Wtbwy

.

.

By Dep Jung

.

.

Chapter 6

.

.

.

Semenjak kedatangan Baekhyun malam itu, Sehun tidak bisa tidur dengan nyenyak, atau menghilangkan setiap kata yang dilontarkan Baekhyun pada malam itu. Padahal, sudah beberapa hari yang lalu itu terjadi, tapi semua itu masih terngiang dipikirannya.

Dan semenjak hari itu juga, dia dan Jongin putus kontak. Sehun ingin, Jongin yang menghubunginya terlebih dahulu. Namun, Jongin tak kunjung menghubungi Sehun. Tak taukah jika ia sangat merindukan sosok Kim Jongin? kemana kau Jongin.

Sehun terduduk disofa sambil memegang ponselnya, memandangi layar ponselnya berharap Jongin menelponnya pagi ini. Sehun geram mendapati ponselnya sedari tadi yang tak kunjung mendapatkan panggilan ataupun sebuah pesan dari Jongin! setiap hari Sehun melakukan ini, namun hasilnya nihil.

''Sehun'' panggil eommanya, membuat Sehun mendecak pelan tapi bukan karna panggilan eommanya melainkan kesal dengan ponselnya itu.

Sehun berjalan menghampiri eommanya yang berada dikamar atas, eommanya masih kurang sehat sampai saat ini. Sehun membuka perlahan pintu kamar sang eomma, dilihatnya saat ia masuk sang eomma memberikan senyuman pada anaknya itu. Sehun berjalan menghampirinya tak lupa dengan senyumnya.

''ne eomma, ada apa?'' tanyanya

''bisakah kau membelikan eomma jus?'' jawabnya. Sehun mengangguk dan tersenyum pada eommanya itu. Tanpa basa basi, berhubung dengan mood nya yang sedang tidak baik, Sehun pun segera beranjak dari kamar eommanya. Keluar rumah dan berjalan kaki karna kedai itu tak terlalu jauh dari rumahnya, hanya membutuhkan kurang lebih sekitar 15 menit untuk sampai dikedai itu. Lagi pula, tak ada salahnya jika ia meninggalkan eommanya sedikit agak lama, karna ia juga ingin berjalan-jalan melihat sekitar daerah rumahnya sembari menghilangkan sedikit beban yang berkecamuk dipikirannya.

.

Sebentar lagi ia sampai dikedai itu, setelah kurang lebih 12 menit berjalan. Telah nampak didepannya kedai tersebut, cukup ramai sehingga ia harus menunggu antrian. Demi eommanya, apapun itu akan ia lakukan, sekalipun harus mengantri seperti ini.

Sehun duduk disalah satu kursi yang disediakan dikedai itu, sambil menunggu gilirannya. Dijelaskan sekali lagi bahwa mood nya sedang tidak baik, membuat ia kesal sendiri karna terlalu lama dirasa padahal baru 2 menit ia menunggu, yah begitulah ketika seseorang sedang ber-mood buruk. Sehun bersandar pada kursi sembari mengetuk-ngetukkan telunjuknya pada meja didepannya. Sesekali ia melamun karna tak ada sesuatu hal apapun yang ia lakukan selagi menunggu gilirannya. Yak! Lagi-lagi memikirkan dia, Jongin.

Kemana dia? Apa sudah tak ingin bertemu denganku lagi? Apa salahku?, pikir Sehun.

''antrian nomor 21'' ucap seseorang yang cukup kencang, Sehun yang masih menangkapan ucapan itu walau ia tengah melamun kini tersadar, ah itu nomor antriannya. Sehun berjalan menghampiri tempat pemesanan jus tersebut. Ia memesan segera, dan tak lama pesanannya telah jadi. Sehun segera membayarnya, tak lupa dengan ucapan terimakasihnya pada pedagang maupun pelayan jus itu.

Sehun berjalan malas keluar dari kedai itu, semakin ramai pikirnya. Hingga saat dipintu ia harus sedikit tertabrak oleh orang-orang yang ingin masuk kedalam kedai. Sehun berhasil keluar dari kedai itu, ya walau dengan menggerutu karna sedari tadi ia ditabraki oleh banyak orang.

''tak bisakah kalian meminta maaf eoh?!'' gerutunya sambil berjalan mundur memandang orang-orang yang berada didalam kedai tersebut, entah bicara dengan siapa Dep juga bingung, gatau. Saat ia ingin membalikkan tubuhnya agar berjalan normal, tak mundur lagi tiba-tiba seseorang menabraknya lagi.

Bughhh—'

Apakah ini hari menabrak orang sedunia? Hingga ia terus-terusan sedari tadi menjadi korban penabrakan itu, pikirnya kesal.

''maaf, aku tak tahu. Kau tak apa?''ucap namja tersebut. Sehun merasa suara itu cukup familiar ditelinganya. Namun ia masih menunduk, sembari meringis pelan karna lengan kirinya tertabrak tubuh yang besar menimbulkan sedikit rasa sakit.

''Se-sehun'' ucap namja itu. Sontak Sehun langsung mendongak masih dengan tangan yang memegangi lengan kirinya itu. Demi apa? namja ini! pantas saja suara itu begitu familiar ditelinganya, jelas saja karna namja ini adalah..

''kau'' ucap Sehun pada Chanyeol.

Ya, lagi-lagi bertemu setelah Sehun benar benar benar benarrr melupakannya. Taukah kau? jika seseorang mengalami sakit cinta lalu ia mencoba untuk melupakan itu semua dengan sekuat hati dan diri yang ia bisa, dan akhirnya perjuangan untuk melupakannya berhasil dalam waktu yang tak singkat tiba-tiba bertemu dengan orang yang membuatmu sakit cinta, seolah-olah mengembalikan memori-memori lalu bersama orang yang telah membuatmu sakit cinta. Sama dengan Sehun saat ini, rasanya otaknya kembali pada saat-saat itu, saat dimana mereka—' ah sudahlah. Tapi Sehun tak ingin mengingat ini semua, melupakan bahkan tak mengenal Chanyeol itu lebih baik karna yang Sehun tahu dirinya kini telah jatuh pada Kim Jongin yang entah bagaimana dengan Jongin sendiri terhadapnya.

''maaf, aku tadi tidak melihat—''

''tidak apa, aku yang harusnya minta maaf karna tadi aku berjalan mundur'' ucap Sehun.

Mereka memandang satu sama lain, pandangan mereka bertemu, mereka tengah berada dipemikiran masing-masing sekarang. Selintas yang berada dipikiran Sehun adalah kalimat Baekhyun beberapa hari lalu. Bersama dengan Chanyeol, tidak! Pikirnya cepat. Tak beda jauh dari Sehun yang sedang memikirkan kalimat Baekhyun saat itu, saat dimana Baekhyun memutuskan hubungan ini.

Sehun tersadar atas lamunannya, ia mengerjab sesekali untuk membangun kesadarannya.

''maaf sekali lagi'' ucap Sehun, segera melangkah pergi meninggalkan Chanyeol yang tengah memandang punggung kepergian Sehun.

.

Chanyeol terdiam untuk beberapa saat, seakan seperti batu, tak bergerak sama sekali. Tak percaya akan bertemu Sehun, tapi bukan itu saja yang membuatnya tercengang. Namun, ucapan Baekhyun waktu itu terngiang dalam pikirannya. ''arghh sial!' umpatnya, sembari melangkah kedalam kedai.

.

.

Eomma Sehun tengah menunggu anaknya yang belum pulang sedari tadi karna membelikan jus untuknya. Ia merasakan tenggorokkannya kering, ia membutuhkan segelas minum namun ketika ia melihat ke meja, tak didapati gelas sama sekali, mungkin Sehun lupa menaruhnya. Sang eomma mendudukkan dirinya sesekali meringis sembari memegangi kepalanya yang sakit.

Ia beranjak dari tempat tidurnya, berjalan dengan titah goyah karna rasa sakit yang hinggap dikepalanya, belum lagi ia yang sedang dalam kondisi kurang sehat. Membuka pintunya perlahan, namun saat ia baru saja melangkahkan kakinya ia terjatuh dan tergeletak tak sadarkan diri.

.

.

Dijlan, Sehun selalu memikirkan ucapan Baekhyun. Belum lagi, barusan ia bertemu Chanyeol membuatnya semakin memikirkan hal itu, namun dipemikiran kecil yang lainnya. Ia menyukai Jongin, ia tak akan kembali pada sosok Chanyeol itu.

Entah kenapa saat ia memikiran itu terlintas pikirannya menuju pada sosok eommanya. Merasakan ada perasaan yang tak enak, ia segera mempercepat langkahnya menuju rumahnya karna sedari tadi, pikirannya hanya menuju kepada sosok eommanya.

.

.

Sehun tengah berada didalam rumahnya, ia baru saja sampai. Ia segera melangkahkan kaki ke anak tangga yang ia lompati setiap dua anak tangga pada setiap langkahnya. Sehun terdiam, dengan perasaan terkejut mendapati eommanya yang berbaring lemah tak sadarkan diri didepan pintu kamar. Sehun berlari menghampiri eommanya, menepuk-nepuk pelan pipi eommanya agar tersadar namun itu tak berhasil. Sehun merasa panik, namun disisi lain ia harus bersikap tenang. Menggendong eommanya perlahan menuju mobil, Sehun akan membawa eommanya ke rumah sakit saat ini juga.

.

.

Terlihat didalam mobil, wajah Sehun yang sangat khawatir sesekali ia memandangi eommanya yang berada disampingnya. Namun Sehun harus tetap tenang dan tetap fokus menyetir. Tak lama, terlihat gedung besar yang diketahui itu adalah rumah sakit. Sehun melaju dengan menambah kecepatannya.

Sehun keluar mobil, kemudian kembali menggendong eommanya sambil berlari kecil menuju ke dalam rumah sakit, ia memanggil suster yang tak jauh darinya, tak lama tirah dorong menghampirinya ia meletakkan eommanya yang tak berdaya ditirah tersebut.

.

Sehun menunggu diluar, karna ia tak diperbolehkan masuk ke dalam ruang ICU yang tengah menangani keadaan eommanya. Sehun terduduk mengacak rambutnya, meratapi bahwa ini kesalahannya, seharusnya ia lebih tegas bertindak lebih lanjut membawa eommanya kerumah sakit dari beberapa hari lalu, namun saat itu ia selalu mendapati penolakkan pada eommanya.

Kini menurutnya keadaan eommanya semakin tak baik, ini salahnya, pikirnya.

Tak lama pintu ruang ICU terbuka menampakkan seorang dokter perempuan bersama seorang suster disampingnya, Sehun segera berdiri meminta penjelasan pada dokter apa yang terjadi pada eommanya. Sang dokter membuka mulutnya untuk memberi penjelasan pada Sehun.

''kenapa kau baru membawanya? Apa kau tak tahu, sakitnya memburuk. Ia harus di opname karna keadaannya sangat tidak meyakinkan'' ucap dokter itu, Sehun segera masuk kedalam ruang ICU tersebut untuk melihat keadaan eommanya lebih lanjut.

Sehun menatap eommanya, tak berdaya. Sehun menghampirinya ditirah baring, menggenggam tangannya kuat, sebutir air mata jatuh dipipinya, sebutir air mata itu kini bahkan telah menjadi banyak. Sehun menyesali tindakkannya yang tak segera membawa eommanya ke rumah sakit pada waktu itu.

.

.

.

Sudah lima hari eommanya berada dirumah sakit, namun ia sudah merasa lebih tenang karna eommanya telah tersadar beberapa hari yang lalu.

''eomma, kau waktu itu terus menolak untuk kubawa kerumah sakit. Lihatlah sekarang dirimu terbaring disini, kau membuatku khawatir'' ucap Sehun. Eommanya hanya tersenyum lemah mendengar ucapan anaknya. ''mian Sehun, sekarang apakah kau bisa membawa eomma pergi keluar? Setidaknya ke taman, eomma merasa sangat bosan disini'' ucapnya sedikit lirih. Sehun mengangguk, segera ia membantu eommanya berdiri dan mendudukkannya dikursi roda yang memang telah tersedia diruangan itu.

.

.

Sehun berjalan-jalan membawa eommanya ke taman, dilihat eommanya tengah tersenyum merekah. Sehun menghentikan pergerakan mendorongnya, berhenti didepan bunga-bunga yang tengah mekar indah disore ini. dengan lutut sebelah kiri yang menjadi penyangganya dan tangan yang bertumpu pada pegangan kursi roda, ia menatapi eommanya.

''kau tahu? Eomma senang yang seperti ini, menghirup udara sore yang membuat eomma tenang'' ucapnya sembari memejamkan matanya dan menghirup udara sore.

Sehun mengangguk sebelum berkata ''kalau eomma ingin ini selalu, aku bisa membawa eomma setiap sore ke taman. Aku senang jika eomma terlihat senang seperti ini'' ucapnya. ''itu memang yang eomma mau'' ucap sang eomma kembali.

Sehun akhirnya terduduk disamping kursi roda eommanya memandang lurus kedepannya, membiarkan eommanya menikmati ketenangannya. Sesekali Sehun memalingkan pandangannya ke arah lain, hingga pandangannya terhenti melihat sosok yang begitu ia rindukan selama ini. Sehun menajamkan penglihatannya, pemuda itu..seperti Jongin. tapi apa mungkin? Pikirnya.

''sehun'' panggil eommanya. Membuat Sehun kini berpaling pandang pada eommanya.

''ne eomma?'' tanyanya. ''apa yang kau lihat?'' eomma Sehun sedari tadi mengetahui bahwa Sehun tengah memperhatikan sesuatu entah apa itu.

Sehun menggeleng dan tersenyum ''tidak ada'' jawabnya. ''baiklah, eomma ingin kembali ke kamar. Hari sudah senja'' ucapnya dan Sehun hanya mengangguk, ia berdiri dan mendorong eommanya dengan kursi roda. Sebelum ia berjalan ia sempat menoleh pada tempat tadi, tempat dimana ia melihat sosok yang mirip dengan Jongin, tapi tak didapati seorang pun disana. Sehun menghela napas, dan kembali mendorong kursi roda tersebut.

.

.

.

Hari berikutnya, Sehun masih membawa eommanya ke taman seperti sebelumnya. Dan ia lagi-lagi mendapati sosok yang mirip dengan Jongin tengah membawa seseorang juga, seorang namja yang terduduk dikursi roda. Sehun berpikir, apa itu benar Jongin? lalu siapa namja yang sedang bersamanya itu?

.

Sehun merasa ketagihan ditaman namun kali ini tidak bersama eommanya karna eommanya sedang diperiksa oleh dokter dan sedikit lama mungkin. Sehun juga ketaman untuk melihat sosok yang mirip dengan Jongin, dan kali ini ia ingin menghampiri langsung sosok itu.

Pemikiran yang tepat, tak salah jika ia kesini. Sehun berpikir pasti orang itu datang kesini tiap sore ketaman yang tak lupa juga ia membawa sosok namja yang berada dikursi roda. Sungguh, ini sangat membuatnya penasaran. Ia pun memilih tindakkan untuk medekat dengan dua orang namja itu. Semakin dekat ia melihat, semakin jelas bahwa itu adalah benar Jongin yang ia rindukan beberapa minggu terakhir ini. tapi.. siapa pemuda yang berada dikursi roda itu? Tanyanya penasaran, mungkin ia bisa menanyakan pada Jongin nanti.

Sehun menepuk bahu Jongin, Jongin menoleh padanya. Pandangan mereka bertemu, Sehun menampakkan tatapan kerinduan, sedangkan Jongin menatap dengan tatapan yang sulit diartikan.

''ehem'' namja yang berada dikursi roda tadi berdeham, Sehun dan Jongin segera memalingkan pandangan mereka masing-masing ke arah lain. Sehun segera kembali menoleh pada Jongin, dan mencoba untuk berbasa basi sedikit.

''Hai Jongin apa kabar? Lama tak bertemu'' ucapnya seraya membuka percakapan

''kau benar, sudah lama sekali ya. Aku baik, kau sendiri?'' tanya Jongin kembali, Sehun tersenyum sebelum menjawab bahwa ia juga baik-baik saja.

''kau ke—''

''ehem'' belum sempat Sehun melanjutkan pertanyaannya pada Jongin, karna pemuda yang dikursi beroda itu berdeham dan membuat Sehun memalingkan pandangannya pada pemuda itu. Mungkin ia merasa didiami disini? entahlah.

''ahh, Jongin siapa ini? dia lucu sekali, apa dia adikmu? Atau kekasihmu eoh?'' tanya Sehun penasaran, dengan sedikit penekanan saat ia mengucapan kata kekasih.

Pemuda itu menunduk saat Sehun bertanya seperti itu, Jongin menoleh pada Sehun.

''dia Kyungsoo, orang spesial yang pernah kubilang padamu waktu itu. Apa kau ingat aku akan mengenalkanmu padanya? Dan kurasa sekarang tepat untuk memperkenalkan kalian berdua agar lebih akrab.'' Ujar Jongin

Sehun mengangguk, dan kecewa..jadi, ini kah orang spesialnya? Itu berati, apa ini kekasihnya? Sehun tidak ingin memikirkan hal ini dulu, ia tetap harus fokus terhadap topik pembicaraan saat ini. karna ia tak mau dirinya terlihat memasang wajah kecewa. Sehun kembali tersenyum seakana-akan ia dengan ikhlas menerima ini semua, ah tidak, lebih tepatnya seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

''hai Kyungsoo, aku Sehun teman Jongin'' ucapnya seraya mengulurkan tangannya pada Kyungsoo yang masih menunduk. Kyungsoo mendongak perlahan menatap Sehun, lalu ia tersenyum kecil dan menjabat tangan Sehun yang telah terulur itu.

''Jongin, Kyungsoo mu ini sangat manis. Bolehkah aku mengajaknya bermain? Kurasa, ia bosan jika terus bersamamu'' tanyanya terkekeh ringan.

Kyungsoo menatap Jongin sebelum kembali menatap Sehun. Kyungsoo mengangguk, begitupun Jongin memperbolehkannya untuk mengajak Kyungsoo bermain. Dan Kyungsoo rasa, Sehun adalah orang yang baik.

Sehun segera mendorong kursi roda Kyungsoo perlahan, meninggalkan Jongin disana yang kini telah hilang mungkin ia sedang kedalam, pikirnya.

Sehun berhenti ketempat dimana biasanya ia dan eommanya berada saat ditaman. Kyungsoo tersenyum, jelas saja, siapa yang tak tersenyum jika sedang memandangi bunga-bunga yang bermekaran itu? Sungguh indah bukan?

''kau tahu Kyungsoo? Waktu itu, Jongin selalu menyebut orang spesial padaku. Tapi saat itu dia tak memberitahuku sosok seperti apa orang spesialnya bahkan namanya pun dia tak memberi tahu, itu sedikit membuatku penasaran'' Sehun memberi jeda pada kalimatnya, ia melihat Kyungsoo sebentar yang ternyata sedang mendengarkannya dengan serius. ''lama sekali Jongin memberitahu siapa orang itu, dan itu membuatku jengkel. Tapi ternyata aku senang karna aku sekarang mengetahui siapa orang spesialnya, namja dengan mata bulat yang indah, dan sangat manis bernama Kyungsoo ini yang menjadi orang spesial Jongin'' ucap Sehun ''apa kau ini kekasihnya?'' tanya Sehun, mendapati Kyungsoo yang terlihat agak sedikit merah pada pipinya, walau ia tahu dirinya itu namja. Tapi tak salahkan kalau seorang namja terkadang merona karna tersipu malu?

Kyungsoo menggeleng pelan, ia mulai memberanikan diri untuk bicara pada Sehun.

''ani, t-tapi aku selalu mengharapkan itu terjadi'' ucap Kyungsoo malu. Sehun tersenyum menanggapi itu semua, kini posisi Sehun tengah duduk berada disamping kursi roda Kyungsoo.

''aku tahu dia memiliki perasaan lebih padamu, sama sepertimu. Dia sangat baik, dan kau tahu itu. Saat itu dia begitu panik mendapat sebuah telpon, awalnya aku tidak tahu siapa yang menelponnya lalu dia pergi begitu saja hingga kami tidak bertemu berhari-hari dan baru bertemu sekarang. Ia sangat perhatian denganmu, kepanikkannya saat itu sangat sangat peduli denganmu. Raut wajahnya saat itu seakan-akan takut kehilanganmu Kyungsoo. Kuharap kau jangan menyia-nyiakan Jongin yang telah menganggapmu sebagai orang spesialnya'' ucap Sehun tersenyum.

''dan kenapa kau bisa disini Kyungsoo? Kau sakit apa?'' tanyanya dan itu membuat Kyungsoo murung seketika.

''aku pengidap penyakit kanker leukemia Sehun, dan sudah stadium akhir. Aku bersyukur karna aku mengidap penyakit kronis, bukan akut. Itu membuatku bisa bertahan agak lama, aku sengaja kembali ke korea yang kuharap aku bisa menghabiskan sisa hidupku disini dengan bahagia'' Sehun tercengang mendengar ini semua, leukemia? Bukankah itu penyakit yang sangat berbahaya?

''sedari dulu, aku ingin Jongin menjadi milikku, begitupun sebaliknya. Namun aku sadar akan hal itu, aku tak bisa karna penyakitku ini'' ucap Kyungsoo lirih, sebulir air bening telah mengalir pada pipinya.

Sehun tersenyum, menepuk pelan bahu Kyungsoo ''jika ia mencintaimu, percayalah tidak ada yang tidak mungkin. Ia akan menjadi milikmu begitupun sebaliknya''

Kyungsoo mengusap air matanya, mengangguk dan tersenyum pada Sehun. Sehun memutuskan untuk mengakhiri cerita ini, dan membawa Kyungsoo kembali pada Jongin.

.

.

Sehun terduduk diluar, didepan ruang kamar inap ibunya, ia merengkuh lututnya, menenggelamkan kepalanya pada lututnya itu. Ia menangis, menangis karna Jongin. belum lagi tentang Kyungsoo dan penyakitnya itu, membuatnya semakin benar-benar harus rela membiarkan luka datang lagi padanya. Masalah ini dirasa tak cocok dengan keadaannya, karna ibunya yang juga terbaring dirumah sakit. Ia tak tega dengan Kyungsoo, yang hanya hidup takkan lama lagi mungkin, ia harus merelakan Jongin bersama Kyungsoo agar Kyungsoo dapat melewati sisa hidupnya bersama Jongin, karna dirasa Jongin pun juga ingin bahagia, bersama Kyungsoo.

Sehun mengacak rambutnya frustasi, betapa banyak masalah yang ada dipikirannya saat ini. ia terus menjambak rambutnya sendiri kesal hingga ia berhenti karna dirasa ada seseorang yang memegang tangannya mencoba mengehentikannya. Sehun mendengus kesal dan melihat siapa yang mencoba mengentikannya. Sehun menatap pemuda yang diketahui adalah Jongin, kini tengah menatapnya juga dengan jarak yang cukup dekat.

''kau kenapa? Apa yang kau lakukan?'' tanyanya dengan nada cemas melihat Sehun sedikit berantakkan.

Dirasa Sehun tak akan menjawab, Jongin langsung meraih Sehun untuk mendekat padanya dan memeluknya. Sehun menenggelamkan kepalanya pada dada Jongin dan menangis sesegukan. Jongin tak mengerti ada apa sebenarnya yang terjadi pada Sehun, namun ia berusaha untuk menenangkan Sehun.

Sehun mengeratkan pelukkannya pada Jongin. Jongin mengusap rambut Sehun lembut sebelum bertanya. ''jika kau punya masalah, ceritakanlah padaku. Aku akan mencoba membantumu. Ceritalah padaku apa masalahmu?''

''hyung'' ucap Sehun lirih, masih berada dalam dekapan Jongin. ''apa?'' tanya Jongin penasaran.

''saranghae'' ucap Sehun pelan namun masih dapat ditangkap oleh indera pendengaran Jongin. Sehun pun tak tahu mengapa ia tiba-tiba mengatakan ini, rasanya ia ingin meledakkan semua amarahnya. Ingin mengungkapkan setiap kata yang ada dipikirannya. Sehun tak tahan akan ini semua. Jongin yang mendengar menganggap ini adalah sebuah pernyataan yang keluar dari bibir tipis Sehun, Jongin tak tahu harus mengatakan apa, ia pun hanya mendekap Sehun lebih erat lagi. Sehun melepaskan pelukkannya menatap Jongin dengan mata bergelinang air.

Sehun menatap Jongin penuh arti, karna ia rasa ia kini benar-benar mencintai Jongin. Jongin menangkup kedua pipi Sehun, mengusap lembut setiap tetesan air mata Sehun yang terjatuh dengan ibu jarinya. Perlahan, terasa wajah mereka semakin mendekat. Jongin mengambil tindakkan untuk terlebih dahulu mendaratkan bibirnya pada Sehun, memberi lumatan-lumatan kecil pada bibir tipis itu. Sehun membalasnya dengan kasar, karna saat ini ia merasa hatinya berantakkan. Jongin tak peduli jika Sehun membalas lumatannya kasar, ia malah meraih tengkuk Sehun guna untuk memperdalam ciumannya.

Cukup lama dalam posisi ini, Sehun melepaskan ciumannya karna dirasa ia hampir telah kehabisan oksigen. Jongi menangkup pipi Sehun kembali, tersenyum dan memeluknya erat.

''nado saranghae'' ucapnya membuat Sehun tersenyum kecil.

''aku akan selalu bersamamu Sehun''ucapnya lagi..

''selamanya''

..

.

..

.

..

T B C

.

.

.

Tadaaaaaaaaaaaaaaaaaa, KEJUTAN(?)

Mau tau kenapa? Karna, ga tega rasanya hiatus tanpa ninggalin moment kaihun pada fic ini, ya walau dikit? Dan Cuma bagian akhir doang-_-

Gimana? Garing ya? Alurnya juga agak kecepetan dep rasa, ini disempet-sempetin nulis loh..

Abis ini dep mau lanjut ngerjain rangkuman #gananya# udahan yaaa, review nya boleh? Kkekkekke..

THANK YOU ALL *DEEPBOW*

Sorry for typo.

Eiya mau nanya ada yang ikut sm audisi? Nanya doang sih sebenernya..dan eh iya, boleh minta saran lagu korea yang selow-selow galao gimana gitu? Lagi pengen download lagu yang begitu-gituan nih? *bodo* bukan brati dep lagi galao yaaa tapi-_- galao karna tugas beda urusan itumah.

Oke, Tenkyuuuuu all..:)