Frozen chap 4...
Sesuai janjiku, chap ini ada nc nya. Nc mungkin jauh dari kata bagus atau sempurna, semoga suka. :)
Happy reading :)
-Jika mencintaimu adalah sebuah kesalahan maka kau adalah kesalahan yang terindah dalam hidupku.- Jung Yunho
*Note all YUNHO POV
Chap sebelumnya...
'Kita lihat saja jae, apa kau akan mampu menghadapi napsuku yang besar' Kataku dalam hati
"Mwo?! Kau pasti merencanakan sesuatu" Pekik junsu kaget
"Anni su-su aku tidak merencanakan apapun" Jawabku pelan
"Haduh... Haduh... Eomma pusing... Sebaiknya eomma pulang... Dan kau KIM JAEJOONG-SSHI ku harap kau menepati janjimu untuk mempertemukanku dengan si keparat itu" Jawab eomma jutek perlahan eomma keluar dari ruanganku sambil memijit kening kepalanya.
Jae pun hanya menganggukkan kepala sambil memperhatikan eommaku.
"Nah chun, kerjaanku untuk hari ini sudah bereskan?" Tanyaku penasaran
"Sudah tidak ada yun, semua sudah beres... Waee?" Ucap yoochun penasaran
"Aku mau melakukan 'tugas'ku yang lain dulu kalau begitu..." Jawabku sambil menujukkan smirk
Yoochun dan junsu pun menatapku dengan tatapan apa-yang-kau-rencanakan-yunho
"Kalau begitu aku pamit, ayoo jaee" Jawabku sambil menarik tangan jae erat
.
.
"Uhhh yun appo... Kenapa kau menarik tanganku?" Ucap jae sambil kesakitan
"Aku takut kau akan kabur... Lagipula kau tentu tahu aku bukan orang yang suka lambat" Ucapku dingin
"Haishhh... Aku tidak akan kabur, aku janji... Lagipula kita akan kemana?" Tanyanya penasaran
"Apartemenku.. Wae? Kau takut?" Ucapku sambil menunjukkan smirk
"Anni... Aku tidak takut..." Jawabnya pelan
Tak lama kemudian mobil yang membawaku tiba. Segeralah aku mendorongnya masuk kedalam mobil.
"Uhhh yun.. Pelan-pelan..." Ucapnya sambil menahan sakit akibat aku mendorongnya agak keras
"Diamlah... Dan kita lihat apa kau mampu untuk menahannya?" Ucapku sambil menyeringai
Lalu jae hanya menatapku seperti 'mati aku'
Sepanjang perjalanan kulihat jae sedang telepon seseorang, ayahnya mungkin. Tidak ingin menganggunya, segeralah aku memandang kearah luar jendela. Seketika keheningan melanda didalam mobil.
"Yun... Besok kita bertemu dengan ayahku. Aku sudah membuat janji dengannya" Ucap jae memecahkan keheningan setelah menelepon seseorang. Aku pun hanya menoleh dan menganggukkan kepala seraya memberitahu ummaku tentang hal tersebut.
.
.
.
Begitu tiba diapartemenku, jae hanya memandang kagum. Bagaimana dia tidak kagum, apartemenku meskipun sederhana tapi terlihat elegan, mewah dan perabotannya pun dapat dikatakan perabotan mewah karena memiliki kualitas yang bagus.
"Ini apartemenmu yun?" Tanyanya kagum
"Yaa... Kenapa? Kau tidak percaya bahwa seseorang yang sudah kau tolak itu punya apartemen serapi dan sebagus ini?" Tanyaku dingin
"Anni, apartemen ini indah sekali" Jawabnya kagum
Perlahan-lahan aku mendorong jae masuk kamarku.
"Nah jae, sebelum kita membicarakan proposalmu yang tidak bermutu itu, aku ingin kau melakukan sesuatu" Ucapku dingin
"Apa yun? Katakanlah" Ucapnya pelan
"Buka bajumu, sekarang" Ucapku dingin
"Mwo?! Waee?!" Tanyanya kaget
"Sudah cepat buka, atau kau mau kubatalkan kerja sama ini?" Tanyaku dingin
"Aishh... Arra.. Arra aku buka..." Jawabnya pasrah
"Bukalah secara perlahan" Ucapku dingin
Segeralah aku duduk diatas ranjang mengambil posisi yang membuatku nyaman sedangkan jae berdiri didepan ranjang sambil secara perlahan membuka bajunya.
Perlahan-lahan jae menanggalkan bajunya, menanggalkan celana hingga celana dalamnya. Aku pun menyaksikan acara buka-bukaan jae hanya mampu menelan ludahku.
Gulppp
'Kau menggoda sekali jae' Kataku dalam hati. Bagaimana tidak menggoda, bibir merah itu tampak mempesonaku. Leher dan bahu itu mulus tanpa noda seakan-akan memintaku untuk segera menandai bahwa jae adalah milikku. Dadanya dan kedua nipplenya yang agak busung itu seakan-akan menggodaku untuk segera menyusu kepadanya. Junior jae yang 'layu' karena belum kuberi rangsangan seakan-akan menggodaku untuk segera memasukki holenya.
Segeralah aku mendekatkan diriku kepadanya dan mencium bibirnya ganas, lumat dan menuntut. Bisa kurasakan bahwa bibirnya yang manis itu ikut dalam acara lumatanku.
Tak lama kemudian aku pun melepaskan ciumanku, karena kurasa dia membutuhkan oksigen.
"Nghhhhh yunnnn" Desahnya lembut saat tangan kiriku mulai meraba nipplenya sedangkan tangan kananku menggengam juniornya. Perlahan-lahan ciumanku turun dari bibirnya menuju leher dan bahunya. Membuat tanda-tanda merah keungu-unguan, menyatakan tanda kepemilikkanku.
"Yunnnnnnn... Ahhhhhh... Nghhhhhh" Desahnya lagi saat bibirku mulai bekerja membuat tanda, dan kedua tanganku saat mengerjai nipple dan juniornya.
"Jeballllll ahhh... Jangan menggoodaaakkkuu akhhhhhh" Desahnya lagi saat aku hanya mengelus-elus juniornya dan mengocoknya pelan.
Tak lama tubuh jae melemah. Bagaimana tidak lemah, aku menghajar titik-titik sensitif ditubuhnya dengan amat ganas. Dengan sigap segeralah aku mendekap tubuhnya.
"Kita keranjang, aku belum puas mengerjai tubuhmu" Ucapku lembut sambil menjilat telinganya
"Lakukannnnnn yunnnn nghhhhhh... Llakukaaaaannnnn apaaaaapunnnn nghhhh yanggggg kauuuu inginnnnnn kannnnnn... Ahhhhh" Desahnya lembut sekaligus pasrah
Bibirku kini tengah sibuk mengecup, menggigit leher dan bahunya untuk membuat tanda kepemilikkan, tanganku yang kiri terus mengerjai nipple jae sedangkan tanganku yang kanan mengelus-elus junior jae.
"Nghhhhhh yun... Yunniiieeeee ahhhhh..." Desahnya nikmat saat bibirku perlahan mengemut nipple kiri jae.
Mendengar desahannya seperti itu membuatku makin gencar mengemut nipplenya.
"Kauuuuu curangggg yunnnieeee ahhhhh bajumuuuuu masiiiii lengkappp ahhhhhh terussss yunn terusssss" Desahnya pasrah saat aku mengemut nipple jae sambil tangan kananku mengocok juniornya jae. Junior yang tadinya 'layu' kini tampak 'bangun'.
Aku yang masi asyikkk dengan mengemut nipple jae yang menggoda itu tanpa sadar justru jae malah membusungkan dadanya, agar mendekat kearah bibirku...
"Uhhhh yunnnn akuuuu tidakkkkk tahannnn ahhhhh" Desahnya
Entah mengapa mendengar desahannya malah memicu semangatku untuk mengerjainya.
"Kau tidak tahan mau apa?" Tanyaku sambil mengecup kedua nipplenya
"Akuuuuuu mauuuuuu keluarrrrrr... Yunnnnnnniiiiiiieeeee" Desahnya sambil mengambil nafas secara perlahan
Crottt
Keluarlah sperma jaee yang mengotori tanganku, segeralah aku mendekatkan jariku kepada mulutnya, perlahan jae mengemut-emut jariku seakan-akan tengah mengemut juniorku. Juniornya yang tadinya 'layu' sehabis klimaks perlahan 'bangkit'.
Melihat hal itu aku langsung meraup juniornya jae, mengemut dan menggitnya lembut.
"Yunnnnnnn... ahhh~ terussssss yunnn terusssss..." Desahnya nikmat.
Mendengar desahannya itu malah membangkitkan hasratku.
"Yunnnnn... Terusssss yunnn... Fassssssterrrrr ahhhhhhh~ uhhhhhhhh" Desahnya nikmat lagi saat aku masih mengemut juniornya, tangan kiriku memainkan twinsballnya sedangkan tangan kananku meremas dadanya sambil sesekali aku mencubit nipplenya
"Yunnnnnnn aku... Mau keluarrrrrr arghhhhhhhhh" Desahnya nikmat saat spermanya jae keluar lagi untuk kedua kalinya. Jae pun segera mengambil nafas secara perlahan.
"Kau curang kau masi berpakaian lengkap sedangkan aku sudah dua kali keluar" Ucapnya sambil cemberut
Aku pun menatapnya lembut
"Bukakan bajuku jae. Lakukan apa yang ingin kau lakukan" Bisikku lembut sambil mengecup telinganya
Segeralah aku mendudukkan jae diatas perutku. Kini jae berada diatasku. Tangan nakalnya kini meraih jasku mencoba membuka kancingnya. Saat kedua tangannya bekerja membuka bajuku, jae mengecup bibirku ganas. Ciuman yang menuntut, meskipun aku belum pernah berciuman namun aku tidak kewalahan. Justru kini tampak aku tengah mengabsen giginya jae.
Tangannya yang bekerja tadi, sudah berhasil membuka jas, kemeja, dan celanaku. Melihat aku kini tinggal celana dalam, jae pun menatap kagum pada tubuhku.
"Tubuhmu indah sekali. " Ucapnya kagum
"Kau bahkan belum melihat 'mainanmu' sayang" Bisikku lembut. Jae yang seolah terangsang langsung mengecup rahang, leher dan bahuku sambil membuat tanda aku adalah miliknya.
Dengan sengaja jae menggosokkan juniornya pada juniorku hingga menimbulkan desahan nikmat dari aku ataupun jae.
'Damn it! Baru digosokkan dengan juniornya saja sudah nikmat apalagi dengan holenya' Kataku dalam hati
Tangan nakalnya kini tengah berusaha membuka celana dalamku. Kini jae pun langsung melumat bibirku ganas seolah tidak ada hari esok.
"Uhhhhhhh... Yun... Aku ingin posisi 69... Ahhhhhh~" Desahnya nikmat saat dia menggosokkan juniornya kepada juniorku
"Lakukannnnnnnghhh" Desahku nikmat
Segeralah jae membalikkan badannya. Kini dihadapanku tampaklah junior serta pink hole yang menggodaku, aku pun mengerakkan tanganku menuju holenya.
Jae seakan tersadar akan gerakkanku malah membantuku dia secara perlahan membantu memasukkan tanganku kedalam holenya.
"Uhhhhh yunnnn~" Desisnya sakit
Aku hanya memandang holenya dengan tatapan nikmat
'Damn it! Baru jariku saja holenya sudah senikmat ini apalagi kalau juniorku yang masuk' Kataku dalam hati
Jae yang mencoba untuk mengusir rasa sakitnya, langsung mengemut juniorku. Dia langsung memasukkan juniorku yang besar itu kedalam mulutnya yang mungil. Aku yang terbuai dengan dengan hal itu, malah mengeluar-masukkan tanganku dengan kasar dan cepat. Jae yang sudah tidak tahan langsung melepas emutannya pada juniorku dan malah mendesah.
"Terussss yunnnn... Jangannnnn berentiiiii ahhhhhh~~~" Desahnya nikmat
Segeralah aku mengeluarkan jariku dari holenya. Perlahan aku membalikkan tubuh jae dan memangkunya seperti yang tadi.
Aku pun mengecup sambil menjilat telinganya. Tanpa aku sadari, justru jae langsung mengarahkan holenya agar segera dimasukkan juniorku. Segeralah aku memasukkan juniorku kedalam holenya.
"Yunnnnnnn nghhhhhhh pelannnnnn-pelannnnnnn... Ahhhhhh~" Desahnya sambil menahan sakit
"Nikmati sayang rasa sakitnya" Ucapku sambil mengecup telinganya.
Jlebbbbb
"Ahhhhhhh" Desahku nikmat bersamaan dengan erangan jae.
"Arghhhhhh" Erangan jae nikmat
Segeralah jae menggerakkan pinggulnya agar naik turun. Posisi ini seperti uke on the top. Ku biarkan saja jae yang mimpiin permainan kami.
"Yunnnnieeeeeeeee ahhhhh~~~ fassssssterrrrr" Desahnya nikmat saat aku membantunya menarik-ulurkan juniorku pada holenya agar tercipta gerakkan yang selaras
"Jaeeee... Nghhhhhh nikmattt ahhh~" Desahku nikmat
"Yunniiiieeeee nghhhhhhhhhhh... Ahhhhhhhhhhh... Deeeeeppeeeerrrr ahhhhh" Desah jae nikmat
Melihat dada jae yang menganggur, segeralah aku mengemut nipplenya jae.
"Yunnnnnnnn... Aku mauuuuu doggy stylleeeee... Ahhhhhhh... Uhhhhhhh... Arghhhh... Terussss... Yunniiiieeee... Jangannnnnnnnn berentiiiii... Jangannnnnn" Desah jae nikmat
Menuruti permintaan jae, segeralah aku membalikkan keadaan. Tanpa melepaskan tautan diantara kami, segeralah aku membalik badannya... Jae pun mencoba meredam desahannya sambil menenggelamkan kepalanya ke bantal.
Melihat punggung jae yang mulus, aku pun segera mengecupnya tanpa menghentikan hujamanku pada holenya. Hujaman yang kasar, liar, dan ganas.
"Mendesahlah jae... Akuuu tahuuuuu kau tidak tahannnnnn" Desahku sambil membisikkan lembut ditelinganya.
"Yunnnieeeeeee... Argghhhhh yunnnieeeeee... Deeperrrrrr yuunnnnieeeeee... Fasterrrrrr" Desahnya nikmat saat aku menghujam holenya dengan kasar, ganas. Entah mengapa setiap aku menghentakkan juniorku kepada holenya, langsung mengenai titik prostatnya.
"Yunnniiieeeee akuuu... Keluarrrrr ahhhh" Desahnya nikmat
"Aku belummmm jaeeee... Babyyyyy ahhhhh" Desahku nikmat
"Aku mau menatapmu yunnn arghhhh... Yunnnnn... Yunnnnnniiiiiiieeeeee... Ahhhhhhhh" Desahanya nikmat
Perlahan-lahan aku melepaskan tautannya diantara kami. Segeralah jae membalikkan badannya dan menatapku.
"Masukkan lagii yunn" Pinta jae
"As you wish..." Bisikku lembut
Segeralah aku memasukkan juniorku pada holenya dengan sekali hentakkan.
"Yunnnn arghhhhh..." Desahnya nikmat
Dapatlah aku melihat ekspresi nikmat dari jae, melihatnya seperti itu membuatku justru makin napsu.
"Aku tidak akan lembut jae. Nikmatilah" Ucapku lembut
Hujamanku pun pada holenya bergerak kasar, dan ganas.
"Terusssssss yunnnn iniiiii nikmatttt... Jangannnn lembutttt... Yuniiieeeeeeee arggghhhhhh... fasterrrrr yunnnn... Deeppeerrrrrrrr arghhhhh" Desahnya nikmat.
"Jaeeeeeee arghhhhhhhhh... Aku keluarrrrr..." Desahku nikmatt
Crottt
Spermaku merembes keluar dari holenya. Dapat kulihat holenya tidak mampu menampung spermaku.
Segeralah aku berbaring disampingnya, jae pun mengambil posisi didadaku.
"Yunnie jangan dikeluarkan yaaa... Aku suka saat 'dia' berada 'didalam'ku" Ucap jae lembut
"Kau suka?" Tanyaku kaget
"Sukaa... Lagipula 'dia' belum pernah bersarangkan 'ditempat'ku bukan?" Ucap jae lembut
"Memang... Kalau kau suka, kita bisa melakukan setiap hari kalau perlu" Jawabku pelan
"Benarkah? Boleh? Aku mau kalau begitu..." Ucapnya lembut
"Boleh koq... Apapun untukmu..." Jawabku lembut sambil mengecup kening jae
'Mungkin aku masih mencintaimu jae.. Sungguh.. Jangan kecewakan aku' Kataku dalam hati
"Yunniee..." Panggilnya lembut
"Apa? Hmmmm" Tanyaku lembut
"Kau tidak menggunakan kondom kan?" Ucapnya lembut
"Tidak, memang kenapa?" Tanyaku penasaran
"Baguslah, kuharap semoga jung junior segera lahir dan aku tidak sabar untuk menimangnya" Ucapnya lembut
"Apa maksudmu?" Tanyaku penasaran
"Kurasa kalau kita sering melakukannya. Aku akan hamil. Kalau aku hamil, berarti jung junior akan lahir. Apa kau bahagia?" Ucapnya penasaran
"Tentu saja... Aku bahagia... Ku harap itu menjadi kenyataan" Jawabku lembut
Jae pun langsung menautkan jari-jarinya kesela jari-jariku sambil tiduran didadaku. Dia tersenyum.
'Ternyata aku masi mencintaimu jae...' Kataku dalam hati sambil mengecup keningnya
Segeralah jae memelukku sambil memejamkan mata
.
.
Sesuai janjinya padaku dan eomma, dia pun mempertemukanku dengan appanya. Saat ini dia dan appanya tengah berada direstoran yang cukup ramai, mungkin disebabkan saat istirahat jam kantor.
"Permisi" Ucap eommaku sinis
Kukira ayahnya jae seperti ayahku yang berpenampilan rapi, dan seperti pria terhormat. Nyatanya ayah jae hanyalah seorang pria biasa dengan tampang yang cukup ramah dan bersahaja. Tidak terlihat dia seperti pria yang gemar tidur dengan wanita manapun.
'Jadi kau yang sudah membuangku, ahjussi' Kataku dalam hati
Suasana diam hening, tak lama setelah aku dan eomma datang.
"Eomma aku pergi saja. Banyak hal yang perlu kukerjakan bersama jae" Ucapku pelan
"Tidak ada seorang pun yang boleh pergi dari sini" Ucap eomma tegas dan marah
Baru kali ini kulihat eomma semarah ini, biasanya eomma tidak akan semarah ini sebesar apapun kesalahan yang kubuat.
"Jadi anda berdua mau bertemu denganku?" Tanyanya ramah
"Cih... Kau tidak usah sok ramah" Ucap eommaku marah
"Kau tidak perlu marah-marah seperti itu, ada masalah denganku?" Tanyanya masi ramah
"Kau ingat aku? Kurasa harusnya kau tahu kesalahanmu" Ucap eomma marah
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanyanya penasaran
"Kau lupa? Baiklah ku beritahu, aku adalah gadis yang kau tiduri lalu setelah itu kau tinggal pergi. Kau puas?" Ucap eommaku marah
"Maafkan aku, aku tidak sadar saat itu" Ucapnya lembut
"Cih, segampang itu kau ucapkan maaf? Kau tahu anakmu kini ada didepanmu" Ucap eommaku marah sambil menunjuk kearahku
"Eomma appaku hanyalah appa jung dan bukannya ahjussi ini" Ucapku pelan
Aku tahu kata-kataku mungkin melukainya.
"Kau... Anakku?" Tanyanya penasaran padaku
"Maaf tuan, sepertinya anda salah orang. Appaku adalah appa jung dan sampai kapanpun appaku tetap appa jung" Ucapku tegas
Eomma tahu, jika aku sudah berkata tegas maka tidak ada yang mampu membantahnya.
Keadaan pun mendadak hening, eomma menatapku dengan tatapan yang sulit kumengerti . Ayahnya jae menatapku dengan tatapan kaget sedangkan jae melihatku dengan tatapan ibanya.
Aku hanya menundukkan kepalaku, mencoba menguatkan diri bahwa aku bukanlah orang yang lemah dan aku harus kuat.
"Jika tidak ada yang mau dibicarakan lagi denganku dan yunnie, sebaiknya kami pergi dari sini" Ucap jae pelan memecahkan keheningan
Segeralah jae menarik tanganku untuk pergi dari sini.
Kami pun berjalan ke tengah hiruk pikuk kota seoul. Kota yang memiliki sejuta kenangan untukku. Kenangan pahit yang selalu menghantuiku dan kenangan manis yang sudah kulupakan.
"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya khawatir
"Kau tidak perlu khawatir denganku. Aku sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini." Ucapku dingin
"Bagaimana aku tidak khawatir, kau hanya diam sedari tadi." Ucapnya masi khawatir
"Sudah kubilang kau tidak perlu khawatir. Sia-sia kau khawatir denganku. Lagipula kau tidak perlu memakai topeng seperti itu, membuatku muak" Ucapku dingin.
Aku sengaja mengeluarkan kata-kata kasar seperti itu agar jae marah kepadaku. Jae pun segera membalik tubuhnya hingga kami saling berhadapan. Jae langsung mencium bibirku di tengah kota. Dia mencium bibirku lembut dan terasa manis.
"Sudah kukatakan bukan biarkan aku mencintaimu dengan caraku. Jadi, biarkan aku bersamamu" Ucap jae lembut
"Kau tidak perlu melakukan itu" Ucapku pelan
"Biar bagaimanapun aku sudah memutuskannya, terserah kau mau menerimanya atau tidak" Ucapnya lembut
Dia pun langsung merangkul lenganku mesra.
"Kau sungguh tidak apa-apa? Apa perlu kau kuberi 'vitamin' dulu?" Tanyanya khawatir
"Tidak perlu, sungguh. Kurasa aku akan baik-baik saja" Ucapku lemah tanpa mengerti maksud dari kata-katanya
Aku lemah bukan karena kelelahan aktivitas kami semalam tapi karena kejadian yang baru kualami.
"Sekarang kita mau kemana? Aku akan mengikutimu kemanapun yang kau mau dan kau tidak boleh pergi kekantor" Ucapnya pelan
"Baiklah, terserah padamu kau ingin kemana?" Tanyaku pelan
"Aku? Bagaimana kalau kita berkencan saja? Tapi aku belum pernah berkencan sebelumnya jadi, anggap saja ini kencan pertama kita" Ucapnya lembut
"Terserah padamu, sekarang intinya kita mau pergi kemana?" Tanyaku pelan
"Bagaimana kalau kita ke pantai sepertinya menyenangkan" Ucapnya lembut
"Ayoo kita berangkat" Ucapku pelan
Jae pun segera menarik tanganku lembut agar kami segera menuju pantai.
Sepanjang perjalanan aku hanya diam sedangkan jae dia hanya memandang kearah luar jendela. Tanpa kusadari sedari tadi jari kami bertautan tanpa ada yang mencoba untuk melepaskannya. Begitu kami tiba di pantai, jae menarik tanganku lembut.
"Woah yunnie indah sekali" Ucapnya kagum
"Hmmm yaaa indah" Ucapku pelan
'Kau bahkan lebih indah dari pemandangan ini' Kataku dalam hati
Segeralah kami duduk diatas pasir-pasir yang hakus itu.
"Kau tahu yun apa impianku dari dulu?" Tanyanya lembut
"Aku tidak tahu, memangnya apa?" Jawabku pelan
"Pergi kepantai menghabiskan waktu bersama dengan orang yang kucintai" Ucapnya lembut
"Owwww baguslah" Ucapku pelan
Jae pun menatapku perlahan
"Dan kau tahu kenapa dulu aku menolakmu?" Tanyanya pelan
"Tidak... Memangnya kenapa?" Tanyanya penasaran
Dapat kurasakan rahangku mengeras saat dia mengatakan tentang insiden penolakkannya padaku.
"Karena aku tidak yakin dengan perasaanku" Ucapnya pelan
"Tapi kau tidak perlu sampai mempermalukanku" Ucapku marah
"Entahlah saat itu hanya kata-kata itu yang ada dipikiranku. Tapi sekarang aku yakin pada perasaanku" Ucapnya pelan
"Lalu? Sekarang apa?" Ucapku marah
"Aku menginginkanmu, aku mencintaimu. Sewaktu kau marah dan membuang proposalku, kau seakan-akan tengah cemburu padaku" Ucapnya lembut
"Mwo?! Cemburu?!" Ucapku kaget
"Lalu saat kau meminta tidur denganku sebenarnya aku tidak ingin karena aku belum tahu apa kau masih mencintaiku atau tidak. Namun saat eommamu datang dan marah kepadaku, kau disitu tampak seolah melindungiku. Disitulah aku merasa bahwa kau masih mencintaiku" Ucapnya lembut
"Bagaimana bisa?!" Tanyaku kaget
"Karena kau tampak seperti tengah melindungi seseorang yang kau mencintai" Ucapnya yakin
"Yakin sekali kau ini" Ucapku sambil menunjukkan tidak percaya
"Tentu saja... Benarkan kau masih mencintaiku" Ucap jae pelan saat ini kami bertatapan muka
Jae pun mengalungkan kedua lengannya pada leherku.
Aku hanya diam sambil memandang wajahnya.
"Aku milikmu seutuhnya. Tubuhku, hatiku, semuanya adalah milikmu" Ucapnya yakin
Perlahan-lahan jae pun menutup matanya saat aku mendekat untuk mencium bibirnya lembut.
Ciuman yang tak menuntut, ini hanya sebuah ciuman yang lembut dan penuh perasaan.
Perlahan aku pun melepaskan ciumanku dan memandang wajahnya.
"Miliki aku yun" Ucapnya yakin
Perlahan jae pun mengarahkan tanganku ke dadanya.
"Tapi tidak disini" Bisikku lembut sambil mengecup telingaku lembut.
TBC._.
Jae nya kenapa jadi pervert bngt yaa, aku gak tau hanya ini dibayanganku (?) saat aku nulis.
Ini nc buatan pertamaku, gimana? Aneh yaa? Ancur yaaa? Maaf yaaa, kalo nc nya gak sehot dan sebagus buatan yang lain.
Ffku ini masi banyak kekurangan, jadi kalo ada salah-salah kata atau ada kata-kata yang tidak berkenan mohon dimaafkan.
Aku tahu mungkin ffku ini agak sedikit berbeda dengan ff-ff dari author yang lain dan ffku mungkin masih jauh dari kata bagus, tapi aku terus belajar untuk jadi yang baik. :)
makasih lho yaa yg udah review ff abal-abalku ini :)
Balasan review :
Kim Anna : yunho kapan gak mesum unn hihihi
Yunholic : emang yunho gitu hahaha... ini nc nya maaf yaa kalo aneh ._.
Exindira : Thank you yaa :)
Maxyunjae : iaa yunho itu sayang ma jae u,u jae kan 'kuat' ;;) tenang saja (?) hihihi moga" suka yaa maaf aneh nc nya ._. i love you maxy muachhhh
Guest : iaaa entar dijelasin koq kenapanya :) ayah jae jahat yaa untung gak nurun kek jae sama yunho cuma nurun pervertnya (?)
Yunjae heart : bukan angst, mianhae ^^v
yunjaeje : mereka sebenarnya saling cinta koq, nanti disini dijelasin hehehe ^^
Guest : iaa emaknya yunho gak suka sama jae gara" bapaknya
yunjae heart : yups chapter ini nc, maaf yaa nc nya aneh ._.
Guest : makasih yaa ^^ aku tahu ffku masi abal-abal masi banyak kekurangan, aku masih butuh banyak belajar.
Yunjae heart : masih kecepatan? :o okay nanti ku perbaiki ^^ masalahnya aku kadang-kadang bingung merangkai kata-katanya gitu hehehe. aku inggris sukanya ff moonlite :) kenapa?
Guest : iaaa begitu._. mereka kan dari satu "sumber" yang sama jadi mereka saudara. Yunho kan kakaknya secara emaknya di "gituin" duluan ._.
buat yang ngefav sama ngefollow makasih yaaa :**
Mind to review?
