Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: OC, OOC, typos, alur cepat, rated M (buat tema dewasa).
Enjoy!
Chapter 8
.
.
.
.
.
00:45 AM
3rd January 20XX
"Kenapa kalian datangnya telat?"
Naruko meletakkan wine-nya, tersenyum sipu. "Maaf, tadi aku mengantar kakakku di airport," mata birunya terpaku pada wanita setengah baya yang duduk di depannya. Di detik ketika dia sampai di rumah Sai, ibu sahabatnya ini langsung menyeretnya, membawanya ke kamar Sai yang ada di lantai dua. Diam-diam Naruko berterima kasih akan itu. Rumah Sai sekarang penuh dengan kebisingan, tawa girang para tamu dan lagu yang bergema di seluruh ruangan.
Reiko tersenyum lebar. "Aku sama sekali belum bertemu dengan kakak kembarmu, tapi dari cerita Sai, dia orang yang menarik."
Naruko tertawa. "Begitulah."
"Ngomong-ngomong tentang Sai…" Reiko berdecak sesaat, mata hitamnya terpaku pada jendela kamar. "Anak itu memang keterlaluan. Padahal aku sudah bilang untuk mengadakan pesta keluarga saja. Tapi dia malah mengundang para model dan artis-artis terkenal."
Naruko melirik sesaat, menatap jendela. Dari sana, dia bisa melihat orang-orang berkumpul di kolam berenang Sai. Sai sendiri sedang menyilangkan kaki, duduk di salah satu kursi di sana. Lelaki itu dikerumuni wanita-wanita cantik. Sai menengadah, bertemu mata dengannya. Sahabatnya itu mengedipkan mata, mengangkat bir yang ada di tangannya. Naruko meringis, melakukan hal yang sama, mengangkat gelas wine-nya.
"Hahh… lihatlah anakku itu, merayumu sambil merangkul wanita lain."
Naruko tertawa nyaring ketika melihat wajah Reiko yang berkerut jijik itu. "Dia memang begitu. Tadi saja dia menjahiliku," Naruko memutar bola matanya, teringat kejadian di mobil. Sai tidak mau bilang siapa yang ditelponnya dan Naruko menyerah. Sai tidak akan membuka mulutnya semudah itu.
Reiko tersenyum tipis, hanya memperhatikan ekspresi Naruko. "Kau tahu… ketika Sai memperkenalkanmu kepada kami untuk pertama kalinya, aku yakin kalau kalian berdua akan menikah nantinya."
Naruko terpaku, senyumannya menghilang. Dia menggigit bibir dan memilin gelas di tangannya. "Reiko-san… aku…"
"Aku tahu, aku tahu," Reiko tertawa. "Sai sendiri sudah menjelaskan padaku kalau hubungan kalian berdua tidak seperti 'itu'," Reiko tersenyum. "Tapi… aku senang. Setidaknya Sai punya seseorang yang bisa dia percayai selain keluarganya sendiri."
Naruko tidak bisa berkata apa-apa. Orang tua Sai sangat baik padanya, menganggapnya sebagai anak sendiri.
"Kau dan Sai punya banyak kesamaan," Reiko menyeruput wine-nya. "Sai bukan anak kandung kami, kau tahu?"
Naruko tersenyum lemah, menganggukkan kepala. Dia tahu kalau Sai juga berasal dari panti asuhan. Keluarganya kandungnya dibunuh oleh seseorang yang dipercayai oleh Sai. Sai tidak mau cerita siapa, tapi yang pasti, kejadian itu membuat Sai tidak bisa mempercayai orang lain. "Sai beruntung," ucapan Naruko membuat Reiko menaikkan sebelah alis. "Dia memiliki kalian sebagai keluarganya. Aku tidak tahu seperti apa masa lalunya, tapi aku tahu kalau dia bahagia sekarang."
Ucapan Naruko membawa senyuman di bibir Reiko. "Aku benar-benar menginginkanmu sebagai menantu, kau tahu."
Naruko tertawa. "Aku tidak bisa membayangkan seperti apa jadinya anak kami kalau kami menikah."
"Benar," Reiko memutar bola matanya. "Tapi, aku akan senang hati menganggap Kyou-chan sebagai cucuku sendiri. Toh nama Sai sudah ada di surat lahir anak itu bukan?"
Naruko mengangguk. Dia tidak bisa merasa lebih bersyukur lagi akan Reiko. Wanita itu selalu menyemangatinya, menganggapnya sebagai anak sendiri. Dia bahkan tidak keberatan ketika Naruko meminta ijin untuk menggunakan nama Sai sebagai 'ayah' Kyou.
"Ayah kandung Kyousuke…" Reiko meneguk wine-nya. "Aku tidak pernah bertemu dengannya. Tapi aku bisa menebak kalau dia itu cowok paling sialan di dunia ini."
Naruko tersedak, menahan tawanya. Seperti apa reaksi Sasuke jika dia mendengar ini? Dia bisa membayangkan Sasuke yang mendelik tajam. Naruko tersenyum lemah, teringat akan Sasuke yang mengabaikannya. "Dia lelaki yang…" ucapan Naruko terhenti. Yang apa? Yang dingin? Yang mengabaikannya? Yang tidak peduli dengannya? "… tidak. Lupakan ucapanku, Reiko-san."
Reiko tidak menjawab, hanya memperhatikan ekspresi Naruko. "Banyak lelaki di luar sana yang menyukaimu, Naruko. Aku yakin mereka juga tidak keberatan menjadi ayah Kyousuke."
Naruko terdiam.
"Kalau kau mau, aku bisa memperkenalkanmu pada mereka," Reiko berujar dengan ceria. "Aku tahu beberapa… mereka lelaki yang baik. Lebih tua sedikit darimu tapi kau tidak keberatan kan? Mereka juga sangat suka dengan anak-anak dan…"
"Reiko-san…" Naruko memotongnya. "Aku tidak bisa… melupakan dia," Naruko tertawa lemah. Tenggorokannya terasa tercekat. Tanpa dia sadari, air mata membasahi wajahnya. Celaka, Naruko tertawa, mata birunya yang berlinangan menatap gelas di depannya. Aku sudah mabuk. "Aku mencintainya," dia berbisik. Suaranya serak. "Aku tahu kalau dia tidak mencintaiku… tapi aku…"
Reiko langsung beranjak, memeluknya dengan erat. "Tidak bisakah kau melupakannya? Dia tidak berhak mendapatkanmu, Naruko."
"Tidak apa," Naruko tersenyum pahit. "Karena tidak pernah sekali pun aku berharap untuk dilihat olehnya."
Reiko tidak bisa berkata-kata. "Kau sama sekali tidak egois, Naruko. Jangankan egois, kau tidak pernah berharap sesuatu untuk dirimu sendiri. Sekali-sekali… tidak apa menjadi egois."
Naruko tertawa. "Kalau begitu…" matanya berseri-seri sesaat. "Malam ini aku mau mabuk-mabukan, boleh?"
Reiko meringis. "Tentu," dia menuangkan wine di gelas Naruko. "Minum denganku sampai pagi dan lupakan cowok brengsek itu."
Naruko menyeringai. "Deal."
xxx
00:50 AM
3rd January 20XX
Tidak sulit untuk menemukan Sai. Mata Sasuke dengan mudah bertemu dengan mata Sai Takano, lelaki yang merangkul bahu model cantik. Sasuke melangkah cepat, amarah membuat dadanya terasa bergemuruh. "Di mana Naruko?" dia mendelik, membuat Sai tersenyum lebar.
"Kenapa kau mencari tunanganku?"
Sasuke mengepalkan tangannya. "Aku akan membawanya pulang," Sasuke mendelik. "Karena lelaki sepertimu tidak pantas bertunangan dengannya."
"Oh?" Sai beranjak, masih memasang senyuman lebar. "Dan kau pantas untuk berada di sisinya?"
Sasuke menggertakkan gigi. Dia melirik, melihat orang-orang yang memperhatikan mereka. Dalam sekali lihat dia tahu kalau mereka semua ini orang-orang terkenal, model dan artis. Beberapa dari mereka bahkan kenal dengan Sasuke. "Jangan membuatku menghantammu di depan orang-orang ini."
"Ah begitu? Kau yakin kau tidak mau memukulku di sini karena itu?" Sai bertanya dengan nada bingung. "Aku yakin kalau salah satu dari mereka adalah teman seksmu."
Sasuke menggeram, mengangkat lengannya dan nyaris menghantam lelaki di depannya itu. Namun sebelum dia sempat berbuat itu, Sai sudah menunjuk ke arah jendela rumahnya yang ada di lantai dua.
"Naruko ada di sana, kau bisa pilih dua hal. Menghantamku sekarang dan dibenci Naruko untuk selama-lamanya atau kau bisa membawa Naruko pulang."
Sasuke menggeram. Dia menengadah, menatap sosok wanita berambut pirang panjang yang tertawa, bercakap-cakap dengan wanita setengah baya. Meski pun dia benci untuk mengakui ucapan Sai, dia tahu bahwa ucapan lelaki itu ada benarnya. Jika dia membuat keributan di sini, Naruko bisa melihat dengan jelas. Sasuke menggertakkan gigi, berjalan pergi, menubruk orang-orang yang menghalanginya.
Dia punya tujuan datang di tempat ini. Menyeret pulang Naruko.
Tapi… untuk apa?
Langkah Sasuke terhenti di depan pintu kamar. Untuk apa? Untuk apa dia datang ke sini? Untuk apa dia menyeret Naruko?
Apakah dia akan bicara dengan Naruko? Memaksanya untuk membatalkan pertunangan? Apakah dia akan mendorong Naruko di dinding lagi? Seks dengannya sampai wanita itu tidak bisa melupakannya?
Sasuke menggertakkan gigi, tidak tahu harus berbuat apa. Pikiran lelaki itu terputus ketika pintu terbuka. Dia terpaku, menatap wanita setengah baya yang keluar sambil membawa botol wine yang sudah kosong.
"Oh, hey there," wanita itu tersenyum. "Kau mencari Sai? Dia ada di kolam renang."
Sasuke berkedip. Wanita ini… tadi Naruko tertawa bersama wanita ini. Dan Naruko tidak tertawa seperti itu bersama orang biasa. Wanita ini adalah salah satu orang yang dipercayai Naruko. "Dan kau adalah…"
"Ah, Reiko Takano," wanita itu tersenyum. "Sai adalah putraku. Kau terlihat seperti orang Asia. Apakah kau orang Jepang juga?"
Sasuke mengangguk pelan.
Ibu Sai…
Dan Naruko… apakah dia menganggap wanita ini sebagai ibunya sendiri?
Tangannya kembali terkepal.
"Sai ada di bawah, kalau kau mencarinya," wanita itu mengulangi. "Atau kau mencari Naruko? Dia ada di kamar ini. Tapi sebaiknya kau tidak menganggunya, dia sepertinya sudah mabuk."
Sasuke tidak menjawab.
Benar. Untuk apa dia mencari Naruko? Untuk apa dia ingin menyeret Naruko pulang?
Wanita itu sudah bertunangan. Bertunangan dengan Sai, lelaki yang dia percayai dengan sepenuh hati. Lelaki yang punya keluarga yang hangat. Lelaki yang bisa memberinya kebahagiaan.
Untuk apa aku ke sini? Aku tidak mencintai Naruko, Sasuke memberitahu dirinya sendiri. Dia kembali mengepalkan tangannya. Perlahan-lahan bibir Sasuke membentuk senyuman dingin.
Akhirnya, setelah sekian lama Naruko berhasil melupakannya.
Bagus. Dia pantas mendapatkan kebahagiaan. Wanita seperti Naruko… Sasuke memejamkan mata, membayangkan sosok wanita berambut pirang dengan mata biru yang tajam. …tidak pantas untuk terus menunggu lelaki sepertiku. Sasuke tidak perlu berkaca untuk tahu bahwa dia adalah lelaki yang dingin. Sasuke sendiri tahu bahwa dia tidak pantas untuk mendapatkan wanita itu. Naruko membutuhkan lelaki yang mencintainya, dan dia tidak mencintai wanita itu.
"Takano-san," Sasuke berujar pelan. Dia tersenyum singkat. "Congratulations. Atas pertunangannya," dia tidak tahu bagaiman caranya dia bisa mengucapkan kalimat itu sambil tersenyum. Sasuke menengadah, menatap pintu kamar yang tertutup tersebut. Dia memutar tubuhnya dan berjalan pergi.
xxx
01:13 AM
3rd January 20XX
"Lelaki aneh."
Naruko memutar kepalanya, menatap Reiko yang masuk sambil membawa air minum. "Siapa?" wanita itu mengedipkan mata sesaat, menahan rasa pusing yang mulai menghantamnya. Dia benar-benar minum terlalu banyak. Sudah lama sekali dia tidak minum alkohol sejak Kyou lahir. Sebenarnya dia merasa sedikit bersalah, meninggalkan anaknya pada Sasuke begitu saja. Tapi dia tahu kalau Sasuke akan melakukan tugasnya dengan baik. Selain itu dia juga yakin kalau Sasuke senang dia pergi menginap di rumah Sai, jadi dia bisa memiliki Kyou seharian.
"Entahlah," Reiko menaikkan bahunya. "Teman Sai sepertinya."
"Oh," Naruko meneguk air minum di depannya, tidak terlalu memperhatikan Reiko. Pikirannya sekarang sudah melayang pada bayi yang baru saja berumur satu tahun itu. Ahh, I miss my baby…
"Dia tampan," Reiko cekikikan. "Kalau saja aku dua puluh tahun lebih muda, aku pasti akan merayunya."
Naruko balas tertawa.
"Tapi dia aneh. Dia bilang sesuatu yang aneh padaku."
"Apa?" Naruko tersenyum. Mungkin nanti dia akan menelpon Sasuke, tidak peduli meski cowok itu mengabaikannya lagi. Naruko hanya ingin tahu akan Kyou.
"Congratulations," Reiko menaikkan sebelah alis. "Atas pertunangannya."
Naruko terpaku. Yamato-sensei? Dia menaikkan sebelah alis. Tapi bukannya Yamato sedang ada di Jepang? Jadi siapa yang berbohong sebenarnya? Sai atau Yamato? "Apakah dia orang Jepang?"
"Iya."
Naruko menghela napas. Yamato ada di sini. "Apakah dia sekitar berumur 40an tahun… dengan mata seperti mata kucing…"
"Tidak," Reiko tertawa.
"Tidak?" Naruko semakin bingung. Bukan Yamato? "Siapa kalau begitu?"
"Dia tampan sekali, masih muda, seusia Sai sepertinya," Reiko bergumam. "Jangkung… rambut hitam raven… mata onyx tajam…"
Naruko mematung. Tangannya langsung terasa dingin. Tidak mungkin.
"Dia mengenakan kemeja hitam, jeans... dan dia…"
Kemeja hitam… Gelas di tangannya nyaris terjatuh. "… mirip dengan Sai?"
"Ah, wajah mereka lumayan mirip," Reiko berujar. "Kau kenal dengannya? Dia berjalan pergi begitu saja, tersenyum dan mengucapkan selamat. Memangnya siapa yang bertunangan?"
Naruko menggertakkan gigi.
Sasuke Uchiha.
Dia yang ditelpon Sai.
Naruko cepat-cepat meletakkan gelasnya. Tidak. Tidak. Pikir baik-baik, wanita itu menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan dirinya. Sasuke seharusnya menjaga Kyou. Tidak mungkin Sasuke meninggalkan anaknya yang tersayang begitu saja. Naruko terdiam lagi. Atau jangan-jangan… Dia menyabet ponselnya, langsung menelpon Itachi. Teleponnya diangkat dalam deringan pertama.
"Itachi, apakah kau ada di rumah sekarang bersama Kyou-chan?" Naruko bertanya dengan panik.
"Hn," Itachi menjawab singkat.
Naruko mengerang. "Dan Sasuke… Sasuke mana?"
"Sasuke tidak ada di sini. Kukira Sasuke sudah di sana dan mengucapkan selamat untukmu?"
Naruko mengerang lagi. Jadi benar dugaannya. Sasuke datang ke sini, Itachi yang menjaga Kyou. "Dengar. Sasuke sudah pergi. Dia salah paham. Sai hanya bercanda ketika dia menelpon Sasuke…"
"Tidak," Itachi memotong. "Sai menelponku."
Naruko melongo. "Kau yang ditelpon Sai?" Sifat setan Sai ini entah mau sejauh apa. "Tunggu. Kalau begitu aku yakin kalau kau tahu bahwa Sai hanya main-main. Dan kau tetap bilang pada Sasuke?"
"Hn."
Oke, sepertinya Itachi lebih setan dari Sai.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada kalian berdua, tapi kalian berdua dilarang untuk kembali ke rumah sampai urusan kalian selesai," Itachi langsung memutuskan panggilan, membuat Naruko semakin melongo.
Apa-apaan?
Dia terdiam sebentar, memutar otaknya dengan cepat. Sasuke belum ada di rumah… jadi ada kemungkinan Sasuke masih ada di tempat ini sekarang. "Ah, aku…" Naruko tiba-tiba beranjak, menyabet tasnya. "Aku harus pergi."
"Kemana? Sekarang?" Reiko terbelalak. "Kenapa tiba-tiba… bukankah kau seharusnya menginap di sini malam ini?"
"Maaf, Reiko-san," Naruko berujar cepat. "Tapi aku harus pergi," suaranya bergetar. "A-aku bisa panggil taksi… jadi kau tidak perlu memanggil Sai."
Tanpa menunggu balasan dari Reiko, Naruko langsung keluar kamar. Dia mendorong kerumunan, berusaha untuk keluar dari rumah yang penuh dengan artis dan aktor ini.
"Ah!" Jeritan seorang wanita membuat Naruko memutar tubuhnya. "Kau menginjak kakiku!"
"Maaf!" Naruko menatap wanita berambut merah panjang di depannya dengan tatapan panik. "Aku terburu-buru dan…"
"Ah kau toh!" Wanita itu mendengus. "Kau mencari Sasuke? Sayang sekali. Dia sudah melesat dengan ferrarinya."
Naruko berkedip. "Kau… kenal Sasuke?"
"Oh please," wanita itu memutar bola matanya. "Kami teman seks."
Naruko langsung terpaku.
"Ah? Kau kaget?" Wanita itu cekikikan. "Tenang saja, bukan hanya kita berdua. Masih ada sekitar dua model lagi di tempat ini yang menjadi teman seksnya."
Naruko menggelengkan kepala sesaat, tertawa nyaring dan mundur selangkah. "Begitu?" Dia memaksakan senyuman.
Tentu saja. Apa yang dia pikirkan? Tenggorokan Naruko tercekat. Aku besar kepala. Sasuke tidak pernah sekali pun peduli denganku. Sasuke ke sini untuknya? Sasuke ke sini untuk bertemunya? Apa yang dia pikirkan? Sasuke ke sini untuk bertemu dengan teman seksnya.
"Kau tidak cantik," wanita itu menaikkan sebelah alis. "Kenapa Sasuke memilihmu menjadi partner seksnya?"
Naruko berkedip sesaat. Entah bagaimana caranya, wanita ini tahu kalau dia dan Sasuke punya hubungan. Di satu sisi, Naruko ingin langsung lari dari tempat ini dan bersembunyi di suatu tempat. Di sisi lain, dia ingin tahu kenapa wanita ini bisa tahu dengannya. "Aku bukan teman seksnya," Naruko menarik napas. Dia lebih parah dari itu. Dia hanya pengganti kakaknya. "Kenapa kau tahu… akanku?"
"Sebenarnya aku tidak terlalu tahu akanmu," wanita itu meneguk birnya. "Tapi… sekitar 9 bulan yang lalu. Aku bertemu dengannya di airport."
Bulan April, batin Naruko. Itu ketika Sasuke harus keluar kota dalam urusan bisnis. Dan pada saat itu, Kyou berusia 4 bulan. Sasuke seks dengan wanita lain?
Perut Naruko langsung terasa mual.
"Dia baru kembali ke New York. Dan aku langsung ke arahnya, hendak mengajaknya seks. Toh sudah setahun lebih kami tidak melakukan itu," dia mendengus.
Setahun lebih? Itu ketika… Kyou sudah lahir… Naruko terdiam. Jadi Sasuke… tidak pernah seks lagi setelah Kyou lahir…
"Dia tiba-tiba memutuskan hubungan. Jadi kukira dia sudah punya partner baru," wanita itu mengerutkan kening. "Tapi aku tetap ingin mengejutkannya. Jadi ketika dia sedang di antrian untuk mengambil taksi, aku berdiri di sisinya dan anehnya, Sasuke Uchiha yang biasanya siaga itu tidak merasakan kehadiranku. Dia sibuk melihat ponselnya."
"Lalu?"
"Dan yang terpancar di ponselnya itu adalah fotomu."
Naruko terpaku. "Foto… ku?"
Wanita itu mengangguk. "Aku yakin. Foto selfie. Wanita berambut pirang panjang," dia mendengus.
Naruko terdiam sesaat, memutar ingatannya. Dia ingat. Sasuke meminta dikirimkan foto Kyou. Jadi Naruko memotret Kyou dan mengirim foto-foto itu padanya. Namun pada waktu itu dia merasa jahil jadi dia menyelipkan foto selfie-nya pada Sasuke.
"Dan ketika Sasuke tersenyum sambil melihat foto itu, aku tahu kalau kau dan dia punya hubungan. Tapi aku tidak bisa membayangkan Sasuke yang punya kekasih. Jadi kalian pasti hanya sex buddy," wanita berambut merah panjang itu meneguk birnya lagi.
"A…" Naruko membekap mulutnya. "Kami bukan… teman seks."
"Begitu?" Wanita tersebut menaikkan sebelah alis. "Tapi pastinya kalian pernah seks bukan?"
Semburat merah di wajah Naruko membuat wanita itu tertawa. Naruko memutar tubuhnya, hendak pergi, namun wanita tersebut menghentikannya.
"Hei, sebelum kau pergi… aku ingin tanya sesuatu."
"Apa?"
"Apakah kalian berciuman ketika kalian seks?"
Naruko menaikkan sebelah alis. Pertanyaan aneh macam apa itu? "Tentu saja."
Wanita itu terbelalak sesaat. "Begitu…" dia tersenyum lemah. Dia mengangkat birnya sesaat. "Toast, untukmu."
Kening Naruko berkerut. "Apa maksudmu?"
Wanita itu meneguk birnya. "Sasuke tidak pernah menciumku."
Naruko terpaku, berkedip.
"Meski kami sudah seks berkali-kali … dia selalu mendorongku setiap kali aku mencoba untuk menciumnya. Apa yang kami lakukan… hanyalah seks. Tidak lebih," dia tersenyum pahit. "Dia bahkan menepis tanganku ketika aku mencoba untuk menyentuhnya."
Naruko tidak menjawab. Sekilas, bayangan Sasuke yang melumat bibirnya muncul. Sasuke yang menciumnya. Sasuke yang mendesah ketika Naruko menyentuhnya. Sasuke yang tersenyum mengejek, merabanya tanpa henti. "A… aku harus pergi."
Wanita itu mengangguk, meringis. "Sampaikan salamku pada Sasuke."
Naruko berkedip. Perlahan-lahan dia tersenyum. "Tidak."
Wanita itu menaikkan sebelah alis.
"Sasuke…" Naruko menatap wanita itu dengan tatapan tajam. "Dia milikku."
Tunggu.
Wajah Naruko langsung terbakar. Sasuke miliknya? Sejak kapan dia bisa mengatakan sesuatu yang posesif seperti itu? Dewa di atas sana pasti sudah geleng-geleng kepala melihatnya.
Wanita di depannya tertawa nyaring, menatap Naruko dengan tatapan berseri-seri. "Go, girl. Kick that Uchiha's ass."
Naruko balas tertawa, melambaikan tangan dan melesat keluar dari rumah Sai.
xxx
01:45 AM
3rd January 20XX
Banyak yang bilang padanya kalau dia mirip Minato Namikaze.
Naruko tidak tahu seperti apa ayahnya. Dia tidak pernah bertemu dengan ayahnya. Setelah dia lahir, ayah dan ibunya tewas karena kecelakaan.
Banyak yang bilang kalau dia mewarisi ketenangan Minato, Naruto mewarisi kejahilan Kushina…
Tapi pada hari ini juga, Naruko ingin melapor pada dunia kalau dia tidak setenang Minato. Dia bisa jahil seperti Kushina.
Bel kamar hotel ini berbunyi, membuat Naruko membuka matanya. Wanita itu sedang berbaring di ranjang hotel, masih mengenakan dress selutut. Perlahan-lahan dia beranjak, membuka pintu. Dia langsung bertemu mata dengan mata onyx tajam.
Mata Sasuke Uchiha.
"Apa maumu?" Suara Sasuke dingin, tajam. Lebih mencekam dari biasanya.
Naruko berkedip. Dia berusaha menahan senyuman geli. Dia masih ingat. Dulu di Jepang, di malam pernikahan Naruto, dialah yang mengetuk kamar hotel Sasuke. Ketika Sasuke membuka pintu, cowok itu juga mendesis 'apa maumu' dengan nada yang dingin seperti itu. Namun, senyuman Naruko menghilang ketika dia mencium bau alkohol yang menyeruak dari mulut Sasuke.
"Kau dari mana?"
"Bukan urusanmu," Sasuke mendesis lagi. "Kalau kau tidak ada urusan denganku, aku akan…"
"Tunggu," Naruko menyabet tangan Sasuke dan menyeret lelaki itu masuk ke dalam kamarnya. "Aku mau bicara."
Sasuke terdiam, membiarkan Naruko membawanya masuk ke dalam kamar hotel. Lelaki itu menghempaskan tubuhnya di sofa. Matanya tidak lepas dari mata Naruko. "Lima menit."
Naruko memutar bola matanya. "Memangnya kau mau ke mana setelah lima menit? Aku yakin Itachi juga melarangmu pulang ke rumah. Makanya kau tadi nongkrong di bar minum bukan?"
Sasuke mendelik sesaat, menatapnya dengan tatapan 'kau-tahu-dari-mana'. Naruko kembali memutar bola matanya.
"Aku jenius. Karena itu aku tahu."
"Dan kenapa kau ada di sini?" Sasuke masih mendelik. "Kukira kau akan menginap di rumah tunanganmu malam ini?"
Naruko terdiam sesaat. Dia duduk di ranjangnya, menatap Sasuke. Jujur, dia tidak tahu dia mau apa memanggil cowok itu di sini. Dia bahkan memancing Sasuke dengan mengirim SMS 'temui aku untuk terakhir kalinya sebelum aku menikah' pada lelaki itu. Naruko menghela napas, membayangkan Sasuke yang mengamuk setelah tahu bahwa dia sudah ditipu tiga orang dalam malam ini.
"Aku ingin bertemu denganmu, karena itu aku pergi dari pesta Sai dan ke sini," Naruko berbisik pelan. Dia menundukkan kepalanya ketika dia mengucapkan kalimat itu. Dia menengadah sesaat, langsung bertemu mata dengan Sasuke. Naruko memperhatikan mata hitam Sasuke yang tajam. Ah… tenggorokannya terasa tercekat. Wanita itu tertawa lemah, matanya pedih. Entah kenapa… dia tidak pernah bisa lepas dari mata itu. Dari kecil… sampai sekarang.
Naruko beranjak, berjalan perlahan ke arah Sasuke yang masih duduk. Lelaki itu menengadah, menatapnya tanpa berkedip. Perlahan-lahan Naruko mengulurkan tangannya, ujung jarinya menyentuh wajah Sasuke.
Dia bahkan tidak membiarkanku menyentuhnya. Ucapan wanita berambut merah itu terngiang-ngiang di kepala Naruko.
Naruko menggigit bibir, memejamkan matanya erat-erat dan menunduk, membenamkan wajahnya di lekukan leher Sasuke. Dia menunggu lelaki itu untuk mendorongnya, menunggu lelaki itu untuk menghentikannya. Namun Sasuke hanya duduk diam, membiarkan Naruko menyentuhnya. Naruko tertawa pelan, jarinya menempel di bahu bidang Sasuke.
"Kau menangis," Sasuke berbisik.
Naruko menengadah, matanya bertemu dengan mata Sasuke yang hanya berjarak beberapa senti darinya.
"Sepertinya begitu," Naruko terisak, membiarkan Sasuke mengusap wajahnya.
"Kenapa?"
"Karena aku sadar…" Naruko menyenderkan wajahnya di tangan Sasuke. "… kalau aku masih mencintaimu. Sejak pertama kali mata kita bertemu di balik kegelapan. Sampai sekarang."
Sasuke tidak menjawab, hanya mengusap wajahnya. "Jangan menikah kalau begitu," ucapan itu sudah menyelinap keluar dari mulut Sasuke tanpa lelaki itu sadari. "Jangan menikah dengan Sai."
Naruko mengangguk, memeluk erat Sasuke. "Aku tidak akan menikah dengan Sai."
Sasuke terpaku sesaat. "Kau akan membatalkan pertunanganmu begitu saja?"
"Kami tidak bertunangan," Naruko berujar cepat. "Itachi dan Sai membohongimu."
Sasuke terpaku lagi. Lelaki itu menatap Naruko dengan tatapan kosong, membuat Naruko meneguk ludah. Mata hitam Sasuke melirik, menatap tangan Naruko. Sasuke tidak melihat cincin menempel di sana. "Kalian menipuku," Sasuke mendesis.
Naruko meneguk ludah. Dia memejamkan matanya erat-erat, menunggu semua sumpah serapah keluar dari mulut Sasuke. Namun, dia tidak mendengar apa-apa. Malahan, dia merasakan Sasuke yang memeluknya dengan erat.
"Bagus," lelaki itu berbisik pelan. "Bagus."
Naruko menahan diri untuk tidak melongo. Demi apa… dia tidak pernah melihat Sasuke yang seperti ini.
"Janji padaku," Sasuke mendelik sesaat. "Jangan pernah bertunangan dengan Sai. Meski pun dia melamarmu."
Naruko mengangguk.
"Jangan kencan dengan siapa pun," Sasuke melanjutkan. "Jangan dekati lelaki mana pun."
Naruko mengangguk lagi.
"Jangan…"
"Oi," Naruko melepaskan pelukannya, mendelik. "Kau mau meminta sampai kapan?"
Sasuke mendengus, mengabaikan Naruko dan kembali membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Naruko sekarang duduk di pangkuannya, lengannya melingkar di pinggang Naruko, seakan-akan mengekang wanita itu. "Kalau kau mau menurutiku, aku juga akan menuruti kemauanmu."
"Begitu?" Naruko terbelalak, menatap Sasuke dengan tatapan tidak percaya. "Sasuke The Uchiha ini mau menurutiku?"
"Kau punya waktu satu menit untuk mengatakan permintaanmu," Sasuke menggeram, membuat Naruko tertawa.
"Apa ya…" Naruko bergumam. "Aku…" dia terdiam sesaat. Dia baru sadar, kalau dia tidak mengharapkan apa pun dari Sasuke. "Jujur… aku tidak pernah membayangkan aku meminta sesuatu darimu. Karena aku tidak mengharapkan apa-apa darimu," dia tertawa kaku. "Aku tidak terbiasa… kau tahu. Sejak kecil aku sudah di panti asuhan. Aku tidak berani minta macam-macam. Aku hanya menerima saja. Aku berbeda dengan nii-chan yang selalu ingin keluarga. Aku sudah cukup puas dengan keberadaan nii-chan pada waktu itu."
Sasuke tidak menjawab.
"Jadi… aku tidak akan minta apa pun darimu," Naruko tersenyum. "Tapi aku tahu apa yang ingin aku miliki, sejak dulu sampai sekarang," mata birunya menatap Sasuke dengan dalam.
"Aku bisa memberikan perhiasan termahal untukmu," Sasuke membuka mulutnya. "Pakaian, perhiasan, mobil, rumah, apa pun itu. Aku bisa memberikan semua itu padamu. Tapi aku tahu bahwa bukan itu yang kau inginkan."
Naruko mengangguk.
"Kau menginginkan…" Sasuke terdiam. Dia tahu apa yang diinginkan Naruko. "Kau tidak bisa mendapatkan apa yang kau inginkan."
Naruko mengangguk lagi, tertawa. "Begitulah."
Sasuke kembali terdiam. "Aku tidak pernah punya kekasih, karena aku tidak pernah mencintai seseorang lebih dari aku mencintai kakakmu."
Naruko mengangguk. "Aku tahu."
"Aku tidak pernah berpikir untuk menikah," Sasuke berujar lagi. "Karena klan Uchiha belum mengharuskan aku untuk menikah. Setidaknya jika mereka sudah menemukan seseorang, orang itu akan dijodohkan untuk Itachi dulu."
"Aku tahu."
"Dan aku tidak pernah membiarkan seseorang," pelukan Sasuke menguat. "Mendekatiku sampai seperti ini," dia tersenyum pahit. "Bahkan tidak pada Naruto."
Naruko mengangguk, tersenyum lemah. Dia menunduk, menempelkan bibirnya di pipi Sasuke.
"Aku tidak bisa memberimu perjanjian, maupun kontrak," lelaki itu melanjutkan. "Aku tidak bisa memberimu bukti kalau aku akan terus bersamamu."
"Aku ta…"
"Tapi aku berjanji," mata onyx Sasuke menatapnya dengan tajam. "Aku berjanji kalau aku akan berada di sisimu, selama kau mencintaiku. Selama kau masih menginginkanku."
Naruko berkedip. "Kau… berjanji…" suaranya tercekat. Apa dia tidak salah dengar? "Tapi aku yakin kalau aku tidak akan berhenti mencintaimu..." air matanya menetes.
"Kalau begitu aku akan terus berada di sisimu," Sasuke mendengus. "I give you my word," Sasuke memejamkan mata, mengusap wajahnya di lekukan leher Naruko. "A promise," dia mengecup leher wanita itu. "A vow."
Naruko terisak, tidak mempercayai pendengarannya. "Kau serius?"
"Kapan aku pernah bercanda?" dia mendelik, membuat Naruko tertawa. Wanita itu mengusap air matanya, menatap Sasuke dengan berseri-seri.
"Jadi… kau akan ada di sisiku?"
Sasuke mengangguk.
"Makan malam bersama?"
Sasuke mengangguk lagi. "Selama aku tidak di luar kota karena kerja."
"Mungkin sekali-kali…" Naruko bertanya pelan. "Kita piknik? Ajak Itachi juga?"
Kening Sasuke berkedut sesaat, tapi dia mengangguk.
"Lalu…" Naruko meneguk ludah, wajahnya memerah. "Tadi di pesta… aku bertemu dengan salah satu… teman seksmu…"
Sasuke mematung. Dia menggeram, meraih wajah Naruko dan memaksa wanita itu untuk menatap matanya. "Mereka bukan apa-apa. Dibandingkan denganmu, mereka…"
"Aku tahu, aku tahu," Naruko cepat-cepat menenangkan Sasuke. "Aku hanya mau bilang…" Naruko meneguk ludah, wajahnya memanas. "Aku tidak mau kalau kau menemui mereka lagi. Kalau kau punya… napsu untuk seks…" wajahnya semakin terbakar. "Kalau kau mau, aku tidak keberatan. Bersamaku maksudnya."
Sasuke berkedip.
"Cuma usul saja," Naruko berujar lagi. "Terserah kalau kau tidak mau. Aku sendiri tidak mau kau anggap sebagai teman seks saja."
Lelaki berambut raven di depannya ini menatapnya dengan tatapan takjub. "Kalau aku menganggapmu sebagai teman seks," jari-jari Sasuke menelusuri lekuk pinggangnya, membuat Naruko bergidik. "Sekarang kita tidak akan bicara. Di detik ini aku sudah mendorongmu di dinding terdekat, menyantapmu," napas panas Sasuke menerpa telinganya, membuat Naruko mengerang sesaat.
"Ja-jadi…" Naruko meneguk ludah. "Aku… lebih dari… teman seks?"
"Sekali lagi kau menanyakan pertanyaan bodoh itu, akan kulumat kau sekarang juga," Sasuke menggeram, membuat Naruko menahan senyum. Wanita itu perlahan-lahan beranjak, berjalan pergi dari Sasuke, mengabaikan tatapan bingung lelaki itu.
"Aku mau mandi," Naruko meringis. "Mau ikut?"
Sasuke menaikkan sebelah alisnya. Dia tersenyum sesaat, beranjak dan melepaskan kancing kemejanya. Di detik ketika Sasuke berjalan menuju kamar mandi, Naruko langsung menghantam pintu kamar mandi itu tepat di wajah Sasuke, membuat lelaki tersebut menggeram. Naruko tertawa kencang, membuka pintu dan mengusap wajah Sasuke yang mengerut.
Dia tidak akan pernah puas melihat wajah merajuk Sasuke ini.
Masih banyak hal yang ingin dia tanyakan pada Sasuke. Misalnya... apakah dia bagi Sasuke. Apakah Sasuke masih menganggapnya sebagai pengganti Naruto? Apakah Sasuke masih suka pada Naruto?
Tapi semua itu bisa menunggu.
Di detik ini Naruko tahu bahwa Sasuke menganggapnya spesial. Tidak tahu seperti apa. Yang pasti bukan sebagai kekasih, bukan juga sebagai partner seks. Ketika Sasuke merangkulnya dari belakang, mengecup punggungnya dengan pelan sambil melepaskan pakaiannya, Naruko tahu bahwa di mata Sasuke, dia bukanlah wanita sembarangan.
Uchiha keras kepala, Naruko mendengus sesaat. Dia akan pelan-pelan membuat Sasuke mengakui kalau dia itu spesial di depan matanya.
Toh dia punya janji Sasuke. Lelaki itu tidak akan meninggalkannya lagi.
Sasuke akan terus ada di sisinya.
TBC
AN: aaahhh! Nyengir-nyengir nulis chapter ini!
cacuke keras kepala... ngaku kek kalau lu suka Naruko! #plak
kira-kira fiction ini tamatnya di chap 9 atau 10 :)
makasih udah baca! Sampai jumpa di chapter berikutnya :)
