Comment Reply :
sherrysakura99 : Iya, ini juga udah update. terus selain nindas Junpei... Entah kenapa menggambarkan Minato sebagai uke super sangatlah asik *dihajar*
Anyway, here's chapter 2 : Please enjoy :D
Minato masih tercengang dengan keberadaan Naoya , dan cowok berambut hitam pun berjalan mendekatinya, dan berkata.
"Lho, Arisato ? Kamu ada di sekolah ini, toh ? Lama tak ketemu, ya ! Kamu masih lucu seperti dulu ! Sehat ?"
Minato makin bingung. Kenapa Naoya bicara seperti ini ?
"Lho, Sensei kenal Minato ?" Tanya Junpei. Naoya mengangguk.
"Iya, dulu Sensei guru SD-nya Minato. Dulu dia murid kesayangan Sensei, soalnya mungil, lucu, tapi pendiam. Tapi gak pernah mau kalau sensei peluk atau acak-acak rambutnya. Sok dewasa, tapi disitulah imutnya."
Guru SD ? Kebohongan apa lagi ini ? Sudah berbohong sejauh ini, tentunya Naoya tidak masuk Gekkoukan hanya untuk mengejarnya. Minato memutuskan untuk ikut saja dengan kebohongan Naoya , dan memutuskan untuk menanyai pamannya nanti.
Tapi memang dasar Naoya masih cukup muda dan rupawan (halah! ) , siswi-siswi pun mulai menanyainya.
"Narumi-sensei ! Usia sensei berapa ?"
" Baru 29 , kok. Masih mudaa. Belum kepala tiga. Kalau mau, kalian boleh panggil saya Naru-sei. Singkatan dari Narumi-sensei. "
Hueeekkk! Tak salah lagi, sifat SKSD , sok muda, dan sok gaul ini Naoya sekali dan Minato paling ilfeel kalau Naoya sudah begini. Mana capek habis dari Tartarus lagi... Ugh. Keadaan ini sama sekali tak membantu.
"Sensei masih jomblo ?"
Naoya pun berpikir-pikir dulu sebelum menjawab, dan jawabannya membuat para siswi kecewa.
"Pacar sih, nggak ada. Tapi kalau TTM, ada."
Astaga. Jawaban apa pula ini. Kalau nanti Junpei bertanya padanya, Minato ingin jawab kalau ia sebenarnya tak kenal Naoya.
" Yaaaahhh! Sensei PHP, nih! " Jerit para siswi kecewa. Naoya pun mengangkat tangannya sejajar dengan wajahnya, dan berjalan ke arah piano.
"Maaf, maaf ! Sebagai bukti permintaan maaf Sensei, dan juga salam perkenalan Sensei, Sensei akan membawakan satu lagu untuk kalian. "
Naoya pun duduk di kursi piano, dan mulai memainkan piano sambil menyanyi. Sekelas itu pun diam. Minato sudah sering lihat Naoya menyanyi sambi memainkan piano, tapi tetap saja permainan Naoya begitu bagus sampai-sampai membuatnya terkagum. Setelah selesai , ia pun menegur para murid.
"Hei, jangan cuma Sensei yang menyanyi. Kalian juga, dong. Satu-satu. Biar Sensei bisa lihat kemampuan vokal kalian. Lagunya bebas, nanti Sensei iringi pakai piano ."
Para murid pun bernyanyi satu demi satu, dengan iringan permainan piano Naoya, dan Naoya pun menilai kemampuan vokal para murid. Anehnya, pada waktu giliran Minato, Naoya memilihkan lagunya.
"Arisato, kamu lagu ini saja, ya . Phantom of The Opera."
"Kenapa cuma saya yang lagunya dipilihkan Sensei ? Tadi Sensei bilang lagunya bebas. "
"Aaahhh, kita kan sudah lama tak ketemu ! Jadi Sensei ingin mengerjaimu sedikit. "
Daripada ruwet kalau membantah Naoya sekarang, Minato pun menurut saja.
Longkap ke waktu istirahat.
"Narumi-sensei asik banget ya, orangnya ! " Seru Junpei. Minato menggeleng.
"Ah, tuh orang mah amit-amit . Terlalu manjain sampe bikin eneg."
"Itu mungkin karena dia masih meilhat kau yang masih SD nan unyu , Minato. Tapi sekali ini aku setuju dengan Stupei, lho ! Narumi-sensei asik banget !" Timpal Yukari. Minato cuma menghela nafas.
Yeah, right. Kan bukan dia yang mengurus kalian. Coba kalian rasakan jadi anak asuhnya, pasti stres punya pengasuh parno . Batin Minato.
"Kalian sedang bicara soal guru musik baru itu, ya ? Yuya Narumi ?" Tanya Mitsuru. Junpei dan Yukari kompak mengangguk.
"Rasanya ada yang aneh dengannya... Tapi apa, ya..." Lanjut Mitsuru sambil memegangi dagunya. Minato terdiam . Naoya memang selalu misterius. Mungkin Naoya tahu hampir segalanya dari Minato: Hobinya, biodatanya, apa yang disuka dan tidak, dan berbagai macam rahasia Minato pun mungkin Naoya sebenarnya tahu. Sedangkan Minato sebenarnya hanya tahu sedikit sekali tentang Naoya. Yang pasti Minato memang sudah berniat untuk menginterogasi Naoya sepulang sekolah.
Jam 6 sore, Minato pun masuk ke ruang musik lagi. Klub musik juga sudah selesai dengan kegiatan klub mereka, dan yang ada di ruangan itu hanyalah Minato dan Naoya yang masih membereskan not-not musik.
"Aku tahu kau akan datang, Minato. Ya, aku pamanmu Naoya Toudou. Yuya Narumi hanyalah nama palsu." Ujar Naoya tenang. Naoya tahu keponakannya itu punya intuisi tajam seperi dirinya, dan sudah tak ada artinya bohong di titik ini.
Benar dugaan Minato. "Yuya Narumi " hanyalah nama palsu, dan itu memang pamannya Naoya. Tapi kenapa...
"Nao-jii, apakah Nao-jii benar-benar tidak bisa melepaskan aku sampai-sampai Nao-jii mengejarku sampai ke sini ? "
" Kalau cuma itu alasannya, aku tak perlu pakai nama palsu dan berpura-pura sebagai guru SDmu segala, kan ? " Jawab Naoya dingin dan menekan. Sejujurnya, Minato takut kalau Naoya sudah bicara dengan nada dingin begini. Seolah-olah Naoya akan melakukan apa yang lebih buruk dari yang bisa ia bayangkan.
" Kalau begitu, kenapa Nao-jii pindah ke sini, dan dengan nama palsu segala ?"
" Aku punya sesuatu yang harus kulakukan, dan itu bukan urusanmu ."
Minato benci suasana ini. Suasana dimana Naoya menganggapnya anak kecil yang tak berdaya.
"Nao-jii... Aku sayang Nao-jii. Tapi aku muak dengan kebohongan dan kerahasiaan Nao-jii ! Jangan perlakukan aku seperti anak kecil terus ! " Teriak Minato marah. Suaranya tidak sekencang itu, tapi sesuatu sekali seorang Minato Arisato bisa meledak seperti itu.
" Ini tak ada hubungannya dengan orang dewasa, remaja, atau anak kecil. Ini urusanku , aku punya kewajiban di sini. Walaupun mengkhawatirkanmu memang salah satu alasan kenapa aku pindah kesini, tapi itu bukan alasan utamanya. " Nada bicara Naoya masih dingin dan menekan. Tapi Minato belum sepenuhnya kalah.
"Kalau Nao-jii bisa berhenti memperlakukan aku seperti anak kecil, aku bisa cuci tangan dari urusan Nao-jii."
" Tidak, tak bisa. Ada urusan ataupun tidak, aku walimu, dan memang sudah kewajibanku untuk mengkhawatirkanmu. Sudah, ya. Aku ke Paulownia Mall dulu, para guru membuat acara penyambutan untukku. Kan tidak lucu kalau yang dipestakan tak hadir , dan ponselku juga sudah penuh SMS, aku tak mau di-misscall. Sampai besok, Minato."
Ujar Naoya sambil melenggang pergi dengan tasnya. Minato hanya memukul tembok dan menggigit bibirnya. Jengkel pada omnya yang penuh rahasia. Jengkel pada dirinya sendiri yang tak bisa mengorek rahasia itu darinya.
Jam 10 malam, dan Naoya masih ada di ruang guru bagian SMA Gekkoukan . Lho, bukannya tadi dia bilang ada acara penyambutan ? Memang, tapi acaranya baru saja selesai , dan dia merelakan diri untuk mengerjakan pekerjaan para guru lain sebagai guru baru pindahan . Dan para guru lain pun langsung meminta Naoya mengerjakan tugas mereka. Naoya pun menatap gunungan dokumen yang ada di ruang guru dengan tatapan ngeri. Nggak sebanyak ini juga , woy ! Kalau sebanyak ini, saat Dark Hour tiba dia pasti belum selesai mengerjakan semuanya. Sial. Mana ia tak berhasil dapat informasi apa-apa dari pesta tadi pula. Yah, tak apa. Baru hari pertama. Masih ada banyak waktu.
Dua jam kemudian, Naoya pun selesai mengerjakan dokumen-dokumen tersebut , dan dengan lelah menyandarkan dirinya ke kursi.
"Haaah... Kalau dipaksa, ternyata bisa juga ya, aku ini... Tapi sekarang masalahnya lain lagi.."
Dark Hour pun tiba, dan gedung sekolah berubah menjadi Tartarus. Naoya pun sudah mempersiapkan dirinya, ia membawa sepasang pisau lipat. Setelah berjalan 50 meter, ia pun bertemu sekelompok monster hitam. Inikah yang disebut Shadow ? Naoya pun memasang kuda-kuda. Ini pertarungan pertamanya tanpa persona. Dia memang bisa memanggil persona kapanpun ia mau, tapi kalau Naoya langsung memanggil personanya maka akan sulit baginya mempertahankan statusnya disana. Kirijo yang melakukan percobaan untuk membuat persona user buatan pasti sudah bisa membuat alat pemanggil persona dan bagaimanapun caranya ia harus bisa menyusup ke unit Persona-user Kirijo yang pasti ada di Gekkoukan. Sudah tanpa persona, bukan pakai pedang ataupun machine gun pula. Tapi pisau dan dia tak begitu ahli menggunakan pisau... Toh, sekarang ini dia bertarung untuk bertahan, bukan untuk menang.
Setelah masuk Tartarus pun sebenarnya perasaan Minato masih jengkel karena kalah debat dengan Naoya tadi. Dan ia tak bisa menceritakan apa-apa bahkan kepada Minako sekalipun. Tapi Minato mencoba menahan kejengkelannya itu. Bisa gawat kalau keadaan mentalnya mempengaruhi performa tempur personanya. Sudahlah, yang penting cepat selamatkan siapapun yang ada di Tartarus malam ini, lalu tidur .
"Arisato, target ada 20 meter lagi darimu ! Belok kanan dan kau akan menemukan target ! "
Minato pun mengikuti arahan Mitsuru , dan alangkah kagetnya ia saat melihat Naoya yang sedang bertarung melawan sekelompok Shadow menggunakan sepasang pisau lipat.
"Na... Narumi-Sensei !? "
Bersambung ! Uyeee gantung banget kan ending chapternya~ *direndem di kali* Munculin Minako ga ya.. Ufufufufu... Naoya bisa masuk SEES gak ya... Nyehehehe. Dan lagi, dia memang menyebalkan sekali di chapter ini kalau dilihat dari sudut pandang Minato. Tapi dia sudah 29, dia pengurus Minato jadi (dan biasanya dia sayaaaaaaanggg bangeeeetttt sama Minato di fanart2 yang author jarah dari Pixiv) mungkin dia bilang begitu untuk menjauhkan Minato dari bahaya dunia Persona, padahal Minato juga Persona-user, kontraktor Igor pula. Dan panggilan Minato ke Naoya kurang lebih kalau diindonesiakan jadi "Om Nao " Lucu yah ? *dihajar karena mambuat Minato jadi terlalu moe*
Intinya gitu lah ya. If you want update, then give me review, if you want even quicker update, give me even more review ! *nyanyi Judgement of Corruption* *di-home-run pake rambu jalan*
