Halo~ apa kabar? Masih ingat fic ini?
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Author: Aiko Fusui
Warning: AU, OOC, cerita ngayal tentang OKB dan OKB (orang kaya baru dan orang kere baru), gaje, typo, dan keanehan lainnya. NaruHina. Jika nggak suka, nggak usah dibaca, meski saya mengijinkan flame dan cercaan sepuas anda. Haha
Yoshaaa, meluncur…
This is my story, enjoy please… ^^
.
.
.
Keinginan adalah keinginan, sepolos apapun, senaif apapun, bahkan senista apapun, keinginan tetap saja keinginan.
"Aku ingin jadi Putri, makan pudding setiap hari, tidur di bed princess size, dan berdansa dengan para pangeran setiap minggunya." Mata perak berbinar, "Oh, juga perawatan kuku, kuda poni, dan blah blah blah…"
"Aku ingin kaya lagi, main judi lagi, menang lagi, jadi pangeran dan akhirnya jadi raja saat ayah mati. Kaya lagi, punya istana, main judi lagi, menang lagi, dan kaya lagi, dan blah blah blah…" bundar-bundar biru berseri.
Kisah cewek OKB dan cowok OKB.
Klise? Jauh dari realita? Nggak masuk akal?
Terserah.
Karena sayangnya, yang menimpa mereka juga tidak bisa dimasukin akal.
LotreDamn
Hidup itu perjudian
.
.
.
Chapter 2: Tolong rawat aku
-.-
Dari kecil, Hinata pengen jadi putri dan dibawa pergi sama pangeran yang pintar bernyanyi.
Keinginan manis yang membuatnya mengenal seorang pangeran dari dunia yang mustahil ia comot.
Awal mulanya hanya iseng buka-buka daftar nama pangeran terganteng versi majalah apalahnamanyayangpentingmajalah di internet. Waktu itu masih akhir kelas tiga SMP dan lagi bersyukur banget karena akhirnya dapet menstruasi pertama. Beberapa bagian pun menonjol, dan Hinata milih merayakan hal itu dengan stalking cowok-cowok ganteng yang mungkin aja bisa jadi reverensinya buat cari pacar, syukur-syukur ada yang kecantol barang satu dua, trus ngajakin dia nikah, kan banyak yang kayak gitu di drama-drama romantis, kan?
Kenapa dia stalking di internet? Karena SMP-nya khusus cewek. Hinata pengen membahagiakan Tou-san dengan ngasih cucu nanti kalau udah gede, jadi dia bener-bener ngejaga supaya orientasinya lurus sedari dini. Dia pengen suka cowok. Bagus kan?
Banyak nama, dari banyak kerajaan, kebanyakan nyebut Inggris. Tapi selera Hinata nggak nyangkut sama sekali dengan pangeran Inggris macam William apalagi Charles.
"Yang lebih nendang!" gitu katanya.
Jadi, sesudah matanya menulusuri foto-foto pangeran selama hampir lima jam, hatinya kepincut oleh beberapa. Tapi nggak bisa ngelepasin keyakinan kalau dia udah jatuh cinta pada sosok dari Norway yang lagi cosplay baju ninja orange-hitam disana.
Dia memandanginya lama, dan langsung klepek-klepek gitu aja.
Mungkin efek menstruasi pertama, hormonnya juga meningkat drastis.
Apalagi dengan ditambah dengan quote sang pangeran; My way is right way, if you disagree, just go away.
"Cool, cuek, tapi ngangenin." Nah kan? Belum ketemu aja udah bilang kangen, Hinata memang polos luar biasa.
Dari situ, Hinata jadi punya hobi baru; ngeprint foto-foto sang pangeran dan nempelin di dinding kamar sampai langit-langit. Biar berasa remaja cewek yang imut, Hinata juga memasang tulisan merah besar di depan pintu kamarnya; LELAKI DILARANG MASUK.
Nggak tahu dia, Hiashi sampai nangis-nangis karena nggak bisa kasih kecup peluk tiap malam ke Hinata. Hanabi yang ngadu ke Hinata akhirnya jadi titik terang. Si pemilik kamar pun ketuk-ketuk kamar ayahnya, masuk dan dengan lembut bilang kalau ayahnya, Hiashi, boleh masuk kamarnya karena Hiashi adalah 'Ayah' dimata Hinata, bukan seorang 'Lelaki'.
Hinata senyum, hatinya lega. Hiashi senyum, hatinya remuk redam.
Kembali ke inti, jadi Hinata nge-fans berat sama si pangeran, sampai bikin resolusi buat mencari suami seperti dia. Rasa cinta itu tumbuh, bahkan hanya karena potret-potret yang tertempel besar kecil di kamarnya, tanpa hubungan apapun, tiada suara selain rekaman video sang pangeran yang sedikit banget dimuat di internet. Hinata tetap jatuh cinta, sama sekali nggak berkurang. Ingin bertemu, ingin memandang langsung, tenggelam ke dalam mata biru jernih yang memabukkan hatinya…
Aitakatta~
Oh, indahnya masa muda…
Tuhan sayang sama Hinata, jadi Tuhan mengabulkan permintaan gadis yang selalu mengerjakan PR tanpa mencontek itu.
"Phueh!"
Jepret jepret jepret
"Gimana? Ciumanku luar biasa kan?"
Rekam rekam rekam
Sayangnya keadaan ketemuannya nggak seromantis yang ada di deskripsi do'a Hinata tentang padang bunga dan tawa renyah a la film bollywood yang kemarin diputer Hanabi di rumah.
Ketemuannya dengan sang idaman hati-yang entah masih bisa tetep jadi idaman atau nggak- lebih cocok disebut fool accident.
Hinata masih berusaha ngusap-usap bibirnya yang kesuciannya sudah terenggut tak sopan. Ia mengeluarkan antiseptik khusus telan, lalu meminumnya setengah botol. Hal ini demi mencegah tersebarnya kuman dan bakteri yang pasti nempel erat dengan si gembel yang masih saja pasang muka sok keren di depannya, puas bisa nyium bibir cewek manis tersebut.
Gembel itu mendekat, Hinata pasang kuda-kuda siap ngumpet.
Si Gembel yang masih keukeuh memasang cengiran yang mirip banget sama Pangeran Naruto itu berkata, "Jangan kabur atau-" dan bunyi ponsel Hinata menginterupsi. Sejenak, kuda-kudanya bubar, merogoh ke dalam tas Louis Vuitonnya dan mengeluarkan I-Phone yang berkedip-kedip layarnya.
Sebaris kata 'Tou-chan' dan lambang telepon masuk membuatnya otomatis masuk ke dalam mobil, meringkuk dan menyetel suara semanis mungkin.
"Moshimosh-"
"HINATA, HEWAN NISTA APA YANG MEMAKAN BIBIRMU!"
Jeda sedetik sebelum badai datang lagi.
"PULANG! Gimana keadaanmu? Kamu kena rabieskah? Ampun Tuhan~ Kenapa Kamu juga mau sama hewan begituan, Hinata? Apa Ayah kurang cakep? Atau kamu minta kawin? Bilang sama Ayah!"
Omelannya bakalan panjang banget kalau dijabarin disini. Saking panjang dan rewelnya, sampai kayaknya bisa menjadi RUU untuk perlindungan khusus Hinata tersayang.
Setelah entah berapa lama pria tua di seberang sana ngomel-ngomel bak ibu rumah tangga kehabisan beras, nafasnya terdengar naik turun. Jeda panjang akan jadi istirahat yang harus segera dimanfaatkan Hinata untuk meluruskan apa yang sebenarnya tidak lurus.
"A-ayah?"
"Ya, Hinata Sayang?"
Ia menelan ludah, gugup. "Darimana Ayah tahu kala-"
"INSTRAGRAM HINATA! Apa kamu seudik itu?"
Oh, jadi Hinata kena semprot nggak nyenengin dari Ayahnya karena kecanggihan internet dan editan luar biasa dari camera 360 yang ngambil gambar nistanya secara tidak sopan?
Setelah ia meyakinkan ayahnya bahwa ia 100% tidak kena penyakit menular sejenis kemiskinan dan bau apek, ia segera mematikan teleponnya. Biar tenang, takutnya setelah ini sepupunya yang cerewet itu juga akan rewel seperti ayahnya tadi.
Ia kemudian mendekati si gembel yang memandangnya dengan tatapan 'Apa?' begitu jelas. Hinata memijit pelipisnya, pusing. Kenapa bencana ini harus menimpanya?
Ia bisa saja menganggap ini semua tidak pernah terjadi, tapi internet dan segala kebusukannya menyudutkan posisinya. Hinata bisa saja menggunakan sedikit dari uang hasil lotrenya untuk membeli sebagian saham jejaring sosial dan menghapus semua foto memalukan itu, tapi ingatan orang-orang disana tidak akan bisa mudah dibersihkan.
Matanya menelusuri tubuh lelaki itu, tertumbuk pada kedua mata bening berwarna langit yang dengan mudahnya mengingatkannya pada sang pangeran impian.
"Katakan, siapa kamu!"
Si gembel memutar bola mata, bosan, "Kan udah aku bilangin tadi, aku Pangeran Naruto dari Norway. Nggak sopan banget sih."
Kedutan emosi menjiplak gambar di kening Hinata. Siapa yang lebih nggak sopan? Jadi mencium bibir gadis manis innocent yang kebetulan sedang kaya raya itu bisa disebut sopan? Gembel sialan!
"Nggak mungkin. Pangeran Naruto nggak mungkin kumuh begini. Dia itu-"
Kling. Sebelum kata-katanya selesai, sebuah kalung sederhana dengan bandul luar biasa ditampakkan di hadapannya. Hinata menganga, nggak nyangka bisa melihat benda mulia itu di kehidupannya yang sekarang.
"Kalung ini cuma aku yang punya, Pangeran Norway."
Biru itu serupa bundar matanya yang berkilau. Ya, hanya garis keturunan sah yang bisa memiliki benda istimewa yang berputar-putar itu. "Aku nggak bisa ngasih ini ke orang lain, bahkan saat dengan tidak sengaja aku kehilangan sedikit kejeniusanku, aku ngasih semua hartaku buat lotre koran tak bermutu yang menyebabkan aku jadi kurang ganteng sekarang, kalung ini tetep nggak bisa lepas dari aku."
Hati Hinata mulai gemetar nggak yakin dengan kepastian awal bahwa orang di depannya ini hanya seorang gembel yang tergila-gila padanya. Sulit mengatakan bahwa ia percaya pada keberadaan kalung itu.
"Itu asli apa hanya duplikat? Kamu maling istana?"
Si gembel menggeram, tidak terima disebut maling. "Elo mau gue cium lagi apa!" dan menampakkan taringnya. Hinata mundur cepat, takut diserang lagi. Tapi kedua lengannya dicengkeram oleh si gembel, tubuhnya dihempas pada sisi samping mobil, dan matanya dipaksa untuk bertatapan dengan manik di depannya.
"Gue. Pangeran. Naruto." Ada penekanan khusus di setiap katanya, seolah mendikte perempuan itu untuk segera kalah dari peperangan 'Siapa kamu-kamu bukan Naruto' sedari tadi.
Hinata menelan ludah, gugup dan sangat ketakutan. Ia ingin memejamkan mata, setidaknya mengalihkan pandangannya. Tapi ini seperti sihir. Mata biru itu mungkin memiliki pelet yang membuat Hinata beku tak mampu melawan.
"Gue. Bakal. Jadiin. Elo. Putri."
Pandangan di depannya melunak, langit musim panas kembali dan memberi kehangatan eksklusif yang diterima dengan baik oleh Hinata. Rasanya nyaman, dan Hinata pengen percaya karena toh dia ingin jadi putri.
Otaknya berpikir dengan begitu cepat. Orang di depannya, meskipun meragukan, dia mungkin benar Pangeran Naruto. Jika demikian, Hinata punya kesempatan buat jadi ngunjungin istana Norway nun jauh disana. Namun jika orang ini penipu, hanya ingin mengeruk kekayaannya yang sekarang seolah tiada batas, ia bisa menuntutnya. Memastikan hukum terberat berlaku untuk si gembel ini. Lagian, kalung itu mungkin bisa jadi miliknya suatu hari nanti.
Jadi intinya, manusia dekil itu, untuk saat ini bisa Hinata manfaatkan.
"Ok-oke." Dan si gembel melonggarkan dirinya. Ia memasang cengiran lebar, mengulurkan tangan ke depan. Pelan-pelan, Hinata menjabatnya selama sedetik sebelum cepat-cepat menarik tangannya kembali.
"Mulai dari awal ya? Perkenalkan nih, aku Prince Naruto Namphyikavaze d'George dari Norway."
Kikuk, Hinata membungkukkan badan, bangkit lagi untuk menunduk dan memperkenalkan namanya, "Aku Hinata Hyuuga, kaya raya, banyak uang, harta melimpah tapi baik hati, suka menolong, tidak somb-"
"Yak yak, stop." Naruto mengajukan telapak tangan ke depan, sinyal untuk membuat ocehan aneh Hinata berhenti. Kemudian menggaruk belakang telinganya. Melirik Hinata dengan setengah canggung setengah nyengir.
"Karena kamu bilang kamu kaya tapi baik hati dan suka menolong, tolong urus aku sekarang."
Aiko Fusui-LotreDamn
Memang nggak mungkin membawa lelaki itu utuh tampak aslinya-saat bertemu Hinata-pada sang ayah yang mulai menerornya lewat BBM. Jadi, dengan seleranya yang istimewa, Hinata puas memandang 'hasil' manusia bernama Naruto yang masih mematut diri di depan kaca rias sebuah salon.
Hinata berdecak kagum kala Naruto memutar tubuh dan tersenyum dengan senyum bangsawannya.
Dia benar-benar seperti ngengat yang terlahir kembali menjadi Pangeran Negeri Dongeng.
"Aku tahu kalau aku cakep, nggak usah ngeces gitu juga kali." Jemari Naruto mendarat di ujung bibir Hinata, mengusap sedikit iler yang entah kenapa bisa menodai wajah manisnya.
Perempuan itu buru-buru mundur, mencari kaca terdekat untuk membersihkan wajahnya yang mendadak seolah terkena saus tomat edisi terbatas. Hatinya berdegup kencang, dan dari sudut matanya, tidak susah untuk membayangkan pemuda mantan gembel itu sebagai cinta dunia mayanya yang absurd.
Karena Hinata memutuskan ia tetap cantik dan terlihat kaya, ia melenggang ke kasir, membayar semua biaya 'ketok magic' yang dilakukan pada Naruto. Kalau ini drama chic yang bercampur komedi, maka begitu Naruto keluar dari salon tersebut, wanita-wanita di jalan yang kebetulan nggak ada kerjaan berkumpul mengelilinginya bak alien yang datang dari sebuah planet berbintang.
Syukur atau sayang, di jalan-jalan tersebut hanya ada beberapa lelaki lansia yang berjalan-jalan bersama kucing dan anjing mereka. Jadi cuma mbak-mbak salon yang leluasa teriak-teriak girang mendapati muka bak pangeran milik mantan gembel tersebut.
"Masuk."
Hinata memicing, melihat Naruto dengan kacamata hitam yang entah didapat dari mana, mengedikkan kepalanya dengan angkuh, memerintahkan gadis itu layaknya seorang tuan untuk memasuki mobil yang memang secara sertifikat dan piagam yang tertera, itu mobil Hinata. Ia menggeram, berpikir sebaiknya membawa Naruto ke sebuah rumah sakit jiwa dulu sebelum memasuki kawasan Hyuuga-nya.
"Ini mobilku, Bodoh!" balas Hinata. Naruto menatapnya dari sudut mata, kemudian tertawa sombong, "Karena itu aku menyuruhmu masuk, BODOH!" kemudian memasuki bangku di bagian belakang dengan begitu elegan.
Hentakan kakinya keras ke aspal jalan yang mulai retak, frustasinya harus segera disalurkan apapun caranya. Hinata misuh-misuh dalam hati sebelum akhirnya masuk ke dalam mobilnya di kursi kemudi.
"Jalan." Duh, sumpah deh, lagaknya itu lho! Gimana Hinata nggak mau nyekek tuh leher mantan gembel dengan cangkul coba?
Kembali misuh dalam hati, tapi toh Hinata tetap melajukan mobilnya juga, stabil, lancar, tanpa menjumpai razia dadakan demi penilangan yang menyebalkan. Ketika atap mansion Hyuuga yang menjulang itu terlihat, Hinata kembali berkeringat dingin. Membayangkan wajah Hiashi yang berkerut disana-sini marah-marah sama sekali bukan hal yang pantas.
Gerbang terbuka otomatis setelah Hinata mengetikkan kode khusus, memasuki jalan lebar menuju halaman depan mansion, dan mobil itu berhenti.
Hinata keluar dengan anggun meskipun hatinya dilanda gugup. Naruto mengikuti, keluar dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Kedua matanya lurus-lurus menatap ke dalam perak bundar lembut milik gadis yang berkata padanya,
"Kita sampai."
Aiko Fusui-LotreDamn
"Ka-mi-sa-ma…"
Hiashi melongo, Hanabi memerah, Hinata menelan ludah, Naruto sengaja pasang senyum paling cerah, mansion Hyuuga bertaburan dengan kembang api dan bunga-bunga bermekaran, lalu semuanya hidup bahagia dan tamat?
Enak aja!
"Hinata-" Hiashi menarik lengan putri sulungnya, berbisik di telinga kanan, "-Kamu emang tahu selera mantu buat Ayah ya? Anak pintar!" mata pucat milik sang kepala keluarga menatap lagi pada dua biru bulat yang bersinar di hadapan. Sekejap, pikirannya tentang foto-foto yang diupload ramai-ramai di instagram sirna dari kepalanya yang beruban.
Kenapa harus marah? Di depannya kini ada pemuda yang tampan, terlihat mapan, dan sepertinya bisa diandalkan untuk membenahi antena televisi di kala hujan datang. Sungguh menantu idaman.
"Ayah…" gerakan Hiashi yang ingin memberi pelukan selamat datang terhenti oleh tangan Hinata yang mencekal kedua lengan tuanya. Atensinya terpusat pada wajah Hinata yang memerah lagi cemberut.
Oh, rupanya putriku malu-malu…
"…dia-" telunjuk kanan mengarah pada hidung Naruto, "-bodyguard-ku, Ayah."
"Hinata-nee bodoh banget. Secakep itu cuma jadi bodyguard? Kalo gitu buat aku aja gimana, Hinata-nee?" adik perempuannya maju, merangkul tangan kiri Naruto yang membiarkan semuanya terjadi. Raut mukanya seolah menyukai semua pujian yang datang bertubi-tubi pada dirinya. Oh yeah… sang pangeran haus pujian pemirsa.
Hiashi menggelng, "Tidak, tidak. Hanabi terlalu imut untuk menikah sekarang. Apalah itu bodyguard? Intinya sekarang dia ada di sini, dan kamu yang membawanya, benar Hinata?" kedua pasang mata bulan beradu, terintimidasi oleh aura sang kepala keluarga, Hinata hanya bisa mengangguk.
"Jadi Kau yang harus bertanggung jawab untuk mengurusnya, Hinata. Dia pasti sudah menyelamatkanmu dari hewan nista yang memakan bibirmu tadi siang." Hinata tercekat ketika Hiashi menjabat tangan bebas Naruto, sekaligus menarik putri bungsunya dari tempelan pelukan tangan.
Ini lebih tidak masuk akal, akan lebih baik jika membawa Naruto dalam wujud nistanya, mungkin, pikir Hinata.
"Hinata sayang…" panggil sang ayah. Kembali bertatapan, dan darah dalam diri sang putri berdesir, ada yang harus ia katakan. Ta-pi-
"Bagaimana dengan bulan depan? Musim semi sangat bagus untuk pengantin baru."
Hiashi tersenyum, puas dengan idenya yang cemerlang.
Hanabi cemberut, menghitung usianya yang terpaut lima tahun dari sang kakak dengan sebal.
"Kami tidak menikah, Paman." Akhirnya Naruto berbicara. Suaranya tenang dan tersusun dengan sangat baik. Ia menggeser pandangannya, bertemu pandang dengan Hinata yang bersyukur karena Naruto masih waras. Lalu, ia pun menambahkan, "Setidaknya bukan untuk sekarang."
"A-apa maksudmu? Kita nggak ada perjanji-"
"Saya akan mengenalnya lebih lebih dan lebih dekat lagi…"
"-an bodoh kayak gitu! Kata-"
"…jadi saya mohon bantuannya dan mohon ijin untuk tinggal disini, Ayah…"
"-mu aku akan dijadikan… eh?" Hinata tidak mempercayai pendengarannya, patah-patah ia memutar pandangannya pada sang ayah yang berkaca-kaca.
Jadi seperti ini rasanya punya anak lelaki?, pikir Hiashi. Ini pertama kalinya ia dipanggil oleh seorang pemuda dengan sebutan yang sering digunakan Hinata dan Hanabi untuk memanggilnya. Ia terharu, dan jiwa kebapakannya memenuhi insting untuk menyuruhnya memeluk Naruto apapun yang terjadi.
Ini sangat OOC, tapi Hiashi sudah lamaaaaa sekali pengen punya anak cowok. Neji tidak pernah mau memanggilnya 'Ayah', dan ia tidak berani kawin lagi karena Hanabi mengancamnya akan menggunduli rambut sang kepala keluarga jika berani punya isteri kedua.
Dan Kami-sama sedang dalam mode baik untuk mengabulkan do'a lamanya, di depannya ada cowok cakep, hampir mirip dengan cowok yang ada di poster yang memenuhi dinding kamar Hinata, tanpa paksaan memanggilnya 'Ayah', bukankah ini menakjubkan? Hiashi tidak perlu menyewa rahim seseorang atau melakukan program bayi tabung untuk sekedar memiliki anak laki-laki!
Jadi tentu saja, setelah memeluk cowok cakep yang memanggilnya 'Ayah' dengan manis, ia menyeret Naruto menuju kamar mandi.
"Ini sudah sangat lama ingin aku lakukan, Nak. Hanya antar lelaki, jadi ayo mandi bareng."
Aiko Fusui-LotreDamn
Nama Naruto susah nggak? Itu tetep Namikaze dengan tambahan disana sini kok ^^
Terima kasih pada:
Fuuku : ahahaha, sou ka? Ah, iya. Saya orang jawa. Yep, kamu benar, jumawa itu sombong. Terima kasih ^^
Chrizzle : ide datang, tapi kemauan buat nulisnya terganggu. Hehehe. Kalo lebih barbar, saya kuatir nggak bisa publish lagi deh #meluk laptop.
Luna-san: arigato ne, hinata alay mode, hihihi. Mau nggak ya? Kalo nggak, buat author saja Naruto-prince-nya, hehehe. Terima kasih ^^
HarunoIkachan : ahaha, arigato ^^
Manguni: here…
Mxxx : yep, naruto ng-gembel haha
Yui Kazu: *sembunyi dibelakang Gaara* kenapa? Kenapa? Kenapa? Hahaha, saya nggak tahu harus bales reviewmu gimana lagi, Terima kasih banyak ^^, tapi maaf nggak bisa update kilat…
Loony Luna: maaf harus nungguin lama ^^
June25: maaf harus nunggui update-an fic ini lama sekali… #ojigi
Marukocan: di chap dua ini sedikit ada penjelasan kenapa Hinata suka sama Naruto-dulunya
Nyuga totong: tentu ^^, romance iya, humor saya nggak yakin bisa, yosh! Saya akan berusaha. Maaf nggak bisa update cepat.
KandaNHL desu: ahahaha, iya. Hinata emang beruntung sekali.
Hyuuga Diva Atarashi: ahahaha, nekad sekali Naruto-kun ya? btw, cak lontong itu siapa yah? Hehe #kudet
K: maaf nggak bisa update chap ini dengan cepat
Karizta-chan: hehe, tapi maaf nggak bisa ngelanjutin cepet-cepet ^^
Juanda Blepotan: hehehe, saking gembelnya Naruto-kun sih…
Nyanmaru desu: ajarin pasang muka norak tapi imut dong? Hahaha. Hinata mau dicakar? Boleh, asal bayar asuransi satu milyar dulu ke dia yah? Hehehe
Uzumaki LOVE Hyuuga: maksudnya 'word'-nya yah? Hehehe. Yosh! Saya berusaha. ^^
Maaf kalo saya salah ketik nama. Maaf karena saya memutuskan untuk mengambil istirahat panjang dan mengabaikan cerita saya. #ojigi
Saya pikir, fict ini nggak terlalu humor, tapi saya nggak bisa menemukan genre 'fun' di ffn. Hehe. Atau apakah saya harus ganti genre? Tapi genre apa selain romance? Bisa bantu saya?
Review?
Salam
Aiko Fusui
