Frozen chap 6
-Luka dan luka. Mengapa kau terasa perih. -Jung yunho
*Note all yunho POV
Kamipun berciuman ditengah indahnya malam, diterangi sinar bulan dan bintang.
.
.
Hangatnya sinar matahari pagi hari sudah menyapaku sedari tadi. Aku masih bergulung dengan selimut. Kurasakan jae masih berada dipelukkanku sambil memainkan nippleku.
"Urghhhh jae ahhh" Ucapku mencoba mengumpulkan kesadaranku
"Kau sudah bangun yunnie?" Tanyanya lembut
"Kau tidak tidur? Mengapa?" Tanyaku seraya memperhatikan lingkar matanya yang tampak menghitam dan terlihat lelah
"Aku... Takut yun, aku takut jika ini mimpi. Mimpi bahwa pada akhirnya kau memaafkanku dan yang paling penting kau masih mencintaiku" Ucapnya jujur
"Tenanglah sayang, ini bukanlah mimpi." Ucapku lembut.
Segeralah jae memelukku erat.
"Aku mencintaimu" Ucapnya sambil menenggalamkan kepalanya didadaku
Kkurukkk
Maaf, bukan maksud untuk mengacaukan suasana yang sudah tercipta namun kurasa jae lapar dan belum makan
"Jae kau lapar?" Tanyaku pelan
"Uhmmm, sangat. Kau tidak lapar?" Ucapnya manja
"Ada roti dan susu, sebaiknya ambilkan terlebih dahulu" Ucapku sambil bangun dari tempat tidur
Aku yang bangun dari tempat tidur, tidak menyadari bahwa tautan kami terlepas. Segeralah aku mengambil roti dan susu untukku dan untuknya. Begitu aku kembali kesana, dia hanya menatapku cemberut.
"Susah-susah aku 'memasukkan' kenapa kau 'lepaskan dia'?" Ucapnya sambil cemberut
"Bukankah aku harus mengambil makanan untuk kita. Lagipula kau yakin tidak apa jika melakukannya setiap hari?" Tanyaku lembut
"Iaaa tapi tetap saja membuat 'sarangnya' merasa kosong" Ucap jae cemberut
Segeralah aku yang sedari tadi berdiri setelah menaruh susu dan roti uang kubawa, mendudukkan diriku diranjang sebelahnya. Jae langaung mendudukkan dirinya diatas pahaku.
"Yunnie, kapan kita akan meminta restu pada orang tuamu dan orang tuaku?" Ucap jae lembut
"Sepertinya, untuk sementara jangan dulu sayang. Kau mau membuat ayahmu dan ibuku jantungan?" Ucapku sambil memikirkannya
"Lalu kapan? Bukankah semakin cepat semakin baik?" Ucapnya tidak sabar
"Iaaa, tapi kau tahu bukan jika ummaku baru dapat bertemu dengan ayahmu. Bukankah mereka akan jauh lebih shock jika kita mengatakan tentang hal itu?" Ucapku sambil memikirkan sesuatu
"Kau benar, mereka pasti kaget. Tapi kapan?" Tanya jae penasaran
"Tunggulah tanggal mainnya" Ucapku sambil memikirkan sesuatu
Jae yang memperhatikanku, tampak mencurigai sesuatu
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya jae penasaran
"Appa... Kurasa saat ayahku datang kesini minggu depan, barulah kita bisa membicarakan tentang hal ini" Ucapku menerka-nerka
"Minggu depan?" Tanyanya pelan
"Yaaa minggu depan, kau tahu meskipun ayahku pernah tidak menganggapku namun ayahku pernah mengatakan seperti ini 'yunho, apapun yang terjadi kau anak appa meskipun kau bukanlah anak kandung appa tapi kau selamanya tetap anak appa. Kau tahu kenapa appa dulu pernah tidak menganggapmu, karena appa ingin kau menjadi sesesok yang berbeda dengan appa. Appa tidak akan menghalangi apapun yang kau inginkan. Hanya satu pesan appa padamu, lakukan apa yang ingin kau lakukan. Jangan pernah menyesali apapun yang sudah terjadi, dan yang sudah kau putuskan..'" Ucapku panjang lebar
"Kenapa begitu?" Ucap jae penasaran
"Entahlah. Dan kau tahu, appa pernah mengatakan seperti ini 'Kau bisa menghasilkan banyak uang. Kau bisa memiliki seberapa banyak uang yang kau inginkan namun kau tidak akan pernah bisa membeli kebahagian. Kebahagian didapatkan dari hatimu dan bukan dari uangmu. Karena uang tidak akan pernah bisa membeli kebahagian. Kebahagian dari hati. Kebahagian, kedamaian dan yang paling penting uang tidak bisa ditukar dengan kasih sayang. Appa tahu dari dulu appa tidak pernah memberikan kebahagian untukmu." Ucapku panjang
"Dan aku semakin tidak mengerti, membuatku bingung" Ucap jae sambil memikirkan
"Ayahku hanya ingin yang terbaik untukku. " Ucapku lembut
"Kalau begitu kenapa dia sempat tidak mengakuimu?" Tanya jae penasaran
"Entahlah, aku tidak tahu tapi kau tahu meskipun seperti itu ayahku selalu ada disetiap aku membutuhkannya" Ucapku pelan
"Sudahlah, aku tidak ingin membahas hal ini. Hal yang membuat kita sedih memikirkannya" Ucap jae lembut
"Kau benar, sebaiknya kita nikmati saja liburan ini" Ucapku lembut
"Yunho, aku bahagia. Amat sangat bahagia" Ucap jae lembut
"Bahagia kenapa?" Tanyaku penasaran
Jae yang duduk dipangkuanku, di kedua belah pahaku langsung mengelus rambutku.
"Aku bahagia menjadi milikmu, menjadi orang yang kau cintai. Menjadi orang yang berada disampingmu selalu. Menjadi orang terpenting untuk hidupmu. Kalau dulu aku menolak karena aku tidak begitu mengenalmu, tapi begitu aku mengenalmu aku bahagia. Kau orang yang baik, hangat" Ucapku lembut
Jae pun langsung mengecup bibirku lembut, penuh perasaan. Segeralah aku melingkarkan kedua tanganku pada pinggangnya dan jae melingkarkan kedua tangannya pada leherku.
"Yunnie bagaimana jika kita berenang?" Tanya jae penasaran
"Kalau kau mau, ayolah" Ajakku lembut
"Tapi kuharap hanya ada kita berdua. Aku tidak ingin ada orang lain" Ucap jae malu
"Arra sayang, hanya kita berdua" Ucapku lembut
Segeralah kami bersiap untuk pergi berenang.
.
.
Ternyata berenang berdua dengan jae adalah pilihan yang tepat. Disini hanya ada kami berdua, tidak ada orang lain. Aku tidak tahu dimana jae, saat ini. Setelah kami bersiap-siap dia menyuruhku duluan saja kepantai. Aku yang begitu tiba dipantai, langsung melepas kaosku dan hanya menyisakan boxer yang melekat. Udara pantai yang sejuk, ditambah hamparan pasir yang lembut ternyata mampu menenangkanku. Menenangkanku dari masalah-masalahku.
Tujuan kepantai adalah untuk berenang, bukan? Maka segeralah aku menghampiri air pantai dengan ombak-ombak yang seolah-olah menari. Aku terus menghampiri air pantai yang mulai membahasi kakiku hingga pahaku ditambah dengan hamparan udara yang seolah-olah menenangkanku. Hal ini cukup membuatku lupa bahwa aku bersama jae.
"Yunnie..." Panggil jae mesra
Aku yang merasa di panggil, segeralah menoleh dan mendapati jae yang tengah berusaha melepas semua yang melekat ditubuhnya. Segeralah setelah itu menghampiriku dan menciumku lembut.
"Mengapa kau melepaskan semuanya?" Tanyaku pelan
"Agar kau tidak 'kesusahan' tau" Ucapnya menggodaku
Aku yang tidak menyadari hal itu, hanya tersenyum.
Tanpa kusadari, jae yang iseng segera mencipratkan air laut ketempatku. Aku menyadari hal itu segera membalas hal tersebut dan hal itu segera menciptakan suasana romantis untuk kami.
Kami terus bermain, hingga hari sudah menjelang sore.
"Yunnie aku lelah, sudah-sudah" Ucap jae terengah-engah
"Makanya kau jangan iseng" Ucapku menghampirinya dan segeralah kami berjalan menuju hamparan pasir.
"Yunnie matahari terbenam masih lama kah?" Tanya jae yang langsung merangkul lenganku mesra
"Harusnya sebentar lagi jae, mengapa?" Ucapku pelan
"Rahasia... Wekkkk" Ucapnya menggodaku
"Kau ini, tapi holemu tidak apa-apa?" Ucapku sambil mencubit hidung dan pipinya.
"Ha?! Holeku? Baik-baik saja sepertinya. Mungkin terasa sedikit nyeri tapi aku masih bisa menahannya" Ucap jae lembut
"Kalau masih sakit, akan ku suru dokkter pribadiku memeriksanya." Ucapku pelan
"Mwo?! Kau mau surgamu dilihat orang lain? Kau kejamm" Ucap jae sedih
"Maksudku agar bisa mengurangi sakitnya" Ucapnya pelan
"Apa kau rela? Hiks" Ucap jae yang merasa sedih
"Jika sakit, kita tidak perlu melakukannya dan kau tidak perlu diperiksa" Ucapku mencoba menenangkan
Aku yang merasa bersalah segera memeluk jae. Perlahan-lahan tetapi pasti aku mendekatkan wajahku untuk menciumnya menenangkannya. Jae yang merasa akan hal itu segera menutup matanya dan mencoba merasakan ada bibirku yang menyapu di bibirnya.
Dan sebuah ciuman pun terjadi, ciuman lembut dengan penuh perasaan. Matahari pun perlahan-lahan tengelam dan berganti dengan suasana malam hari dipantai. Kami terus saja berciuman tanpa memerhatikan keadaan sekitar. Tak lama kemudian kami melepaskan ciuman kami dan saling menatap satu sama lain.
'Tidak ada yang jauh lebih indah darimu' Kataku dalam hati
"Yunnie aku mencintaimu" Ucapnya pasti
"Kau sudah pasti tahu, apa isi hatiku. Aku mencintaimu" Ucapku lembut
Dari tatapan mata kami yang saling memandang malah terasa menggodaku.
"Jae... Bisakah kita?" Tanyaku penasaran
"Apapun, untukmu" Ucapnya yakin
Dia pun langsung mengalungkan tangannya dileherku agar kami semakin dekat.
"Tapi jangan disini yun, aku takut" Ucap jae pelan
"Apa yang kau takutkan?" Tanyaku penasaran
"Bagaimana jika ada yang melihat juniormu? Melihat dadamu? Aku tidak rela, aku cemburu" Ucap jae seraya menunjukkan pout nya
Segeralah aku tidak menyia-nyiakan hal itu dan langsung mengecup bibirnya ganas.
"Mmmmmmmmccckkkkpppp" Desahnya nikmat saat bibirku mengecup bibirnya yang terasa manis dimulutku.
"Ayo pindah sayang" Ucapku lembut
"Gendong aku yun" Pintanya manja
Tanpa basa basi segeralah aku mengendongnya ala bridal style.
"Kyaaa yunnie" Ucapnya kaget tanpa menyadari bahwa aku akan mengendongnya seperti ini. Jae langsung menengelamkan kepalanya didadaku dan kami segera pergi menuju vila kami.
.
.
.
"Uhhhh jaeee..." Desahku nikmat dia mengecup nippleku yang menegang.
Ketika kami dalam perjalanan tanpa kusadari jae menengelamkan kepalanya didadaku dan langsung mengemutnya.
"Ahhhhh jaee yaaa... Joongieeeeeee kauuuuu ahhhh" Desahku nikmat tidak tertahankan saat jae terus mengemut dinippleku.
Aku yang terbakar napsu langsung menurunkannya begitu kami masuk kedalam vila dan tanpa aba-aba, aku langsung mengecup bibir jae ganas. Tanganku langsung ikut bekerja ditubuhnya.
Tangan kiriku memainkan nipplenya sedangkan tangan kananku mengelus juniornya.
"Yunnnnn ahhhh... Kauuuuu ahhhhhhh" Desahnya nikmat
"Aku apa jae?" Ucapku sambil mengecup telinganya.
Saat ini aku asik mengecup bibirnya ganas serta mengecup telinganya, dan tak lama aku langsung menggigit leher bahunya. Bahu dan lehernya kini makin penuh dengan tanda-tanda kepemilikkanku.
"Jeballll ahhhhh yunnieeeeee" Desahnya nikmat saat aku mengocok juniornya lembut. Kurasa jae terbiasa dengan kocokkanku pada juniornya yang kasar dan cepat. Maka dari itu, dia memprotesku ketika kocokkan berubah menjadi lembut.
"Ahhhhhh yunniiieeee" Desahnya nikmat saat aku terus 'bekerja' pada tubuhnya.
"Kau suka hmmm" Bisikku ditelinganya sambil menghembuskan nafasku ditelinganya.
"Sukkaaaaa ahhh yunnieeee... Kenaaaapaaa kauuuuu tidakkkkk langggg ahhhh suunnggg memassukkannnya ahhh" Desahnya nikmat seraya memeluk leherku.
"Kau ingin kita melakukannya dalam keadaan berdiri?" Tanyaku sambil menjilat telinganya.
Aku tahu menghembuskan nafasku ditelinga, menjilat telinga, menjilat lehernya dan mengecup leher bahunya adalah titik-titik sensitifnya. Jadi jangan salahkan aku jika aku menghajarnya terus menerus.
Jae yang seolah mengerti posisi kami yang baru masuk kedalam vila langsung mengangkat tubuhnya dan aku segera menahannya. Tampaklah kini aku seperti mengendong koala. Koala yang 'besar' bukan.
"Kau seperti koala, jika seperti ini" Bisikku pada telinganya sambil mengecupnya lembut
"Nappeun... Kau menggodaku. Kau tahu, 'kau' meninggalkan 'dia' saat 'dia' masih tegang" Ucap jae sambil mempoutkan bibirnya.
Entah mengapa hal itu terlihat seperti dia tengah menggodaku, langsung saja aku meraup bibirnya itu.
Ciuman kami terhenti ketika sampai didepan pintu. Bagaimana aku bisa membuka pintu jika mataku saja tertutup olehnya. Segeralah aku menurunkannya dan mendapat protes olehnya.
"Kau kenapa menurunkanku?" Ucapnya sebal
"Bagaimana aku bisa membuka pintu jika aku tidak melihatnya" Ucapku lembut
"Kau merusak suasana tau. Aku jadi tidak ingin melakukannya" Ucapnya sebal sambil masuk kedalam kamar kami
"Baiklah, jika kau tidak mau melakukannya maka jangan salahkan aku jika melakukannya dengan cara yang berbeda" Ucapku sambil menyeringai
"Apa?! Paling-paling kau mau bersolo karir bukan?" Ucap jae tanpa takut
"Mengajak ahra sepertinya seru" Ucapku bermonolog ria tanpa menyadari raut wajahnya yang makin kesal.
"Kau gila?! Mengajaknya?! Lebih baik kau perkosa saja aku" Ucapnya tanpa takut
"Baiklah karena kau yang meminta, aku akan memperkosamu" Ucapku sambil menyeringai
Entah mengapa jae merasa takut akan seringaianku.
'Hahahaha salah sendiri, siapa suru menggodaku dan memancingku' Kataku dalam hati.
Segeralah aku merebahkan tubuhnya, dan seketika itu juga dia kaget dan mencoba memberontak
"Yun apa yang kau lakukan?" Tanya jae kaget
"Melakukan seperti yang kau minta bukan? Memperkosamu" Ucapku sambil menunjukkan smirk
"Mwo?! Yunn..." Ucapnya kaget dan tidak siap
Aku langsung saja, merebahkan dia diranjang sambil mencari dasi-dasi yang ku tinggalkan disini. Setelah aku merebahkannya, aku mulai mencari dasi-dasi yang kupunya.
'Tidak sia-sia, aku meninggalkan beberapa dasi disini' Kataku dalam hati setelah berhasil menemukannya
Segera setelah mendapatkannya, aku langsung menghampirinya. Jae yang kini tengah duduk diranjang tidak menyangka bahwa aku akan mendapatkan dasi.
"Yunnn... Jeballl aku akan melakukannya" Pintanya memelas
"Melakukan apa? Bukankah ini kau yang minta?" Ucapku sambil menghampirinya
"Aku tidak memintanya... Aku hanya... Arghhh sakittt... Appo" Ucapnya sambil merasa sakit di kedua tangan dan kakinya. Kini kedua tangannya berada disisi ranjang sedangkan kakinya ku rentangkan hingga membuat huruf M dan sulit untuk dilepaskan.
"Hiks... Kau boleh melakukannya, tapi tidak dengan cara seperti ini" Ucapnya takut
"Kau seperti gadis-gadis yang akan direnggut kesuciannya" Ucapku sambil memperhatikannya.
"Hiks... Jeballl... Ini tidak membuatku nyaman" Ucapnya sambil menahan sakit karena ikatanku.
"Lalu kau mau yang bagaimana? Kau mau aku merekam adegan kita?" Ucapku sambil menyeringai
"Apa tidak bisa hiks kau melakukan yang seperti kemarin?" Tanyanya sedih
"Maaf jae, bukannya aku tidak mencintaimu. Kau tahu, aku begitu mencintaimu dari dulu. Tidak bisakah kau menganggap ini sebagai balasan rasa sakit hatiku padamu." Ucapku sambil memperhatikannya
"Bukankah aku sudah menjadi bitch untukmu. Kau kurang puas ha? Kurang? Apa kau ingin mencoba seperti yang orang tua kita lakukan? Kau memperkosaku? Seperti ayahku memperkosa ibumu? Begitu yang kau maksud ha?! Tidak heran jika ibumu diperkosa, apa kelakukannya seperti ini juga" Ucap jae marah
"APA MAKSUDMU HA?!" Ucapku marah
"Bukankah kelakuanmu seperti ini, seperti yang dilakukannya. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, bukan. Maka aku tidak heran jika ibumu DIPERKOSA" ucapnya marah sambil menekan
Aku terdiam mendengarkan kata-katanya yang melukai hatiku lagi. Tidakkah dia menyadari bahwa aku tengah mencoba melupakan hal itu.
Aku tahu dia marah, dan aku tidak mencoba untuk menenangkannya. Segeralah aku melepaskan ikatan pada kedua tangan dan kakinya
"Pergilah... Dan jangan pernah temui aku" Ucapku datar dan dingin
Seketika auraku berubah balik kembali menjadi aku yang dahulu. Kejam, dingin, dan tidak berperasaan. Dia yang menyadari kesalahannya, segeralah merasa bersalah.
"Yunnn... Mianhaeee aku tidak bermaksud" Ucapnya menyesal sambil mencoba memelukku.
"Sudah kukatakan bukan? Kau untuk pergi. Tidak perlu untuk ku eja bukan" Ucapku dingin
"Yunnie jangan seperti ini hiks, maafkan aku" Ucapnya sambil memelukku dari belakang
Aku pun segera melepaskan pelukkannya, dan berdiri bangkit dari sana.
"Aku pergi, terserah kau masih mau disini apa tidak. Aku tidak peduli" Ucapku dingin
Segeralah aku mengambil kaos, celana sembarang dan langsung menyambar kunci mobilku.
Segeralah aku pergi meninggalkannya sendiri disana.
"Yunnie... Kajimaaa... Jangan pergi... Maafkan aku" Ucapnya menyesal.
.
.
.
Entahlah apa yang kurasakan saat dia mengatakannya, 'Apa kau ingin mencoba seperti yang orang tua kita lakukan? Kau memperkosaku?'. Sungguh niatku tadi hanya ingin melakukannya dengan lembut meskipun tangannya terikat dan bukan memperkosanya.
Tapi dia sepertinya salah mengertikan bahwa aku akan memperkosanya dan kau tahu aku trauma akan hal itu. Begitu mendengar perkataannya, aku langsung berubah. Berubah menjadi diriku yang dulu. Tidakkah dia mengerti, aku lah yang terluka saat mengetahui bahwa ibuku pernah diperkosa oleh ayahnya. Appa jung, sungguh terkadang aku berharap aku adalah anak kandungmu.
Semua masalah-masalah itu seolah menghimpitku. Tanpa menyadari segeralah aku masuk kedalam sebuah bar atau mungkin dapat dikatakan club. Aku langsung saja memesan minuman sambil menduduki tubuhku diatas kursi.
"Selamat datang ada yang bisa kubantu?" Tanya bartender itu ramah
"Vodka satu, sekalian bir saja satu botol" Ucapku dingin
Aku yang sedang tidak ingin berbasa basi segeralah mengucapkan kalimat itu dengan dingin. Bartender segera menyiapkan minuman yang kumaksud.
Sambil menunggu pesanan itu, beberapa gadis sengaja lewat arahku sambil berbisik-bisik
"Dia sangat hot dan sexy" Bisik salah satu gadis tanpa ku perhatikan
"Apalagi saat dia berada 'diatas' sambil menghujam vagina dengan juniornya yang panjang, besar, keras" Bisiknya sambil tetus memperhatikanku
"Bagaimana kau bisa tahu, benda itu panjang, besar dan keras? Apa kau pernah 'mencicipi'nya?" Tanya salah seorang gadis yang amat penasaran
"Kau tahu itu tercetak di celananya dan jika aku bisa melihatnya langsung aku seperti mendapat durian runtuh" Ucap salah seorang gadis yang sambil terus memperhatikanku.
Bartender yang telah selesai membuat minumanku segera menghampiriku dan memberikannya sambil memberitahu bahwa ada beberapa gadis yang tengah memperhatikanku.
Aku sungguh tidak tertarik dengan gadis-gadis itu.
"Ini tuan minuman anda dan sepertinya beberapa gadis tampak memperhatikan anda" Ucap bartender itu ramah
Aku yang diberitahu seperti itu segera menoleh kearah gadis-gadis
'Kalian bahkan tidak se sexy kekasihku. Kekasih? Masih pantaskah aku menyebutnya kekasih jika dia sudah melukaiku lagi' Kataku dalam hati. Segeralah aku membalikkan tubuhku dan menghadap minumanku.
Aku langsung meminum vodkaku dan bir ku. Entah mengapa aku lebih menyukai vodka.
Setelah menghabiskan beberapa botol bir dan beberapa gelas vodka. Kurasa aku mungkin sudah mabuk. Gadis-gadis tadi yang memperhatikanku kini duduk disisi kiri dan kananku. Mereka seolah mengingkanku untuk melakukannya sex dengan mereka.
Aku baru menyadari bahwa sudah pukul tiga pagi, segeralah beranjak pergi dari club setelah sebelumnya membayarkan apa saja yang ku minum. Aku tidak menyadari bahwa kedua gadis itu mengikutiku dan merangkul kedua lenganku.
"Oppa kita mau kemana?" Tanya gadis itu lembut
Aku hanya terdiam mendengarkan gadis itu beranjak.
'Sepertinya membawa gadis itu ke vila tempatku dengan jae tidaklah buruk. Bukankah jae sudah pergi. Yaaa jae sudah pergi' Kataku dalam hati sambil mencoba menyakinkan diri.
Segeralah kami masuk kedalam mobilku dan mobil yang membawa kami melaju dengan cepat menuju vilaku.
.
.
.
Begitu pintu vila itu terbuka, jae tampak terkejut dan kaget aku membawa kedua gadis kedalam vila.
"Kau masih disini" Ucapku lemah dan sempoyongan tanpa mencoba melepaskan rangkulan kedua gadis itu.
"Apa yang kau lakukan?" Ucapnya terkejut dan kaget
"Sudahlah oppa, tunjukkan kamarnya dan kami mau 'bersenang-senang'" Ucap gadis itu tidak sabar
Aku tidak menyadari bahwa salah satu tangan gadis itu kini sudah meraba-raba juniorku.
"Yaa, kalian berdua pergilah sebelum aku menyeret kalian dari sini" Ujarnya geram. Bagaimana tidak geram, kini aku tengah mencoba mencium salah satu gadis itu dan gadis yang lain meraba-raba tubuhku. Aku tanpa sadar, tanganku mulai meraba payudara gadis yang kini tengah kucium.
"Ahhhh ooppaaaa ahhh" Desahnya dibuat sesexy mungkin.
"Yaaa kalian berdua segeralah pergi dari sini!" Ucapnya marah
Gadis-gadis itu tampak tidak mengindahkan perkataan jae. Aku masih asyik mengecup bibir gadis itu lembut sambil mengelus payudaranya yang masih terbungkus. Segera jae yang merasa cemburu, kesal dan marah langsung menarik kedua gadis itu dan menyeret kedua gadis itu pergi keluar. Begitu dia kembali, dia menatapku dengan tatapan yang campur aduk.
"Kau merusak kesenanganku" Ucapku dingin datar
"Kesenangan apa? ha?! Apa kau kurang puas jika melakukannya dengan tubuhku, ha?!" Ucapnya marah
"Lalu siapa yang tadi menolak kusentuh?! Ha?! Bahkan mengataiku dengan 'Maka aku tidak heran jika ibumu DIPERKOSA', siapa?!" Ucapku marah
"Yun... Maaf aku tidak bermaksud" Ucapnya menyesal
"Simpan maafmu, aku tidak butuh. Ternyata selama ini aku salah, salah menilaimu. Kukira kau sudah belajar dari kesalahanmu yang dulu tapi aku salah kau tidak pernah berubah. Salahku adalah mencoba memberimu kesempatan, bahkan hingga kita mau meminta restu. Shittt" Ucapku marah
"Yun... Aku mencintaimu... Maaf" Ucapnya menyesal
"Entahlah, aku ragu akan hal itu sekarang. Kau mencintaiku? Kau mencintaiku apa mencintai perusahaanmu itu" Ucapku datar tanpa memandangnya.
"Yun, kau dan perusahaan adalah hal terpenting dalam hidupku. Jika aku disuruh memilih salah satu, maka aku memilih dirimu yun" Ucapnya sambil mulai mengeluarkan air mata.
Aku yang menyadari bahwa dia akan menangis tidak melakukan apa-apa.
"Aku ragu akan hal itu. Sudahlah, aku ingin menenangkan pikiranku dulu. "Ucapku dingin
Segeralah aku melangkahkan kakiku untuk keluar rumah lagi. Entah mengapa rasa mabuk yang menderaku perlahan menghilang. Jae menahan tanganku sehingga aku merasa ada sesuatu menahanku, segeralah menolehnya. Jae langsung mencium bibirku ganas. Dia langsung mengalungkan kedua lengannya dileherku dan aku langsung mendekap pinggangnya agar makin dekat denganku.
Ciuman panas dan saling menuntut pun kami lakukan. Saling melumat ganas seolah menghantarkan perasaan kami.
Seolah kami tidak mempunyai waktu banyak, jae menciumku ganas. Perlahan-lahan aku merasa dia seperti membutuhkan oksigen. Mungkin karena dia menciumku kdengan nikmat dan ganas.
Segeralah aku melepaskan ciuman kami, melihatnya mengambil oksigen tanpa melepaskan dekapanku.
"Lakukan yun..." Ucapnya yakin
"Lakukan apa?!" Ucapku pelan
"Perkosalah aku, seperti ayahku memperkosa ibumu. Bukankah kau yang menginginkan" Ucapnya pelan
Aku tahu dibalik sirat matanya yang yakin itu ada keraguan. Bukan keraguan karena melakukannya denganku tapi permintaannya kepadaku.
Cupp...
Aku hanya mengecup keningnya lembut.
"Tidurlah, kau lelah bukan. Biarkan aku pergi. Jaga dirimu baik-baik" Ucapku pelan
Aku mencoba melepaskan dekapanku dan segera berbalik sambil melangkahkan kakiku perlahan.
'Jangan menoleh kearahnya, Jangan. Semakin aku menoleh aku akan semakin susah melepaskannya. Biar bagaimanapun, cinta ini salah. Aku dan kau saudara. Aku harus bisa melepasmu.' Kataku dalam hati. Tanpa kusadari air mataku mulai menetes.
Jae yang menyadari bahwa aku akan pergi segera nemelukku dari belakang.
"Kajima... Jangan pergi... Kita bahkan belum berjuang untuk restu kita" Ucapnya pelan
"Bukan aku tidak ingin, sungguh. Tapi kau yang membuatku ragu. Jadi bukankah akan jauh lebih baik jika kita melakukan seperti apa yang ibuku dan ayahmu harapkan." Ucapku pelan
Jae yang tidak mau mencoba mengerti perkataanku langsung menarik tanganku, hingga kami terjatuh. Aku terjatuh diatasnya, mencoba untuk bangun namun ternyata aku jatuh diatas dadanya yang hanya tertutupi oleh kemejaku. Melihat dadanya yang seakan-akan menggodaku, membuatku berfikir aku harus menahannya.
"Kim jaejoong-sshi bisakah kau bangun" Ucapku pelan
"Tidak... Aku tidak mau bangun. Aku ingin kau merasukiku, menumbruk holeku dengan kasar cepat" Ucap jae pelan
"Jangan kim jaejoong-sshi, ingatlah kita saudara" Ucapku tidak rela saat mengatakannya
"Kita bukanlah saudara. Aku sedari dulu adalah anak tunggal dan tidak punya seorang hyung. Yang ku punya adalah seorang kekasih yang sangat kucintai" Ucap jae seraya mencoba membuka pakaianku.
Pakaianku tidak terlepas, dia hanya membuka dan memperlihatkan nippleku.
"Jae jangan seperti ini" Ucapku lemah
Jae tidak mengindahkan kata-kataku dan membalikkan tubuhnya dan memperlihatkan holenya yang mengodaku.
'Shitt! Jae yaa, kau tahu aku sudah mencoba menahannya, kenapa kau malah menggodaku' Kataku dalam hati
Jae seolah tidak menyadari bahwa aku sudah menahannya untuk tidak menyentuh holenya. Jae berhasil membuka celanaku dan juniorku keluar mengacung tegang.
"Cupp.. Mianhae baby, membuatmu hari ini tidak masuk kesarangnya" Ucapnya sambil mengecup juniorku
"Jae yaa, kita hentikan saja. Jika kau seperti ini terus, kau seperti bitch" Ucapku agak kasar
Jae terus menatap juniorku tanpa berkedip
"Aku memang sudah menjadi bitchmu, tidakkah kau lupa?" Ucapnya sensual
Entah mengapa terdengar olehku bahwa kini ia tengah mencoba menggodaku.
"Yunnie, kenapa kau belum menyentuhnya" Tanya jae penasaran
"Menyentuh holemu? Tidakkah kau kesakitan jika kita melakukannya terus menerus?" Ucapku lembut
"Aku tidak peduli. Aku hanya ingin kau memilikiku sekarang. Aku milikmu dan hanya milikmu" Ucapnya mencoba meyakinkanku.
Segeralah jae membalikkan badannya dan menghadapku.
"Yunnie... Aku tahu, aku sudah terlalu banyak melukaimu. Aku paham akan hal itu, biarlah aku yang mengobatinya. Perkosa aku yun" Ucapnya yakin tanpa keraguan
"Jae yaa, bukannya aku tidak ingin. Kau tahu sedari tadi aku mencoba menahannya. Aku tidak ingin melakukannya" Ucapku pelan
Mendengar perkataanku, seolah menolaknya langsung saja dia menangis.
"Apa yang harus kulakukan hiks agar kau mau melakukannya? Apa aku harus menaruh obat perangsang untukmu? Hiks" Ucapnya sambil mengeluarkan air matanya
Melihatnya mengeluarkan air mata, aku tidak tega. Aku mencoba menghapus air mata dari matanya yang indah. Jae langsung memelukku erat sambil menengalamkan kepalanya didadaku.
"Kau tahu, perkataanmu tadi melukaiku. Mungkin karena itu menyadarkanku bahwa cintamu tidaklah sebesar cintaku. Mungkin selama ini, aku hanya bermimpi bahwa kau akan mencintaiku sebesar cintaku padamu. Aku mati-matian menahan hasratku bukan karena mengingat kita saudara tapi karena kau tidak mencintaiku" Ucapku pelan
Jae yang mendengarkanku langsung memelukku erat.
"Kau tahu, aku bahkan sudah membayangkan jika suatu hari kita menikah. Kau mengenakan tuxedo yang akan selalu terlihat cantik sedangkan aku mengenakan tuxedo lengkap dan terlihat tampan. Kita akan seperti cerita-cerita dinegri dongeng yang memiliki putri dan pangeran. Kau putri dan aku pangeran. Sayang itu semua hanya mimpiku dan tidak menjadi kenyataan." Ucapku pelan
"Yunnieee... Hikssss maafkan aku" Ucapnya seraya menatapku
"Sudahlah tidak ada yang perlu dimaafkan. Kau pergilah, pergi dari kehidupanku. Jika kita bertemu anggap saja..."
Terpotonglah ucapanku karena ciuman lembut jae.
"Kau harus tahu, aku mencintaimu. Jangan pernah ragukan itu. Aku ingin menghabiskan sisa umurku denganmu. Hanya denganmu" Ucap jae yakin
"Entalah jae, bisa aku mempercayainya?" Ucapku ragu
Jae langsung mengecup bibirku lagi dengan lembut penuh perasaan.
"Percaya padaku ne?!" Ucanya lembut dengan tatapan polosnya untukku
Entahlah apa yang kupikirkan. Aku ingin memberinya kesempatan namun aku masih meragukan. Apa dia akan melakukannya lagi , melukaiku seperti tadi.
"Jika kejadian seperti tadi, kau boleh memperkosaku. Boleh merasukiku 24 jam full" Ucap jae yakin
"Baiklah... Terserah padamu. Kau tidak tidur? Ayoo tidur" Ucapku lembut
"Gendong aku yun" Pintanya manja
Segeralah aku mengendongnya ala bridal style.
Begitu tiba kamarku, segeralah aku merebahkan tubuhnya diatas kasur mencium keningnya lembut dan segera beranjak pergi dari sana namun jae menahanku.
"Tidurlah disini. Inikan kamar kita" Ucapnya lembut sambil menarikku.
Aku yang tidak siap akan hal ini, terjatuhlah keranjang tempat tidur kami. Jae yang melihat hal itu langsung saja memelukku erat
"Jangan pergi. Jangan minum-minum lagi. Jangan bawa gadis-gadis lagi" Ucap jae sambil merebahkan kepalanya didadaku dan mendengarkan detak jantungku.
"Aku tidak akan kemana-mana" Ucapku pelan
"Kau tidak bohongkan? Apa kau mau menemui gadis-gadis tadi?" Ucap jae posesif
"Tidak aku mau minum-minum sedikit melupakan bebanku" Ucapku pelan
"Berbagilah denganku, bebanmu itu. Aku tidak ingin kau minum-minum dan menanggungnya sendiri" Ucap jae sambil menautkan jari-jari kami
"Aku ingin melupakan semuanya." Ucapku pelan
"Tidurlah yunnie, masalahmu akan kau lupakan sejenak" Ucapnya lembut.
Aku hanya menatapnya sambil tersenyum dan mencoba tidur /mungkin.
Perlahan aku memejamkan mataku dan jae hanya terus menatapku.
"Aku mencintaimu yunnie. Kau harus percaya dengan hal itu" Ucapnya pelan tanpa mencoba membangunkanku yang dikiranya tertidur. Perlahan jae pun mengecup kedua mataku dan bibirku lembut.
"Jalja my love yunnie" Ucapnya lembut.
Perlahan jae terlelap dalam tidurnya.
Aku yang sedari tadi hanya memejamkan mataku perlahan membuka mataku dan mendapati sosoknua tertidur lelap sambil memelukku erat. Mencoba melepaskan pelukannya justru membuatnya makin erat memelukku.
"Aku juga mencintaimu jae." Ucapku lemah
Perlahan aku mengecup keningnya lembut dan menyusulnya kealam mimpi.
TBC._.
hallo :D
aku bawa lanjutannya... :D
ffku masih banyak kekurangannya, jadi harap maklum yaaa :D
makasih yaa nereview, ngefav, ngefollow ffku ini :D
itu penyemangatku :D
Balasan review :
Yunholic : jae nya gak rela yun nya jadi tontonan gratis hihihi
Unn Anna : Baik koq, karena sebenarnya penghalangnya bukan ahra, ahra kan udah kaya adik buat yun tapi gadis lain :o
Geelovekorea : lebay yaa? kan yun smaa yoochun sama junsu udah kaya saudara disini. menurutku kgak aneh yaa kalo aku buat yun juga marah sama mereka ._.
Geelovekorea : aku hanya mengambarkan sosok yunho yang memang agak berbeda. maaf yaa kalo gak suka :)
Guest 1 : lagi apanya? Nc? nanti yaaa hihihi
Noona : Iaa sippo :)) hwaiting :)
: Iaa sippo :) hihihih
makasih semuanya yaa :D
see you next chapter :)
Mind to review? :)
