Disclaimer: Masashi Kishimoto
Enjoy!
Chapter 9
.
.
.
.
.
08:18 AM
5th January 20XX
Naruko bergumam sambil membolak-balik buku resep yang di depannya. Sasuke duduk di seberang, mengunyah roti dan menyeruput teh sambil membaca koran. Sesekali lelaki itu menengadah, menatap Naruko. Dan tentu saja, Naruko pura-pura tidak tahu dan terus membaca resep di depannya dengan wajah datar. Di dalam hati, dia berusaha setengah hidup setengah mati untuk tidak menyeringai lebar seperti orang tolol.
"Kau tidak menulis?" Sasuke bertanya setelah 17 kali melirik Naruko.
Kali ini, Naruko tidak bisa menahan senyumannya. Sasuke Uchiha memulai percakapan duluan? Keajaiban dunia telah terjadi.
"Tidak. Aku sedang cuti," Naruko menyeringai, membuat Sasuke terpaku sesaat. Lelaki itu tidak terbiasa melihat Naruko yang tersenyum seperti itu.
"Kau… senang," dia berujar pelan.
"Aku senang," Naruko mengiyakan. "Kau mau sarapan lagi bersamaku."
Sasuke tidak menjawab, kembali membaca korannya.
"Sekali-kali ajak Ita…"
"Tidak," Sasuke langsung memotong, membuat Naruko meringis. Wanita itu beranjak sesaat, meninggalkan Sasuke dan pergi ke kamarnya. Sudah waktunya Kyou bangun dan benarlah insting Naruko. Ketika dia masuk ke kamarnya, dia melihat Kyou yang menggeliat di kasur. Sang ibu muda meringis, menunduk dan menatap bayinya.
"Ohayou," Naruko mengecup pipi Kyou.
"Mamma," mata biru Kyou berkedip sesaat, menahan rasa kantuk. Dia mengulurkan lengannya yang montok, minta digendong. Naruko langsung meraup bayinya, membawa Kyou ke dapur. "Ugeege," jari mungil Kyou menunjuk ke arah lelaki berambut raven yang membaca koran.
"Sasuke," Naruko membenarkan.
"Ugege," balas Kyou, keras kepala.
Naruko menghela napas, tersenyum simpul melihat mata biru bundar di depannya. "Aku tidak akan heran jika dia memanggilmu Uge atau Ugege sampai dia besar nanti," Naruko memberikan Kyou pada Sasuke yang langsung meletakkan korannya.
"Tidak apa," Sasuke menjawab tenang, seakan-akan sudah pasrah menerima nasib. "Asal bukan Uke saja."
Naruko tertawa kencang, membuat Kyou tersentak kaget.
xxx
23:45 PM
14th February 20XX
"Hei, kau kasih apa untuk pacarmu?"
"Biasa. Gelang… kalung… bunga… Kau?"
"Ah aku? Pacarku suka…" ucapan para satpam itu langsung membungkam mulutnya ketika melihat Sasuke melintas. Sang vice-president dari Uchiha Corp itu mendelik tajam, membuat karyawannya meringkuk ketakutan di pojok gedung.
"Mr. Uchiha," supir mobilnya menunggu di depan kantor, cepat-cepat mengenakan mantel di sekitar tubuh Sasuke. "Bagaimana hari anda, sir?"
Sasuke menjawab dengan geraman, membuat supirnya mundur tiga langkah. Pekerjaannya hari ini menjadi jauh lebih lama dan rumit karena karyawan-karyawannya yang patut untuk ditembak mati itu. Banyak yang pulang lebih awal hari ini dengan alasan 'valentine'. Siapa pun yang menciptakan hari valentine ini wajib untuk dihukum mati.
Di Jepang, hari Valentine adalah hari khusus untuk gadis-gadis memberi cokelat pada lelaki idaman mereka. Tapi di Amerika, valentine dirayakan oleh kedua pihak. Sasuke mendengus, masuk ke dalam mobil BMW hitamnya. Dia menyalakan ponselnya, menerima foto dari Naruko. Dia terpaku sesaat melihat foto Kyousuke yang tertidur lelap. Di bawah foto itu, ada pesan dari Naruko.
'Aku sudah taruh makan malammu di kulkas. Kalau kau mau, hangatkan saja di microwave. Kami tidur dulu. Night.
Naruko U.'
Sasuke terdiam. Salah satu 'perjanjian' antara dia dan Naruko adalah dia harus kembali ke rumah tepat waktu untuk makan malam bersama. Dan hari ini, dia terlalu sibuk sampai dia tidak sempat mengirim SMS pada Naruko dan bilang kalau dia tidak bisa makan malam bersamanya.
Apakah Naruko akan marah dan mengira kalau dia mengingkar janji?
Sasuke menggelengkan kepala. Dia tahu kalau Naruko tidak marah. Toh wanita itu mengirimkan foto Kyousuke padanya. Sasuke pernah sekali membuat Naruko marah. Itu ketika Sasuke yang memanjakan Kyousuke, memberinya snack terlalu banyak. Naruko mendelik ke arahnya sepanjang hari.
Melotot. Sepanjang hari.
Bahkan Sasuke tidak tahan jika dipelototi seperti itu. Dia langsung pergi dari rumah dengan alasan kerja, tapi tak lama kemudian, dia mendapat pesan dari Naruko.
'Pisau yang baru kubeli ini bagus sekali untuk memotong. Kau setuju?
Naruko U.'
Dan di bawah pesan itu terdapat foto daging merah yang dicincang-cincang beserta pisau tajam mengkilat.
Sasuke bergidik sesaat ketika teringat akan pengalaman itu. Apa pun itu, dia bersyukur karena Naruko tidak marah kali ini.
Sasuke terdiam sesaat, menoleh ke arah jendela. Dari sana, dia bisa melihat bangunan-bangunan tinggi dan jalan yang dipenuhi lampu. Nyaris setiap toko yang dilewatinya terdapat balon-balon pink dan hiasan berbentuk hati.
Jika dipikir-pikir… Naruko sama sekali tidak mengatakan apa pun tentang valentine.
Sasuke tidak tahu kalau hari ini adalah hari valentine sampai dia datang ke kantor tadi. Beberapa karyawan memberanikan diri dan memberinya cokelat.
"Hei, kau kasih apa untuk pacarmu?"
"Biasa… gelang… kalung… bunga… Kau?"
Sasuke mendengus, teringat akan percakapan dua satpam tadi.
Kenapa dia harus memikirkan valentine? Hari valentine ini akan berakhir dalam hitungan detik. Selain itu, Naruko bukan pacarnya dan Naruko tidak pernah tertarik pada gelang kalung atau bunga. Yang bisa membuat wanita itu tersenyum hanyalah…
Sasuke terdiam, teringat akan Naruko yang menyunggingkan senyuman lebar setiap kali Sasuke masuk ke dalam rumahnya.
Pikiran Sasuke terputus ketika dia sampai di depan kondominium. Dia turun dari mobil, langsung masuk ke lift dan berjalan menuju rumah Naruko. Ketika dia masuk, semua lampu sudah dimatikan kecuali lampu remang-remang di dekat meja makan. Sasuke terpaku ketika dia melihat bingkisan mungil di dekat meja. Dia meraih bingkisan berbentuk persegi itu dan menatap kartu di depannya.
'Tenang saja, di dalam ini cokelat whiskey yang pahit. Khusus kubuat untuk Sasuke The Uchiha yang benci manis.'
Sasuke membaca tulisan rapi Naruko.
'Happy valentine's day.'
Naruko adalah orang yang paling tidak egois yang pernah ditemuinya. Dia tidak pernah meminta, dia hanya menerima. Dan selama ini, Naruko selalu memberi sesuatu padanya tanpa mengharapkan balasan apa pun. Foolish woman, Sasuke mengepalkan tangan. Padahal kalau Naruko meminta sesuatu padanya, dia pasti akan memberi apa yang dia mau.
Tapi Naruko tidak ingin apa pun kecuali kau.
Sasuke menggertakkan gigi. So? Masa dia harus melingkarkan pita di lehernya?
Dia akan memberi apa pun yang diminta Naruko. Semua, kecuali dirinya.
Sasuke tersenyum pahit. Sepertinya ego Uchihanya benar-benar sudah tertanam sampai ke akar rambutnya. Sampai sekarang dia tidak bisa membayangkan dirinya yang bertekuk lutut di depan orang lain, apalagi seorang wanita.
Sasuke membuka bingkisan itu, menatap enam butir cokelat bundar yang berwarna hitam pekat. Sasuke melahap satu cokelat dan senyuman singkat muncul di bibirnya. Seperti kata Naruko, rasanya pahit. Tapi… dia merasakan sedikit rasa manis dari cokelat itu.
Sasuke melahap satu cokelat lagi dan berjalan masuk ke dalam kamar Naruko.
xxx
09:50 AM
14th March 20XX
"Heeh? Dia memberimu apa?"
"Tiket makan gratis di Ichiraku sampai sebulan, dattebayo!"
Naruko tertawa kencang. Bahkan lewat telepon saja, kakaknya terdengar sangat bahagia. Mau bagaimana lagi, Ichiraku saja bisa membuat Naruto melayang, apalagi dengan fakta bahwa Sakura yang memberi hadiah itu. Di Jepang sekarang sudah jam 10 malam. Nyaris jam 11. Hari white day nyaris berakhir di Jepang dan kakaknya masih ceria seperti itu.
"Ngomong-ngomong bagaimana denganmu Naruko?" Naruto bertanya. "Bagaimana dengan white day di sana?"
"Hmm," Naruko mengunyah rotinya sambil memangku Kyou. Bocah itu sekarang sudah berusia setahun 3 bulan. Kalau dia tidak memangku Kyou, anaknya ini akan langsung berkeliaran, memanjat kursi dan segala jenisnya. "Di Amerika tidak ada yang namanya white day, nii-chan. Hanya ada valentine day. Cewek cowok saling memberi hadiah di valentine day. Tapi yaah…" Naruko menatap kue cokelat di depannya dengan hiasan Eiffel Tower. "Sai tadi mengirimku kue sih. Dia padahal ada di Paris sekarang tapi dia mengirim kue dari sana. Baru sampai tadi."
Di detik itu juga, Kyou langsung mengayunkan tangannya, membuat hiasan menara di kue itu runtuh.
"Ahh! Kyou-chan!" Naruko mengeluh. "Kue ini mahal tahu."
"Kau yakin kau tidak akan menikah dengannya, Naruko?" Naruto bertanya dengan was-was. "Dia terlihat sangat mencintaimu."
"Tenang. Tenang," Naruko menyabet krim yang terjatuh di meja dan melahap krim tersebut. "Dia cinta padaku, tapi bukan cinta yang begitu. Toh aku sendiri mengirim cokelat untuknya waktu valentine. Pada waktu itu dia ada di Korea. Dua bulan ini dia keliling dunia, banyak projek."
"Begitu?" Naruto mendengus. "Bagaimana dengan si teme itu? Dia ada di sana?"
"Tidak," Naruko meringis. Tidak pernah berubah. Dari dulu sampai sekarang Naruto selalu memanggil Sasuke 'teme'. "Dua minggu lalu dia ikut Itachi ke Hong Kong. Bisnis," Naruko menghela napas sesaat. Tidak ada Sasuke dan Itachi… dia harus mengurus Kyou seorang diri dan itu bukan hal yang mudah. Apalagi sekarang Kyou sudah bisa berjalan dengan cepat dan memanjat semua perabotannya.
"Kalau begitu… bagaimana dengan kabar bocah tengil…"
Suara bel yang berbunyi membuat Naruko menghela napas lagi. "Nii-chan. Tunggu. Ada yang datang. Aku telpon nanti malam oke?" Naruko memutuskan panggilan, cepat-cepat menurunkan Kyou dan berjalan menuju pintu. Apakah itu editornya? Tapi dia belum mengirim naskah ke kantor redaksi. "Yes?" Naruko membuka pintu. Dia berkedip ketika melihat tukang kurir yang berdiri di depan rumahnya. Setengah jam yang lalu baru saja dia menerima sesuatu dari Sai dan Naruko tidak ingat kalau dia ada memesan sesuatu.
Kali ini siapa yang mengirimnya barang?
"Naruko Uzumaki?" Orang itu bertanya. Naruko mengangguk. "Sign here, please."
Naruko masih mengerutkan kening, menandangani formulir itu. Ketika sang kurir pergi, Naruko masuk ke dalam rumah, menatap bingkisan mungil di depannya dengan tatapan bingung. Dia terpaku sesaat ketika melihat alamat pengirim. Dia tidak kenal dengan nama pengirimnya, tapi nama tempat di sana jelas-jelas tertulis Hong Kong.
Hong Kong?
Bukankah Sasuke sedang ada di sana sekarang?
Dengan kecepatan kilat, Naruko membuka bingkisan itu.
Di dalam kotak itu tidak ada surat, kotaknya pun hanya kotak polos biasa.
Namun di dalam kotak itu, terdapat kalung sederhana yang terbuat dari emas putih. Rantai kalung itu mengelilingi batu mungil yang berbentuk oval.
Batu berwarna hitam kelam. Onyx stone.
Naruko menggenggam batu itu dengan erat, merasakan batu yang dingin itu. Dia tidak tahu kenapa, tapi tenggorokannya terasa sesak. Sambil menahan tangis, Naruko melingkarkan kalung itu di sekitar lehernya.
xxx
20:37 PM
26th April 20XX
"… and the little bunny said… don't take my carrot!" Naruko berseru dengan panik, memangku Kyousuke sambil membacakan buku yang ada di tangan anak itu.
"Bun… niii," Kyousuke bergumam, pipinya yang montok bergerak ketika dia membuka mulut.
"Benar. Bunny," Naruko tersenyum, mengusap rambut hitam Kyousuke. "Rabbit. Bahasa jepangnya adalah… usagi!"
"Uccagi," Kyousuke menengadah, menatap ibunya dengan mata biru yang bundar.
"Benar. Benar," Naruko tersenyum bangga.
Sasuke sedang duduk di seberang mereka. Lelaki mengangguk puas, menatap pemandangan di depannya. Di buku yang dibacanya, anak yang dibesarkan dengan dua bahasa punya kemampuan daya ingat dan fokus yang tinggi. Kyousuke sudah jenius sejak lahir dan dia yakin karena dibesarkan dengan dua bahasa, Kyousuke akan jauh lebih jenius. Dia berniat untuk membesarkan Kyousuke sampai anak itu bisa jenius lebih dari Einstein.
"I will tell my mommy and daddy if you take my carrot, said the little bunny with tears all over his face," Naruko memperagakan adegan menangis. Sasuke menahan senyuman. Kyousuke sejak tadi memperhatikan ibunya dengan wajah serius, sama sekali tidak tertawa atau tersenyum melihat ibunya yang berdongeng. Seakan-akan Naruko mengajarinya tentang zat-zat kimia saja, bukan membacakan buku cerita tentang kelinci yang suka wortel.
"Mammi," Kyousuke tiba-tiba menunjuk Naruko dengan jari mungilnya.
"Yes, kau benar. Mama ini mommy," Naruko meringis, mengusap rambut Kyousuke dengan bangga. "Bagaimana dengan dad…" ucapan Naruko terputus. Senyumnya menghilang dan dia menatap Sasuke dengan ragu. Wanita itu tersenyum lemah, kembali menatap buku di depannya.
Sasuke tahu apa yang dipikirkan Naruko. Mereka berdua tidak pernah menyebut kata 'papa' atau 'daddy' di depan Kyousuke. Mereka berdua tidak pernah mengajari Kyousuke kalau dia adalah 'daddy'nya. Sasuke terdiam, kembali membaca dokumen kerja di tangannya. Dia tidak keberatan. Sejak semula dia memang tidak berniat untuk mengaku kalau dialah ayah Kyousuke. Dia tidak kebereta…
"Dedd?" Kyousuke tiba-tiba berceloteh. "Dedded?" Dia menunjuk ke arah buku bergambarnya, mata birunya menatap Naruko.
"Daddy," Naruko membenarkan, senyumnya kembali muncul. "Daddy."
"Daddad."
"Daddy," Naruko mengangguk. "Papa. Daddy itu papa."
"Papapaaapp," Kyousuke semakin berceloteh.
"Benar," Naruko meringis. "Papap," sesaat, Naruko terdiam. Dia menoleh dan menatap Sasuke. Mata mereka berdua bertemu dan Naruko tersenyum lebar. "Papa. Sasuke," dia meraih Kyousuke dan mengecup pipi anak itu.
"Ugegee," Kyousuke membalas.
"Sasuke," Naruko tertawa, membenarkan.
"Ugege," Kyousuke melotot, seakan-akan Naruko yang salah.
Naruko tertawa kencang, merangkul Kyousuke dan menatapnya dengan girang. "Iya. Ugege. Papa," wanita itu menatap Sasuke lagi, tersenyum lebar. "Papa, Kyou-chan memanggilmu."
Sasuke terpaku, dia masih duduk di kursinya. Dadanya terasa nyeri sesaat. Lelaki itu menarik napas dalam-dalam, meletakkan dokumennya dan beranjak untuk menggendong Kyousuke.
xxx
13:28 PM
31st May 20XX
Mereka tidak pernah membicarakan tentang pernikahan karena mereka berdua tahu bahwa 'menikah' bukanlah pilihan.
Mereka juga tidak pernah mengucapkan kata 'kekasih'. Karena mereka tahu bahwa mereka bukan dan tidak akan menjadi sepasang kekasih. Hubungan mereka tidak 'seromantis' itu.
Mereka bukan teman seks, meski mereka terkadang seks bersama. Menurut Sasuke, teman seksnya itu berarti cukup bertemu untuk seks. Tidak ada ciuman, menyentuh dengan minimal, tidak ada percakapan, hanya 'bisnis'.
Dan mereka juga bukan teman. Mereka terlalu intim untuk disebut teman biasa.
Sahabat? Tidak. Kurang.
Orang yang dipercayai? Close enough.
Orang yang dicintai? Hmm…
Naruko mengunyah spagetinya sambil menatap Sasuke, memperhatikan lelaki itu makan. Sasuke menatap Naruko yang duduk di seberangnya, menaikkan sebelah alis. "Apa?"
"Tidak," Naruko menggeleng. "Aku hanya memikirkan sesuatu."
"Apa?" Sasuke bertanya lagi.
"Well…" Naruko bergumam. Satu jam yang lalu, Sasuke mengirim SMS untuknya, mengajaknya makan siang. Hari ini hari Minggu, Sasuke baru saja kembali dari luar kota dan langsung SMS untuk mengajak keluar. Naruko sebenarnya ingin membawa Kyou, tapi bocah itu sedang tertidur lelap sekarang. Dan kebetulan Sai ada di rumahnya. Jadi sekarang Kyou ada di rumah bersama Sai.
Semoga Sai tetap hidup sampai dia pulang nanti.
"Well?" Sasuke meletakkan pisau dan garpunya, mulai mengerutkan kening dan menatap Naruko dengan tatapan menuntut. "Apa yang kau pikirkan? Makanan di sini tidak sesuai seleramu?"
Naruko memutar bola matanya. "Ini restoran bintang lima bukan? Tenang saja, lidah kampungku ini sangat menghargai makanan di sini."
Sasuke tertegun sesaat, menatapnya dengan tatapan takjub. "Lalu? Apa yang kau pikirkan?"
Naruko kembali terdiam. Meski Kyou tidak ikut, Sasuke tidak terlihat keberatan. Lelaki itu dengan santai memesan makanan dan makan di depan Naruko. Selama mereka makan, sesekali mereka mengobrol, Sasuke tidak melepaskan matanya dari Naruko sama sekali. Hmm… Naruko menunduk, kembali mengunyah. Menarik. Dia melirik Sasuke lagi, dengan sengaja menyeruput spagetinya, membuat saus berpercikan.
Sasuke berkedip. "Saus," lelaki itu mengerutkan kening sesaat, mengusap saus di ujung hidung Naruko. "Apa yang kau pikirkan? Tidak biasanya kau makan dengan ceroboh seperti ini."
Bingo.
Naruko nyaris saja menyeringai. "Kau mau tahu apa yang kupikirkan sejak tadi?"
"Apa?" Sasuke tidak mempedulikan makanannya lagi, menatap Naruko dengan tajam dan penuh dengan rasa penasaran.
"Kau lihat cowok di seberang sana?" Naruko melirik ke kiri dan Sasuke langsung mengikuti pandangannya. "Dia ganteng sekali."
Sasuke langsung melotot.
Bingo.
Lagi-lagi Naruko berusaha untuk tidak menyeringai.
"Hahh… kau lihat ototnya yang kekar…" Naruko memutar spagetinya, mendesah. "Kekar sekali… tampan."
Sasuke semakin melotot, jari-jarinya sekarang mencegkram taplak meja.
"Dia gendut," Sasuke mendelik. "Itu bukan otot. Itu daging. Sapi saja lebih tampan darinya," sambil menggeram, Sasuke menusuk steak di depannya dengan sepenuh tenaga.
Di detik itu juga, tawa Naruko meledak.
xxx
10:56 AM
1st June 20XX
Itachi Uchiha baru saja kembali dari New Zealand semalam. Jujur, dia suka dengan pekerjaannya. Tapi jika situasi sedang sibuk seperti ini, kesabaran sang Uchiha yang tipis itu menjadi semakin tipis. Akhir-akhir ini dia jarang duduk bersantai di rumahnya bersama Sasuke, sekarang mereka bertemu hanya urusan kerja. Dia juga sudah jarang memangku Kyousuke. Jujur, dia merindukan bocah itu. Heck, dia bahkan merindukan masakan Naruko. Tidak ada restoran Jepang yang bisa mengalahkan masakan wanita itu.
Dan sekarang, dia harus duduk di ruangan rapat untuk mendengarkan update keuangan perusahaan Uchiha.
Tidak apa, Itachi memberitahu dirinya. Setelah rapat selesai, dia akan mengajak adiknya makan siang bersama dengan Naruko dan Kyousuke.
Asalkan rapat selesai dengan cepat tentunya.
Sang president dari Uchiha Corp itu langsung mendelik ke seluruh karyawan di ruangan itu, membuat kaki mereka semua langsung bergetar hebat. Mereka semua langsung fokus seratus persen dan berusaha keras untuk tidak membuat kesalahan atau nyawa mereka yang akan hangus.
Namun tetap saja, di setiap rapat, selalu ada satu orang yang selalu membawa masalah.
Dan Itachi tidak menyangka kalau orang itu adalah adiknya sendiri.
Itachi terpaku, menatap Sasuke yang menatap layar dengan tatapan kosong. Sesekali adiknya menoleh, menatap lengannya sendiri. Sasuke tiba-tiba melepaskan jasnya, menggulung lengan kemejanya sehingga lengannya yang putih pucat terekspos. Adiknya itu merenggangkan lengannya, memperhatikan ototnya yang menegang. Sesekali Sasuke menekan lengannya, seakan-akan menguji kekuatan ototnya.
Meski semua karyawan di ruangan itu melongo, Itachi menahan diri untuk tidak ternganga.
Itachi meletakkan berkas di tangannya, membekap wajahnya dan berusaha untuk menahan jeritan. Dia baru kembali ke New York dan sengaja mengadakan rapat keuangan, namun adiknya ini malah… memamerkan otot?
Apa-apaan?
Dia menurunkan tangannya, menatap para karyawan yang sekarang pucat pasi. "Keluar dari ruangan ini."
Tanpa disuruh dua kali, semua karyawan langsung tergopoh-gopoh keluar dari ruangan rapat. Salah satu dari mereka sampai terjatuh karena kakinya yang bergetar.
Itachi menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk menenangkan diri. "Dear brother," Itachi memanggil Sasuke. Akhirnya setelah lima menit memamerkan otot, Sasuke menengadah juga. "Petir apa yang menyambarmu?"
Sasuke berkedip. "Itachi. Aku ingin tanya sesuatu."
Itachi terpaku. Sasuke meminta ijin sebelum bertanya sesuatu? Jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi pada Sasuke. "Apa?" Itachi berbisik pelan, menyiapkan diri untuk mendengar kabar buruk dari mulut adiknya. Di kepalanya, dia langsung mengingat semua penyakit yang melibatkan lengan dan otot.
ALS, kanker kulit… kanker otot… kanker otak… kanker…
"Apakah aku tampan?"
Alis Itachi langsung berkedut. "… apa?"
"Kau tidak mendengarku dengan serius," Sasuke mengetuk meja dengan tidak sabar. "Apakah aku tampan? Apakah aku kekar?"
Itachi terpaku. Otaknya kembali berputar dengan cepat.
Hanya ada satu orang di dunia ini yang bisa membuat adiknya OOC seperti ini.
Dengan kecepatan kilat, Itachi menyabet ponselnya dan menekan nomor yang sudah dihafalnya di luar kepala. "Kau membuat adikku menjadi gila," dia mendesis langsung, mengabaikan pertanyaan bingung Naruko Uzumaki. Samar-samar, Itachi bisa mendengar suara Sai di samping Naruko. Dia tahu kalau lelaki itu ikut mendengarkan tapi dia tidak peduli lagi. "Aku tidak tahu apa yang kau perbuat. Tapi untung saja dia hanya menanyakan ketampanannya dan kekekaran tubuhnya padaku. Kalau saja dia bertanya tentang hal lain seperti…"
"Seperti apa?" Suara Sai terdengar dari balik telepon. "Bertanya apakah penisnya…"
"SAI!" Naruko menjerit, dan di detik kemudian tawa wanita itu meledak.
Itachi berusaha setengah mati untuk tidak membanting ponselnya.
xxx
00:45 AM
23rd July 20XX
Butuh waktu berminggu-minggu untuk membuat Sasuke berhenti merajuk. Naruko sekarang sadar bahwa membuat Sasuke cemburu adalah sesatu yang tidak boleh dilakukan untuk kedua kali. Itachi nyaris gila dan perusahaan nyaris saja hancur.
Dia memang terdengar lebay, tadi itu kenyataan.
Ada alasan lagi kenapa dia memutuskan untuk tidak membuat Sasuke cemburu untuk kedua kalinya.
Naruko mengerang, menepis tangan Sasuke yang merayap dan menyentuh perutnya. "Aku capek. Kita sudah melakukan ini dua kali. Jadi biarkan aku tidu…"
Dan tentu saja, Sasuke mengabaikan Naruko, dengan mudah meraup tubuh wanita itu dan menyelipkan kedua kaki Naruko di sekitar pinggangnya. "Tidak sampai kau mengaku kalau aku lebih tampan."
Naruko hanya bisa mengerang. "Iya! Iya! Cowok narsis! Kau paling tampan sedunia! Tom Cruise saja kalah darimu!"
"Dan?"
Naruko menggertakkan gigi. Dia menarik napas dalam-dalam dan beranjak, duduk di pangkuan Sasuke dan mengusap dada kekar lelaki itu. "Kau lebih kekar," dia menggeram, menggigit lengan Sasuke dan membuat lelaki itu mendesis sesaat. "Oke?"
"Oke," Sasuke akhirnya mengangguk, membuat Naruko menghela napas lega. Wanita itu berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Sasuke tapi sepertinya lelaki itu tidak merenggangkan pelukannya sama sekali. Akhirnya Naruko menyerah. Dia keringatan, dia kecapekan dan dia ingin tidur. Wanita itu menyeret Sasuke sehingga mereka berdua terhempas di kasur. Sasuke hanya berkedip, membiarkan Naruko menyenderkan kepala di dadanya. Jari lelaki itu perlahan-lahan menyentuh kalung onyx di sekitar leher Naruko.
"Sudah jam 12 malam…" Naruko berbisik pelan.
"Hn."
"Happy birthday."
Sasuke tidak menjawab, memejamkan matanya dan memutar tubuhnya sehingga dia membelakangi Naruko.
"I love you," Naruko berbisik pelan.
Sasuke tidak menjawab. Lelaki itu beranjak dan mematikan lampu kamar. Naruko yang kecapekan itu langsung terlelap. Dia tidak tahu apa yang terjadi, namun samar-samar, dia bisa merasakan tangan hangat yang mengusap wajahnya dan kecupan pelan yang mendarat di pelipisnya.
xxx
20:56 PM
3rd August 20XX
"Kau yakin aku boleh ikut?"
Sasuke memutar bola matanya. "Aku mau kau ikut," dia menatap wanita di sampingnya. Naruko Uzumaki terlihat tegang. Wanita itu mengenakan gaun hitam selutut. Rambut pirangnya disanggul. Eyeliner hitam di sekitar mata Naruko membuat warna biru di matanya terlihat lebih mencolok.
Setahun sekali, perusahaan Uchiha akan mengadakan pesta. Dan setiap pesta, biasanya Sasuke akan mengajak model untuk pergi bersamanya dan menjadi 'kencan'nya pada malam itu. Tapi kali ini, entah mengapa dia ingin mengajak Naruko.
Dia capek berpura-pura dan merangkul wanita yang tidak dikenalnya.
"Look who's here. A beautiful lady!"
Sasuke menengadah, menatap lelaki setengah baya yang menghampirinya. "Mr. Hundson," Sasuke menyapa lelaki itu. Lelaki itu tertawa kencang. Sasuke bercakap-cakap sesaat dengannya dan tak lama kemudian, Mr. Hundson menatap Naruko dengan berseri-seri.
"Will you dance with me?" sang businessman itu mengulurkan tangannya.
Naruko tersenyum santai. "I'm afraid I'm not available, Mr. Hundson."
Sang lelaki itu kembali tertawa nyaring. "Wanita menawan! Aku suka dengan kencanmu kali ini!" Dia menepuk bahu Sasuke sebelum dia berjalan pergi. "Keep it up, young Uchiha!"
Naruko menaikkan sebelah alisnya. "Siapa dia?"
"Salah satu partner penting Uchiha," Sasuke mendengus, melirik Itachi yang merangkul model terkenal. Hundson sekarang sedang menggoda model itu dan di detik berikutnya, Hundson dan sang model sudah berdansa bersama.
"Alasan kenapa kau mengundangku malam ini adalah karena?"
"Aku bosan merangkul model seperti Itachi," Sasuke menjawab jujur. "Dan kau punya otak. Kau bisa menarik hati pada pengusaha itu."
Naruko hanya bisa mengerutkan kening, tidak mengerti. Namun tak lama kemudian, beberapa pengusaha mendekati Naruko. Wanita itu dengan santai bercakap-cakap dengan mereka, berbicara tentang ekonomi dan keuangan.
"Wanita yang cocok untuk bersanding dengan seorang Uchiha eh? Tidak seperti wanita-wanita yang tidak berotak dan hanya memamerkan penampilan," Hundson berdiri di samping Sasuke, mengetuk gelas champaigne-nya di gelas lelaki itu. "Kapan kau mau meminjamkan wanita itu untukku?"
Sasuke meneguk champaigne-nya, tersenyum tipis. "Sayang sekali, Mr. Hundson. Dia…" senyuman Sasuke menghilang ketika Naruko menoleh, melontarkan senyuman lebar ke arah lelaki itu. Sasuke meneguk minumannya. Dadanya terasa nyeri sesaat. "… tidak bisa kupinjamkan pada siapa pun," Sasuke berbisik pelan.
"Begitu?" tawa kencang sang pengusaha membuat Naruko menaikkan sebelah alis. "Kau telah jatuh hah? Berarti yang belum hanya Uchiha yang satu lagi."
Dia telah jatuh? Sasuke tidak menjawab. Dia meletakkan gelasnya dan berjalan ke arah Naruko, mengulurkan tangannya. Naruko hanya bisa berkedip. Namun wanita itu melontarkan senyuman lebar, menerima tangan Sasuke dan mulai berdansa dengannya.
xxx
19:57 PM
7th September 20XX
"Lihat, Kyou-chan," Naruko menyeringai lebar. Kyou yang sedang duduk di pangkuan Sasuke menengadah, menatap ibunya dengan tatapan penuh dengan tanda tanya. "Mereka sepupumu. Kushina-chan dan Chiyo-chan."
Sasuke menatap layar ponsel di depannya. Dia menaikkan sebelah alis ketika melihat dua bayi dengan liur yang menetes itu. "Anak-anak si dobe itu?"
"Hei," Naruko mendengus. "Mereka keponakanku tahu. Lucu bukan? Kembar," Naruko tertawa. "Yang berambut pirang ini lahir duluan, namanya Kushina," Naruko menunjuk ke arah bayi bermata biru bundar. "Dan yang berambut pink dengan mata hijau ini namanya Chiyo."
Sasuke mendengus, sama sekali tidak terlihat peduli. Dia meraup Kyou dan berjalan pergi.
"Hei," Naruko mendengus lagi. "Tapi yah… hebat juga. Kembar lagi ya?"
Sasuke berhenti berjalan, menoleh sesaat. "Maksudmu?"
"Hmmm kembar itu sudah keturunan di keluarga kami, kau tahu," Naruko merenggangkan tubuhnya. "Menurut orang panti asuhan, kakek kami punya saudara kembar juga. Aku dan nii-chan juga kembar. Dan sekarang nii-chan punya anak kembar," Naruko tertawa. "Aku sempat cemas ketika aku hamil. Kukira aku juga hamil kembar. Ternyata…"
Sasuke tidak menjawab, hanya menatap Naruko dengan tatapan kosong. "Kembar?"
"Iya," Naruko tertawa sesaat. "Bayangkan saja. Semuanya harus dikali dua. Makanan, popok, berisik, nakalnya juga…" dia cekikikan. "Tapi Kyou-chan tidak nakal. Dia lucu… cerdas… tenang… Hemmm, kalau begitu… lucunya dikali dua. Cerdas dikali dua… dan tenangnya juga dikali dua."
Sasuke berkedip, dia menatap Kyou dan menatap Naruko lagi. "Kembar ya…"
Naruko awalnya mengangguk, tertawa. Namun dia langsung terpaku. "Sasuke… kau tidak memikirkan apa yang kupikirkan kan?" Wanita itu mendelik tajam.
Sasuke berkedip lagi. "Aku tidak mengerti apa maksudmu," dia langsung berjalan pergi, membawa Kyou, mengabaikan Naruko yang sekarang sudah menyipitkan matanya dengan tatapan curiga.
Keesokan harinya, Naruko sengaja membuka ponsel Sasuke secara diam-diam ketika lelaki itu sedang menyuapi Kyou. Naruko langsung mengerang ketika melihat kumpulan foto bayi-bayi kembar berambut hitam dan bermata biru.
xxx
15:43 PM
7th October 20XX
Sai Takano akan mampir ke rumah Naruko seminggu sekali, jika dia tidak sedang dalam projek atau tidak di luar negeri. Baginya, Naruko adalah seseorang sahabat yang tidak akan bisa digantikan. Karena itu, Sai rela mengurus Kyousuke atau rela melakukan apa pun demi wanita itu. Dan tentu saja, jika ada yang membahayakan nyawa sahabatnya, Sai tidak akan ragu untuk menghantam siapa pun yang berani menyakiti Naruko.
"Aku berada di dalam bahaya."
Ucapan Naruko membuat Sai terpaku. Senyum di bibir lelaki itu menghilang. Perlahan-lahan dia meletakkan gelasnya. "Siapa? Yang mengancammu?"
Naruko menghela napas. Dia menggigit bibir dan memeluk Kyousuke dengan erat. "Sasuke dan Itachi."
Sai menaikkan sebelah alis.
"Sepertinya Sasuke bilang pada Itachi kalau darah 'kembar' itu keturunan," Naruko menggeram.
"Lalu?"
"Sekarang mereka berdua menatapku dengan tatapan 'memangsa'."
Sai berkedip. Sekali. Dua kali.
Oh.
"Sasuke mau kau hamil lagi?" Sai langsung bertanya. "Hamil kembar? Dan Itachi menyetujuinya?"
Naruko mengangguk, menyabet roti di depannya dan langsung menyumpal roti itu di mulutnya.
Sai kembali berkedip. Matanya bertemu dengan mata biru Kyousuke. Bocah itu langsung melotot, mendengus dan memalingkan wajahnya.
Naruko hamil lagi. Kembar. Itu berarti…
Kyousuke dikali dua.
"Lewati dulu mayatku."
Wajah Sai yang super pucat itu membuat Naruko tertawa.
xxx
21:56 PM
17th November 20XX
"Dia belum tidur?" Itachi Uchiha masuk ke dalam rumah adiknya, menaikkan sebelah alis ketika melihat Kyousuke yang berlari dengan kecepatan tinggi ke arahnya.
"Dia menunggumu," Sasuke menjawab santai, berjalan di belakang putranya.
"Tacii," Kyousuke meletakkan tangannya yang mungil di kaki Itachi, menengadah dan menatapnya dengan mata biru bundar. "Kaaree!"
"Kare?" Itachi menahan senyuman, meletakkan tas kerjanya dan membopong Kyousuke. Bocah itu langsung menggesekkan wajahnya yang bundar di wajah Itachi.
"Maksudnya okairi," Sasuke mengenakan sandal.
"Kau mau ke mana?" Itachi menaikkan sebelah alis.
Sasuke menoleh, menatap kakaknya dengan tatapan 'kau-buta?'. "Tentu saja rumah Naruko. Jaga Kyousuke sampai besok."
Itachi menaikkan sebelah alis. "Aku tahu kalau kau mau seks dengannya sekarang, tapi tunggu. Duduk dulu. Ada yang harus kubicarakan."
Sasuke terpaku. Dia melepaskan sandalnya dan duduk di sofa, ditemani Itachi. Kyousuke menggeliat, minta diturunkan. Bocah itu seakan-akan bisa merasakan tekanan di ruangan itu. "Uge," dia berjalan cepat ke arah Sasuke dan duduk di pangkuan ayahnya.
"Kau membawa Naruko ke acara-acara perusahaan Uchiha beberapa bulan terakhir?"
Sasuke mengerutkan kening, mengangguk. "Apa salahnya dengan itu?"
"Tidak ada salahnya," Itachi merenggangkan dasinya. "Hanya saja… kau tidak pernah datang bersama wanita yang sama."
Sasuke terpaku.
"Benar, biasanya kau memang membawa wanita, tapi selalu yang berbeda di setiap acara. Namun kali ini… kau selalu membawa wanita yang sama."
"Lalu?" Sasuke menggeram. "Tidak ada salahnya. Semua partner kerjamu suka dengan Naruko. Dia cerdas. Bahkan istri partnermu ingin bertemu dengan Naruko dan bercakap-cakap."
"Hn," Itachi tersenyum mengejek. "Sepertinya cinta sudah membutakanmu, little brother."
Ucapan Itachi membuat Sasuke mendelik, namun dia langsung terdiam ketika Itachi melanjutkan ucapannya.
"Karena tingkahmu ini, Ayah sudah tahu akan Naruko," Itachi menatap Sasuke dalam-dalam. "Tidak sepenuhnya. Tapi salah satu partner perusahaan Uchiha berbicara pada Ayah, memuji Naruko, pacar Sasuke Uchiha."
Sasuke mencengkram lengan sofanya. Kyousuke yang di pangkuannya mulai menggeliat.
"Ayah tentu saja, langsung menyelidiki Naruko. Dia tahu bahwa Naruko adalah anak yatim piatu dari keluarga tidak ternama. Kalau saja bukan karena para partner perusahaan yang suka dengan Naruko, Ayah sekarang akan menyuruhmu kembali ke Jepang dan menikahkanmu dengan salah satu sepupu kita."
"Jadi…" Sasuke mengerutkan kening. "Dia sudah tahu akan keberadaan Naruko, tapi belum tahu akan… Kyousuke."
"Belum," Itachi beranjak, menuangkan air minum untuknya. "Tapi dia akan tahu sebentar lagi."
Sasuke terdiam. Pelukannya pada Kyousuke menguat. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh Kyousuke," Sasuke mendelik. "Begitu juga Naruko."
"Aku juga," Itachi menjawab langsung. "Tapi…"
"Tapi?"
"Naruko tidak akan kalah begitu saja," Itachi tersenyum tipis. "Dia tidak pernah takut akan nama Uchiha."
Sasuke tersenyum. "Kau benar," senyumnya menghilang sesaat. "Ayah menelponmu? Hanya karena hal ini?"
"Tidak," Itachi beranjak, menatap malam yang gelap dari jendela kamar Sasuke. "Sepertinya istri untukku sudah ditetapkan."
Sasuke terpaku. "Istri…"
Itachi mengangguk.
"Siapa? Kiyora? Fuki? Atau Hanami?"
Itachi tiba-tiba tertawa. "Kau akan tahu siapa nanti," dia tersenyum mengejek. "Kau harus berterima kasih padaku, dear brother. Kalau saja aku tidak menerima tawaran ini, pasti kau yang akan dinikahkan dengannya."
"Siapa?" Sasuke mengerutkan kening.
"Kau akan tahu nanti," Itachi meneguk airnya. "Aku akan kembali ke Jepang besok."
xxx
22:45 PM
24th December 20XX
Sasuke menyembunyikan sesuatu darinya.
Naruko tahu itu.
Itachi juga. Sebulan yang lalu, lelaki itu tiba-tiba menghilang darinya dan menyerahkan semua urusan di kantor Uchiha pada Sasuke. Jujur, Naruko sebenarnya ingin memaksa Sasuke supaya lelaki itu mengaku, apa yang sejak dulu disembunyikannya. Namun setiap kali Sasuke pulang ke rumah, lelaki itu selalu terlihat sangat kecapekan.
Naruko tentu saja tidak bisa menekan lelaki itu. Apalagi ketika Sasuke selalu berusaha untuk pulang makan malam bersama. Naruko sesekali memijit bahu Sasuke, tersenyum ke arah lelaki itu, membuat kerutan di dahinya menghilang. Naruko juga meneliti keuangan Uchiha. Sesekali dia memberi saran pada Sasuke. Lelaki itu mengangguk dan mendengarkan Naruko dengan seksama.
Begini-begini dia lulus di bidang bisnis.
Naruko tidak peduli dengan apa pun yang disembunyikan Sasuke.
Dia cukup senang dengan hidupnya sekarang.
Pekerjaannya lancar, setelah bergadang nyaris di dua bulan ini, pekerjaannya selesai juga. Kyou sehat dan menjadi semakin lincah. Sasuke semakin baik terhadapnya. Dan besok natal. Naruko menyeringai lebar.
Santa, permintaanku hanya satu. Semoga semuanya baik-baik saja. Naruko tersenyum lebar.
"Mama," Kyou memanggilnya. "Messhi," Kyou megap-megap.
"Makanan?" Naruko tertawa. "Kau masih lapar, Kyou-chan? Susu ya?"
"Uyuu," Kyou berujar.
"Uyu," Naruko mengangguk. "Susu."
"Uge?" Kyou tiba-tiba bertanya, mengekor Naruko ke dapur. "Uge mana?"
"Sasuke kerja. Sebentar lagi pulang," Naruko menjawab santai. Kyou bisa berbicara dengan lebih lancar. Tapi khusus untuk Sasuke, dari dulu sampai sekarang hanya 'Uge' saja.
Ponsel Naruko yang berdering membuat Naruko bergegas menyabet ponselnya.
"Naruko!" Suara Naruto terdengar nyaring. "Aku sudah dengar kabarnya!"
"Kabar apa?" Naruko tertawa sesaat. Dia bisa mendengar suara jeritan anak kecil dari telepon itu.
"Itachi menikah!"
Naruko nyaris menjatuhkan susu di tangannya. "Hah?"
"Kabarnya heboh sekali di Tokyo ini. Akhirnya penerus Uchiha menikah juga."
"Dengan siapa?!" Naruko menjerit. "Itachi tidak bilang apa-apa padaku! Begitu juga Sasuke! Itachi tiba-tiba menghilang bulan lalu!"
"Dengan Uchiha juga. Sepupu jauh mereka," Naruto bergumam. "Aku tahu dengan gadis itu. Dulu ketika dia lahir Sasuke bilang kalau nantinya dia akan menikah dengan…"
"Tunggu! Tunggu!" Naruko menjerit. Ketenangannya lenyap sudah. "Gadis?! Sasuke akan menikah dengannya? Hah?!"
"Sasuke sekarang berumur 28 tahun kan?" Naruto bertanya. "Benar. Ketika masih SMA, Sasuke berumur 18 tahun. Dia bilang padaku kalau tunangannya sudah lahir, baru berumur 8 tahun. Jadi umur anak itu sekarang 18 tahun. Dan Itachi akan menikah dengannya. Di tahun baru nanti."
Naruko hanya bisa melongo. "Jadi… yang Itachi nikahi adalah… gadis 18 tahun…" lebih muda dariku 10 tahun? "Dan juga… yang akan ditunangkan dengan Sasuke awalnya?"
Tiba-tiba Naruko merasa mual.
"Selain itu, ada yang aneh," Naruto melanjutkan. "Anehnya, beberapa orang yang bekerja di klan Uchiha datang menemuiku, bertanya tentangmu. Memangnya ada apa, Naruko?"
Naruko mulai merasa pusing. Klan Uchiha tahu akan keberadaannya? Sejak kapan? Apakah alasan kenapa Sasuke batal dijodohkan dengan gadis itu karena mereka sudah tahu tentang Kyou?
"Aku tidak tahu kenapa Sasuke batal ditununangkan dengan gadis itu. Tidak biasanya keluarga Uchiha itu berubah pikiran," Naruto berdecak. "Akhirnya Itachi yang dipertunangkan dengan gadis i…"
Naruko tidak lagi mendengar kakaknya. Wanita itu menjatuhkan ponselnya dan berlari ke dapur, memuntahkan segala isi perutnya. Kyou yang sejak tadi mendengarkan jeritan ibunya itu langsung menangis. Dia hendak berlari ke arah Naruko, namun wanita itu menutup pintu dapur.
"Ada apa?" suara Sasuke membuat Naruko tersentak. "Kenapa Kyousuke menangis?" Sasuke meraup putranya, membuka pintu dapur dan menatap Naruko yang masih berlutut, memuntahkan isi perutnya di tong sampah. "Naruko?"
Naruko mengabaikan Sasuke sepenuhnya. Naruko beranjak, masih merasa mual. Dia masuk ke kamar mandi, membanting pintu. Dari dalam kamar mandi itu, dia bisa mendengar Sasuke yang memaksanya untuk membuka pintu dan suara tangisan Kyou.
Naruko menarik napas dalam-dalam, menatap bayangannya di cermin.
Wajahnya pucat pasi. Dia muntah? Tapi dia tidak makan apa pun sejak tadi sore.
Jika dipikir-pikir… akhir-akhir ini dia suka merasa mual.
Sebulan… dua bulan…
Naruko menggelengkan kepala. Tidak. Tidak. Tidak.
Dia hanya kaget saja. Karena itu dia muntah. Dia tidak datang bulan selama dua bulan? Pasti karena stres.
Dengan tangan bergetar, Naruko meraih alat tes kehamilan yang disimpannya di cabinet toilet.
Samar-samar, Naruko bisa ingat akan masa kecilnya. Dia yang memohon pada santa, meminta hadiah untuk natal. Naruko tidak pernah meminta sesuatu yang gila. Dan entah kenapa, santa malah memberinya sesuatu yang 'gila'.
Mata biru Naruko melebar ketika melihat hasil dari tes itu.
Oh tidak… Santa… kenapa…
"Naruko," Sasuke menggeram. "Aku tidak akan ragu mendobrak pintu ini sekarang ju…"
Di detik itu juga, Naruko membanting pintu kamar mandi, mendelik ke arah Sasuke yang menggendong Kyou. Bayinya itu masih terisak.
"Begitu?" Naruko mendesis. "Kau menyembunyikan apa dariku? Tunanganmu menikah dengan Itachi?"
Sasuke berkedip. "Aku… berencana bilang padamu nan…"
"Kapan hah?" Naruko yang mendelik membuat Sasuke mundur selangkah. "Kau beruntung. Aku tidak pernah menyembunyikan apa pun darimu."
Sasuke terdiam. "Aku tidak tahu kau dengar semua ini dari mana," lelaki itu menyipitkan matanya. "Namun aku tidak akan membiarkan klan Uchiha menyentuh kalian berdua."
Naruko terdiam, menatap Sasuke yang memeluk Kyou dengan erat. Naruko menggeram, mengayunkan alat tes itu di depan wajah Sasuke.
Sasuke mengerutkan keningnya. Namun, ketika melihat tanda 'positif' dari alat itu, sang Uchiha langsung ternganga.
"Aku akan ke Jepang sekarang," Naruko menggeram, menyabet Kyou dari gendongan Sasuke. Setelah mencium pipi Kyou tiga kali dan memberi bocah itu susu, Kyou akhirnya terdiam. "Aku tahu kalau kau sengaja diam untuk 'melindungi'ku. Tapi kau salah. Aku tidak selemah itu. Kalau kau tidak mau bilang padaku, aku akan mengorek semua cerita dari mulut Itachi," wanita itu berjalan cepat menuju laptop, memesan tiket untuknya dan Kyou.
"Tidak perlu," suara Sasuke terdengar dari dapur. "Aku sudah berencana untuk bilang padamu malam ini. Dan kita akan pergi besok, dengan private jet Uchiha…" Sasuke terhenti sesaat. "Setelah kita memeriksamu di klinik."
Naruko terdiam. Dia hendak menggeram ke arah Sasuke lagi, namun lelaki itu hanya menatap alat tes kehamilan itu dengan tatapan kosong.
"Jadi… kau…"
"Hamil. Iya," Naruko menggeram. "Kau yakin kalau kau tidak melubangi kondom yang kau pakai, Uchiha?"
"Kembar?" Sasuke bertanya dengan penuh harapan, membuat Naruko menjerit di detik itu juga.
Takdir benar-benar kejam.
TBC
AN: hahaha! gimana? apakah perasaan reader jungkir balik di chap ini? #plak!
Sebenarnya aku mau tamatin di chap ini juga. Aku punya dua ending di dalem kepalaku. Satu: ya di chapter kemarin itu. Ending.
Ending kedua... lebih rumit jalan ceritanya.
Dan entah kesamber petir apa, aku memutuskan buat menulis ending kedua. Haa... ini fic bakalan lama tamatnya...
(tiap kali bilang mau tamat pasti gak jadi tamat... hiks...)
apa pun itu, semoga reader suka deh :)
Dari chapter ini, suka scene yang mana? :D
