Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: OC, OOC, AU, RATED M! kata-kata kasar, sumpah serapah, adegan sex dan semacamnya.

Dark!Naruko

Enjoy!


Chapter 2

.

.

.

.

.

Sasuke Uchiha, 24 tahun, wakil direktur perusahaan Uchiha di cabang New York. Lulusan Stanford, gelar bisnis ekonomi.

Apa cuma perasaannya atau kakaknya ini memang dikelilingi oleh orang-orang jenius?

"Jadi, Sasuke-kun," Sakura menyeruput wine-nya. "Sudah ada kekasih?"

Pertanyaan Sakura dijawab oleh tatapan membunuh Sasuke.

Naruko sendiri memilin gelasnya, memperhatikan Sai yang tetap tersenyum. Naruto menggeram ke arah Sasuke dan Sasuke mendelik tajam ke arah Naruto. Namun dari balik tatapan yang tajam itu, Naruko tahu bahwa tatapan Sasuke terhadap Naruto terlihat… hangat.

Tatapan Sasuke beralih dari Naruto secara tiba-tiba, membuat Naruko nyaris tersedak. Mata onyx itu sekarang sedang menatapnya dengan tajam, mengamatinya.

"Teme," Naruto mendengus. "Kenapa kau menatap adikku seperti itu?"

"Kalian berdua tidak mirip," Sasuke menjawab singkat. "Meski pun kalian kembar." Mata hitam itu tetap mendelik dengan tajam ke arahnya, membuat Naruko meneguk ludah.

"Tentu saja! Dia cewek, aku cowok. Meski pun kembar, bukan berarti wajah kami harus sama persis kan?" Naruto mengunyah steak-nya.

Naruko menunduk, cepat-cepat menghabiskan wine-nya. Dia sesekali bercakap-cakap dengan Sakura, bercakap dengan Sai.

Dan selama makan malam itu, mata tajam Sasuke terus tertuju padanya.

Dia tidak tahan lagi.

"Oh iya Sai! Kau harus menyelesaikan lukisan terbarumu kan?" Naruko berseru kaget.

Sai berkedip, masih tersenyum. "Iya?"

"Aduh, kenapa kau bisa lupa, dattebane! Ingat tidak? Kau harus menyelesaikan lukisan yang dimintai oleh modelmu," Naruko berdecak.

"Ah iya," Sai ikut beranjak. "Kalau begitu aku pamit dulu," Sai meraih mantel Naruko yang tergantung di dekat kursi. "Kau ikut kan, Naruko-chan?"

"Iya. Aku mau melihatmu menggambar," Naruko langsung beranjak, merentangkan tangannya sehingga Sai bisa memakaikan mantel di tubuhnya.

"Wah benar-benar deh… tradisi 'ladies first' di Amerika memang terlihat jelas ya," Sakura menatap Naruko dengan tatapan iri. "Bahkan cowok sialan seperti Sai juga bisa gentleman seperti ini…"

Sai tersenyum manis. "Tidak juga, aku hanya menjadi gentleman terhadap wanita yang cantik," ucapan santai Sai membuat Sakura menggeram.

"Sai," Naruko menegur, memutar bola matanya. "Ayo. Sampai jumpa nanti malam, nii-chan, Sakura-chan. Kalian sudah tahu kan aku tinggal di mana?" Naruko meringis, memberikan kunci cadangan untuk Naruto. Tanpa menunggu lagi, dia langsung merangkul lengan Sai dan menyeret sahabatnya pergi dari tempat itu. "Haaah…" Naruko menghela napas lega ketika dia berhasil menjauh dari meja itu. "Benar-benar deh. Aku tidak tahan berada di sana lebih lama lagi."

"Dia melihatmu."

"Hah?" Naruko menaikkan sebelah alis.

"Sasuke Uchiha. Dia melihatmu sejak tadi," Sai menoleh ke belakang. "Ah, dia masih melihatmu."

"Abaikan," Naruko mendesis.

"Sepertinya dia menganggapmu sebagai pengganti Naruto. Kalian punya warna biru yang sama."

Jantung Naruko terasa nyeri. "Pengganti? Iya. Tentu saja," dia tertawa pahit. Mau sampai kapan pun, Naruto selalu menjadi nomor satu bagi Sasuke. "Ayo, kita ke club."

Sai tersenyum. "Klub? Kau yakin? Kau benci pergi ke klub bersamaku."

"Karena banyak wanita yang menyerangmu, baka. Dan kau tidak tahu bahwa kakiku mereka injak karena mereka iri padaku. Tapi kali ini aku tidak peduli. Aku hanya ingin minum saja. Yang berani menginjakku akan menyesal seumur hidup." Dia menggeram.

"Baiklah, kali ini traktiranmu, oke?"

"Hei!" Naruko mengerutkan kening. "Kau menjual semua lukisanmu! Kau sedang kaya saat ini!"

"Tidak sekaya kau. Buku barumu baru saja menjadi best seller kan?" Sai tersenyum lebar.

"Ahh! Gentleman dari mana?! Baiklah, kutraktir kau, jadi kau sebaiknya tutup mulut dan dengarkan ocehanku!"

Sai hanya bisa tertawa, membiarkan Naruko menyeretnya ke tempat parkiran.

xxx

Naruko tidak tahu apa yang terjadi padanya. Sungguh. Ketika dia membuka mata, dia sudah tergeletak di kasurnya. Samar-samar, dia bisa teringat akan kejadian tadi. Sai yang menyeretnya masuk ke dalam rumah karena dia sudah mabuk dan tidak bisa berjalan. Dia menarik napas, mengernyitkan dahi ketika mencium bau alkohol yang menyeruak dari mulutnya. Kamarnya gelap gulita dan dia tidak bisa melihat apa pun meski dia sudah berkedip berkali-kali. Kepalanya terasa pusing dan dia sulit untuk bernapas. Dia merentangkan tangannya, meraba-raba kasur untuk mencari ponselnya namun dia tidak tahu di mana ponselnya.

Jam berapa sekarang? Apakah Naruto dan Sakura sudah kembali di rumahnya?

Pintu kamarnya terbuka dan Naruko membuka matanya. Dia tidak bisa melihat jelas, namun samar-samar dia menatap sepasang mata onyx. "Sai?" Naruko berbisik. Dia duduk, merasakan rasa pening yang mematikan di kepalanya. "Aku pusing, Sai… Minum…" Dia merentangkan tangannya.

Sai tidak menjawab, melainkan mendekatinya. Naruko bisa merasakan napas Sai yang menerpa wajahnya.

"Kau mau apa?" Naruko mengerang. "Tidak. Aku tidak mau menciummu. Dan aku tidak akan sex denganmu. Kita sudah putus dan aku sekarang sangat capek," dia mengayunkan tangannya, mendorong pergi Sai. Namun, tangan yang panas dan kekar menangkap tangannya. Naruko mengernyitkan dahi sesaat, kesakitan.

Sai tidak pernah kasar terhadapnya.

"Kau…" Naruko membuka matanya lebar-lebar, menatap sepasang mata onyx yang sekarang hanya berselisih beberapa senti darinya itu. "Kau bukan…" ucapannya terputus ketika bibir panas menangkap bibirnya dengan kasar. Naruko merintih ketika bibirnya digigit secara tiba-tiba. Rasa metal darah menyentuh lidahnya, membuat jantung Naruko berdetak cepat. Tangannya langsung mencengkram rambut lelaki di depannya.

Jabrik. Acak-acakkan.

Sasuke Uchiha.

Seluruh tubuhnya terasa mati rasa. Kepalanya pusing. Jari-jari yang panjang dan panas menyusup masuk ke dalam pakaiannya, meraba perutnya. Naruko mendesis, mendorong Sasuke. Sekarang matanya sudah bisa beradaptasi di kegelapan. Dia melihat sosok Sasuke yang menatapnya dengan tajam. Tiga kancing kemeja Sasuke sudah lepas, menampakkan dadanya yang bidang. Naruko meneguk ludah ketika melihat Sasuke yang menyondongkan tubuhnya, kembali melumat bibirnya. Kaki Sasuke menyusup masuk di balik kedua kakinya, membuat Naruko mengerang. Aroma mint dan rokok dari tubuh Sasuke menusuk hidungnya dengan tajam, membuat tubuhnya bergetar.

Tidak. Tidak.

Dia bukan cewek murahan.

Dengan satu dorongan penuh, dia berhasil membuat tubuh Sasuke menjauh beberapa senti. "Aku bukan Naruto," Naruko mendesis.

Itu pertama kalinya dia berbicara pada Sasuke dan Naruko cukup bangga akan nada suaranya yang terdengar tegas. Tapi Sasuke mengabaikannya, kembali menciumnya. Lidahnya menyapu bibir Naruko, membuat wanita itu bergidik. "Aku tahu kau bukan Naruto," bisikkan pelan di bibirnya itu membuat seluruh tubuh Naruko menegang.

Itu pertama kalinya Sasuke berbicara padanya.

"Kau mencintaiku," Sasuke mendesis pelan, matanya terpaku pada mata Naruko. "Kau mencintaiku." Bibirnya meluncur, menggigit pelan lekukan lehernya.

Naruko memejamkan mata erat-erat. Semua kenangan masa lalu kembali muncul di benaknya. Dia yang merasa kesakitan setiap kali Sasuke mengabaikannya. Dia yang sengaja bangun tiap malam hanya untuk bertemu mata dengan Sasuke. Dia yang mencari-cari Sasuke di balik kegelapan. Dia yang berkeringat dingin ketika bertemu dengan Sasuke.

Di detik itu dia menyadari sesuatu yang mengerikan.

Dia mencintai Sasuke.

"Lalu kenapa?" Suaranya bergetar. "Kenapa kalau aku mencintaimu? Kau tidak peduli denganku. Kau peduli dengan Naruto."

"Diam." Jari-jari Sasuke menyusup masuk ke dalam jeansnya, membuat jantung Naruko terasa seperti nyaris meledak. Ketika salah satu jarinya menyelip masuk di balik kemaluannya, Naruko menahan jeritan.

"Kau mencintai Naruto," Naruko menahan napas. Jari Sasuke berhenti bergerak. "Kau mencintai Naruto…" Naruko terisak. Tangannya bersender di bahu Sasuke. Dia bahkan tidak ada tenaga untuk mendorong lelaki itu lagi. "Aku tidak mau… aku tidak mau…" Meski dia menyukai Sasuke, meski dia mencintai Sasuke, dia tidak mau ini. Sebelum dia sadar dengan apa yang terjadi, Sasuke sudah beranjak, membelakanginya. Naruko menatap Sasuke yang membenarkan kemejanya dengan ekspresi dingin dan berjalan pergi, keluar dari kamarnya.

Naruko masih terduduk di kasurnya. Pakaiannya berantakan. Dengan jari-jari bergetar, dia mencoba untuk membenarkan pakaiannya. Perasaan mual menghantamnya tiba-tiba, membuatnya lari ke kamar mandi. Di wastafel, dia memuntahkan semua isi makan malam dan alkohol dari dalam perutnya. Setelah merasa tenang sedikit, dia mencuci wajahnya. Namun, kejadian tadi terlintas lagi di benaknya, membuatnya nyaris menangis.

Kau mencintaiku, suara Sasuke terngiang-ngiang di kepalanya.

Sasuke tahu. Dia tahu akan perasaannya yang tersembunyi. Naruko bahkan berusaha untuk melupakannya berulang kali, namun dia tidak pernah berhasil.

Sasuke tahu bahwa dia mencintainya dan tetap… mengambil kesempatan untuk sex dengannya? Karena dia pengganti Naruto?

Naruko kembali merasa mual. Air matanya bercucuran. Dia menengadah, menatap bayangannya di cermin. Matanya memerah, wajahnya pucat pasi dan rambutnya berantakan. Dia menahan isakkannya, berjalan menuju kamarnya. Matanya tertuju pada rak buku, di mana ponselnya tergeletak di sana. Dia mendapatkan kumpulan SMS. Salah satunya adalah SMS dari Naruto.

Naruko, aku dan Sakura menginap di hotel ya. Kunci rumahmu akan kuberikan padamu besok.

Naruko mengusap matanya, membaca pesan berikutnya.

Astaga! Aku tidak tahu kuncimu di mana! Sepertinya jatuh di restoran! Tenang saja, aku sudah menyuruh si teme kembali di sana dan mengambil kuncimu! Dia bilang kalau dia bisa menaruh kuncimu di bawah karpet rumahmu ya! Aku sudah berikan alamat rumahmu padanya.

Naruko tersenyum pahit. Kebalikan darinya, Naruto terlalu mempercayai orang lain. Entah apa yang akan dilakukan Naruto jika dia tahu akan kejadian barusan.

Oh iya, satu lagi. Aku baru saja melamar Sakura tadi, dan dia menerimaku! Tahun depan kami akan menikah, dattebayo!

Senyuman Naruko menghilang. Tubuhnya terasa kaku. Melamar? Tadi di restoran?

Sekarang dia mengerti akan sifat Sasuke yang tiba-tiba menjadi seperti itu. Tangan Naruko bergetar. Sasuke frustrasi dan ingin melampiaskan rasa frustrasi itu. Dan Naruko adalah mangsa yang mudah karena Naruko mirip dengan Naruto dan Naruko mencintai Sasuke.

Malam itu, Naruko kembali muntah untuk kedua kalinya.

xxx

"Kau masih sakit?" Naruto mengusap pelan rambutnya. "Si Sai itu memaksamu minum banyak semalam ya?" Naruto menggeram.

Mereka sekarang sedang berada di rumahnya. Ketika hari sudah pagi, Naruko mengirim SMS pada Naruto, bilang bahwa dia sedang sakit dan tidak bisa menemani mereka jalan-jalan. Dan di detik itu juga, Naruto dan Sakura langsung datang ke rumahnya, membawa makanan dan obat-obatan.

"Cuma efek samping karena mabuk. Kau minum banyak ya semalam?" Sakura menatap Naruko dengan tatapan tidak setuju,

Naruko tersenyum lemah, membiarkan Sakura memeriksanya. Toh Sakura adalah dokter. "Aku baru baca SMS dari nii-chan semalam. Kalian akan menikah? Selamat."

Naruto menyeringai lebar sedangkan wajah Sakura merona. "Kami memutuskan untuk menikah tahun depan, di sekitar musim semi."

Naruko meringis. "Baguslah. Pernikahannya di Jepang bukan?"

Mereka mengangguk. "Dan kau harus datang," Sakura meremas tangan Naruko.

"Pasti," Naruko tersenyum lebar.

xxx

Naruko tidak memberi tahu siapa pun akan kejadian 'itu'. Dia bahkan tidak bilang pada Sai. Dia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena fakta bahwa Sasuke tahu dimana tempatnya tinggal. Dia menghindari segala makanan yang beraroma mint dan menghindari ruangan bebas rokok karena bau-bau tersebut mengingatkannya akan Sasuke.

Kau bisa tenang. Sasuke tidak pegang kunci rumahmu lagi, batinnya mencoba untuk menghiburnya.

"Tentu. Dan aku yakin dia juga tidak bisa membobol pintu rumahku," Naruko mengkritik dirinya sendiri dengan nada menyindir. Dia yakin bahwa Sasuke bisa dengan mudah menyelinap masuk ke dalam apartemennya jika dia mau. Toh lelaki itu sudah sering menyelinap masuk ke dalam panti asuhan ketika masih kecil, entah bagaimana caranya.

Naruko mulai fokus pada pekerjaannya. Sebelumnya dia memang fokus, tapi sekarang dia super fokus. Memaksakan dirinya untuk fokus, lebih tepatnya. Dia tidak ingin teringat akan Sasuke lagi.

Dan untung saja. Sasuke tidak pernah datang atau tidak pernah muncul dari di dalam hidupnya.

Bagus, batin Naruko. Dengan begini aku bisa dengan mudah melupakannya. Naruko tersenyum lebar, mengira kalau dia bisa melupakan Sasuke semudah itu. Meski dia tidak pernah melihat Sasuke lagi, sesekali dia bermimpi, memimpikan mata hitam kelam di balik kegelapan. Mimpi itu membuatnya terbangun dengan keringat dingin. Jantungnya terasa nyeri dan tanpa dia sadari, air mata sudah membasahi wajahnya.

xxx

"Aku tidak diundang," Sai menatap kartu berwarna kuning dengan corak kelopak bunga sakura di tangannya. "Kejam sekali."

"Tentu saja. Mereka benci padamu," Naruko mendengus. "Pernikahan mereka akan dilaksanakan sebulan lagi. Dan mereka sudah mengirim tiket untukku."

"Ah, pernikahan musim semi di tengah hanami, di tengah kelopak bunga sakura yang mekar," Sai bergumam, memainkan kartu di tangannya. "Sangat… cliché."

"Apa boleh buat, Naruto sangat gombal," Naruko menahan senyuman. "Sakura benar-benar wanita yang beruntung. Dia akan dimanjakan nii-chan selama-lamanya."

"Dan kau iri karena kau tidak pernah dimanjakan?" Sai tersenyum lebar.

"Aku memanjakan diriku sendiri," Naruko menyabet kue coklat di depannya dan mengambil gigitan penuh, mendengus puas ketika melihat Sai yang menggelengkan kepala. Naruko melirik meja, menatap tiket pesawat di sampingnya. Naruto sudah merencanakan semuanya. Memesan hotel untuknya… memesan pesawat…

Wanita 25 tahun itu menelan kuenya tanpa mengunyah dengan benar. Dia sudah nyaris mengajak Sai untuk ikut dengannya. Tapi dia tahu Sai punya projek besar untuk musim semi nanti dan selain itu, dia tahu bahwa Sakura dan Naruto tidak terlalu menyukai Sai. Mereka sendiri tahu bahwa dia dan Sai punya 'sejarah'. Dia tidak ingin membuat mereka berpikir 'kenapa Naruko terlalu dekat dengan Sai padahal mereka sudah putus?'

"Berapa lama kau akan di Jepang?"

"Seminggu," Naruko bergumam. "Sebenarnya cukup tiga hari. Tapi, salah satu bukuku baru saja diterjemah di dalam Bahasa Jepang dan ada acara tanda tangan…"

"Selamat," Sai tersenyum lebar. "Dan aku akan merindukanmu," senyumannya melebar.

"Iya ya," Naruko mendengus, tahu bahwa itu adalah senyuman palsu. "Akan kubelikan oleh-oleh. Topeng siluman tengu untukmu jadi kau tidak perlu memasang wajah palsu lagi."

"Ah, jangan lupa beli satu untukmu juga."

Ucapan santai Sai membuat Naruko tertawa. Namun, tawanya menghilang tiba-tiba ketika dia teringat bahwa Sasuke juga pasti diundang di pernikahan.

Apakah Sasuke akan ada di sana?

Tidak. Dia tidak akan datang. Untuk apa? Menyiksa dirinya sendiri? Naruto akan menikah. Sasuke tidak akan datang.

Yup, Sasuke tidak akan datang, Naruko melahap kuenya dengan kecepatan penuh, berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.

xxx

Naruko merasa ingin menembak dirinya sendiri. Tidak. Tidak. Pistol illegal di Jepang dan hanya Sai yang punya pistol. Sekarang Sai sedang di New York melukis model telanjang dan dia tidak bisa mengirim pistol padanya.

Mata biru Naruko menengadah, menatap sosok Sasuke yang memakai tuxedo hitam, berdiri di samping Naruto. Wanita itu cepat-cepat menundukkan kepala ketika merasakan tatapan tajam yang terarah padanya. Jari-jarinya yang bergetar memilin gaun biru di tubuhnya. Perutnya kembali merasa mual. Dia ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu dan…

"Terima kasih telah datang di pernikahanku dan Sakura-chan! Dan hari ini aku sangat bahagia karena selain berhasil menikah dengan wanita impianku, aku berhasil memaksa si teme ini, Sasuke Uchiha, untuk kembali ke Jepang dan menjadi bestman di pernikahanku!" Suara Naruto terdengar dari speaker. "Selain itu, adikku yang sangat kusayangi juga hadir di pernikahan ini, dattebayo! I love you, Naruko!"

Semua mata langsung tertuju padanya dan tentu saja, mata sang Uchiha mendelik ke arahnya seakan-akan tidak ada hari esok.

Sungguh. Dia merasa ingin bunuh diri di tempat ini juga.

Dia melemparkan senyuman girang ke arah orang-orang yang menghampirinya, membalas sapaan ramah mereka semua. Kupingnya terasa sakit menerima pujian-pujian 'kau cantik sekali', 'kau tenang seperti ayahmu'. Dia langsung beranjak, mengundurkan diri dengan alasan ingin menatap keindahan bunga sakura di balik bulan purnama. Sekilas, dia menoleh, menatap Naruto dan Sakura yang berciuman di samping Sasuke. Wajah Sasuke terlihat kosong. Dia meraih gelas wine, meneguk habis wine itu dalam hitungan detik. Dan Naruko bersumpah kalau dia melihat tangan Sasuke bergetar.

Wanita itu memutar tubuhnya, cepat-cepat pergi dari pesta itu.

Dia tidak tahu apa yang dia rasakan saat itu. Dia tahu bahwa dia terkadang iri pada Naruto. Dia bisa membuat semua orang mencintainya dalam sekejap. Namun wajah kesakitan Sasuke melintas di kepalanya. Mau bagaimana lagi. Dia best man. Dia harus terus berada di sisi Naruto selama pernikahan berlangsung. Di adegan pemotongan kue… di adegan ciuman… di adegan sumpah setia…

Sasuke harus menyaksikan semua itu.

Tiba-tiba Naruko merasa bahwa dia ingin sekali menghantam kakaknya yang berotak polos dan tidak tahu apa-apa itu.

xxx

Naruko melempar gaunnya di lantai kamar mandi. Hotel pilihan Naruto cukup bagus. Dan kakaknya cukup berbaik hati, memesan enam malam sekaligus untuknya. Naruko tidak tahu bahwa pendapatan detektif polisi bisa sebanyak itu. Tapi yah… Sakura sendiri adalah dokter. Pendapatan Sakura pasti tidak bisa dibilang sedikit. Wanita itu cepat-cepat masuk ke ruangan shower dan mandi dengan gesit.

Setelah selesai mandi, dia keluar dari ruangan shower dan langsung menyabet gaun tidur, tidak mempedulikan pakaian dalamnya yang tergantung di dekat bathtub. Dia ingin cepat-cepat terlelap dan tidur pulas. Hari ini sangat capek, didekati teman-teman Naruto yang tidak bisa dibilang sedikit, didekati kerabat Iruka…

Dipelototi oleh you-know-who.

Batinnya benar-benar dikuras.

Naruko menghampaskan tubuhnya di kasur, memejamkan mata sambil mengerang puas. Dia menunggu rasa kantuk menyerangnya, namun dia tidak merasa apa-apa. Tubuhnya pegal dan dia merasa sangat capek, namun matanya terbuka lebar. Wajah kosong Sasuke tetap terlintas di kepalanya. Jari-jari yang bergetar. Tatapan yang dingin. Wajah pucat pasi.

Sasuke kesakitan.

Naruko menggelengkan kepala, membenamkan wajahnya di balik bantal.

Bukan urusanku. Bukan urusanku. Si buntut bebek itu mau bunuh diri pun bukan urusanku.

Mata Naruko tiba-tiba terbuka lebar.

Bunuh diri?

Dia beranjak, berjalan ke arah balkoni hotelnya. Kalau tidak salah, Naruto juga memesan hotel untuk Sasuke, meski pun cuma semalam. Dan jika Naruto sudah memesan dari jauh hari, hotel itu pasti sama dengan hotelnya sekarang. Lantainya juga harusnya sama karena di hotel ini hanya lantai 13 yang bebas rokok. Kamar mereka pun harusnya berdekatan.

Naruko meneguk ludah, menatap pemandangan Tokyo di depannya.

Lantai 13. Balkoni.

Wajah kosong Sasuke kembali melintas di kepalanya.

Sebelum Naruko sadar dengan apa yang dilakukannya, dia sudah keluar dari kamar hotelnya, hanya membawa ponsel dan kunci kamar. Mata birunya menatap sekeliling, tidak tahu mau mengetuk pintu yang mana.

Pasti dekat sini… kamar Sasuke pasti dekat dengan kamarku…

Matanya terpaku pada kamar di seberangnya. Papan dengan tulisan 'no disturb' tergantung di depan pintu kamar itu. Tanpa berpikir lagi, Naruko berlari ke arah kamar itu, menekan bel dengan kekuatan penuh. Dia menunggu sedetik, menunggu pintu itu untuk terbuka. Namun, tidak ada jawaban. Wanita itu menggigit bibir, menekan bel berkali-kali. Dia bahkan menghantam kepalan tangannya di pintu, mengabaikan rasa nyeri di lengannya. Setelah semenit menghantam pintu dan menekan bel tanpa henti, pintu di depannya tersentak terbuka. Kamar di hotel itu gelap gulita dan satu-satunya lampu yang menyala hanyalah lampu meja yang remang-remang. Sepasang mata onyx tajam mendelik ke arahnya.

"Apa maumu?" Sasuke Uchiha mendesis.

Naruko tidak menjawab. Matanya terpaku pada jendela balkoni yang terbuka lebar. Tanpa berpikir lagi, Naruko mendorong Sasuke, berjalan cepat ke arah jendela dan menutup jendela itu rapat-rapat, tidak lupa mengunci jendela tersebut. Dia memutar tubuhnya, menatap Sasuke yang menatapnya seakan-akan dia sudah gila.

"Jangan mati," Naruko berujar tanpa sadar. Mata birunya mendelik tajam. "Kau memang cowok keparat. Dickhead dan asshole. Tapi jangan mati. Nii-chan akan menderita dan Sakura akan merasa sangat bersalah dan aku…" Di detik itu juga, aroma rokok yang kuat dari kamar ini menusuk hidungnya, membuat mulut Naruko terkatup. Sasuke membuka pintu balkoni bukan untuk bunuh diri, tapi untuk merokok. "Oh."

"Kau mabuk," Sasuke menggeram, berjalan menuju balkoni dan kembali membuka jendela. "Fuck off," dia memutar tubuhnya dan meraih sebatang rokok dari saku kemejanya. Naruko berkedip, menatap api rokok yang memenuhi balkoni dari punggung Sasuke. Lelaki itu masih mengenakan kemeja hitamnya. Tuxedo-nya dia biarkan tergeletak di lantai. Naruko terdiam, merasa sangat bodoh untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia berjalan pergi, menyumpahi dirinya karena dia mempedulikan si keparat-asshole-bastard-buntut bebek ini. Dia mencengkram pintu kamar, hendak keluar dan membanting pintu.

"Aku tidak akan kembali lagi," suara dingin Sasuke membuat tangan Naruko terhenti di ganggang pintu. "Ini terakhir kalinya aku menunjukkan mukaku di depan si dobe itu. Aku bilang padanya kalau aku akan ditugaskan di Afrika untuk selama-lamanya."

Naruko berkedip. Dia memutar tubuh, menatap punggung Sasuke. "Afrika? Uchiha Corp punya cabang di Afrika? Omong kosong apa yang kau bicarakan?"

Sasuke mendengus, tertawa pelan, membuat Naruko berkedip lagi.

Sasuke tertawa?

"Meski kalian berdua Uzumaki, kau tidak se-dobe Naruto," Sasuke memutar kepalanya, tersenyum mengejek ke arah Naruko.

Oke, Naruko tidak tahu apakah itu ejekan atau pujian.

Sebelum dia menjawab, Sasuke kembali membuka mulutnya. "Aku akan tetap di New York, tapi aku juga akan pergi dari kehidupanmu."

Naruko tidak menjawab. Dia berdiri di depan pintu, menatap punggung Sasuke dan asap rokok yang mengelilinginya. Punggung Sasuke yang bidang… kekar… kuat…

Namun kesepian.

Kau mencintaiku, ucapan Sasuke di malam itu kembali melintas di kepalanya. Naruko memejamkan matanya, berusaha untuk melupakan pernyataan tersebut. Dia tidak bisa melihat ekspresi Sasuke di dalam kegelapan. Namun dia bisa mendengar seperti apa nada suara Sasuke.

Dingin, tenang, dan… menyayat.

Penuh akan kesedihan.

"Ibu Sasuke meninggal ketika melahirkannya, kau tahu," Suara Naruto terngiang-ngiang di benaknya. "Jadi keluarganya seakan-akan menyalahkannya. Tidak ada yang menyayanginya sama sekali."

Naruko memejamkan mata, tangannya bergetar.

Kau mencintaiku.

Sebelum Naruko sadar dengan apa yang dilakukannya, dia sudah berjalan ke arah Sasuke, melingkarkan lengannya di sekeliling pinggang lelaki itu. Dia merasakan tubuh Sasuke yang menegang kaku.

"Jika ingatanku tidak salah, setahun yang lalu kau menangis dan gemetar ketika aku menyentuhmu," nada suara Sasuke yang dingin membuat Naruko menggigit bibirnya. "Kau mabuk," lelaki itu menoleh, menatapnya dengan tajam.

"Tidak," Naruko mempereat pelukannya. Tangannya menyentuh dada Sasuke dan dia bisa merasakan detak jantung lelaki itu. Meski nada suara Sasuke terdengar tenang, jantungnya berdetak dengan gila. "Aku tidak mabuk." Naruko meraih tangan Sasuke, meletakkan tangan Sasuke di depan dadanya. Mata Sasuke melebar sesaat, merasakan debaran jantung Naruko yang sama gilanya dengan jantungnya. "Dan kau benar," Naruko tersenyum pahit. "Aku mencintaimu," suaranya bergetar, air matanya mengalir begitu saja. "Kenapa harus kau? Kenapa…" Bisikkan suaranya terdengar memilukan. Dia memejamkan matanya erat-erat, membiarkan air matanya mengalir deras. Dia tidak peduli lagi. Terserah jika Sasuke melihatnya sebagai wanita menyedihkan. Terserah jika Sasuke mendorongnya dan melihatnya dengan tatapan jijik.

Namun, Sasuke tidak mendorongnya. Sasuke menyentuh wajahnya, mengusap air matanya. "Aku tidak mencintaimu."

"Aku tahu," Naruko tertawa pelan. Sejak dulu, sampai sekarang… mata Sasuke selalu mencari-cari Naruto. Tapi di detik ini, mata onyx itu tertuju padanya. Naruko menengadah, menatap Sasuke dalam-dalam. "Aku tahu."

Sasuke menunduk, mengecup pelan bibirnya. Dia membiarkan Sasuke merengkuh tubuhnya, membiarkan Sasuke merebahkan tubuhnya di kasur. Berbeda dengan setahun yang lalu, di mana Sasuke menyerang tubuhnya dengan perasaan amarah dan kecewa. Naruko membuka matanya, menatap alis Sasuke yang bertaut. Jari-jarinya yang panjang bergetar, mencengkram lengannya seakan-akan dia tidak ingin Naruko pergi darinya.

Wanita itu memejamkan matanya erat-erat, meraup wajah Sasuke dan menciumnya tanpa henti. Dia bisa tahan terhadap Sasuke yang kejam dan dingin. Tapi dia tidak bisa tahan melihat Sasuke yang kosong dan penuh akan kesedihan seperti ini.

Kali ini Naruko tidak melawan ketika Sasuke membuka ikatan jubah tidurnya. Tangannya terasa panas di kulitnya. Dia menyentuh setiap sudut tubuhnya, seakan-akan ingin membakarnya di detik itu juga. Naruko mengerang ketika tangan Sasuke meremas dadanya. Dia membekap mulutnya, menahan isakkan dan erangan. Namun, Sasuke menarik tangannya, menyusupkan dua jari di mulutnya, membuatnya meronta sesaat. "Jangan tahan suaramu," dia berbisik di telinganya. Jari Sasuke menekan lidahnya.

Naruko meronta lagi, melingkarkan kakinya di pinggang Sasuke. Dia menggeliat ketika Sasuke menggeserkan selangkangnya di tubuhnya. "Sasu…" Desahannya terputus karena Sasuke menyusupkan lidah ke mulutnya. Dia seakan-akan dibutakan oleh tatapan tajam lelaki di depannya. Dia tidak sadar kapan Sasuke melepaskan pakaiannya. Ketika dia membuka mata, Sasuke sudah berlutut di atas tubuhnya. Lelaki itu menyusupkan jari-jari di balik kemaluannya, membuat Naruko kembali menggeliat. Tangan kekar Sasuke menahannya sehingga dia tidak bisa bergerak terlalu banyak. Bibir Sasuke membungkam semua erangan yang melontar dari mulutnya.

"Aku tidak mencintaimu," Sasuke mendesis. Dari bawah sinar rembulan, Naruko bisa melihat wajah Sasuke dengan jelas. Keringat memenuhi wajahnya, sorot matanya tajam dan terlihat kesakitan. Sasuke meraih kedua kaki Naruko, menaikkan kedua kakinya di bahunya yang bidang. "Aku tidak mencintaimu."

"Aku tahu," Naruko balas mendesis. Matanya mendelik tajam. Tidak sekali pun dia memalingkan matanya dari tatapan Sasuke. "Aku tahu." Dia mendorong tubuhnya, mempersatukan tubuhnya dengan tubuh Sasuke.

xxx

Ketika Naruko membuka matanya, matahari sudah naik di atas. Dia beranjak, mengernyitkan dahi ketika merasakan nyeri di selangkangnya. Mau bagaimana lagi, sudah lama dia tidak sex. Dan Sasuke tidak bisa dibilang 'lembut'. Dia menoleh kesana kemari, namun dia tidak bisa menemukan Sasuke di kamar itu. Dia bahkan tidak bisa menemukan tuxedo dan koper Sasuke di lantai.

Dia sudah pergi.

Naruko beranjak, mengenakan gaun tidurnya yang tergeletak di atas karpet lantai. Sesaat, dia teringat akan kegelapan, mata yang penuh akan kesedihan, keringat yang bercucuran dan air mata yang mengalir.

Air mata.

Naruko tidak tahu apakah Sasuke sadar bahwa lelaki itu meneteskan air mata ketika mereka sedang sex semalam.

Dada Naruko terasa perih. Dia meraih ponsel dan kunci kamar hotelnya dan keluar kamar sambil membaca pesan-pesan di HP-nya.

Kebanyakan pesan di sana dari Sai, bercerita tentang bagaimana dia membuat model-modelnya menangis karena dia mengkritik mereka dengan tajam, sambil memasang senyuman lebar tentunya. Biasanya Naruko akan langsung membalas, mengkritik sahabatnya. Namun, mata Naruko terpaku pada pesan dari satu nomor yang tidak dikenalnya. Dia membuka pesan tersebut.

'Good bye.

S.U.'

S.U.

Sasuke Uchiha. Naruko tersenyum singkat, masuk ke dalam hotelnya. Dia melempar ponselnya di kasur, menarik napas dalam-dalam. Kamarnya berbau segar. Tidak ada bau rokok di sini. Senyumnya melebar. Dia berjalan menuju balkoni, menatap kumpulan pucuk pohon sakura yang mekar.

Jepang memang indah, seindah yang dia ingat.

Dia menengadah. Entah kenapa, dadanya terasa lega.

Dia tidak tahu darimana Sasuke mendapat nomornya. Mungkin lelaki itu mengotak-atik ponselnya ketika dia sedang tertidur. Namun yang pasti, dia tidak akan bertemu dengan Sasuke lagi.

"Aku akhirnya bisa move on," Naruko berbisik pelan. Senyumnya melebar. Dia kembali ke kasurnya, meraih ponselnya dan membalas pesan dari nomor yang tak dikenal itu.

'Good bye.

Naruko U.'

Setelah selesai mengirim pesan itu, dia langsung menghapus nomor tersebut. Wanita itu merenggangkan tubuhnya, menyeringai lebar. Rasanya beban yang berat hilang begitu saja dari dadanya. Jauh di dalam lubuk hatinya dia yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja.

xxx

Dua bulan sudah berlalu sejak dia kembali ke New York. Hidupnya kembali normal. Sasuke menaati janjinya, tidak pernah menunjukkan wajah di depannya lagi. Dan Naruko harus memutar bola mata setiap kali Naruto menelponnya, berceloteh tentang kecantikan Sakura dan mengeluh tentang Sasuke yang mengasingkan diri di Afrika.

Mulut Naruko sudah gatal untuk mengaku bahwa Sasuke masih di Amerika. Tapi dia tahu bahwa itu adalah rahasia mereka berdua.

Hidupnya baik-baik saja setelah kepergian Sasuke. Lebih baik, malahan. Salah satu bukunya akan dijadikan film dan Naruko sekarang super sibuk. Dia sering telat makan. Dia tidak pernah lagi membersihkan rumah. Dia sampai harus menyewa pembantu yang membersihkan rumahnya setiap minggu.

"Kau semakin kurus," Sai masuk ke dalam rumahnya begitu saja, membuat Naruko memutar bola mata lagi. Dia hendak mengkritik sahabatnya itu namun dia langsung melupakan segala sumpah serapah ketika melihat makanan di tangan Sai.

"Aku belum makan sejak semalam," Naruko meninggalkan komputernya dan menyabet mangkuk ramen itu.

Mereka berdua duduk di sofa, menonton TV dan saling berceloteh, mengkritik senyuman-senyuman palsu dari setiap artis.

Di detik itu Naruko tertawa kencang, merasa bahwa dia hidup kembali.

xxx

Di bulan ketiga, dia merasa kalau dia akan pingsan. Dia tidak tidur dua hari, mengejar deadline. Dan ketika Sai masuk ke rumahnya tanpa ijin, Naruko tidak keberatan. Dia berjalan gontai ke arah Sai. "Maka… nan…"

Sai memutar bola matanya, menatap Naruko yang tergeletak di depannya. "Kau semakin kurus. Apa tujuanmu tidak makan dan tidak tidur bermalam-malam?"

"Tentu saja tujuanku adalah untuk mengejar deadline."

"Tidak. Tujuanmu adalah ingin mejadi mayat," Sai tersenyum lebar. Dengan mudah lelaki itu meraup tubuh Naruko, menenggerkan tubuh wanita itu di bahunya. Naruko membiarkan Sai memanggulnya di bahu. Toh dia tidak ada tenaga lagi untuk bergerak. Dia menunggu Sai untuk melemparnya di kasur, namun Sai berhenti berjalan secara tiba-tiba. "Dadamu jadi mengecil."

Kalau saja dia berdiri di depan Sai, dia akan menghantam wajah lelaki itu sekarang. "Oh ya?" Naruko menjawab dengan nada sinis. "Perlu kuingatkan, aku hanya makan sekali di dua hari ini dan aku nyaris tidak tidur selama dua hari. Jadi maklum saja kalau aku jadi kuru…"

"Tapi perutmu menjadi lebih gendut."

Naruko nyaris menjerit marah. Namun, jeritannya terhenti ketika matanya terpaku pada kalender yang terpajang di depan mejanya. "Turunkan aku," suaranya dingin, namun tegas. Ketika Sai menurunkannya, dia langsung menyabet kalender tersebut. Dia membolak balik kalendernya, mencari-cari tanda spidol merah di salah satu nomor.

Namun dia tidak bisa menemukan tanda merah sedikit pun di tiga bulan terakhir ini.

Sai berdiri di belakangnya, ikut meneliti kalender yang penuh akan tulisan deadline itu. "Ah, kau belum menstruasi selama tiga bulan terakhir ini?" Sai tersenyum lebar. "Terlalu stres? Tidak subur lagi? Apakah jalanmu menuju mayat sudah lebih dekat dari sebelumnya?"

Naruko mengabaikan suara manis Sai. Dia menghitung cepat di kepalanya.

Tiga bulan yang lalu...

Awal April, pernikahan Naruto. Pohon sakura mekar…

Hari ketika dia dan Sasuke…

Naruko meneguk ludah. Tubuhnya terasa dingin. "Sai, antar aku ke klinik terdekat."

xxx

Sai dengan sabar menunggu di depan klinik. Ketika nomor antrian Naruko tertera di papan, Sai beranjak dan hendak mengikuti Naruko masuk ke dalam ruangan. Namun sahabatnya itu malah mendelik, mengancam untuk membunuhnya jika dia ikut bersamanya.

Sai menelengkan kepala. Apakah Naruko cemas bahwa dia akan mengkritik ketidaksuburan wanita itu? Tapi tadi Sai sudah mengkritik Naruko dan tumben Naruko tidak terlihat peduli. Sai menaikkan bahunya. Mungkin hanya masalah sepele, toh Naruko sering telat menstruasi karena stres dan semacamnya. Tapi biasanya hanya telat sebulan…

Pintu klinik terbuka dan Naruko keluar dari ruangan. Dia melihat Naruko yang tersenyum ke arah suster yang mendampinginya.

Senyum palsu lagi.

Sai beranjak, mendekati Naruko yang masih tersenyum manis.

"Ah! Kau kekasihnya? You are a very lucky man!" Suster itu tertawa. Sai hanya bisa tersenyum.

"Beruntung kenapa?" Dia melirik ke arah Naruko sesaat. Meski Naruko tersenyum lebar, wajahnya terlihat pucat. Mata birunya melirik sekilas ke arahnya, seakan-akan memohon sesuatu padanya. Sai terdiam sesaat, meraih tangan Naruko dan meremas tangannya. "Ada apa dengan kekasihku?" Sai tersenyum ke arah sang suster. Tindakan itu membuat senyuman palsu Naruko melebar, menandakan bahwa instingnya untuk berpura-pura menjadi kekasih Naruko di depan sang suster adalah tindakan yang tepat.

"Ah, maaf jika aku lancang dan terlalu ikut campur!" Suster itu cekikikan. "Tapi aku fans berat Ms. Naruko! Jadi aku merasa senang untuknya juga!"

"Ahh," senyuman Sai melebar. "Senang kenapa kalau aku boleh tahu? Kakasihku tidak menstruasi selama tiga bulan dan hal itu bisa saja menandakan bahwa ada kemungkinan dia tidak subur, bukan? Apa yang harus disenang…"

"Bukan! Bukan!" Suster tertawa girang. Dia berjinjit, berbisik di telinga Sai. "Naruko hamil," si suster cekikikan.

Sai tetap tersenyum.

Hamil?

"Ah? Begitu?" Lelaki itu tertawa pelan, merasakan tangan Naruko yang mulai berkeringat. "Kabar yang bagus."

"Ms. Naruko, kau juga beruntung. Kekasihmu tampan dan pengertian," sang suster menepuk bahu Naruko. "Tapi kau terlalu kurus. Makanlah lebih banyak lagi supaya bayimu tetap sehat ya," suster tersebut mengedipkan mata. "Kembalilah sebulan lagi untuk check up."

Sai dan Naruko berdiri di depan pintu klinik, menatap kepergian sang suster. Tanpa bicara apa-apa, Sai menyeret Naruko, meraup tas Naruko yang masih ada di kursi tunggu. Mereka berdua tidak bicara apa-apa sampai ketika Sai mendudukkan Naruko di jok kursi mobilnya. Dia masuk ke dalam mobil, duduk diam. Tangannya sudah ada di atas kemudi tapi dia tidak menyalakan mobilnya.

"Terakhir kalinya kita sex…" Sai bergumam. "… hmm, dua… tiga tahun yang lalu?"

Naruko menundukkan kepalanya.

"Dan setahuku kita selalu mengenakan pengaman. Antara aku yang memakai kondom atau kau yang menelan pil-pil anti hamil itu."

Tubuh Naruko bergetar.

"Anak siapa dia, Naruko?" Senyum Sai menghilang, menatap Naruko lekat-lekat.

Naruko tidak menjawab tapi Sai sudah bisa menebak siapa.

"Apakah kau akan memberitahunya?" Dia berbisik pelan, mulai menyalakan mesin mobilnya.

"Tidak," Naruko mengusap wajahnya. Sai tidak bisa menemukan raut wajah kesedihan atau ketakutan dari wajah sahabatnya itu.

"Kau tidak akan menuntutnya?"

"Tidak."

"Lalu kau akan…" Mata Sai melirik sesaat ke perut Naruko. Aborsi.

"Aku tidak akan membunuh anak ini," Naruko menjawab pertanyaan di benak Sai. "Ini anakku, Sai," Mata biru itu mendelik tajam. "Anakku."

Sai tidak menjawab, matanya kembali tertuju pada jalan raya. Perlahan-lahan, senyuman tipis muncul di bibir lelaki itu. Dia ingat kenapa dia menggambar lukisan abstrak itu. Lukisan akan mata biru terang Naruko di tengah kegelapan. Dia terpesona akan mata wanita di sampingnya ini. Naruko sejak kecil tidak punya keluarga. Sejak kecil tidak dicintai orang. Miskin, sengsara. Tapi mata itu tidak pernah hilang akan harapan.

"Aku tidak mencintaimu sedalam itu," senyuman Sai mengembang. "Tapi kalau kau berjanji untuk makan setidaknya tiga kali sehari dan mandi setidaknya satu kali sehari, aku janji untuk menjaga rahasia ini dari si bakso ikan dan aku janji untuk berpura-pura menjadi kekasihmu setiap kali kau kembali ke klinik itu untuk check up." Entah apa yang terjadi jika ada reporter yang tahu bahwa Naruko Uzumaki, sang penulis muda terkenal, hamil misterius tanpa kekasih.

Naruko tertawa lepas. Dia mencengkram perutnya dan tanpa dia sadari, air mata sudah mengalir, membasahi wajahnya. "Dari ucapanmu itu, kau terdengar kalau kau sangat mencintaiku," suaranya gemetar dan dia menahan diri untuk tidak terisak.

"Ah, rasa cintaku terhadapmu berbeda dari rasa cinta Romeo akan Juliet."

"Aku tahu," Naruko terisak. Senyum lebar di wajahnya. "Kau tidak akan pernah menyuruhku pura-pura mati, Sai."

"Dan aku tidak akan bunuh diri untukmu," Sai masih tersenyum. Namun matanya menatap tajam ke arah Naruko. "Tapi aku tidak janji untuk tidak membunuh you-know-who kalau aku bertemu dengannya. Jadi sebaiknya kau pastikan kalau dia tidak muncul di depanmu atau di depanku." Senyum Sai melebar.

"Tenang," Naruko tersenyum pahit. "Dia tidak akan muncul di depan kau," dia menatap bayangannya dari kaca spion Sai. "Atau pun aku."


TBC

AN: aaahhh! Fic rate M pertama!

Nulis ini banyak cobaan gila...

haha. tapi moga2an reader suka. Ini fic pertamaku dengan alur super gelap juga...

dan rasanya ini bakalan jadi 4 chapter deh, bukan 3. haha...

sampai jumpa di chap berikutnya! :)