Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: OC, OOC, TYPOS, ALUR CEPAT. Chapter ini aku kasih rate T karena genre family dan alur yang santai :)
AN: lagu yang dinyanyikan Naruko itu jurulnya Yaoke no Tori dari anime Kemono no Souja :)
Enjoy!
Chapter 5
.
.
.
.
.
23:34 PM
24th February 20XX
Kyousuke Uzumaki, bayi tertenang yang pernah dilihatnya. Oke, bukan berarti Naruko sering melihat bayi, tapi dia sudah sering melihat bayi yang menangis tanpa henti di panti asuhan dan Naruko tahu kalau Kyou tidak seperti itu.
Bayi ini sudah nyaris berusia dua bulan. Dan dia tetap tenang, sama ketika dia lahir. Dia tidak menangis jika orang lain yang menggendongnya. Dia hanya membuka matanya lebar-lebar, memperhatikan orang yang membopongnya. Namun bayi tetaplah bayi. Mereka sering terbangun di tengah malam entah karena lapar, atau popok yang perlu diganti.
Naruko masih butuh istirahat. Dia masih dalam tahap persembuhan. Tubuhnya masih nyeri dan dia masih susah berjalan. Dia terkadang tidak tidur karena Kyou yang sering terbangun. Kyou jarang menangis, namun bayinya itu akan mengerang, menggeliat. Naruko akan terbangun lagi, langsung beranjak dan memeriksa apa yang diinginkan Kyou.
Naruko capek. Sangat capek. Dia ingin sekali rasanya tidur setidaknya enam jam tanpa terbangun berkali-kali. Tapi demi Kyou, dia rela tidak tidur. Dia terkadang bernyanyi, membuat wajah yang lucu di depan Kyou, membuat bayi itu menyeringai.
Senyum Kyou lebih dari cukup.
Sasuke sering datang di tengah malam, setelah dia selesai bekerja. Mereka jarang berbicara dan Naruko tidak peduli lagi dengan Sasuke yang seenaknya masuk ke dalam rumahnya. Toh Sasuke hanya ingin melihat Kyou.
Malam itu, Sasuke datang ketika dia sudah selesai menyusui. Kyou seharusnya mengantuk setelah minum susu, tapi mata bayi itu terbuka lebar, menatapnya dengan mata biru yang tajam. Naruko hanya bisa mengerang. Dia tahu apa arti pandangan itu. Itu artinya kalau Kyou tidak akan tertidur sampai beberapa jam lagi. Dan Naruko sudah sangat lelah.
"Sini."
Naruko menengadah, menatap Sasuke yang berjalan ke arahnya.
"Tidur. Aku bisa menangani Kyousuke."
Naruko berkedip. Tentu saja dia tidak ingin memberikan bayinya begitu saja pada Sasuke. Tapi dia tahu bahwa Sasuke sudah membaca puluhan buku tentang cara mengurus anak. "Dia belum mengantuk. Kau harus mengayunnya sampai dia tertidur, baru kau bisa menaruhnya di keranjang… dia tidak akan tidur begitu saja tanpa digendong dulu... Entah berapa lama…"
Sasuke tidak menjawab, meraih Kyou dari tangannya. Dia membawa bayi itu ke sofa, duduk di sana dan mulai menatap mata Kyou. Dan tentu saja, Kyou balas menatapnya.
Sasuke tidak seperti orang-orang yang bertemu dengan bayinya. Sasuke tidak membuat wajah-wajah konyol atau mengubah nada suaranya ketika melihat Kyou. Dia bahkan memanggil Kyou dengan nama lengkapnya 'Kyousuke' dengan suara yang tegas dan tajam. Sasuke juga tidak menggoyang Kyou. Sasuke hanya duduk, saling bertatapan dengan sang bayi.
Naruko berkedip. Namun dia terlalu capek untuk mengatakan sesuatu. Dia berbaring di kasur dan langsung terlelap. Ketika dia terbangun dua jam kemudian, dia menatap Sasuke yang masih duduk di posisi yang sama dan Kyou yang sudah tertidur lelap di lengannya. Naruko memperhatikan Sasuke yang tersenyum tipis. "Kyousuke," bibirnya berbisik.
Sasuke tidak mencium Kyou. Tidak bermain dengannya.
Namun Naruko tahu bahwa lelaki itu sudah sangat menyayangi bayinya.
xxx
02:35 AM
1st March
Sasuke tidak tahu banyak akan Naruko. Dia juga tidak tahu banyak tentang seorang ibu yang mengurusi bayinya. Namun dia tahu kalau Naruko berkorban banyak demi Kyousuke. Dia selalu melihat Naruko yang kekurangan tidur, kekurangan makan, kecapekan.
Namun bahagia.
"Kyou-chan," Naruko berbisik, senyuman tipis di bibirnya. "Narabe makura no… tsuki no yoru ni wa, kawasu no… koe mo…" alunan musik yang lembut keluar dari bibir wanita itu.
In this moonlit night, we sleep side by side.
Sasuke terpaku. Dia sedang duduk di salah satu sofa, menatap Naruko yang menyanyikan lagu pada Kyousuke yang perlahan-lahan tertidur.
"Naku na yoake no… tori o naku na…"
Don't cry, bird of dawn, don't cry.
Sasuke menyenderkan kepalanya di sofa, memejamkan mata.
"… koyoi mo nemure… itoshiki sonata yo."
Sleep well tonight, the person dear to me.
xxx
20:34 PM
10th April 20XX
Sasuke itu workaholic. Gila kerja.
Naruko sadar akan itu setelah seminggu bertetangga dengan Sasuke. Dan sekarang, sudah tiga bulan dia bertetangga dengan Sasuke dan dia sudah mengenal lelaki itu lebih dalam. Banyak yang bilang kalau posisi yang didapatkan Sasuke sekarang hanyalah anugrah dari ayah dan kakaknya. Tapi Naruko tahu bahwa hal itu tidak benar. Sasuke memang jenius. Tapi dia juga benar-benar bekerja keras untuk mendapatkan posisinya yang sekarang.
Dia tidak pernah berpisah dengan ponsel kerja dan laptopnya. Nyaris setiap menit dia menerima panggilan dan harus membuat keputusan-keputusan yang besar. Sasuke jarang makan, hanya makan secukupnya saja. Dia kurus dan jangkung. Jika dia punya waktu untuk makan, dia akan makan sambil mengerjakan tugasnya.
Naruko juga sadar kalau jika Sasuke sudah berniat melakukan sesuatu, maka dia akan benar-benar menyelesaikan sesuatu itu. Sasuke sudah merokok sejak bertahun-tahun dan sejak ada bayi di dekatnya, dia benar-benar stop merokok. Setiap kali dia melihat orang yang merokok di lobi apartemen, lelaki itu akan mengernyitkan keningnya dan menatap lelaki itu dengan tatapan jijik dan membunuh. Naruko tidak tahu apakah itu mungkin, apalagi setelah mendengar banyak cerita tentang betapa susahnya untuk berhenti merokok.
Sasuke juga minum banyak kopi, namun sekarang fokus pada teh saja, karena Naruko pernah berujar dengan dingin ke arahnya setelah melihat Sasuke meneguk kopinya yang ke-8. "Ah, Kyou-chan tidak akan melihatmu hidup lagi dalam waktu lima tahun lagi."
Sasuke langsung membuang kopi itu beserta gelasnya.
Jika Sasuke sedang dalam projek penting yang memakan waktu berminggu-minggu, dia akan fokus sepenuhnya pada projek itu. Sasuke akan keluar dari apartemennya, memberikan nomor pribadi dan nomor hotelnya pada Naruko dan pergi begitu saja. Sasuke bahkan tidak akan menelponnya dan tidak mengabarinya selama beberapa minggu itu.
100% fokus pada pekerjaan.
Naruko hanya tahu kapan pekerjaan Sasuke selesai ketika dia menerima SMS dari lelaki itu.
'Kirim foto Kyousuke.'
Dan Naruko akan memutar bola matanya dan memotret Kyou yang sedang tertidur dalam segala sudut. Dan untuk menjahili lelaki itu, dia bahkan mengirim foto selfie-nya pada Sasuke. Dan tentu saja. Sasuke hanya menjawab 'hn'.
Jika pekerjaan Sasuke selesai, itu berarti satu hal. Projek berikutnya akan datang lumayan lama dan Sasuke punya waktu bebas. Lelaki itu akan datang mampir ke rumahnya nyaris setiap malam untuk bertemu Kyou. Setiap kali dia masuk ke rumah, mata Kyou akan langsung terpaku ke arahnya. Sasuke akan menyunggingkan senyuman tipis dan menggendong Kyou. Dan tentu saja, Sasuke selalu datang dengan tangan yang penuh akan oleh-oleh. Biasanya dia akan membeli mainan untuk Kyou. Boneka kangguru dari Australia, atau boneka doraemon dari Jepang.
Dan sesekali dia akan membeli oleh-oleh untuknya juga, meski Naruko tahu bahwa oleh-oleh itu hanya dibeli di toko souvenir di airport.
Lamunan Naruko terputus ketika dia mendengar suara erangan bayi. Dia menoleh, menatap Kyou yang menggeliat di keranjangnya. Naruko meninggalkan komputernya dan berjalan ke arah bayi tiga bulan itu. "Sudah bangun?" Dia mengecup pipi montok Kyou. Bocah itu menatapnya dengan lekat-lekat, membuat Naruko cekikikan. "Mama."
Kyou tidak menjawab.
"Tentu saja, kalau kau bisa menyebut 'mama' di usiamu yang sekarang ini, aku akan pingsan di tempat," Naruko duduk di sofa ruang tamu, mengayun Kyou. "Kau tahu apa pekerjaan Mama? Menulis cerita. Dan tadi Mama sedang menulis cerita baru," Naruko mulai berceloteh. Dia tahu kalau Sai sering mengkritiknya dan bilang kalau percuma untuk berbicara dengan anak tiga bulan yang tidak akan mengerti apa yang kau ucapkan, tapi dia percaya kalau Kyou mengerti. Dan memangnya kapan lagi Kyou bisa mendengar orang berbicara dengannya? Setiap kali Sasuke datang dan menggendongnya, dia hanya akan menatap Kyou tanpa bicara apa-apa. "Kyooouu-chaaan!" Naruko mengelitiki anaknya, cekikikan sambil memasang wajah-wajah konyol, membuat Kyou ikut tertawa pelan.
Dia tidak sadar ketika pintu terbuka begitu saja. Sasuke Uchiha masuk ke rumahnya, menenteng dua tas besar. Naruko menengadah, menatap Sasuke yang berjalan ke arah mereka. "Ah, dari mana kau kali ini?"
"Afrika," Sasuke meletakkan dua kantong mainan bayi dan langsung berjalan ke arahnya. "Kyousuke," Sasuke mengulurkan tangannya, meminta bayi tersebut.
"Auuh," Kyou bergumam, mata birunya menatap Sasuke lekat-lekat. Naruko menggelengkan kepala ketika menatap mereka berdua yang saling menatap tanpa henti. Dia langsung menyerahkan Kyou ke pelukan Sasuke dan beranjak, memperhatikan kantung yang diberi Sasuke. Dia memutar bola matanya ketika melihat boneka menakutkan yang dibeli lelaki itu. Kamar bayi di rumahnya sudah nyaris penuh akan mainan.
Namun, mata Naruko terpaku pada gantungan kunci boomerang. "Ini apa? Kyou-chan belum bisa memegang ini."
"Untukmu," Sasuke menjawab santai. Kyou ada di pelukannya.
Naruko berkedip. Dia menahan senyuman. "Arigatou," dia balas menjawab santai. Namun wanita itu berdiri, masuk ke dalam kamarnya. Dia membuka laci lemarinya, di mana banyak oleh-oleh lain dari Sasuke. Snow globe, pena, buku, bahkan pita. Dia meletakkan gantungan kunci itu di laci tersebut dan menutupnya.
Meski kecil dan tak berharga, Sasuke membeli benda-benda itu sambil teringat padanya. Dan itu sudah cukup mengejutkan untuk Naruko. "Hmmm," dia merenggangkan tubuhnya. "Saatnya memasak makan malam."
xxx
13:54 PM
17th May 20XX
Tidak ada seorang pun yang berani mengatai Sasuke bodoh kecuali Itachi. Namun sekarang, lelaki itu mengatai dirinya sendiri bodoh. Dia tidak tahu kenapa dia bisa-bisanya menyamakan Naruko dengan Naruto. Sungguh. Dia tidak tahu sebuta apa dia dulu.
Naruko sangat berbeda dengan Naruto.
Pertama-tama, perbedaan yang sangat kelihatan. Naruko jenius. Tidak seperti dobe itu.
Kedua, Naruko tenang. Berkepala dingin. Dan Kyousuke mewarisi ketenangan itu. Bayinya yang berusia empat bulan itu jarang menangis. Tapi, dia tahu bahwa Kyousuke juga mewarisi setengah sifatnya. Kyousuke suka mendelik ke orang lain, entah kenapa. Mata birunya yang bundar lebar itu suka melihat ke sana kemari, menatap orang-orang di sekitarnya, mendelik tajam. Dan jika dia tidak tertarik dengan orang tersebut, sang bayi akan mendengus dan membuang muka.
Naruko hanya bisa melongo ketika bayi itu melakukan hal tersebut terhadap editornya.
Ketiga, Naruko hebat memasak. Sasuke akui itu. Dia terkadang sengaja datang ke rumah Naruko untuk makan masakannya. Dan tentu saja, dia akan mendelik jika melihat Sai di sana, sudah menyantap bagiannya. Dan Naruto? Hanya bisa memasak ramen.
Naruko juga sensitif. Tapi dia tidak langsung emosi jika ada sesuatu yang membuatnya kecewa. Naruto akan langsung mengamuk, namun Naruko akan terdiam dan memasang senyuman palsu.
Naruto mempercayai semua orang yang ditemuinya dan Naruko hanya akan mempercayai dirinya sendiri.
Sasuke tidak tahu sejak kapan dia melihat Naruko sebagai 'Naruko', bukan 'adik Naruto'. Dia sedang memangku Kyousuke yang sekarang sedang mengunyah dotnya. Gigi bayi ini mulai tumbuh dan gusinya gatal. Sasuke menyodorkan jarinya untuk Kyousuke dan bocah itu langsung mencengkram jari telunjuk tersebut dan membuka mata birunya lebar-lebar, memperhatikan jarinya dengan seksama. Mata Sasuke tertuju pada Naruko yang membenarkan kacamatanya, mengetik dengan kecepatan kilat. "Apa yang sedang kau tulis?" Dia bertanya tanpa dia sadari.
"Hmmm, kau tidak akan suka."
Sasuke menaikkan sebelah alis. "Karena?"
"Karena…" Naruko langsung terdiam, mengabaikan Sasuke sepenuhnya, membuat lelaki itu mengerutkan kening.
"Karena apa?"
"Oh? Kau bicara denganku?" Naruko tersentak, menatap Sasuke dengan bingung.
Sasuke menggeram. Tidak ada yang boleh mengabaikan Sasuke Uchiha. "Aku tanya…"
"Oh iya aku ingat," Naruko memotongnya, membuat Sasuke menggeram lagi. Tidak ada yang boleh memotong Sasuke Uchiha. "Aku sedang melanjutkan cerita yang baru saja kutulis beberapa bulan lalu. Dan aku menggunakan sifatmu sebagai karakter pemeran utamaku."
Sasuke berkedip. "Aku tidak memberimu ijin."
"Dan aku tidak membutuhkan ijin," Naruko menyeringai, menoleh ke arahnya. Matanya bertemu dengan mata Kyousuke dan wanita itu langsung beranjak, melompat-lompat kecil ke arahnya. "Kyoou-chaan!"
Kyousuke melepaskan dotnya. "Aammm," mulutnya megap-megap. "Ammmm."
"Mama. Iya, Mama!" Naruko langsung meraup Kyousuke. "Kyou-chaan!"
Sasuke memutar bola matanya lagi. Dia tidak mengerti kenapa Naruko memanggil Kyousuke dengan 'Kyou-chan'. Dia tidak akan suka jika ayahnya atau Itachi memanggilnya Sa-chan. Sasuke merinding sesaat. "Kenapa kau menggunakanku sebagai pemeran utama?" Sasuke bertanya.
"Ah? Oh," Naruko meringis. "Karena kau brengsek. Cewek-cewek suka dengan cowok brengsek."
Sasuke berkedip.
Naruko cerdas. Tenang. Kuat.
Naruko tidak percaya pada orang lain, sensitif, terkadang cepat emosi.
Naruko juga adalah wanita pertama yang berani mengabaikannya, memotongnya, dan mengatainya brengsek di depan wajahnya sendiri dan masih hidup di dunia ini. Dia meringis sesaat dan Naruko tertawa. "Sasuke," Naruko menunjuk ke arahnya, matanya tetap terpaku pada Kyousuke. "Sasuke. Ini Sasuke."
"Uhhh," Kyou bergumam-gumam, pipinya yang montok bergerak ketika dia membuka mulut. "Uhh."
"Benar. Sasuuukeee," Naruko mengecup pipi Kyousuke. "Anak jenius!"
Sasuke tersenyum. Dan ketika Sai datang, Naruko melakukan hal yang sama. Dia mencoba untuk mengajarkan Kyousuke akan nama Sai. Namun bayi itu memalingkan wajah, menatap Sasuke dan mengayunkan tangannya. Sasuke dengan bangga meraup putranya.
xxx
08:36 AM
19th June 20XX
"Bayi mulai tumbuh gigi. Gigi seri di rahang bawah. Rata-rata di usia 3 sampai 6 bulan," Sasuke memegang buku bayi tebal dan melirik, menatap Kyou berbaring di keranjang, balas menatapnya. "Hn," Sasuke mengangguk puas ketika menatap dua warna putih mungil yang menyempil dari mulut sang bayi. Dia membalik bukunya lagi. "Di usia 4 sampai 6 bulan, bayi mulai berceloteh," Sasuke menatap Kyou lagi dan bayi itu membuka mulutnya, megap-megap. Ber-aaamm dan ber-ueehh. "Hn," Sasuke kembali mengangguk puas, menyodorkan dot untuk sang bayi sebagai hadiah.
"Kau tahu," Naruko berujar dari balik komputer. "Kyou-chan adalah bayi normal. Jadi kau tidak perlu memusingkan dirimu dengan semua itu." Dia melirik di jam dinding. "Dan bukankah sudah waktunya kau berangkat ke kantor?"
"Kyousuke," Sasuke membenarkan. "Adalah bayi yang lebih dari kata 'normal'."
Naruko memutar bola matanya. "Kyou-chan," Naruko mendelik sesaat, mata birunya membundar. "Adalah bayi yang extraordinary, seperti ibunya."
Sasuke berkedip. Dia menoleh, menatap Kyou yang masih menatapnya dengan mata biru bundar. "Seperti ibunya." Sasuke mengangguk setuju.
Naruko menyeringai lebar.
xxx
16:56 PM
30th July 20XX
Sasuke turun dari mobilnya, berjalan keluar dari parkiran dan masuk ke dalam supermarket. Dia membuka ponsel pribadinya, membaca SMS dari Naruko lagi.
'Aku di bagian rak anak bayi.
Naruko U.'
Sasuke berjalan cepat, masih mengenakan kemeja dan jas. Dengan mudah dia menemukan wanita berambut pirang panjang dengan bayi di gendongannya. Naruko sedang bercakap-cakap dengan seorang nenek tua, dia tersenyum dan melambai ke arah nenek yang berjalan pergi itu. "Dia bertanya tentang jalan," Naruko berujar ketika Sasuke mendekatinya, meraup Kyousuke yang menatapnya sejak tadi.
"Kau normal."
"Hmm? Maksudmu?" Naruko menghela napas lega. Dia merenggangkan lengannya yang terlihat kaku.
"Di depan orang-orang biasa," Sasuke berujar pelan. "Kau tersenyum dengan normal."
Naruko memutar bola matanya. "Tentu saja. Aku tidak 'palsu' setiap saat bukan? Memangnya seperti Sai?" Wanita itu mendengus, memasukkan dua bungkus popok bayi di dalam keranjang. "Aku cuma begitu di saat-saat tertentu saja, ketika aku tidak percaya pada orang lain. Seperti orang yang berbohong jika tidak ada pilihan lain."
"Kau tersenyum palsu di depan Sai," Sasuke menyabet popok termahal, meletakkan 10 bungkus popok terbaik tersebut di keranjang. "Sering sekali," dia mendengus ketika teringat akan Naruko dan Sai yang tersenyum di depan satu sama lain, seakan-akan mereka memamerkan senyuman palsu siapa yang terpalsu.
"Karena dia menyebalkan," Naruko menggeram, mengembalikan semua popok yang diletakkan Sasuke. "Dan aku masih belum bisa percaya padanya sepenuhnya."
"Kau tidak begitu di depanku," Sasuke berujar pelan. Naruko cuma pernah tersenyum palsu di depannya sekali saja. Dan tidak pernah lagi setelah itu. "Kenapa?"
Naruko terpaku sesaat. "Karena kau menyebalkan."
Sasuke menaikkan sebelah alisnya.
"Kau tidak akan suka kalau aku tersenyum palsu di depanmu," Naruko mendengus. "Kebalikan dengan Sai. Dia suka kalau aku tersenyum palsu bersamanya."
Sasuke mengatupkan bibirnya. "Bagaimana denganmu? Kau suka?"
"Tentu saja aku tidak suka tersenyum palsu," Naruko mendengus. "Sering bukan berarti suka," dia berhenti berbicara sesaat ketika merasakan tatapan tajam Kyosuke. Naruko langsung menyondongkan tubuh, membuat bahu mereka bersentuhan. Wanita itu tersenyum lebar, tertawa dan meringis, mengecup pipi bayinya.
"Kau tidak tersenyum palsu di depan Kyosuke."
Naruko memutar bola matanya. "Kau menyebalkan. Kau tahu?" Dia mendengus lagi, memutar tubuhnya, berjalan pergi, menyeret kereta dorong bayi dan keranjang yang penuh dengan popok dan susu. "Aku sudah bersumpah untuk tidak menunjukkan senyum palsu ini pada dua orang saja. Kyou-chan dan…" Dia terdiam.
"Dan?"
Naruko tidak menjawab.
"Dan siapa?" Sasuke mengerutkan kening, berjalan cepat dan mendelik ke arah Naruko. "Siapa?" Dia memaksa lagi.
"Kau tahu, dulu kecil ketika natal, aku meminta Santa Klaus supaya aku bisa dapat kehidupan normal. Mendapat orang tua dan keluarga yang bahagia," Naruko berujar tiba-tiba. "Dan sepertinya entah ada kesialan apa, santa salah memberi hadiah, menyelipkanmu di kehidupanku."
Kening Sasuke semakin berkerut. "Aku tidak peduli dengan mimpi dan harapanmu. Aku bertanya siapa…"
Naruko menggeram, nyaris saja melempar popok ke wajahnya.
xxx
19:15 PM
3rd August 20XX
Itachi tidak tahu apa yang dia lakukan di tempat itu. Sungguh. Dia harus berdiskusi dengan Sasuke tentang masalah pekerjaan. Dia mengirim SMS, menyuruh adiknya itu untuk datang segera di rumahnya. Namun, Sasuke tidak membalas. Itachi mengerutkan kening sesaat, menelpon ponsel Sasuke. Tidak ada jawaban. Itachi menunggu 15 menit dan menelpon lagi.
Tetap tidak ada jawaban.
Dan Sasuke tidak pernah berpisah dengan ponsel kerjanya.
Itachi langsung menyabet tas kerjanya, keluar dari rumahnya dan masuk ke dalam mobil, memberikan alamat rumah baru Sasuke pada supir pribadi. Dalam hitungan menit, dia sudah sampai di condominium Sasuke. Dia langsung bergegas berjalan ke rumah Sasuke, tertegun sesaat ketika melihat bahwa pintu rumah adiknya terbuka.
Itachi mencengkram kemejanya, meraba pistol yang menimbul dari balik pinggulnya.
Lelaki itu mendorong pintu masuk, mendelik tajam dan siap untuk membunuh siapa pun yang berani menyentuh adiknya. Dan di sanalah Itachi melihat adegan itu.
Sasuke yang berlutut, mengenakan popok pada bayi.
Lelaki tersebut nyaris menjatuhkan pistolnya. Atau lebih parah lagi, Itachi nyaris melongo. Tapi tidak, Uchiha tidak melongo. Jadi Itachi hanya berdiri diam, mematung di depan pintu.
"Naruko," Sasuke menggeram. "Aku tidak tahu mau selama apa kau mengambil popok baru, tapi tutup pintu setelah kau keluar masuk, Kyousuke kedinginan," dia menggeram, membersihkan tubuh Kyousuke dengan handuk hangat.
Itachi terpaku.
"Naruko, kau dengar?" Dia menoleh. Di detik itu juga, matanya bertemu dengan mata Itachi. Dia menyipitkan mata. "Sedang apa kau di sini?"
Itachi berkedip, masih memperhatikan tangan Sasuke yang dengan gesit membersihkan bayi itu. Dia berjalan masuk, menyelipkan pistolnya di balik kemeja lagi. Matanya terpaku pada Kyousuke yang menggeliat, menatapnya dengan mata biru yang bundar.
"Heei! Maaf aku lama! Masakanku sudah selesai jadi aku bawa makananku ke sini," suara Naruko bergema dari depan pintu. Mendengar suara ibunya, Kyousuke menggeliat lagi, merentangkan tangannya. "Loh? Si Uchiha yang satu lagi ada di sini?"
Alis Itachi berkedut. Si Uchiha yang satu lagi?
Naruko mengabaikan Itachi sepenuhnya, meletakkan keranjang makanan di meja, lengannya mengapit beberapa bungkus popok. Naruko berjalan mendekati Sasuke dan sang bayi. "Kau tidak bilang kalau kakakmu akan datang, Sasuke!"
"Dia datang sendiri tanpa diundang," Sasuke mendengus, menyabet popok dari tangan Naruko dan dengan gesit mengenakan popok itu di tubuh sang bayi. "Sedang apa kau di sini?" Sasuke menengadah, mendelik ke arahnya lagi.
Itachi tidak menjawab. Matanya terpaku pada Kyousuke Uzumaki. Pertama kali dia melihat bocah itu adalah tujuh bulan yang lalu, ketika bayi itu masih keriput seperti monyet. Sekarang… Itachi memperhatikan mata biru bundar dan tajam itu. Rambut hitam di kepala sang bayi sudah panjang dan acak-acakkan. Kulitnya putih pucat, sepucat kulit Sasuke. Mata biru itu menatapnya tanpa henti.
"Projek," Itachi berdehem. Akhirnya dia bisa menemukan suaranya juga. "Aku mengirim SMS dan menelponmu. Tidak ada jawaban."
Sasuke berkedip. "Oh," dia kembali menunduk, meraup Kyousuke dan menggendong sang bayi. Bayi itu dengan santai menyenderkan kepalanya di bahu Sasuke, kedua tangan montoknya melingkar di bahu adiknya. "Baiklah. Ayo kita disku…"
"Tidak. Tidak. Makan dulu," Naruko berseru. "Itachi! Kau juga! Aku memasak lebih karena kukira Sai akan datang tapi dia malah mengejar model baru lagi!"
Itachi menatap makanan di depannya. Sup miso, yakiniku, omelet, salad tomat, timun dan kol, nasi nori…
Dia nyaris saja meneguk ludah.
"Tidak. Aku kemari untuk masalah bis…"
"Makan," Naruko mendelik, membuat Itachi berkedip. Jujur, harga diri Itachi terasa sedikit tergores. Dia mengerutkan kening, melirik ke arah Sasuke dan dia yakin kalau adiknya juga tidak akan terima jika diatur seperti itu. Namun lagi-lagi Itachi nyaris melongo ketika melihat Sasuke yang duduk dengan tenang di meja makan, menerima mangkuk nasi dari tangan Naruko. Tangan kiri Sasuke masih membopong Kyousuke. "Kyou-chan," Naruko menyabet kursi bayi dan meletakkan Kyousuke di kursi itu. Naruko duduk di dekat bayi tersebut dan mulai menyuapi Kyousuke dengan makanan bayi. "Itachi, kalau kau tidak selesai makan kau tidak boleh diskusi dengan Sasuke," Naruko berujar santai tanpa melihat ke arahnya.
Itachi berkedip lagi. Namun dia duduk, meraih makanan di depannya. Dia menatap Sasuke yang duduk di depannya, memperhatikan adiknya tersebut. Dia sadar akan beberapa hal yang tidak pernah dilihatnya. Sasuke terlihat lebih sehat sekarang. Tidak lagi pucat mayat seperti biasa. Biasanya bibir Sasuke membiru karena terlalu banyak merokok dan meminum kopi. Namun sekarang adiknya terlihat… sehat.
Itachi memasukkan potongan daging di mulutnya dan memaksa diri untuk tidak terbelalak.
Sekarang dia tahu kenapa Sasuke dengan rela hati duduk dan makan meski pun diperintah oleh Naruko.
Dia terdiam lagi, mencoba untuk mengingat kapan terakhir kali dia duduk di meja makan dan makan malam bersama Sasuke. Ketika mereka masih kecil? Itachi menyeringai tanpa dia sadari. Lelaki itu menyabet daging di saat yang bersamaan ketika Sasuke hendak mengambil dagingnya. Adiknya mendelik, membuatnya kembali menyeringai. Mereka 'bertarung' dengan sumpit sesaat, saling mendelik ke arah daging di depan mata dan berusaha untuk mencapit potongan daging yang terbesar.
"Dasar," Naruko memutar bola matanya, menyuapi Kyousuke yang memperhatikan adegan itu dengan seksama.
xxx
21:56 PM
16th September 20XX
Sai tidak tahu apa yang dia lakukan. Duduk berdua dengan Kyousuke Uzumaki. Hanya berdua saja dengannya.
Naruko tidak ada di rumah, seminar menulis.
Sai melukis dengan tenang, memikirkan ingin meminta balas budi seperti apa dengan Naruko nanti, seenaknya menyuruh dia menjadi baby sitter… Yang pasti syukurlah si bayi melotot sedang tertidur. Jadi dia bisa melukis dengan santai…
"Ammam."
Jari Sai berhenti bergerak, ujung pensilnya langsung patah. Tentu saja. Si bayi buntut bebek yang berusia delapan bulan sudah terbangun. Sai menoleh, menatap Kyosuke sedang berbaring di atas kasur, membuka matanya lebar-lebar. Mata biru tajam itu melirik ke sana kemari. "Mamamu tidak ada. Kerja," Sai tersenyum lebar. Bayi selalu senang jika ada yang tersenyum pada mereka. Semua bayi. Kecuali…
Kyousuke mengerutkan kening, melotot semakin menjadi-jadi.
Kecuali bayi berdarah Uchiha.
"Kau tidak lucu, kau tahu," senyum Sai melebar.
Kening Kyousuke semakin berkerut.
"Bayi keriput," Sai menyentuh kening sang bayi, membuat Kyousuke menggeliat. Bayi itu berbalik sehingga wajahnya menghadap di kasur, punggungnya membelakangi Sai.
Sai hanya bisa berkedip.
"Aku pulang!" suara Naruko membuat sang bayi mulai semakin menggeliat. Naruko membuka pintu kamar, Sasuke di belakangnya. "Ah, kami bertemu di lobi." Naruko menunjuk ke arah Sasuke yang langsung berjalan ke arah Kyousuke. Bayi itu menggeliat semakin menjadi-jadi, wajahnya terbekap di kasur. Sebelum Naruko atau Sasuke sempat meraupnya, Kyousuke tiba-tiba merengek, menjerit dengan suara bayi yang melengking.
Naruko melongo, Sasuke mendelik.
"Kyou-chan kenapa?" Naruko cepat-cepat mengangkat bayinya, dan di detik itu juga Kyousuke membenamkan wajahnya di pelukan Naruko, tangan mungilnya mencengkram jari Sasuke yang sejak tadi menyentuh wajahnya. "Sai, kau apakan dia?"
Sai terpaku, menatap dua pasang mata yang mendelik ke arahnya. Dia menoleh, menatap Kyousuke yang berhenti merengek, menatapnya dengan mata bundar yang polos.
Bayi kurang ajar.
xxx
07:35 AM
10th Oktober 20XX
Naruko sudah lama memendam pertanyaan itu dan dia akan terus memendam pertanyaan tersebut.
Apakah Sasuke gay?
Apakah Sasuke bisexual?
Naruko menggelengkan kepalanya. Sepertinya Sasuke bukan dua-duanya. Dia tidak pernah melihat Sasuke memperhatikan wanita atau lelaki lain. Mata lelaki itu selalu fokus pada Kyosuke. Sasuke adalah lelaki straight yang mencintai Naruto.
Apakah Sasuke masih mencintai kakaknya? Naruko tidak tahu.
Wanita itu mendengus pelan, meletakkan telur goreng dan roti bakar di mejanya. Wajar saja. Siapa yang tidak menyukai Naruto? "Oh iya, kau belum bertemu dengan pamanmu," Naruko tersenyum, Kyou menyenderkan wajah di punggungnya. "Paman yang satu lagi. Bukan paman Itachi," Dia memang suka bercerita pada Kyou, makanya dia suka memanggul sang bayi ketika dia sedang melakukan sesuatu. Kyousuke sudah di umur di mana dia akan menyerap perkataan orang lain. Jadi dia harus sering bercerita pada anak itu. "Karena pamanmu tidak tahu kau ada di dunia ini, Kyou-chan…" Naruko berujar dengan nada pahit. Sebelum dia sempat bercerita lagi, Sai masuk ke dalam rumahnya, membawa setangkai bunga.
"Happy birthday," dia berjalan ke arahnya, menempelkan kecupan singkat di pipinya.
"Thanks," Naruko tertawa, menerima bunga dari Sai. Lelaki itu menunduk, mengecup pipi Kyou, dan tentu saja, sang bayi hanya melotot ke arahnya.
"Sasuke-kun mana?" Sai bertanya, menyabet roti panggang di depannya.
"Entah? Dia tidak pernah bilang atau menghubungiku jika dia sedang bekerja."
"Hmm, lelaki dingin. Tidak tahu kalau kau ulang tahun tentunya."
"Dia tahu kalau hari ini ulang tahun Naruto. Kemarin wajahnya terlihat kosong," Naruko memasukkan gula di tehnya. "Dan tadi pagi-pagi buta dia datang sebentar, melihat Kyou dan pergi begitu saja."
"Lelaki dingin," Sai tersenyum sesaat. "Aku ada sesuatu untukmu."
"Wah benarkah?" Naruko balas tersenyum. "Kuharap bukan lingerie lagi."
Sai membuka tasnya, menyodorkan bingkai lukisan.
"Awww! Kyou-chan!" Naruko berseru girang. Kyou yang nyaris tertidur itu langsung terbelalak mendengar jeritan Naruko. Wajah Naruko langsung berseri-seri ketika dia menatap lukisan bayi berambut hitam jabrik yang merangkak, mata biru bundar bersinar. Dia ingat. Dialah yang memotret adegan itu, ketika Kyou sedang merangkak ke arahnya. "Kau melukisnya?" Naruko menaikkan sebelah alis. "Tumben, kau biasanya hanya melukis karena dua hal. Karena kau suka akan sesuatu itu dan karena seseorang membayarmu untuk melukis."
"Aku suka pada Kyou-chan, bukan?" Sai tersenyum lebar, mengecup Kyou lagi, membuat sang bayi kembali mendelik.
"Bohong. Kyou-chan saja tahu kalau kau bohong," Naruko mendengus. "Siapa yang membayarmu?"
Sai menaikkan bahunya, kembali melahap roti. "Sasuke-kun."
Naruko hanya bisa menaikkan sebelah alis. "Untuk apa? Dia tidak suka padamu."
"Dia menyuruhku melukis itu," Sai menunjuk ke arah bingkai foto. "Sebagai hadiah untuk ulang tahunmu."
Naruko hanya bisa terdiam.
xxx
20:01 PM
17th November 20XX
Sebulan sekali Itachi akan datang ke rumah Sasuke, untuk diskusi, makan malam dan memperhatikan Kyosuke. Setiap kali dia datang, dia selalu menenteng hadiah untuk bayi itu. Dan Naruko sudah sering meminta Itachi untuk berhenti mengirim uang, namun tentu saja Itachi tidak peduli.
Kyousuke melihat kesana kemari, memperhatikan Itachi Uchiha. Dia memalingkan wajahnya sesaat, menatap kumpulan mainan yang sudah berlebihan di ruang tamu Sasuke. "Ahh," Kyousuke merangkak, menyabet boneka berbentuk beruang mungil. Dia merangkak ke arah Itachi, melambaikan boneka itu ke arahnya.
"Umurnya berapa sekarang?" Itachi bertanya, meletakkan dokumen yang sedang dibacanya dan mengambil boneka itu dari tangan mungil Kyousuke.
"Sepuluh bulan," Naruko berujar santai. Dia menunduk, meraup tubuh Kyousuke dan mengusap rambut hitamnya yang acak-acakkan.
"Amma," Kyousuke megap-megap. "Ammmaaam," jari mungil Kyousuke menunjuk Itachi.
"Itachi," Naruko memberitahu anak itu. Kyousuke seakan-akan mendengar ucapan ibunya, menoleh dan menatap Itachi lekat-lekat.
"Dia jenius," Itachi berkomentar. Naruko tersenyum lebar. Sasuke meletakkan dokumennya sesaat, mengulurkan tangannya dan Kyousuke menggeliat di pangkuan Naruko. Ketika ibunya melepaskannya, Kyosuke meletakkan telapak tangannya di karpet, mulai merangkak ke arah Sasuke. Sasuke meraup tubuh sang bayi.
"Kyousuke," Sasuke memanggilnya.
"Uuee," Kyousuke menjawab.
"Kyosuke," Sasuke memanggilnya lagi.
"Uuueeeee," Kyosuke menengadah, menatapnya dengan mata biru bundar.
"Tiga bulan lagi dia akan memanggimu Uke," komentar Itachi membuat Naruko tertawa terbahak-bahak dan Sasuke yang mematung.
xxx
16:56 PM
11th December 20XX
Sore itu Sasuke sudah ada di rumah Naruko, duduk santai di sofa dengan Kyosuke di pangkuannya. Dia masih mengenakan kemeja. Jasnya sudah dia lepas karena tadi air liur Kyousuke menempel di sana. Sasuke membuka buku bergambar yang bisa mengeluarkan suara binatang. Kyousuke sejak tadi menekan tombol-tombol di buku itu dengan jari mungilnya, membuat buku itu bersuara. Sasuke melirik ke arah Naruko sesaat.
Naruko duduk di kursi kerjanya, mengetik dengan kecepatan tinggi. Sasuke melirik sesaat, menatap tulisan 'deadline' yang ditempel di dinding Naruko. Ponsel Naruko berdering. Dia membaca SMS yang dia dapat dan menjerit. "Dia akan datang… Dia akan datang…" Naruko komat-kamit. "Tidak," dia terdiam sesaat. "Mereka akan datang!"
Sasuke langsung mengabaikan Naruko. Dia tahu kalau Naruko selalu gila ketika deadline sudah dekat. "Here is the dog," Sasuke menekan salah satu tombol dan suara 'woof' muncul dari buku, membuat Kyousuke berkedip. "Two dogs," Sasuke menekan tombol lagi. Suara 'woof-woof' membuat mulut Kyou terbuka. Mulutnya menggap-menggap, matanya berkedip lagi.
"Off," dia menekan tombol itu dengan jari mungilnya. Dan bunyi anjing menggonggong langsung keluar lagi. "Oooff."
"Hn," Sasuke mengangguk, mengusap rambut hitam Kyou. Setengah bulan lagi Kyousuke akan berusia satu tahun. Sasuke sudah memikirkan untuk membelikan mainan terbaru dan termahal untuk anak itu. Mungkin dia juga akan mengajak Naruko keluar, makan bertiga di restoran. Toh hari ulang tahun Kyousuke adalah tahun baru.
"Uggee," Kyousuke menengadah, menatapnya dengan mata bundar. "Ooofff."
"Woof," Sasuke membenarkan, mengusap rambut Kyousuke lagi.
"Maam," sang bayi menoleh, menatap ibunya yang masih mondar-mandir. "Ooff."
Naruko tidak menjawab, hanya mengetik dengan cepat di ponselnya. Wajah Naruko memucat, bibirnya bergetar.
Ada yang aneh.
Sasuke mengerutkan kening. Meski pun sedang dikejar deadline, Naruko pasti akan tersenyum dan mencium Kyousuke kalau bocah itu memanggilnya. "Siapa?" Dia bertanya dengan dingin. Matanya mendelik. "Yang akan datang?"
Naruko mengerang, menatapnya dengan tatapan ngeri. "Bulan depan… nanti natal… Sakura… dan…" dia menggigit bibir. "Nii-chan."
TBC
AN: alur kali ini santai dan dengan genre family. Aku tidak tahu readers suka dengan alur seperti ini atau mungkin merasa kalau alur ini bosan. haha
yang pasti di chapter depan konfliknya nongol lagi :)
Buat yang suka dengan chapter ini, paling suka dengan scene yang mana? :D
sampai jumpa di chapter barikutnya!
