Disclaimer: Masashi Kishimoto
Chapter 11
.
.
.
.
.
14:30 PM
26th December 20XX
Ada berbagai macam anak kecil. Ada yang ceria, suka berlari kesana-kemari. Ada juga yang pemalu, bersembunyi di belakang orang tua jika didekati oleh orang asing. Awalnya Naruko mengira kalau putranya adalah tipe pemalu. Kyousuke tidak pernah mau disentuh oleh orang asing. Tapi Kyousuke tidak pernah bersembunyi di belakang kakinya jika didekati orang lain. Kyou akan berdiri diam, menatap orang asing itu dengan tatapan menyelidik dan membuang wajahnya.
"Banyak yang bilang kalau tidak baik membandingkan anak-anak dengan anak sendiri," Naruko mengunyah makanannya. "Tapi tanpa sadar, aku membandingkan si kembar dengan Kyou-chan."
Chiyo Uzumaki akan menangis jika digendong orang asing.
Kushina Uzumaki akan menyeringai girang, langsung menarik rambut orang yang menggendongnya.
Kyou tidak malu. Dia juga tidak takut jika didekati orang asing. Kyousuke waspada.
Wanita berambut pirang itu tersenyum lebar, mengusap rambut Kyou yang duduk di pangkuannya, masih menatap Naruto dan Sakura dengan tatapan waspada. Sasuke dan Itachi duduk bersebelahan, menatap dua bocah di hadapan mereka dengan tatapan jijik. Dua bayi itu sekarang sedang mengemut jari-jari mungil mereka dengan liur meleleh. Naruko merasa kalau keponakannya sangat menggemaskan, tapi sepertinya Sasuke dan Itachi berpendapat berbeda.
"Kyousuke sangat mirip dengan si teme ini," Naruto mendengus kesal. "Selain mata birumu, dia tidak mewarisi apa pun darimu."
"Tidak. Kataku, dia mirip dengan Naruko," Sakura cekikikan. "Kyou-kun sangat tenang. Di depan Naruko dan Sasuke-kun, Kyou-kun tidak seperti ini. Dia sering tersenyum. Hanya saja di depan orang asing, dia terlihat waspada. Sama sepertimu, Naruko."
Naruko tersenyum, dia menunduk, mengeliti Kyou sambil mengecup pipi putranya berkali-kali, membuat bocah itu menjerit, tertawa girang.
"Ayo pergi," Sasuke tiba-tiba beranjak. "Kau sudah puas makan bukan?" Lelaki 28 tahun itu menatap Naruko, mengulurkan tangannya, meraup Kyou. Kyou meronta sesaat, ingin duduk di pangkuan Naruko. "Naruko sedang hamil," Sasuke berujar dengan nada serius, menatap mata Kyou dalam-dalam. "Di dalam perutnya sekarang ada dua bayi mungil. Adikmu."
"Hah! Kau pikir bocah sekecil itu mengerti dengan ocehanmu?" Naruto mencibir.
"Kau tidak pernah tahu," Naruko meringis, beranjak. "Kyou-chan selalu terlihat serius jika Sasuke berbicara dengannya, seakan-akan dia tahu apa yang Sasuke ucapkan."
Itachi ikut beranjak. Kyou meronta lagi, membuat Sasuke menurunkan bocah itu. "Taccii!" Kyou berlari ke arah pamannya dan Itachi melontarkan senyuman singkat, menggandeng tangan mungil Kyou.
"Dia suka dengan Itachi," Naruto berujar kagum, menatap keponakannya yang melompat-lompat kecil, berjalan di sisi Itachi.
"Itachi pamannya," Sasuke mendengus, menyabet mantelnya dan mantel Naruko.
"Oi, aku juga paman Kyousuke," Naruto mendelik.
"Dan Kyousuke menganggapmu sebagai badut belaka, tidak lebih."
Sebelum dua lelaki itu sempat bergulat di lantai lagi, Naruko dan Sakura cepat-cepat menarik Sasuke dan Naruto dari satu sama lain.
xxx
17:56 PM
26th December 20XX
"Kita mau ke mana?" Naruko bertanya setelah dia masuk ke dalam taksi limosin, membopong Kyou. Sasuke tidak menjawab, membuat Naruko mengatupkan mulutnya. Lelaki itu bahkan tidak duduk di sisi Naruko. Dia duduk di pojok kursi, memutar kepalanya dan menatap jendela, mengabaikan Naruko. Naruko adalah wanita yang tenang, dia bisa dengan mudah mendeteksi emosi orang lain. Dengan sekali lihat, dia bisa tahu kalau Sasuke sedang… galau.
Dia mendengus geli. Galau? Seorang Uchiha tidak akan galau.
Tapi nyatanya begitu. Sejak tadi setelah pergi dari rumah kakaknya, Sasuke hanya terdiam, sama sekali tidak berbicara dengannya. Naruko tidak tahu apa yang dipikirkan lelaki itu. Sampai sekarang dia tidak pernah bisa menebak apa yang ada di otak Sasuke. Bukan hanya Sasuke, Itachi juga terlihat 'galau' tadi.
Dua kakak adik itu berbisik-bisik dengan raut wajah serius. Naruko yang sedang bermain dengan Kyousuke itu tidak tahu apa yang mereka berdua bicarakan. Dia bukan Naruto yang selalu ingin tahu. Naruko tahu bahwa Sasuke dan Itachi berbisik karena mereka berdua tidak ingin Naruko tahu. Jadi Naruko hanya diam, memperhatikan Sasuke dari kejauhan.
Sasuke dan Itachi adalah Uchiha. Apa pun yang mereka bisikkan di telinga masing-masing pasti cukup menakutkan sehingga mereka tidak mau melibatkan Naruko. Wanita itu mendengus. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan dan aku tidak mau tahu. Mereka bisa saja merencanakan untuk menguasai dunia, toh mereka berdua Uchiha.
Pikiran Naruko terputus ketika Kyou memutar kepalanya. Naruko menunduk, tersenyum ketika melihat putranya yang tertidur lelap di pangkuannya. Wanita itu ikut menatap jendela, tidak lagi memperhatikan Sasuke. Dia tidak pernah meminta sesuatu. Jadi Naruko tetap santai meski pun Sasuke menyembunyikan sesuatu darinya. Karena…
"Kau tidak bertanya apa pun."
"Hm?" Naruko menoleh, menatap Sasuke. Lelaki berambut raven tersebut masih menatap jendela, berbicara tanpa menatap Naruko.
"Kau tidak seperti Naruto," Sasuke berujar lagi. "Dia akan mengamuk jika aku mendiamkannya."
"Ah," Naruko tersenyum. "Aku sudah terbiasa."
Jawaban dari Naruko itu membuat Sasuke mengerutkan kening, seakan-akan tersinggung.
"Maksudku, aku tidak begitu, kau tahu," Naruko menjelaskan. "Bukan hanya kau. Aku sendiri tidak akan peduli jika orang lain menyembunyikan sesuatu dariku."
Sasuke menatapnya sesaat, menganggukkan kepala. "Kau tenang," mata hitam Sasuke menatapnya dengan dalam. "Kau bahkan tidak memaksakan pertanyaanmu dan menuntut jawaban."
"Begitu?" Naruko bergumam. "Hmm… aku tidak akan menuntut jawaban karena cepat atau lambat aku akan tahu apa jawabannya," matanya kembali melirik ke arah jendela.
"Begitu?" Sasuke menyilangkan kakinya, terlihat menantang. "Kita mau ke mana sekarang?"
Naruko menoleh, menatap Sasuke dengan tatapan kosong. Sasuke menantangnya? "Yang pasti sesuatu tempat yang jauh," Naruko menaikkan sebelah alisnya. "Kau menyewa limosin, bukan mobil biasa. Kau ingin aku… tidak, kau ingin Kyou-chan merasa nyaman di perjalanan yang jauh ini, karena itu kau menyewa limosin."
Sasuke menaikkan sebelah alis, tersenyum mengejek. "Lalu?"
"Dan tempat tujuan kita bukan tempat biasa," Naruko melanjutkan, menatap bingkai pemisah dari jok penumpang dan supir. "Limosin ada bingkai ini," Naruko menyentuh jendela hitam di depannya. "Jadi supir tidak bisa mendengar atau melihat apa yang kita lakukan. Kau tidak ingin kalau percakapan kita berdua didengar olehnya," Naruko terdiam sesaat. "Orang-orang di luar juga tidak bisa melihat kita. Tempat tujuan kita… kita akan ke pediaman klan Uchiha bukan?"
Senyuman Sasuke menghilang sepenuhnya. Lelaki itu menatapnya dengan tatapan takjub.
"Jadi benar? Kita akan ke kediaman Uchiha?" Naruko berbisik pelan, tanpa sadar mengusap rambut hitam Kyou. "Secepat ini?" Dia tidak pernah tahu akan kediaman Uchiha. Dia tahu bahwa klan Sasuke memiliki banyak perumahan. Dan perumahan pusat lokasinya jauh dari kota. Lebih tepatnya, ada di dekat pegunungan dan kuil. Sasuke selalu diantar oleh supir pribadi, jadi Naruko tidak pernah tahu akan tempat tinggal Sasuke. Bahkan Naruto, sahabatnya saja tidak pernah menginjakkan kaki di rumah Sasuke.
"Hn," Sasuke kembali memutar kepalanya, menatap jendela. "Tidak ada pilihan lain. Pernikahan Itachi semakin dekat dan semua keluarga datang untuk menyaksikan pernikahan Itachi. Mau bagaimana pun dia adalah penerus ketua klan Uchiha."
Naruko terdiam, menatap Kyousuke yang masih tertidur lelap. Bocah itu terlihat tenang. Meski kulitnya pucat, terdapat sedikit rona kemerahan di pipinya yang tembam. "Kalau klan Uchiha diibaratkan sebagai kerajaan, Itachi adalah pangeran pertama. Penerus sang raja. Dan rajanya adalah ayahmu?"
Sasuke mengangguk.
Naruko menggigit bibir. Pantas saja dulu Sasuke mati-matian menyembunyikan Kyousuke dari sorotan klan Uchiha. Wanita itu memejamkan mata, mulai merasa pusing. Banyak pertanyaan yang muncul di kepala Naruko.
Dia tahu beberapa hal.
Klan Uchiha adalah klan tertua dan paling berkuasa di Jepang. Sangat tradisional, karena itu, fakta bahwa Sasuke punya anak haram tidak boleh diketahui siapa pun. Tapi, klan Uchiha tahu dengan keberadaannya. Naruto sendiri yang bilang kalau akhir-akhir ini banyak pegawai Uchiha yang datang ke rumahnya dan bertanya tentang Naruko.
Kenapa?
Dia ingin tahu kenapa anggota klan Uchiha berusaha mengorek data tentang dirinya dari mulut Naruto. Karena itu, dia mau datang ke Jepang. Dia ingin mengorek semua informasi dari mulut Itachi karena Sasuke yang keras kepala ini sama sekali tidak mau membuka mulutnya. Tapi, Naruko sendiri punya pertanyaan lain.
Kenapa Sasuke juga mau membawanya ke Jepang?
Awalnya dia mengira kalau Sasuke akan melarangnya datang ke Jepang supaya klan Uchiha tidak tahu akan keberadaannya dan Kyou. Tapi ternyata Sasuke sendiri yang dengan gesit membawanya masuk ke dalam pesawat jet pribadinya.
"Apakah keluargamu sudah tahu akan Kyou?" Naruko bertanya tiba-tiba.
"Tidak. Mereka tahu akan keberadaanmu, tapi belum tahu akan Kyousuke."
Naruko menyipitkan matanya, menatap Sasuke yang masih menatap jendela.
Aneh.
Ada yang aneh. Naruko awalnya mengira kalau Sasuke membawanya ke sini karena toh cepat atau lambat klan Uchiha akan tahu tentang keberadaan Kyou. Jadi mereka datang ke sini untuk menyatakan pada mereka bahwa mereka tidak akan menyerahkan Kyousuke Uzumaki pada klan Uchiha. Itulah yang dikira Naruko. Tapi… sepertinya Sasuke punya pendapat yang lain.
Sebenarnya apa tujuan Sasuke membawanya dan Kyousuke ke sini? Jika dipikir-pikir, apa yang mereka akan lakukan ini adalah tindakan bunuh diri. Semua keluarga akan ada di sana. Entah apa yang akan mereka lakukan pada Kyousuke.
Naruko menggigit bibirnya, memeluk Kyou semakin erat. Dia sudah bisa membayangkan semua scenario di kepalanya. Klan Uchiha akan merebut Kyousuke darinya. Mereka akan membesarkan Kyousuke seperti Itachi dan Sasuke. Dingin, membunuh…
Dan Sasuke…
Sasuke tidak bisa berbuat apa-apa. Dia akan membiarkan Kyousuke diambil dari tangannya. Dia akan membuang Naruko. Toh Sasuke hanya mencintai Kyou, bukan dirinya. Sasuke sendiri punya jodoh yang akan dinikahkan dengannya suatu saat.
Sasuke… Mata biru Naruko melebar. Apakah Sasuke membawanya ke Jepang supaya dia bisa menarik Kyou, merebut Kyou darinya?
"Apa yang kau pikirkan?"
Naruko menengadah, menatap Sasuke yang sejak tadi memperhatikannya. "Aku tidak akan menyerahkan Kyou," Naruko mendelik, mata birunya menatap Sasuke dengan tajam. "Bahkan tidak padamu."
Sasuke terpaku. "Aku tidak pernah sekali pun berpikir untuk memisahkan Kyousuke darimu."
"Begitu?" Naruko hanya bisa menatap Sasuke dengan tatapan kosong.
"Naruko," Sasuke mendelik. "Apa yang kau pikirkan?"
Naruko tidak menjawab. Apa yang dia pikirkan?
"Kau mau tahu?" Naruko tersenyum tiba-tiba, membuat Sasuke mendelik semakin menjadi-jadi. "Kau mau merebut anakku dariku," dia berbisik.
Sasuke terpaku.
"Aku tidak pernah tahu apa yang ada di dalam kepalamu, Sasuke," Naruko tertawa pahit. "Tapi aku tahu kau sangat menyayangi Kyousuke. Kalau saja keluargamu mau merebut Kyou dariku…" suaranya menajam. "Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan itu. Dia keluargaku satu-satunya."
Sasuke menggeram, tiba-tiba beranjak dan mencengkram tangan Naruko, membuat wanita itu tersentak. "Aku sudah bilang kalau aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh Kyousuke," Sasuke mendesis. "Tapi sepertinya kau tidak percaya padaku."
Naruko balas mendelik. "Aku mencintaimu. Tapi bukan berarti aku percaya padamu sepenuhnya."
Sasuke terpaku. "Kau juga begini dulu," dia mendelik. "Ketika kau hamil Kyousuke. Kau tidak percaya pada siapa pun. Terutama…" mata hitam Sasuke tiba-tiba menyipit. "Terutama padaku. Karena di matamu, aku adalah seseorang yang bisa melukai bayimu."
Naruko berkedip. Tangannya memeluk Kyou semakin erat. Dia tidak sadar kalau Sasuke sampai sekarang ingat akan hal itu. "Aku…" suaranya bergetar. "Aku mencintaimu, Sasuke. Tapi… aku tidak bisa mempercayaimu sepenuhnya," matanya terasa pedih. "Sudah berapa kali kau… kau meninggalkanku. Aku tidak tahu kapan kau akan meninggalkanku lagi. Aku tahu kau sudah janji… tapi…" Naruko tertawa pelan, mengabaikan air matanya yang sudah menetes. "Tapi kau tidak mencintaiku. Jika klanmu menyuruhmu memilih antara Kyousuke dan aku, kau akan memilih Kyousuke. Mereka akan merebut putraku dari tanganku."
Sasuke tidak menjawab. Dia perlahan-lahan melepaskan tangan Naruko.
"Aku benar bukan?" Naruko tertawa pahit. "Aku yakin mereka akan menyuruhmu memilih."
Sasuke mengangguk dan di detik itu juga, Naruko langsung memejamkan matanya, melingkarkan kedua lengannya di sekitar tubuh mungil Kyou.
"Aku berasal dari keluarga inti Uchiha," Sasuke berbisik. "Klan inti selalu dinikahkan dengan orang yang berdarah Uchiha juga. Jika mereka tahu aku berhubungan dengan wanita luar, mereka hanya akan merebut putraku dan membuangmu."
"Aku tahu," Naruko mendelik. "Jadi? Apa yang ingin kau lakukan sekarang? Memikirkan cara sehingga aku bisa dibuang secara layak? Setidaknya kau tidak akan membuangku sampai kembarmu ini lahir dengan selamat."
Sasuke menggertakkan gigi. "Ternyata kau melihat dirimu sampai serendah itu."
"Aku tidak pernah melihat diriku sampai setinggi itu sampai klan Uchiha mau menerimaku," Naruko tersenyum mengejek.
Sasuke terdiam sesaat. "Kau tidak percaya padaku."
"Aku percaya padamu, Sasuke," Naruko berujar pelan. "Karena itu. Hanya di depanmu, aku tidak pernah menunjukkan senyuman palsuku. Tapi…" dia menggigit bibirnya, menatap bocah di pangkuannya. "Khusus mengenai anak-anakku. Aku tidak bisa percaya padamu. Aku tidak bisa percaya pada klan Uchiha."
Sasuke menatap Naruko dengan dalam. "Kau menganggapku sebagai musuh."
"Tidak," Naruko menjawab cepat. "Setidaknya belum. Aku belum menganggapmu sebagai musuhku."
Sasuke menatap Naruko dengan takjub. Dia terpaku sesaat, memperhatikan mata biru yang mendelik tajam itu. Inikah wanita yang mencintainya? Naruko adalah orang pertama yang mencintainya tapi menatapnya sebagai ancaman. Senyuman yang muncul di bibir Sasuke membuat Naruko menaikkan sebelah alis. "Bagus," lelaki itu tersenyum lebar. "Sekarang aku tahu kenapa hanya kau satu-satunya wanita yang bisa menjadi ibu dari anakku."
Naruko berkedip. "Apa yang kau pikirkan?" Dia mendelik. "Kukira kau akan mengamuk karena aku menganggapmu sebagai musuh."
"Tidak," Sasuke mendengus, masih menatap Naruko dengan mata berkilat. "Sekarang aku yakin. Siapa pun yang berani menyentuh anakmu tidak akan hidup dengan selamat," Sasuke mendelik sesaat. "Siapa pun yang berani menyentuh anak kita tidak akan hidup dengan selamat."
"Dan yang akan menyentuh anak kita adalah klanmu sendiri," Naruko mencibir, membuat Sasuke tersenyum mengejek. Melihat senyuman khas Sasuke, Naruko balas tersenyum. "Aku percaya padamu," Naruko tiba-tiba berujar. "Aku berani datang ke Jepang karena aku tahu setidaknya kau tidak akan membuangku begitu saja," dia tersenyum simpul. "Meski kau tidak mencintaiku, aku tahu aku adalah seseorang yang spesial, jadi kau tidak akan membuangku tanpa berpikir dua kali."
Ucapan Naruko membuat senyuman Sasuke menghilang. "Apa maksudmu?"
"Well," Naruko tertawa pelan. "Kau membawaku ke sini supaya kita bisa menantang keluargamu bukan? Memperingatkan mereka supaya mereka tidak menyentuh Kyou," Naruko tersenyum pahit. "Meski aku yakin pada akhirnya kau harus membuangku demi klanmu. Toh kau sendiri punya calon tunanga…."
"Aku membawamu ke sini," Sasuke menggeram, memotong Naruko. "Supaya aku bisa memperkenalkan kau pada klan Uchiha. Supaya aku bisa berdiskusi dengan ayahku. Supaya dia bisa melihatmu. Supaya dia bisa mengakuimu," Sasuke mendelik. "Supaya aku bisa menikah denganmu."
Naruko berkedip.
Dia berkedip lagi.
"Hah?"
Melihat wajah melongo Naruko, tawa Sasuke langsung meledak, membuat wanita itu melompat kaget. "Apakah menikah denganku adalah sesuatu yang sangat mustahil di pikiranmu?" Sasuke tersenyum mengejek. Jarang-jarang dia melihat wajah melongo Naruko.
"Aku…" Naruko membuka mulutnya, namun mulutnya langsung terkatup lagi. "Tidak mungkin. Kau bohong."
"Apakah aku terlihat kalau aku berbohong?" Sasuke mendesis, mulai tidak sabar.
"Kau bilang kalau menikah bukan pilihan," Naruko berbisik. Suaranya mulai bergetar lagi. "Dan aku tahu kalau menikah denganmu bukanlah pilihan. Tidak pernah sekali pun aku membayangkan kau sebagai suamiku."
Sasuke terdiam, menatap Naruko yang menghapus air matanya dengan jari-jari yang bergetar. Naruko benar-benar mencintainya tanpa mengharapkan apa pun. Wanita itu juga tidak pernah keberatan jika dia terus dilukai. "Kau wanita aneh," Sasuke membuka mulutnya. "Tidak pernahkah sekali saja kau mengharapkan sesuatu dariku seperti wanita-wanita lainnya?"
"Tidak," Naruko menjawab tanpa ragu. "Harapan tertinggiku adalah kau mau makan malam dan sarapan bersama denganku. Itu saja."
Sasuke tidak bisa berkata-kata. "Dan harapanmu sudah tercapai," dia berbisik. "Kau bisa meminta sesuatu yang lebih."
Naruko berusaha setengah mati, menahan air matanya. Apa ini? Apakah dia sudah tuli? Sejak tadi Sasuke mengatakan sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya. "A-aku mau mendaftar sekolah untuk Kyou. Aku mau kita berdua tanda tangan di formulir, mengantar anak kita ke sekolah. Aku mau melihatmu menjemput Kyou dari sekolah, menggandeng tangannya."
Sasuke mendengus. "Dan puluhan wanita lainnya berharap menggandeng tanganku di upacara pernikahan."
Naruko tersenyum. "Aku tidak pernah membayangkan itu."
"Aku tahu," Sasuke tersenyum sesaat. "Aku juga."
"Lalu kenapa…"
"Karena aku tidak bisa membayangkan wanita selain kau yang menjadi istri dan ibu dari anak-anakku."
Naruko benar-benar berusaha untuk tidak menangis. "A-ayo ganti per-percakapan," dia menyedot ingusnya, membuat Sasuke tersenyum mengejek. "Itachi di mana sekarang?"
"Dia sudah kembali duluan ke kediaman Uchiha," Sasuke beranjak, duduk di sisi Naruko dan menatap Kyousuke yang masih tertidur. "Tunangannya ada di sana juga."
"Siapa tunangannya?" Naruko menyipitkan mata. "Dia bukan orang biasa bukan?"
"Kau tahu dari mana?"
"Soalnya… kau tidak pernah berpikir untuk membawaku dan Kyou ke hadapan klan Uchiha," Naruko mengerutkan kening. "Setelah kau tahu Itachi akan menikah, kau memutuskan untuk melakukan itu. Kenapa?"
Lagi-lagi Sasuke terlihat takjub. "Tunangan Itachi hanya berdarah setengah Uchiha," ucapan lelaki itu membuat Naruko terbelalak. "Karena itu. Ada kemungkinan kalau Ayah bisa menerimamu juga."
"Dia hanya berdarah setengah Uchiha? Tapi dia ditunangkan dengan Itachi yang seorang penerus?" Naruko hanya bisa terbelalak. "Dan umurnya baru 18 bukan? Berarti dia sangat spesial."
Sasuke memutar bola matanya. "Dia spesial karena dia psikopat."
"Hah?"
"Anggap ini sebagai peringatan untukmu juga," Sasuke mendelik. "Jangan pernah mendekati bocah itu. Dia mimpi buruk."
Naruko hanya bisa berkedip. "Kenapa?"
"Di umur dua tahun, dia sudah bisa menyebutkan nama semua tetua klan Uchiha," Sasuke membuka mulut. "Di umur lima tahun, dia bisa menulis kanji. Di umur sepuluh tahun, dia sudah mengerti pelajaran anak SMP. Dan di usianya sekarang, dia sudah tamat kuliah."
"Wow," Naruko bergumam. "Dia jenius. Pantas saja. Klan Uchiha selalu menginginkan penerus yang jenius bukan? Maklum saja dia dinikahkan dengan Ita…"
"Di umur delapan tahun, dia diperkenalkan secara formal di hadapan semua keluarga," Sasuke mendesis. "Dan dia langsung mengeluarkan katak dan pisau dari balik kimononya. Membelah katak itu di hadapan para tetua, menarik usus katak yang masih hidup itu dan tertawa girang."
Naruko melongo, cepat-cepat menutup telinga Kyou.
"Namanya Kyuubi."
"Kyuubi… siluman rubah?"
"Nama yang cocok untuknya," Sasuke mendengus. "Jangan dekati dia. Kau akan tahu yang mana orangnya. Rambutnya hitam kelam, tapi matanya merah darah."
Naruko hanya bisa terpaku.
"Dibandingkan dengannya, kau akan terlihat seperti malaikat," Sasuke tersenyum mengejek. "Karena itu, aku yakin meski kau tidak berdarah Uchiha sama sekali, ada kemungkinan besar mereka menerimamu. Kau jenius, sama seperti Kyuubi."
"Kenapa Itachi dinikahkan dengannya? Bukankah masih ada wanita lain di keluarga Uchiha?"
Sasuke mendengus lagi. "Mereka? Wanita-wanita itu memang berdarah Uchiha tapi berotak kosong. Hanya keluarga intilah yang punya otak jenius. Ayah tidak akan mau menikahkan Itachi dengan wanita-wanita itu jika ada pilihan. Karena itu meski pun masih sangat muda, Kyuubi sudah ditunangkan," Sasuke tersenyum mengejek. "Darah adalah segalanya bagi klan Uchiha. Tapi menghasilkan penerus yang jenius adalah tujuan pertama mereka."
Naruko tidak bisa berkata-kata. Pantas saja Sasuke membawanya. "Tapi… apakah Itachi akan baik-baik saja? Dia akan menikah dengan Kyuubi dalam waktu lima hari lagi."
"Itachi sendiri psikopat. Mereka berdua pasangan yang cocok."
"Hei, ini bukan main-main, aku benar-benar cemas akan Itachi," Naruko mengerutkan kening.
"Kenyataan. Itachi memang psikopat," Sasuke mendengus. "Sampai sekarang aku tidak bisa menebak apa yang ada di otaknya. Dan dia sendiri yang menyewa limosin ini untuk kita. Aku tidak akan heran kalau ada bom di dalam limosin ini."
Naruko melongo. "Kau serius?"
"Tentu saja tidak," Sasuke mengerutkan kening. "Sebelum masuk, aku sudah memeriksa semua sudut. Tidak ada apa-apa."
"Kau yakin?" Naruko menyipitkan matanya. "Itachi yang kita bicarakan ini."
Sasuke terdiam. Dan Naruko ikut terdiam.
Di detik berikutnya, mereka berdua langsung berjongkok, memeriksa semua sudut mobil.
"Tidak ada apa-apa," Sasuke mendengus setelah melotot di semua sudut. "Sudah kuperiksa tadi."
"Tidak, masih ada satu tempat yang belum kau periksa," Naruko berujar panik.
Sasuke terpaku. Dia langsung memutar kepala, menatap jendela pemisah antara jok penumpang dan tempat kemudi. Mereka berdua tidak pernah mencurigai daerah pengemudi karena mereka yakin bahwa jendela pemisah ini akan memendam semua suara. Di detik berikutnya, Sasuke langsung menekan salah satu tombol, membuat jendela itu terbuka. "Hei," dia menggeram, mencengkram kemeja pengemudi limosin ini.
"Kau tahu, mengganggu seorang pengemudi adalah sebuah pelanggaran."
Naruko menjerit ketika melihat wajah Itachi dari balik topi sang supir. "Sejak kapan kau ada di sana?!"
"Sejak kalian masuk ke dalam mobil," Itachi berujar santai. "Kalian terlalu ceroboh. Seharusnya kalian memperhatikan bagian pengemudi," lelaki itu memutar setir kemudi, menepi di dalam salah satu restoran. "Ayo keluar, aku sudah membuat reservasi di sini."
Sasuke dan Naruko tidak bisa berkata apa-apa. Selagi Sasuke sibuk menggeram dan sibuk mengatai kakaknya, Naruko melotot, menatap alat persegi yang mirip dengan walkie-talkie. "Itachi? Itu apa?"
Itachi tersenyum mengejek. "Alat rekaman."
Sasuke mendelik, Naruko semakin melotot. "Untuk apa?"
"Entahlah, seseorang pada saat ini sedang mendengarkan percakapan kita semua."
"Hah?!" Naruko berseru panik, Sasuke semakin menggeram.
Di belakang, Kyou yang berbaring di jok mobil itu membuka matanya, menguap dan menatap orang tuanya dengan tatapan bingung.
xxx
19:36 PM
26th December 20XX
Satu-satunya hal yang berhasil menghentikan perang dunia antara Sasuke dan Itachi hanyalah Kyousuke Uzumaki. Naruko menarik napas dalam-dalam, menatap bocah mungil yang berhasil memadamkan semua api yang berkobar sejak tadi. Bahkan Naruko yang tenang itu nyaris mengamuk tadi. Itachi dengan seenaknya menyabungkan kabel dari alat perekam ke stereo jok penumpang, merekam semua percakapannya dengan Sasuke, entah untuk apa. Sasuke berhasil menghancurkan alat itu, tapi mereka berdua tidak bisa tenang.
Naruko yakin kalau semua percakapan tadi sudah dikirim Itachi ke suatu tempat.
Dia memejamkan mata erat-erat, mencoba untuk mengingat apa saja yang tadi dikatakannya di mobil, tapi dia tidak bisa mengingat apa-apa kecuali dia yang menangis, dia yang menghina-dina klan Uchiha dan dia yang menyatakan kebencian sekaligus rasa cintanya pada Sasuke.
Naruko mengerang, membekap wajahnya yang merah padam. Mata birunya melirik ke arah Sasuke dan Itachi. Dua lelaki itu masih saling mendelik, mau bagaimana lagi, Sasuke sendiri tadi mengancam untuk menceritakan semua 'hal memalukan' Itachi pada tunangannya.
"Iuup, iuup," suara ceria Kyou membuat Sasuke dan Itachi berhenti melotot. Mata onyx mereka menatap Kyou yang menyodorkan sesendok bubur. Bocah mungil itu sekarang duduk di kursi anak-anak di restoran. Tangan mungilnya menggenggam sendok bubur. Sambil membuka mulutnya lebar-lebar, bocah itu meniup bubur di sendoknya sekuat tenaga, membuat bubur itu berpercikan. Kyou langsung terpaku, menatap sendoknya yang sekarang kosong.
Naruko langsung tertawa, sedangkan Sasuke dan Itachi menyunggingkan senyuman.
"Sini," Naruko masih tertawa, meraup sesendok bubur dan memberikan sendok itu pada Kyou. Pelan-pelan, dia meniup bubur di sendok Kyou dan mata biru bundar itu memperhatikannya dengan seksama. "Selesai," Naruko meringis ketika melihat Kyou yang kembali membuka mulutnya lebar-lebar, melahap buburnya.
"Amamamam," Kyou berceloteh, melontarkan cengiran lebar, memamerkan gigi-giginya yang mungil.
"Enak?" Naruko tertawa lagi, mengusap mulut Kyou yang belepotan. Dia menyeringai ketika Kyou tiba-tiba menyodorkan bubur untuknya. Dengan girang, wanita itu melahap bubur tersebut. "Hmmm! Enak! Makasih, Kyou-chan!"
Seruan girang Naruko membuat Kyou kembali menyeringai. "Ugege, aaahhh," dia menyodorkan sesendok bubur untuk Sasuke yang duduk di sebelahnya. Tanpa berpikir dua kali, Sasuke langsung melahap bubur itu. "Tacciii," kali ini Kyou menyodorkan makanannya untuk pamannya. Itachi langsung menyodorkan tubuh untuk melahap bubur Kyou. Setelah puas menyuapi keluarganya, bocah itu kembali menyeringai girang.
"Anakku memang lucu sekali," Naruko menghela napas puas, meraih sumpit dan mulai melahap makanannya. "Hmmmm," Naruko dengan girang menyabet semua makanan di meja dan melahap semua makanan itu dengan wajah bahagia.
"Dia sudah tidak mempedulikan semua masalah klan Uchiha," Itachi dengan santai menyeruput sup misonya.
Sasuke hanya bisa terpaku, menggelengkan kepalanya.
xxx
08:17 AM
27th December 20XX
Naruko mebuka mata. Dia berkedip sesaat, menoleh kesana-kemari. Di mana dia?
Wanita itu bergumam pelan ketika dia ingat akan kejadian semalam. Setelah makan malam, dia langsung tergeletak, tertidur pulas di mobil. Mau bagaimana lagi, dia makan porsi dua orang. Sasuke sendiri tidak terlihat keberatan ketika dia bersender di pundaknya. Malahan, lelaki itu mengusap rambut pirangnya, membuatnya merasa semakin mengantuk.
Naruko beranjak, wajahnya merona ketika dia sadar bahwa dia mengenakan kimono tidur tradisional berwarna hitam. Siapa yang mengenakan pakaiannya? Selain itu, di mana dia? Wanita itu memperhatikan kamar yang sangat tradisional itu. Tatami… meja mungil di tengah ruangan dan dihiasi oleh bunga. Dia menatap futon yang tergeletak di sebelahnya. Dia cepat-cepat berjalan, membuka pintu geser dan melongo ketika menatap kebun yang dilapisi oleh salju.
Tidak salah lagi.
Dia berada di kediaman Uchiha.
Dadanya langsung berdetak kencang. "Kyou?" bibirnya berbisik. Dia tidak bisa menemukan bayinya. Tangan Naruko langsung terasa dingin. Dia berlari ke arah pintu. Ketika dia nyaris keluar, pintu itu terbuka. Naruko berkedip, menatap sosok Sasuke yang menggendong Kyou. "Sasuke?"
Sasuke menaikkan sebelah alis. Lelaki itu mengenakan kimono hitam, sama sepertinya. "Ada apa?" Sasuke mengerutkan kening, mengusap wajah Naruko. "Kau terlihat pucat."
Naruko tidak tahu seperti apa perasaannya ketika dia melihat Sasuke. "Kau tahu, saat ini aku sangat ingin memelukmu, tapi aku juga ingin menamparmu."
Sasuke hanya bisa berkedip. Namun dia membiarkan Naruko meraih Kyousuke. Naruko langsung mengecup pipi putranya berkali-kali.
"Mama," Kyou memanggilnya, menyodorkan serpihan es. "Sssss!"
"Sss?" Naruko tertawa. Dia berjalan masuk ke dalam ruangan tadi, duduk di futon sambil memangku putranya. "Kau bawa dia ke mana?" Naruko berkedip ketika melihat Kyousuke yang dengan bangga memamerkan salju padanya. Tangan mungil bocah itu menjadi kemerahan karena salju yang dingin. Naruko tersenyum sambil mengusap tangan Kyou, meniup jari-jari mungil putranya.
"Semalam dia tidur di kamarku," Sasuke menjelaskan. "Aku tidak bisa membawamu bersamaku karena kau wanita dan kita belum menikah."
"Kau nyaris membuatku jantungan," Naruko mendelik. "Aku kira kalau klanmu ini sudah menculik Kyou."
"Tidak selama aku ada di sini."
Naruko tersenyum. Samar-samar, dia bisa ingat akan Sasuke yang membopongnya keluar dari mobil, menyelimuti tubuhnya dengan mantel. "Apakah… ada yang tahu akan keberadaanku dan Kyou?"
Sasuke menggeleng. "Belum. Ketika kita sampai, semua anggota kelarga Uchiha sudah masuk ke kamar mereka," Sasuke terpaku sesaat. "Tapi. Beberapa jam lagi akan ada makan siang. Mereka semua sudah selesai makan pagi. Aku akan menyuruh salah satu pegawai untuk menyiapkan makanan untukmu."
"Ah," Naruko bergumam. "Kau tidak perlu repot-rep…"
Di detik berikutnya, terdengar bunyi gemuruh dari perut Naruko.
Sasuke tersenyum mengejek, wajah Naruko langsung merah padam.
"Tunggu di sini," Sasuke beranjak. Dia melingkarkan mantel tebal di sekeliling tubuh Naruko dan berjalan keluar. Naruko hanya bisa berkedip, menatap Sasuke dengan tatapan tidak percaya. Sebelum Naruko sempat berkata sesuatu, lelaki itu sudah berjalan pergi.
"Ayahmu aneh," Naruko meringis, memeluk Kyou. Dia beranjak sesaat, mengambil tasnya dari pojok ruangan dan mengeluarkan buku cerita. Melihat buku yang bergambar beruang itu, Kyou langsung melompat, membuat Naruko tertawa. "Ayo," Naruko menggendong Kyou, memangku putranya sambil duduk di dekat jendela, menatap salju yang berjatuhan di perkarangan kebun. "Tempat yang cantik ya, Kyou-chan," Naruko bergumam. "Di musim semi nanti pasti banyak tanaman yang tumbuh… bunga-bunga yang mekar… Kamar ini tempat terbagus untuk melihat semua itu."
"Aih," Kyou menyentuh buku ceritanya, tidak mempedulikan ucapan Naruko.
"Aku jadi penasaran… ini kamar siapa ya?"
"Kamar Mikoto Uchiha."
Naruko tersentak. Dia menoleh, menatap lelaki setengah baya yang berdiri di depan kamar ini. Mata birunya menatap sosok lelaki itu, memperhatikan kerutan di wajahnya, memperhatikan warna rambutnya yang keabuan. Mata Naruko terpaku pada sorot tajam mata yang berwarna hitam kelam itu.
"Kamar ibu Itachi dan Sasuke," sang lelaki masuk ke dalam kamar, menutup pintu dan duduk di atas tatami, menatap Naruko dengan tajam. "Kamar mendiang istriku."
Tanpa Naruko sadari, dia mempererat pelukannya pada Kyou. Mata biru bundar Kyousuke menatap kakeknya dengan tatapan penasaran. Ketika bocah itu mengulurkan tangannya, Naruko langsung memeluk Kyou semakin erat.
Fugaku Uchiha tidak terlihat terkejut atau kaget melihatnya dan Kyousuke. Naruko menggertakkan gigi. Sekarang dia tahu ke mana perginya rekaman percakapan antara dia dan Sasuke.
Pintu kamar kembali terbuka dan seorang pelayan masuk, membawa senampan makanan. Naruko tidak bergerak. Matanya tidak lepas dari mata Fugaku.
"Berapa?" Pertanyaan dingin Fugaku membuat mata Naruko menajam. "Berapa harga anak Sasuke?"
Tanpa Naruko sadari, dia sudah mendelik tajam, senyuman lebar muncul di wajahnya. "Menurutmu? Kau bersedia bayar berapa?"
"Berapa pun yang kau ucapkan."
"Ah," Naruko bergumam santai. "Sayang sekali. Aku sendiri tidak tahu berapa harga anak ini. Bagaimana kalau kita tanyakan padanya?"
Ucapan Naruko membuat Fugaku terpaku.
"Kyou-chan," Naruko tersenyum lebar, menggoncang Kyou yang masih menatap Fugaku dengan tatapan penasaran. "Hargamu berapa?"
Kyousuke berkedip, menatap ibunya dengan bingung. Tapi karena melihat senyuman Naruko, Kyou ikut meringis. Jari mungilnya menunjuk ke arah Fugaku.
"Sayang sekali, Uchiha-san, anakku sendiri tidak tahu berapa harganya. Sejak dia lahir, yang ada di otaknya hanyalah aku, Sasuke dan Itachi."
"Ugege, Taci," Kyousuke mengopi ibunya. "Mamama."
"Jika kau bertanya padaku, berapa harga anak ini," senyuman Naruko menghilang, matanya menajam. "Maka harganya sama seperti Itachi dan Sasuke."
Fugaku terdiam.
"Sekarang, aku bertanya padamu, Uchiha-san," mata biru Naruko mendelik. "Berapa harga Sasuke dan Itachi?"
TBC
AN: aku gak tau lagi si Naruko jeniusnya kayak apa. Kalau dia ada di dunia nyata kayaknya bakalan kucium dah karena bisa bales si Fugaku sampai kayak gitu. Hahaha!
Bentar lagi tamat :)
satu chapter depan dan satu epilogue. Sampai jumpa di chapter berikutnya!
