Disclaimer: Masashi Kishimoto
WARNING: rated M for sex dan beberapa sumpahan.
Enjoy! :)
Chapter 7
.
.
.
.
.
00:26 AM
25th December 20XX
Naruko tidak tahu apa yang terjadi. Pikirannya kosong. Semuanya terasa gelap. Dia hanya bisa merasakan tangan yang panas, merayap di tubuhnya. Dia membuka matanya sesaat, menatap mata onyx tajam yang sekarang hanya berjarak beberapa senti dari matanya.
Apa yang terjadi? Kenapa ini bisa terjadi?
Naruko memejamkan matanya, berusaha mengingat apa yang baru terjadi beberapa menit yang lalu. Tapi… tidak peduli sejenius apa pun dia, dia tidak bisa ingat apa yang terjadi tadi. Mau bagaimana lagi? Sekarang sang Sasuke Uchiha itu sedang merengkuh pahanya, menyelipkan lututnya di antara kaki Naruko.
Cengkraman di dadanya membuat ingatan Naruko kembali. Sasuke Uchiha. Masuk ke dalam rumahnya. Melihatnya dengan keadaan setengah telanjang. Menjatuhkan ponselnya. Langsung menggeram, melangkah cepat dan mendorongnya ke arah dinding dapur.
Dan di sinilah sekarang Naruko. Punggungnya menempel di dinding yang dingin, tubuh Sasuke menempel di dadanya, menahannya sehingga dia tidak bisa berkutik.
"Ngh!" Wanita itu menahan erangan, jari-jari panas Sasuke menyelip masuk di balik bra-nya, membuat matanya terbuka lebar. Dia tidak bisa melihat Sasuke. Wajah lelaki itu terbekap di lekukan lehernya. Naruko kembali memejamkan matanya erat-erat, mencengkram rambut raven Sasuke. Wanita itu nyaris menjerit tertahan ketika merasakan sengatan yang tajam di bahunya.
Dan di detik itu juga, Naruko merasakan senyuman mengejek Sasuke yang menempel di lehernya.
Bastard.
Dengan kecepatan kilat, Naruko menyabet rambut Sasuke dan menjambak rambut lelaki itu, membuat kepala Sasuke tersentak. Wajah mereka berdua sejajar dan Sasuke menggeram, matanya mendelik tajam. Sasuke mengabaikan jari-jari Naruko yang menjambak rambutnya. Dia kembali menunduk, hendak menanamkan giginya di leher Naruko lagi. Namun kali ini wanita itu mengelak, membuat Sasuke kembali mendelik.
Naruko tersenyum mengejek, menatap mata hitam yang berapi-api itu. "No biting," bibirnya berbisik. Naruko menunduk sesaat, melingkarkan lengannya di sekitar bahu Sasuke. Lelaki itu hanya bisa berkedip sesaat, merasakan wajah Naruko yang terbenam di lekukan lehernya. Sasuke berkedip lagi, merasakan napas Naruko di sekitar lehernya. Dia memejamkan mata, tubuhnya bergidik ketika merasakan sentuhan pelan bibir Naruko.
Dan di detik itu juga Sasuke sadar apa yang akan dilakukan Naruko. Sebelum dia sempat menghentikan wanita itu, Naruko sudah menggigit lehernya, membuat Sasuke mendesis. Naruko mengangkat kepalanya, menatap Sasuke dengan tatapan jahil.
Lelaki itu kembali menggeram. Dengan sekali raupan, dia mengangkat Naruko. Sang wanita menahan jeritan kaget, kedua kakinya langsung melingkar di pinggang Sasuke. Sasuke kembali tersenyum mengejek, menatap Naruko yang terbelalak. Naruko hanya bisa berkedip. Dia berani bersumpah kalau dia melihat mata onyx itu bersinar-sinar. Dia tidak pernah melihat Sasuke yang terlihat begitu… ceria. Dengan senyuman di bibirnya, matanya yang hangat…
"Jangan main-main…" Sasuke berbisik di telinganya, membuat Naruko bergidik. "… denganku," dua jari Sasuke menekan kemaluannya, membuat Naruko memejamkan matanya erat-erat. Dia membenamkan wajahnya di leher Sasuke lagi, napasnya terengah-engah. Sasuke dengan sengaja mengusap pusat kemaluannya melalui fabrik celana dalamnya. Naruko menggertakkan gigi, mengerang frustrasi.
"Sa-Sasuke!" Naruko mendesah, mengerang dan berusaha untuk menarik turun celananya. Namun tangan Sasuke yang kekar mencegahnya.
"Patience," cengiran mengejek Sasuke kembali menempel di bahunya. "Sabar, Naruko."
Suara Sasuke yang dalam dan serak itu membuat Naruko kembali mengerang. Jari Sasuke terus menyentuhnya, membuat kepalanya terasa pening. Jari-jarinya yang bergetar menyusup masuk ke balik tubuh Sasuke, menyentuh, meraba. Apa pun itu. Dia ingin merasakan Sasuke, merasakan kehangatan yang tidak terasa cukup itu. Namun Sasuke tidak mengijinkannya. Sasuke menatapnya dengan tajam, tersenyum mengejek melihatnya yang merintih dan tidak berdaya.
"Kukira kau terkenal karena sifatmu yang tenang," gigi Sasuke menggores daun telinganya. "Ternyata kau tidak setenang yang mereka kira."
Naruko mengerang. Dia sama sekali tidak sadar ketika Sasuke memindahkan posisi mereka, mendudukkannya di konter dapur. Lengannya terus menempel di sekitar bahu Sasuke, wajahnya terbenam di lekukan leher lelaki itu.
"Lihat," suara Sasuke kembali terdengar. "Betapa… basahnya kau."
Kelopak mata Naruko bergetar, wajahnya terasa terbakar ketika melihat jari Sasuke di depan matanya. Jari-jari panjangnya terlihat lembab. Lelaki tersebut menyeringai, sama sekali tidak sadar kalau mata biru di depannya menggelap. Senyum Sasuke hilang sepenuhnya ketika melihat mulut Naruko yang terbuka. Wanita itu menelengkan kepalanya, meraup jari-jari Sasuke dengan bibirnya. Lidahnya yang panas mengintari jari-jari Sasuke, mata biru itu tidak lepas sedikit pun dari pandangannya.
Sasuke menggeram, tatapannya menajam dan dia menyentakkan tangannya. Mulutnya menggantikan posisi jari-jarinya. Lidah Sasuke dengan mudah menyusup masuk ke dalam mulut Naruko, membuat kepalanya langsung terasa kosong.
Wanita itu mengerang. Dia mencengkram rambut Sasuke, menahan wajahnya sehingga mulut mereka tetap bersatu. Lidah mereka bertempur sesaat, bertarung memperebutkan dominasi. Ketika Naruko mendengar suara ikat pinggang yang terjatuh dan suara kancing baju yang terlepas, dia langsung melepaskan bra dan celananya.
Tidak ada lagi permainan.
Tidak ada lagi kesabaran.
Yang ada di antara mereka hanya tatapan mendesak dan napas yang memburu.
xxx
02:37 AM
25th December 20XX
Naruko terkapar. Dia tergeletak di atas lantai dapur, Sasuke terbaring di sebelahnya. Wanita itu merasakan dua hal. Lantai yang dingin dan tubuh Sasuke yang panas. Matanya terkatup sesaat dan dia harus memaksakan dirinya untuk membuka mata.
Apa yang terjadi?
Ah, kelopak matanya mengatup. Aku baru saja sex. Matanya melirik, menatap jam di dekat konter dapur. Selama dua jam?
Sinting. Memangnya dia binatang?
Dia ingin sekali tertidur sekarang. Matanya terasa sangat berat dan hawa panas di sebelahnya ini sangat mengundang. Tapi dia tahu kalau dia tertidur sekarang dia akan terkena demam besoknya. Atau lebih parah lagi, Itachi yang masuk di rumah tiba-tiba dan melihatnya dalam kondisi seperti ini.
Tidak. Tidak. Naruko menggelengkan kepala, cepat-cepat mengusir pikiran yang menakutkan itu. Dia mengusap matanya, sama sekali tidak sadar dengan mata onyx yang sejak tadi memperhatikannya. Naruko menoleh, matanya bertemu dengan mata Sasuke. Mereka berdua terpaku sesaat, saling menatap dan tidak berkata apa-apa.
Tatapan lapar atau tatapan penuh napsu atau semacamnya itu telah hilang dari mata mereka berdua.
Naruko meneguk ludah, sadar dengan apa yang baru saja terjadi.
Dia sex.
Dengan Sasuke Uchiha.
Wajah Naruko semakin pucat.
Ingatan ketika terakhir kali mereka berdua seks muncul dengan jelas di benak Naruko. Sasuke menghilang dari kehidupannya. Dan kali ini… hal yang sama akan terulang lagi. Naruko memalingkan wajahnya dan membekap matanya. Dia terbaring kaku, menunggu Sasuke untuk beranjak, mengenakan pakaiannya dan pergi begitu saja. Dia menunggu, menghitung di dalam hatinya. Ketika dia merasakan Sasuke yang bergerak, jantung Naruko langsung berdetak dua kali lebih cepat.
That's it.
Naruko sudah bisa membayangkan SMS sayonara yang akan dikirim Sasuke.
Naruko sudah bisa membayangkan Kyou yang ber-ugeuge dan dia harus menjawab 'Sasuke kerja'.
Naruko memejamkan matanya erat-erat ketika merasakan Sasuke yang beranjak. Naruko mendengar suara gesekan. Dia sadar kalau Sasuke sekarang sedang mengenakan pakaiannya. Tanpa sadar, dia sudah membuka matanya, membayangkan Sasuke yang sudah berpakaian dan keluar dari rumah.
Namun apa yang dilihatnya membuatnya langsung melongo.
Sasuke Uchiha, hanya mengenakan jeansnya, berjalan ke arah tong sampah di dapur.
"Apa yang kau lakukan?" Naruko bertanya dengan nada ketakutan, mengira kalau Sasuke mau melempar tong sampah itu ke arah wajahnya, seperti gadis-gadis yang mengamuk setelah keperawanannya diambil. Namun ternyata tidak, Sasuke hanya berdiri di depan tong sampah. Lelaki itu memutar kepala, menatap Naruko dengan tatapan 'kau-buta-ya'.
Naruko berkedip, menatap Sasuke yang melempar kondom yang baru saja dipakainya tadi ke dalam tong sampah. Sasuke kembali berjalan ke arahnya. Mata onyx lelaki itu naik turun, menatapnya dari atas sampai bawah.
"Kau masih berbaring di situ dan masih telanjang?" Senyuman mengejek muncul di bibir lelaki itu. "Ingin masuk angin atau ingin menggodaku lagi?"
Naruko mengatupkan bibirnya rapat-rapat, wajahnya terbakar. "Aku tidak pernah menggodamu," wanita itu meraba-raba lantai, mencoba untuk menemukan pakaian. Namun dia terpaku sesaat ketika sadar bahwa dia sama sekali tidak ada pakaian kecuali bra dan celana dalam yang sudah robek.
Dan Sasuke sadar akan hal itu, kembali tersenyum mengejek.
Naruko menggeram, wajahnya semakin memanas. Dia menyabet kemeja hitam Sasuke dan dengan gesit mengenakan kemeja lelaki itu, mengabaikan tatapan Sasuke. Kemeja Sasuke cukup besar dan panjang, menyentuh pahanya ketika dia berdiri. Memang, kancing atas kemeja Sasuke sudah copot entah kemana, tapi masih bisa dipakai. Wajahnya kembali terbakar ketika dia sadar bahwa kakinya bergetar, membuat langkahnya menjadi gontai.
Dan lagi-lagi, Sasuke menyeringai lebar.
"Terakhir kali aku sex 21 bulan yang lalu!" Naruko membela diri, menopang tubuhnya di dinding. "Dengan seseorang bastard yang membuatku hamil."
"Setidaknya kau tidak akan hamil kali ini," Sasuke menaikkan sebelah alisnya, masih menatap Naruko dengan tatapan jahil bercampur takjub.
"Oh ya? Apakah kau yakin kau tidak sengaja melubangi kondommu itu," Naruko mendengus. "Lagipula, aku tidak tahu kalau kau menyimpan kondom di kantung jeansmu."
"Tidak ada salahnya menyimpan kondom," Sasuke menaikkan bahunya. "Aku tidak mau seseorang hamil anakku lagi."
Naruko terpaku. Jujur, dia berbohong jika dia bilang bahwa dadanya tidak terasa nyeri. Sasuke selalu menyimpan kondom di saku jeansnya? Jadi ternyata selama ini… Sasuke selalu berkeliaran? Seks dengan wanita lain? Dan selain itu, ucapan Sasuke yang terakhir itu seakan-akan mengkritiknya.
"Maaf saja," Naruko mendesis, berjalan pergi dengan langkah gontai. "Aku hanyalah wanita tidak beruntung yang secara kebetulan hamil dan melahirkan anakmu. Aku yakin kau sebenarnya ingin wanita lain yang melahirkan anakmu," kaki Naruko menginjak sesuatu dan dia berhenti berjalan, menatap bungkusan plastik di depannya. Dia menaikkan sebelah alis, meraih plastik yang sudah robek itu.
Mata Sasuke membulat. Dia melangkah cepat, hendak menyabet plastik itu tapi terlambat.
"Merry Christmas," Naruko membaca tulisan di atas bungkusan kondom tersebut. "Dear brother."
Sasuke menggeram, membuat Naruko melongo.
"Ini tulisan Itachi," wanita itu menoleh, menatap Sasuke dengan mata terbelalak. "Itachi memberimu kondom sebagai hadiah natal?!"
Sasuke masih mendelik, menyabet bungkusan itu dari tangan Naruko. Naruko berkedip, memutar otaknya dengan cepat.
Dia teringat tadi, ketika di restoran, Sasuke melihatnya tanpa henti. Naruko mengabaikan Sasuke, toh lelaki itu memang suka mendelik dan melotot. Tapi ketika mereka hendak pulang, Itachi menyelipkan sesuatu di saku jeans Sasuke. Dan di detik itu juga, Itachi langsung menghampiri Naruko dan minta untuk menggendong Kyou. Sasuke menaikkan sebelah alis, merongoh kantungnya. Ketika dia sadar apa yang dimasukkan oleh Itachi, Sasuke menggeram, menatap Itachi dengan tatapan membunuh. Namun Itachi hanya tersenyum mengejek, menggendong Kyou yang terlelap.
Naruko tidak tahu apa yang diberi Itachi karena pada waktu itu dia sudah masuk di dalam mobil Sai.
"Ah, aku tahu apa yang terjadi," Naruko berujar tiba-tiba, membuat bahu Sasuke menegang. "Kau tidak pernah membawa kondom. Kau tidak pernah menyimpan kondom di saku jeansmu," mata Naruko menyipit. Kalau saja Sasuke selalu menyimpan kondom, Kyou tidak akan lahir sekarang. "Itachi secara iseng memberimu kondom itu. Dan kalau saja Itachi tidak menggendong Kyou-chan pada waktu itu, pasti kau sudah menyumpal kondom ini di wajahnya," Naruko langsung menyeringai ketika melihat mata Sasuke yang menyipit. "Aku benar kan?"
"Bukan urusanmu," Sasuke mendengus, berjalan cepat ke arah kamar mandi. Naruko menahan tawa ketika mendengar pintu yang terbanting. Dia sendiri masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya, membersihkan dirinya dan mengenakan pakaian dalam yang bersih. Dia cekikikan sesaat membayangkan Sasuke yang menggertakkan gigi dan membanting pintu. Ternyata Sasuke bisa merajuk juga.
xxx
08:05 AM
25th December 20XX
Itachi selalu terbangun jam 8 tepat. Karena itu, ketika dia membuka mata, matanya langsung terbuka lebar, mendelik dengan tajam. Banyak kekasihnya yang menjerit kaget setiap kali melihatnya yang terbangun seperti itu. Mau bagaimana lagi, tidak ada orang lain yang bangun tidur dan langsung mendelik tajam.
Kecuali orang-orang berdarah Uchiha tentunya.
Itachi berkedip, menatap mata biru bundar yang menatapnya dengan tajam.
Kyousuke masih berbaring. Kepala bocah itu meneleng ke kiri sehingga wajah mereka berhadapan. "Ciiicii," Kyousuke berceloteh, lengannya mengayun ke arahnya.
"Hn," Itachi beranjak, mengulurkan tangannya. Kyousuke memutar tubuhnya, berbalik. Perlahan-lahan bocah itu merangkak ke arahnya. Itachi meraup sang bocah, menggendong Kyousuke.
"Mamaam," Kyousuke bergumam. Dia menyumpalkan jari jempolnya di mulut, mengunyah jarinya.
"Kau lapar dan kau mencari ibumu," Itachi berjalan ke kamar tamu. "Sasuke. Sudah waktunya perut Kyousuke diisi," dia membuka pintu kamar, berkedip ketika melihat kamar itu kosong. Itachi berjalan menuju ruang tamu, kembali berkedip ketika melihat tidak ada siapa pun di sana. Lelaki 32 tahun itu hanya bisa terpaku melihat rumah yang kosong.
"Mamamamaaam," Kyousuke menggeliat sekarang, mulai menuntut.
"Sasuke tidak ada di rumah," Itachi berjalan ke arah pintu, menyabet ikat pinggang penopang bayi. Dia mengenakan ikat pinggang itu dan menyelipkan Kyousuke di sana. Punggung bayi tersebut menempel di dadanya sekarang. "Dia sudah ada di rumah Naruko. Aneh, padahal biasanya dia akan mencarimu ketika dia bangun tidur," Itachi memberitahu bocah tersebut. Dan seakan-akan mendengarkan, Kyousuke menjawab dengan bahasa bayi yang tidak dimengerti Itachi.
Itachi membayangkan Sasuke yang duduk di ruang tamu menyeruput teh dan Naruko yang memasak. Itachi sampai di depan rumah Naruko, menekan bel berkali-kali. Namun, tidak ada jawaban. Itachi terpaku, mengetuk kakinya di lantai dengan tidak sabar. Memang, karena ini kondominium yang tertutup, mereka tidak akan merasa kedinginan meski pun keluar dari rumah. Tapi bayi lebih rentan dan Itachi tidak ingin Kyousuke sakit karena terlalu lama di luar.
Lelaki itu merongoh saku jeansnya, mengeluarkan peniti dasi. Dengan gesit dia menyelipkan ujung peniti itu di lubang kunci pintu Naruko. Setelah mengotak-atik lubang tersebut, Itachi dengan mudah mendorong pintu yang sekarang sudah terbuka. Dia langsung berjalan masuk, terpaku ketika melihat pemandangan di depannya.
Sasuke, adik satu-satunya itu sedang berjalan keluar dari kamar, bertelanjang dada. Rambut ravennya acak-acakkan, wajahnya mengerut dan terlihat kecapekan. Naruko Uzumaki menguap lebar, berjalan gontai di belakang Sasuke, hanya mengenakan kemeja.
Kemeja hitam Sasuke.
"Ah, kukira siapa," Naruko menguap lagi, berjalan ke arahnya. "Itachi rupanya…" Naruko menunduk sesaat, mengecup pipi Kyousuke dan berjalan ke arah dapur. "Main dengan Kyou-chan sebentar ya, beri dia biskuit bayi dulu. Aku akan buat sarapan sekarang."
Itachi berkedip, menatap biskuit bayi yang sekarang sudah ada di tangannya.
"Kau berisik," Sasuke menyipitkan mata, mendelik ke arah Itachi. "Satu kali menekan bel sudah cukup bukan?" Adiknya menatapnya dengan wajah masam. Namun, wajah yang masam itu menghilang ketika melihat sosok Kyousuke. Lelaki itu mengusap rambut hitam bayinya dan berjalan ke dapur, mengikuti Naruko. "Aku mau teh," dia memberitahu wanita itu.
Itachi masih terpaku. Dia meneliti dua orang yang sekarang sedang di dapur itu. Dia menatap wajah Naruko yang tiba-tiba terbakar dan Sasuke yang tiba-tiba terpaku ketika melihat konter dapur.
Itachi memutar bola matanya, mulai sadar dengan apa yang terjadi. "Kuharap kalian membersihkan dapur itu sebelum memasak sesuatu."
Wajah Naruko semakin terbakar dan Sasuke semakin mendelik.
Itachi hanya bisa tersenyum mengejek. "Ternyata kau menggunakan hadiah natal yang kuberikan dengan bijak, dear brother," dia membuka bungkusan biskuit bayi di tangannya. "Aku belum siap untuk menggendong satu bocah lagi," dengan santai sang Uchiha berjalan pergi bersama Kyousuke yang sekarang menyumpal biskuit di mulutnya.
xxx
09:07 AM
27th December 20XX
Naruko kira dia hanya berimajinasi saja. Dia kira kalau dia hanya berpikir terlalu berlebihan.
Sasuke sama sekali tidak bicara dengannya sejak kemarin.
Aneh.
Naruko duduk di meja makan, mengunyah omelet yang baru saja dibuatnya. Sasuke duduk di sofa. Ketika dia datang lima menit yang lalu, dia meminta Kyou. Dan sekarang lelaki itu sedang memangku bayinya. Kyou berbaring di pelukan Sasuke sambil minum susu dari botol.
"Itachi sudah kerja lagi?" Naruko mencoba untuk membuat percakapan.
"Hn."
Suasana kembali hening.
"Kau sendiri?" Naruko tersenyum, menoleh dan menatap Sasuke. "Kau mengenakan jas kerjamu. Kukira kau libur sampai tanggal 1 nanti."
"Itachi menyuruhku untuk datang ke kantor."
Senyum Naruko menghilang.
Sasuke sama sekali tidak melihat ke arahnya.
"Hnng," Kyou bergumam, melepaskan botol susu dari tangannya. Sasuke beranjak, menepuk punggung bayi itu sampai dia bersendawa. Sasuke menyodorkan Kyou pada Naruko dan Naruko menggendong Kyou. Mata birunya masih menatap Sasuke, berusaha untuk bertatapan dengan lelaki itu.
Tapi Sasuke sama sekali tidak melihatnya.
"Emm... untuk pesta ulang tahun Ryou-chan..."
"Ada pesta perusahaan pada tanggal 1," Sasuke memotong cepat.
"Oh, kalau begitu pestanya... akan aku tunda saja," Naruko memilin sendoknya, meneguk ludah.
Lelaki itu berjalan ke arah pintu, mengenakan sepatunya.
"Kau belum sarapan," Naruko menatap omelet yang belum disentuh Sasuke.
"Tidak perlu."
Dengan satu ucapan dingin itu, Sasuke pergi dari pandangannya.
Naruko hanya bisa terdiam. Dan kenangan dua tahun lalu, di mana Sasuke meninggalkannya begitu saja kembali muncul di benaknya.
xxx
20:07 PM
30th December 20XX
Sasuke tidak pernah lagi datang untuk makan malam. Mereka tidak pernah lagi bicara kecuali mengenai Kyou.
Sasuke bahkan tidak pernah lagi minta dibuatkan teh.
Naruko berbaring di kasurnya, memejamkan mata.
Dia sudah selesai menyuapi Kyou, sekarang bayi itu tertidur lelap di sampingnya. Naruko memeluk guling terdekat, membekap wajahnya. Dia tidak makan malam, dia tidak memasak untuknya, toh dia tidak merasa lapar. Selain itu, tidak ada siapa pun yang mau memakan masakannya sekarang.
Sasuke mengabaikannya, Itachi sibuk kerja. Sai sendiri sedang mengejar model untuk lukisan barunya.
Naruko membuka matanya sesaat.
Beberapa hari yang lalu, dia masih memasak makan malam, meski Sasuke tidak pernah datang untuk makan lagi. Naruko mengemasi makanan itu dan membawa makanan tersebut di rumah Sasuke, namun Sasuke menjawab dengan dingin, bilang padanya bahwa dia sudah makan di kantor.
Kau tidak perlu lagi memasak untukku. Aku tidak butuh.
Naruko masih mengingat jelas ucapan Sasuke.
Sekarang semuanya sudah jelas. Sasuke mengabaikannya lagi. Ternyata seks itu memang terkutuk. Sasuke selalu mengabaikannya setelah seks. Hanya saja kali ini Sasuke tidak bisa pergi karena ada Kyousuke.
Naruko memejamkan matanya erat-erat, memeluk guling dan memaksakan dirinya untuk tidur.
xxx
22:39 PM
2nd January 20XX
Bahkan sampai di hari terakhir pun, Kyou-chan tidak menyukai Naruto sama sekali. Naruko tersenyum geli, melihat Kyou yang membuang muka, mengabaikan Naruto yang mencoba untuk mengecupnya.
"Hei! Aku sudah mau kembali ke Jepang dan kita tidak akan bertemu untuk cukup lama!" Naruto mengulurkan tangannya, menyodorkan snack bayi. Namun Kyou tidak terbujuk oleh snack itu. "Aneh, padahal semua bayi akan langsung mau denganku kalau aku mengeluarkan senjata rahasia ini."
"Kyousuke bukan 'semua' bayi," Sasuke mendengus. "Pergi sana. Bukankah sudah waktunya kau masuk ke gerbang imigrasi?"
"Sialan kau, teme," Naruto menggeram. "Sampai kapan kau mau mengusirku?"
"Sampai kau memutuskan untuk tidak kembali lagi ke sini."
Naruto menggeram lagi. Dia melingkarkan lengannya di bahu Sakura dan menyeringai. "Jangan khawatir, aku pasti akan kembali bersama Sakura-chan dan bayiku yang akan jauh lebih lucu dari keponakanmu itu."
Sasuke menaikkan sebelah alis. "Keponakanku?"
"Keponakan kita," Naruto membenarkan. "Aku sudah tahu," lelaki itu berbisik cepat di telinga Sasuke. "Kyousuke bayi Itachi bukan?"
Sasuke mendelik sesaat.
"Tuh kan, benar," Naruto mendengus, menganggukkan kepala. "Tenang, aku akan jaga rahasia. Lagipula Kyousuke adalah keponakan kita berdua. Jadi secara tidak langsung kau adalah keluargaku sekarang."
Sasuke hanya bisa terpaku, dia membuka mulutnya, namun sedetik kemudian mulutnya kembali terkatup. Naruko hanya bisa meneguk ludah, mengusap Kyou. Dia tidak tahu apa yang ingin diucapkan Sasuke. Sasuke terlihat tidak senang ketika Naruto mengira bahwa Itachi-lah ayah kandung Kyou. Tapi Sasuke sendiri tidak ingin mengaku kalau dia adalah ayah kandungnya. Naruko terdiam, menatap Sasuke yang memperhatikan Naruto. Kakaknya itu sekarang sedang tertawa riang, mengusap perut Sakura.
Dada Naruko terasa nyeri sesaat. Apakah Sasuke cemburu?
Akhir-akhir ini, Naruko selalu terkenang akan malam ketika mereka seks untuk kedua kalinya. Naruko bertanya pada dirinya sendiri. Apakah Sasuke seks dengannya karena frustrasi? Setelah mendengar kabar kalau Sakura hamil?
Naruto terlihat sangat bahagia dengan kehamilan Sakura. Mau bagaimana lagi. Kakaknya itu sudah ingin untuk mempunyai anak sejak dulu, namun Sakura sangat sibuk dan mereka memutuskan untuk menunda kehamilan. Akhirnya sekarang Sakura siap untuk hamil dan tentu saja, Naruto sangat girang.
Jujur, Naruko juga senang. Toh kebahagiaan kakaknya adalah kebahagiaan dia juga. Tapi… Mata biru Naruko melirik sesaat ke arah Sasuke. Lelaki itu memasang wajah patungnya, dingin dan tidak berekspresi. Naruko tidak tahu apa yang dirasakan Sasuke. Apa yang Sasuke rasakan ketika mendengar kabar kehamilan Sakura?
Wanita itu menggigit bibir, memeluk Kyou semakin erat. Apakah semuanya terulang lagi? Sasuke seks dengannya dulu karena dia frustrasi, karena Naruto menikah dengan Sakura. Setelah seks, Sasuke mengabaikannya. Dan sekarang…
Lamunan Naruko terputus ketika dia merasakan kecupan Naruto di pipinya. "Aku pergi dulu ya! Jangan lupa kembali ke Jepang. Bukumu terkenal di sana!" Naruto meringis.
Naruko tersenyum lebar, berjinjit dan memeluk kakaknya. Secara tidak langsung, Naruto ikut memeluk Kyou yang menempel di dada Naruko. Bayi itu menjerit, membuat Naruko tertawa, langsung melepaskan pelukannya. "Aku pasti datang. Bersama Kyou-chan. Kabari aku kalau Sakura sudah mau melahirkan ya."
"Pasti," Naruto meringis. Lelaki itu menunduk, menatap Kyou lekat-lekat. "Aku tahu kalau kau mewarisi sifat ayahmu, tapi hei! Mata biru kita bertiga sama, jadi kau seharusnya mewarisi sedikit sifat yang sama sepertiku!"
"Sayang sekali, dia mewarisi sifat tenang ayahmu dan Naruko-chan," Sakura cekikikan. "Aku benar-benar tidak bisa membayangkan Kyou-kun yang usil dan berisik sepertimu."
Naruko tersenyum. "Aku juga," dia mengusap rambut Kyou.
"Oh iya, Naruko," kakaknya tiba-tiba berseru. "Sai tidak datang?"
"Ah, dia titip salam," Naruko meringis. "Dia tidak bisa mengantarmu karena dia sibuk. Tapi nanti aku ada janjian keluar bersamanya."
Naruto bergumam, menatap Naruko dengan seksama. "Kau tahu, aku sadar sesuatu."
"Apa?"
"Kau selalu terlihat santai di depan Sai. Dan kau selalu bersamanya."
"Karena kami sahabat," Naruko tersenyum. "Dia selalu ada di sana setiap kali aku kesusahan."
Naruto bergumam lagi. "Benar juga. Meski aku membencinya, kau dan dia tidak bisa dipisahkan," Naruto menghela napas. "Pokoknya apa pun itu, selama kau bahagia, aku tidak keberatan. Hanya saja jangan lupa mengundangku kalau pada akhirnya kau memutuskan untuk menikah dengannya."
Naruko tertawa. "Aku dan Sai menikah?"
"Kenapa tidak?" Naruto balas tertawa. "Kalian berdua sudah tidak bisa dipisahkan. Bayangkan saja. Sai yang tidak suka pada Kyousuke saja bahkan rela menggendongnya demimu."
Naruko tersenyum tipis. "Kalau kami memutuskan untuk menikah, aku akan mengundangmu."
Mendengar itu, Naruto langsung melongo. "Kau serius mau menikah dengannya?"
"Entahnya?" Naruko hanya menyeringai jahil, membuat Naruto semakin melongo.
"Hei! Serius! Apakah kalian…"
"Dobe," Sasuke memotong. "Kau akan ketinggalan pesawat."
Naruto menggerutu, namun akhirnya dia menyabet kopernya dan berjalan pergi. Sakura dan Naruto melambai untuk kesekian kalinya sebelum mereka berdua masuk ke gerbang imigrasi. Naruko tertawa, balas melambai. Dia berdiri sebentar di tempat itu, menatap punggung Naruto yang perlahan-lahan lenyap dari pandangannya. Dia akan merindukan kakaknya.
"Ammaah," Kyou yang tiba-tiba menggeliat membangunkan Naruko dari lamunan. Kyou menatap lantai dan Naruko melepaskan ikatan pinggang dan menurunkan sang bayi. Dia tersenyum ketika melihat Kyou yang perlahan-lahan berdiri, berjalan ke arah Sasuke. Sasuke tidak sadar bahwa anaknya sekarang sedang setengah merangkak setengah berjalan ke arahnya. Matanya terpaku pada gerbang imigrasi.
"Uggge!"
Sasuke menoleh, menatap Kyou yang terjatuh. Mata lelaki itu melebar sesaat, dia berjongkok, menatap Kyou yang balas menatapnya. Bayi itu mengayunkan tangannya, minta digendong. Namun Sasuke hanya berdiam di tempat, mengulurkan tangannya. "Kyousuke," dia memanggil bayinya. "Come on."
Kyou menengadah, memanyunkan bibirnya. Perlahan-lahan dia berdiri dan melangkah dengan pelan ke arah Sasuke. Sesekali dia terjatuh lagi. Lima langkah adalah langkah terbanyak yang bisa dilakukan bayi itu. Setelah jatuh tiga kali, akhirnya lengan Kyou berhasil menyentuh lutut Sasuke, lelaki itu tersenyum lebar.
"Bagus," Sasuke memujinya, meraup Kyou dan beranjak, memeluk bayinya dengan erat. "Good job."
Naruko terdiam, menatap Kyou yang menatap ayahnya dengan tatapan berseri-seri. Mau tak mau, hatinya terasa sakit sesaat.
Dulu, Sasuke pergi darinya dengan mudah. Tapi itu karena tidak ada apa pun yang mengikatnya. Tapi sekarang… lelaki itu tidak bisa pergi darinya karena ada Kyou. Naruko meremas tangannya.
Dia sendiri bisa lari dari Sasuke. Kalau Naruko mau, dia bisa; membawa pergi Kyou ke tempat lain. Hanya mereka berdua. Dan dia yakin meski pun susah, Sasuke akan mengerti. Sasuke akan melerakan dia dan Kyou yang pergi. Toh sejak awal Sasuke tidak berniat untuk menjadi ayah Kyou.
Tapi…
Mata Naruko terpaku, menatap Kyou yang mencengkram rambut Sasuke sambil berceloteh girang. Kyousuke Uchiha tidak bisa terpisah dari ayahnya.
Naruko tersenyum lemah. Dia berjalan ke arah Sasuke. Lelaki itu tidak melepaskan matanya dari Kyou. "Aku mau bertemu dengan Sai nanti. Keluarganya mengadakan pesta tahun baru. Memang telat tapi mereka mengundangku dan…"
"Hn," Sasuke memotongnya langsung, tidak mempedulikan Naruko.
"Kau sudah selesai kerja bukan? Bisa jaga Kyou-chan malam ini? Aku menginap di rumah Sai," Naruko berdehem, berusaha untuk menahan suaranya supaya suaranya tidak bergetar.
"Hn."
Naruko hanya berdiri di tempat. Dulu, ketika Naruko bilang bahwa dia ingin menginap keluar, Sasuke akan bertanya jam berapa dia akan pulang besok. Tapi sekarang…
"Good bye, love," Naruko menempelkan bibirnya di pipi Kyou. "Mama akan kembali besok pagi," senyuman lebar muncul di wajahnya. Setidaknya di depan Kyou, dia bisa tersenyum dengan normal. "Bye, Sasuke."
Sasuke tidak menjawab.
Naruko hanya terdiam, berjalan pergi. Dia mempererat mantelnya dan berjalan menuju gerbang bandara. Sai sudah menunggu di depan, tersenyum ke arahnya.
Di detik itu juga, Naruko berlari. Bagaimana caranya dia bisa lari dengan high heels, dia tidak tahu. Dia berlari ke arah Sai dan menubruk lelaki itu, membuat Sai terpaku. Dia berkedip, menatap Naruko yang membenamkan kepala di dadanya. "Aku tidak tahu kalau kau merindukanku selama ini," Sai menepuk pelan pundaknya. "Kita baru saja bertemu di malam natal. Makan malam bersama kakakmu. Ingat?"
Naruko tertawa. Suaranya bergetar. Dia tidak bisa menjawab karena dia yakin air matanya akan langsung menetes kalau dia mengatakan sesuatu.
Dan Sai… Sai sendiri tidak berkata apa-apa. Mata hitamnya terpaku, menatap seberang di mana dia melihat sosok Sasuke yang menggendong Kyou. Mata hitam mereka berdua terpaku. Sasuke langsung memalingkan wajahnya, berjalan pergi. "Ah," Sai berujar pelan. "Sasuke-kun? Apa yang terjadi sekarang?" Tangan Sai mengusap wajahnya dengan pelan. Dan di detik itu juga air mata Naruko langsung jatuh. Senyuman Sai menghilang. Dia merangkul bahunya dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Di perjalanan, mereka berdua hanya terdiam. Naruko yang menyumpal tissue di wajahnya dan Sai yang mengendarai dengan serius.
"Kami seks," Naruko memecahkan kesunyian. "Di malam natal. Sepulang dari restoran."
"Begitu," Sai tidak terdengar kaget. "Sakura yang hamil. Itukah penyebabnya kali ini? Dan apakah kau akan hamil lagi?"
"Dia pakai kondom," Naruko menjawab.
"Lalu?" Sai bertanya. "Apa masalahnya?"
"Dia mengabaikanku," Naruko berujar pahit. "Tidak bicara denganku. Hanya datang untuk Kyou-chan. Semuanya terasa terulang lagi."
Sai tidak menjawab. Dia terdiam sesaat dan perlahan-lahan membuka mulutnya. "Kau masih mencintainya."
Naruko terdiam. "Sepertinya begitu," dia tertawa lemah. "Iya. Aku masih mencintainya," ucapan Naruko hanya berupa bisikkan dan air matanya kembali menetes. "Aku ingin sekali pergi darinya. Ingin melupakan semua ini. Tapi… Kyou-chan. Dia sudah sangat menyayangi Sasuke. Dia tidak bisa lepas dari Sasuke…"
Sai tidak berkata apa-apa, mendengarkan suara tangisan tertahan Naruko. Ketika lampu merah menyala, Sai berhenti, mengeluarkan ponselnya. "Ah. Ada missed call," Sai menekan tombol ponselnya dan menempelkan ponselnya di telinga.
"Siapa?" Naruko menaikkan sebelah alis.
"Yamato."
Naruko menghapus air matanya, terbelalak sesaat. "Yamato-sensei datang di pestamu? Kita sudah lima tahun tidak melihatnya setelah dia kembali ke Jepang!" Naruko berseru kaget. Yamato adalah salah dosen mereka berdua di kuliah. "Di mana dia sekarang?"
"Sedang menuju rumahku," Sai menjawab sesaat ke arah Naruko. "Yamato-sensei, kenapa kau menelponku tadi? Ah? Kau tersesat? Rumahku ada di jalan The Whitney nomor 34. Ngomong-ngomong, masih ingat dengan Naruko bukan?" Sai tersenyum lebar. "Aku sedang bersamanya sekarang. Di mobil."
"Kalau dia tidak ingat denganku akan kuhantam dia," Naruko tersenyum sesaat. Hatinya yang terasa berat sudah menjadi sedikit ringat sekarang. "Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya."
"Naruko bilang kalau dia tidak sabar untuk bertemu denganmu," Sai berbasa-basi. "Tentu saja, banyak yang ingin kuceritakan padamu juga. Apakah aku dan Naruko masih pacaran? Tidak. Kami sudah bertunangan, tiga bulan lagi akan menikah. Dia baru saja menerima lamaranku."
Naruko tersedak, menatap Sai yang tersenyum jahil. "Sai!"
"Kau mau bilang pada orang lain? Boleh. Toh tak lama lagi kami akan mengirimkan undangan nikah pada kalian semua. See you, Yamato-sensei," Sai mematikan ponselnya. "Kenapa kau kaget?" dia bertanya pada Naruko.
"Kau tidak perlu sejahil itu," Naruko mendengus.
"Begitu?" Sai bertanya santai. "Dia sudah sering menjahili dan menakuti kita dengan wajahnya, jadi tidak ada salahnya aku ingin balas dendam."
Naruko memutar bola matanya. "Kau ini… tapi yah… aku sendiri tidak sabar untuk bertemu dengannya. Tapi bahaya kalau dia sampai salah paham dan benar-benar bilang pada dosen-dosen lainnya," Naruko mendengus, mengeluarkan ponselnya. Sai tidak lagi melihatnya karena dia fokus menyupir. Naruko dengan mudah menemukan nomor ponsel Yamato dan mengetik SMS.
'Yamato-sensei, jangan pedulikan apa yang dikatakan Sai. Dia bercanda. Sampai jumpa nanti!
Naruko U.'
Dan dalam waktu beberapa menit, Naruko mendapat jawaban.
'Hai Naruko, lama tidak bicara denganmu. Memangnya apa yang dia katakan? Selain itu, sampai jumpa? Maksudmu?
Yamato.'
Naruko menaikkan sebelah alis.
'Sampai jumpa di pesta Sai? Kau datang bukan?
Naruko U.'
Naruko masih bingung, namun ketika SMS dari Yamato muncul, wanita itu melongo.
'Sai mengadakan pesta? Sayang sekali, dia tidak mengundangku. Meski pun dia mengundang, aku tidak bisa hadir karena aku masih di Jepang. Dan ngomong-ngomong, di sini sudah pagi, jadi ohayou, Naruko.
Yamato.'
Naruko terpaku. Yamato ada di Jepang? Jadi siapa tadi yang ditelpon Sai?
xxx
23:56 PM
2nd January 20XX
Kyousuke Uzumaki tertidur lelap. Setelah dibacakan lima buku anak-anak dan meminum sebotol susu, bayi itu tertidur lelap di kasurnya. Sasuke terdiam, memperhatikan Kyousuke. Senyumnya mengembang sesaat. Dia mengusap rambut bayinya. Kyousuke sekarang sudah berusia satu tahun. Mereka belum mengadakan pesta untuknya, namun di tradisi Jepang, umur satu tahun itu sangat penting dan Sasuke sudah memutuskan untuk mengadakan pesta.
Hanya saja...
Wajah Naruko terlintas di wajahnya.
Di detik itu, mata biru Kyousuke terbuka sesaat, namun langsung menutup lagi.
Sasuke terdiam. Dia langsung teringat akan mata biru Naruko.
Dia tahu bahwa dia mengabaikan wanita itu beberapa hari ini.
Namun dia tidak tahu kenapa dia mengabaikan wanita itu.
Dulu Sasuke mengabaikan Naruko karena wanita itu mengingatkannya akan Naruto. Namun sekarang, Naruko adalah Naruko. Wanita itu tidak pernah mengingatkannya akan Naruto.
Sasuke beranjak dari kasurnya, keluar kamar dan menuangkan wine untuknya. Tadi di bandara, dia tidak merasaan apa-apa ketika melihat Naruto dan Sakura. Padahal biasanya… dia akan mengepalkan tangan, ingin pergi dari hadapan mereka berdua.
Tapi tadi… dia biasa saja. Ketika Naruto pergi darinya juga... dia biasa saja.
Wajah Naruko kembali muncul di kepalanya, tatapan kesakitan Naruko ketika dia mengabaikannya.
Tangan Sasuke terkepal.
Dia tidak tahu apa yang dia rasakan. Setiap kali dia melihat Naruko, dia hanya ingin melakukan satu hal. Berjalan cepat ke arahnya dan membenturkan bibirnya di bibir wanita itu.
Sasuke meneguk habis wine-nya, menggeram pelan. Sejak dia seks bersama Naruko… yang ada di kepalanya hanyalah mendorong wanita itu di dinding dan meraba seluruh sudut tubuhnya.
Dia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Dan dia benci dengan perasaan ini.
Dan sekarang Naruko sedang berada bersama Sai.
"Aku dan Sai menikah?" Tawa Naruko di bantara tadi terngiang-ngiang di kepalanya. "Kalau kami memutuskan untuk menikah, aku akan mengundangmu." Sosok Naruko yang berlari dan memeluk Sai muncul di benaknya.
Sasuke mencengkram gelas di tangannya. Dia berjalan cepat, masuk ke salah satu kamar di rumahnya tanpa mengetuk. Matanya langsung bertemu dengan mata Itachi. Sasuke menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. Sejak ada Kyousuke, Itachi sering menginap di rumahnya. Bahkan, kamarnya yang satu ini seakan-akan sudah menjadi milik Itachi. Kakaknya itu sengaja mengisi rak buku di kamar itu dengan buku, dokumen, komputer... Dia tidak keberatan, toh dengan begitu dia tidak perlu pergi di rumah Itachi untuk mengurusi masalah bisnis.
"Ayo," Sasuke berujar. "Perjanjian dengan Kurata Corp harus ditanga..." ucapan Sasuke terhenti ketika melihat Itachi yang beranjak, ponsel menempel di telinganya. Sasuke mengerutkan kening. Dia tahu bahwa itu ponsel pribadi Itachi. Hanya sedikit orang yang tahu dengan nomor itu. "Siapa?"
Itachi mengabaikan Sasuke. Kening lelaki itu berkerut. "Aku tidak tahu apa maumu," Itachi menjawab dingin. "Tapi aku bukan Yamato dan aku tidak peduli akan lokasi rumahmu. Hentikan omong kosong…" ucapan Itachi terhenti. "Kau dan Naruko pacaran?"
Sasuke terpaku sesaat.
"Aku tidak peduli. Aku tahu kalau kalian berdua dulu paca... Ohh?" Matanya langsung berkilat sesaat, melirik ke arah Sasuke, membuat Sasuke mengerutkan kening. "Begitu? Kau akan menikah dengan Naruko? Kau melamarnya dan dia menerima lamaranmu? Kapan? Barusan?"
Sasuke mematung.
"Selamat Sai," Itachi menyeringai. "Tentunya aku boleh bilang pada seseorang?"
Mata Sasuke menajam. Tangannya terkepal.
"Ah? Kau akan mengirimkan undangan? Tentu, aku akan datang," Itachi mematikan ponselnya. Dia menoleh, bertatapan dengan Sasuke. "Sepertinya Sai dan Naruko sudah bertunangan. Barusan."
Sasuke menggeram. "Lalu? Aku tidak peduli," Sasuke memutar tubuh, berjalan keluar kamar.
"Dan sepertinya mereka akan menyebarkan berita bahagia ini di pesta Sai," Itachi berujar santai. Langkah kaki Sasuke terhenti. "Di alamat Jalan The Whitney nomor 34."
"Sudah kubilang kalau aku tidak peduli." Sasuke menggeram, membanting pintu kamar.
"Begitu?" Itachi ikut keluar kamar, melirik ke arah Sasuke yang membanting gelas wine di dapur. Itachi berjalan menuju kamar Sasuke, hendak melihat Kyousuke. Di detik itu juga, dia mendengar suara bantingan pintu rumah. Itachi menoleh, menatap Sasuke yang sudah hilang dari pandangannya. "Tidak peduli?" Itachi meringis, membuka pintu kamar dan menatap Kyousuke yang tertidur lelap. "Sejak kecil ayahmu itu memang bukan pembohong yang baik."
TBC
AN: semoga reader sekalian suka sama chapter ini :)
ending is coming soon! (kayaknya. haha!)
see you in the next chapter! :)
Note: ada beberapa salah penggunaan kata dan sudah diedit. Makasih buat Rotten a Pine!
