Frozen chap 8...

-Aku tidak tahu apa kau benar-benar mencintaiku atau ini hanya semu belaka. Kau menyedihkan sekali, yunho. -Jung yunho

*note all Yunho POV

Aku tidak peduli jika umma dan appa berpisah dan umma menikah dengan appa jae. Bukankah jika ummaku dan appa jae menikah, tentu aku juga akan menikah juga dengan jae. Namun ada satu hal yang masih mengganjal diotakku. Sandara, siapa gadis itu? Apa hubungannya dengan jae? Apa dia orang terpenting didalam hidup jae? Aku sungguh ingin bertanya tentang sandara. Melihatnya terdiam sedari tadi sungguh makin penasaran saja aku dibuatnya

.

.

"Segera keruanganku chun, sekarang!..." Ucapku kesal

Bagaimana aku tidak kesal, sepanjang perjalanan tadi aku mencoba mencari tahu tentang sandara. Siapa gadis itu? Apa dia orang terpenting dalam hidupmu? Namun kau hanya menjawab "Aku hanya teman dengannya, kami hanya teman". Sungguh bukan itu jawabannya yang kuinginkan, yang kuinginkan kau menceritakan kisahmu itu padaku.

"Yoo yunho my man, ada apa bro? Kau terlihat kesal" Kata yoochun yang memasuki ruanganku dan tampak kaget melihat aura kesalku menguar dan meluap-luap.

"Kau harus segera mencari tahu tentang sandara? Siapa gadis itu! Shitt! Jaejoong bahkan tidak mau mengatakan apapun padaku!" Ucapku marah

"Santai yun, bukankah kau habis berbulan madu dengan jaejoong lantas kenapa kau marah-marah seperti ini" Jawab yoochun mencoba menenangkanku

"Berbulan madu?! kau tahu chun aku sudah bertemu dengan appa jaejoong yang memperkosa ummaku dan rencanaku mempertemukan mereka bertiga sukses" Jawabku mulai tenang

"Aku tidak mampu membayangkannya. Kau itu... Haduh yun... Tidakkah terlalu cepat?!" Ucap yoochun kaget sekaligus tidak percaya

"Itulah hebatnya aku, hahaha. Kau tahu kami bahkan meminta restu kepada mereka. Tapi entah mengapa masih ada didalam diriku yang enggan untuk mempercayainya. Kau tahu chun aku mungkin masih mencintainya tapi aku tidaklah sebodoh itu mempercayainya" Ucapku sambil menunjukkan smirk

"Kau kejam bagaimana jika..."

Jawabannya yoochun terpotong, mendengar pintu ruanganku terbuka..

Brukk...

"Yunnieeee..." Dia menatapku menyalang marah. Mungkin dia mendengarkan perkataanku dengan yoochun dan entah mengapa aku tidak peduli dengan hal itu.

Aku hanya mencoba jujur, bukankah jujur lebih baik daripada aku harus berbohong.

Segeralah dia menghampiriku, duduk dipangkuanku dan memukul lenganku secara bertubi-tubi.

Entah mengapa, pukulannya padaku tidaklah keras namun terkesan lembut

"Yunnieee nappeun... Nappeun..." Pukulnya pada lenganku secara bertubi-tubi

Ini hanya perasaanku atau memang pukulan jae tidak terlalu menyakitiku.

"Kau kenapa jae? Kenapa memukulnya" Tanya yoochun pura-pura tidak tahu meskipun yoochun tahu alasan kenapa jae memukul lenganku

"Bagaimana bisa hikss yunnie tidak mempercayaiku.. Hiksss jahaat yunniee.. Nappeun... Aku bahkan hiksss menyerahkan semuanya hikss..." Jawab jae menangis sambil terus memukul lenganku

"Cobalah pikir rasional jae, kau sudah menolak yunho waktu itu dan kalian baru bertemu belakangan ini dan menjadi dekat. Jadi bagaimana bisa yunho mempercayaimu dengan mudahnya, terlepas dari kau itu adalah orang yang dicintainya atau tidak" Jawab yoochun memberi penjelasan

"Tapi... Hikssss huaaaaaa yunniieee jahat... Nappeun..." Jawab yoochun yang membuat tangisan jaejoong membesar

"Sudahlah yang dikatakan yoochun benar. Kalau kau mau aku percaya padamu, maka buatlah aku percaya padamu Ucap yunho meyakinkanku

"Aku janji yunnie, aku janji aku akan membuatmu percaya padaku... Jangan tinggalkan aku..." Jawabnya menengelamkan kepalanya didadaku sambil memelukku erat

'Aku bahkan tidak yakin, apa aku akan bisa percaya lagi padamu jaejoong-ahh' Kataku dalam hati

Perlahan-lahan jae yang mulai tenang tampak tengah tertidur dalam pelukkannya padaku.

"Yun, sepertinya jaejoong tertidur" Ucap yoochun lembut

Aku pun mengelus rambut kepalanya lembut tanpa ingin membuatnya terbangun

"Kau tahu sandara chun? Ketika appa jae mengatakan tentang gadis bernama sandara itu sikapnya berubah menjadi lebih pendiam" Jawabku lembut sambil sesekali mengecup kening jae lembut

"Sandara? Aku tidak tahu tapi biar aku yang mencari tahu tentang gadis itu" Jawab yoochun lembut

"Terima kasih yoochun. Kau dan junsu adalah orang yang berarti untukku" Ucapku lembut

"Maka dari itulah yun, kebahagianmu adalah kebahagian kami juga" Jawab yoochun lembut

Yoochun memandang jae dan aku dengan tatapan lembutnya sambil yoochun berharap jae dapat mencairkan sikapku yang dingin.

Well bukan dingin lebih tepatnya tidak berperasaan. Tidak terhitung sudah berapa banyak orang yang merasakan sikapku itu, tidak perduli namja ataupun yeoja. Jika aku sudah tidak menyukainya maka jangan salahkan aku jika aku membentaknya dengan kata-kata yang menurut yoochun kasar.

.

.

"Sudah sore yun, kau tidak pulang?" Tanya yoochun saat hendak memberikan laporan yang ku minta padanya. Posisinya masih tidak berubah, jaejoong tetap berada dipangkuanku dan tertidur. Entah sudah berapa lama dia tertidur tanpa terbangun sekalipun. Kurasa faktor kecapean dan tidak tidurnya beberapa hari lalu yang menyebabkan kini dia tertidur dengan lelapnya.

"Kau tidak memindahkannya yun?" Tanya yoochun lagi sambil memperhatikanku dengan jaejoong sekarang

"Nanti chun, tinggal sedikit lagi laporan ini beres dan tinggal laporanmu ku periksa. Jaejoong? Aku sudah mencoba memindahkannya namun ia tidak mau melepaskan pelukkannya" Jawabku padanya sambil mengerutkan keningku

"Jangan terlalu larut, kasian jaejoongmu. Kalau begitu aku pulang dulu" Jawab yoochun lembut sambil pamitnya padaku.

"Baiklah chun... Terima kasih atas..."

Brakk

Ucapanku terpotong melihat pintu ruanganku terbuka lagi dan mendapati sosok junsu dengan raut muka khawatir

"Ada apa junsu? Kenapa kau datang?" Tanyaku penasaran

Yoochun tampak kaget dengan hadirnya junsu diruanganku. Biasanya junsu tidak akan datang jika bukan untuk hal penting.

"Appamu yun... Appa jung memanggilmu. Katanya kau harus datang keruangannya dan membicarakan perceraiannya dengan ummamu, katakan padaku yun apa yang terjadi sebenarnya?" Jawab junsu sedih

"Appaku memang akan bercerai dengan ummaku. Ummaku menganggap bahwa dengan dia bersama appa jae maka aku dan jae akan berpisah" Ucapku pelan sambil memegang keningku

"Ha?! Lalu kau akan bagaimana?" Tanya yoochun penasaran

"Entahlah dan kau tahu ketika ummaku dan appa jae menikah maka aku juga akan menikah dengan jae. Begitu yang diinginkan appa jung" Ucapku pelan sambil memijit keningku. Aku memijitnya bukan karena pusing tapi lebih tepatnya aku kecapean memikirkan hal-hal yang menurutku tidaklah penting.

Junsu dan yoochun saling menatap satu sama lain dan kemudian menatapku dengan tatapan apa-kau-baik-baik-saja

Aku hanya menganggukkan kepalaku seraya melihat tatapan mereka.

Segeralah aku membangunkan jaejoong yang masih berada dalam pangkuanku

"Baby... Bangunlahh..." Bisikku lembut

"Uhmmmm" Ngigaunya jae yang merasa ada melakukan pergerakkan pada tubuhnya

Perlahan jaejoong pun membuka matanya secara perlahan dan melihat junsu dan yoochun.

"Kau sudah bangun? Tunggulah disini bersama yoochun junsu. Aku harus ketempat appaku dulu. Kau istirahatlah" Jawabku lembut

Jaejoong hanya menganggukkan kepalanya dan aku hanya mengecup keningnya lembut.

"Kalian jaga jaejoong dulu sebentar, tolong" Pintaku lembut.

Jaejoong pun mulai beranjak bangun dari pangkuanku dan menuju yoochun junsu. Segera setelah aku beranjak pergi menemui ayahku.

"Kira-kira apa yang dikatakan appa yunho pada yunho?" Tanya jae pelan

"Entahlah jae, mungkin sebaiknya kau cuci mukamu dulu." Jawab yoochun lembut.

Waktu terus berjalan, tanpa terasa menunjukkan pukul 11 malam dan barulah aku kembali keruanganku. Begitu aku memasukki ruanganku, jaejoong langsung memelukku erat.

"Kau lama sekali yunnie..." Ucapnya manja padaku

"Yaa, ada beberapa hal yang perlu dibahas tentang pernikahan kita. Terima kasih yoochun junsu sudah mau menjaga jaejoong" Jawabku lembut pada mereka

Jaejoong? Bukankah seharusnya aku mengatakannya jaejoongku? Entahlah aku masih tidak yakin dengan dirinya terlebih setelah mendengar kata sandara.

"Ayoo kita pulang yunnie, kau pasti lapar" Ucapnya sambil menarik tanganku

"Baiklah kita semua sudah harus pulang dan mengistirahatkan tubuh kita masing-masing." Jawab yoochun pelan dan mendapat anggukkan dari aku, jae serta junsu.

.

.

Tanpa terasa dua minggu telah berlalu itu berarti pernikahanku dengan jae akan diselenggarakan dua minggu lagi. Seperti permintaan appaku "Kau harus menikah dengan jaejoong 1 bulan lagi. Semua persiapan akan appa persiapkan dengan matang" begitulah kata appaku tapi entahlah appa aku merasa tidak yakin akan pernikahan ini. Mungkinkah pernikahan ini tidak diharapkan atau mungkin saja pernikahan ini hanya pelariannya saja.

Aku masih memikirkan sikap jaejoong yang berubah drastis mendengar perkataan appanya tentang sandara. Sungguh aku ingin kau menceritakan tentang gadis itu tapi kau jaejoong hanya bungkam tanpa mau mengatakan apapun tentang gadis itu.

"Yunnn.. Aku..." Ucap yoochun yang terburu-buru masuk kedalam ruanganku

"Kau itu kalau masuk ketuk pintu dulu kenapa? Kenapa kau terburu-buru seperti itu?" Tanyaku penasaran

Karena tidak biasanya yoochun masuk kedalam ruanganku dengan terburu-buru. Apa ada informasi yang didapatnya sangat penting sampai-sampai dia seperti itu.

"Sandara... Gadis itu... Aku tahu yun..." Ucap yoochun terbata, mungkin saja yoochun kelelahan setelah acara terburu-burunya atau...

"Ceritakan chun padaku, jangan membuatku penasaran" Jawabku dengan datar

Siap tidak siap, tentu aku harus tentang gadis itu bukan?

"Sandara... Dia adalah gadis satu-satunya dalam hidup jaejoong. Cinta pertama jaejoong, kekasih pertama jaejoong, dan aku tidak tahu apa jaejoong masih mencintainya atau tidak" Jawab yoochun pelan

Tang...

Pulpen yang tadi kugengam untuk menulis tanpa kusadari terjatuh sudah dan tak ada niatan didalam diriku untuk mengambil pulpen tersebut. Aku hanya terdiam mendengar semuanya.

"Cinta pertama... Kekasih pertama... Kau berbohong padaku kim jaejoong... Teman yang kau maksud cinta pertamanmu dan bahkan kekasih pertamamu" Ucapku dingin dan penuh amarah

"Chun batalkan janjiku untuk malam ini dan beberapa hari kedepan" Jawabku singkat

Yoochun yang mengerti akan hal itu, tidak banyak bertanya hanya menganggukkan kepala.

"Sabarr yunn" Jawab yoochun mencoba menenangkanku yang terlihat marah dengan nata menyalang seperti beruang yang tengah mengamuk.

"Shitt!" Ucapku tanpa memperdulikan ucapan yoochun sambil menggebrak meja.

Segera aku melangkah keluar tanpa mau memikirkan hal apapun selain informasi yang yoochun berikan kepadaku.

.

.

Begitu aku tiba diapartemenku, jaejoong tampak kaget bahwa aku sudah pulang. Biasanya aku pulang pukul 07.00 malam, kini pukul 05.00 aku sudah berada diapartemen kami.

"Yunnie kau sudah pulang eoh?" Ucapnya sambil mengalungkan kedua lengannya pada leherku

"Siapa sandara?!" Jawabku dingin

"Temanku, hanya teman yunnie wae?" Tanyanya menyembunyikan sesuatu

"Teman yaa jaejoong? Teman yang menjadi cinta pertamamu, sekaligus teman yang menjadi kekasih pertamamu... Hebat sekali ya temanmu itu kim jaejoong-sshi" Jawabku sinis, dingin dan datar

Segeralah aku melepaskan kedua tangannya pada leherku dan jaejoong hanya terdiam mendengarkan saat aku mengatakan hal tersebut tanpa mencoba melawannya atau membantahnya.

"Kau membohongiku kim jaejoong! Shitt! Setiap aku bertanya padamu, kau selalu mengatakan dia temanmu, temanmu! Jelaskan padaku teman macam apa yang menjadi cinta pertamamu dan kekasih pertamamu! Jangan-jangan selama kita berhubungan kau berhubungan juga dengannya!" Ucapku marah saat jaejoong mencoba mendekatiku, aku menjauh dari dirinya

"Hikss... Mianhae yunnieee... Mianhae..." Jawabnya sedih

"Kau tidak usah menangis dihadapanku. Pergi saja sana dengan dirinya itu! Pergii!" Ucapku marah tanpa memperdulikannya

Segeralah aku masuk kedalam kamar yang aku dan jaejoong tempati. Tanpa memperdulikannya, aku memukul tembok dan kaca hingga tanganku terluka dan meneteskan darah yang cukup segar dari sela-sela jariku.

Brukk...

Prang...

'Shit! Kau bahkan tidak menceritakannya padaku apapun tentangnya!' Kataku dalam hati

Mendengar suara gaduh di kamar, membuat jaejoong masuk kedalamnya dan melihat aku yang tengah duduk terdiam diantara serpihan dan belahan kaca tembok yang retak. Kurasa pukulanku pada tembok dan kaca itu sangat keras, terbukti dari kaca yang pecah dengan amat mengenaskan dan tembok yang kupukul pun retak-retak.

Melihat hal itu, segeralah jae membersihkan semuanya didalam kamar itu. Dia keluar sebentar untuk mengambil kotak obat dan tak lama kemudian dia datang kembali dengan kotak obat nya yang dibawanya.

"Kau tahanlah ini akan sedikit sakit" Ucapnya lembut

Dia pun mulai mengobatiku secara perlahan, ingin kutepis namun kuurungkan niatanku

'Kau tampak manis jika seperti ini tapi jika mengingat hal tentang sandara, kau seperti kesalahan terbesar dalam hidupku' Kataku dalam hati

Tak lama kemudian, jae selesai mengobati tanganku dan mengecup punggung tanganku lembut

"Katakan apa maumu sekarang?!" Jawabku sinis

"Aku hanya ingin disampingmu yun, percayalah" Ucap jae lembut

"Kau kira aku akan mempercayaimu lagi? Setelah semua yang terjadi? Kau tidak pernah jujur dan menceritakan padaku. Jika seandainya kau menceritakannya, aku tidak akan terkejut seperti ini" Ucapku sinis

Segeralah setelahnya, aku bangkit berdiri tanpa memperdulikannya. Menyambar kunci mobil dan segera pergi dari sana. Jaejoong hanya mampu menatap kepergianku sendu.

"Jangan pergi yun... Kembalilah..." Ucapnya sendu menatap kepergianku kali ini, bukan karena akibat kecerobohannya seperti waktu itu. Namun kali ini lebih kearah kebohongannya.

Aku hanya membutuhkan jae untuk jujur dan berharap jika jae mau menceritakannya padaku meskipun pada akhirnya kini dia tetap bungkam dan tidak mengatakan apapun padaku.

'Seandainya kau mengatakannya dan tidak membohongiku maka tidak akan sesakit ini' Kataku dalam hati

'Kau menyedihkan jung yunho. Kau dibohongi oleh kekasihmu sendiri dan bahkan kau tidak dipercaya olehnya untuk berbagi' Tambahku dalam hati.

Aku membawa mobilku melaju dengan cepatnya menyongsong hari yang mulai beranjak malam.

.

.

Pergi ke club, dan aku menyewa sebuah ruangan untukku minum melepaskan semua penatku. Ah, tampaknya bukan penat melainkan masalah-masalahku. Berawal dari jae menolakku, sampai tentang sandara.

Aku bahkan tidak tahu saat kau menyatakan cinta, cinta itu untukku atau untuk sandara.

Aku hanya ingin tahu apa dulu dia mencintai sandara? Seberapa besar cintanya untuk sandara? Apa cintaku tidak cukup untuknya? Apa aku kurang baik untuknya?

Aku terus memikirkan hal ini hingga minumanku habis dan kemudian aku segera memesan minuman lagi

Tanpa kusadari saat pelayan mengantarkan pesanan minumanku, ada seorang gadis yang mengikutinya.

"Kau yunho oppa kan?" Ucap salah satu gadis itu terkejut begitu diruangan ini hanya kami berdua

"Hmmm, wae?" Ucapku tanpa memperdulikannya

"Wah... Aku tidak menyangka bisa bertemu oppa disini" Jawab gadis itu mencoba ramah

"Jika kau tidak ada kepentingan disini, sebaiknya kau keluar" Kataku dingin

"Ahh ternyata benar yang dikatakan orang-orang, oppa akan bersikap dingin jika ada yang menganggu oppa" Jawabnya langsung mendudukkan dirinya disampingku dan tanganku yang tadinya mengambil gelas ditaruhnya dibahunya. Kini tampaklah aku tengah merangkulnya.

Aku yang seolah tidak peduli akan hal tersebut, terus saja meminum alkohol yang tadi kupesan. Tak perduli jika jaejoong mencariku atau mengkhawatirkanku. Mengkhawatirkanku? Apa boleh aku berharap dia akan mengkhawatirkanku? Apa mungkin aku dikhawatirkannya tapi bukankah dia mungkin hanya mengkhawatirkan sandara, cinta pertama dan kekasih pertamanya itu. Mana mungkin dia mengkhawatitkanku, bukankah aku tidak ada artinya dimatanya. Aku digunakannya hanya untuk membantu kim corp. Kurasa tak lama lagi dia akan meninggalkanku dan pergi bersama sandara.

Tak terhitung sudah berapa puluh gelas dan botol yang kuminum. Gadis itu tampaknya masih asyik dalam rangkulanku dan hanya menatapku dengan pandangan sayu, seakan-akan dia terangsang hanya dengan meraba-raba tubuhku.

"Baiklah, kurasa aku harus pulang" Ucapku dingin

"Ayolah oppa, aku juga tidak tahan" Jawabnya dibuat sesexy mungkin

Segeralah aku bergegas keluar dari club setelah membayar. Kukira begitu aku keluar, gadis itu tidak akan ikut denganku namun ternyata gadis itu ikut.

"Kukira kau tidak ikut" Ucapku dingin seraya menolehnya kesamping mendapati gadis itu tengah duduk menggodaku

"Aku akan ikut kemanapun oppa pergi" Jawabnya mantap

Tak ingin berlama-lama segeralah aku menyalakan mobil dan membawanya ke apartemenku dengan jaejoong. Aku tidak peduli jika jaejoong marah atau sedih.

.

.

Begitu tiba diapartemen, jaejoong tidak nampak kaget aku membawa seorang gadis lagi. Bukankah kejadian ini seperti saat waktu itu hanya berbeda kasusnya. Jika disana ia ceroboh maka kali ini dia membohongiku.

"Apa kebiasaan burukmu selalu seperti ini?" Ucap jaejoong kesal, bagaimana tidak kesal ketika dia membuka pintu dan melihatku merangkul seorang gadis

Aku yang tidak memperdulikan jaejoong terus melangkah masuk tanpa kuketahui jaejoong menahan gadis itu untuk berada diluar.

"Terima kasih sudah mengantar tunanganku, ahjumma..." Ucapnya sinis

Begitu jaejoong mengatakan seperti itu, langsung saja dia menutup pintu tanpa memperdulikan gadis tersebut.

Blammm

Segera setelah itu, jaejoong menghampiriku yang tengah mencoba tidur disofa.

"Akan kubuatkan kau air madu hangat" Ucapnya melembut sambil memperhatikanku

Segeralah aku menarik tangannya hingga jaejoong terjatuh kedalam pelukkanku.

"Kau tahu aku sakit kau bohongi seperti itu jaejoong-ah" Bisikku

"Kalau kau sakit dengan hal tersebut, kenapa kau tidak menghukumku atau memarahiku yunnie... Hiksss jangan seperti ini.. Mabuk dan gadis... Aku tidak bisa melihatmu seperti ini..." Ucap jaejoong menangis

"Kenapa kau tidak pernah menceritakan tentang gadis itu jae? Kenapa?!" Tanyaku dingin dan datar

"Aku hanya tidak ingin mengingat tentangnya, hikss... Maafkan aku" Ujarnya sedih

Mungkin jae melihat keadaanku yang kacau menjadi sedih

Seegralah jae mengeratkan pelukkannya padaku.

"Baiklah aku akan menghukumu besok, sekarang tidurlah" Ucapku sambil mengeratkan pelukkannya

Dan jaejoong tidak peduli akan hukumannya, yang dia tahu dia akan membuat yunho percaya dengan caranya sendiri.

Tbc._.

Aku kembali :D

maaf iaa kalo chapter ini mungkin membosankan :)

Bocoran : chap depannya kubuat jae striptis didepan yun u,uv

Makasih yaa, yang sempet-sempetin review, ngefav, ngefollow ff abal-abalku ini

Balasan review :

unn anna : tapi masih bagusan punya unn :D iaa unn yang kemarin ampe 4000 word lebih malah u.u aku ngetik gak sadar ampe segitu hihihi, sippo ;)

yunholic : yaa yunjae tinggal begono doank koq ;) plg bikin anak yg buayak (?)

Mind to review?