommanya.

Berjalan sampai pada akhirnya sampai didepan kamar pintu yang diketahui itu adalah kamar eommanya. Membuka perlahan pintunya, berjalan masuk. Dilihatnya eommanya sudah terbangun dari tidurnya.

''eomma dia datang'' ucap Sehun. Sang eomma mengangguk, mengisyaratkan agar Sehun segera menyuruhnya masuk untuk bertemu dengan eommanya. Sehun memanggil Jongin, yang hanya dibalas anggukan singkat dan kemudian masuk kekamar tersebut.

''annyeong'' sapa Jongin dengan tersenyum

''nado annyeong'' jawab sang eomma. Sehun berjalan menuju tempat tidur eommanya, duduk ditepi tempat tidur tersebut dan membisikan sesuatu ke telinga eommanya pelan, ''jangan tanyakan yang tidak-tidak padanya'' eomma Sehun yang mendengar hanya menahan tawa geli karna ucapan anaknya. ''sebaiknya kau buatkan minum untuknya'' Sehun hanya mengangguk pelan dan berjalan keluar dari kamar tersebut.

Percakapan terjadi lagi antara Jongin dan eomma Sehun.

''oh ya, siapa namamu?'' tanya sang eomma. ''Jongin'' balasnya tak lupa dengan senyumnya.

Eomma Sehun menatap matan Jongin, terlihat anak yang baik, pikirnya.

''jadi kau kekasih baru Sehun?'' tanyanya. Jongin hanya terkekeh pelan dan menjawab bukan pada eomma Sehun. ''lalu apa?'' sang eomma lanjut bertanya.

Jongin hanya tersenyum sebelum ia berkata ''aku hanya temannya''

D E G

Sehun yang ternyata sudah berada didepan pintu yang sedikit terbuka, mendengar ucapan Jongin yang ternyata selama ini benar hanya menganggap bahwa Sehun sekedar teman.

Sehun masih berdiri diam, tak berniat untuk masuk karna ia ingin mendengar percakapan lebih jelas antara Jongin dan eommanya.

''tapi kurasa Sehun bahagia denganmu, mengapa kau tidak menjadikannya kekasihmu? Apa kau sudah mempunyai kekasih?'' pertanyaan eomma Sehun membuat Jongin bungkam, namun ia mencoba untuk menjawab pertanyaannya. Sehun yang mendengar ini sangat menunggu jawaban Jongin, ini yang Sehun tunggu.

''hh aku bahkan bisa membuat orang lain bahagia, aku senang jika melihat seseorang bahagia. Aku hanya membantu Sehun untuk melupakan masalahnya agar ia tak terpuruk setiap saat dalam kesedihan. Aku belum mempunyai kekasih dan Kupikir aku tak pantas menjadi kekasihya, banyak namja yang lebih pantas dengannya dibandingkan denganku'' jelas Jongin panjang lebar.

Hanya membantu menyelesaikan masalah? Setelah apa yang telah Jongin lakukan selama ini, perhatian lebih, kata-kata yang membuatnya terbang keawan, kecupan yang mendarat dibibir, semuanya. Apa maksud Jongin melakukan ini? apa setelah masalah ini selesai, Jongin akan pergi meninggalkannya? Tidak! Masalah dihidupku akan lebih terasa bertambah menyakitkan jika kau pergi, terlebih lagi jika kau pergi bersama orang lain, Pikir Sehun.

Tak ingin mendengar apapun lebih lama, cukup sakit untuk saat ini memikirkan hal semacam itu. Sehun segera masuk, dengan nampan yang terisi segelas minuman dan makanan kecil yang diketahui itu untuk Jongin.

Hanya menatap Jongin datar, menaruh nampan tersebut dimeja. Hening terasa ketika Sehun masuk kedalam kamar eommanya. Terlihat diwajah Jongin seolah-olah ia takut Sehun mendengar ucapannya tadi. Tak lama Sehun berpikir, ia harus berpura-pura tak tahu, seakan-akan tak mendengar apa yang diucapkan Jongin yang kini menyakiti hatinya.

Sehun tersenyum, yang pasti dengan paksaan. Mencoba melawan hati yang kini teriris-iris hanya karna sebuah ucapan. Siapa Jongin dimatanya? Hanya orang baru dikehidupannya, memberi sebuah harapan yang dipikir Sehun itu adalah tanda bahwa pada akhirnya nanti ia akan bersama Jongin selamanya. Namun tidak, setelah Jongin mengucapkan itu. Ucapan itu membuat Sehun sadar diri bahwa Jongin hanya sekedar membantu masalah dikehidupannya.

''kau haus kan? Ini silahkan minum. Eomma tak menanyakan apapun yang macam-macam padamu kan?'' ucap Sehun selagi mengambil alih, membuka pembicaraan tersebut.

''hh tentu tidak, eomma mu baik padaku, bersyukur kau memiliki eomma seperti ini'' nada bicara Jongin yang tadinya terlihat senang seketika merendah ketika mengucapkan kalimat terakhirnya.

Sehun melihat itu semua, Sehun tahu bahwa Jongin sedih ketika menyebutkan kalimat itu. Betapa rindunya ia pada eommanya. Ingin rasanya Jongin memeluk eommanya, bahkan appanya. Menyatukan mereka kembali namun takkan mungkin itu terjadi, pikir Jongin.

''minumlah agar kau sedikit tenang'' ucap Sehun, Jongin agak terlihat kaget apa Sehun mengetahui apa yang sedang ia pikirkan? Ya Sehun tahu itu.

Setelah meminum dan memakan sedikit makanan yang ada, sembari berbincang-bincang dan terselipkan tawa serta candaan diantara mereka bertiga, kini saatnya Sehun dan Jongin keluar dari kamar, membiarkan eomma Sehun kembali beristirahat.

''baiklah, aku akan kembali kesini lain kali. Kuharap ketika aku kesini, kau sudah sembuh nyonya'' ucap Jongin. eomma Sehun terkekeh kecil ketika mendengar kalimat nyonya~

''kau ini memanggilku nyonya, seperti layaknya aku adalah orang kaya saja''

''baiklah, lalu apa aku harus memanggilmu nona eoh?'' goda Jongin, membuat suasana semakin menjadi-jadi karna candaan Jongin. Sehun menggeleng pelan dengan wajah tersenyum bahagia, ingin rasanya lebih lama dengan Jongin seperti ini.

''sudahlah, kita harus keluar Jongin. eomma, kau istirahat ne agar kau sehat kembali'' ucapnya.

''baik, sampai bertemu dilain waktu nyonya'' terkekeh. Eomma Sehun tersenyum pelan, hatinya senang terhadap Jongin. berpikir semoga Jongin menjadikan anaknya kekasih hatinya. Membuat Sehun bahagia.

Jongin dan Sehun pergi beranjak keluar dari kamar eomma Sehun. Masih terlihat kekehan kecil dari wajah mereka berdua. Jongin terdiam menatap Sehun yang sedang tersenyum senang seperti itu, betapa damai wajahnya jika seperti itu. Sehun yang tersadar bahwa ia telah terkekeh sendiri, langsung diam. Menoleh ke arah Jongin, mendapati Jongin yang sedang menatapnya dalam.

''apa?'' tanya Sehun seolah menyadarkan Jongin.

''ahh tidak'' ucap Jongin berbohong. Ingin ia menanyakan pada Jongin siapa tadi yang sedang bersamanya ketika ia sedang berbicara dengan Jongin melalui telpon. Namun rasanya tak ingin lagi menanyakan itu, mungkin hanya temannya, pikir Sehun.

''baiklah, terimakasih hyung kau—'' belum sempat melanjutkan ucapannya, karna terhenti oleh bunyi dari ponsel Jongin ada yang menelponnya. Ya seperti biasa, nada dering itu masih sama seperti lagu waktu itu, ya lagu yang ia sukai bersama seseorang specialnya.

Jongin segera meraih ponselnya. Mengangkatnya segera.

'Klik'

''yeoboseyo''

''...''

''apa? sekarang dimana?''

''...''

''baik, aku akan segera kesana''

Jongin menghela napasnya berat, Sehun melihat sebuah kepanikan terukir menoleh pada Sehun dengan tatapan yang sedikit shock.

''ada apa hyung? kau terlihat panik?'' tanya Sehun khawatir.

''bukan waktu yang tepat sekarang untuk menceritakan ini Sehun. Mian, aku harus segera pergi'' ucap Jongin yang segera pergi keluar rumah Sehun, meninggalkan Sehun begitu saja sendiri.

Ada apa dengannya? Kenapa dia? Meninggalkanku begitu saja, karna hanya sebuah telpon yang entah tak tahu dari siapa, yang membuat Jongin panik seperti itu. Rasa panik, kesedihan menyelimuti wajahnya.

Tapi.. Sehun sadar ia bukanlah siapa-siapa.

Menyeringai pelan dengan raut wajahnya yang sedih, mencoba menyadarkan dirinya bahwa ia bukanlah siapa-siapa dimata Jongin.

.

.

.

.

.

Pagi ini Baekhyun menemui Chanyeol disebuah taman yang sudah terbiasa mereka datangi. Tak biasanya Baekhyun mengajak Chanyeol untuk bertemu ditaman seperti ini, dipagi hari ini. biasanya ketika mereka ke taman, itu ada sebuah hal yang mungkin cukup penting ingin dibicarakan antara mereka berdua. Memilih taman sebagai tempat membicarakan hal yang penting itu cukup bagus pikirnya, karna merupakan sebuah ketenangan hanya berbicara berdua duduk disebuah bangku panjang dibawah pohon sambil menatapi pemandangan yang ada pada taman itu.

''Baekhyunnie, ada apa?'' tanya Chanyeol pada kekasihnya.

Memejamkan matanya lama, menarik napas dan menghembuskannya dengan lembut sebelum ia menjawab pertanyaan dari Chanyeol. Entah kenapa ketika berbicara, ia tak berani untuk menatap Chanyeol.

''mengakhiri hubungan ini'' ucap baekhyun yang hanya menatap kedepan dengan tatapan sayu, seolah-olah ia lemah untuk mengatakan ini semua. Chanyeol mendengar ucapan itu, tak mengerti apa yang sedang dibicarakan kekasihnya tersebut.

''aku tak bisa bersamamu lagi, aku tak ingin kau tersakiti lebih dalam. Kembalilah pada Sehun, ia membutuhkanmu'' lanjutnya dengan nada bergetar. Chanyeol menggelengkan kepalanya, tak percaya apa yang barusan dikatakan Baekhyun. Apa ini dialam mimpi? , pikir chanyeol. Namun Chanyeol tahu ini adalah Nyata. Ucapan Baekhyun benar-benar menusuknya, entah apa yang telah membuat Baekhyun mengucapkan itu. Chanyeol butuh penjelasan yang jelas dari Baekhyun.

''k-kenapa? Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Kumohon katakan kau hanya bercanda, sungguh Baekhyun jika ini candaan, ini sangat tidak lucu. Kau tak pandai untuk melucu'' ucap Chanyeol dengan nada rasa tak percaya.

''justru itu, aku tak ingin kau mencintaiku lebih dalam lagi. Aku tak ingin menyakitimu, maka akhiri hubungan ini Chanyeol. Kembalilah pada Sehun, kumohon'' air bening telah nampak dipelupuk mata Baekhyun. Kata-kata Baekhyun telah menampar hati Chanyeol.

''ucapanmu malah begitu menyakiti hatiku Baekhyun! takkan pernah Baekhyun, aku takkan pernah mengakhiri hubungan ini. jadi, ini semua karna Sehun? Kau ini kenapa hah!?'' bentak Chanyeol.

Baekhyun menggigit bibirnya sendiri, menunjukkan raut wajah takut akan bentakkan Chanyeol. Memberanikan diri untuk berbicara pada Chanyeol, walau dengan nada bergetar dan air mata yang kini telah jatuh ke pipi putihnya.

''Tidak Chanyeol, bukan karna Sehun'' jawabnya

''lalu apa?''

Menguatkan dirinya untuk membicarakan ini pada Chanyeol, ragu rasanya mengatakan ini. namun ia harus mengatakan yang sesungguhnya. Baekhyun tak ingin jika Chanyeol mencintainya lebih dalam karna Baekhyun tahu pada akhirnya itu hanya membuat hati Chanyeol tertusuk-tusuk pisau belati karnanya.

''aku akan pergi Chanyeol hiks, aku— aku telah dijodohkan oleh pilihan eomma ku. Aku sudah menolak itu semua, tapi eomma malah berkata bahwa ia tak akan menganggapku anak jika aku tak menurutinya hiks hiks'' ucap Baekhyun terhanyut dalam isakannya yang kini terdengar begitu sesak.

Chanyeol memeluknya erat, membiarkan Baekhyun menangis sepuasnya karna masalah yang sedang ia hadapi. Sungguh menyakitkan ini semua.

Chanyeol meraih dagu Baekhyun,membuatnya menatap Chanyeol. Sebuah ciuman mendarat dibibir manis Byun Baekhyun, tak berani membalas. Membiarkan kekasihnya menikmati ini semua karna Baekhyun tahu ini mungkin adalah ciuman terakhir yang terjadi antara mereka berdua. Cukup lama ini terjadi, Awalnya Chanyeol mengecupnya lembut, namun ia semakin ganas akan Byun Baekhyun, membuat Baekhyun kehabisan oksigen.

Chanyeol melepaskan itu semua dengan lembut, masih terlihat wajah Baekhyun yang bersedih.

Baekhyun berdiri, dan pergi meninggalkan Chanyeol sendiri tanpa melihatnya mungkin untuk yang terakhir kalinya. Chanyeol mendongak ketika Baekhyun berdiri, menatap kepergiannya yang meninggalkan ia sendiri. Ingin rasanya Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun dan berkata jangan pergi, tetap bersamanya, selamanya. Namun Chanyeol bukanlah tipe orang pemaksa, kini hubungannya telah berakhir dengan Baekhyun.

Apakah ini adalah sebuah KARMA? , kalimat karma kini mengaung-ngaung dalam pikiran Chanyeol, merenungi itu semua setelah apa yang baru saja terjadi.

.

.

.

.

.

Jongin sampai disebuah gedung putih bertingkat tinggi, memasuki pintu dengan berlari. Tercium dalam tempat tersebut bau obat-obatan yang pasti membuat semua orang tak menyukai bau yang bernama obat tersebut.

Jongin berada dirumah sakit.

Panik karna menerima sebuah telpon.

Ia mencari-cari seseorang yang menelponnya tadi.

Dengan akhirnya Ia melihat seseorang yang menelponnya tadi. dilihatnya wanita paruh baya yang diketahui ialah yang menelpon Jongin tadi, karna Jongin kini menghampiri wanit paruh baya tersebut.

Wanita paruh baya ini terlihat bersyukur karna akhirnya orang yang ditunggunya datang. Terlihat naas diwajahnya tampang kesedihan membuat Jongin yang melihatnya semakin Cemas.

''ada apa dengannya?''tanya Jongin khawati

''dia hiks, penyakitnya, kambuh Jongin'' jawab wanita itu, dan kini memeluk wanita itu yang sedang menangis.

'maafkan aku tak bisa menjagamu' batin Jongin.

..

.

.

..

TBC

Haiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii? Apa kabar?

Tanpa ngecek ulang jadi Maaf kalo banyak ditemukannya typo pada chp kali ini hihi.

Makasih 'buangetttt' yang udah baca fic ini, makasih buangettt juga yang udah ngereview fic ini *sebar duit gopean berbentuk lope#plakkk

Untuk saat ini belum bisa membalas review, dikarnakan 'PULSA GUE ABIS' beliin dong?-_-

Tapi untuk chapter selanjutnya bakal usahain sekuat tenaga untuk membalas reviewnya~

Leave review ya ya? U,u itu membuatku merasa dihargai, karna aku tahu kalo fic ku ini dibaca orang banyak. AMIIIINNNNN

Oke banyak bacot nih kayanya, sekian dan terimakasihhhhh yuhuuuu~ *cium abang luhan*

DEEP BOW ^^