Halo~ sudah lama sekali rasanya… Apa kabar kalian semua?
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Author: Aiko Fusui
Warning: AU, OOC, cerita ngayal tentang OKB dan OKB (orang kaya baru dan orang kere baru), gaje, typo, dan keanehan lainnya. NaruHina. Jika nggak suka, nggak usah dibaca, meski saya mengijinkan flame dan cercaan sepuas anda. Haha
Yoshaaa, meluncur…
This is my story, enjoy please… ^^
.
.
.
Target terpasang mantap di lima centimeter di depan hidung.
"Nee, jangan bohong untuk membuatku jadi putri, penuh manisan, gaun pesta, cantik luar biasa-yah meskipun aku sudah cantik-blahblahblah…" mengajukan kelingking kanan.
"Mudah, dan jangan lupa untuk membayar jasa ketok magic 'Jadi Putri' dengan merawatku, membuatku semakin tampan, membuatku kaya, kaya, kaya, blahblahblah…" melilitkan kelingking.
Kisah cewek OKB dan cowok OKB.
Klise? Jauh dari realita? Nggak masuk akal?
Terserah.
Karena sayangnya, yang menimpa mereka juga tidak bisa dimasukin akal.
LotreDamn
Hidup itu perjudian
.
.
.
Chapter 3: Mission Start!
-.-
"Minato-sama…"
Seorang perempuan dengan gaun mengembang tersenyum di balik kipasnya yang bisa dipastikan semahal lisensi drama korea. "Aku ingin tahu kemana Sayangku pergi, Minato-sama."
Tangannya yang dibalut semacam kaus tangan berenda menyingkirkan beberapa helai rambut panjangnya dari bahu kanan. Dengan dramatis dan diusahakan tampak seksi semaksimal mungkin ia menopang dagunya, berkedip dengan tatapan intimidasi pada pria blonde yang berkeringat dingin di tempatnya.
Minato, lelaki blonde yang mati-matian mengumpulkan iman, menjawab sekenanya. "K-kami tidak tahu, Hime-chan." Lalu susah payah meneguk ludahnya sendiri.
Ia terlihat sangat amat tersiksa, tentu. Kenapa? Karena dia lelaki normal yang masih sayang nyawa. Karena Minato lelaki normal, ia menyukai gadis manis berambut pirang di depannya yang duduk dengan gaun yang begitu 'mengundang' mimisan. Karena Minato lelaki normal, ia merasa senang karena mendapat kunjungan dari calon menantunya yang sangat bisa diandalkan untuk memakai make up berwarna peach favorit Minato. Karena Minato lelaki normal, ia mengutuk anaknya yang mendapatkan cinta dari gadis yang jika makan sebatang coklat saja minta disiapkan satu set meja penuh bunga-bunga mawar yang wangi.
Tapi karena Minato sayang nyawa, ia merutuki mendiang ayahnya yang mewariskan darah hidung belang padanya. Kushina, sang istri yang sedari tadi menginjak kakinya di bawah meja yang bertaplak lebar, menambahkan cubitan kecil menyakitkan di pahanya.
"Oh? Saya merasa Minato-sama tahu kok~" maju ke depan, menyentil ujung hidung calon mertuanya yang memerah sebelum kembali duduk manis di kursinya.
Ada ancaman yang diterima saraf yang kesakitan, diterjemahkan ke dalam otak Minato yang terus berdo'a bahwa dia benar-benar dalam bahaya. Maka dari itu, "Honey~" ia menoleh pada sang isteri yang dengan santai tersenyum lembut padanya.
"Hm?" dua tanduk imajiner menempel di kepala berambut merah, sangat pas. Minato menelan ludah, apakah selama ini dia menikahi iblis berkedok wanita cantik nun seksi yang pandai menyobek bungkus snack kesukaannya?
Calon menantunya mengalihkan pandangan, bosan. Memainkan rambutnya, kembali berusaha seseksi mungkin sembari membusungkan dada.
Minato istighfar dalam hati, sungguh ia ingin menangis.
"A-ku-cin-ta-ka-mu" katanya berbisik dekat telinga isterinya, sebuah mantra ampuh yang selalu bisa diaktifkan di saat-saat sempit seperti ini. Ia menarik diri, memandangi wajah isterinya yang masih belum berubah; tersenyum manis tanpa arti apapun.
"Tentu, Honey~ cepat selesaikan." Kata Kushina, lalu melepas cubitannya untuk meminum teh merah di hadapannya.
Berdehem, Minato menarik kembali perhatian calon menantunya yang tiba-tiba mengantuk. "Shion-hime…" menghela nafas karena merasa gadis itu masih menggodanya dengan mengeluarkan "Hm~?" yang begitu manja.
"Naruto, anak kami, sedang dalam misi."
Wajah Shion mengkerut, bingung. "Misi apa? Sayangku bukan seorang ninja kan? Aku tidak mau menikahi ninja. Mereka gelap."
Minato tertawa kecil, "Shion-hime pasti sudah tahu kalau anak bodoh i-"
"JANGAN SEBUT SAYANGKU BODOH, SIALAN!"
Pria blonde itu berjingkat di tempat, reflek memundurkan diri karena jeritan yang pertama kalinya ia temukan dari sosok cantik yang kini berdehem di balik kipasnya sembari kembali duduk menyilangkan satu kaki. Minato kembali istighfar, gagal ia menobatkan calon mantunya sebagai cewek terseksi di daftar khusus miliknya. Hey, Minato kesal dibentak, juga disebut sialan, kan?
"Minato-sama, Sayangku itu imut, sama sekali tidak bodoh… tolong lanjutkan." Kata Shion kemudian pada pria blonde yang mengangguk cepat.
Sudah, tidak usah menanyakan Kushina, dia hanya pemanis di ruangan ini. Tapi kenapa tiba-tiba terasa aura red habanero haus darah di belakang ya?
Setelah menormalkan apa yang tadinya meloncati garis normal, Minato kembali berbicara dengan berusaha memilih kalimat-kalimat yang diplomatis. Jika saja Naruto tidak membuang sebagian besar harta istana pada keisengannya di sebuah koran, Minato bisa saja tertawa lebih leluasa, ongkang-ongkang kaki di atas meja yang penuh dengan buah tropis sambil minta dipijit sang isteri pakai balsem yang dipakai di lebih 100 negara.
Tapi sekarang ini, posisinya tidak menguntungkan sama sekali. Negara api menyerang, dengan mengirimkan seorang puteri yang dari kecil sudah minta dijodohkan dengan puteranya. Memang tidak ada ledakan atau rudal yang mengebom kerajaannya tiap malam, tapi surat yang tadi pagi dibawa serta oleh Shion saja sudah cukup memporak-porandakan mentalnya yang bagai baja lapuk.
Negara api mengatakan akan memutus hubungan aliansi dengan Norway jika keinginan sang puteri tidak menjadi nyata. Sang puteri ingin bertemu Naruto yang sudah dari dua bulan lalu tidak pernah membalas sapaannya di jejaring sosial maupun BBM. Dan Naruto yang seharusnya kini sudah berada di daratan lain di bentang peta, seharusnya juga sudah menyelesaikan misi rahasianya. Misi rahasia yang tidak boleh orang lain tahu selain keluarga kerajaan, para pengawal dan staf kerajaan, kemudian keluarga-keluarga jauh dan beberapa penjaga gerbang yang menggosipkannya dengan ibu-ibu pasar, tidak apa-apa. Pokoknya selain yang sebutkan di atas, tidak boleh ada yang tahu. Kamu semua para reader juga nggak boleh tahu!
Jadi, karena misi Naruto adalah misi yang sangat rahasia, Minato hanya menyebutkan 'Tokyo' sebagai destinasi yang tepat untuk mencari keberadaan anaknya pada Shion yang matanya sudah menyiratkan banyak kerinduan yang minta dijebalkan pada orang yang tepat.
Shion berdiri, meneriakkan nama asisten yang selalu membawa ponselnya. Memencet angka satu lama sampai suara berat di seberang sana terdengar.
"Papa, aku akan ke Tokyo, tolong siapkan semuanya. Aku sayang Papa." Lalu melenggang manis ke hadapan Minato dan Kushina untuk mencium pipi dua calon mertuanya yang baik.
"Saya akan menjemput Sayangku, Minato-sama dan Kushina-sama tenang saja di sini. Tolong siapkan pesta dan altar yang bagus karena kami akan segera menikah."
Kushina cengo, melepaskan kaki suaminya yang bengkak, memandang tak percaya pada gadis yang berjalan anggun meninggalkan mereka.
Wanita berambut merah itu menunduk, mengatupkan dua tangan di depan dada, "Ya Tuhan… lindungi puteraku." Doanya khusyu sekali.
Aiko Fusui-LotreDamn
Hinata, di suatu tempat yang begitu lapang, dia berdiri di tengah padang bunga yang berwarna-warni. Membelakangi sesuatu sambil berharap. Dia selalu yang tercantik, selalu yang paling bersinar. Tidak ada jerawat maupun kawat gigi. Gaunnya yang berwarna pink mengembang anggun karena angin dari utara sedang berhembus. Dan guguran bunga bertebangan, membuatnya benar-benar terlihat sempurna sebagai gadis yang paling diinginkan untuk dijadikan pacar versi majalah apalahnamanyayangpentingmajalah.
Lalu, telinganya memerah karena suara seseorang di kejauhan yang memanggil namanya.
"Hinata-hime."
Ketepak-ketepak tapal kuda yang keras teredam dengan manis oleh rumput padang luasnya. Bahunya menegang dan di balik poninya yang selalu wangi, Hinata tersenyum. Perlahan membalikkan diri.
"Hinata-hime." Dia kembali dipanggil, dengan suara penuh kerinduan karena Hinata pantas diinginkan.
"My Prince…" jawabnya. Berdiri dengan dua kaki yang aman di dalam sepatu kaca bertumit tinggi. Mendadak dia menjadi begitu ahli berlari dengan gerakan gemulai yang ia pikir hanya bisa dilakukan dalam film-film.
Pangerannya yang rapi, turun dari kuda putih. Kedua matanya bersinar dengan hanya melihat sosok Hinata. Gadis itu tersipu, percaya diri bahwa pesonanya begitu memikat. Pinggangnya yang ramping menerima pelukan posesif Sang Pangeran. Harum. Maskulin. Hinata jatuh cinta.
Kedua tangannya bergerak, merangkul leher Sang Pangeran, adegan selanjutnya tergambar jelas di kepala Hinata yang tertutupi rambut lebat nun indah hasil salon terbaik sejagat raya. Wajah berdekatan, dan nafas menjadi tidak penting ketika ia dengan canggung menerima kehangatan bibir Sang Pangeran yang tersenyum begitu nyaman.
Harmoni dan denting piano bersahutan, lonceng gereja dan kicau burung meneriakkan cinta. Oh, Hinata ingin hidup seribu tahun lagi seperti ini.
Tapi, tetap saja, dadanya terasa sesak. Ia butuh udara, maka ia menjauhkan kepalanya dan membuka matanya yang serupa bulan untuk mendapati bahwa wajah Sang Pangeran begitu dekat dengan hidungnya.
"Kau benar-benar nafsu ya?"
Sosok Sang Pangeran buyar, pecah seperti gelembung sabun. Padang bunganya menyempit oleh dinding-dinding yang ia kenali, anginnya hilang berganti dingin udara AC menelusup ke dalam kulit lehernya yang terbuka. Dua bola biru jernih menatapnya, juga deru nafas pelan yang menggelitik kulit pipinya yang memanas, Hinata merasa bingung untuk memutuskan harus bersedih atau bahagia pagi itu.
Di depannya, seorang pemuda memasang senyumnya yang menyenangkan. "Tanganmu, posesif banget. Aku nggak bakal lari kalau yang kau minta adalah ciu-"
"KYAAA!"
JEDUG!
Setelah ini, Hinata yakin bahwa dahinya yang cemerlang akan terlihat sangat jelek.
.
.
.
Mata Hiashi menatap bergantian pada dua orang yang ada di depannya, bingung. Hanabi sudah berangkat sekolah duluan tadi, berkata bahwa dia memiliki tugas pagi untuk mengambil telur ayam di kandang sekolah. Dan Hiashi, terlalu tua untuk paham masalah dua remaja yang tidak terlihat akur sedang makan bersama di satu meja dengannya.
Ini tidak nyaman, pun tidak mengenyangkan.
Memutuskan untuk menjadi sosok ayah yang kaya lagi bijak bestari, Hiashi meletakkan garpunya.
"Apa yang terjadi, sebenarnya?"
Dua orang di depannya hanya bertatapan dalam death glare yang semakin tajam. Mana peduli dengan suara sumbang tidak penting dari seberang meja. Tidak ada jawaban, Hiashi merasa kesepian.
Tapi Hiashi tidak menyerah. "Hinata sayang-"
"APA!" Pria tua itu terkesiap, kehilangan kata-kata di hadapan wajah putrinya yang begitu jelek. Hinata dengan mulut penuh roti berusaha melotot ke arahnya. Tidak! Jika dibiarkan, Hinata akan gagal menjadi seorang bintang besar!
Menghela nafas, Hiashi perlu meluruskan masalah ini segera.
"Princess nggak pernah sejelek itu, Payah!"
Hiashi bersumpah bahwa suara itu bukan miliknya. Ia hanya sempat membuka mulut, belum bicara apapun!
"Hei, dipikir-pikir, Kau nggak ada bakat sama sekali buat jadi Princess, tau." Naruto menyuapkan irisan rotinya dengan bermartabat. "Pervert, juga bodoh. Kemampuanmu dalam mencium juga payah. Dan apa-apaan dengan cara makanmu itu? Oh… aku tidak pernah tahu ada makhluk sejelek dirimu."
Hiashi melempar pandang pada putrinya yang berwajah merah sampai ke telinga. Ada asap mengepul di atas ubun-ubunnya. Apa ini saatnya untuk menelepon pemadam kebakaran?
"Berhenti mengejekku." Desisnya, mati-matian menahan ledakan amarahnya.
"Tidak mau. Kau bagus untuk kuejek, sebetulnya." Tertawa, Naruto begitu cuek dengan aura gelap yang menyebar dari tubuh Hinata di sampingnya.
Satu-satunya pria dewasa disana hanya bisa diam, tak ingin ambil resiko dengan tangan kanan Hinata yang masih memegang pisau roti. Diam-diam bangkit dari kursinya, ia menyerah bahkan sebelum membuka genderangnya.
Seorang maid menghampirinya, menawarkan sarapan yang lebih tenang di halaman belakang yang menghadap kebun.
"Terima kasih." Katanya. Juga menyetujui usul sang maid. Hiashi berjalan dengan dua tangan terkait di belakang, duduk di kursi taman dan menghirup sebanyak-banyaknya udara demi kesehatan mentalnya.
Ia menghela nafas, meja makan semakin seru dengan teriakan dan bunyi piring pecah. Hiashi ingin menangis. Naruto dan Hinata seharusnya langsung menikah saja dan pindah ke kastil di pinggir pantai. Paginya akan damai, sekaligus impiannya memiliki anak lelaki akan tercapai, kan?
Aiko Fusui-LotreDamn
Kelas berakhir lama sekali, dengan satu kap tugas yang siap membuat malam minggu Hinata menjadi menyebalkan. Beberapa menit lalu, dosen membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari dua sampai tiga orang. Tidak ada yang aneh dalam jumlah mahasiswa kelas Hinata, semuanya bisa dilakukan.
Tapi toh, Hinata terlalu cantik dan menjadi sangat memuakkan. Dia mengedikkan bahu dan menjadi tidak disukai karena keangkuhan yang dirasa Hinata sebagai bagian dirinya yang sangat sempurna dan perlu dilakukan.
"Ne, Hyuuga-san, Kau terpaksa sendirian lagi, eh?" Dosennya yang ramah tidak membantunya tersenyum dengan mudah saat lembar kerja kelompok-untuknya individu-dibagikan.
Ia diam dan terpaku pada kalimat-kalimat penting yang seolah mengejek kredibilitasnya di atas kertas itu. Menahan diri untuk tidak menyobeknya, ia mengalihkan pandangan, dan tidak berhasil karena wajah Naruto yang mengawasinya begitu intens dari luar jendela kelas.
Begitu kelas benar-benar berakhir, Naruto otomatis menjadi magnet yang memukau, tampan tanpa paksaan. Yang dilakukan pemuda itu hanya menyandarkan tubuhnya ke jendela, melongok ke dalam kelas dimana Hinata masih menunduk sedih di meja yang sepi. Pemuda itu acuh pada teriakan kekaguman di sekitar, ia hanya merasa bahwa gadis Hyuuga menyebalkan disana butuh didorong keluar dari apapun.
Jadi, dia berjalan mantap mendekat, menggunakan suaranya yang terlatih dan kuat. "Oi, bangun." Keheningan sedetik sebelum jawaban teriakan kagum berisik terdengar dari luar kelas.
Naruto menoleh kepada mereka, terkejut sendiri. Ini pertama kalinya, sejak ia mengenal apa itu popularitas, ia mengacuhkan semua perhatian menarik itu dan terfokus pada gadis yang semakin murung di balik dua tangan yang menyembunyikan wajah di meja.
Ia merasa ada yang salah dengan otaknya. Gambar wajah Hinata yang tertidur, kamar yang tidak dikunci, inisiatif untuk membangunkannya bagai puteri, dan igauan konyol yang menggerakkan kedua tangan gadis itu memeluk lehernya. Pagi yang menyenangkan, hangat, dan lembut bibir Hinata yang terasa memberi kenyamanan pada hatinya. Ia merasakan panas, di suatu tempat dalam dirinya, yang tidak pernah ia ketahui, pun tidak pernah ia alami. Rasanya aneh, menjengkelkan, tapi sekali lagi… Naruto seolah menjadi terbiasa dengan hal-hal baru yang mulai mengganggu hidupnya karena cewek ini.
Pemuda itu merasa perutnya tergelitik, tapi tak ambil pusing dengan mengatakan bahwa ini adalah bagian dari jet lag yang terlambat.
"Hei, Kau bisa bangun tidak?" kali ini dengan guncangan di rambutnya yang halus. Suara geraman tak jelas tertangkap telinga Naruto. "Apa?" tetap menarik-narik rambut gelap gadis di bawahnya.
"Berhenti menyentuh rambutku, Bodoh! Kau tidak mengerti berapa banyak waktu yang harus kuhabiskan untuk membuatnya lembut dan berkilau kan!"
"…"
"Apa? Setelah menciumku dua kali tanpa permisi, Kau hanya akan mengatakan bahwa aku makhluk paling jelek di dunia? Huh?"
Mata biru Naruto melebar, terlalu kaget untuk sadar bahwa ia terpukau pada dua bola perak serupa bulan yang berkaca-kaca, pada dua pipi yang memerah dengan alis menekuk sedih sekaligus meminta perlindungan, pada wajah serupa anak anjing yang begitu manis… dan rasanya sulit untuk ditolak.
Pundak Hinata mulai menegang dalam isakan yang teredam oleh tekadnya. Membuatnya terlihat tak berdaya di mata Naruto. Membuatnya terlihat sangat cantik.
Maka, Naruto membungkuk, memeluk kepala itu ke dalam dadanya. Menyenandungkan kata-kata penghiburan dan membiarkan bajunya yang keren basah karena Hinata mendadak menjadi anak anjing yang cengeng.
.
.
.
Nah, mungkin kalian akan mulai paham bagaimana alur cerita ini berjalan. Dua manusia yang saling benci, saling melempar ejekan, dan kemudian seorang yang cantik lagi berkuasa datang karena ia memiliki hak untuk berada di antara mereka. Alur ini datang dari benak yang asli, meski tidak bohong jika alur ini tergolong mainstream.
Namun, Shion tak ambil pusing. Mau mainstream ataupun tidak, itu tidak masalah baginya. Yang ia inginkan hanya bertemu dengan Naruto-nya dan melangsungkan pernikahan secepat ia jatuh cinta pada pemuda itu.
Hidupnya bahagia sebelum ini, ia bisa bertemu setiap hari dengan pujaannya, memintanya duduk menemani dan minum teh merah di balkon danau buatan di samping istana, atau sedikit memaksanya pergi ke opera sabun tentang romeo yang jatuh cinta pada teman lelakinya sendiri.
Lalu, di suatu pagi ketika ia membuka matanya, ia teringat Naruto-nya. Berencana berkunjung dan ditolak secara halus dari pihak Kerajaan Norway. Naruto-nya pergi, dan ia tidak memberitahu Shion sebelumnya! Ini salah! Naruto-nya pasti kesurupan!
Dan berita itu datang dari ayahnya yang mabuk, bahwa Kerajaan Norway mengalami krisis dan terpaksa mengambil hutang besar dari Negara Api. Martabat Naruto-nya akan runtuh, dan Shion tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia bangkit, mengambil pedang dan harakiri. Err… bukan begitu sih, hehehe.
Intinya, dia melobi ayahnya, mengambil pelajaran singkat tentang bagaimana cara menjatuhkan pendapat lawan dan dengan persiapan maksimal, ia pergi ke Kerajaan Norway yang hampa tanpa kehadiran Naruto-nya yang ia rindukan.
Naruto-nya hilang. Pergi. Diculik alien. Shion harus membebaskannya sebelum perang antar galaksi dimulai. Mereka harus menikah dan punya lima puluh anak, bahkan kalau Naruto-nya meminta lebih, Shion akan sanggup menghadapinya!
Makanya, karena sekarang dia sudah punya banyak informasi, dan sebuah tempat yang terdengar tidak manusiawi menjadi destinasi Naruto-nya pergi, ia akan menghampiri apapun yang terjadi.
Rencananya; sehari bertemu Naruto-nya, berpelukan dan kencan di hari berikutnya, kemudian pulang ke Negara Api, mereka menikah, dan hidup bahagia selamanya. Hahaha, Shion cukup percaya diri karena dia adalah ahli strategi. Rencananya sungguh cemerlang, bukan?
Dan hari ini, langit tampak mendung saat dia keluar dari bandara. Matanya yang berkilau memutar bosan karena asistennya yang berjalan pelan dengan dua puluh dua kopor besarnya. "Kita harus cepat bergerak, Temujin." Katanya dingin, memandang jauh pada menara besi di kejauhan.
"Sayangku pasti sedang ketakutan di suatu tempat yang aneh ini."
Shion meminta ponselnya pada Sang Asisten, memasukkan kode dan wajah tampan Naruto yang tertidur menyambutnya sebagai wallpaper. Sekejap, wajahnya memanas, ia menunduk dan menekan keinginan untuk masuk ke dalam layar ponselnya sendiri.
"Nee, Sayangku, jangan takut… Shion-chan akan menjemputmu pulang." Lalu memberikan kecup pada gambar yang terdiam.
Ia kembali memandang ke depan, membuat tujuan pasti untuk menemukan Naruto. Ini akan sulit, pikirnya. Jadi, langkah pencariannya akan dimulai dengan sebuah taksi yang menepi membuka pintu kepadanya. Shion membuang semua rasa jijiknya, dan bertekad untuk segera menangkap Naruto-nya.
Aiko Fusui-LotreDamn
"Hei."
"Hm?"
"Lepaskan aku."
Tertawa, "Aku bukan pelayanmu."
"Oh?" menggerutu, "Siapa yang bilang akan menjadikanku seorang puteri dan bersedia menjaganya sampai hal itu terjadi?"
Pelukan mengendur, dua mata biru tersenyum lurus pada sepasang mata perak yang bersemu menanti jawabannya, "Aku keren sekali. Hahahaha." Dan dua tangan tan itu terlepas, berkacak pinggang.
"Huahaha, aku benar-benar keren. Bukan begitu? Hahaha… Ini seperti aku adalah seorang ksatria dan kau katak yang meminta ciumanku, hahaha~"
Di depannya muka sang gadis menerima banyak warna merah yang membuatnya terlihat seperti diguyur selai strawberry. "YAMETE!" tapi tidak ada yang berhenti.
Lima menit dan tawa itu berhenti, sang gadis yang terdiam membuat pemuda itu merasa aneh.
"Oi, Kau nggak apa-apa, eh?"
Kepala itu mendongak, poni ratanya menyingkir dan alisnya yang bertaut menampakkan ekspresi yang penub tanda tanya.
Tergagap, "T-ta-tadi pagi, apa yang terjadi?" mukanya masih merah.
Sang pemuda menghela nafas, bosan. "Kau mau Aku ngomong gimana lagi? Kita ciu-"
Gerakan cepat menutup mulut Sang Pemuda. "Bukan itu y-yang kumaksud."
"…"
"K-kau, apa yang Kau lakukan di k-kamarku?"
"Menciummu."
Mukanya lebih memerah, kepalanya berdenyut seolah ada kepulan asap yang keluar dari telinganya. Ia malu, malu sekali. Dan kehilangan kata-kata.
Dan Sang Pemuda tertawa.
"Kenapa Aku ke kamarmu, untuk membangunkanmu. Ayahmu yang menyuruhku. Apa yang kulakukan? Mencium pipimu sebelum akhirnya Kau yang dengan nafsu-"
"Hentikan!" kepalanya menunduk, ia ingin mati!
Tapi Sang Pemuda yang iseng meneruskan, "Dan kenapa Aku tidak menolak ciumanmu, mungkin aku orang yang mesum-" tonjokan di perut tiba-tiba membuatnya mundur, tapi tidak membuatnya berhenti mengoceh, "-mungkin juga aku menyukaimu."
Sang Gadis terkesiap. Beku di tempatnya. Perlahan mendongak hanya untuk memandangi senyuman lembut dari wajah pemuda yang suatu hari di masa lalu pernah membuatnya jatuh cinta hanya dari gambar diamnya.
Ia tidak mengerti, pun tidak mampu melawan getaran aneh yang mulai merambati pipi. Gadis itu seperti dibawa kembali ke masa-masa menyenangkan antara dirinya dan mata biru yang menawan memandanginya dari poster besar. Hatinya mengembang perlahan, ia siap jatuh cinta lagi pada orang yang sama saat i-
"Tapi bohong. Hahahaha."
Sialan! Batal batal batal! Hinata tidak akan jatuh cinta lagi pada orang itu. Pada Naruto yang benar-benar membuat amarahnya mendidih sampai ke puncak gunung fuji.
Dia mengumpat, keras. "Br*# $*k!"
Aiko Fusui-LotreDamn
Bersambung…
Nah, sudah sangat lama semenjak update saya yang terakhir kali. Dan oh, karakter penulisan saya agak berubah dari chapter satu dua ke chapter ini. Maaf jika humornya berkurang, apa saya harus ganti genre? Ada usul genre yang pas untuk ini?
Dan yah, alur ceritanya sudah mainstream memang, hehehe.
Balasan review:
Manguni: terima kasih ^^
Himamura Kiiromaru: Maaf karena tidak bisa update cepat, hehehe. Dan saya pikir humor di chapter ini agak berkurang. Terima kasih ^^
dylanNHL: Ah, kalau begitu ayo ramaikan dengan membuat fic-fic semacamnya ^^. Soba ni Iru Kara? Ehm… nunggu giliran :p, btw Terima kasih ^^
Guest: emang Naruto nista kok, hihihi. Terima kasih ^^
Sahwachan: hihihi, iya. Naruto-kun selalu ganteng kok, Terima kasih ^^
Bohdong palacio: Terima kasih ^^
Hyuuga Divaa Arashii: saya akhirnya tahu siapa itu cak lontong. Tapi saya nggak terlalu suka sebenarnya, hehehe. Wah, benarkah? Tapi saya nggak yakin chapter ini selucu yang kemarin. Tapi, Terima kasih ^^
Meong chan: ehehe, awas kalau ketawa jangan lebar-lebar ya, Terima kasih ^^
Dragon Hiperaktif: benarkah, waaa Terima kasih ^^
Zombie NHL: ini hanya fic yang numpang nyempil di archive Naruhina, hehehe. Terima kasih ^^
Yuriski Suryani: ehehehe, bukan sih. Terima kasih ^^
Vinara 28: Ahaha, saya jadi agak takut kalau chapter ini kehilangan sense humornya. Udah yakin, tapi nggak yakin dia bisa suka lagi sama Naruto. Ah, saya bukan author yang baik, saya nggak bisa menerima request, maafkan saya #ojigi. Terima kasih ^^
Kanda NHL-desu: Ahahaha, saya ketawa pas baca kalau kamu ketawa sampai mencret. Hahaha, Terima kasih ^^
Nyuga totong: Terima kasih ^^
Kakakku: Terima kasih masukannya ^^
Shin: ini hanya fanfic biasa yang numpang nyempil di antara berjuta fanfic awesome lain di archive Naruhina. Hehehe, iya harus. Efek pengen anak cowok sih.
Ff: Terima kasih ^^
Shin (lain lagi): Boleh nebak kok ^^, tapi tidak ada kuis tebak berhadiah. Hahaha. Terima kasih ^^
ErinMizuna-Verillisa: hahaha, maybe yes, maybe no ^^. Yep, Hinata disini nyebelin. OOC sekali dia-nya. Terima kasih ^^
Terima kasih sudah mampir, selalu dinanti review dari kalian ^_^
Salam
Aiko Fusui
