Frozen chap 7...

-Inilah pilihanku. Ku harap kau akan menyukainya. - Jung yunho

*note All yunho POV

Selamat membaca :D

Perlahan aku mengecup keningnya lembut dan menyusulnya kealam mimpi.

.

.

Sinar matahari pagi mencoba menerobos dari balik sela-sela jendela. Dapat kurasakan hangatnya sinar matahari pagi namun entah mengapa, pria cantik disampingku enggan membuka matanya. Perlahan-lahan aku membuka mataku dan mendapatinya masih terlelap dalam tidurnya. Kulihat wajahnya yang damai dan tenang saat itu.

"Kau tahu jae, saat kau tertidur kau amatlah manis. Aku menyukainya, sangat menyukainya. Bisakah aku berharap dapat memilikimu seutuhnya?" Kataku pelan tanpa mencoba membangunkannya. Perlahan-lahan aku mulai melepas dekapannya dan beranjak bangun dari ranjang tempatnya tertidur.

Aku ingin sekali pergi, pergi meninggalkannya biar bagaimanapun aku masih saudara dengannya namun masih ada sisi dimana aku harus menjaganya. Jika aku meninggalkannya apa dia akan baik-baik saja? Bagaimana jika dia tidak baik-baik saja? Bagaimana jika tidak ada yang memperhatikannya, memperhatikan waktu makannya dan bagaimana jika dia sakit?

Kini aku berada didapur membuat secangkir kopi untukku dan segelas susu hangat untuknya. Aku terus memikirkan hal itu tanpa menyadari bahwa kini ada seseorang yang melingkarkan tangannya dikedua lenganku.

"Pagiiii yunnie..." Ucapnya lembut

"Kau seharusnya memanggilku hyung" Ucapku pelan

"Hyung?! Kau bercanda?! Kau kekasihku bukan kakakku" Ucapnya tegas

"Biar bagaimanapun aku adalah kakakmu meskipun kita keluar dari rahim yang berbeda, kau suka atau tidak suka itu adalah kenyataan" Ucapku pelan untuk tidak memancing amarahnya.

"Kau kekasihku dan akan menjadi suamiku. Kau tidak akan pernah menjadi kakakku!" Ucapnya tegas

Aku yang tidak ingin melanjutkan hal ini, langsung sama meminum kopi yang kubuat sampai habis.

"Aku..." Ucapku tertahan

Saat aku ingin mengucapkan aku ingin mandi, jae memotong ucapanku dengan ciumannya. Ciuman lembut dan penuh perasaan.

Tanpa kusadari, kini jae tengah duduk di atas meja tempatnya memasak.

"Yunnie, bagaimana jika melakukannya disini?" Tanya jae sensual sambil menggodaku

"Melakukannya disini? Kau yakin?" Ucapku memastikan

Bagaimana tidak, dia memintaku melakukannya di dapur. Aku masih dapat mengerti jika melakukannya di toilet atau kamar namun ini dapur. Kau tidak salah jae, kau tidak sakitkah

Aku mencoba menatapnya sambil mencari kepastian. Kepastian akan keinginannya.

"Aku ingin mencoba hal baru yang menantang yunnie" Ucapnya menggodaku.

"Kenapa tidak sekalian saja kita melakukannya dilapangan? Sehabis pertandingan begitu, pasti seru" Ucapku memikirkan hal tersebut

"Dan kemudian kita ditangkap karena hal itu?" Ucap jae yang terus menggodaku.

Aku tahu kini dia tengah menggodaku, menggoda dengan nada sensualnya.

Tanpa kusadari jae sudah mengalungkan kedua lengannya padaku sambil terus menatapku. Aku yang menyadari tatapannya langsung saja mendekatkan wajahku kepadanya mengecupnya pelan dan singkat. Jae yang seolah tidak sabar langsung saja menyambar bibirku ganas.

Tangan-tangan nakalku kini mulai bekerja. Tangan kiriku menyelusup masuk kedalam dadanya mengelus nipplenya dengan gerakkan kasar dan ganas sedangkan tangan kananku menyelusup kedalam kedua pahanya. Bahkan aku tidak tahu bahwa dia belum menggunakan celana dalamnya setelah semalam memperlihatkan holenya padaku, langsung saja aku mengelus juniornya dengan kasar.

"Mmmmmmmmcccccckkkkkkkppppppp ahhhhh..." Erangannya tertahan lantaran aku masih asyik melumatnya, menciumnya dengan kasar dan ganas, masih asyik mengabsen giginya.

Perlahan-lahan aku merasa seolah terdorong, atau jae tengah mencoba mendorongku.

"Kenapa kau mendorongku?" Ucapku marah saat ada yang mencoba merusak kesenanganku.

"Kau mau membunuhku?!" Ucapnya sambil mengambil nafas sebanyak-banyaknya.

Jae yang merasa bersalah karena mendorongku, langsung saja mengambil tanganku dan membimbingnya ke juniornya.

"Dia milikmu, kau bisa memainkan sepenuhnya." Ucap jae yakin

Tanpa aba-aba, langsung saja aku membuka kemeja yang melekat ditubuhnya. Masih dapat kulihat beberapa tanda yang kubuat untuknya dan tanda-tanda itu seolah enggan hilang dari tubuh jae.

Aku yang memandang terus menerus kearah tubuhnya, menatap keindahan pada tubuhnya.

"Yunnie jangan hanya dipandang, kau membuatku malu" Ucapnya malu-malu

Aku tersenyum menyeringai saat mendengar perkataannya. Langsung saja aku menenggalamkan kepalaku di leher serta bahunya, membuat tanda kepemilikkanku padanya.

Perlahan ciuman dari leher dan bahu terus turun, sampai di pemberhentian pertama kedua nipple jae yang tengah menggodaku.

"Yunnnnnn ahhhhhh teruuusssss ahhhh" Desahnya nikmat saat aku mulai menggigit menjilat memainkan nipplenya dengan gigiku bahkan aku dapat melihat bekas gigiku menggigit nipplenya yang menegang itu. Tanpa sadar aku terus menggerakkan tanganku untuk mengocok junior jae dengan brutal.

"Arghhhhhhh yunnn pelannnnnnnnn-pelannnnnnnn uhhhhhhhhh" Desahnya nikmat

Begitu aku tiba dimainan favouriteku, langsung saja aku menggigitnya lembut, memainkan dengan amat sangat lihai dan lihatlah jae terus menerus mengerang, mendesah menikmat.

"Yunnnnnnn ahhhhhh kaauuuuuuu hebatttt" Desahnya nikmat sambil menggelengkan kepalanya kekiri dan kekanan seraya menikmati apa yang tengah aku lakukan.

Tanpa jae sadari, aku kini mulai merentangkan kakinya huruf M. Kepalaku kembali menyelusup kedalam kedua pahanya dan melihat holenya yang berkedut-kedut minta diisi. Langsung saja aku mulai mengecupi holenya tanpa rasa jijik. Bukankah ini adalah surgaku, mengapa aku harus merasa jijik. Jae yang menyadari hal itu perlahan mencoba bangun namun dia mengalami kesulitan lantaran aku terus memainkan lidahku kedalam holenya, mencoba menusuk"nya dengan lidahku.

"Yunnniiiieeeee ahhhhhhhh" Desahnya nikmat

Aku terus saja melakukan hal itu, hingga kuasadari bahwa jae akan segera keluar karena dia terus menahan kepalaku untuk terus berada di holenya.

Crott

"Yunnnnieeeeeee arghhhhhh" Desahnya nikmat sambil mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Setelah jae merasa cukup langsung saja mengecup jari-jariku yang berlumuran spermanya. Tanpa ada rasa jijik, dia terus mengecup dan menjilati tanganku. Kurasa dia membayangkan saat dia mengobral juniorku.

Tanpa kusadari, kini jae sudah bangun sambil terus menjilat dan mengecup jariku.

"Jae maafkan aku yaaa" Ucapku lembut sambil mengecup bahunya dari belakang.

Jlebbb

Aku memasukkannya tanpa mempersiapkannya.

"Arghhhh yunniee... App" Ucapnya menahan sakit.

Aku yang tidak ingin dia merasakan sakit langsung saja memasukkan jariku kedalam mulutnya dan memaju mundurkan jariku kedalam mulutnya. Sambil aku menggerakkan jariku, juniorku dalam holenya ikut bergerak.

"Uhhhhh jae ahhhhh..."Desahku nikmat saat juniorku serasa dipijit oleh holenya.

Aku merasa jae mulai terbiasa dengan juniorku berada didalamnya dan gerakkan juniorku pada holenya yang dapat kukatakan cepat, ganas membuatnya semakin bernapsu mengemut, menjilati jariku.

Perlahan aku mulai melepaskan jariku dalam mulutnya

"Yunnnieeeee ahhhhh... Deepeerrrrrrr ahhhhhhh moreeeeeee" Desahnya nikmat sambil menikmati hujaman pada holenya saat setelah aku melepaskan jariku pada mulutnya.

Aku mengenjot hole jae memang secara cepat, ganas dan kasar. Jika aku menggenjotnya dengan lembut dan pelan-pelan bisa kubayangkan jae akan protes dan protesnya bisa memakan waktu 2 hari. Itu berarti selama 2 hari aku harus bisa memuaskannya.

"Arghhhhhhhh yunnnieeeeeee fassterrrrrrr ahhhhh deepeeeerrrrrrr ahhhhhhhh" Desahnya nikmat, seiring hujamanku pada holenya yang tambah kasar dan brutal. Aku terlihat seperti mengoyak hole jae, seakan holenya harus dapat ku bobol. Tidak salah jika aku melakukannya saat berdiri, ini terasa nikmat dan memuaskan.

"Arghhhhhhhhh jaeee" Desahku nikmat saat jae mulai menyempitkan holenya.

"Argghhhhhh yunnniiieeeee ahhhhh akuuuuu uhhhhhhh keluarrrrrr ahhhhh" Desahnya nikmat sambil mengambil nafas

Crotttt

Jae kemudian memuntahkan spermanya kelantai. Sambil jae mengambil nafas, segeralah aku membalikkan tubuhnya. Memandangnya dengan tatapan sayu. Aku langsung menyeka keringat yang membanjirinya.

"Lanjutkan yunnie..." Pintanya lembut

Aku langsung saja mengendongnya, menciumnya tanpa melepaskan tautan diantara kami. Aku menciumnya sambil berjalan, kini dia yang berada dihadapanku. Jae menciumku dengan semangatnya seolah-olah aku adalah candunya.

Begitu kami tiba dikamar, langsung saja aku merebahkan tubuhnya dikasur dan setelah itu mengunci pintu kamar kami.

Tanpa aba-aba jae langsung menungging tubuhnya.

"Yunniee cepatlah" Ucapnya memaksaku untuk segera memasukkan kembali.

"Baiklah tuan putri, segera kulaksanakan" Bisikku sambil merendahkan tubuhku

Jleebbb

"Arghhhhhh yunnieee" Desisnya sakit mungkin jae kaget karena gerakkanku tiba-tiba.

Tanpa mengindahkan desisannya langsung saja aku mengenjot holenya dengan kasar, brutal dan ganas.

"Ahhhhhh yunnieeeee deeeeeeppppeerrrrr ahhhhh tusuukkkkkkk lebiiiiiihhhhh dalammmm lagiiiii ahhhhhh" Desah nikmat sambil menuruti permintaannya

"Holemu rakus sekali sayang, melahap juniorku terus menerus sambil terus ahhhhhhh" Bisikku lembut pada telinganya

"Ahhhhhhhh yunnniiieeeeee hoooollllllleeeeekuuuuu tttttiiiiidddddakkkk ahhhhh rrrraaaaakkuuusss" Desahnyaa nikmat sambil mencoba membalas ucapanku

Aku mendengarnya bukan seperti balasan melainkan seperti desahan.

"Terussss yunnniiieeee ahhhhh" Desahnya nikmat

Aku tahu, aku akan segera keluar. Dapar kurasakan juniorku yang membesar didalam holenya.

Crott

"Jaeeee ahhhh" Desahku nikmat seraya menikmati organisme yang baru kualami

Langsung saja aku menidurkan badanku disampingnya. Jae yang menyadari hal itu langsung saja memelukku dan mendekatkan dirinya ke dadaku.

"Yunnie yaa, jangan marah lagi. Kau membuatku takut" Ucapnya jujur sambil memainkan nippleku

"Kau juga harus bisa menjaga perasaanku, jika kau tidak ingin aku marah lagi padamu" Ucapku pelan

Jae merasakan bahwa aku masih marah dan kecewanya, kemudian memikirkan sesuatu.

"Bagaimana jika kita melakukannya lagi?" Pinta jae setelah memikirkan hal apa yang harus dilakukannya.

"Baiklah, terserah padamu" Ucapku lembut sambil menuruti permintaannya.

Jae langsung saja mendudukkan dirinya ditengah kedua pahaku. Tentu saja hal itu tidak disia-siakan jae, langsung saja dia memasukkan juniorku pada holenya.

"Uhhhhh yunn.." Desisnya nikmat seraya bersamaan dengan

"Jaeee ahhhh" Erangku nikmat

Tanpa aba-aba pula jae menggerakkan holenya naik turun dengan cepat, ganas, kasar dan brutal. Entahlah dia seperti menginginkan saat hujaman pada holenya kasar, brutal tidak lembut. Kurasa pengaruh selama ini aku melakukannya dengan kasar.

'Damn itttt! Aku menyukainya. Saat jae meliuk-liukkan tubuhnya diatas tubuhku, saat hole jae menyempit. Shitt! Baby jae kau sungguh hot baby, sungguh menggodaku' Kataku dalam hati

"Yunniiiieeeee ahhhh toooouuuucccchhhh meee ahhhhh" Desahnya nikmat sambil mengarahkan kedua tanganku didadanya. Langsung saja melihat hal itu, aku meremas dadanya. Meremasnya dengan kencang dan ganas. Perlahan-lahan aku mendekatkan diriku pada dadanya dan mulai menggigit nipplenya yang menggodaku. Tanganku yang kiri menganggur memainkan nipple disebelahnya dan tangan yang satu lagi memainkan juniornya.

"Arghhhhhh yunnieeeee" Desahnya nikmat saat gerakkan naik turunnya sampai pada titik prostatnya, ditambah aku 'menghajar' kedua nipple dan juniornya dengan ganas, kasar dan brutal.

"Ahhhhh jaee" Desahku nikmat saat holenya mulai menyimpitkan lagi

"Yunnie aku tidak tahan... Ahhhhhhhh deeeeppperrrrr uhhhhhh fassssttttterrrr" Desahnya nikmat tak tertahankan.

Mendengarnya berkata seperti itu, langsung saja aku membalikkan keadaan. Kini dia berada dibawahku, bawah kendaliku bawah kungkunganku.

Langsung saja tanpa aba-aba aku mengenjot holenya dengan ganas, brutal dan kasar. Aku tahu jika aku mengenjot holenya dengan lembut itu akan membuatnya frustasi karena menurutnya gerakkan lembut justru tidak akan membuatnya nikmat.

"Yunnniieeeee ahhh... Fasssssstttttterrrrrr ahhhhhh" Desahnya nikmat

"Kauuuuu tampakkkk hott sayang" Bisikku pada telinganya yang jelas memicu napsunya.

Tanpa aba-aba aku langsung saja meraup bibirnya, menciumnya dengan ganas dan brutal.

"Mmmmmmmmccccckkkppp" Erangan dan desahan jae yang tertahan.

Ini permainan kami yang panas atau memang sudah memasuki musim panas? Aku merasa sangat amat 'kepanasan'.

Ciumanku pun turun ke leher dan bahunya yang seakan-akan menggodaku untuk melahapnya.

"Urghhhhhhhh yunnnn... Aku... Kellllllluarrrrr... Arghhhhhh yunniiieeeeee" Desahnya nikmat saat mendapatkan organismenya.

Aku hanya memelankan gerakkanku pada holenya, saat dia menetralkan nafasnya dan menikmati organismenya.

"Yunnie, ku mohon gerakkannya jangan sepelan itu gerakkannya. Bisa-bisa kau membuatku frustasi" Ucapnya saat merasakan gerakkanku lambat pada holenya.

Aku sengaja melambatkan gerakkannya untuk melihat reaksinya.

"Cara memohon yang benar sayang, bukan seperti itu" Bisikku pada telinganya sambil menggigit telinganya.

"Yunnie, bitchmu ini tidak suka dengan gerakanmu yang lambat. Dia menyukai gerakkanmu yang ganas, brutal" Ucap jae dengan nada sensual dan menggoda

"Kau sudah jadi 'anak manis' selama beberapa hari, baiklah" Ucapku yang mungkin terdengar olehnya seperti perintah

"Anythiiiiiingggg ahhhhhh yunnniieeeeeee uhhhhhhh kauuuuuuu heeeebatttttttt" Desahnya nikmat saat aku mulai menghujam holenya dengan kasar dan brutal

"Urghhhh jaeee kauuuu menyemmmmpiiitttt ahhhhhhh" Desahku nikmat seraya menikmati apa yang kini holenya berikan padaku

"Yunnnieeeeeee arghhhhhhh" Desahnya nikmat saat merasakan hujaman pada holenya yang makin brutal dan ganas

"Arghhhhhhhh jaeeee kauuuuuu hebatttt ahhhh" Desahku nikmat

Perlahan juniorku mulai membesar dalam holenya. Jae yang merasa hal itu, langsung saja makin menyempitkan holenya.

"Arghhhhh jaeee"

"Urghhhhhhh yunniee"

Crottt

Aku keluar, dapat kulihat spermaku merembes di sela-sela pahanya. Jae seolah tidak peduli dengan hal itu.

Desahku dan erangannya nikmat saat aku mengeluarkan spermaku didalam holenya.

Aku langsung merebahkan tubuhku disamping jae, jae yang melihat hal itu membaringkan tubuhnya didadaku.

"Jaee... Apa tidak apa-apa mengeluarkannya didalam?" Tanyaku penasaran

"Tidak apa-apa bukankah dia sudah seharusnya mengeluarkan ditempatnya, memangnya kau ingin mengeluarkan dimana?" Ucapnya sambil memainkan nippleku.

"Uhhhhh... Kau itu. Aku seharusnya mengeluarkannya di perempuan kemarin. Perempuan kemarin itu bahkan menggodaku terus saat aku masih di club" Ucapku sambil membayangkan

Jae yang merasa cemburu mendengar hal itu, langsung menatapku dengan mata menyalang. Dia seperti gajah yang akan mengamuk

"Yunnieeee katakan sekali lagi" Ucapnya kesal

"Perempuan kemarin itu sangat sexy dan bodynya. Bodynya sangatlah menggoda, apalagi payudaranya yang kencang itu membuatku terbuai. Apakah dia masih ketat? Kurasa masih" Ucapku sambil membayangkannya.

Jae yang merasa cemburu akan hal itu, langsung saja menciumku ganas dan brutal.

"Jangan pernah memikirkan gadis-gadis lain, kau sudah menjadi milikku dan hanya milikku. Aku tidak suka kau membayangkan gadis itu. Kau hanya boleh memikirkan aku dan hanya boleh membayangkan aku!" Ucapnya marah disela-sela ciumannya padaku.

"Tergantung baby, seberapa jauh kau mampu memuaskanku" Ucapku sambil menunjukkan smirk

"Ayoo kita lakukan lagi sampai kau puas" Ucap jae sambil menatapku menyalang. Aku tahu jika jae kini dikuasai oleh amarah yang mengebu-gebu.

"Well... Baiklah, kita lihat seberapa mampu kau bertahan" Ucapku menyeringai

'Hahahaha kau terjebak sayang, kau akan tahu betapa ganasnya seorang jung yunho' Kataku dalam hati.

Dan desahan demi desahan, erangan demi erangan terus bersautan dari kamar yang ditempati aku dengan jae.

.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 malam namun tidak ada tanda-tanda aktivitas aku atau pun jae akan berenti. Aku dan jae melakukannya seharian full. Kini rasa lapar dan haus menghinggapi aku dan jae. Setelah selesai pergumulan panas kami, aku mencoba bangkit berdiri. Setidaknya aku harus kedapur membuat ramen untuk kami makan, bukankah kami sudah tidak makan sedari pagi.

"Jae, ayoo bangun akan kubuatkan kau ramen" Ucapku lembut

"Panggil aku baby jae yun, aku baru mau bangun" Pinta jae manja

"Baby jae, ayoo bangun" Ucapku lembut sambil memgecup keningnya.

"Kau tahu tadi itu kau sangat ganas, brutal. Aku menyukainya seolah-olah hanya aku candumu baby" Ucap jae manja

"Iyaa baby, kau candu bagiku" Ucapku lembut

Perlahan jae pun bangun dan merangkul lenganku erat.

"Kau mau makan apa baby?" Tanya jae lembut

"Kita makan ramen saja baby. Bukannya aku tidak ingin memakan masakanmu tapi bukankan holemu masi terasa perih? Aku menghajarmu seharian baby" Ucapku tak tega khawatir

"Aku tidak apa-apa, holeku juga nanti juga akan sembuh" Ucapnya lembut

"Sudahlah kita makan ramen saja. Lagipula besok kita sudah harus kembali ke seoul. Yoochun junsu tak sabar bertemu dengan kita lalu ayahku pulang agak cepat setelah mendengar kabar anaknya akan menikah" Ucapku lembut

"Benarkah? Aku merindukan yoochun junsu... Ayahmu kembali?" Ucapnya berbinar. Aku tahu dia mengharapkan hal itu.

Aku hanya menganggukkan kepala sambil memasakkan ramen.

Jae terus menatapku saat memasak ramen, dan ini kembali hanya di bayanganku atau dia tengah memikirkan seseorang atau sesuatu. Inginku bertanya namun kuurungkan niat. Jika aku memutuskan untuk bertanya maka nanti akan jadi masalah lagi untuk kami.

Begitu ramen sudah selesai dimasak, segeralahnya kami makan berdua dalam keadaan hening.

Setelah selesai acara makan, aku dan jae kembali kekamar tempat kami melakukan sex tadi. Diam membisu tanpa salah satu dari kami mencoba membuka omongan. Jujur aku ingin bertanya namun masih kuurungan niatku. Bukannya aku tidak mau hanya aku enggan untuk bertanya jika nanti pada akhirnya kami akan bertengkar lagi.

"Uhmmmm baby, kapan jadinya aku bertemu ayahmu?" Tanya jae memecahkan keheningan seraya memelukku dan merebahkan tubuhnya diatas tubuhku.

"Besok pagi baby. Kau mempersiapkan diri, karena bukan hanya ayahku yang datang." Ucapku sambil mengelus rambutnya yang di cat blonde.

"Mwo?! Kau mengundang siapa lagi? Jangan katakan ahra?" Ucap jae tidak suka sambil bangun mencoba menatapku

"Bukan ahra baby, tapi jika kau mengharapkannya maka akan kukabulkan" Ucapku lembut

"Jangannn, kukira ahra akan ikut tapi jika bukan maka tidak apa-apa" Ucapnya lembut

"Tidurlah, besok akan menguras tenaga" Ucapku lembut sambil mengecup keningnya lembut.

.

.

Keesookan harinya, sesuai apa yang kukatakan aku dan jae kembali ke seoul. Setelah puas berjalan-jalan dipantai. Kini kami berada direstoran, berjalan menuju suatu ruangan dimana kami sudah sangat dinantikan.

Kami melangkah masuk kedalam tanpa ragu. Jae yang gugup langsung saja mendekap lenganku erat seolah menyalirkan kegugupannya.

Begitu kami tiba masuk kedalam ruangan makan, tampaklah 3 orang didalamnya. Appaku, ummaku dan appa jae.

"Akhirnya kau datang juga, yun" Ucap appa jung ramah

"Appa kau sudah datang? Umma dan ahjussi juga?" Ucapku sambil memperhatikan bahwa appa jung, ummaku dan ayahnya jae sudah datang

"Tidak perlu berbasa-basi yun. Kau tahu appa bukan orang yang suka berbasa-basi" Ucap appa ramah namun tegas

Aku bisa merasakan appa tidak menyukai kehadiran appa jae. Biar bagaimanapun appa jae lah yang menanam benihnya didalam kandungan ummaku sehingga terciptalah aku.

"Baiklah appa... Appa kenalkan ini jae. Aku ingin menikahinya" Ucapku yakin

"Kau serius yun?" Tanya appa memastikan

"Kau gila yun! Dia jelas-jelas saudaramu! Kau tahukan bukan jika kau dan dia berasal dari benih yang sama meskipun lahir di rahim yang berbeda" Ucap ummaku marah

"Ahjussi tau ini kesalahan ahjussi, seharusnya ahjussilah yang menikahi ummamu yun, dan bukannya kalian yang menanggungnya. Biar bagaimana pun kalian adalah saudara dan tetap tidak bisa bersama" Ucap appa jae lembut tidak marah saat aku mengutarakan keinginanku

"Appa merestuinya yun jika menurutmu dia adalah orang yang tepat untukmu" Ucap appaku yang jelas berbeda dengan apa yang di ucapkan umnaku dan appa jae

"Kau! Tidak punya hak apapun tentang yunho. Tidak punya!" Ucap ummaku marah sekaligus kaget. Mungkin umma mengira bahwa appa akan setuju dengannya.

"Ingatlah apa yang appa pernah bilang padamu. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Jangan pernah kau menyesal dengan apa yang sudah kau putuskan" Ucap appa jung santai tanpa mengindahkan kata-kata umma.

Ummaku langsung saja menatap appaku dengan tatapan marah, benci, kecewa, kesal, dan tidak suka.

"Kau harusnya sadar diri tuan jung yang terhormat. Kau bukanlah appa kandung yunho mengapa kau merasa cukup andil dalam hal ini?" Ucap ummaku marah

"Aku hanya ingin yang terbaik untuk anakku lagipula yunho adalah anakku" Ucap appaku enggan menghadap ummaku dan lebih memilih menatapku dan jae.

"Yunho anakmu? Apa kita perlu test dna untuk membuktikan bahwa yunho bukan anak kandungmu tuan jung" Ucap umma marah

"Terima kasih appa. Kau appa terbaik yang ku miliki" Ucapku tanpa mengindahkan kalimat ummaku dan sekaligus kalimat ini menyakiti appa jae.

'Ah... Biarlah dia merasakan sakit. Jadi dia tahu bagaimana rasanya tidak diakui, bukankah dia dulu malah pergi meninggalkanku' Kataku dalam hati.

Jae yang sedari tadi tidak bersuara tampaknya masih terkejut bahwa yang datang bukan hanya appaku namun ibuku dan ayahnya. Iya anggaplah ini kejutan kecil yang special dariku untuknya.

"Jae kenapa kau tidak bersuara? Kau takut dengan umma yunho? Kau tidak perlu takut dengannya" Ucap appa jung lembut

"Ah... Maaf aku belum memperkenalkan diriku kepada anda. Aku jaejoong. Aku kekasih dari putra anda yunho, jung yunho" Ucap jae lembut

"Baiklah jae, kau tidak perlu seformal itu memanggilku dengan sebutan anda. Panggil aku dengan sebutan appa saja, bukankah kau sebentar lagi akan menikah dengan yunho putraku" Ucap appaku lembut

"Kalian gilaa! Aku sebagai ummamu yunho tidak akan mengijinkan!" Ucap umma marah gara-gara katanya tidak ada yang mendengarkan

"Kenapa kau tidak mengijinkan? Karena mereka saudara? Picik sekali pikiran anda berdua" Kata appaku pelan namun sinis.

Baru kali ini aku melihat dan mendengar appaku berkata sinis. Meskipun appaku tidak mengakuiku namun kata-katanya tidak pernah sinis.

"Kau gila?! Mereka saudara. Perlu ku ulang?! SAUDARA! Yunho itu kakaknya jae, jadi jelaskan padaku kenapa mereka bisa bersama dan bersatu?!" Ucap umma marah

"Mereka saudara karena kesalahan kita. Sedari awal seharusnya kau menikahinya dan bukan aku. Jika sedari awal kita mempertemukan mereka sebagai kakak adik, kurasa mereka tidak akan saling jatuh cinta" Ucap appaku kesal

"Tapi bukan karena itu, kau bisa seenakknya merestui mereka! Jika sampai mereka menikah, aku membencimu tuan jung!" Ucap umma marah

Aku tahu dari kata-kata umma ada keyakinan bahwa tidak akan semudah itu umma merestui kami.

"Aku tahu dan aku tidak peduli akan hal itu. Bukankah selama ini kau memang membenciku?!" Ucap appaku seolah tidak memperdulikan hal itu

"Yunho jae, appa tau ini kesalahan kami sebagai orang tua. Tidak bisakah kalian mengurungkan niat kalian? Appa janji akan bertanggung jawab kepadamu" Ucap appa jae tanpa memperdulikan ummaku dan appaku yang kini saling menatap dengan tatapan membunuh

"Maaf ahjussi aku tidak bisa, dan ahjussi tidak perlu repot-repot bertanggung jawab atas diriku. Aku bisa bertanggung jawab atas diriku. Lagipula ahjussi sudah terlambat untuk mengatakan hal itu" Ucapku dingin

Sungguh bukankah hal itu benar adanya. Jika dulu kau datang pada kami mungkin kejadiannya akan berbeda.

"Yunho, umma mengajarkan kepadamu untuk sopan bukan? Ahjussi itu adalah appa kandungmu. Panggil dia appa sayang" Ucap ummaku mengharapkan

Aku menatap ummaku yang mengharapkan hal itu dengan datar.

"Maaf umma, appaku hanya appa jung. Jangan memaksaku untuk memanggil ahjussi ini dengan sebutan appa" Ucapku tegas

"Lagipula aku tidak merasa memiliki kakak ahjumma. Aku hanya anak tunggal dari keluarga kim" Ucap jae yang mendukung ucapanku

"Jadi inti dari semua ini adalah KALIAN TIDAK MAU MENGAKUI KALIAN SAUDARA MESKIPUN KALIAN SAUDARA?! KALIAN GILA! JELAS-JELAS KALIAN BERSAUDARA! Kalian mau menikah?! DALAM MIMPI!" Teriak ummaku marah

"Aku tidak melihat mereka sebagai saudara. Mereka terlihat sebagai pasangan. Kalian berdua harua berbahagia" Ucap appaku lembut

"Aku tidak ingin kalian yang menanggung kesalahan yang kami buat. Begini saja, kalian pikirkan lagi" Ucap appa jae mencoba pilihan lain

"Maaf appa, aku tidak bisa... Aku mencintainya dan ingin menghabiskan sisa umurku dengannya" Ucap jae pelan namun membantah ucapan appanya

"Jika seperti ini ceritanya, lebih baik aku tidak menikah dengan anda tuan jung. Lebih baik aku tidak bertemu kalian berdua, mungkin saja membuat hidupku menjadi tidak kacau seperti sekarang" Ucap ummaku menyesal

"Jae... Appa tau appa salah tidak mengijinkanmu untuk bersama sandara dulu. Namun jika balasan yang appa terima seperti ini maka appa ijinkan dulu kalian bersama" Ucap appa jae menyesal

'Apa?! Siapa itu sandara? Mengapa jae tidak pernah menceritakannya kepadaku?' Kataku dalam hati

"Umma menyesal yunho, sudah seharusnya dari dulu umma menjodohkanmu dengan ahra dan bukan menyuruhmu menjadi kakak angkat bagi ahra" Ucap umma menyesal

"Maaf umma... Aku tidak bisa bersama ahra. Dia adikku umma, sudah seperti adikku" Ucapku pelan

"Yunho apa kau tidak bisa memilih orang lain sebagai istrimu? Kenapa orang yang harusnya menjadi adikmu malah menjadi orang yang kau cintai" Ucap ummaku melemah

"Sudahlah restui saja mereka. Biarkan mereka bahagia dengan cara mereka sendiri" Ucap appaku lembut tanpa mencoba memancing amarah

"Umma tidak mengijinkannya... Sampai kapanpun umma tidak mengijinkan" Ucap ummaku kecewa

'Yaa mungkin umma kecewa dengan pilihanku. Tapi maaf umma aku sudah mencintainya dari dulu" Kataku dulu

"Aku tidak mengijinkan, ini salah... Kalian seharusnya seperti kakak adik. Kau harusnya memanggil yunho dengan sebutan hyung dan bukannya sebagai kekasih" Ucap appa jae pelan

"Aku tahu kalian tidak akan..." Ucapku pelan

"Kita bercerai saja tuan jung." Ucap ummaku pelan memotong ucapanku

"Bercerai?! Kau pikir dengan kita berpisah lalu kau bersama dengan ayah jae maka mereka akan berpisah? Kau orang teraneh dan tergila yang pernah kutemui" Ucap appaku sarkatis

"Maaf umma, sekalinya pun jika kau berpisah dengan appa itu tetap tidak akan merubah keputusanku. Aku akan tetap menikahinya" Ucapku pasti

"Yun..." Ucap umma melemah

Aku tahu bahwa umma kecewa dengan keputusanku tapi inilah keputusanku.

"Baiklah, kita bercerai. Kapan kalian berdua bersama?" Jawab appa jung sambil memikirkan sesuatu

Entah mengapa setiap appa melakukan hal ini, ada sesuatu hal yang menganjalnya.

"Entahlah, mungkin secepatnya aku dan dia bersama agar yunho dan jae bisa secepatnya berpisah" Ucap umma pasrah

Aku tahu mungkin bukan ini yang diinginkan olehnya.

"Kapan pastinya, kau tahu aku harus menyiapkan surat cerai kita" Jawab appa jung kesal

Aku tahu appa sangat tidak menyukai hal-hal yang tidak pasti

"Sebulan lagi..." Ucap appa jae pelan

"Baiklah kalau begitu yunho dan jae akan menikah sebulan lagi" Ucap appku sambil menatap aku dan jae lembut

"Apaaa?! Kau gila tuan jung?!" Ucap ummaku marah

"Aku akan menikahkan yunho dan jae tepat disaat kalian menikah juga" Ucap appaku tersenyum penuh kemenangan

Aku hanya mendengar ucapan appa jung sambil memikirkan, jika appa umma bercerai maka sudah dapat dipastikan bahwa aku akan dimiliki sepenuhnya oleh appa. Tentu dengan menikahkan jae, maka sudah dapat dipastikan penerus keluarga jung hanya dari anakku dan jae. Appa tentu sangat menginginkan hal tersebut.

Jae pun menggengam jemariku kuat dan lembut, kurasa menyalurkan kegugupannya dan ketakutannya.

Aku tahu mungkin jika pertemuan ini dilanjutkan maka jae amatlah tidak siap. Mungkin dia shock akan hal ini.

"Umma appa ahjussi aku pamit, aku harus kekantor ada hal yang tidak bisa kutinggalkan" Ucapku pelan seraya menarik tangan jae.

Kami pun perlahan meninggalkan tempat itu.

Aku tidak peduli jika umma dan appa berpisah dan umma menikah dengan appa jae. Bukankah jika ummaku dan appa jae menikah, tentu aku juga akan menikah juga dengan jae. Namun ada satu hal yang masih mengganjal diotakku dan hatiku. Sandara... Siapa gadis itu? Apa hubungannya dengan jae? Apa dia orang terpenting didalam hidup jae? Aku sungguh ingin bertanya tentang sandara. Melihatnya terdiam sedari tadi sungguh makin penasaran saja aku dibuatnya.

TBC._.

hallo :D aku kembali :D

ada yang merindukanku? *ditendang

maaf kalo update agak lama, kmrn" ini aku ada urusan kantor plus urusan keluarga soalnya :)

btw selamat paskah yaa semua :D

buat kemarin tanya, kenapa yunho gak diakui sama ayahnya udah kejawab karena ayahnya pengen yunho mandiri.

trus ada yang tanya juga, kenapa yunho sama jae kenapa gak manggil hyung? udah kejawab juga karena mereka sama-sama gak mengakui mereka saudara meskipun mereka saudara.

oia disini ada yang baca ffku gak a little things for love kah?

disana aku ada nanya pendapat kalian soalnya, smoga kalian utarain pendapat kalian disana yaaa :)

makasih yg udah review, ngefav, ngefollow ffku yang abal-abal ini :D kalian penyemangatku *hug kiss*

Balasan review :

Maxyunjae : hihih hayoloh koq bisa ketinggalan hihihi, tapi 'smoga' mereka langgeng :)

Unn anna : chapter depan yunjae nya berantem unn ada c unn tapi aku buatnya gak gitu eksplisit c heheheh ;) hwaiting :D

Yunholic : anggap aj yunhonya lagi insap (?) makanya dia nolak u,u

Noona : hihihi gomawo yaa :D

Guest : hehehe iaaa sebenarnya konflik utamanya itu yang di chapter ini ._. (?)

and also silent readers, makasih udah sempet-sempetin baca ffku yaaa :D