Silahkan bash ff ini sesuka hati kamu, tapi pls jangan bash castnya mereka ga bersalah. Kalo bisa sih mending kamu langsung ninggalin ini ff kalo gak suka castnya, gausah nyebar nomer itu gak penting, emangnya aku bakal marah terus nelpon kamu? Engga, alesannya yang pertama aku gak peduli yang kedua buat apa nelpon? Sayang pulsa kali. Silahkan kalo mau marah atau apalah terserah, itu dibawah kotak review menanti, sebenernya kata-kata curahan hati dep bukan kaya gini, Cuma dep apus terus ketik ulang karna kata-kata dep buat kamu/siapapun itu pedes banget! Dep aja yang baca ketikan sebelumnya ngerasa ga tega kalo kamu (yang merasa) baca itu, karna dep manusia yang punya hati dan berpikir. Silahkan kritik sesuka hati, tapi satu jangan nganuin castnya.

.

.

Preview~

Cukup lama dalam posisi ini, Sehun melepaskan ciumannya karna dirasa ia hampir telah kehabisan oksigen. Jongi menangkup pipi Sehun kembali, tersenyum dan memeluknya erat.

''nado saranghae'' ucapnya membuat Sehun tersenyum kecil.

''aku akan selalu bersamamu Sehun''ucapnya lagi..

''selamanya''

.

.

Wtbwy, Dep Jung

.

Liquid yang telah mengumpul pada pelupuk mata, jatuh begitu saja dipipi Kyungsoo, sakit rasanya, ternyata harapan untuk bersama Jongin lenyap sudah. Tak bisa dibayangkan jika ia kehilangan patah semangat karna Jongin, bisa saja nyawanya langsung terbang ke surga.

Kyungsoo POV

Sehun, dia bilang bahwa Jongin menganggap aku adalah orang spesial, dia bilang Jongin memiliki perasaan lebih, tapi apa? Sehun bohong. Bahkan apa yang Sehun ucapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Sehun, dia mencintai Jongin. aku? Disini aku pihak yang tersakiti oleh keduanya. Apa maksut yang Sehun ucapkan? Apa karna aku seseorang yang sebentar lagi menghembuskan nafas terakhir? Jadi, Sehun kasihan padaku? Dan Jongin, kenapa kau tidak pernah mengerti Jongin,kenapa? Biarkan aku mengakhiri ini dengan senyum bahagia ku mohon. Hatiku begitu sakit melihat kalian seperti ini, kalian bercumbu disini, dan terlebih lagi bodohnya aku yang menyaksikan ini semua.

end kyungsoo pov

.

.

.

.

Jongin berjalan menuju kamar inap Kyungsoo, menyambut pagi yang cerah untuk Kyungsoo. Ia sudah berjanji untuk menjaga Kyungsoo, bahkan apa yang Kyungsoo inginkan, Jongin akan menurutinya tanpa beban.

Jogin membuka pintu perlahan, kepalanya melihat kedalam terlebih dulu, namun yang didapati hanyalah tirah baring yang rapih, tak nampak orang diatasnya. Jongin terheran, ia kemudian masuk ke dalam. Dia menghampiri kamar mandi yang ada didalam tersebut guna untuk mencari Kyungsoo, namun ternyata nihil. Tak ada tanda-tanda orang didalamnya. Jongin cemas, Kyungsoo menghilang dalam kondisi yang tidak meyakinkan.

Jongin segera keluar, berlari menuju kamar inap eomma Sehun, guna untuk menemui Sehun. Jongin mempercepat larinya, keringat telah tampak tercucur pada wajahnya. Nafas tersengal karna berlari.

Akhirnya Jongin sampai didepan pintu dimana didalamnya pasti ada Sehun, ia mengatur napasnya yang tersengal agar lebih tenang, setelah dirasa napasnya mulai teratur ia mengetuk pintu pelan selama beberapa kali.

Tok tok

Pintu belum terbuka

Tok tok

Jongin mengetuk lagi

Tok

Pintu terbuka, Sehun memandang Jongin dari bawah ke atas heran karna Jongin terlihat seperti orang yang tengah kehilangan sesuatu. Sehun hendak membuka mulut untuk bertanya pada Jongin terlebih dulu, namun tidak jadi karna Jongin mengambil alih terlebih dulu untuk mengucapkan sesuatu.

''Kyungsoo, apa kau melihatnya?'' tanya Jongin dengan nada khawatir namun masih bisa sedikit terdengar hembusan napas yang masih tersengal. Sehun sigap menggeleng, karna ia memang benar-benar tidak tahu.

''Kyungsoo, hh dia tidak ada'' nada Jongin berubah menjadi rendah seakan benar-benar ada setitik ah tidak bahkan beribu-ribu perasaan bersalah karna ia tak menjaga Kyungsoo dengan baik seperti apa kata janjinya.

Sehun membulatkan matanya, ia juga terkejut. Dipagi hari sudah diberi tahu yang seperti ini, membuatnya merasa ikut khawatir juga.

''ayo kita cari, aku akan membantumu'' ujar Sehun, Jongin mendongak menatap Sehun. Mata Jongin mendelik ke dalam kamar inap eomma Sehun dan kembali lagi menatap Sehun

''bagaimana dengan eomma mu?'' tanya Jongin

''aku akan menyuruh suster untuk menjaganya'' jawab Sehun sambil tersenyum

Segera Sehun menutup pintu perlahan meninggalkan eommanya yang masih tertidur, lalu ia berjalan ke arah seorang suster memintanya agara menjaga eommanya sepenuhnya. Setelah berterima kasih pada suster itu, Sehun segera Setelah berterima kasih pada suster itu, Sehun segera berjalan agak cepat menyusul Jongin yang sudah berada didepan—parkiran—.

Sehun keluar dari gedung rumah sakit, ia sedikit berlari kecil guna untuk mempercepat langkahnya. Dia membuka pintu dan memasukinya, Jongin segera melajukan mobil setelah sebelumnya Sehun memasang seat beltnya. Mereka menuju tempat pertama, rumah Kyungsoo.

.

.

.

.

.

''Andwae!'' teriak Baekhyun

Byun Baekhyun berteriak karena soal orang yang dijodohkan oleh pilihan eommanya. Belum lagi sang appa yang setuju-setuju saja tentang orang yang dijodohkan olehnya.

''Baekhyun, jangan berteriak seperti itu''gerutu eommanya kesal.

''appa! Aku tidak mau dijodohkan dengannya'' Baekhyun memelas pada appanya, berharap appanya kasihan padanya, dan tidak jadi menjodohkan Baekhyun dengan orang itu.

''kau harus menikah dengannya Baekhyun'' jawab appanya, itu adalah jawaban yang membuat Baekhyun semakin kesal dan pasrah.

Baekhyun mendengus kesal, menjatuhkan tubuhnya diatas sofa, kini ia hanya pasrah saja akan dijodohkan oleh orang itu. Memangnya sejelek apa orang itu? Sampai-sampai Baekhyun tidak ingin dijodohkan oleh orang itu?

Tidak, menurut Baekhyun orang itu tidak jelek. Dia tampan, tapi Baekhyun tidak mungkin menerima perjodohan ini tapi orangtuanya bersikeras terus memaksa Baekhyun, dan akhirnya Baekhyun pasrah. Tapi, sebenarnya disisi lain ini menyangkut Chanyeol, Baekhyun masih mencintai Chanyeol begitupun sebaliknya.. bagaimana jika Chanyeol melakukan sesuatu yang negatif? Atau bisa saja ia mengakhiri hidupnya dengan terjun dari jembatan atau memotong tangannya memakai pisau atau apapun itu yang bisa membunuh dirinya sendiri, Astaga Byun Baekhyun apa yang kau pikirkan? Chanyeol tidak seperti itu.

Masih dalam perasaan kesal, pasrah, gelisah, resah, apapun itu. Baekhyun menggerutu kesal dengan ini semua! Dia bisa saja kabur, kawin lari bersama Chanyeol hanya saja ini menyangut perusahaan keluarganya, dan Baekhyun tidak ingin dibilang anak durhaka pada orangtuanya.

Sebenarnya Baekhyun juga bisa saja, langsung menerima perjodohan ini.

Hanya saja...

.

.

.

.

.

.

Mobil Jongin berhenti didepan halaman rumah Kyungsoo, keduanya—jongin dan Sehun—keluar dari mobil. Diketuknya pintu rumah tersebut oleh keduanya ketika sudah berada tepat didepan pintu tersebut.

Diketuknya berkali-kali namun tak ada satupun jawaban atau bahkan celah pintu terbuka sedikitpun. Lagipula, nampak rumah ini sepi sekali seperti tak ada tanda-tanda orang didalamnya.

Sekali lagi Jongin mengetuknya dengan keras, siapa tahu tadi yang didalam tak mendengar ketukannya, tempo pengetukan semakin tinggi guna yang didalam agar membukakan pintu. Sehun bergedik ngeri dengan ketukan pintu yang temponya meninggi, seperti Jongin tengah meluapkan semua amarahnya.

Berhenti,

Jongin berhenti mengetuk pintu itu, karna dirasa memang tak didapati orang didalamnya. Ia mengacak rambutnya kasar, serasa ia tengah diliputi rasa bersalah.

''h hyung'' ucap Sehun dengan sedikit gugup. Jongin melirik ke arah Sehun sebentar, kemudian menunduk.

''dia pasti masih diSeoul, percayalah, kita akan menemukannya'' ucap Sehun dan Jongin hanya mengangguk. Sehun tersenyum miris.

Keduanya berjalan menuju mobil meninggalkan lokasi rumah Kyungsoo, Jongin melajukannya untuk mencari Kyungsoo ditempat lain, siapa tahu Sehun benar bahwa Kyungsoo masih diSeoul.

.

.

.

.

.

Pagi ini Sehun agak bangun lebih siang, ia merasa agak lelah setelah kemarin seharian penuh mencari Kyungsoo, namun nihil Kyungsoo tak tersenyum simpul pada ibunya yang tengah tersenyum juga padanya. Ibunya mengusap rambut Sehun lembut.

''hari ini kau akan kemana?'' tanya eommanya.

''molla, tapi kurasa aku akan disini menemanimu'' jawab Sehun.

''lebih baik kau membeli kebutuhan rumah, karna beberapa hari lagi eomma akan keluar dari rumah sakit ini'' ucap eommanya, Sehun mengangguk setuju. Ia pun langsung ber-segera diri merapihkan pakainnya, mengambil jaketnya yang terdapat dompet disaku jaketnya, ia menghilang dibalik pintu setelah berpamitan pada sang eomma.

.

.

.

.

.

.

Jongin memasang raut wajah cemas, kemana dia pergi? –kyungsoo. Padahal Jongin telah berjanji untuk menjaganya namun kenyataannya? Ia tidak menjaga dengan baik, sungguh merasa arghh apapun itu yang membuat rasa bersalah.

Jongin sekarang tengah berada disungai Han, lantaran tengah beristirahat menenangkan pikirannya sekaligus beristirahat karna lelah mencari Kyungsoo. Alasan Jongin sangat menyayangi Kyungsoo bukan karna penyakitnya, ia tidak ingin dibilang ia memberi perhatian lebih pada Kyungsoo hanya karna orang menyangka sekedar rasa kasihan! Oh tidak, Jongin tak begitu. Alasannya adalah, Kyungsoo itu sahabat dari kecil, selalu disisi satu sama lain jika membutuhkan, dan saling menyayangi, mungkin tanpa Kyungsoo, Jongin tidak akan bisa merasakan arti sebuah persahabatan.

Tanpanya, mungkin Jongin tidak akan seperti ini. tanpanya, mungkin Jongin merasa tidak akan pernah lepas dari keterpurukan waktu itu, saat dimana orangtuanya berpisah. Jongin tidak tahu waktu itu apa yang membuat kedua orangtuanya memutuskan untuk berpisah yang jelas ia benci akan hal itu.

Jongin menatap lurus kedepan, sejenak ia melupakan kepenatan yang ada dihatinya. Sehun, tiba-tiba saja ia terpikir tentang namja itu—Sehun. Waktu itu, saat ia mengucapkan kata cinta dan melakukan sesuatu yang sesungguhnya ia tidak ingin melakukannya karna Jongin merasa tak pantas untuk itu. Dan hei siapa dia dimata Sehun sampai-sampai melakukan sesuatu—mencium Sehun—, dan apa itu? Waktu itu saat Sehun mengatakan kata cinta, kemudian dia membalasnya, apa dia mengucapkan itu karna terlalu iba melihat keadaan Sehun?. tapi perasaan macam apa ini? serasa tulus mengucapkannya. ah ini memang perasaan cinta, ia jatuh cinta dengan seorang Oh Sehun, tapi apa Sehun juga memiliki perasaan padanya? Jongin merasa tidak, Sehun tidak memiliki perasaan apapun walaupun waktu itu ia mengucapkan kata cinta terlebih dulu dibandingnya. Hei ayolah Jongin! dia mencintaimu! Sangat! Kau merubah hidupnya menjadi lebih baik, kenapa kau tidak peka terhadap rangsangan sih? Lebih tepatnya rangsangan perasaan dari namja bernama Sehun.

Dirasa sudah cukup, Jongin hendak masuk kemobil melanjutkan untuk mencari Kyungsoo. Namun, sebuah tangan mencengkram lengannya membuat ia menoleh pada orang yang tengah mencengkramnya itu.

''siapa kau?! lepaskan!'' ucap Jongin keras karna ia sama sekali tak mengenal orang-orang ini, orang berbadan besar, berpakaian jas hitam rapih. Jongin terus memberontak, berteriak untuk minta dilepaskan, namun kekuatan Jongin saat ini untuk melepaskan diri dari orang-orang ini sangatlah sulit karna sekarang bukan satu orang lagi yang mencengkramnya tapi dua orang tepat disisi kanan dan kirinya, belum lagi ia tengah frustasi, dan orang-orang ini badannya besar-besar.

Jongin yang terus memberontak minta dilepaskan membuat keempat orang ini—orang berbadan besar—, cukup lelah walau badan mereka besar, akhirnya satu diantara mereka melayangkan kayu ke tengkuk(entah tengkuk/punggung/atau apa dep gatau kalo liat ditv2 sih kayanya tengkuk) Jongin lepas kesadaran, terasa sangat sakit dan akhirnya ia tak sadarkan diri. Dan orang-orang itu segera membawa Jongin pergi.

.

.

.

.

.

''seharusnya aku punya mobil sehingga aku tidak perlu menunggu taksi seperti ini, ada apa dengan taksi-taksi hari ini? kenapa lama sekali aishh'' gerutu Sehun yang sudah menunggu taksi mungkin kurang lebih 10 menit. Taksi tak kunjung datang membuatnya kesal sendiri.

''Hhh'' Sehun menghela napasnya untuk kesekian kalinya, ia cukup banyak menghela napasnya guna untuk menenangkan dirinya yang kesal. Pegal rasanya berdiri terus menunggu taksi lewat dihadapannya.

Dua menit kemudian, taksi juga belum menampakkan bentuk badannya membuat Sehun semakin geram. Baiklah, dia akan jalan mungkin sekarang karna kalau naik bus yahh halte bus tak berjarak dekat dengan tempatnya ia berdiri sekarang. Oke, hitung-hitung olahraga, pikirnya.

Sehun mulai berjalan.

'tin tin' suara klakson mobil terdengar, Sehun menghentikan langkahnya dan menoleh pada mobil itu, dilihat mobil hitam itu berjalan kedepan menyamakan dengan tempat Sehun berdiri sekarang. Sehun terheran, ia menajamkan matanya guna untuk melihat orang yang berada didalam mobil tapi ternyata tidak kelihatan karna kaca mobil cukup gelap.

Sehun mencoba mengabaikannya, mungkin mobil ini bukan bermaksut untuk menghampirinya mungkin saja hanya ingin parkir disini, pikirnya. Sehun berjalan kembali seakan-akan tak peduli. Baru beberapa langkah, ada yang memanggilnya dari belakang dan tentu saja ia menoleh.

''Sehun!'' panggil orang itu, Sehun membulatkan matanya, bibirnya terkatup rapat, seakan tubuh ini beku tapi Sehun mencoba untuk bersikap biasa saja. Orang itu, sudah lama tak terlihat, orang itu—Chanyeol. Chanyeol berlari kecil menghampiri Sehun, Sehun mencoba memalingkan pandangannya.

''kau mau kemana?'' tanyanya. Sehun sendiri bingung harus menjawab atau tidak, tapi ia harus bersikap biasa saja jadi dia menjawab pertanyaan Chanyeol.

''aku harus membeli kebutuhan rumah'' jawab Sehun tak bernada, Chanyeol mengangguk mengerti sebelum ia berucap lagi ''mau ku antar? Kebetulan aku juga ingin membeli yah sedikit bahan makanan'' ucapnya.

''gomawo , tapi kurasa tidak perlu'' ucap Sehun dengan nada sebiasa mungkin. Sehun segera membungkuk sedikit dan kemudian pergi meninggalkan Chanyeol dengan langkah yang ia perbesar, Chanyeol tidak mau memaksa Sehun, kalau Sehun tidak mau yasudah.

Chanyeol masuk ke dalam mobil dan memasang seatbeltnya, sebuah suara panggilan telpon terdengar dari saku celananya. Ia merogohnya kemudian melihat nama yang tertera pada panggilan tersebut dan segera mengangkatnya

''yeoboseo''

..

''ah ne''

..

''aku segera kesana''

Setelah itu, Chanyeol dengan cepat melajukan mobilnya , menuju tempat tujuannya itu.

.

.

.

.

.

.

.

Sebuah ruang yang mendominasi perpaduan warna putih dengan hitam dipinggir-pinggirnya terlihat sangat elegan. Terlihat Jongin yang tengah berada disofa dengan keadaan tak sadarkan diri akibat dipukul oleh orang besar tadi, lalu kemudian Jongin terlihat menggeliat sedikit sepertinya ia sudah agak sadar. Ia meringis karna pusing pasti karna pukulan yang cukup keras. Ia tak membuka matanya, ia hanya meringis lagi sambil mengerutkan keningnya. Lalu perlahan ia membuka matanya, samar-samar dilihatnya, tapi ia terus mencoba membuka matanya. ketika matanya telah terbuka sempurna ia langsung terheran didalam hati 'dimana ini'

Jongin terus menyelusuri sekitarnya dengan matanya dan posisi yang masih tiduran,

''eoh kau sudah bangun'' sebuah suara terdengar membuatnya menoleh, ia membulatkan matanya tak percaya, ia segera bangun memposisikan tubuhnya menjadi duduk.

Orang itu tersenyum pada Jongin, Jongin melihatnya dengan tatapan benci. Kemudian orang itu duduk disamping Jongin, tapi Jongin menggeser posisi duduknya karna ia tak mau berdekatan dengan orang ini.

''appa sangat merindukanmu'' ucapnya yang membuat Jongin jijik! Ya dia, appanya Jung Yunho orang yang telah memarahi eommanya dulu dengan kasar hanya karna sebuah masalah dan betapa kasihannya Jongin tak mengetahui apa latar belakang dibalik masalah itu.

''bicaralah, apa kau tidak merindukan appa?'' tanya Yunho, Jongin mendecih dengan kepalanya yang menoleh kesamping tapi bukan kearah Yunho.

''appa tahu kau sangat marah, bahkan membenci appa karna itu. Tapi, appa ingin kau memaafkan semua kesalahan appa. Biarlah yang lalu itu, sekarang appa ingin mengulang semuanya dari awal. Jongin, maafkan appa'' ucap Yunho,

'apa itu tadi? biarlah yang lalu itu? Aku tak akan melupakan itu sampai kapanpun!' batin Jongin

Yunho menghela napasnya karna Jongin tak mengeluarkan sedikit katapun.

''hh appa berjanji akan menceritakan itu semua tapi tolonglah kau maafkan appa'' Jongin mendengar ucapan Yunho, dan dia mulai tetarik dengan apa yang diucapkan Yunho. Ia melirik sedikit ke Yunho dan kemudian kembali memalingkan wajahnya kearah lain.

''dan, dan appa akan memberitahumu dimana sekarang eommamu berada. Tidakkah kau merasa merindukannya?'' ujar Yunho, dan sukses membuat Jongin menunduk, memikirkan ucapan Yunho. Ya, dia memang sangat merindukan sosok wanita itu, sangat dan sangat. Lalu Jongin menoleh pada Yunho, sebenarnya ia juga merindukan sosok yunho ini, tapi lebih tepatnya ia merindukan keharmonisan keluarganya dulu yang sekarang hanyalah tinggal kenangan.

''kau janji?'' tanya Jongin, dan Yunho tersenyum senang mendengarnya karna Jongin sudah mulai ingin berbicara kembali dengannya setelah beberapa tahun yang lalu. Yunho mengangguk sambil tersenyum. Jongin memandang lurus kedepan sambil berbicara

''baiklah aku memaafkanmu, tapi kau harus berjanji untuk menepati itu semua! Kalau tidak, aku akan membencimu lagi dan tidak akan memaafkanmu selamanya'' ujar Jongin.

''ne''

''sekarang dimana eomma?''

Hening..

Yunho terdiam, tatapannya sungguh tak tega jika memberitahu ini. tapi bagaimanapun juga ia harus memberitahu ini semua

''eommamu'' yunho menjeda kalimatnya, haruskah ia melanjutkannya? Haruskah ia jujur? ''dia, dia sudah tidak ada'' ucap Yunho lirih. Kai membelakakan matanya dan menghadap pada Yunho. Yunho melihat tatapan Jongin yang terkejut dan tidak percaya.

''kau tidak bohong kan! Kenapa? Apa yang terjadi padanya!'' ucap Jongin dengan nada meninggi.

''untuk hal ini, appa jujur'' jawab Yunho, ''aku ingin kemakamnya sekarang kumohon!'' pinta Jongin. yunho sedikit berpikir, tapi tak ada salahnya jika ia menuruti permintaan Jongin. ia mengangguk dan segera mengajak Jongin keluar menuju mobilnya dan menuju makam eommanya.

.

.

.

.

.

.

.

''hh, kurasa ini sudah cukup. Aku tidak ingin membawa barang-barang terlalu banyak'' ucap Sehun yang sedang berada disupermarket, ia mendorong troll nya berjalan menuju kasir. Setelah itu, Sehun segera membayarnya sesuai nominal yang telah dijumlahkan oleh kasir tersebut.

Sehun berjalan keluar, kemudian ia terhenti ''haruskah aku jalan lagi? Apa benar-benar tidak ada taxi?'' gerutu Sehun. ''baiklah anggap saja olahraga'' ucapnya guna menyemangati dirinya sendiri mungkin.

Sehun berjalan sambil mengecek bahan/barang-barang yang telah dibelinya tadi. dia terus mengecek berulang-ulang sambil terus berjalan lurus.

B R U K

Oh tidak! Barang-barangnya jatuh, dan Sehun segera mengambil, mengumpulkan barang-barangnya yang terkapar dibawah. Sehun menabrak seseorang, karna ia berjalan sambil menunduk menghitung belanjaannya. Dalam hati sehun bingung, kenapa orang yang ditabraknya tidak marah? Atau tidakkah ia berniat membantu Sehun membereskan barang-barangnya ini?

Setelah membereskan itu dia langsung berdiri dan membungkuk pada orang itu, Sehun langsung membungkuk karna dia tahu orang itu pasti masih didepannya. Setelah membungkuk lama dan mengucapkan kata maaf berkali-kali, ia langsung menatap orang yang didepannya.

''k—kyungsoo?'' ucap Sehun sedikit terbata.

''bisakah aku bicara denganmu? Ini menyangkut Jongin''

Deg~

'Jongin? kenapa Kyungsoo berbicara seperti ini? ada apa dengannya?' batin Sehun

''bisa?'' tanya Kyungsoo lagi, dan Sehun mengangguk setuju.

''ikut aku'' ucap Kyungsoo, kemudian berjalan didepan dengan Sehun yang berada dibelakangnya.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Hargailah A/N gue, pls read?

MIAN MIAN MIAN MIAN MIAN MIAN MIAN MIAN MIAN MIAN

MAAF MAAF MAAF MAAF MAAF MAAF MAAF MAAF MAAF MAAF

SORRY SORRY SORRY SORRY SORRY SORRY SORRY SORRY SORRY SORRY naega naega naega meonjeo nege nege nege ppajyeo baby~ Boom shakalaka Boom shakalaka~ (gue lagi stress)

Oke maaf banget, gue minta maap baru update karna gue baru selesei UAS dan entah gatau kenapa gue update lama bgt ini yampunnn gada waktu cyiinn! Belom lagi dep besok senen UP, hfttt gwelaaak bisa-bisa gada waktu. Tapi dep usahain, tapi ga janji, Dep bakal nyempetin waktu buat ngetik epep. Dan semoga, ada waktu AMIIIINN

Ah ininih yang penting, kalo udah bosen sama ff yang gaje ini? Atau mungkin karna update lama jadi males baca, yaa yasudah jangan dibaca. Dep ga maksa buat baca kok. Tapi kalo masih setia menunggu dan ga males baca, dep berterimakasih bangetttt. Dan mohon pengertiannya karna dep lagi banyak ujian, bukannya gak mau update soon tapikan duniawi itu keras! (oke gue mulei ngaco). Dan jangan panggil author, saya 99line dan dengan umur saya yang masih begini mudanya saya rasa masih belum pantas dipanggil begituan oke?

Maap ketika buka ff ini, ononoh diatas ada kata2 begituan~ tapi jujur itu ngetiknya nyante ga marah-marah loh^^

Maaf kalo selama baca itu tulisan pada ada yang typo dan MAAF KALO CHAPTER INI MEMBOSANKAN~ yeah i know~

Oke gue pamit dulu ye mau ngerjain tugas yang lainnya, mohon pengertiannya. Dan review dong plis jangan jadi sider. Ga bosen jadi sider terus? Gue akuin dulu gue sider tapi udah lama banget gue berubah gak jadi sider lagi KARNA gue tahu para orang-orang yang nulis ff pasti pengennya karyanya dihargai walau Cuma review. Toh marilah kita semua berubah untuk tidak menjadi sider lagi menurut agama dan kepercayaannya masing-masing /abaikan/

Kalo mau berteman bisa follow twitter adevimln , itu acc baru gue krna acc lama ke hack:'' #halahhhpromosi!

Udahan ya udah, ini gada balesan review mian ga sempet. Thanks yang udah terus baca, follow, fav, review, semuanya, sider juga... thankyouuuu banget! LOVE^^

SORRYYYYYYY~ nada ala dio

Last..

Mind to review?