Frozen chap 9
*note all Yunho POV
Dan jaejoong tidak peduli akan hukumannya, yang dia tahu dia akan membuat yunho percaya dengan caranya sendiri.
.
.
Sinar matahari pagi kini tampak hadir dan dapat kurasakan sinarnya dari balik jendela. Kini aku tengah memandang arah luar jendela. Memandang rumput-rumput, bunga dan pohon yang bergerak sepoi-sepoi lembut mengikuti arah angin yang berhembus.
Aku bukan memikirkan hukuman apa yang pantas untuknya tapi pertemuan diam-diam antara aku dengan ummaku.
•••• Flash back••••
Begitu selesai menemui appaku pukul 04.00 sore, aku bergegas ingin kembali keruanganku namun tiba-tiba ummaku menelepon, tampaknya ada hal penting yang ingin dia katakan untukku. Bergegaslah aku menemuinya.
Aku tidak ingin menerka-nerka apa yang akan dikatakan ummaku. Aku jelas sudah tahu apa yang akan dikatakannya.
Begitu sampai ditempat yang dimaksud, segeralah aku masuk dan menemuinya.
"Kau sudah sampai?" Ucap umma pelan
Dari raut wajah umma, terlihat gurat-gurat stress, sedih, kecewa dan pasrah.
Aku sudah tahu apa yang terjadi, umma pasti terlalu stress memikirkan tentang aku dan jae.
"Katakan apa yang ingin umma sampaikan" Ucapku pelan
Aku tidak ingin berbasa basi, jika hal ini menyangkut jae dan pernikahan kami.
"Apa kau tidak bisa memikirkannya lagi yun? Umma... Umma..." Ucapnya terputus pelan sambil menitikkan air mata
"Umma tidak bisa merestuiku dengan jae bukan?" Ucapku menyambung kalimat umma yang terputus
"Kau anak umma satu-satunya, umma tau umma salah karena tidak memperhatikanmu, menyayangimu dengan baik dan tidak pernah mengatakannya kepadamu siapa ayah kandungmu tapi umma mohon jangan membalas umma dengan cara yang seperti ini. Umma menyesal yun, menyesal" Ucap umma menyesal
"Jika umma menyesal sekarang sudah terlambat, seharusnya dari dulu umma memberitahuku tapi ini tidak umma. Aku bahkan tahu dia appa kandungku, karena aku mencari info sendiri bukan dari darimu umma" Ucapku kecewa
"Umma menyesal yun, menyesal" Ucap umma menyesal sesugukkan
"Kau tahu umma, mendapati bahwa aku adalah anak dari pemerkosaan membuatku sakit. Aku masih dapat mengerti jika umma diperkosa appa jung, tapi ini umma diperkosa oleh orang lain dan appa junglah yang bertanggung jawab" Ucapku kesal sambil menitikkan air mata
"Maafkan umma yun, maaf." Ucap umma menyesal
"Jika umma dan appa jung berpisah maka aku akan tetap di miliki appa jung karena appa jung hanya mempunyai aku sebagai keluarganya dan sekaligus anak satu-satunya. Aku tetap tidak bisa bersamamu umma, maaf" Ucapku sedih
"Yun... Maafkan umma yun, kita pergi saja yun dari sini. Kita mulai lagi dari awal" Ucap umma pelan
"Jika sebuah permintaan maaf mampu mengubah semuanya maka aku sudah mengatakan beribu-ribu maaf. Tapi itu tidak akan mengubah keadaan umma" Ucapku pelan namun tanpa kusadari air mataku mulai menetes dan mengalir disela-sela wajahku.
Umma terus menatapku menyesal dan aku hanya terdiam sambil memikirkan semuanya.
"Baiklah yun umma tidak akan memaksamu. Jika kau ingin umma merestuimu, maka mulai sekarang umma tidak mempunyai anak lagi yun. Kau bukan anak umma. Umma akan pergi ke italia dan memulai semuanya lagi" Ucap umma pelan
"Umma.. " Ucapku sambil menatap sendu umma
"Umma tetap akan berpisah dengan tuan jung dan umma tidak akan bersama dengan tuan kim. Semuanya adalah kesalahan kami bertiga dimasa lalu. Biarlah kisah kami bertiga akan cerita masa lalu yang memilukan. Mulai sekarang, kau hiduplah dengan baik yun. Kau harus bahagia dengan apapun pilihanmu. Umma akan mendukungmu dari jauh. " Ucap umma sedih sambil memelukku
Dan segeralah aku memeluk ummaku erat. Mungkin ini adalah hal terakhir yang bisa dan mampu aku dan umma lakukan. Aku tidak tahu kapan bisa melakukan hal ini lagi.
•••• End flash back ••••
Grepp..
"Yunnie sedang apa?" Ucap jae lembut
"Tidak apa-apa, kau sudah mandi?" Tanyaku pelan sambil mengenggam tangannya lembut
"Sudah sedari tadi yun, tapi kulihat kau tengah memikirkan sesuatu" Ucapnya lembut
Segeralah aku membalik tubuhku dan menatapnya lembut. Aku suka dengan tatapan jae yang hangat dan lembut. Tapi jika mengingat tentang sandara membuatku kesal.
"Bagaimana perasaanmu, beberapa hari lagi kita akan menikah?" Tanyaku penasaran
"Aku bahagia yun, dua minggu la lagi kita menikah. Ku harap pernikahan kita tidak seperti kedua orang tua kita" Ucap jae lembut
Lalu jae pun menggalungkan kedua tangannya pada leherku. Segeralah aku mendekatkan wajahku dengannya hingga hidung kami bersentuhan.
"Aku mencintaimu jae, sangat mencintaimu. Jangan pernah ragukan hal itu" Ucapku lembut sambil menatapnya lembut
Jae pun hanya tersenyum lembut mendengar penuturanku.
Dan biarlah kami menikmati moment ini, karena aku tidak tahu bagaimana nanti masa depanku dengannya.
.
.
Cahaya matahari langit sore sudah nampak di ujung barat sana. Kini waktu menunjukkan pukul 05.45 dan hari sudah mau menjelang magrib dan malam. Tak terasa aku dan jae menghabiskan waktu bersama dengan menonton film, bermain, bercanda bersama berdua. Aku menyukai moment-moment seperti ini, karena terasa hangat dihatiku.
Cupp...
"Yunnie jangan melamun, habiskan dulu makananmu baru melamun lagi" Ucap jae lembut
Jae memperlakukanku selama ini dengan hangat, lembut dan penuh kasih. Dia tampak menikmati saat-saat kami bersama.
"Aku sedang memikirkan hukumanmu, enaknya kuhukum seperti apa yaa" Ucapku sambil memikirkan
"Yaa, yunnie nappeun eoh? Memikirkan itu nanti saja, kau membuatku malu" Ucap jae malu-malu, dapat kulihat pipinya merah merona
Aku hanya terkekeh mendengar penuturannya.
Begitu kami selesai makan, segeralah aku masuk menuju kamar dan jae mencuci piring. Sambil terus memikirkan hukuman yang tepat.
"Kau sudah selesai, jae?" Tanyaku melihatnya masuk kedalam
Jae hanya menganggukkan kepala seraya menyetujui ucapanku
"Kuberi kau pilihan jae. Ceritakan padaku tentang sandara atau kau striptis dihadapanku?" Tawarku. Entah mengapa aku mengucapkan kalimat itu begitu saja tanpa terpikirkan olehku akan mengatakan hal itu.
Jujur aku masih berharap dia akan menceritakan tentang sandara padaku.
"Lebih baik striptis dihadapanmu daripada menceritakan kepadamu tentang sandara" Ucapnya sambil mengepalkan tangan
"Baiklah karena kau yang meminta, silahkan striptis dihadapanku sekarang" Desisku kecewa
Aku sedikit kecewa dengan pilihan yang dipilihnya namun aku tidak mau memaksanya
Segeralah aku duduk diranjang mencari posisi nyaman sedangkan jae berjalan ke depan agar aku dapat melihat dengan sepuas hati.
Jae berdiri didepan, sambil menatapku lembut perlahan tetapi pasti jae membuka kancing-kancing kemejanya yang dikenakannya secara sensual sambil meliuk-liukkan tubuhnya.
Begitu lihainya jae membuka kancing-kancing bajunya aku sampai terpesona atau mungkin aku terjerat. Jae tampak secara malu-malu melepaskan kemejanya, seolah-olah dia tengah menggodaku.
Begitu dia selesai membuka kemejanya, dia menutupi kedua dadanya dengan tangannya agar tampak ia malu akan hal itu.
"Buka jae, bagaimana bisa kau menari seperti itu" Ucapku memprotes jae yang masih menutupi dadanya tanpa menyadari maksudnya menggodaku.
Kini memang jae masih mengenakan boxer dan dia hanya diam tampak seolah-olah berfikir apa yang harus dilakukannya.
"Kau jangan membuatku menunggu, jae" Ucapku pura-pura kesal
"Aku sedang berfikir yun dikamarmu ini tidak ada tiang, bagaimana aku bisa meliuk-liukkan tubuhku?" Ucapnya lemah
"Aku tidak mau tahu akan hal itu, itu urusanmu bukan urusanku" Ucapku tidak sabar
Jae memang hanya melihat meja yang biasanya kugunakan untuk menaruh laptop, perlahan jae menghampirinya.
"Kalau disitu aku tidak leluasa" Ucapku tidak setuju akan tindakannya
"Kau pindah posisi saja. Hanya ini yang bisa kugunakan" Ucap jae lembut.
Segeralah aku mengganti posisiku tanpa banyak bicara. Perlahan tetapi pasti, jae menaikki meja itu. Dia berdiri segera setelahnya jae membuka boxer. Jae tampak sangat pintar, lihai dan seperti sudah ahli dalam hal ini. Dia membuka boxer itu malu-malu.
Begitu jae acara membuka boxernya telah selesai, dia turun. Tanpa kuduga dia membalikkan badannya sambil memegang kembali ujung meja itu. Aku tidak menyadari kini jae menggoyangkan pantatnya secara sensual. Tak lama kemudian dia mengganti gerakkannya dengan menjatuhkan dirinya kebawah meja. Jae yang sekarang berada dibawah meja, kemudian mendekatkan belahan pantatnya ke arah salah satu kaki meja yang dekat. Sungguh aku tidak tahu jika jae akan menggesekkan belahan pantatnya kearah kaki meja tersebut sambil sesekali mendesah kenikmatan dan dengan mata sayu-sayunya.
'Shitt! Kau membuatku terangsang!' Kataku dalam hati
Aku yang menonton seolah-olah terangsang. Bagaimana tidak, dia menggesekkannya secara cepat hingga dada dan juniornya ikut bergerak naik turun seirama dengan acara gesekkannya pada kaki meja.
'Shitt! Kau berhasil menggodaku jae dengan gerakkan seperti itu!' Kataku dalam hati
Jae tidak tinggal diam saja, setelah acara gesekkannya pada kaki meja. Kini dia mengganti posisinya dengn tengah duduk diatas meja, di atas meja tersebut jae merentangkan kedua kakinya hingga nampak pink hole yang menggodaku. Sadar atau tidak jae perlahan memelintir, memainkan nipplenya sendiri
"Ahh... Yunniieeee" Desahnya nikmat
Tangan-tangan nakalnya tidak berhenti sampai disana, tangan-tangan tersebut turun hingga di tempat juniornya berada. Tangan kanannya pun mulai bekerja dengan mengocok juniornya sedangkan tangan kirinya langsung menuju holenya yang menggoda
Perlahan tetapi pasti tangannya mencoba membobol holenya, tidak tanggung-tanggung jae langsung memasukkan 3 jarinya kedalam holenya.
"Arrrghhh yunniieeee ahhh... Uhhhh yunnieeee" Desahnya nikmat menikmati kocokan serta jari-jari yang terus mengoyak holenya.
'Shitt! Kau belajar darimana jae, kau tampak tahu bagaimana cara merangsangku yang baik dan benar' Kataku dalam hati
Tanpa kusadari, segeralah aku melangkah menuju jae sambil membuka celanaku. Jae yang tampak masih asyik dengan kocokkan serta jarinya tidak menyadari bahwa kini aku disampingnya. Tak perlu berbasa basi, segeralah aku menerobos holenya jae.
Jleebb
"Arghhh yunnieee... Kauuu ahhhh menggagetkankuu" Desisnya kaget karena kini di holenya telah bersemayam juniorku
"Kauuu hangattt" Ucapku lembut sambil menikmati pijatan pada holenya.
Aku yang tidak sabaran segeralah mendorong jae, hingga jae tertidur dimeja dengan kaki yang merentang dipinggangku. Aku mulai menghujami dan mengenjotnya dengan tidak sabar, kasar, seolah-olah tengah mengoyak holenya
"Arghhhhh yunniiiieeee pelannn... Urghhhh deepperrr ahhhhh moreeee" Desahnya nikmati hujamanku dan genjotanku.
Tidak berhenti sampai disana, tangan-tangan nakalku mulai beraksi. Tangan kananku mulai memainkan nipplenya sedangkan tangan kiriku memainkan juniornya. Dan jangan lupa bibirku kini masih mengecup menjilat telingganya
Jae tampak kewalahan dengan hal itu, karena titik-titik sensitifnya tengah dihajar olehku. Sedari tadi jae hanya mampu mengerang, mendesah dan pasrah.
Jae tampak seolah tidak peduli dengan apapun yang kulakukan selama aku yang melakukannya.
"Uhhhh yunniiieeee fasstteerrrr ahhhhhahhhh aku mauuu ahhhhh"Desahnya nikmat
Aku tahu jae akan segera keluar, maka itu dia menyempitkan holenya
"Urghhhhhh jaeee ahhhhh" Desahku nikmat
Bosan dengan gaya seperti itu, segeralah aku menarik jae agar dia berada dalam gendonganku sambil sesekali menghujaminya.
"Ahhhh iaaaa seeeppperttiii ittuuu yunnn ahhh... Kauuuu pinntarrrrr" Desahnya nikmat sambil menikmati hujamanku
Kurasa hujamanku mengenai titik prostatnya.
"Moreeeeee ahhhh yunnn" Desahnya nikmat
"Jaeeee kitttaaaa keeelluuarrrkan berrrsaaammaaa" Desahku nikmat saat merasakan aku akan segera orgasme
"Yunnieeeeee ahhhhh"
"Jaeeeee ahhhh"
Desah kami berbarengan seiring orgasme yang kami rasakan
Segeralah jae menaruh kepalanya dibahuku mengingat kini aku masih mengendongnya
"Kita lanjutkan baby jae" Bisikku lembut
Jae pun hanya mengangguk pasrah
Dan biarlah kami menikmati hal ini, yaa aku tahu hubunganku dengannya terlarang dan aku tidak peduli akan hal itu.
.
.
Waktu menunjukkan pukul 05.00 pagi, namun aktivitas kami belum ada aktivitas selesai. Kini jae dan aku sudah saling berpeluh keringat. Jae terus mendesah dan mengerang sepanjang malam, dan aku terus menghujaminya dengan amat sangat kasar, tidak sabaran, cepat, dan selalu mengenai titik prostatnya.
"Suuudaaahhhh yunnnn arghhhhh akkkuuu lelaaahhh ahhh" Desahnya nikmat seraya menikmati orgasme yang baru saja dialaminya, entah sudah keberapa kalinya jae dan aku berorgasme
"Saaabbbbarrrrr jaeee ahhhh akkkuuuu sammmpaaaaii" Desahku sambil terus menghujaminya
Jae hanya bisa pasrah saat aku terus menghujaminya seperti itu.
"Urghhh jaeeee kauuu hangattt ahhh" Desahku nikmat menikmati sisa-sisa orgasme
Kini aku dan jae berada diranjang kami, aku tidak tahu kami pindah keranjang jam berapa, yang jelas kami terus melakukannya dengan berbagai macam gaya dan itu belum membuatku puas.
"Pervert! Kau menghajarku habis-habisan" Ucapnya pelan
"Salahkan dirimu yang terlalu menggoda" Ucapku pelan sambil menggodanya
"Kau iniiiii" Ucapnya sebal
"Sudahlah ayoo tidur, kau tidak lelah? Atau kau mau lagi?" Ucapku menggodanya
"Aku mau tidur dengan memeluk yunnie" Ucapnya lembut
Segeralah jae memelukku erat sambil memejamkan matanya dan tak lama aku menyusulnua setelah sebelumnya aku mengecup keningnya terlebih dahulu
.
.
Hoeksss... Hoeksss...
Sudah beberapa hari ini, jae selalu muntah-muntah dipagi hari dan dia menjadi tidak napsu makan.
Kini aku dengannya berada didokter keluarga jung. Aku memaksanya untuk melakukan memeriksakan keadaannya, mengingat lusa kami akan segera menikah.
Appa jung tampak juga menemani aku dan jae. Dia mungkin khawatir dengan keadaan calon menantunya.
"Yunnnn" Ucapnya sambil menahan muntah disaat dokter tengah memeriksanya
"Kau mau muntah lagi, ini pakai plastik dulu. Nanti begitu selesai pemeriksaan baru kau boleh muntah di toilet" Ucapku seraya menyerahkan sebuah plastik padanya
Segera tanpa aba-aba jae memuntahkan didalam plastik tersebut.
"Kau tidak apa-apa nak? Tanya appa jung khawatir
Jae yang sehabis muntah pasti merasa lemas dan lemah, dia pun segera menyandarkan badannya lagi ketempat tidur sambil menganggukkan kepala seraya menunjukkan dia baik-baik saja.
Begitu jae telah selesai diperiksa oleh dokter pribadi appa jung. Dia tidak nampak kaget, dia hanya tersenyum bahagia, entah mengapa.
"Jae sakit apa dok?" Tanya appa jung khawatir
"Owww tuan jung dan tuan yunho anda tidak perlu khawatir, calon menantu anda tengah hamil, kini usia kandungannya sudah 3 minggu dan tuan jaejoong menjaga kesehatannya dengan baik. Ku minta tuan yunho mau untuk menjaganya, menemaninya" Ucap dokter itu pelan
'Apa hamil?!' Kataku dalam hati
"3 minggu berarti saat kita berlibur dunk, yunnie" Ucap jae pelan
"Iyaa baby, mulai sekarang dan seterusnya kau harus bisa menjaga kesehatanmu dengan babymu." Ucapku lembut
Cupp...
Aku hanya mengecup kening jae lembut
"Terima kasih atas hadirnya anak ini" Ucapku lembut sambil mengelus perutnya
Mungkin dengan hadirnya bayi ini mampu mengikat jae padaku. Aku tidak perduli dengan sandara yang jelas kini jae mengandung anakku dan aku lah yang menanamkan benihnya.
TBC._.
aku kembali :D
maaf yaa kalo jae striptisnya jelek, ancur T^T huhuhu
makasih yaa udah ngereview, ngefav, ngefollow ffku ini, aku cinta kalian semua :3
Narayaje : hihihi yunho nya terlalu mencintai jae c u,u
Unn anna : jangan mimisan dulu unn ;A;
Guest : Thank you :D
lyly : Thank you :D
makasih juga buat silent reader :D
Mind to review?
