FALL-FELL-FALLEN

.

Pairing:

Yunjae

Rated:

M

Genre:

Comedy, Romance, hurt/comfort

Disclaimer:

Semua karakter milik Tuhan dan milik mereka sendiri.. maxy cuma minjem nama… ide cerita murni dari pemikiran maxy dan ini semua hanya fiksi… ^_^

.

.

Deep bow buat teman-teman yang sudah bersedia memberikan review, review teman-teman membuat maxy semangat lanjutin cerita. Gomawo all.. i love u...

yoshiKyu, juu, Cho Sungkyu, sycarp, Dee chan - tik, babymochi, LopeYunjae, Dennis Park, snow drop 1272, luthfieannha aryhanhiiey, jung soojae 12, meyy-chaan, Elzha luv changminnie, heesy, gwansim84, YunHolic, henyani, Uchiha Tachi'4'Sora, Mayasari, Park July, JejungJijiYoyo, Taeminho597, miss leeanna, narayejea, hanasukie, aliensparkdobi, rizqicassie, manarulilmi, rinayunjaerina, hi jj91, danactebh, Andini010196, zhoeuniquee, hoshi dissy, min, cindyshim07, cristiyunisca, Vic89, opah fumi, Lady Ze, okoyunjae, Dipa Woon, wereyeolves, leeChunnie, KeziaLie3108, Jung Jaehyun, Eternal YunJae, lanarava6223, yoon HyunWoon, chantycassie, Ria1, Ria2, quinniee, kyoarashi57, dhian930715ELF, Mimi2608, shanzec, Kim Eun Seob, redyna90, FiAndYJ, Vivi, vampireyunjae, ajid yunjae, Naritha, KJhwang, Rly C JaeKyu, nin nina, irengiovanny, Aaliya Shim, lovgravanime14, lipminnie, farla 23, layla elfishy 1, qee, Cichangmin, qee, ShinJiWoo920202, Nam Min Seul, junghyema, collitha, sayuri, uknowme2302, Angel Muaffi, SunnyHills, Dei YunJae, BooBear, Nee-chan CassieBigeast, jema agassi, YunJae Love Me, FNPcassieyj, adityaaja, boojaebear2601, ryukey, hongkihanna, meirah 1111, jungmarry, nickeYJcassie, misschokyulate2, yunny adja 9, Shawoll na Cassie, Rizuki Is Fujo Uchiha, AmyKyuMinElf, aiska, Chie Na OrangeL, jongindo, Zheyra Sky, jae sekundes, chodragon, abcdELF, SukiYJ57, wiendzbica, Ristinok137, dan para guest.

Deep bow untuk teman-teman yang mendoakan ayah maxy, ayah maxy sekarang kondisinya sudah semakin membaik.. gomawo all.. #hug n kiss

Yuk dah... segera capcus aja

INGAT! Bacanya jangan cepet-cepet ne... hehehehe

Happy reading all... Kisssssss

.

.


.

Preview:

"Aku dan Jaejoong menjalin sebuah hubungan. Kami berpacaran dan ingin meminta restu kepada appa dan keluarga untuk melanjutkan hubungan kami ke jenjang yang lebih serius lagi. Kami berencana akan menikah" ucap Yunho dengan sangat hati-hati

Semua hening

Termasuk Jaejoong yang hanya bisa menunduk.

BRAAKKK

Mr. Jung berdiri dari kursinya dengan kasar. Ia meninggalkan ruang makan tanpa berbicara sepatah katapun.

Jaejoong mendadak panik sedangkan Yunho masih diam.

Mampukah Yunho bertahan dengan pilihannya?

.

.

.

Part 7

.

.

.

"Tak adakah yeoja yang cocok untukmu di luar sana? Apa Appa harus mencarikanmu juga?" marah Mr. Jung di ruang tengah

Yunho dan Jaejoong sedang duduk didepan Mr. Jung dengan kepala menduduk dan diam. Sedangkan Mrs. Jung dan Yoochun duduk di sebelah kiri dan kanan Mr. Jung. Sungguh pengakuan Yunho membuat dua orang yang sempat akrab dengan Jaejoong itu shock. Mereka tak menyangka jika hubungan dekat antara Yunho dan Jaejoong adalah hubungan yang lebih dari sekedar sahabat.

"Apa kau sadar atas apa yang telah kau lakukan?"

Yunho masih diam

"Kau sungguh membuat appa kecewa."

"Appa"

Mr. Jung menatap tajam mata Yunho

"Kalian tak boleh bersama.. sebelum semuanya menjadi semakin parah, maka segera akhiri hubungan kalian"

"Appa..." ucap Yunho keberatan

"Lihat, kau sekarang bahkan mulai melawanku. Apa dia lebih penting dari appamu ini?" suara Mr. Jung mulai naik.

"Kalian semua penting bagiku appa... aku menyayangi umma dan appa... aku mencintai kalian... tapi aku juga mencintainya"

"ITU BUKAN CINTA!"

DEG

Yunho terdiam

Nafas Mr. Jung memburu, dadanya terus turun naik dengan ritme yang sangat cepat. Ia benar-benar tak menyangka jika putranya akan seperti ini. Ia tahu jika Jaejoong adalah pria yang baik, tapi tidak dengan menjadi pendamping putranya. Mr. Jung benar-benar sedang kalut.

"Appa.."

"Jika kau mau mengucapkan kata pembelaan yang sama, lebih baik kau diam saja. kau benar-benar membuatku kecewa" ucap Mr. Jung memotong pembicaraan Yunho.

Yunho diam

"Pikirkan perbuatanmu.. dan segeralah mengambil keputusan"

"Aku mencintainya, appa... tidak bisakah kami bersama?" gumam Yunho lirih

PLAKKK

Tamparan keras mendarat di pipi Yunho. Jaejoong terhenyak dan Mrs. Jung nampak menahan lengan suaminya yang hendak memukul Yunho.

"Yeobo... jangan begini.. jebbal"

"Apa kau mau membelanya?"

"Appa.. jangan me.."

"Kau membelanya juga, Yoochuna? KALIAN MEMBELANYA?" kemarahan Mr. Jung memuncak.

Mr. Jung memandang Yunho tajam, "pergilah..."

DEG

"Appa"

"Jika kau memilihnya maka pergilah dari sini..."

"Yeobo.."

"Appa..." Yoochun mencoba membujuk.

Namun Mr. Jung seolah tak peduli. Sedangkan Yunho dan Jaejoong terdiam.

SRAAKKK

Mr. Jung meninggalkan ruang tengah tanpa berkata sepatah katapun. Hanya langkah dengan hentakan keras menandakan bahwa emosinya benar-benar sedang memuncak.

BRAAAKKK

Pintu kamar tertutup keras.

Mrs. Jung dan Yoochun menghembuskan nafas beratnya. Mereka menatap Yunho dan Jaejoong yang sedang duduk diam didepan mereka.

Yunho hanya terdiam, sungguh masih terasa panas tamparan di pipinya namun Yunho mencoba menahannya.

Tak terasa Jaejoong menitikkan air mata, ia sangat mencintai Yunho. Tapi ia tak ingin seperti ini.

Tangannya memegang tangan Yunho erat.

Dingin

Tangan Jaejoong sangat dingin

Yunho menoleh ke arah Jaejoong, ia mencoba tersenyum meski tergambar jelas gurat kesedihan diwajahnya.

"Nan gwenchana" gumam Yunho sambil meremas tangan Jaejoong yang sedang menggenggam tangannya.

TES

Air mata Jaejoong kembali menetes, "Mianhe" gumam Jaejoong lirih.

"Ssshhhh... jangan menangis... nan gwenchana jongmal" ucap Yunho kemudian memeluk Jaejoong.

Mrs. Jung dan Yoochun menatap pemandangan didepannya dengan sendu. Sungguh mereka berada di situasi yang sulit sekarang.

Mrs. Jung berdiri. Ia masih belum bisa berpikir jernih, perasaan dan pikirannya masih cukup shock setelah mengetahui hubungan Yunho dengan Jaejoong. Ia sangat menyayangi Yunho dan Jaejoong, tapi haruskah ia merestui hubungan ini?

Mrs. Jung meninggalkan ruang tengah tanpa berucap satu katapun, ia menyusul Mr. Jung ke kamar. Sedangkan Yoochun hanya diam, ia tak tahu harus berkata apa dan bersikap bagaimana.

Sepertinya malam ini akan menjadi malam panjang bagi keluarga Jung.

.

.

.

"Hati-hati di jalan, hyung... beritahu aku jika kalian sudah sampai" ucap Yoochun sambil memandang Yunho dan Jaejoong yang sudah berada di mobil.

Yunho tersenyum dan mengangguk. "Sampaikan permintaan maafku kepada umma dan appa.. aku akan kembali secepatnya jika keadaan sudah lebih tenang"

"Ne, hyung... aku mengerti" Yoochun mengangguk

Yunho memasang sabuk pengaman, begitu juga dengan Jaejoong. Tak lama setelah itu, Yunho memegang kemudi dan menghembuskan nafas beratnya. Mata Yunho menatap ke arah rumah, seolah rumah itu tembus pandang. Ia cukup khawatir dengan keadaan umma dan appanya, namun ia tahu jika saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bertemu dengan mereka. Mereka butuh waktu, begitu juga dengan dia. Semua butuh waktu dan Yunho paham betul akan hal itu.

Mr. dan Mrs. Jung tak mengantarkan kepulangan Yunho. Mr. Jung masih marah dengan sikap Yunho yang sepertinya lebih memilih Jaejoong daripada orangtuanya sendiri dan Mrs. Jung sekarang sedang dikamar mencoba menenangkan Mr. Jung.

"Jja.. Yoochuna... aku berangkat" ucap Yunho memecah kehenigan.

Yoochun mengangguk, "Hati-hati Yunho hyung.. Jae hyung.."

Yunho dan Jaejoong terseyum ke arah Yoochun dan tak lama setelah itu mobil mewah itupun berjalan melintasi jalanan kota gwangju menuju Seoul.

Perjalanan panjang dari Gwangju menuju Seoul dilalui Yunho dan Jaejoong dalam diam, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Umma.. appa... mianhe... bukan aku tidak mau membahagiakan kalian, tapi sungguh aku ingin kalian mengerti bahwa aku mencintainya. Aku ingin memperjuangkannya, memperjuangkan hubunganku dengannya... Aku ingin umma dan appa mengerti pilihanku. Aku mencintai kalian, sangat mencintai kalian" ucap Yunho dalam hati dengan mata yang masih fokus memandang gelapnya malam.

.

.

2 minggu berlalu

Yunho dan Jaejoong mulai beraktivitas seperti biasanya, namun semenjak kepulangannya malam itu, Yunho diajak tinggal di apartemen Jaejoong. Awalnya Yunho menolak tapi Jaejoong terus membujuk dengan berbagai alasan sehingga Yunho akhirnya menyetujui.

Semenjak malam itu, Yunho memang tak seceria biasanya. Maklum saja, meskipun mencoba biasa tapi Yunho tetap memikirkan kemarahan appanya malam itu. Bukannya Jaejoong tak tahu perubahan Yunho, tapi ia mengerti bagaimanapun juga ia pasti akan bersikap yang sama jika berada pada posisi Yunho.

Oleh karena itu, yang bisa Jaejoong lakukan adalah tetap bersama Yunho, mendukungnya serta menghiburnya. Ia tak ingin Yunho terlalu lelah dengan pikirannya, sehingga Jaejoong memaksa Yunho untuk tinggal bersamanya agar mudah baginya untuk mengawasi segala kegiatan Yunho. Jaejoong tak ingin Yunho telat makan dan tak mengurusi tubuhnya, ia tak ingin Yunho jatuh sakit karena masalah ini.

Tapi tinggal bersama membuat keduanya banyak merasakan hal baru. Maklum saja, keduanya terbiasa tinggal sendiri selama bertahun-tahun sehingga tak jarang jika keduanya bersikap canggung karena memang belum terbiasa. Tak ada yang salah dalam hal ini karena semua ini wajar, mereka berkenalan baru beberapa bulan yang lalu dan mereka harus jatuh cinta dalam waktu yang sangat singkat bahkan sekarang mereka harus tinggal bersama. Jelaslah jika kecanggungan masih menerpa keduanya.

Seperti pagi ini, Jaejoong sudah berpakaian rapi, pagi ini akan ada rapat penting dengan dewan direksi.

"Yunhoya... kau sudah siap?" Jaejoong mengecek Yunho di dalam kamar.

OH GOD

Yunho sedang topless karena sibuk mencari kemeja, jelas hal ini membuat Jaejoong terpaku diambang pintu kamar.

Tubuh sexy Yunho terpampang jelas di depan lemari kamar Jaejoong.

Mendadak pipi dan wajah Jaejoong memerah.

Merasa sedang diperhatikan, kemudian Yunho menoleh. "Gimme 3 minutes again" ucap Yunho sambil memberikan senyum menawannya.

"A..mmm... oo.. oke... aku... mmm.. menunggumu di luar saja" mendadak Jaejoong tergagap

Yunho terkikik melihat tingkah Jaejoong.

GREPP

Yunho memeluk Jaejoong dari belakang, "Pipimu memerah" bisik Yunho dari belakang

Degupan Jantung Jaejoong menggila.

"Yun... cepatlah ganti baju..." gumam Jaejoong sambil menunduk malu.

"Wae?"

"K..kau akan masuk angin..."

Yunho tertawa, ia mengendurkan pelukannya dan membalikkan tubuh Jaejoong supaya menghadapnya.

Nampaklah jelas pipi Jaejoong yang memerah sempurna

"Aigoo.. kyeoptaaa..."

"Ck..." jaejoong berdecak.. "Jangan memperlakukanku seperti wanita" gerutu Jaejoong

"I'm not..." Yunho segera menyergah

Jaejoong mempoutkan bibirnya

CUP

Yunho mengecup bibir cherry Jaejoong

"YAHHH... segera ganti baju atau kita akan terlambat" Jaejoong protes meskipun ia sama sekali tak keberatan dengan sikap Yunho

CUP

CUP

CUP

Yunho mengecup berkali-kali wajah Jaejoong hingga membuat Jaejoong terkikik.

"Yun... YAH... ahahahahhaa"

Tiba-tiba

KRINGGGGGGG

Ponsel Yunho yang berada di nakas berbunyi

Yunho dan Jaejoong menoleh ke sumber suara

"Ponselmu" gumam Jaejoong yang masih bergelayut di leher Yunho

"Abaikan.. pasti Changmin.. akhir-akhir ini dia sering menginterogasiku mengenai pertemuan kita dengan appa" gumam Yunho yang kemudian menempelkan keningnya pada kening Jaejoong.

Jaejoong tersenyum, "kau belum menceritakan kepadanya?"

Yunho menggeleng, "dan setiap hari dia merengek.. aku menikmati ekspresi penasarannya, dia membuntutiku terus dan terus merengek..." ucap Yunho kemudian terkikik

"Kau benar-benar suka mengerjainya.. dia pasti sangat penasaran, dia kan namja yang haus akan gosip" canda Jaejoong yang sudah hafal dengan sikap Changmin.

Yunho tersenyum

Dan

CUP

Yunho mengecup bibir Jaejoong yang tepat berada didepannya. Jaejoong mendelik dengan sikap tiba-tiba Yunho namun kemudian pipinya memerah.

Manis sekali.

Yunho tersenyum, "Inilah yang membuatku jatuh cinta lagi dan lagi kepadamu setiap harinya" ucap Yunho sambil memegang kedua pipi Jaejoong.

BLUSSHH

"Kau semakin pintar membual" cibir Jaejoong yang hendak melepaskan pelukan Yunho.

GREPP

Yunho mengeratkan pelukannya

Jaejoong mendelik, "Yun.. Kita akan terlambat" gerutu Jaejoong

"Liburlah untuk hari ini" rengek Yunho

"Kau mau umma menjemputku paksa kesini? Hari ini ada rapat penting Yun"

Yunho terkikik, "Ne..ne... kita berangkat, tapi aku mau ini dulu" Yunho memanyunkan bibirnya tanda minta dicium.

"eii..eiii.." protes Jaejoong sambil terkikik

"Ayolah" gumam Yunho masih sambil memonyongkan bibirnya

Jaejoong terkikik melihat tingkah kekasihnya, "Childish" gerutu Jaejoong dan

CUP

Kecupan singkat mendarat di bibir Yunho. baru Yunho mau mengucapkan sesuatu

Tiba-tiba

KRIIIINNNGGG

Ponsel itu berbunyi lagi

Yunho nampak berdecak tapi Jaejoong hanya memberikan senyuman, "Angkat dulu.. siapa tahu ada yang penting"

Dengan malas Yunho melepaskan tangannya pada pinggang Jaejoong dan menghampiri ponselnya

YOOCHUN

Nama yang puncul di layar ponsel Yunho membuat Yunho dan Jaejoong saling memandang penuh tanya.

KLIK

"Yeobseyo"

"HYUNG!" Terdengar teriakan Yoochun yang panik

"Wae Yoochuna?"

"Pulanglah! Appa masuk rumah sakit"

DEG

Yunho tak sanggup menutupi kekagetannya.

"Hyung.."

Yunho masih diam, Jaejoong menyahut ponsel Yunho dan berucap, "Ne.. Yoochuna.."

"Jae hyung?"

"Ne ini aku... ada apa?"

"Appa masuk rumah sakit hyung. Bisakah kau minta Yunho hyung untuk segera kesini?"

"Ne... kami akan segera kesana... kirimkan alamat rumah sakitnya" ucap Jaejoong langsung menyetujui meski ia cukup kaget mendengar kabar itu.

"Ne.. Jae hyung"

KLIK

Sambunganpun terputus. Yunho terduduk lemas di tepi tempat tidur. Sedangkan Jaejoong langsung menghubungi kantor dan ummanya untuk memberitahukan bahwa ia tidak bisa mengikuti rapat.

Yunho dan Jaejoong segera bergegas menuju rumah sakit tempat Mr. Jung dirawat.

.

.

.

Yunho dan Jaejoong berlari di lorong rumah sakit. Jaejoong berlari sedikit di belakang Yunho karena ia tak mampu mengimbangi langkah lebar kaki Yunho.

Dengan terengah Yunho sampai di depan pintu kamar perawatan Mr. Jung. Yunho segera masuk, melupakan Jaejoong yang baru sampai. Sikap Yunho membuat Jaejoong cukup kaget. Sedari tadi Yunho tak begitu memperhatikannya. Jaejoong tahu jika Yunho panik tapi entah kenapa sikap Yunho yang seperti ini membuat Jaejoong merasakan sedikit tak enak hati. Entahlah, Jaejoong sendiri juga tak tahu kenapa dia merasakan perasaan itu.

Yunho mendekat ke arah tempat tidur Mr. Jung, sedangkan Jaejoong perlahan masuk dan berdiri di dekat pintu masuk.

Mrs. Jung menatap kedatangan Yunho dengan mata sendu.

"Umma" gumam Yunho

GREPP

Mrs. Jung memeluk Yunho dan Yunhopun membalas pelukan Yunho.

"Aku takut" gumam Mrs. Jung

"Appa.. akan baik-baik saja umma" ucap Yunho menenangkan.

Mrs. Jung mengangguk dan melepaskan pelukannya.

Yunho mendekati Mr. Jung dan duduk di kursi yang tersedia di dekat tempat tidur. Mata Yunho menatap pria separuh baya yang sedang tidur pulas dengan selang oksigen yang menancap di hidungnya.

"Appamu merasakan sesak di dadanya dan mungkin ada sedikit masalah dengan jantungnya tapi dokter sedang memeriksa lebih lanjut" Mrs. Jung menjelaskan.

Yunho mendengarkan dengan jelas ucapan Mrs. Jung namun ia masih diam, matanya terus memandang ke arah appanya tersayang.

"Dokter berpesan untuk menjaga kestabilan pikirannya dulu Yun... kita harus selalu membuat appamu tenang" lanjut Mrs. Jung menjelaskan.

Perlahan tangan Yunho memegang tangan Mr. Jung, menggenggamnya erat. "Appa.. mianhe" gumam Yunho pelan. "Jongmal mianhe" ucap Yunho sekali lagi.

TES

Air mata Yunho menetes tanpa diminta

Mrs. Jung memandang hal tersebut dengan iba. Ia menepuk bahu Yunho, mencoba menenangkan.

KLIK

Suara pintu kamar menutup, Yunho dan Mrs. Jung menoleh. Yunho baru menyadari jika sedari tadi ia melupakan Jaejoong. Yunho hendak beranjak dari tempat duduknya tapi kemudian tangan Mrs. Jung menahan, "Temanilah appamu, aku akan menemaninya"

"Umma..." gumam Yunho. Ia kaget dan sekaligus tak percaya

Mrs. Jung tersenyum, "Umma tidak akan memarahinya, tenang saja" Mrs. Jung mencoba bercanda. Ia sangat tahu apa yang ada di benak Yunho.

Yunho mengangguk kecil dan tersenyum, "Gomawo umma"

Mrs. Jung kemudian keluar ruangan, ia mencoba menoleh ke kanan dan ke kiri tapi ia tak menemui Jaejoong. Mrs. Jung kemudian bertanya kepada petugas jaga yang berada tak jauh dari kamar rawat Mr. Jung dan ia mencoba mencari.

.

.

.

Jaejoong duduk di sudut taman rumah sakit, tak jauh dari gedung tempat Mr. Jung dirawat. Matanya menatap langit malam yang sedikit mendung, "Kau sangat mengerti perasaanku" gumam Jaejoong menatap langit sambil tersenyum miris.

Jaejoong memainkan kakinya di tanah, kepalanya menunduk dengan tangan kanan dan kiri menumpu di kursi. Berulangkali ia menghembuskan nafas beratnya, pikirannya cukup sesak.

Pertemuannya dengan Yunho memanglah sangat singkat, tapi perasaannya kepada Yunho tak sesingkat itu.

Proses pacaran merekapun bisa dibilang sangat sederhana, tapi perasaannya kepada Yunho tak sesederhana itu.

Jaejoong mencintai Yunho, ingin memiliki dan ingin menghabiskan sisa hidup bersama dengan Yunho.

Tapi bisakah itu terwujud jika dengan kondisi seperti sekarang ini?

Lalu,

Haruskah Jaejoong menyerah?

Haruskah Jaejoong melepaskan Yunho?

Sekali lagi Jaejoong menghembuskan nafas beratnya.

Jujur ia tak mau kehilangan Yunho tapi ia juga tak mau membuat keluarga orang yang ia sayang menjadi menderita seperti ini.

Jaejoong tak tahu lagi tindakan apa yang akan dia ambil.

"Jae"

Lamunan Jaejoong pecah ketika mendengar suara seseorang sedang memanggilnya.

Jaejoong sontak berdiri dan membungkuk hormat ketika mengetahui siapa yang memanggilnya. "Ahjumma"

Mrs. Jung tersenyum dan menepuk bahu Jaejoong yang masih menunduk hormat, "Duduklah..."

Perlahan Jaejoongpun duduk di sebelah Mrs. Jung.

Hening

Tak ada yang bersuara

Hembusan angin malam menerpa

Dingin

Jaejoong sedikit melirik ke arah Mrs. Jung yang memandang jauh kedepan, entah apa yang dipikirkannya.

Bukannya Jaejoong tak mau berbicara dengan Mrs. Jung, tapi pertemuan terakhir mereka kala itu membuatnya tak mampu berbicara apa-apa.

Mrs. Jung seolah mengerti kecanggungan Jaejoong, ia kemudian mencoba mengawali pembicaraan.

"Mianhe telah membuatmu repot Jae"

"Gwenchana ahjumma... Kami mengkhawatirkan kondisi Jung ahjussi" ucap Jaejoong sopan.

Mrs. Jung tersenyum, "Kau namja yang sangat baik"

Jaejoong tersenyum kecil mendengar pujian Mrs. Jung.

"Kalian di Seoul tinggal bersama?"

DEG

Pertanyaan macam apa ini? Bagaimana ia harus menjawab.

Mrs. Jung tersenyum kecil melihat ekspresi kaget Jaejoong. "Apa pertanyaanku membuatmu takut?"

"Ah.. anniyo ahjumma.. hanya saja... mmm..." Jaejoong mendadak sulit menjawab

GREEPP

Tangan Mrs. Jung memegang tangan Jaejoong, Jaejoong sempat terkejut namun ia menjadi sedikit tenang ketika melihat wajah Mrs. Jung yang tersenyum. "Aku hanya ingin lebih mengenalmu, aku ingin mengerti kalian" ucap Mrs. Jung tenang.

Perlahan Jaejoong mengangguk kecil.

"Kalian tinggal bersama di Seoul?" Mrs. Jung mengulangi pertanyaannya

Jaejoong mengangguk, "Kami tinggal bersama beberapa hari belakangan."

"apa semenjak malam itu?"

Jaejoong sekali lagi mengangguk, "Yunho sering melupakan makan dan kurang mempedulikan diri jadi aku rasa dengan tinggal bersama akan lebih mudah bagiku untuk memantaunya. Yunho sangat mudah sakit, terutama lambungnya jadi... Ah mianhe.. aku terlalu banyak bercerita" Jaejoong mendadak terdiam ketika ia tersadar telah berbicara banyak hal.

Mrs. Jung tersenyum, "Kau benar-benar perhatian kepadanya. Apa kalian sudah lama saling kenal?"

Jaejoong menggeleng, "Hanya beberapa bulan yang lalu, ahjumma"

Mrs. Jung sempat kaget dengan ucapan Jaejoong. Yunho dan Jaejoong baru kenal tapi sudah mampu membuat Yunho bersikap seperti itu? Benar-benar Mrs. Jung tak bisa menutupi kekagetannya.

"Baru mengenal beberapa bulan tapi kau sepertinya sudah sangat mengerti Yunho. Apa putraku begitu menarik perhatianmu?"

"Ahjumma"

Mrs. Jung tersenyum, "Kau pasti orang istimewa, Jae"

Jaejoong diam, tak tahu harus berkomentar apa.

"Kau tahu, beberapa tahun yang lalu, aku sempat meminta Yunho segera menikah tapi tahukah apa yang ia katakan kepadaku saat itu?"

Jaejoong diam, menunggu Mrs. Jung melanjutkan kalimatnya.

"Dia mengatakan kepadaku bahwa masih belum ada seseorang yang bisa menggetarkan hatinya. Dia bahkan sempat berjanji bahwa akan membawa pulang calonnya nanti." Mrs. Jung tersenyum mengingat percakapannya dengan Yunho beberapa waktu yang lalu.

Jaejoong masih diam, tak bisa dipungkiri jika perasaan Jaejoong tak tenang sekarang. Ia takut jika Mr. Jung memintanya untuk menjauhi Yunho. jujur, ia sangat takut.

"Selama ini dia tak pernah membawa pulang seseorang, bahkan teman pria sekalipun. Kaulah yang pertama"

DEG

Apa mungkin karena ini Mr. Jung menjaga jarak dengannya waktu itu? Apa Mr. Jung sudah memiliki firasat bahkan sebelum Yunho mengakui hubungan mereka? Benarkah? Berbagai pertanyaan muncul dibenak Jaejoong.

"Tak aku sangka ia memenuhi janjinya, membawa pilihannya pulang kerumah dan memperkenalkannya kepada kami"

"Ahjumma" gumam Jaejoong, entah mengapa ia merasa tak enak hati.

Mrs. Jung tersenyum melihat ekspresi Jaejoong. "Beberapa hari ini ayah Yunho selalu membicarakan masalah kalian." Mrs. Jung memberi jeda. "Dia sebenarnya orang baik, namun sedikit keras kepala... dia tak menghiraukan kondisinya sendiri hingga jatuh sakit seperti ini"

Jaejoong menunduk mendengarkan penjelasan Mrs. Jung. Jujur, ia merasa bersalah, "Mianhe ahjumma" lirih Jaejoong

Mr. Jung tersenyum, "Tak perlu meminta maaf seperti itu.. kau tidak bersalah Jae..."

Jaejoong terdiam

"Apa kau sangat mencintai putraku?"

DEG

Jaejoong menoleh, menatap Mrs. Jung yang juga sedang menatapnya.

Jaejoongpun mengangguk pelan.

Mrs. Jung tersenyum, "Begitu juga kami.. kami sangat mencintainya"

Jaejoong tak mampu mengucapkan kata apapun. Apa maksudnya ini? Apa berarti ini tanda baginya untuk segera meninggalkan Yunho?

"Jja.. kita masuk, malam sudah semakin dingin" ajak Mrs. Jung

Jaejoongpun mengikuti Mrs. Jung yang mulai berjalan ke dalam.

.

.

Pintu kamar perawatanpun terbuka, nampak Yoochun sedang duduk di sofa dan Yunho yang tertidur di sampingnya. Yoochun berdiri dan menghampiri Jaejoong.

GREPP

"Hai hyung" Yoochun memeluk Jaejoong sekilas

Jaejoong tersenyum, "Hai Yoochuna... kau baru datang?"

Yoochun mengangguk, "Sekitar 30 menit yang lalu dan aku melihat Yunho hyung yang sudah tertidur"

Jaejoong tersenyum, "Mungkin ia sedikit kecapekan... kemarin ia pulang larut malam dan tadi harus mengemudi selama berjam-jam tanpa mau diganti sama sekali"

Mrs. Jung membiarkan Jaejoong dan Yoochun berbincang, ia kemudian mendekati Mr. Jung, membenahi selimutnya dan memandang lekat wajah suaminya. Mrs. Jung tak bersuara sama sekali tapi entah kenapa tatapan matanya menceritakan banyak hal kepada Mr. Jung.

Sekilas Jaejoong melihat Mrs. Jung. Sungguh ia merasa dilema sekarang.

.

.

.

Jaejoong terbangun, ia memandang ke arah sekitar dan melihat Mrs. Jung, Yoochun dan Yunho yang masih tidur. Nampak gurat lelah pada wajah ketiga orang yang disayanginya itu, dan mungkin wajahnyapun juga menunjukkan hal yang sama. Lampu yang temaram membuat suasana sedikit gelap, hanya beberapa lampu meja yang menyala.

Jaejoong kemudian melirik jam mewahnya, pukul 3 dini hari. Ia berdiri, merenggangkan tubuhnya dan sesekali menguap. Matanya menangkap sesosok namja paruh baya yang terbaring lemah di atas tempat tidur pasien, dengan perlahan Jaejoong memberanikan diri berjalan mendekati namja itu.

Ya, Jaejoong berjalan mendekati Mr. Jung yang sedang tertidur pulas.

Mata Jaejoong memandang Mr. Jung sedih. "Ahjussi..." gumam Jaejoong, "Ah.. anni... aku sangat ingin memanggilmu appa... bolehkah?" Jaejoong menggigit bibir bawahnya sambil memandang Mr. Jung.

Hanya nafas teratur dari Mr. Jung yang terdengar, Jaejoong kemudian duduk di kursi dekat Mr. Jung. Matanya terus memandang Mr. Jung teduh.

"Mianhe... jika aku membuat appa seperti ini. Apa benar-benar tidak mungkin bagiku untuk bersamanya? Aku mencintainya.. aku mencintai putra appa. sangat mencintainya..." Jaejoong mulai bermonolog dengan suara lemah. Ia tak ingin membuat bangun semuanya.

"Appa sempat mengatakan bahwa ini bukan cinta, lalu menurut appa perasaan apa yang aku rasakan ini? Aku ingin memilikinya, aku ingin bersamanya, berbagi suka dan duka, aku ingin meringankan bebannya, menghabiskan sisa umurku dengannya? Aku bahkan mampu memberikan apapun untuknya. Jantungku berdetak keras ketika didekatnya. Jika perasaan ini tidak bisa disebut cinta, lalu perasaan apa yang aku rasakan ini, appa?" lanjut Jaejoong kemudian ia menghembuskan nafas beratnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia meluapkan segala kalimat yang pasti tak mampu dia ucapkan kepada Mr. Jung ketika bangun nanti.

"Tapi melihatnya bersedih, membuatku ikut bersedih. Melihat Yoochun dan ahjumma Jung bersedih juga membuatku sedih. Melihat appa seperti ini, membuatku sangat sedih. Aku ingin bersamanya, sangat ingin.. tapi... aku tak ingin menyakiti kalian semua... orang yang sangat aku cintai. Tak bisakah bagi kami untuk bersama tapi tak membuat kalian sedih seperti ini? Tak bisakah kami bersama dan kalian bahagia?" Jaejoong menunduk, air matanya menetes tanpa ia minta. Cukup lama jaejoong menunduk, hingga ia mampu mengendalikan diri dan kemudian meninggalkan ruangan. Sungguh sangat sesak hatinya sekarang.

Setelah pintu ruangan tertutup, Mr. Jung membuka matanya. Ia menatap langit-langit ruangan, nampak sedang merenungkan sesuatu.

.

.

Pagi menjelang, Yunho membuka matanya, sedikit mengerjap untuk menyesuikan dengan cahaya sekitar. Ia menoleh ke kanan dan kiri, ia menemukan Yoochun dan Mrs. Jung masih tidur namun ia tak menemukan Jaejoong.

Yunho melirik jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 5 pagi.

Yunho berdiri, merenggangkan tubuhnya kemudian mendekati Mr. Jung. Tangan Yunho memegang tangan Mr. Jung. Lama Yunho menatap Mr. Jung, seolah banyak kata yang terucapdalam tatapan itu.

10 menit berlalu dalam diam

"Appa..." Yunho menggumam namun ia kembali terdiam. Ia menghembuskan nafas beratnya, bagai pertarungan batin yang mendera Yunho untuk mengatakan kalimat yang ada dipikirannya atau tidak.

"Appa, sungguh aku mencintainya tapi aku ingin membuat appa bahagia. Tak bisakah itu terwujud appa?" Akhirnya Yunho mampu mengutarakan kalimat yang sedari tadi memenuhi pikirannya. Kalimat yang hampir sama dengan kata yang diucapkan Jaejoong tadi.

Tak lama setelah itu, Yunho keluar ruangan.

Setelah hampir 15 menit berjalan mengelilingi rumah sakit, Yunho tak menemukan dimana Jaejoong berada. Ia kemudian mengambil ponselnya dan segera menghubungi Jaejoong.

KLIK

"Jae... kau dimana?" kata pertama terucap setelah telpon diangkat. Nada bicaranya terdengar panik.

Terdengar tawa kecil diseberang telpon, "Kau mencariku?"

"Tentu saja, katakan dimana kau sekarang Jae"

Jaejoong diam

"Jae"

"mmm... Yunhoya... mianhe, aku pulang..."

"MWO?"

"itu... mmmm... aku ada rapat siang nanti... aku ...mmm... harus mempersiapkan berkas-berkas dulu."

Hening

"Yun.."

"mmm?"

"Mungkin akan lebih baik jika tidak disana dulu"

DEG

"Apa maksudmu Jae, jangan kau bilang kalau.."

"Anni" Jaejoong segera menyergah kalimat Yunho yang belum selesai. "Apapun hal negatif yang kau pikirkan itu bukan hal yang benar." Lanjut Jaejoong

Nampak Yunho bernafas lega

"Lalu kenapa kau mengatakan kalimat tadi?"

"Aku hanya tak ingin kehadiranku akan memperburuk keadaan appa."

"Jae"

Jaejoong tersenyum, "Tak perlu khawatir, aku disini baik-baik saja. Fokuslah mengurusi appa, aku akan menyampaikan ijinmu kepada Changmin" ucap Jaejoong tenang

Yunho merasa sangat lega mendengar ucapan Jaejoong, ia sangat beruntung memiliki kekasih seperti Jaejoong. Benar-benar beruntung.

Hening

Sambungan belum terputus namun keduanya tak ada yang berbicara

"mmm.. Yun..."

"jae... kau tahu jika aku sangat mencintaimu?"

Jaejoong tertawa kecil, "Arra... aku sangat tahu itu Yun"

Yunho tersenyum, "Saranghae" ucapnya tulus

"Nado.."

Hening kembali

"Jja.. aku harus segera bersiap-siap Yun.. sampaikan salamku kepada umma, Yoochun dan... appa" ucap Jaejoong sediit ragu di kata terakhir

"Ne" Yunho mengangguk yakin dan sambungan teleponpun terputus. Yunho memandang wallpaper ponselnya dan tersenyum, "Gomawo sudah bersamaku" ucapnya dan tak lama setelah itu Yunho memutuskan untuk kembali ke kamar perawatan Mr. Jung.

.

.

2 minggu berlalu

Mr. Jung sudah diperbolehkan pulang. Yoochun dan Mrs. Jung sudah bersiap membereskan barang-barang untuk dibawa pulang.

Yunho segera menuju ruang administrasi untuk menyelesaikan segala pembiayaan. Namun Yunho begitu terkejut ketika mengetahui bahwa pembayaran rumah sakit telah lunas.

Yunho bergegas menemui Yoochun, ia menarik lengan Yoochun menjauhi ummanya untuk meminta penjelasan.

"Wae hyung?" tanya Yoochun yang terlihat bingung

"Kau melunasi pembiayaan appa?"

"Apa menurutmu aku punya biaya sebanyak itu?" Yoochun balik bertanya. Memang biaya rumah sakit Mr. Jung selama 2 minggu lumayan banyak, maklum saja perawatan dengan ruang VIP dan perlakuan khusus membutuhkan biaya yang tak sedikit. Yunho bahkan hendak menguras tabungannya selama ia bekerja tapi ternyata semua sudah lunas, tentu membuat Yunho bingung.

"Jaejoong" gumam Yunho kemudian segera mengeluarkan ponselnya

KLIK

"Yeobseyo"

"Jae"

"Wae Yun?"

"Gomawo"

"untuk?"

"Aku tahu hanya kau yang mungkin melakukannya"

"melakukan apa?"

"kau pasti tahu jawabannya"

Hening

Lama keduanya terdiam

"Aku hanya ingin berbakti kepada orangtuaku Yun..." gumam Jaejoong lemah

Yunho diam

"Kau tahu sendiri bahwa aku sudah tak memiliki appa, ketika appa sakit waktu itu, aku bahkan tak mampu berbuat apapun untuknya. Melihat app.. ah maksudku ahjussi Jung sakit, membuatku teringat appa... aku ingin memberikan yang terbaik untuknya. Aku menyayanginya seperti aku menyayangi appaku sendiri"

DEG

Satu lagi hal yang membuat Yunho semakin jatuh cinta kepada Jaejoong. Sungguh, Yunho selalu bersyukur karena telah memiliki Jaejoong. Rasa syukurnya semakin hari semakin bertambah. 'Tuhan... ijinkan kami bersama' doa Yunho dalam hati dengan tulus.

"Yun..."

"mmm?"

"Jangan katakan kepada appa kalau aku melakukannya"

"Wae?"

"Aku tidak mau appa menjadi tak enak hati" ucap Jaejoong lirih.

"Jae"

Hening

"Aku akan kembali secepatnya"

Jaejoong tersenyum, "rawatlah appa terlebih dulu, kesehatannya lebih penting Yun"

"Aku merindukanmu" ucap Yunho jujur

"Aku tidak"

"JOONGIE..."

Jaejoong terkikik, "Aku tidak merindukanmu tapi aku SANGAT merindukanmu. Jadi rawatlah appa dengan baik dan segera kembali ke sini.. aku menunggumu" goda Jaejoong dengan berbisik di kalimat terakhir.

Yunho tersenyum, "Kau semakin pintar menggoda"

"Jja Yun.. aku harus ke tempat Changmin dulu .. aku akan menelponmu nanti"

"mmm" Yunho mengangguk seolah Jaejoong melihatnya, "Sampaikan salamku pada bocah bermulut ember itu" ucap Yunho kemudian tertawa

Tak lama kemudian Yunho menutup teleponnya. Yoochun melihat semua percakapan Yunho dan Jaejoong, dia menyadari satu hal. Selama 2 minggu ini, Yoochun jarang melihat Yunho tersenyum, bahkan tertawa seperti itu. Namun, Yunho terlihat sangat mudah tertawa ketika berhadapan dengan Jaejoong. Semua itu membuat Yoochun memahami bahwa hanya Jaejoonglah yang mampu membahagiakan Yunho.

.

.

.

3 bulan berlalu dengan cepat

Yunho sama sekali belum pernah kembali ke Seoul, sejujurnya ia sangat ingin karena ia sangat merindukan Jaejoong. Tapi Jaejoong selalu menahannya untuk kembali, setidaknya hingga keadaan appanya stabil.

Setiap hari Yunho mencoba dekat dengan Mr. Jung karena tak bisa dipungkiri semenjak kejadian malam itu Mr. Jung nampak tak banyak bicara dengan Yunho. Mungkin ia masih marah kepadanya, Yunho selalu berpikir demikian sehingga ia mencoba bersikap baik selama ini. Yunho ingin menunjukkan kepada appanya jika kehadiran Jaejoong bukanlah sesuatu yang buruk bagi kehidupannya.

Bukan hanya itu, Yunho juga harus berhati-hati dalam segala ucapan dan tindakannya, jika tidak sakit jantung yang diderita appanya bisa kambuh sewaktu-waktu. Ia bahkan bersedia tak menghubungi Jaejoong sama sekali hanya untuk membuktikan kepada appanya bahwa Jaejoong tidak memberikan pengaruh buruk bagi dirinya.

Namun Yunho tetap bertekat, seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat appanya menyetujui hubungannya dengan Jaejoong, selama itu pula Yunho akan bertahan. Yunho benar-benar mencintai Jaejoong dan tak ingin kehilangannya.

Yunho memandang ke arah jendela kamarnya, malam akan segera menjelang.. terlihat dari mega merah yang sudah hendak menghilang. Semua ingatannya yang sedang bercakap dengan Siwon waktu itu terngiang. Yunhopun tersenyum miris, "Sekarang aku tahu bagaimana perasaanmu waktu itu" gumam Yunho.

Jika diingat, kondisi Yunho dan Siwon waktu itu sangatlah mirip. Siwon dipaksa memilih antara Jaejoong dan keluarganya dan sekarang iapun berada di posisi yang sama. Dan haruskah ia melakukan hal yang Siwon lakukan saat itu? Haruskah ia merasakan penyesalan yang sama?

"Yun..." Panggil Mrs. Jung diambang pintu kamar Yunho

Yunho menoleh, "Ne umma"

"Appa mencarimu"

"Ne,," Yunho beranjak setelah sebelumnya ia telah menutup jendela kamarnya.

.

.

.

"Appa akan memperkenalkanmu dengan putri teman appa"

"Appa" Yunho tak bisa menutupi keterkejutannya

Yoochun dan Mrs. Jung hanya diam, mereka tak mampu menginterupsi apapun yang Mr. Jung katakan, sungguh mereka dalam posisi sulit sekarang.

"Dia putri yang baik, dia juga lulusan Amerika, namanya Boa... dia pintar, cantik dan pandai memasak.. cobalah bertemu dengannya, maka kau akan tahu bahwa semua ucapanku benar" Mr. Jung menjelaskan. Bukannya ia tak tahu wajah kaget Yunho, tapi ia berusaha mengabaikannya.

"Aku sudah menyusun pertemuanmu dengannya besok siang" lanjut Mr. Jung

"appa, aku..."

"Kembalilah.. aku akan istirahat" ucap Mr. Jung memotong pembicaraan Yunho.

Yunho tak diberi kesempatan untuk berbicara sama sekali.

Mr. Jung sudah mulai merebahkan dirinya di tempat tidur dan Yunhopun kemudian keluar. Wajah sendu tergambar jelas di wajahnya sekarang. Yunho memasuki kamar dengan mata berkaca-kaca. Ia harus menahan air mata ini, ia tak bisa menunjukkan duka didepan Yoochun dan ummanya.

"Jae.. aku membutuhkanmu" gumam Yunho sebelum air matanya menetes untuk pertama kalinya.

Yunho menunduk dan menangis dalam diam. Sesulit inikah bagi dirinya dan Jaejoong untuk bersama?

.

.

.

Tbc

.

.

.


Akhirnya maxy bisa update FFF... #peluk readers... ^_^

Sesuai dengan judulnya FALL-FEEL-FALLEN, Pengennya sih humornya berasa, romancenya berasa, sedihnya juga berasa... hehehhe

tapi...

Entahlah... maxy selalu seperti ini.. tak sanggup membikin masalah yang pelik... so... beginilah jadinya... mungkin humor n romance sudah (?) tapi kalo sedihnya.. mmmm... maxy masih butuh banyak belajar... mian #bow

Mainhe jika mengecewakan.. mianhe jika efek sedihnya kurang... maxy masih dalam tahap belajar jadi kritik dan saran diterima dengan tangan terbuka... :)

Maxy ingin tahu pendapat teman-teman mengenai chapter ini... tolong berikan saran melalui kotak review ya... maxy butuh masukan supaya bisa lebih baik lagi... #bow ^_^

Dan yang terpenting, jangan panik.. jangan gusar, jangan galau.. badai pasti berlalu teman-teman... hehehe... bagi yang sudah baca karya-karya maxy yang lain ataupun sudah baca bio maxy pasti tahulah.. kemana arah cerita ini berakhir... #wink...

Next part sudah selesai... rencananya akan maxy update dalam minggu ini.. setujukah?

So,

Buruan review ne... biar maxy juga cepet update.. xixixixii.. :)