Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: ooc, oc, typos, RATED M! alur cepat, dll
Dont like dont read! Enjoy :)
Chapter 6
.
.
.
.
.
21:48 PM
11th December 20XX
Dari natal. Sampai tahun baru.
Naruto dan Sakura akan datang ke New York.
"Kill me now," Naruko mengerang, membekap wajahnya. Sai hanya berkedip, tersenyum lebar.
"Salah sendiri. Kau bahkan tidak bilang pada Naruto-kun kalau kau hamil," senyuman Sai melebar. "Bayangkan. Apa jadinya kalau dia melihatmu menggendong anak."
Naruko mengerang lagi.
"Ngomong-ngomong. Di mana Sasuke-kun?" Sai menoleh kesana kemari. Namun dia tidak bisa melihat sosok Sasuke. Dia hanya bisa melihat Kyou yang merangkak, menyabet semua boneka-boneka yang bertebaran di ruang tamu.
"Entah, setelah mendengar kalau nii-chan dan Sakura akan datang, dia langsung menurunkan Kyou-chan, keluar dari rumahku begitu saja," wanita 27 tahun itu bergumam pelan. "Tadi aku masuk ke rumahnya dengan kunci cadangan. Tapi aku tidak melihat kopernya."
"Jadi dia langsung kabur," Sai tersenyum lagi.
"Aku tidak keberatan," Naruko menjawab pelan. "Sungguh. Bayangan memberitahu nii-chan kalau aku punya anak saja sudah mengerikan. Apalagi kalau aku membayangkan nii-chan tahu bahwa Sasuke adalah ayah kandung Kyou-chan," Naruko menggigit bibir. "Kyou-chan mirip dengan Sasuke. Matanya yang selalu menatap tajam dan menyelidiki… wajahnya yang serius…" Naruko mengerang lagi. "Sungguh. Aku tidak mau kalau nii-chan tahu bahwa sahabatnya sendiri yang menghamili adiknya tanpa ijin."
"Ammam," Kyou yang mendengar namanya dipanggil sejak tadi itu melepaskan bonekanya, merangkak ke arah Naruko. Naruko tersenyum sesaat, meraup Kyou-chan yang langsung melingkarkan lengan montoknya di sekitar leher Naruko. "Ammamm."
"Mama," Naruko tersenyum, memangku Kyou. Bocah itu sekarang menatap Sai dengan mata biru bundar.
"Dan kau tidak keberatan kalau kakakmu mengira akulah ayah kandung Kyousuke?" Sai bertanya santai. "Tidak susah sih. Toh aku juga berwajah pucat dan berambut hitam. Jika kau bilang pada Naruto-kun, dia tidak akan sadar. Lagipula di bukti tertulis akulah ayah kandung bayi itu."
Naruko terdiam sesaat. "Itu… lebih baik daripada dia tahu bahwa Sasuke adalah ayah yang sebenarnya."
"Ugee," Mendengar nama Sasuke yang disebut, Kyou berceloteh lagi. Jari-jari mungilnya menyentuh rambut pirang Naruko yang panjang. "Ugee? Ugee?"
"Sasuke kerja," Naruko tersenyum, mengusap rambut acak-acakkan Kyou.
Sai terdiam. Dia meraih teh di depannya dan menyeruput teh tersebut. "Aku akan dibunuh kakakmu," dia berujar santai, membuat Naruko tersenyum.
"Aku tidak akan membiarkan nii-chan membunuhmu. Lagipula kau tidak akan mati dengan mudah," Naruko mengulurkan satu tangannya, memeras tangan Sai. Dia tertawa ketika melihat Sai tersenyum. "Terima kasih, Sai…"
"No problem," Sai menyondongkan tubuhnya, menempelkan kecupan singkat di dahi Naruko. "Masalah utama bukan menghadapi kakakmu, tapi berpura-pura menjadi ayah Kyousuke," Sai menatap Kyou, bertemu mata dengan bocah itu. Di detik itu juga, Sai bersumpah kalau Kyou mendengus dan memalingkan wajahnya.
Naruko menyeringai. "Tenang, dia tidak akan menggigitmu. Bocah ini aneh," Naruko menaikkan sebelah alisnya. "Dia tidak akan peduli sama orang yang tidak menarik baginya. Aneh. Mungkin sifatnya ini dari Sasuke…"
Mendengar nama Sasuke disebut lagi, Kyou langsung menengadah, kembali menarik rambut Naruko. "Ugeee?"
Sai dengan santai menyeruput tehnya. "Uke sedang kerja."
Naruko tertawa, mengusap rambut Kyou.
xxx
02:34 AM
23rd December 20XX
"Kami sudah ada di pesawat sekarang. Sebentar lagi akan boarding dan aku harus mematikan ponselku," Naruto berujar dengan girang. "Kau tahu, banyak sekali kabar baik yang ingin kuceritakan padamu!"
Naruko menggigit bibirnya. "Aku juga," dia meneguk ludah. Mata birunya melirik, menatap Kyou yang tertidur lelap di sisinya. Naruko mengusap rambut hitam Kyou dengan tangan bergetar. "Ada yang ingin kuberitahu padamu. Penting sekali."
"Apa? Penting sekali sampai kau tidak bisa bilang padaku sekarang, dattebayo?"
"Iya," Naruko menghela napas. "Sampai jumpa, nii-chan."
"Sampai jumpa!" Naruto terdengar was-was. Namun nadanya tetap ceria.
Naruko mematikan ponselnya, membekap wajahnya. Dia sangat capek. Sangat lelah. Dan Naruto akan sampai besok sore, membuatnya merasa semakin depresi. Sasuke entah ke mana. Dan seharusnya dia lega karena lelaki itu tidak ada di sini, tapi sebaliknya. Dia ingin melihat lelaki itu. Ingin berbicara dengannya tentang apa yang harus dia lakukan terhadap Naruto.
Naruko mengedipkan mata, menahan air mata. Dia menoleh, menatap Kyou yang masih tertidur lelap. Betapa mudahnya jika Kyou adalah putra dari Sai. Meski Sai tidak lagi melihatnya sebagai pasangan hidup, setidaknya Sai mencintainya, dalam bentuk tersendiri. Sai tidak akan meninggalkannya dalam kesulitan. Sedangkan Sasuke… Sasuke tidak punya perasaan apa pun terhadapnya. Bagi Sasuke, Naruko hanya seseorang yang secara kebetulan melahirkan anak yang dia inginkan.
Naruko mengusap matanya sekuat tenaga. Dia menarik napas dalam-dalam, menoleh ke arah kaca di kamarnya. Dia melihat wanita berambut pirang yang menatapnya dengan tatapan tajam. Dia kuat. Dia tahu bahwa dia kuat. Dan dia akan menyelesaikan semua ini. Naruko menunduk, menatap Kyou yang terlelap. Tanpa dia sadari, senyuman lebar muncul di wajahnya. Wanita itu berbaring di sisi bayinya, dengan pelan mengusapkan wajahnya di wajah Kyou. "Aishiteru," dia berbisik. "Good night, love."
xxx
17:46 PM
24th December 20XX
Naruko sengaja tidak menjemput kakaknya dan Sakura. Karena itu berarti dia harus keluar rumah meninggalkan Kyou berduaan bersama Sai dan itu berarti malapetaka. Naruto tahu alamat rumahnya. Jadi dia menyuruh kakaknya dan Sakura langsung naik taksi ke rumahnya. Naruko menarik napas dalam-dalam. Mata birunya menatap Kyou yang duduk di atas karpet ruang bermain, menekan-nekan buku bergambar yang diberikan Sasuke.
Sai duduk di pojok ruangan, mengamati mereka. Dia melukis sesuatu, matanya melirik ke arah Naruko berkali-kali. Naruko memutar bola matanya sesaat, sadar bahwa sahabatnya saat ini sedang melukisnya. Meski Naruko benci dilukis tanpa ijin, dia tidak akan melarang Sai kali ini. Toh lelaki itu sudah rela untuk mengawasi Kyou.
"Ooofff," Kyou berceloteh setiap kali dia menekan gambar anjing. "Mee," dia berceloteh lagi ketika menekan gambar kucing. Bibir Kyou megap-megap, mencoba untuk meniru suara kucing mengeong yang keluar dari buku. Naruko tersenyum tipis. Sesaat, semua rasa paniknya menghilang begitu saja.
"Kyou-chan," Naruko berjongkok di depan sang bayi. Kyou menengadah, menatap ibunya. "Mungkin kau tidak akan suka dengan apa yang kau lihat nanti. Tapi apa pun itu…" dia menggigit bibirnya. "Aku mencintaimu, oke?" Di detik itu, bel pintu berbunyi, membuat Naruko beranjak.
"Maama," Kyou berujar. Naruko menoleh, bertemu mata dengan mata biru Kyou yang tajam. Sang bayi meletakkan bukunya, perlahan-lahan beranjak dan mencoba untuk berdiri. Naruko tertawa. Dia bertepuk tangan, menyemangati Kyou yang mencoba berdiri sendiri dengan kaki bergetar. Kyou sudah nyaris 12 bulan sekarang. Dia bisa berdiri sendiri. Namun masih belum bisa berjalan dengan lancar. Bayi itu langsung terjatuh ketika dia berhasil berjalan tiga langkah ke arah Naruko.
Naruko masih tertawa, menatap Kyou dengan tatapan bangga. Beberapa hari yang lalu, Kyou berhasil memanggilnya 'mama' dan berdiri sendiri. Kyou juga berhasil berjalan beberapa langkah. Naruko tersenyum lebar. Jika Sasuke ada di saat itu… entah apa yang akan dikatakannya. Dia pasti akan tersenyum, mengusap kepala Kyou.
Tapi lelaki itu tidak ada di sini.
Sasuke pergi darinya karena Naruto datang.
Naruko mengusap rambut raven bayinya, duduk sesaat untuk meletakkan buku bergambar di tangan mungil Kyou. Setelah Kyou kembali fokus di bukunya, Naruko beranjak dan menguncir rambut pirangnya menjadi kunciran ekor kuda. Dia menoleh ke belakang, menatap Sai yang tersenyum ke arahnya. Naruko balas tersenyum. Dia menutup pintu kamar bermain, berjalan ke ruang tamu dan membuka pintu, menatap Naruto dan Sakura yang menyeringai lebar di luar rumahnya. Sakura nyaris saja memeluknya kalau tidak melihat wajahnya yang gelap seperti itu. Naruto masih menyeringai, namun perlahan-lahan senyumnya menghilang.
"Ada apa?" Dia menurunkan tas ranselnya, mengusap wajah Naruko.
"Masuk dulu, nii-chan," Naruko berusaha untuk memaksakan senyuman. Namun senyuman palsu itu tidak bisa keluar. "Ada yang ingin kubicarakan."
xxx
16:07 PM
24th December 20XX
Sasuke menatap tiket pesawat di tangannya. Dalam waktu lima menit lagi dia akan masuk pesawat, menuju ke London. Dia tidak tahu apa yang dia lakukan. Dengan sengaja menelpon Itachi beberapa hari yang lalu dan minta supaya projek di London diberikan padanya. Tentu saja Itachi hanya bisa menaikkan sebelah alis, karena dua minggu sebelumnya Sasuke sudah meminta cuti, supaya dia bisa merayakan natal dan tahun baru bersama…
Bersama Kyousuke dan Naruko.
Sasuke meremas tiket di tangannya. Tentu saja dia tidak bisa sekarang. Mau bagaimana lagi? Naruto akan datang. Dari natal sampai tahun baru. Dia sudah bersumpah untuk tidak melihat lelaki berambut pirang itu lagi untuk selama-lamanya. Sasuke memejamkan mata, mengingat kejadian tiga belas hari yang lalu, ketika Naruko mendapat SMS dari Naruto. Jantungnya terasa akan meledak. Tanpa dia sadari, dia sudah meletakkan Kyousuke, berjalan pergi begitu saja.
Dan Naruko tidak menghentikannya.
Sasuke ingat. Dia bahkan tidak melihat ke belakang ketika dia pergi. Dia rela meninggalkan apa pun demi tidak mengingat Naruto lagi. Sasuke memijit ujung hidungnya, berusaha untuk melupakan senyuman girang dan tawa Naruto. Dia tidak ingin teringat akan lelaki itu. Dan menghabiskan waktu bersama Naruko membuatnya…
Membuatnya apa?
Teringat akan Naruto lagi?
Sasuke memejamkan matanya erat-erat, mengingat wajah Naruko. Dia teringat akan tatapan kesedihan wanita itu ketika mereka sedang seks. Dia teringat akan senyum palsu wanita itu. Dia teringat akan suara Naruko yang tenang dan dingin, teringat akan tawanya ketika melihat Kyousuke yang berhasil berdiri sendiri. Dia teringat akan senyuman tulus Naruko setiap kali dia masuk ke dalam rumah. Dia teringat akan mata birunya yang kuat dan hangat meski sering terkhianati… olehnya.
Sasuke membuka matanya.
Tidak. Bersama Naruko tidak mengingatkannya akan Naruto.
Tanpa dia sadari, dengan bersama Naruko dan Kyousuke, dia membuat ingatan baru. Naruko yang sengaja memaksanya memakan kue buatannya, membuat dia sampai sakit seharian karena kue yang super manis. Kyousuke yang merangkak cepat ke arahnya, memanggilnya dengan ceria. Naruko yang tertawa ketika melihat Kyousuke mengompol di lengannya. Naruko yang mendengus kesal, menatapnya dengan tajam ketika dia memberi terlalu banyak snack bayi pada Kyousuke...
Dan sekarang… dia akan meninggalkan semua ingatan baru itu? Sasuke manatap tiketnya dengan tatapan kosong. Naruko tidak akan pernah menyalahkannya jika dia pergi. Sejak awal wanita itu sudah mencintainya tanpa punya harapan kalau dia akan membalas perasaannya.
"Panggilan untuk para penumpang pesawat AA23 dengan tujuan London. Panggilan untuk…"
Sasuke beranjak, mencengkram tiket dan kopernya, siap untuk masuk ke dalam pesawat.
Jadi, tidak apa kalau dia pergi, karena dia tahu satu fakta.
Naruko akan tetap menerimanya jika dia kembali. Karena Naruko mencintainya.
Dan dia tidak mencintai Naruko.
xxx
17:47 PM
24th December 20XX
Naruto dan Sakura masuk, masih terlihat bingung. Namun, mereka berdua berkedip ketika masuk ke dalam rumah. "Rumahmu tidak seperti ini dulu," Naruto berjalan ke arah sofa, meraih boneka beruang hitam di sofa tersebut. "Sekarang rumahmu terlihat… meriah."
Sakura terdiam, menatap Naruko dengan tatapan tajam. Wanita itu menoleh, memperhatikan bingkai foto yang bertebaran di mana-mana.
Foto anak bayi.
"Iya," Naruko tersenyum. Matanya bertemu dengan Sakura sesaat dan dia tahu bahwa Sakura tahu. "Aku… nii-chan… aku…" Naruko menarik napas dalam-dalam. "Aku punya anak," dia tersenyum lebar. Memaksakan senyuman.
Naruto menjatuhkan boneka di tangannya. Dia memutar tubuh, menatap Naruko dengan tatapan kaku. "Apa?" Dia tertawa kaku. "Anak? Kau mengadopsi anak?"
"Aku hamil. Setahun yang lalu. Setelah pernikahanmu," Naruko berujar cepat. "Dan sekarang anakku sudah lahir."
Naruto masih menatapnya dengan kosong. "Emm… baguslah?" Dia tertawa lagi. "Tapi kenapa kau tidak bilang padaku? Kau tidak bilang padaku kalau kau menikah? Kau tidak pernah bilang kalau kau punya suami!"
"Naruto…" Sakura berujar pelan, mengusap bahu suaminya.
"Aku tidak menikah," Naruko berbisik. "Aku… hamil. Di luar nikah."
"Kau tidak…" Mulut Naruto terbekap, senyumnya menghilang. "Kau… diperkosa?"
"Tidak. Tidak," Naruko cepat-cepat menggelengkan kepala. "Tidak, nii-chan. Aku… sex. Tanpa perlindungan."
Naruto terdiam sesaat dan di detik itu jantung Naruko seakan-akan berhenti berdetik. Kakaknya nyaris tidak pernah terdiam. Dan jika kakaknya sudah membekap mulut…
"Siapa? Siapa si brengsek yang seenaknya itu?"
"Bukan salah dia," Naruko cepat-cepat menjawab. "Kami berdua melakukan ini tanpa banyak pi…"
"Inilah kenapa aku tidak ingin kau tetap tinggal di Amerika," lelaki itu menggeram, menyusupkan jari-jarinya di balik rambut. "Negara ini terlalu bebas, seenaknya saja sex dan hamil dan sex… pelacur…"
Naruko mengigit bibir. Tenggorokannya tercekat.
"Kau anak baik bukan, Naruko?" Naruto tertawa, suaranya bergetar. "Kau anak polos. Kau baik, kau tidak akan sex sebelum menikah. Kau selalu jujur… selalu polos dan tidak akan melakukan semua ini," Naruto mengayunkan tangannya. "Kau hamil. Melahirkan anak. Dengan lelaki yang tidak kuketahui? Atau lebih parah lagi, apakah aku tahu dengan lelaki yang menghamilimu?"
"Naruto!" Sakura menggeram.
Naruko tetap terdiam. Wajahnya menjadi kaku.
Apa yang dia lakukan?
Sebenarnya apa yang dia lakukan?
Dia mencintai Naruto. Dia adalah satu-satunya keluarganya, sejak kecil. Tapi, sejak kapan… sejak kapan dia selalu menangani masalahnya sendirian, tanpa bantuan Naruto? Sejak kapan dia tidak mengandalkan kakaknya lagi? Sejak kapan dia meletakkan wajah palsunya di depan Naruto?
Naruto tidak tahu lagi. Dia tidak tahu lagi apakah dia masih menyayangi kakaknya. Dia tidak tahu lagi apakah dia masih mempercayai kakaknya.
Tapi… kenyataan bahwa dia takut kalau Naruto membencinya… kenyataan kalau dia ingin jujur dan mengaku pada Naruto membuktikan kalau dia masih sangat peduli dan percaya pada kakaknya.
"Aku bukan Naruko Uzumaki yang polos," dia berujar tanpa dia sadari. "Semua senyuman. Semua ucapan polos yang aku tunjukkan di depanmu. Itu semua palsu," dia menengadah, menatap Naruto dengan tajam. "Inilah aku, nii-chan," Naruko tertawa kaku. "Aku berusaha tetap menjadi polos, demimu. Karena aku menyayangimu. Aku berusaha menjadi adik yang manis dan ceria, karena aku menyayangimu. Tapi aku bukan semua itu."
Naruto tidak menjawab, menatap adiknya dengan tatapan tidak percaya. Dia menatap warna biru di mata adiknya. Dia tidak bisa melihat keceriaan, tidak bisa melihat kepolosan.
Dia melihat kegelapan. Melihat kesakitan.
Naruto mengerang, terduduk di sofa sambil membekap wajahnya.
"Aku tahu, aku tahu kalau kau mau marah dan mau mengamuk," Naruko berujar. "Aku tidak heran kalau kau mau memutuskan hubungan," suaranya bergetar. Dia menahan air mata. "Karena sejak awal… Naruko yang kutunjukkan padamu… bukan aku."
Naruto tidak menjawab. Dia hanya duduk terdiam, membekap wajahnya dan Sakura berdiri di sisinya, tidak tahu harus melakukan apa. Wanita berambut pink itu menarik napas dalam-dalam, berjalan ke arah meja makan dan meraih bingkai foto Kyou. "Anakmu?" Dia bertanya pelan. "Namanya?"
"Kyousuke," Naruko menjawab. Suaranya tercekat. "Kyousuke Uzumaki."
"Umurnya berapa?" Sakura bertanya, kali ini tersenyum. "Dia lucu. Warna matanya sama sepertimu."
"Sebentar lagi 12 bulan," Naruko balas tersenyum. "Sekarang dia…" ucapan Naruko terputus ketika dia mendengar jeritan anak bayi. Jantung Naruko seakan-akan berhenti berdetak. Wanita itu langsung berlari ke arah kamar bermain, membuka pintu dengan tangan dingin. Dia menatap Sai yang menggendong Kyou yang menjerit. Bayi itu menggeliat, air mata bercucuran di pipi montoknya.
"Bukan aku," Sai menjelaskan dengan cepat. "Dia menangis ketika mendengar teriakan Naruto-kun."
"Mammm, maaam!" Mata biru Kyou terpaku padanya. Bayi itu menangis lagi, menganyunkan lengannya.
"Kyou-chan…" Naruko terisak sesaat. Dia langsung meraup bayinya, menempelkan ciuman di kening Kyou. "Maaf… maaf… kau takut ya?" Dia menengadah, menatap Naruto dan Sakura yang berdiri di depan pintu. Naruto tidak lagi menatap Naruko, melainkan lelaki di belakang wanita itu.
"Kau… kau yang menghamili Naruko?" Naruto menggeram, mata birunya mendelik tajam. Tangisan Kyou mengeras, Naruko cepat-cepat menepuk punggung bayinya.
Sai membuka mulut, hendak menjawab 'iya', namun Naruko mengulurkan tangannya. "Bukan Sai. Dia… secara tertulis Sai memang ayah dari anak ini, tapi ayah kandung… bukan."
Naruto berkedip. "Jadi… siapa ayahnya?"
"Aku tidak bisa bilang," Naruko menjawab cepat, dia menengadah, menatap Naruto dengan tatapan memelas. "Nii-chan, aku tidak bisa bilang sekarang. Tapi… suatu hari nanti…"
"Naruko, kalau kau mau melindungi si keparat ini, aku tidak akan terima," Naruto menggeram. "Siapa ayah dari anak ini kalau bukan dia?"
"Bisa siapa saja, penis kecil. Tidak sedikit lelaki di New York ini yang tergila-gila pada Naruko-chan," Sai tersenyum lebar. "Tapi… sesuai dugaanmu. Bisa jadi akulah yang menghamili adikmu?"
"Kau…" Naruto menggeram, nyaris menghantam Sai kalau bukan karena Sakura yang menahannya. "Keparat!"
Tangisan Kyou semakin menjadi-jadi. Naruko menggigit bibirnya. Kyou tidak pernah menangis sekeras ini. Naruko tidak tahu bagaimana caranya menangani Kyou yang menangis parah begini. Di sisi lain, dia ingin menendang Naruto dan mengusirnya karena membuat bayinya menangis. Di sisi lainnya, dia menyalahkan dirinya sendiri. Karena dia menyembunyikan fakta dari Naruto… semuanya jadi begini.
"Shhh, Kyou-chan," Naruko menepuk bayinya berkali-kali. Dia membekap Kyou, mengecup puncak kepalanya. Dia membelakangi Naruto dan yang lain, sengaja tidak mau melihat mereka semua atau air matanya yang sudah dia tahan sejak tadi akan keluar.
"Naruko, aku tidak mau tahu, pokoknya kau harus bilang padaku siapa cowok brengsek yang menghamil…"
"Dobe, ada bayi di depanmu. Bisakah kau menggunakan otakmu sedikit dan tidak menyumpah di depannya?" suara dingin dan mencengkam membuat tubuh Naruto menjadi kaku. Dia menoleh, menatap mata dingin Sasuke Uchiha.
"Kau?!" Naruto menjerit lagi. "Kau seharusnya ada di Afrika, dattebayo!"
"Sa-Sasuke-kun!" Sakura balas menjerit, seakan-akan dia melihat hantu. "Sejak kapan kau ada di sini?!"
Tubuh Naruko menegang. Tangisan Kyou berhenti. Perlahan-lahan Naruko memutar tubuhnya, menatap lelaki jangkung berambut raven, mengenakan jas burberry yang kusut. Keringat menempel di pelipisnya.
Sasuke Uchiha mendengus, mengabaikan semua mata yang terbelalak itu. Dia berjalan melewati Naruto, menatap Naruko yang menggigit bibir, membekap bayi di pelukannya dengan erat. Naruko balas menatap Sasuke, menatap mata hitamnya yang terlihat… lega, seakan-akan Sasuke baru saja melakukan sebuah keputusan yang tepat. Kyou masih terisak, mata birunya menatap Sasuke dan tangisan bayi itu menghilang. "Ugeee," tangannya melambai ke arah Sasuke.
"Kau sudah kembali," Naruko berbisik pelan sehingga hanya mereka saja yang bisa mendengar suaranya. "Pekerjaanmu… sudah selesai?"
"Hn," Sasuke mendengus.
Mata Naruko melintas, menatap tiket pesawat yang sudah setengah robek, menyelip keluar dari balik jas Sasuke. Mau tak mau, wanita itu tersenyum tipis, mempererat pelukannya pada Kyou yang sekarang mencelotehkan nama Sasuke.
xxx
18:16 PM
24th December 20XX
"Oke. Jelaskan apa yang terjadi. Sejak awal," Naruto menggeram, duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya. Sakura duduk di sampingnya. Naruko masih menggendong Kyou, berdiri di seberang meja dapur bersama Sai. Sasuke bersender di dinding ruang tamu, mendelik tajam.
"Apa lagi yang harus dijelaskan, penis kecil?" Sai tersenyum lebar. "Naruko punya anak. Dan sekarang dia hidup bahagia dengan bayinya sampai kau datang dan mengacaukan keharmonisan mereka."
Naruto kembali menggeram, nyaris saja beranjak dan menghantam Sai kalau bukan karena Sakura yang menahannya.
"Dan Sasuke-teme! Kukira kau ada Afrika? Kenapa rupanya kau bertetangga dengan Naruko?"
"Bukan urusanmu," Sasuke membuang muka, membuat Naruto menjerit frustrasi. Dia menatap bayi di gendongan Naruko sesaat. Bayi itu tidak menangis, namun mendelik ke arahnya. Entah mengapa tatapan itu membuat Naruto menjadi semakin jengkel.
"Dan Naruko…" Naruto berbisik pelan. "Aku sadar kalau aku hilang emosi tadi…" Dia menarik napas dalam-dalam. "Aku sering menangani kasus seperti ini di Jepang. Kau tahu kalau aku polisi dan aku menangani banyak kasus… pemerkosaan… suami yang kasar pada istri… hamil di luar nikah…" Naruto meneguk ludah. "Dan percayalah. Semua wanita itu adalah korban dan aku tidak ingin kau…"
"Aku bukan korban," Naruko menjawab cepat. "Percayalah nii-chan. Uang yang kudapat dari pekerjaanku sudah lebih dari cukup… selain itu, ayah dari anak ini bertanggung jawab. Tiap bulan mengirim uang dengan jumlah besar padaku," wanita itu tersenyum singkat. "Aku bahagia. Dan dengan keberadaan anak ini, aku tidak bisa lebih bersyukur lagi. Aku akhirnya punya keluarga," Naruko berujar mantap, mengecup kening Kyou. Naruko menatap kakaknya dengan sabar, meminta pengertian. Naruto berkedip sesaat.
"Kau terlihat… beda…" Naruto tersenyum, kecewa bercampur rasa sedih.
"Dobe, itu Naruko yang asli," Sasuke menggeram, mengetuk kakinya di karpet dengan tidak sabar.
"Dan sejak kapan kau tahu akan sifat asli adikku sendiri?" Naruto balas menggeram.
"Karena kami tinggal di New York, di bawah gedung yang sama dan bersebelahan, usuratonkachi," Sasuke menggeram. "Tidak sepertimu yang selalu polos dan tidak peduli akan dunia."
"Apa?! Teme… kau mau mencari mati ya?!" Naruto beranjak, menggulung lengan kausnya.
"Hn, bring it on." Sasuke mengepal tinjunya.
"Kalau saja aku tidak di depan bayi, aku sudah menghantam mulutmu," Naruto mendengus, berjalan ke arah Naruko. Dia menarik napas dalam-dalam dan menundukkan kepalanya. "Aku minta maaf … aku sudah salah, dattebayo…" Naruto menggaruk lehernya. "Berteriak di depan bayimu… dan sebagai kakak, aku harusnya tahu akan dirimu, bukannya…" Naruto meneguk ludah. "Aku sudah membuatmu sengsara…"
Naruko berkedip. Tenggorokannya tercekat. "Aku benar-benar menyayangimu, nii-san. Ini tidak bohong…"
"Aku tahu," Naruto tertawa. "Kau berbohong di depanku karena kau terlalu peduli dan menyayangiku…" dia menunduk, menempelkan ciuman kecil di kening Naruko. "Aku saja yang terlalu baka dan tidak sadar kalau kau terpaksa melakukan semua ini."
"Ah, si penis kecil mengaku kalau dia baka," Sai berujar dengan ceria, menepuk tangannya. Naruto langsung melompat ke arah Sai, membuat Naruko memutar bola matanya.
"Kyousuke," Sasuke berjalan ke arah Naruko, mengulurkan tangannya. "Akan kubawa dia di kamar. Jika kau biarkan dia menonton si dobe itu bisa-bisa IQ Kyousuke turun 80 persen."
Naruko tertawa sesaat, memberikan bayinya yang menatap pertarungan antara Naruto dan Sai dengan seksama. "Ugee," Kyou menatap Sasuke, menunjuk ke arah Naruto dan Sai dengan jari mungilnya.
"Jangan lihat mereka. Bisa-bisa kau jadi usuratonkachi juga," Sasuke menggendong Kyou, menepuk pelan punggung bayi itu, dan berjalan pergi.
Naruko tersenyum, menatap lelaki dan bayi berambut raven pergi dari pandangannya.
"Bayimu tenang, sepertimu," Sakura berkomentar. Wanita itu duduk di sebelah Naruko, berbisik pelan.
"Terima kasih," Naruko tersenyum pelan.
Sakura menggenggam tangannya. "Meski pun kau tidak mau bilang siapa ayah kandungnya, sepertinya Naruto sudah percaya seratus persen kalau Sai ayah dari anak itu. Kau tidak keberatan? Naruto akan benci mati pada Sai."
Naruko tersenyum singkat, "Aku yakin Sai sendiri tidak keberatan. Dia senang menjahili nii-chan," senyumannya menghilang. "Sakura… maaf… aku masih menyimpan rahasia… tapi ayah dari anakku punya hak tersendiri. Aku tidak ingin… membocorkan rahasianya…"
"Hmmm," Sakura mengangguk. "Aku mengerti. Sang ayah juga punya hak. Jika dia ingin menyimpan rahasia ini, maka tidak ada yang bisa kau lakukan," Sakura menghela napas. "Sasuke-kun memang keras kepala."
Naruko terpaku. Apa dia tidak salah dengar? Tadi Sakura menyebut nama… "Kau… kau tahu dari ma…"
"Tiga tahun. Cinta monyet pada Sasuke-kun," Sakura memutar bola matanya. "Aku hafal benar seperti apa wajahnya dan aku tahu kalau Kyousuke-chan mewarisi mata Sasuke, yaah… meskipun warna matanya sama sepertimu," Sakura tertawa pelan, melihat Naruto yang masih sibuk berusaha menghantam Sai yang mengelak terus. "Bahkan Naruto tadi mengedutkan kening ketika melihat Kyousuke-kun yang mendelik ke arahnya. Selain itu…" Sakura cekikikan, menunjuk ke arah rambutnya. "Rambut Kyousuke-kun. Sedikit lancip ke belakang. Seperti ekor eyam mini."
"Sakura…" wajah Naruko memucat. "Cuma Sasuke yang berhak memberitahu Naruto kalau…"
"Aku tahu," Sakura berbisik. "Aku tahu."
Naruko tidak bicara lagi, memperhatikan wajah Sakura yang perlahan-lahan menjadi muram. "Kau tahu… kalau Sasuke… terhadap nii-chan…"
"Aku tahu," Sakura menjawab cepat. "Dan aku tidak akan ragu menghantam wajahnya jika alasan kehamilanmu adalah karena dia menganggapmu sebagai pengganti Naruto," dia menggeram. Mata hijau Sakura menoleh, menatapnya dalam-dalam. "Apakah dia menganggapmu sebagai pengganti?"
"Aku tidak tahu," Naruko menjawab cepat. "Tapi… dia selama ini… sangat baik terhadap Kyou-chan. Sangat menyayanginya dan aku sudah puas…"
"Dan tidak terhadapmu?" Sakura bertanya pelan, memotongnya.
"Dia tidak mencintaiku," Naruko menjawab santai, tersenyum. "Tapi tidak apa."
Sakura terdiam. "Aku sudah mengenal Sasuke-kun dari dulu… dan percayalah. Sasuke-kun sangat egois. Hanya mementingkan diri sendiri. Atau mementingkan Naruto."
Naruko tertawa pelan, memutar bola matanya. "Aku tahu."
"Tapi… dari tadi… dia terlihat seperti mau menyerang Naruto ketika Naruto melihatmu dengan tatapan kecewa."
Naruko terdiam.
"Mungkin," Sakura tersenyum. "Mungkin perasaannya terhadapmu… tidak seburuk yang kau kira."
Naruko tidak menjawab. Dia mengepal jarinya dan memaksakan senyuman. "Mungkin."
xxx
19:23 PM
24th December 20XX
Naruto benar-benar mendelik ke arah semua lelaki yang berambut hitam di restoran, membuat Naruko memutar bola matanya. Dia senang karena kakaknya masih sangat peduli dan menyayanginya. Kakaknya juga menghormati keputusannya untuk merahasiakan siapa lelaki yang membuatnya hamil. Tapi sungguh, Naruko bahagia, dengan keberadaan Kyou. Dia tidak depresi seperti wanita-wanita di kasus yang ditangani Naruto.
Dan di sinilah dia sekarang, dipelototi oleh Naruto karena ada tiga lelaki berambut hitam yang mengelilinginya. Sasuke di sebelah kanan, Itachi di sebelah kiri, dan Sai di sebelah Itachi.
"Hmmm, excellent choice of wine, Mr. Uchiha," Sai berujar girang. Lelaki itu menyeruput wine-nya, tersenyum ke arah Itachi Uchiha yang duduk di sebelah kiri Naruko.
Itachi tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala. Sesekali matanya terpaku pada pada Kyou yang duduk di pangkuan Naruko. Sang bayi balas melihatnya, ber-cciiiccii sambil mengayunkan lengannya yang montok ke arah Itachi. Dan tentu saja, Itachi langsung memegang jari sang bayi.
Sasuke duduk di sebelah kanan Naruko, menyeruput wine-nya dengan diam. Mata hitamnya menatap Kyou dengan tajam, membersihkan sisa-sisa makanan dari sekitar mulut bayi itu. Setiap kali Sasuke mengusap wajahnya, Kyou akan ber-ugeegee dan Sasuke akan langsung melupakan makanan di depannya dan fokus pada Kyou.
Dan Naruto hanya bisa melotot, tidak tahu siapa ayah dari anak itu. "Aku mulai punya perasaan kalau Itachi ayah sebenarnya," Naruto berbisik cepat ke arah Sakura. "Karena itu dia merasa bersalah padaku dan mengajak kita berdua makan malam di restoran mewah ini. Lihat, bahkan Kyou sendiri sudah memanggil Itachi 'ciicii'," Naruto mulai beranalisa. "Kyou hanya bisa mengucap tiga kata saja. 'Mama', 'ugege' dan 'cicii'. Wajar saja dia bisa memanggil ibunya. Wajar dia bisa memanggil Sasuke juga karena Sasuke tetangga dan sering mampir untuk makan malam. Jadi, Itachi pasti ayahnya. Karena Itachi bukan tetangga, tapi sering datang untuk mengunjunginya."
Sakura mengangguk saja, tidak mempedulikan Naruto dan terus mengunyah spagetinya.
"Selain itu, dia pemilik perusahaan sukses di Amerika. Dia masih single dan menjadi incaran wanita-wanita. Itulah sebabnya dia menjadikan ini rahasia," Naruto mulai berceloteh lagi. Masih menatap tajam Itachi yang menggenggam tangan Kyou. "Dia tidak ingin keberadaan anaknya terancam. Karena itu dia merahasiakan semuanya. Dan jika kau lihat lagi, tatapan tajam Kyou berasal dari Itachi."
Sakura memutar matanya. "Iya. Iya."
Dan tentu saja 'bisikkan' Naruto bisa didengar semua orang di meja itu. Naruko hanya bisa menghela napas, menatap Itachi dengan tatapan minta maaf. Itachi tidak peduli akan tatapan tajam Naruto. Mau bagaimana lagi, tatapan Naruto tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan tatapan seorang Uchiha. Kyou membuka matanya lebar-lebar, menatap Naruto dengan tajam dan kakaknya itu langsung mundur sesaat, balas melotot.
Tuh kan, Naruko menahan tawa. Kyou memang mewarisi tatapan membunuh para Uchiha.
Di malam itu Naruko sadar akan sesuatu. Klan Uchiha punya 'bakat' ajaib pada mata mereka. Dengan sekali pandang, mereka bisa membuat lawan mereka lari terkencing-kencing.
"Sebenarnya kami ke sini untuk memberitahu kabar gembira untuk Naruko," Naruto bergumam kesal. "Tapi entah kenapa para Uchiha ikut bergabung dan…"
"Dobe," Sasuke menyipitkan matanya. "Jangan banyak basa-basi."
Naruto mendengus. "Aku mau bilang kalau Sakura hamil!"
Tangan Naruko yang sibuk memotong daging langsung terhenti. Dia tidak langsung tersenyum, langsung melirik ke arah Sasuke. Mau tak mau Naruko merasa bingung ketika melihat Sasuke yang dengan santai mengunyah steak-nya. Lelaki itu malah tersenyum singkat, menatap Kyou yang ber-ugeeugee.
"Selamat," Sai adalah orang pertama yang mengucapkan selamat dan tersenyum.
"Ah iya! Selamat, nii-chan!" Naruko balas berseru, cepat-cepat tersenyum. "Sudah berapa bulan?"
"Baru dua bulan lebih," Sakura tersenyum, mengusap perutnya. "Karena itu perutku masih rata."
"Iya, kau dan Sasuke harus datang ketika Sakura melahirkan nanti!" Naruto menyeringai lebar. "Kyou-chan juga harus ikut ya!"
Kyou berkedip, memalingkan wajahnya dari Naruto.
Satu lagi 'bakat' dari Uchiha. Naruko sadar kalau orang-orang yang memiliki darah Uchiha tidak akan peduli dengan orang-orang yang mereka anggap di bawah mereka. Dulu saja Sasuke selalu mengabaikannya, menganggapnya debu belaka. Kyou sendiri hanya bisa menyebutkan 'mama', 'ugge' dan 'cicii'. Kyou tidak peduli dengan manusia lainnya. Untung saja dia ibu dari Kyou, jadi bayi ini akan terus menganggapnya sebagai nomor satu.
"Bocah tengil," Naruto mendengus. "Anakmu tidak ada lucu-lucunya, Naruko!"
Naruko tertawa kaku, menepuk pelan punggung Kyou yang sekarang mengulurkan tangan, hendak menyentuh rambut pirangnya yang panjang. Wanita itu tersenyum, menundukkan kepala dan mengecup pipi Kyou.
Apa pun kata orang, dia tidak peduli.
Kyou adalah bayi terlucu baginya.
xxx
23:56 PM
24th December 20XX
Naruko menarik napas dalam-dalam, merasa lega kalau semuanya berakhir dengan sukses. Naruto sudah memaafkannya. Sekarang kakaknya dan Sakura ada di hotel yang mereka pesan. Naruko tersenyum sesaat, membayangkan Sakura yang hamil. Beberapa bulan lagi, akan lahir bocah pirang atau bocah pink. Entah seperti apa sifat mereka, tapi Naruko punya perasaan kalau Kyou tidak akan suka dengan bocah itu. Wanita itu tertawa pelan, melepaskan gaunnya.
Setelah makan malam tadi, Kyou langsung tertidur di pelukan Itachi. Itachi sekarang ada di rumah Sasuke. Sepertinya lelaki itu akan menginap. Terkadang Itachi memang menginap semalaman di rumah Sasuke, untuk melihat Kyou. Itachi nyaris tidak pernah tersenyum, tapi Naruko tahu bahwa Itachi sudah 'terpesona' dengan Kyou. Mau bagaimana lagi, Kyou sangat tenang, jarang menangis dan tidak nakal. Kyou juga cerdas, sudah beberapa kali membuat Itachi bergumam kagum. Sepertinya Itachi sendiri mau mempunyai anak. Naruko terdiam sesaat, membayangkan wanita seperti apa yang mau menjadi istri Itachi.
Naruko membuka lemari pakaiannya, menghela napas. Semua kaus lusuhnya belum kering. Mau bagaimana lagi. Akhir-akhir ini salju terus. Dia bisa saja tidur telanjang. Sudah sering dia tidur hanya dengan mengenakan pakaian dalam saja. Tapi… tentu saja dia memastikan kalau Sasuke sedang di luar kota. Sasuke punya kunci rumah cadangannya dan selalu datang ke rumah tanpa peringatan. Naruko tidak peduli kalau Sai melihatnya dalam keadaan seperti itu. Sai sudah hafal persis dengan bentuk tubuhnya. Sedangkan Sasuke… hanya pernah melihatnya dari balik kegelapan.
Peduli amat, memangnya kau pikir si Sasuke akan tertarik denganmu, batinnya mendengus.
Naruko menatap pakaian dalamnya. Bra hitam yang lusuh, panties hitam yang sudah bolong di beberapa tempat. Dia memutar bola mata. Selain itu pakaian dalamnya tidak seksi. Mana bisa menggoda seorang Uchiha? Ponselnya tiba-tiba bergetar. Naruko berjalan menuju mejanya, membaca SMS di sana.
'Kyousuke malam ini tidur di tempatku. Bersama Itachi.
SU.'
Naruko berkedip. Kyou memang terkadang tidur di rumah Sasuke, jika Naruko sedang bergadang menulis novelnya.
Tapi Itachi tidur bersama Kyou?
Naruko langsung mengetik SMS balasan.
'Foto. Kirim padaku.
Naruko U.'
'Untuk apa aku mengirim foto padamu?
SU.'
Naruko memutar bola matanya, mengetik cepat.
'Karena aku SELALU mengirim foto Kyou-chan untukmu. Dan kau tidak pernah sekali pun. Aku bahkan merekam Kyou-chan yang berjalan untuk pertama kalinya. Kau tidak mau mengirimkan foto Kyou-chan yang tertidur untukku? Potret dia. Sekarang. Bersama Itachi. Anggap ini hadiah natal untukku.
Naruko U.'
'Hn.
SU.'
Naruko cekikikan, menghempaskan tubuhnya di kasur. Kalau ada Sasuke yang menjaga Kyou malam ini, Naruko bisa tidur dengan lelap. Wanita itu bersenandung pelan, berjalan keluar kamar dan mengunci pintu rumah. Dia berjalan cepat ke dapur, masih bersenandung sambil membuat teh. Dia hendak membawa tehnya ke dalam kamar, namun suara pintu rumah yang terbuka dan tertutup tiba-tiba membuat Naruko menegang.
Wanita itu meletakkan cangkirnya, menjengukkan kepalanya dan menatap Sasuke Uchiha yang masuk ke dalam rumah, memegang kunci rumah cadangan dan ponsel. Mata Sasuke bertemu dengan matanya dan Naruko langsung berkeringat dingin.
Kenapa Sasuke datang ke rumahnya? Sasuke biasanya selalu datang karena Kyou, tapi Kyou sekarang ada di rumah Sasuke sendiri.
"Fotonya tidak bisa terkirim," Sasuke menggeram, melangkah menujunya.
Naruko menunduk, melotot ke arah dadanya yang terekspos. "Ja-jangan ke sini!"
Namun Sasuke adalah sang Uchiha yang tidak pernah peduli dengan perintah orang lain. Dia berjalan semakin cepat, menuju ke arah dapur. "Kau mau foto," Sasuke menggeram. "Sebagai hadiah natal," suara Sasuke semakin dekat. "Dan ini fotony…" Langkah Sasuke terhenti. Lelaki itu berdiri di depan dapur, menatap Naruko yang hanya mengenakan pakaian dalam. Mata onyx Sasuke melebar, ponsel di tangannya langsung terjatuh.
Oke. Naruko meneguk ludah. Keajaiban terjadi di malam natal. Ini pertama kalinya dia melihat Sasuke yang seperti itu. Mata melotot, ponsel yang terjatuh.
Mata hitam itu menyipit sesaat, menatapnya dari atas sampai bawah. Dan akhirnya, mata Sasuke kembali menatapnya, hitam bertemu biru. Mata onyx itu menajam. Tangan Sasuke terkepal.
Oke. Naruko meneguk ludah lagi. Dia tidak tahu ada keajaiban natal seperti apa lagi, tapi dia melihat mata Sasuke yang terlihat… lapar.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
TBC
AN: oke, aku mau ujian minggu depan dan sudah declare hiatus.
TAPI! Ini fic nongol berkali-kali di kepalaku sampai-sampai aku mimpiin Sasuke yang lagi gendong Kyou-chan.
Karena gak tahan, aku update deh. Haha...
tapi habis ini beneran hiatus sampai berbulan-bulan... mungkin sekitar september aku update?
Haha apa pun itu, chap berikutnya kemungkinan ada adegan sex (spoiler!). bagi yang gak suka, jangan tunggu yaa! #plak!
See u in next chapter!
