Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: OC, OOC, typos, alur cepat. Rated M buat beberapa sumpah serapah, tema dewasa. Enjoy! :)
AN: seperti chapter yang sebelumnya, perhatikan tanggal yang tertera yaa :)
Chapter 4
.
.
.
.
.
22:33 PM
31st December 20XX
24 undangan.
Dia menerima undangan sebanyak itu sebelum malam tahun baru. Dia bisa saja pergi ke pesta-pesta. Atau mungkin pergi ke klub, membayar wanita 'professional' untuk sex dengannya. Tapi untuk malam itu saja, dia memilih untuk duduk di condominium-nya dan bersantai.
Dia mengenakan kimono tidur berwarna putih. Rambutnya masih basah karena dia baru keluar dari ruangan shower. Dia duduk di sofa ruangan tamu, menyalakan musik classic orchestra. Segelas wine merah ada di tangan kirinya dan kertas laporan ada di tangan kanannya.
Dia sedang membaca laporan akan… bayinya.
Dr. Gerdfield dengan senang hati mengirimkan semua foto x-ray dan laporan-laporan perkembangan bayinya yang ada di dalam kandungan wanita itu. Sasuke duduk diam, menyeruput wine sambil menatap foto x-ray hitam putih putranya.
Putranya sehat.
Dan dalam seminggu lagi dia akan lahir.
Dada Sasuke berdetak dua kali lebih cepat. Dia membenarkan posisi duduknya.
Dia tahu bahwa dia tidak mencintai Naruko. Sampai sekarang juga dia tidak merasakan sesuatu yang sentimental terhadap wanita itu. Sulit untuk melihat Naruko tanpa teringat akan kakaknya. Karena itu, Sasuke ingin menjauh dari Naruko. Menjauh dari wanita itu berarti dia tidak akan mengingat Naruto. Tapi… bayi di kandungan Naruko adalah kasus yang berbeda. Tanpa dia sadari, dia… peduli terhadap bayi tersebut. Dia sengaja tidak keluar kota supaya dia bisa mendapat update dari sang dokter.
Dia pernah membaca fakta bahwa insting protektif dari seorang orangtua terhadap anak itu adalah sesuatu yang alami. Sang bayi tidak perlu melakukan apa-apa. Hanya dengan lahir saja, orangtua tersebut akan mencintai bayi itu dengan sepenuh hati. Sasuke tentu saja tidak percaya pada fakta itu. Entah sudah berapa kali dia merasa dibenci oleh ayahnya ketika dia masih kecil.
Tapi… Sasuke tidak ingin… putranya merasakan hal yang sama terhadapnya. Sai bisa menjadi ayah palsu anak itu. Sasuke tidak perlu ikut campur. Tapi, bayangan Sai yang merebut… putranya dari tangannya membuat urat kesabaran Sasuke yang tipis menjadi semakin tipis. Dia tidak peduli kalau Naruko membencinya. Tidak, sudah jelas Naruko masih punya perasaan terhadapnya, Sasuke memutar bola mata. Apa pun itu, meski Naruko tidak suka, Sasuke akan terus 'mengintai' perkembangan anaknya.
Setidaknya itu haknya sebagai ayah kandung. Tahu akan perkembangan putranya sendiri. Dan siapa yang akan anak itu anggap sebagai 'ayah' adalah urusan Naruko dan anak itu.
Sasuke sudah merasa cukup puas dengan mengetahui kondisi anaknya yang sehat dan…
Ponsel pribadinya berdering.
Sasuke meletakkan foto x-ray putranya, mengambil ponsel itu dan bersumpah untuk menghantui siapa pun yang berani mengganggu ketenangannya. Dia menaikkan sebelah alis ketika sadar bahwa deringan itu berasal dari notifikasi Facebook. Dia nyaris tidak pernah membuka Facebook lagi sejak 'perpisahan'nya dengan Naruto. Selain itu, tidak ada yang tahu nama ID-nya selain Naruto dan beberapa teman dekat.
Naruko Uzumaki added you as friend. Accept?
Sasuke terpaku.
Naruko? Untuk apa?
Tanpa berpikir dua kali, dia langsung menerima permintaan tersebut.
Lima detik kemudian, ponselnya kembali berbunyi. Ada message dari Facebook. Sasuke membuka message itu. Dia terpaku. Membaca pesan itu benar-benar. Dia berkedip lagi.
Kyou-chan… bayinya akan tewas?
Sasuke menggeram, jarinya mengetik dengan cepat. Dia melompat dari sofa, gelas wine-nya langsung tumpah di dadanya. Dia menyabet boxer terdekat dan melompat-lompat ke arah pintu sambil berusaha memasukkan boxer itu di kakinya. Dia sama sekali tidak sadar dengan wine yang sudah menyerap di kimononya dan boxer yang baru setengah terpakai itu. Dia berlari cepat, mengambil kunci mobilnya yang paling cepat dan keluar dari rumah, tidak mengenakan mantel.
Sasuke bahkan tidak peduli dengan cuaca di luar yang sekarang -2 derajat. Dia belari keluar dari rumah setengah telanjang dan hanya mengenakan sandal jepit. Tangannya menggenggam erat ponsel dan dompetnya, langsung melompat masuk ke dalam ferrari hitamnya dan menancap gas ke apartemen Naruko.
xxx
00:25 AM
1st January 20XX
"Sakiitt!" Jeritan Naruko membuat telinga Sasuke seakan-akan mau tuli. Lelaki itu sekarang sedang melempar masuk semua pakaian bayi ke dalam koper dan beberapa pakaian Naruko di koper yang satu lagi. "Argghhh! SASUKE! Cepaat!"
"Sabar!" Sasuke akhirnya meraung, langsung membopong dua tas koper itu di masing-masing pundaknya. Dia berlari ke arah pintu, menyabet mantel Naruko dan berlari kembali ke arah wanita itu lagi. "Kita ke rumah sakit sekarang," Sasuke berujar cepat. Dadanya berdetak seakan-akan tidak ada hari esok.
Naruko terlihat sangat berantakan.
Seakan-akan ini adalah hari kematian wanita itu.
Rambut pirangnya yang panjang acak-acakkan. Wajahnya terkadang pucat pasi, terkadang merah padam. Air matanya mengalir terus. Keringat di mana-mana.
Ibunya meninggal ketika melahirkannya.
"Kita akan sampai ke rumah sakit," suara Sasuke bergetar. Ibuku meninggal karena… "Kita…" Dia menggertakkan giginya. Dia terdengar lemah. Tapi dia tidak bisa mengontrol nada suaranya yang terdengar ketakutan. "Rumah sakit. Rumah sakit," Sasuke komat-kamit, mengusap peluh dan air mata di wajah Naruko. "Oke?" Dia menatap Naruko.
Naruko terisak. Mata birunya yang berlinang menatap Sasuke lekat-lekat. Dia mengangguk.
"Ayo," Sasuke berbisik, mengulurkan tangannya. Dia menggendong wanita itu tanpa banyak bicara. Naruko langsung melingkarkan lengannya di sekeliling bahu Sasuke, memejamkan mata erat-erat, air mata bercucuran di wajahnya.
"Sakit Sasuke…" Naruko terisak, menahan jeritan. "Kyou-chan menendangku lagi…"
"Aku tahu, aku tahu," Dari laporan si dokter, bayinya sangat aktif dan selalu menendang Naruko. Dasar bocah tengil keras kepala. Sasuke mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menarik napas dalam-dalam, menahan napas sambil menendang pintu Naruko. Dua tas koper di punggungnya, Naruko dan bayinya di dadanya…
Dan dia hanya mengenakan sandal jepit, berlari tengah salju?
God bless him.
"Sakit Sasuke!" Jeritan Naruko mengeras.
"Aku tahu aku ta…"
"BOHONG! Kau tidak tahu, fuck you! Kau cowok!" Naruko meraung.
"Tentu saja aku tidak tahu, memangnya aku pernah hamil?!" Sasuke balas meraung. Rasanya otaknya akan meledak di detik ini juga.
"Dan kenapa kau membuatku hamil?!" Jeritan Naruko nyaris membuatnya tuli.
"Karena aku tidak memakai kondom!" Sasuke berteriak sampai pita suaranya serasa mau putus. Dia membaringkan Naruko di jok mobilnya dan melempar dua koper itu di bagasi. Mengabaikan rasa kapal dan mati rasa di sekitar tubuhnya, dia menancap gas, melaju dengan cepat ke rumah sakit umum. Naruko masih mengerang kesakitan. Air matanya masih mengucur. Namun di setiap jeritan tertahan, mata birunya mendelik tajam. Tangannya mencengkram perutnya.
"Apa pun yang terjadi aku bersumpah untuk melahirkan anak ini dengan selamat," dia menggeram dari balik napasnya yang terengah-engah. "Dan setelah itu aku akan menendang pantatmu."
Sasuke tertegun sesaat. Matanya bertemu dengan mata Naruko melalui kaca spion. Di detik itu juga dia sadar bahwa Naruko tidak akan tewas dengan mudah seperti ibunya. Cengirannya muncul. "Bring it on."
xxx
00:57 AM
1st January 20XX
Ketika Sasuke membopong Naruko di ruangan emergency, para suster sempat panik, tidak tahu yang mana pasien yang membutuhkan pengobatan.
Naruko yang nyaris melahirkan atau Sasuke yang nyaris mati kedinginan.
Apa pun itu, gerombolan perawat langsung menangani mereka berdua. Ketika mereka memisahkan Naruko dari gendongan kaku Sasuke, Naruko menjeritkan namanya. Sasuke menempelkan bibirnya yang membeku di kening Naruko, berbisik pelan kalau dia akan baik-baik saja.
"Sir, tangan dan kakimu membeku," salah satu suster langsung menyelimutinya dengan mantel tebal dan membawanya ke ruangan hangat.
"Aku. Tidak. Apa." Sasuke mendesis dari bibirnya yang bergetar. "Naruko…"
"Jangan khawatir. Dia akan baik-baik saja. Sekarang, hangatkan dirimu," suster itu meletakkan segelas kopi panas dan satu set pakaian rumah sakit. Sasuke tidak bergerak. Duduk di kursi dan menatap dinding putih dengan tatapan kosong. Dia mencoba untuk menggerakkan jari-jarinya yang masih berwarna biru. Setelah 15 menit menggenggam cangkir hangat dan diselimuti oleh mantel yang panas itu, Sasuke bisa menggerakkan tangan dan kakinya lagi.
Warna kulitnya sekarang memerah dan terasa sangat pedih jika dia menyentuh sesuatu. Tapi dia tidak peduli. Dia langsung melepas kimono wine-nya dan mengenakan pakaian rumah sakit. Dia keluar dari ruangan itu, mengenakan mantel di sekitar tubuhnya.
"Ah, kau sudah baik-baik saja?" Suster yang merawatnya tadi kembali. "Tadi itu kekasihmu? Istrimu?"
Sasuke berkedip, tidak bisa menjawab.
"Ah maaf, tidak bermaksud untuk terburu-buru, tapi kami harus mengurus pembayaran," dia menyodorkan beberapa lembar formulir yang harus diisi dan tagihan. Sang Uchiha langsung menyabet dompetnya yang ada di dekat meja, menyodorkan salah satu kartu kreditnya.
"Ruangan VIP," Sasuke mendesis pelan. Suaranya masih terdengar serak dan bibirnya masih bergetar. "Selama yang wanita itu butuhkan."
Suster itu berkedip sesaat ke arah kartu platinum tersebut dan cepat-cepat keluar mengurus pembayaran.
xxx
01:15 AM
1st January 20XX
Pembayaran langsung selesai dalam sekejap. Sasuke sudah berdiri di depan ruangan penyalinan VIP, mendengarkan jeritan Naruko yang tak ada hentinya. Sasuke menggigit bibir, memaksa dirinya untuk tenang. Dia menarik napas dalam-dalam, memasang wajah serius sambil mengisi data Naruko di kertas yang diberikan suster itu. Tangannya berhenti bergerak di kolom 'ayah'. Dia mengisi informasi lain dan sengaja mengosingi kolom tersebut.
"Pembayarannya sukses," suster yang tadi datang menghampiri Sasuke, tersenyum puas. "Kamar VIP ini akan menjadi milik kekasihmu sampai seminggu."
Sasuke mengangguk saja.
"Kau mau masuk ke dalam?" Suster itu memasang senyuman lebar. "Dia menjeritkan namamu sejak tadi."
Sasuke terpaku. Dan benarlah, raungan Naruko kembali terdengar dan kali ini dia meraungkan namanya.
Sasuke tidak akan heran kalau pita suara Naruko akan putus setelah melahirkan.
"Tidak. Aku di sini saja," Sasuke berujar dingin.
"Ayolah! Kau bisa menggenggam tangannya dan memberinya semangat dan…"
"Aku tetap di sini," Sasuke mendelik sesaat.
"Hahh… kau tidak terlihat takut tapi kau sebenarnya sama seperti ayah-ayah yang lain, tidak berani masuk menemani kekasihmu karena kau takut melihat proses…"
Sasuke langsung beranjak. "Buka pintunya."
Suster itu menyeringai lebar. Dia sudah berpengalaman dalam melihat adegan seperti ini. Meski lelaki di depannya memasang wajah sedingin patung, mata hitamnya terus bergerak ke sana kemari, terlihat panik.
"Haah, kenapa lelaki di dunia ini selalu keras kepala?" Suster itu bergumam pelan, menyerahkan masker pada Sasuke.
xxx
06:34 AM
1st January 20XX
Sasuke tidak pernah sekali pun membayangkan kalau dia akan berada di posisi seperti ini.
Duduk di sebelah Naruko, menggenggam tangannya ketika dia sedang berada di proses melahirkan?
Tidak pernah di mimpi sekali pun.
Namun di sinilah dia, membiarkan Naruko menggenggam tangannya yang masih terasa nyeri karena frostbites.
Naruko tidak menjerit-jerit lagi, dia menahan napas, mendengarkan semua instruksi dari dokter dengan mata terbuka. Dokter tersebut berulang kali memujinya, memberinya semangat.
Dan Sasuke hanya terdiam, meminjamkan tangannya pada Naruko untuk digenggam. Hanya meminjamkan saja. Sasuke bahkan tidak menggenggam tangan Naruko.
"Kekasihmu sangat mengagumkan," salah satu suster memberitahu Sasuke. "Konsentrasinya tinggi sekali. Biasanya ibu-ibu lain hanya menjerit-jerik panik dan tidak bisa melakukan instruksi karena rasa sakit membuat mereka tidak bisa fokus."
Sasuke tidak menjawab. Matanya terpaku pada wajah Naruko.
Mata biru tersebut terpaku pada perutnya. Tangan kanan menggenggam tangan Sasuke. Tangan kiri menggenggam perutnya.
"Dia memang begitu," Sasuke menjawab tanpa dia sadari. "Mau kesulitan apa pun yang menghantamnya, dia akan tetap hidup, mendelik dengan garang ke arah siapa pun yang berani melukainya."
Suster itu tersenyum dari balik masker.
"Aku sudah bisa melihat kepalanya!" Seruan dokter itu membuat Naruko meremas tangan Sasuke.
Dan Sasuke balas memeras tangan Naruko.
xxx
07:26 AM
1st January 20XX
Kyousuke Uzumaki.
Berat badan: 4.1 kg
Sasuke tidak melepaskan matanya dari bayi keriput itu sedikit pun. Jujur, bayi itu terlihat seperti monyet. Merah, keriput. Namun, Sasuke berbohong jika dia bilang kalau dia tidak terlihat takjub. "Diam sekali," suster itu bergumam kagum sambil memandikan sang bayi. "Dia tidak menangis."
Bayi dengan sejumput rambut hitam itu menggeliat, merintih, ber-aahh dan uuhh. Tapi tidak menangis.
Naruko tergeletak di kasur rumah sakit, membiarkan suster di depannya membuka pakaiannya. Wajahnya terlihat kosong, seakan-akan jiwanya baru saja melayang. Namun, matanya birunya bersinar-sinar, tidak melepaskan tatapannya pada sosok Kyousuke.
"Kyou-chan…" Naruko berbisik, mengulurkan tangannya. Suster yang baru saja membersihkan Kyousuke memberikan bayi itu pada Naruko. Dia mejejerkan kepala Kyousuke di dada Naruko. Bayi tersebut membuka mulutnya, menerima susu asih Naruko.
"Dia minum dengan lahap," suster itu memuji Kyousuke.
"Hmmm," Naruko tersenyum simpul. Dia menengadah, menatap Sasuke yang masih menatap Kyousuke. "Arigatou," dia berbisik pelan. Dia terlihat gugup sesaat, seakan-akan tidak tahu hendak melakukan apa. "Emm… kalau kau mau, kau bisa menggendong Kyou-chan setelah dia selesai menyusui…"
Kyousuke membuka matanya.
"Ahh! Mata yang indah!" Suster terdekat berseru. "Biru sekali!"
"Ah…" Naruko menahan tangis. Tangannya bergetar. "Seperti mataku…" dia tertawa pelan.
Sasuke tidak menjawab, menatap bayinya seakan-akan tidak ada hari esok. Mata biru itu memalingkan pandangannya dari wajah Naruko, berpaling dan menatap Sasuke.
Sasuke merasa kalau jantungnya berhenti berdetak. Dia berjalan pelan ke arah Naruko dan bayinya. Dia mengulurkan jarinya yang memerah, menyentuh rambut hitam Kyousuke.
"Kalian beruntung," suster itu berujar senang. "Oh iya, sebelum aku lupa… happy new year!"
"Happy new year," Naruko tertawa lagi. "Dan… happy birthday to you," dia berbisik pelan, mengecup rambut hitam Kyousuke. "Kyou-chan."
xxx
10:35 AM
1st January 20XX
Sasuke menyeruput kopi keempatnya. Dia mengernyitkan dahi sesaat, membenci rasa kopi yang sangat menjijikkan ini. Mau bagaimana lagi. Kopi rumah sakit selalu menjijikkan. Tapi tidak ada pilihan lain. Dia butuh kafein itu. Dia tidak bisa merokok di rumah sakit dan dia belum tidur semalaman dan dia merasa kalau dia akan tergeletak pingsan kalau dia tidak meminum kopi.
Lelaki itu mengoleskan salep dari dokter di kaki dan jari-jari tangannya. Tangannya membengkak, kulitnya pecah-pecah karena frostbites. Dia tidak peduli. Dia sibuk membuka internet dari ponselnya, meng-klik 'buy' di setiap pakaian dan mainan anak bayi yang dilihatnya di online shopping. Sesekali, dia memalingkan matanya dari ponsel, menatap ruangan anak-anak bayi. Matanya dengan mudah menemukan bayi putih pucat berambut hitam yang sedang tidur di keranjangnya.
"Kyousuke," dia berujar pelan.
Bayinya menggeliat pelan.
Senyum singkat muncul di bibir Sasuke. Dia kembali fokus pada ponselnya, membeli keranjang bayi termahal dan terbagus.
xxx
12:11 PM
1st January 20XX
Sasuke membanting pintu rumahnya, tertegun ketika dia melihat ruangan tamunya yang berantakan. Sisa wine yang tumpah menodai karpetnya. Lagu orchestra yang diputarnya semalam masih terbunyi. Sasuke dengan gesit mematikan stereo-nya, menelpon pembantu yang untuk kembali besok dan membersihkan rumahnya. Dia berjalan cepat ke dalam ruangan shower, mandi dengan gesit dan keluar dari ruangan shower dalam waktu 10 menit. Dia masuk ke dalam kamarnya, hanya mengenakan handuk di sekitar pinggul. Sasuke menyabet koper kecil yang biasanya dia gunakan kalau dia dinas ke luar kota. Dia membuka pintu kloset pakaiannya, memasukkan beberapa helai kemeja dan celana jeans di dalam koper itu.
Dia sudah mengirim SMS untuk Itachi, bilang bahwa dia akan cuti selama seminggu. Dia juga bilang kalau dia sedang berliburan di Hawaii.
Tanpa gangguan Itachi, dia bisa menginap di hotel yang paling dekat dengan rumah sakit dan mengunjungi Kyousuke. Sekarang Kyousuke sedang menyusui. Kalau dia cepat kembali ke rumah sakit, dia bisa melihatnya lagi di ruangan anak-anak…
"Ah, terburu-buru?"
Tubuh Sasuke menegang. Dia memutar kepalanya. Dari sudut matanya, dia bisa melihat Itachi Uchiha yang bersender di depan kamarnya, membaca kertas-kertas. Mata onyx Sasuke mendelik ketika dia sadar kertas apa yang ada di tangan kakaknya.
"Aku tidak tahu kalau aku sekarang sudah menjadi paman," Itachi memperhatikan foto x-ray Kyousuke Uzumaki. "Bisa jelaskan, hn? Sasuke?"
"Kembalikan," Sasuke menggeram. Sebelum Itachi sempat menjawab, Sasuke melangkah cepat, menyabet dokumen itu dari tangan Sasuke.
"Jangan khawatir, aku menyimpan kopi dari data-data itu di kantorku," Itachi tersenyum tipis, membuat Sasuke menggertakkan gigi. "Kau seharusnya lebih hati-hati lagi, dear brother. Jumlah uang yang sangat besar keluar begitu saja dari akun bank-mu. Tentu saja aku harus curiga dan mencari tahu di mana perginya semua uang itu."
"Itu uangku," Sasuke mendesis. "Aku punya hak untuk melakukan apa yang aku mau dengan semua uang itu."
"Ah, dan kau lupa kalau aku terkadang memonitor ke mana perginya uang-uang itu?"
Sasuke menggeram.
"Apa yang akan kau lakukan jika Ayah tahu akan hal ini?"
"Ayah tidak akan tahu," Sasuke mendelik. "Karena kau tidak akan bilang padanya."
Itachi menaikkan bahunya. "Entahlah… keadian ini sangat mengejutkan. Bisa saja aku… keceplosan dan…" ucapan Itachi terputus ketika Sasuke mendorong Itachi, membuat lelaki itu membentur dinding.
"Jangan. Sentuh. Anakku," Sasuke mendesis, menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Kita tidak akan terkena masalah jika kau diam saja dan tidak melakukan tes DNA," Itachi balas mendelik, mendorong Sasuke. "Kau membuat masalah lebih parah karena sekarang rumah sakit memegang data bahwa Sasuke Uchiha mempunyai bayi haram."
"Aku sudah membeli data itu. Rumah sakit tidak tahu kalau aku…"
"Aku yang membeli kopi informasi dari rumah sakit itu," Itachi melotot. "Sampai kapan kau mau membuat keributan, little brother? Aku yakin kau tahu apa yang akan dilakukan keluarga inti jika mereka tahu akan hal ini."
Sasuke tidak menjawab, menggertakkan giginya.
"Kau punya dua pilihan untuk menyembunyikan masalah ini dari keluarga inti Uchiha," Itachi mendesis. "Menikah dengan Naruko Uzumaki sehingga kau bisa memiliki anak itu secara legal."
"Itu bukan pilihan," Sasuke langsung mendelik.
"Kalau begitu, kau akan melakukan pilihan kedua," Itachi memasang senyuman mengejek. "Biarkan Sai Takano untuk tetap menjadi ayah dari anak itu. Toh namanya sudah tertera di AOP. Biarkan namanya tetap tertera sebagai ayah kandung di surat lahir anak itu. Aku akan melakukan sesuatu supaya rumah sakit mengabaikan tes DNA yang kau lakukan."
Sasuke tidak menjawab.
"Tentunya kau tahu apa yang terjadi jika kau memilih pilihan kedua," Itachi memutar tubuhnya, berjalan pergi. "Aku melarangmu bertemu dengan wanita itu dan bayinya."
Sasuke terdiam, melihat kepergian Itachi. Dia meraung, menendang kursi kerjanya.
xxx
13:36 PM
1st January 20XX
Naruko baru selesai menyusui anaknya. Dia memasang senyuman lebar, menggoncang pelan tubuh Kyou-chan. Mata biru itu berkedip sesekali ke arahnya, membuat senyuman Naruko mengembang.
"Bayi yang sehat."
Naruko menengadah, menatap sosok lelaki jangkung berambut hitam kelam. "Terima kasih," dia tersenyum sesaat. Mata birunya menatap lelaki itu dengan waspada. "Maaf kalau aku terdengar kasar, tapi aku tidak ingat kalau aku mengijinkan orang lain untuk masuk ke ruangan ini."
Lelaki itu tersenyum tipis. "Namaku Itachi Uchiha."
Ah. Naruko dengan santai menunduk, kembali menatap anaknya. "Wajar saja kau bisa masuk begitu saja. Aku yakin kau bisa membuat semua dokter di sini bertekuk lutut di depanmu hanya dengan menjentikkan jari."
Senyuman Itachi melebar. "Kau cerdas, tidak seperti kakakmu"
"Terima kasih," Naruko tersenyum dingin. "Banyak yang bilang begitu."
"Tentunya kau tahu kenapa aku ada di sini?"
"Hmmm," Naruko menepuk pelan tubuh Kyousuke. "Apa ya? Memberi ucapan selamat karena sudah melahirkan dengan selamat? Tidak. Kau tidak membawa bunga. Menjemput Sasuke? Tidak, karena dia sudah pergi dari rumah sakit ini sejak satu jam yang lalu. Mata-matamu pasti tahu di mana Sasuke sekarang dan kau khusus ke sini untuk bertemu denganku," senyuman Naruko melebar. "Untuk menutup mulutku supaya aku tidak bilang ke dunia kalau anak di pelukanku ini adalah milik Sasuke Uchiha?"
Itachi menyeringai lebar, membuat mata Naruko menajam. "Kau cerdas. Sangat cerdas."
"Terima kasih," Naruko balas menyeringai. "Tapi tenang saja, aku tidak akan bilang siapa-siapa. Aku sudah menandatangani AOP. Ayah dari anak ini adalah Sai Takano."
"Tidak. Karena beberapa bulan lalu Sasuke melakukan tes DNA dan berhasil membuktikan pada rumah sakit bahwa dia adalah ayah kandung dari anak itu."
Senyum Naruko menghilang. Dia memutar otaknya dan teringat akan Dr. Gerdfield yang mengambil darahnya. "Sasuke-freaking-Uchiha," dia mendesis.
"Benar. Dialah biang keroknya," Itachi menatap Naruko dengan sedikit rasa takjub. Menyumpahi adiknya di depannya sendiri? "Aku berhasil merebut semua dokumen yang tersisa supaya tidak ada bukti bahwa dialah ayah dari anakmu."
"Bagus," Naruko mendengus. "Lalu? Apa masalahnya kalau semuanya sudah beres? Keluarga elitmu tidak akan tahu kan? Jadi semuanya sudah beres."
"Tidak, mereka tidak tahu. Tapi ada masalah baru..." senyuman dingin Itachi kembali muncul. "Sasuke sudah… terpesona akan bayimu."
Naruko menunduk, menatap Kyou-chan yang balas menatapnya.
"Lalu?"
"Tentunya kau tidak ingin dia mendekati kalian bukan?"
Naruko tidak menjawab. "Itu…" genggamannya terhadap Kyou-chan menguat. "Tergantung padanya sendiri."
"Aku tidak ingin dia mendekati kalian."
Naruko memalingkan tatapannya dari Kyou-chan, kembali menatap Itachi. "Aku tidak mengerti. Asalkan keluarga elitmu itu tidak tahu, bukankah sudah cukup? Lagipula aku yakin kalau Sasuke tidak akan mendekati kami lagi. Toh tadi dia sudah pergi begitu saja tanpa bilang apa pun."
"Kau yakin kalau Sasuke tidak akan kembali pada kalian? Karena aku tidak ingin dia mendekati wanita dan anak haramnya."
Naruko tidak menjawab, teringat akan tatapan Sasuke pada Kyou-chan, teringat akan tangan kepal Sasuke yang menggenggamnya di proses pernyalinan. "Tentu saja tidak," dia tersenyum lebar. "Sasuke tidak akan mendekati kami lagi. Dan aku sendiri tidak ingin Sasuke untuk mendekati kami."
"Kau pembohong yang payah, Naruko Uzumaki."
"Kau tahu," Naruko dengan santai mengecup pipi bayinya. "Hanya seorang pembohong yang bisa mengenal sesama pembohong." Dia menatap Itachi dengan tajam. "Kau pembohong yang payah, Itachi Uchiha. Kau tidak ingin Sasuke mendekati kami. Itu benar. Tapi karena alasan supaya keluargamu tidak tahu? Itu bohong."
Itachi berkedip.
"Alasan kenapa kau pura-pura menjadi kakak yang jahat dan melarang supaya Sasuke tidak bertemu dengan kami… adalah karena kau tidak mau Sasuke terluka bukan? Kau tidak ingin Sasuke terluka jika bayi ini menganggap Sai atau lelaki lain sebagai ayahnya. Kurasa kita berdua tahu bahwa Sasuke sudah menyayangi Kyou-chan," Naruko terdiam sesaat. "Dan kau juga tidak ingin Sasuke terluka karena aku. Karena dengan bertemu denganku dia akan teringat akan Naruto."
Itachi tidak menjawab.
"Kakak yang baik sekali, iya kan? Kyou-chan?" Naruko tertawa pelan. "Jangan khawatir, aku tidak akan menghubungi Sasuke lagi. Semalam aku memang menghubunginya, tapi itu karena keadaan darurat."
"Apakah kau selalu seperti ini?" Pertanyaan Itachi yang tiba-tiba membuat Naruko menaikkan sebelah alis. "Selalu memasang… senyuman palsu?"
"Aku sudah janji pada diriku sendiri," Naruko melancarkan senyuman palsunya lagi. "Aku tidak akan menunjukkan senyum palsu ini pada dua orang saja. Kyou-chan," dia melirik ke arah bayinya. "Dan Sasuke," senyumannya menghilang.
"Kenapa?"
Naruko tersenyum pahit. "Kurasa kau tahu apa alasannya," dia menatap Itachi sesaat. "Dan Itachi? Jangan khawatir. Aku tidak bisa melukai Sasuke." Dia yang akan dan selalu melukaiku.
Itachi tidak menjawab, seakan-akan bisa membaca arti dari tatapan Naruko. "Kita tidak akan pernah tahu," Itachi memutar tubuh, hendak keluar dari ruangan itu. "Oh iya, Ms. Uzumaki. Kau salah. Aku datang untuk memberikan hadiah atas ucapan selamat karena berhasil melahirkan dengan selamat," Itachi meringis sesaat. "Yah… meski pun bukan dalam bentuk bunga." Dia keluar dari ruangan, meninggalkan Naruko yang bingung.
"Hadiah apa?" Dia menaikkan sebelah alis. "Jangan-jangan…" dia menyabet ponselnya dan mengerang. Ada SMS pemberitahuan dari bank bahwa uang dengan jumlah mematikan telah hadir di akun banknya. Naruko mengerang, mengetuk keningnya dengan ponsel itu.
"Kyou-chan, kuharap kau tidak gila seperti mereka berdua."
Kyou hanya bisa berkedip.
xxx
12:18 PM
8th January
"Dia tidak menangis sama sekali," Sai berkedip. Dia menggendong Kyou untuk pertama kalinya dan bayi itu hanya diam saja, menatap Sai tanpa berkedip.
"Kyou-chan itu bayi yang paling unik," Naruko membereskan barang-barangnya, mengenakan mantel tebal. "Sudah seminggu sejak dia lahir dan dia cuma menangis lima kali. Dan itu pun karena bayi di ruangan yang sama menangis tanpa henti, membuatnya frustrasi dan ikut menangis."
"Dia cuma melotot ke arahku sejak tadi."
"Kyou-chan suka mengobservasi," Naruko kembali memuji bayinya. "Hati-hati. Dia bisa melotot ke arahmu sampai waktunya untuk tidur."
"Sangat mirip akan seseorang, bukankah begitu?" Sai tersenyum, membuat Naruko memutar bola matanya. Naruko teringat akan Sasuke yang suka melotot ke arahnya dan dia langsung tertawa.
"Kau sebaiknya diam ya, aku masih mengamuk. Seenaknya 'berkencan' dengan artis di Paris dan kembali ke sini mengaku pada seluruh rumah sakit kalau kau kekasihku dan anak dari bayiku…"
"Apa boleh buat. Aku sangat ingin melukis wajahnya. Tapi, dengan begini kau bisa ada alibi untuk putus denganku kan?" Sai tersenyum lebar. "Kita tidak perlu berpura-pura untuk menjadi kekasih lagi."
"Benar juga ya," Naruko tertawa. "Dengan begini aku bisa dengan santai bilang pada orang-orang apa alasan aku putus denganmu," dia membereskan kopernya. "Tapi namamu akan tetap ada di surat lahir Kyou-chan. Tidak apa?"
"Tentu saja tidak apa-apa," Sai tersenyum semakin lebar. "Anak ini anak jenius. Jika dia menjadi seseorang yang besar nanti aku ingin turut serta."
"Dasar," Naruko mendengus, menyodorkan semua koper ke arah Sai dan meraih bayinya dari gendongan lelaki itu. "Ayo Kyou-chan," Naruko mengecup bayinya yang sekarang terselimuti oleh mantel tebal berwarna biru itu. "Kita pulang."
"Pembayarannya?" Sai menyeret dua tas koper di belakangnya. "Ruangan VIP seperti ini pasti tidak murah. Dan kau benci menghambur-hamburkan uangmu untuk kemewahan."
"Bukan aku yang bayar untuk ruangan ini," wajah Sasuke melintas di kepalanya. "Seseorang sudah mengurus pembayarannya." Jika dipikir-pikir lagi, Sasuke sudah tidak pernah menunjukkan wajahnya. Dia sempat yakin kalau Sasuke akan kembali, untuk melihat Kyou setidaknya. Tapi Sasuke tidak pernah kembali lagi.
Dengan begini, semuanya benar-benar kembali normal.
Namun jika dipikir-pikir, seperti apa kehidupan normal? Rasanya sejak Sasuke muncul di kehidupannya, yang namanya 'normal' itu sudah lama menghilang. Naruko masuk ke dalam mobil Sai. Kyou tertidur setelah Naruko mengelus rambut hitamnya. Wanita itu tersenyum sesaat, memperhatikan rambut Kyou yang mulai lebat dan acak-acakkan.
"Aku akan memberinya panggilan buntut bebek dalam waktu beberapa bulan lagi."
Naruko langsung mendelik. "Awas saja."
"Ngomong-ngomong soal buntut bebek…" Sai terdiam sesaat. "Sasuke tidak tahu kalau kau sudah melahirkan?"
Naruko terdiam. Sosok Sasuke yang setengah telanjang dan membeku mulai muncul di kepalanya, membuat dia tertawa pelan. "Tidak," suaranya bergetar. Entah kenapa, tenggorokannya terasa tercekat. "Dia tidak tahu."
Dia tidak akan bertemu Sasuke lagi.
Karena Sasuke tidak mau bertemu dengannya.
"Begitu? Jadi selama aku tidak ada, siapa yang ada di sisimu saat persalinan?"
Wajah Sasuke kembali muncul. Wajah yang tertutup masker. Mata hitam tajam yang menatapnya seakan-akan tidak ada hari esok.
"Tidak ada siapa pun," Naruko tersenyum singkat.
"Wah, maafkan aku kalau begitu," Sai mengulurkan tangannya, mengusap rambut Naruko. Naruko tertawa pelan. Dia menatap jendela, menatap bayangannya dan Kyou-chan yang tertidur.
Mulai saat ini, hanya akan ada mereka berdua.
Tanpa sadar, mereka sudah sampai di condo Naruko. Sai menyeret koper-koper dan Naruko berjalan di depannya, menggendong Kyou. "Aku sudah menelpon Mrs. Jones, minta supaya rumahku dibersihkan," dia memberitahu Sai. "Aku tidak ingin Kyou-chan pulang dan masuk ke rumah yang berantakan."
"Begitu? Aku tidak yakin jika bayi yang berusia tujuh hari bisa tahu perbedaan antara rumah rapi versus rumah berantakan," Sai tersenyum.
"Kyou-chan pasti tahu," Naruko mendengus, keras kepala. Ketika dia masuk ke rumahnya, rumahnya sudah rapi, membuatnya senang. Namun, ketika dia masuk ke dalam ruangan bayi yang sudah di cat biru muda, dia melongo.
Dia menatap tumpukan mainan, pakaian dan keranjang bayi tercanggih yang pernah dilihatnya.
"Kenapa ada dua keranjang?" Sai menaikkan sebelah alis. "Ini punyamu. Kita beli ini bersama," Sai menepuk keranjang kayu. "Dan ini?" Sai menepuk keranjang bayi yang terlihat mahal itu.
"Entah," Naruko hanya bisa melongo. Kyou menggeliat di pelukannya, membuat Naruko tersentak. "Kyou-chan? Sudah bangun?" Dia menggoyang bayinya dan menunggu bayinya untuk menatapnya. Namun Kyou-chan tidak menatapnya. Mata biru itu terpaku pada pintu. "Ada apa di sana?" Naruko memutar kepalanya ke arah pintu dan kali ini dia tidak akan melongo lagi.
Sasuke Uchiha. Berdiri di depan rumahnya dengan sandal jepit, kimono tidur, rambut basah dan… boxer hitam.
Untungnya kali ini boxer itu tidak melorot.
"Cuaca di luar -1 derajat," dia memberitahu Sasuke dengan nada santai. "Kau ingin tangan dan kakimu beku lagi?"
Sasuke menginjakkan kaki, masuk ke dalam rumah Naruko tanpa diundang. "Tidak akan beku karena aku tidak keluar gedung kali ini."
"Begitu?" Mata Naruko melebar. "Kau tidak keluar gedung? Dan bagaimana caranya kau bisa ke gedungku ini tanpa keluar dari gedungmu?" Naruko langsung memikirkan semua scenario yang tidak mungkin terjadi. Sasuke memanggil helicopter, Sasuke yang ternyata adalah ninja, Sasuke yang ternyata adalah hantu.
"Karena aku pindah ke sini," Sasuke menjawab santai, membuat Naruko langsung melongo. Dia berjalan ke arah mereka, melirik sesaat ke ruangan bayi Naruko. "Dan aku ke sini untuk mengambil barang-barang pesananku. Delivery-man itu salah alamat," Sasuke memasukkan semua mainan dan pakaian bayi mahal ke dalam keranjang bayi canggih tersebut.
"Kau tinggal di mana memangnya?" Naruko nyaris menjerit saking kagetnya.
"10-09."
"Itu apartemen di sebelahku!" Naruko langsung menjerit. Apartemen itu memang sudah kosong sejak beberapa bulan yang lalu. Dia ingin membeli apartemen itu karena apartemen itu lebih besar dari miliknya sekarang. Tapi karena apartemen itu baru saja direnovasi, harganya sangat mahal dan Naruko tidak sanggup untuk membelinya.
"Kau membuat Kyousuke terkejut," Sasuke mengerutkan kening. Dia meninggalkan keranjang bayinya dan berjalan ke depan Kyou. Mata biru Kyou menatap Sasuke lekat-lekat, membuat lelaki itu tersenyum tipis. "Kyousuke," Dia memanggil bayinya. Kyousuke menggeliat, membuat Naruko terpana. Dan di detik itu dia sadar bahwa Sasuke belum pernah menggendong Kyou-chan.
"Kau… mau menggendongnya?" Naruko meneguk ludah.
Sasuke langsung menyodorkan lengannya.
Naruko menahan senyum, memberikan Kyou pada lelaki yang hanya mengenakan kimono tidur dan boxer ini. "Itachi… datang ke rumah sakit seminggu yang lalu."
"Lalu?" Sasuke tidak mempedulikan ucapan Naruko, fokus pada Kyou di depannya. Tangannya dengan ahli menopang kepala bayi itu. Naruko berani bertaruh kalau Sasuke membuka youtube dan belajar bagaimana caranya untuk menggendong bayi dengan benar.
"Dia bilang supaya aku tidak bertemu denganmu lagi."
"Dia juga bilang hal yang sama padaku," Sasuke mendengus, menggendong Kyou dengan sempurna.
"Dan kau… tetap di sini?" Naruko bertanya dengan ragu-ragu.
"Kapan aku pernah mendengar ucapan Itachi?" Sasuke mendengus lagi. "Dan kau juga. Jangan dengar ucapannya," suara tegas Sasuke membuat senyuman Naruko mengembang. Sasuke tiba-tiba berjalan pergi. "Aku harus menyusun semua peralatan bayi itu di apartemen baruku. Ayo."
Naruko menatap punggung Sasuke yang mulai menjauh. Naruko tertawa, melangkah maju. Untuk pertama kalinya, Naruko berjalan, mengikuti punggung itu. "Sai! Ayo bawa semua ini!" Dia berjalan di sisi Sasuke, menyeringai ke arah Kyou yang memperhatikan mereka berdua.
Sai hanya bisa terdiam di belakang, menatap semua peralatan bayi di depannya. "Jadi… aku di sini hanya untuk menjadi kuli suruhan saja?"
TBC
AN: aku sukaaaa sekali nulis adegan terakhir itu. haha!
moga2 readers juga suka :)
sampai jumpa di chapter berikutnya!
PS: fic bakalan jadi lebih panjang dari yang diharapkan deh. tapi moga2 2-3 chapter lagi bisa tamat :)
