Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: OC, OOC, TYPOS, RATED M (sumpah serapah dan semacamnya. Gak ada sex scene chap ini)

AN: oh iya. sebelum baca, perhatikan bener2 tanggal yang tertera di setiap scene. nyambung atau tidaknya cerita ini tergantung dengan tanggal-tanggal itu :)

Enjoy! :)


20:48 PM

7th October 20XX

"Behave, dear brother."

Sasuke mendelik ke arah Itachi. Kakaknya tersebut memasang senyuman mengejek, masuk ke dalam gallery dengan langkah yang tegap. Sasuke sendiri tidak tahu kenapa dia harus pergi ke pertemuan antar direktur perusahaan ini. Dia tahu bahwa banyak yang menatapnya sebagai 'mangsa'. Mau bagaimana pun, perusahaan Uchiha memegang saham yang besar di Amerika. Maklum saja jika ada pengusaha yang ingin menjodohkan putri mereka padanya.

Dan Itachi tahu dengan fakta itu dan sengaja membawanya supaya dia bisa menjadi 'madu' yang dikerubungi banyak lebah. Entah sudah berapa kali Itachi memanfaatkan statusnya yang single itu untuk menarik perhatian pengusaha lain sehingga mereka berniat melakukan kerja sama dengan Uchiha.

Lelaki 26 tahun itu biasanya tidak keberatan ikut Itachi di pertemuan seperti ini. Dia cukup menikmati perdebatan ekonomi di dunia. Perdebatan itu memeras otaknya, membuatnya lupa akan sesuatu yang… tidak mengenakkan. Namun tempat pertemuan kali ini adalah art gallery, di mana terpajang lukisan-lukisan ribuan dolar yang dilukis oleh pelukis berbakat. Dan orang-orang kaya punya hobi yang aneh seperti mengoleksi lukisan-lukisan yang tidak ada gunanya.

Sasuke tidak pernah tertarik dengan lukisan. Namun setahun yang lalu, dia membeli lukisan abstrak. Dia tidak tahu apa yang membuatnya tertarik dengan lukisan itu. Dua butir cahaya biru dari balik kegelapan. Tanpa berpikir panjang, dia langsung mendatangi sang pelukis dan membeli lukisan tersebut tanpa mempedulikan harganya. Dan entah ada kutukan apa, ternyata sang penulis terkenal adalah 'sahabat' dekat adik Naruto. Dia sudah bersumpah untuk tidak bertemu atau pun mengingat wanita itu lagi. Maka itu, dia menghindari segala sesuatu yang berhubungan dengan wanita tersebut.

Datang ke art gallery berarti bisa saja dia bertemu dengan…

"Ah, lihat siapa yang datang," suara manis selembut beledu membuat Sasuke memutar tubuhnya. Matanya bertemu dengan senyum menawan dari sang pelukis terkenal. "Mr. Uchiha. Long time no see," Sai tersenyum lebar.

Inilah alasan kenapa dia mendelik ketika Itachi mengajaknya ke gallery.

Karena dia akan bertemu dengan si 'sahabat'.

"I don't know you," Sasuke berujar dingin, berjalan pergi. Dia akan langsung lenyap dari gallery ini setelah berbasa-basi dengan rekan-rekan Itachi.

"Kau tidak tertarik dengan karya baruku?" Sai berjalan di sampingnya, membuat Sasuke menggeram sesaat. "Setahun yang lalu kau membeli karya abstrakku yang satu-satunya. Dan mungkin tahun ini kau tertarik untuk membeli karya abstrak-ku yang baru?" Senyuman lebar di mukanya yang pucat itu membuat tangan Sasuke gatal untuk menghantam lelaki di sebelahnya ini.

"Aku tidak…" ucapannya terhenti ketika dia melihat lukisan di depannya.

"Ah, kau menemukannya juga," Sai tersenyum semakin lebar, namun matanya mendelik tajam. "Kau suka? Biasanya aku bisa menyelesaikan lukisanku dalam hitungan hari. Namun butuh waktu dua bulan untuk menyelesaikan lukisan itu."

Sasuke tidak menjawab. Dia maju selangkah. Mata onyxnya terpaku di lukisan abstrak itu.

Dia melihat warna biru yang sama. Dua permata biru, dilingkari oleh cahaya kuning emas.

Mata biru, rambut pirang panjang.

Mutiara biru dan cahaya matahari itu dikelilingi gumpalan warna hitam, membuat dua warna tersebut terlihat sangat terang. Dan di tengah gambar itu terdapat cahaya mungil. Cahaya biru dengan warna sama dengan dua permata safir tadi. Tapi… cahaya biru muda itu terlihat kecil dan redup… Warna emas di sekitar dua permata biru itu menjalar, melingkari cahaya biru yang mungil tersebut, seakan-akan melindungi sang permata mungil.

"Gambar ini sekilas mengingatkanku akan black hole yang mencoba untuk menyedot dua bintang berharga dan sinar matahari," suara Itachi membuat Sasuke tersentak. "Tapi… jika dilihat lagi…" Dia menoleh ke arah Sai dengan senyuman misterius. "Arti dari gambar ini jauh lebih dalam dari apa yang kubayangkan bukan?"

"Ah, tepat sekali," Sai tersenyum lebar.

Sasuke tidak berkata apa-apa. Matanya terpaku pada lukisan itu. Tangannya terasa dingin.

"Lukisan ini melambangkan apa?" Itachi bertanya pada Sai.

"Tergantung dengan apa yang kau pikirkan. Ini lukisan abstrak. Lukisan ini melambangkan banyak hal. Blackhole yang hendak menyedot bintang pun benar," Sai berujar santai. "Tapi ketika aku melukis ini, aku membayangkan ibu yang melindungi anak di dalam rahimnya," senyum Sai menghilang selama sedetik.

Sasuke mengepalkan tinjunya berulang kali. Tangannya keringatan.

"Berapa?" Itachi tiba-tiba bertanya. "Akan kubayar jumlah yang kau minta."

"Sayang sekali, aku tidak berniat menjual lukisan ini." Sai meringis.

"Tapi kau memamerkan lukisan ini selama…" Mata Itachi terpaku pada tanggal di mana lukisan itu pertama kali dipajang. "Dua minggu. Apa tujuanmu meletakkan lukian ini di gallery kalau kau tidak mau menjualnya?"

"Ah, aku hanya berniat untuk menunjukkan gambar ini pada…" mata Sai melirik sesaat ke arah Sasuke. "Orang-orang," Dia tersenyum lebar.

"Begitu?" Itachi bergumam pelan. "Apa yang akan kau lakukan pada lukisan ini setelah pameran berakhir?"

"Aku berniat memberikan lukisan ini pada sabahatku, sebagai hadiah ulang tahun untuknya. Dia pasti suka dengan lukisan ini."

"Sahabatmu bisa mengenal arti dari lukisan?"

"Tidak sama sekali," Sai tertawa. "Tapi lukisan ini terinspirasi darinya."

Kaki Sasuke terasa kaku. Dia menghitung cepat.

Sekarang bulan Oktober. Sudah enam bulan berlalu sejak dia…

Matanya terpaku pada sinar biru mungil di tengah lukisan itu.

"Aku keluar. Merokok," Sasuke memutar tubuhnya, berjalan cepat. Dia bisa merasakan tatapan tajam Itachi dan Sai dari balik punggungnya, namun dia tidak peduli. Ketika dia keluar dari gallery, kakinya sudah berlari tanpa dia sadari. Dia menganyunkan tangannya, memanggil taksi terdekat. Ketika supir taksi bertanya di mana tempat tujuannya, alamat rumah wanita itu langsung melesat begitu saja dari bibir Sasuke. Bagaimana caranya dia masih ingat, dia tidak tahu.

Ketika dia sampai di condominium Hidden Leaf lantai sepuluh, dia langsung berjalan cepat menuju ruang apartemen di pojok kanan. Matanya terpaku pada pintu yang terkunci. Sasuke menarik dasinya, menyabet pin dasi di belahan dasi merah tersebut. Dengan gesit dia menyelipkan ujung pin yang tajam itu di ganggang pintu.

Setelah semenit mengotak-atik pintu tersebut, suara 'klik' terdengar dan pintu terbuka. Sasuke masuk ke dalam, nyaris tidak bersuara. Dia mendengarkan suara TV yang menyala. Tanpa membuang waktu, dia langsung berjalan menuju arah suara itu.

Langkah kaki Sasuke terhenti ketika dia melihat sosok wanita berambut pirang panjang yang duduk di sofa. Punggung wanita itu membelakanginya. Dia mengenakan kaus kendur berwarna abu-abu lusuh. Rambutnya acak-acakkan.

"Palsu," wanita itu bergumam.

Tubuh Sasuke langsung kaku. Apakah dia sadar akan kehadirannya?

"Fake. Fake. Senyumannya terlalu lebar. Tawanya terlalu nyaring. Gerakan tangannya terlalu dipaksakan."

Sasuke mengerutkan kening. Dia menatap TV, mulai sadar dengan apa yang terjadi. Wanita di depannya ini sedang mengkritik artis dunia yang sedang menerima penghargaan.

"Di dunia ini banyak orang yang palsu ya?" Dia tertawa pelan. Tangannya meraih remote TV, mematikan acara tersebut. "Tapi jangan khawatir. Aku tidak akan menjadi 'palsu' di depanmu. Mama tidak akan berpura-pura di depanmu, sweetie." Naruko Uzumaki beranjak.

Di detik itu juga, mata mereka bertemu setelah sekian lama.

xxx

21:16 PM

7th October 20XX

Oke. Seumur hidupnya Naruko tidak pernah melihat hantu. Dia tidak tahu apa perasaan orang-orang yang pernah bertemu makhluk gaib. Jantungan. Iya. Tapi seperti apa?

Sekarang dia tahu apa jawabannya.

Wanita yang sedang hamil 5 bulan itu berkedip dua kali, memastikan kalau benar memang Sasuke Uchiha yang berdiri di depannya.

Jangkung, tampan. Dingin. Jas hitam Burberry, kemeja putih… rambut raven hitam kelam. Mata onyx.

Yup. Sasuke Uchiha indeed.

Tapi bagaimana… Kenapa Sasuke bisa datang di sini?

Naruko masih terpaku, tanpa sadar mencengkram perutnya seakan-akan hendak menyembunyikan buntalan tersebut dari Sasuke. Namun Sasuke sejak tadi sudah menatap ke arah perutnya yang bundar tersebut. Naruko meneguk ludah, sengaja tidak bicara apa-apa. Dia mulai memikirkan banyak scenario di kepalanya. Apa yang akan Sasuke tanyakan padanya? 'Kau hamil?' atau 'Apakah itu anakku?' atau…

"Naruto tahu akan ini?"

Naruko langsung menggertakkan gigi. Tentu saja. Sasuke-dickhead-Uchiha tidak akan peduli dengan kabarnya. Dia hanya peduli akan Naruto. "Jangan khawatir, Naruto tidak tahu," Naruko mendesis, melingkarkan lengannya di sekitar perutnya, memblokir tatapan Sasuke dari bayinya. "Lagipula, kenapa kau harus peduli jika Naruto tahu? Ini bukan urusanmu."

Sasuke mengerutkan kening. "Bukan urusanku? Bayi itu milik…"

"Milikku," Naruko menekankan ucapannya. "Milikku. Bayi ini milikku."

Kening Sasuke semakin berkerut. "Milikmu dan siapa?"

"Bukan urusanmu," Naruko mendelik. Urat kesabaran Sasuke serasa mau putus. Keras kepala Naruko jauh lebih parah dari Naruto. Dia nyaris saja membuka mulut dan mengatai Naruko, namun wanita itu membuka mulutnya terlebih dahulu. "Dan kenapa kau merasa… yakin kalau bayi ini milikmu? Bayi ini bisa saja milik lelaki lain bukan?"

Sasuke berkedip. Tentu saja. Naruko mati-matian tidak mau bilang siapa ayah dari bayi itu. Dan kenapa dia harus peduli kalau bayi itu bukan miliknya? Dia menggelengkan kepala sesaat, teringat akan tatapan tajam Sai ketika dia menunjukan lukisan abstrak itu. Dia tidak tahu apa-apa tentang kehamilan, tapi dinilai dari besarnya perut Naruko, bayi di perutnya sudah ada berusia 5-6 bulan.

Dan 6 bulan lalu itu tepat ketika dia dan Naruko…

"Aku tidak memakai pengaman ketika kita sex," Sasuke berujar dengan dingin. "Dan jika bayi itu bukan milikku, milik siapa?"

Naruko terdiam, berpikir dengan cepat. Jika dia mengaku kalau bayi itu milik Sasuke… apa yang akan Sasuke lakukan? Naruko akan bersyukur kalau Sasuke berjalan pergi dan tidak peduli dengan urusannya. Tapi kalau Sasuke memaksanya untuk aborsi supaya Naruto tidak tahu… "Milik Sai," Naruko menjawab, tersenyum lebar.

Sasuke tidak menjawab, menyipitkan matanya. "Jangan main-main," dia menggeram. "Naruko."

Jantung wanita itu seakan-akan berhenti berdetak. Ini pertama kalinya Sasuke menyebut namanya.

"Aku tidak tahu mau berapa kali kau memasang senyuman palsu itu di depan Naruto. Si dobe itu tidak akan pernah sadar kalau adik kesayangannya yang polos sudah lama menghilang," Sasuke mendesis, berjalan cepat ke arah Naruko. "Tapi jangan sekali-kali. Jangan pernah sekali pun…" mata onyx-nya mendelik, bertemu dengan mata biru Naruko. "… memasang senyuman palsu itu di depanku."

Naruko mengernyitkan dahinya ketika Sasuke mencengkram tangannya.

"Sekarang jawab," Sasuke mendesis. "Siapa. Ayahnya?"

Tenggorokan Naruko tercekat. Dia nyaris saja mengayunkan tangannya yang satu lagi untuk menghantam Sasuke. Tapi tangan kirinya tetap menempel di perutnya, tidak mau bergerak. "Ayah… ayahnya…"

"Aku."

Sasuke memutar tubuhnya, menatap senyuman lebar di wajah pucat pasi. "Kau…"

Sai masih memasang senyuman lebar, berjalan dengan santai ke arah Sasuke. "Mr. Uchiha, kakakmu mencarimu. Tentunya kau tidak akan membiarkan direktur perusahaan Uchiha dan semua rekannya menunggumu kan?" Mata Sai mendelik sesaat.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Sasuke balas mendelik.

"Apa yang kulakukan? Tentu saja bertemu dengan ibu dari anakku," Sai menyondongkan tubuhnya, mengecup pelan pipi pucat Naruko. "Lukisanku sudah terjual semua, kecuali lukisan abstrak itu tentunya, yang akan kuhadiahkan pada Naruko."

Sasuke tidak berkata apa-apa. Dia tetap mencengkram tangan Naruko.

"Kau mau tahu apa arti dari lukisan abstrak itu?" Senyum Sai mengembang. "Permata biru dan cahaya pirang itu melambangkan Naruko. Sinar mungil di tengah adalah bayi di kandungan Naruko sekarang. Cahaya yang merambat dan mengelilingi sinar biru mungil itu melambangkan Naruko yang menyayangi dan melindungi janinnya," Mata Sai terpaku pada tangan Naruko yang menempel di perutnya. "Dan kegelapan di sekitar mereka berdua? Adalah kau," senyum Sai menghilang. "Naruko melindungi bayinya dari kegelapan itu karena alasan. Tidakkah kau berpikir begitu?"

Sasuke terbungkam. Perlahan-lahan melepaskan genggamannya dari tangan Naruko.

"Jangan khawatir. Bayi itu memang milikku, kau bisa tanya dengan suster di klinik terdekat kalau tidak percaya," senyum Sai kembali muncul. "Aku akan menjaga bayiku dengan sepenuh hati."

Bayiku. Milikku.

Suara Sai yang terngiang di kepalanya membuat Sasuke mematung sesaat. Bayi Naruko bukan miliknya. Sasuke tidak berkata apa-apa, memutar tubuh dan keluar dari rumah Naruko.

Naruko tidak bersuara, hanya menatap punggung Sasuke yang menjauh darinya. Dengan ini… Sasuke tidak akan kembali lagi ke kehidupannya… Tangan Naruko mencengkram perutnya.

"Kau hutang padaku," suara lembut Sai membuat Naruko sadar dari lamunannya.

"Entahlah. Kalau bukan karena seseorang yang seenak perut menjadikan aku model di lukisan abstraknya, Sasuke Uchiha tidak akan tahu kalau aku hamil," Naruko balas tersenyum dingin, menatap Sai dengan tajam. "Tapi… terima kasih…" Naruko akhirnya melepaskan senyumannya. Tubuhnya bergetar sesaat. "Aku… benar-benar tidak tahu dengan apa yang harus kulakukan… ketika dia ada di sini…"

"Dia tidak akan membahayakan nyawa bayimu lagi," Sai duduk di atas sofa, langsung menyalakan TV.

Naruko tidak menjawab. Alasan kenapa dia bilang pada Sasuke bahwa bayinya milik Sai adalah karena dia takut Sasuke akan memaksanya untuk aborsi bayi di kandungannya. Tapi… bagaimana jika seandainya Sasuke tidak berniat melakukan itu? Bagaimana jika seandainya… Sasuke ingin bertangggung jawab?

Wanita pirang tersebut cepat-cepat menggelengkan kepala. Berpikir apa dia. Tentu saja tidak. Sasuke akan memaksanya aborsi supaya Naruto tidak tahu akan keberadaan bayi ini.

Naruko tersenyum pahit, menahan air matanya. "Aku ke kamar dulu," Naruko berbisik pelan, mengusap perutnya berulang kali. Apa pun yang terjadi, kau tetap anakku. Aku menyayangimu, batin Naruko berujar. Dan seakan-akan mendengar suara hati ibunya, Naruko merasakan tendangan dari sang bayi untuk pertama kalinya.

xxx

23:25 PM

14th October 20XX

Sasuke bukan orang yang bodoh dan dia sendiri tahu bahwa dia tidak sebodoh itu untuk percaya dengan dua orang yang selalu tersenyum palsu. Dia punya rencana tersendiri.

Seminggu setelah pertemuannya dengan Naruko, dia masuk ke dalam klinik yang paling dekat di tempat tinggal Naruko.

"Maaf, sir, informasi tentang pasien bukanlah sesuatu yang bisa kami sebarkan dengan mu…"

Sasuke menyodorkan lima lembar uang dengan angka 100. Sang suster menyelipkan uang itu di dalam sakunya.

"Silahkan masuk ke ruangan ini, sir."

xxx

10:22 AM

21st October 20XX

Dua minggu sudah berlalu sejak pertemuannya dengan Sasuke dan satu-satunya cara untuk melupakan lelaki brengsek itu adalah dengan cara berhenti keras kepala dan bertanya pada dokter apa jenis kelamin bayinya. Dia memang ingin menjadikan hal ini rahasia, supaya menjadi kejutan untuknya. Tapi, jika dipikir-pikir lagi, dia ingin kamar kosong di rumahnya di cat dengan warna cerah, warna bayi. Dan dia ingin tahu jenis kelamin anaknya supaya dia bisa membiarkan Sai mengecat kamar itu dengan warna biru atau pink.

"Pink?" Sai menaikkan sebelah alis. Mereka sedang duduk di ruang tunggu klinik. "Kau benci pink."

Naruko menggigit bibirnya. "Oke. Oke. Aku tidak peduli apa jenis kelamin anakku, pokoknya cat kamar itu dengan warna biru muda."

Sai hanya bisa tertawa. Mereka berdua bercakap-cakap sampai giliran Naruko telah tiba. Sebelum mereka masuk ke ruangan check up, Sai memasang senyum 'kekasih'nya dan melingkarkan lengannya di bahu Naruko.

xxx

23:44 PM

14th October 20XX

AOP. Acknowledgement of Paternity. Kebanyakan negara di USA mengharuskan wanita hamil untuk mengisi formulir AOP tersebut. Di formulir itu akan tercantum nama sang Ibu dan Ayah dari kandungan tersebut.

Sasuke Uchiha duduk di salah satu ruangan kosong di klinik, menyilangkan kaki dan membaca nama Naruko dan Sai yang tercetak di sana.

Namun, khusus untuk wanita yang hamil namun belum menikah, hukum di Amerika mengharuskan sang ibu untuk melakukan tes DNA pada janinnya. Hal ini dilakukan supaya ketika bayinya lahir nanti, akan ada 'ayah' yang bertanggung jawab untuk si bayi ini. Dan nama sang ayah tersebut bisa dicantumkan di surat lahir. Tes DNA itu bisa dilakukan dengan dua hal. Pertama, tes DNA pada sang bayi setelah bayi itu lahir. Kedua, tes DNA ketika sang bayi masih di dalam kandungan.

Non-Invasive Prenatal Paternity (NIPP). Tes ini bisa dilakukan setelah bayinya berumur kurang lebih 8 minggu. Dengan menggunakan teknologi yang canggih, DNA sang bayi dapat ditemukan di aliran darah sang ibu. Tes ini 99.9% akurat. Namun tes ini tidak berarti apa-apa. Tes ini hanya dilakukan untuk mengetahui siapa ayah kandung dari bayi tersebut. Sang ibu bisa saja meletakkan nama lelaki asing di dalam formulir AOP, jika ada persetujuan antara kedua pihak. Dan sang ibu juga bisa meletakkan nama si lelaki asing di surat lahir anaknya jika lelaki itu setuju.

Kening Sasuke berkedut ketika melihat bahwa kolom tentang tes NIPP kosong.

"Seharusnya Naruko Uzumaki sudah melakukan tes NIPP untuk mengetahui siapa ayah dari bayi di kandungannya," Sasuke berujar pada suster tersebut. Di depannya, suster yang berhasil disogoknya ini sedang sibuk mencari-cari data Naruko.

"Belum. Dia menolak untuk melakukan tes tersebut dengan alasan 'tidak perlu'," sang suster membolak balik kertas dokumen. "Tapi menurut hukum dia harus tetap melakukan tes tersebut karena dia hamil di luar nikah. Dan tentu saja tes ini harus dilakukan dengan kehadiran sang ayah juga, supaya kami bisa mencocokkan DNA sang ayah dengan janin…"

"Kehadiran sang ayah diperlukan dalam proses mencocokkan DNA?"

"Iya. Kami ingin mengambil darahnya dan…"

Sasuke langsung menyodorkan lengannya, membuat mata suster itu terbelalak.

"Ta… tapi menurut AOP ini Sai Takano adalah ayah…"

"Ada alasan kenapa Naruko Uzumaki tidak ingin melakukan tes ini," Sasuke mendelik sesaat, membuat sang suster memucat. "Itu karena kemungkinan besar sang ayah…" lelaki itu menunjuk ke arah nama Sai. "… bukanlah ayah kandung dari bayi itu."

Sang suster terbungkam, tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.

"Aku tidak peduli seperti apa caranya, aku ingin tes ini dijalankan," Sasuke merongoh sesuatu dari sakunya.

"Ta-tapi Ms. Naruko sendiri tidak ingin darahnya untuk diambi…"

"Lima ribu US dollar," Sasuke mengeluarkan buku ceknya, mengores angka di sana dengan kecepatan tinggi, membuat suster itu mematung. Dia menyodorkan cek itu, menatap tajam si suster. "Jika kau berhasil memberiku hasil dari tes itu dalam waktu dua minggu lagi, akan kuberikan jumlah yang sama padamu…" Sasuke menyondongkan tubuhnya. "... dikali dua," senyuman mengejek muncul di wajahnya.

Mulut suster itu ternganga. Orang di depannya ini bukan orang sembarangan. Menyogok dengan jumlah sebesar itu tanpa berpikir dua kali? Dia bisa dengan mudah meminta bantuan dari dokter Gerdfield karena dia memang gampang disogok tapi...

"Apa lagi yang kau pikirkan?" Sasuke mendelik tajam, membuat suster itu melompat dari kursinya.

"Ba-baik! Akan kulaksanakan!" Dia menerima cek itu dengan tangan bergetar. Dia masih terbelalak, menatap angka di depannya dengan tatapan tidak percaya. Matanya menurun, melihat nama yang tertera di sana. Sasuke Uchi…

Uchiha?

Salah satu perusahaan dengan saham terbesar di Amerika?

"Well? Apa lagi yang kau tunggu? Kau ingin mengambil perlengkapanmu sekarang atau aku harus memotong tanganku di saat ini juga supaya kau bisa mengambil darahku?"

Si suster langsung tergopoh-gopoh mengambil antiseptik, jarum suntik dan botol kecil untuk menampung darah. Karena rasa panik dan takut yang menghantamnya tiba-tiba, dia jadi mengambil darah sang Uchiha terlalu banyak. Dia langsung panik, hendak memohon ampun. Namun, sang Uchiha tidak terlihat keberatan. Malahan, mata onyx itu terpaku pada darah yang memenuhi botol darah itu.

Senyuman lebar muncul di bibirnya.

Si suster bersumpah kalau hantu mana pun akan bertekuk lutut dan terkencing-kencing ketakutan jika bertemu lelaki di depannya ini.

xxx

10:31 AM

21st October 20XX

"Apa?" Naruko berkedip. "Kalian mau mengambil darahku?"

"Iya," Dr. Gerdfield di depannya tersenyum lebar.

"Untuk apa?" Naruko mengerutkan kening.

"Saat ini umur bayimu sangatlah rentan. Berada di tengah-tengah," dokter itu merentangkan tangannya. "29 minggu bukan? Kita harus tahu apakah kondisi bayi ini cukup baik untuk dilahirkan dengan cara normal atau…"

"Aku mau normal," Naruko langsung menjawab. "Sebisa mungkin aku tidak ingin operasi cesarean."

"Karena itu, untuk menilai kondisi sang bayi dengan teliti, X-Ray biasa tidak cukup. Kami harus tahu kondisimu juga. Jadi kami ingin mengambil darahmu."

Naruko mengerutkan kening. Menurut buku yang dibacanya, X-Ray sudah cukup untuk tahu apakah kondisi bayi itu sehat atau tidak. Tapi… mungkin dokter itu benar juga. Kondisi sang ibu bisa menentukan kondisi sang bayi. Lagipula, apa salahnya memberikan darahnya pada rumah sakit? "Baiklah," Naruko menyodorkan lengannya. "Ngomong-ngomong, apa jenis kelamin anakku?"

xxx

12:07 PM

21st Oktober

"Sai the Junior Uzumaki," Sai berujar di perjalanan pulang.

"No," Naruko menjawab santai, membaca buku di tangannya.

"Naruko the Second Uzumaki."

"No!"

"…"

"…"

"Osama bin Uzumaki?"

Buku 'Nama-Nama-Berharga-Untuk-Bayi' pun mendarat dengan sempurna di wajah Sai.

xxx

23:45 PM

28th October 20XX

Sasuke mengabaikan si suster yang sekarang pucat setengah mati. Matanya melintas dengan cepat di kertas-kertas yang sekarang ada di tangannya. Dari sekian banyak diagram dan data, mata Sasuke langsung melesat, menemukan apa yang dicarinya.

Child: male (30 weeks) (UPDATED)

Mother: Naruko Uzumaki

Father: Sasuke Uchiha (100% MATCH)

Sasuke merongoh sakunya, meletakkan cek US$10,000 di depan sang suster. Dia berjalan pergi dengan langkah lebar. Amplop tebal di tangannya dia genggam erat-erat.

Suster itu berkedip, menatap Dr. Gerdfield dengan bingung. "Sungguh, biasanya para ayah kandung ketakutan jika ada yang ingin melakukan tes DNA, takut sang ibu menuntut uang padanya karena sudah menghamilinya. Tapi yang ini malah kebalikan…"

Si dokter mengangguk. "Sang ibu malah mati-matian tidak mau kita tahu siapa ayah kandungnya dan sang ayah yang menghabung-hamburkan uang untuk membuktikan kalau dialah ayahnya…"

"Pasangan gila."

Sasuke tiba-tiba memutar tubuhnya membuat pasangan suster dokter itu jantungan sesaat. "Jika masih ingin hidup, simpan rahasia ini sampai ke kuburan."

Suster dan dokter itu hanya bisa meneguk ludah, mengangguk dengan cepat.

xxx

23:34 PM

31st December 20XX (39 weeks)

"Kyou-chan…" Naruko bergumam pelan ketika merasakan tendangan dari dalam perutnya untuk kesekian kalinya. "Kau kenapa? Sudah siap untuk keluar?" Dia mengusap perutnya yang terasa nyeri. "Sayang sekali, bocah bandel, tapi kau tidak boleh keluar sekarang."

Dokter bilang padanya kalau anak ini akan siap keluar di minggu ke 40. Dan kebetulan sekali, itu adalah saat yang paling tepat untuk melahirkan. Sai akan kembali dari Paris dan bisa menemaninya melahirkan. Sekarang pelukis itu sedang sibuk melukis di Paris. Mau bagaimana lagi, sekarang malam tahun baru dan biasanya banyak yang memesan Sai. "Makanya, kau harus bersabar," Naruko mengusap perutnya. "Kau belum bisa keluar sekarang ya, Kyousuke-chan." Wanita itu beranjak, mengernyitkan dahinya ketika dia beranjak untuk mengambil air minum. Sambil minum, dia menyalakan TV, menonton acara-acara di malam tahun baru.

"Baiklah para pemirsa! Ada berita yang sangat mengejutkan! Artis tercantik di Paris, Adelia Catherine, mengaku bahwa dia jatuh cinta pada lelaki yang beruntung ini!"

Dan wajah Sai langsung muncul di layar.

Naruko langsung terbatuk, memuntahkan semua air yang sedang dikulumnya. Dia tetap terbatuk-batuk, menatap layar TV dengan mata terbelalak. Sai sedang tersenyum manis, merangkul artis pirang dengan tinggi yang sama dengannya. "S-Sai?! Kegilaan apa lagi yang dia lakukan sekarang?!" Naruko menjerit. Dia nyaris saja menyabet ponselnya dan menelpon lelaki itu. Tapi, pakaiannya basah karena air, begitu juga lantai tempatnya berdiri sekarang. Apa boleh buat. Dia tadi sampai memuntahkan air di mulutnya.

Naruko hendak membersihkan lantai itu, namun dia terpaku ketika dia sadar bahwa air di lantai itu bukan berasal dari air minum yang baru saja dimuntahkannya.

Mata birunya terpaku, menatap air yang mengalir dari kakinya.

"Demi ramen apa…"

Air ketubannya pecah.

Tangannya langsung menyabet iPhone-nya di meja makan. Dia hendak menekan tombol 911, tapi dia sadar bahwa karena kemacetan di jalanan sekarang, ambulance dari rumah sakit akan memakan waktu satu jam untuk sampai di tempatnya. Klinik pribadi tempat langganannya itu tidak ada ambulance dan sedang tutup karena malam tahun baru. Wanita itu mulai panik ketika dia sadar bahwa dia tidak bisa meminta tolong teman-temannya yang lain karena kehamilannya ini rahasia. Dan yang tahu akan kehamilan ini hanyalah Sai yang sekarang di Paris dan...

Mata hitam itu tiba-tiba melintas di otaknya.

"Tidak! Tidak! Dia tidak ada urusannya denganku lagi!" Naruko nyaris menangis. Rasa paniknya meningkat dan dia tidak bisa berpikir lagi. Lagipula Sasuke tidak pernah muncul lagi sejak malam itu! Karena dia percaya bahwa Kyousuke bukan bayinya! Meski aku menelponnya untuk meminta tolong, dia tidak akan datang! Lagipula aku tidak tahu nomornya! Selain itu, sekarang dia pasti sedang bisnis di luar kota atau di mana…

Tendangan yang kuat dari dalam perutnya membuat Naruko menjerit. Air matanya mengucur deras.

Kyou-chan akan tewas… Kyou-chan akan tewas… Dengan panik dan sambil menahan isakkan, dia membuka ponselnya. Dia tidak tahu lagi nomor Sasuke karena dia sudah menghapus nomor tersebut. Naruko yang sudah kehabisan ide ini memutuskan untuk nekad dan bertaruh.

Dia membuka Facebook.

Facebook Sasuke dibuat oleh Naruto beberapa tahun yang lalu. Jadi Naruko tahu apa user name Sasuke karena nama itu sulit untuk dilupakan. Tapi tentu saja, dia dan Sasuke tidak berteman di Facebook. Dia juga tidak tahu apakah Sasuke sedang online, sekarang, di saat ini, di malam tahun baru. Dia bisa saja sedang sex dengan artis di Hawaii, tapi apa pun itu, Naruko harus mencoba dulu. Dia nyaris menjerit girang ketika dia menemukan facebook dengan foto profile tomat itu.

Naruko mengklik icon 'invite as friend'.

"Oh kami-sama… kami-sama… kami-sama…"

EmoBoyChickenButt accepted your friend request.

Naruko menjerit sekencang-kencangnya, tidak tahu apakah karena girang karena Sasuke menerima request-nya dalam waktu sedetik atau karena tendangan yang sangat kuat kembali muncul di perutnya. Dia mengklik icon inbox dan mengetik dengan kecepatan kilat.

'OKE! OKE! AKU AKUI KALAU KYOU-CHAN ADALAH PUTRAMU! JIKA KAU TIDAK DATANG DI TEMPATKU DALAM WAKTU SETENGAH JAM, KYOU-CHAN AKAN TEWAS!'

Naruko memejamkan matanya erat-erat. Berdoa sepenuh hati. Ketika dia membuka mata, dia menerima jawaban dari Sasuke.

'Hn.'

Naruko menjerit lagi, kali ini karena emosi tingkat tinggi. Hn?! HN?! Ternyata hanya begini harga Kyou-chan di depan mata Sasuke. Si bastard-fuckface itu memang sudah sepatutnya tewas ditabrak truk dan…

Suara pintu yang terbanting membuat Naruko nyaris terjatuh. Dia melotot, matanya memerah karena air mata dan tubuhnya keringatan karena panik. Mata birunya bertemu dengan mata onyx tajam.

Sasuke Uchiha berdiri di depan rumahnya, napas lelaki itu tidak karuan. Keringat bercucuran di wajahnya. Kunci mobil ferrari bergantungan di tangannya. Dia mengenakan sandal jepit dengan boxer hitam yang setengah merosot, menampakkan pinggulnya yang putih pucat dan kimono tidur yang basah oleh wine merah.

Naruko melongo.

Oke. Ternyata harga Kyou-chan di mata Sasuke tidak murah-murah amat.


TBC

AN: haha, jujur, scene ini nongol tiba2 di kepalaku dan tergoda buat nulis karena ngakak gila pas kepikiran sama scene ini. haha!

Tapi... kayaknya cerita ini bakalan menjadi lebih lama dari yang direncanakan... haiya.

Apa pun itu, semua readers sekalian enjoy chapter ini :)